Tag Archive | premi murah

TANPA Cek Medis: Usia 40th, UP 1.6M, premi cuma 875rb. Mau?

Mulai Januari 2015, Allianz Life Indonesia menerapkan tabel tes medis baru yang memungkinkan nasabah usia 40 tahun ke bawah tidak perlu melakukan pemeriksaan kesehatan jika mengambil UP (uang pertanggungan) jiwa tidak melebihi 1,6 miliar. Sebelumnya, batasan non medical test adalah UP jiwa 1,2 miliar. Ketentuan ini berlaku untuk calon nasabah yang sehat tanpa riwayat sakit. Jika ada riwayat sakit, tetap ada kemungkinan diminta tes medis berapa pun UP-nya.

Kenaikan batasan non-medical ini tentunya akan semakin memudahkan calon nasabah untuk memperoleh UP yang besar di polis Allianz. Hal ini pun jelas semakin menegaskan ciri khas Allianz sebagai perusahaan asuransi jiwa yang memberikan UP besar kepada para nasabahnya dengan premi yang relatif rendah.

Tabel Tes Medis

Selengkapnya tabel medical baru asuransi jiwa Allianz dapat dilihat bawah ini.

Tabel Tes Medis Allianz

Keterangan Rincian Tipe Tes Medis

Rincian Tipe Tes Medis

Hal yang Istimewa dari Tabel Medical 2015

1. Untuk dewasa usia 18 sd 40 tahun dan sehat, nonmedical test jika UP 1,6 miliar ke bawah. Sebelumnya 1,2M.

2. Untuk dewasa usia 18 sd 70 tahun dan sehat, nonmedical test jika UP 500 juta ke bawah. Sebelumnya sama.

3. Untuk anak-anak usia 1 sd 17 tahun dan sehat, nonmedical test jika UP 1 miliar ke bawah. Sebelumnya 700 juta.

Contoh Ilustrasi Non-Medical

Bagaimana penerapannya dalam ilustrasi produk asuransi jiwa?

Di bawah ini dua contoh ilustrasi polis Tapro Allisya Protection Plus dengan UP 1,6 M non-medical untuk pria sehat usia 40 tahun.

Ilustrasi Manfaat UP jiwa 1,6 M tanpa rider

up1.6Msaja

Keterangan:

  1. Jika meninggal dunia sebelum mencapai usia 70 tahun, ahli waris memperoleh 1,6 miliar.
  2. Jika meninggal dunia setelah usia 70 tahun dan sebelum usia 100 tahun, ahli waris memperoleh 600 juta.

Premi 875 ribu per bulan, manfaat UP 1,6 miliar, untuk pria 40 tahun. (Jika anda harus mengumpulkan sendiri untuk menyiapkan warisan sebesar 1,6 miliar kepada keluarga yang anda sayangi, dengan dana 875 ribu tiap bulan akan butuh waktu > 1.800 bulan atau sekitar 150 tahun).

Ilustrasi Manfaat UP jiwa 1,6 M dengan rider ADDB, TPD, Ci100, dan Payor benefit

1.6M lengkap

 

 

Keterangan:

  1. Jika meninggal dunia sebelum usia 100 tahun, ahli waris memperoleh 1,6 miliar (UP dasar)
  2. Jika meninggal dunia karena kecelakaan sebelum usia 65 tahun, ahli waris memperoleh 3,2 miliar. Ini adalah manfaat UP dasar + rider ADDB.
  3. Jika mengalami kecelakaan yang menimbulkan cacat tetap sebelum usia 65 tahun, diperoleh maksimal sebesar 1,6 miliar (tergantung persentase cacat). (Rider ADDB)
  4. Jika mengalami cacat tetap total (dua tangan, dua kaki, dua mata, atau kombinasi, atau kehilangan kemandirian hidup), diperoleh 1,6 miliar. (Rider TPD)
  5. Jika mengalami 1 dari 100 kondisi penyakit kritis sebelum usia 100 tahun, diperoleh maksimal 1,6 miliar, tergantung tahapan penyakitnya. (Rider Ci100)
  6. Tersedia fasilitas bebas premi jika penyakit kritis dialami di tahap lanjut atau cacat tetap total. (Rider Payor Benefit)

Premi 3,2 juta per bulan, total manfaat proteksi lebih dari 6,4 miliar, untuk pria 40 tahun. (Jika anda harus mengumpulkan sendiri uang 6,4 miliar dengan nabung 3,2 juta per bulan, dibutuhkan waktu 2 ribu bulan alias 160 tahun).

___________________________

UP 1.6 Miliar, TANPA tes Medis, berapa preminya untuk usia di bawah 40 tahun?

Berikut adalah tabel premi untuk berbagai usia masuk dan jenis kelamin:

Usia       Laki-laki        Perempuan

25              565                 555

30              600                590

35              720                 700

40             875                  830

 

Murah kan?

Ingat: tanpa perlu tes medis loh untuk pengajuannya.

_________________________________

Anda butuh proteksi besar, namun terkendala usia yang tidak lagi muda, dan tidak ingin mengikuti tes medis untuk pengajuan asuransi jiwa??

Allianz sudah menjawab kebutuhan Anda!

Silahkan KONTAK SAYA segera..

 

Asuransi: cuma bayar 1 juta/bulan, selama 10 tahun, kok dapat 1 Miliar???

Kali ini saya mau berbagi cerita hasil diskusi saya dengan istri dari seorang nasabah asuransi Allianz yang sudah bergabung dengan agen lain (bukan saya).  Sang istri mohon penjelasan mengenai polis asuransi yang sudah dimiliki suaminya sejak sebelum mereka menikah bulan September 2014 lalu.

Kebetulan salah satu produk yang ditanyakan juga bukan produk fokus yang saya jual, meskipun begitu saya mengagumi keberanian beliau untuk meminta penjelasannya pada saya yang jelas2 bukan agen pendamping polis suami beliau.  Tak mengapa, semoga informasi saya ini berguna bagi beliau dan pembaca semua, sehingga juga bisa menjadi berkah buat saya.  Amiin..

Artikel ini saya tulis seadanya diskusi kami, agar para pembaca yang mempunyai pertanyaan yang sama pun dapat mengikuti alur diskusinya.

Informasi tentang polis beliau:

1.  Polis Smartlink Flexy Account Plus, premi 1jt/bulan, UP dasar 1 Miliar

2.  Polis Allisya Protection Plus, premi 500rb/bulan, UP dasar 300 juta.

Pertanyaan beliau sangat mendasar sekali, sehingga penjelasannya pun harus detil agar beliau benar2 puas dengan informasi yang didapat.

 

wa Crop OK

Beliau mohon dijelaskan hal simpel berikut ini:

#  kenapa cuma setor 1jt/bln selama 10 tahun, bisa dapat 1M? Kok bisa?

# kenapa cuma setor 500rb/bln selama 10 tahun, bisa dapat 300jt?

================================================================

Ibu (I):  Saya bingung kenapa dari setor 1jt/bln, bisa dapat 1 Miliar.  Itu uang apa?  Kenapa bisa begitu?

Estri (E):  Ibu bisa baca di pojok kanan atas, ada keterangan: Uang pertanggungan dasar 1 Miliar. Artinya: Bpk S siapkan proteksi utk dirinya dgn UP 1 M. Dimana dana tsb bisa diklaim bila tjd resiko meninggal dunia pd diri beliau. Dana tsb bs dimanfaatkan oleh ahli waris utk berbagai keperluan. Tinggal dicari tau saja, ahli warisnya siapa. Krn beliau buka polis tsb sjk thn 2011. Utk manfaat lainnya, harus dibaca di buku polis. Apakah beliau juga beli proteksi thdp: kecelakaan, cacat tetap, dan sakit kritis.

I:  Memang kalo misal tak terjadi apa2 dan gak meninggal dunia itu selama sepuluh tahun bisa dapet 1 M?
Trus saya liat di internet mbak angsuran 355 bisa dapet 1M?

E:  Itulah asuransi, bu. Asuransi bukan menabung. Tapi membeli proteksi besar dgn uang kecil.

I:  Saya masih bingung “kenapa cuma 500rb selama 10th bisa dpt 300jt” gitu ya?  Masalahnya kan suami ikut asuransi sblm nikah sama saya, jd blm serah terima semuanya, termasuk informasi tentang hal ini.

E:  Oke, saya coba jelaskan ya. Seperti saya info sebelumnya, bahwa: asuransi bukan tabungan, bukan hitung2an setoran dikali lama setor. Tapi dengan berasuransi, artinya nasabah membeli proteksi. Nasabah minta kepada perusahaan asuransi untuk melindungi dirinya dengan Uang Pertanggungan sejumlah sekian, hanya dengan membayar setoran sekian.
Dlm hal ini: pak S setor 1jt/bln utk diberi perlindungan/proteksi berupa Uang tunai dalam jumlah besar senilai 1 Miliar, jika terjadi resiko pada diri beliau (dlm hal ini, resiko yang dicover adalah meninggal dunia).
Jadi nilai UP tidak didapat dari jumlah setoran dikali lama bayar, ya bu.
Melainkan: nasabah butuh UP berapa, maunya dicover thdp resiko apa (ada resiko: kecelakaan, cacat tetap, sakit kritis, meninggal), maka bisa ketauan premi yg hrs disetor brp.
Tentu juga besarnya premi tergantung dari: jenis kelamin, usia masuk saat buka polis (usia muda premi lbh murah VS usia senja), jenis pekerjaan (pekerjaan resiko rendah -staf admin/guru- premi lbh murah VS resiko tinggi-pilot/tentara-)

I:  OOOoo… begitu..  Klo misal dalam 10 tahun itu suami saya baik2 aja dan masih hidup gimana ?
Apakah uang 1 M itu cash dikasih ke nasabah ?

E:  Uang Pertanggungan hanya bisa diklaim jika resiko sdh terjadi.
Walaupun baru setor 3 bulan, kalo tjd resiko spt pd polis, maka UP bisa diklaim.
Kalo 10th tidak terjadi resiko, artinya syukur alhamdulillah, suami sehat walafiat, sehingga UP belum bisa di-klaim.
Bila resiko baru terjadi 50th kemudian, maka klaim pun baru bisa dilakukan 50th kemudian.

I:  Tapi gimana nasib uangnya ?

E:  Uangnya tetap utuh senilai 1M tsb.   Mau kapan pun resiko itu tjd, jumlahnya tetap 1M.

I:  Kasarnya itu mah uang warisan ya mba?

E:  Betul bu. Itu uang warisan. Tinggal dilihat sj di polis, apakah Bpk sudah sempat ubah data ahli waris dgn kondisi sekarang (stlh menikah).

I:  OOoo… Berarti suami saya ga ngerti waktu dia buka polis. Soalnya dia bilang setelah 10 tahun uang 1 M atau yg 300 juta cair.

E:  Yang bisa ditarik setelah 10th, adalah nilai investasinya bu. Di lembar surat yang ibu kirim ke saya, coba dilihat pada tabel bagian bawah. Ada angka 13 juta sekian, itu adalah nilai investasi / tabungan yg terbentuk. Kelak bisa ditarik saat diperlukan.

I: Iya mba, ahli waris yang di polis adalah kakaknya.

E:  Ya bu, benar. Jika buka polis sblm nikah, biasanya ahli waris pasti dipilih saudara kandung. Jika sudah nikah, biasanya diubah jd pasangan+anak.

I:  Bagaimana cara ubah data polis tentang ahli waris?

E:  Caranya: hubungi agennya, nanti diberi form perubahan data utk diisi. Tandatangan Bpk sbg pemegang polis. Itu aja. Gampang kok.  Atau juga bisa hubungi Customer Care Allianz, nanti akan dibantu.

I:  Oke.  Tanya lagi ya.  Nilai investasi bisa ditarik itu dikarenakan apa?

E:  Nilai investasi bisa ditarik kapan saja (sebaiknya setelah thn ke5), tdk ditarik pun akan lbh baik, krn nilainya akan berkembang terus. Lumayan utk nambahin warisan.

I:  Hehehe… Mba Estri bisa aja…

E:  Nilai investasi boleh ditarik, tanpa perlu penjelasan kenapa ditarik, utk apa uangnya, dll.. Bebas kok. Itu kan bonus tabungan saja.  Saran saya sih, kalo gak kepepet banget, gak usah ditarik.  Biar berkembang terus.

Uang Pertanggungan 300jt atau 1M tsb hanya bisa cair jika terjadi resiko saja, ya bu.
Berasuransi bukan untuk cari untung.   Tapi utk melindungi diri dan penghasilan, dari resiko hidup yg dampak keuangannya tidak bisa kita tanggung.
Cth:   jika tjd sakit kritis (spt kanker), butuh biaya sangat buesaarrrr. Kalau punya aset, mungkin masih bisa dijual.  Namun kan tujuan kita kerja, pergi gelap pulang gelap, keluar keringat, tangan jd kaki-kaki jd tangan, kumpulin uang/harta selama puluhan tahun bekerja, BUKAN untuk dijual jika sakit, kan?

Makanya kita sebaiknya punya asuransi, supaya kita tidak bangkrut. Supaya aset tidak perlu dijual. Aset biarlah tetap berupa aset.  Semoga kelak aset tersebut bisa diwariskan untuk anak.

Kalo terjadi resiko, pakainya uang asuransi saja.
Yang kita cuma bayar 1jt/bln, proteksinya 1M.
Uang kecil (1jt) beli Uang besar (1M), itulah asuransi.
Kalo UP = 1M. Baru bayar 1jt/bln X 1 thn = 12jt. Lalu tjd resiko meninggal di bulan ke 12 tsb, maka asuransi akan beri 1M utk ahli waris.
Bayangkan kalo cuma “nabung biasa” di bank. Baru dpt 12jt tuh..
Mana cukup 12jt utk biaya hidup 1 tahun????
Itulah asuransi…

Itu kalo resikonya meninggal, nasabah sudah selesai masalah dunianya.
Bagaimana jika yang terjadi adalah resiko hidup? Artinya terjadi resiko, tapi nasabah masih hidup?
Resiko hidup = kecelakaan, cacat, sakit kritis. Umumnya, jika terjadi resiko hidup, maka orang menjadi kurang produktif lagi, efeknya: penghasilan pun ikut berkurang. Bahkan bisa jadi lama2 penghasilan bisa stop. Padahal nasabah dan keluarganya butuh biaya hidup, butuh biaya perawatan RS, butuh biaya pemulihan, dll..

Kalo punya asuransi (tentu saja jika ambil proteksi terhadap resiko hidup tersebut), maka jika terjadi resiko hidup tersebut, UP bisa di-klaim.

Cth:

Kalo yang terjadi adalah kecelakaan, maka UP kecelakaan bisa di-klaim.
Kalo yang terjadi adalah cacat tetap total, maka UP cacat tetap total bisa di-klaim.

Kalo yang terjadi adalah sakit kritis, maka UP sakit kritis bisa di-klaim.

Kalo yang terjadi: kecelakaan, lalu cacat, lalu sakit kritis, lalu meninggal, maka UP yg bs di-klaim adalah = UP kecelakaan + UP cacat + UP sakit kritis + UP meninggal. Jika masing2 resiko tersebut UPnya 1M, maka ahli waris akan dpt 4M.
Uang 4M, tentu bermanfaat untuk biaya hidup dll ataupun untuk mencapai impian keluarga yang belum terwujud. Ahli waris bisa “move on” tanpa perlu tertatih2 memulai hidup dari nol lagi..
Angka UPnya tidak harus 1M, jika alokasi finansial keluarga untuk setor preminya terbatas. Tapi kalo memang ada, tentunya akan sangat baik. Karenae asuransi kan proteksi jangka panjang. Beli proteksi sekarang dengan UP besar, agar kelak saat 10-20th lagi, nilai UP tsb masih relevan untuk biaya hidup.

I:  Di akhir masa kontrak, berapa yang saya terima?

E:  Sebenarnya kontraknya adalah seumur hidup bu. Bukan yg 10th itu.
10th itu hanya lamanya bayar premi. Thn ke 11 dst (sampai mungkin usia 100th) tidak perlu bayar premi lagi. Tapi kontrak seumur hidup.  Keterangan tentang hal ini, silahkan klik:  ARTIKEL INI

Dalam hal ini, di polis suami Ibu:
UP 1M hanya bisa diterima jika terjadi resiko meninggal dunia. Sementara nilai investasi bisa ditarik setelah tahun ke-5.
Anggap saja premi asuransi sebagai “uang hilang” bu. Supaya tidak dihitung2.

Saat kita sehat, asuransi tidak berguna. Tapi, saat terjadi resiko, asuransi sangat terasa manfaatnya.

Ibu tenang saja ya..

Saran saya, ibu pun harus punya proteksi. Utamanya proteksi thdp sakit kritis.
Supaya tenang.  Jika terjadi resiko, tidak perlu kita merasa bangkrut, karena asuransi akan beri uang tunai dalam jumlah besar.

I:  Oke mba, terimakasih penjelasannya.  Nanti saat suami pulang berlayar, saya akan diskusikan hal ini dengan beliau.

E:  Baik bu, sama-sama.  Nanti untuk polis Ibu, belinya sama Estri yaaa…. Kan diskusinya sama Estri, masa’ beli polisnya ke agen lain… Hehehehe…

I:  Sip mba.  Tenang saja.  Nomor hp mba sudah saya save kok…

*     *     *

 

 

Hihihi… Semoga bukan PHP yaaa….

Rejeki tidak akan tertukar…

#  Senangnya berbagi…

#  Mari berasuransi

#  Allianz memberi Uang Pertanggungan besar (100 juta – 15 Miliar) hanya dengan premi terjangkau

 

klaim-penyakit-kritis-2m

Butuh proteksi sesuai profil Anda?

KONTAK SAYA DISINI

 

 

 

UP Jiwa Saja Belum Cukup

Businessman and angels

Banyak orang yang merekomendasikan pemisahan asuransi dan investasi hanya menyebut termlife (asuransi jiwa berjangka) sebagai alternatif pengganti unit link. Padahal UP jiwa saja belum cukup, terutama bagi orang usia muda dan produktif (di bawah 50 tahun). Kenapa? Karena pada dasarnya orang muda itu tidak akan meninggal hanya karena faktor usia. Memang yang namanya mati itu tidak kenal umur. Tapi melihat usia harapan hidup orang Indonesia yang sekitar 65 tahun, maka jika orang meninggal jauh di bawah usia itu, besar kemungkinan penyebabnya adalah faktor lain.

Apa biasanya penyebab orang muda meninggal dunia? Pertama, kecelakaan. Kedua, sakit. Sakit macam-macam, bisa sakit kritis, penyakit menular, atau sekadar sakit perut.

Orang yang hanya mengambil asuransi jiwa berjangka, jika ia mengalami kecelakaan lalu mati, uang pertanggungan jiwa dapat langsung cair dan diterima ahli warisnya. Tapi jika kecelakaan itu tidak langsung mengirim dia ke alam lain, maka persoalan belum selesai. Jika ia cacat, tentunya UP jiwa tidak bisa keluar, tapi biaya hidup tetap jalan dan makin sulit karena orang cacat tidak akan bisa bekerja sebaik sebelumnya.

Begitu pula mengalami sakit kritis pun belum tentu bikin meninggal. Orang muda usia daya tahan tubuhnya masih relatif kuat, sehingga ketika dia sakit, mungkin dia tetap hidup tapi berbaring saja di rumah atau di RS. Jelas orang seperti ini pun tidak bisa bekerja secara optimal.

Oleh karena itu, asuransi jiwa murni saja tidak cukup. Seseorang masih under-insured jika hanya memiliki polis asuransi jiwa murni. Dia boleh dikatakan belum aman secara keuangan. Risiko terburuk bukan hanya kematian. Bahkan kematian bukanlah risiko terburuk, karena begitu mati selesai sudah. Kesulitan hidup hanya dialami orang yang ditinggalkan, jika yang meninggal merupakan tulang punggung keluarga.

Ada risiko lain yang lebih buruk dari kematian, yaitu cacat (total maupun tidak) dan sakit kritis sehingga hidup tidak mati pun enggan. Jadi, selain asuransi jiwa, asuransi kecelakaan dan asuransi sakit kritis juga sangat perlu dimiliki.

Tinggal persoalannya sekarang, apakah ketiganya (jiwa, kecelakaan, sakit kritis) harus diambil terpisah ataukah sekaligus dalam satu paket. Tentunya di sini ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, biaya. Mana yang lebih murah, mengambil terpisah atau sekaligus. Soal biaya ini juga harus dilihat dalam jangka panjang, bukan jangka tertentu saja.

Kedua, jangka waktu. Butuhnya sampai usia tertentu saja atau seumur hidup.

Ketiga, kemudahan dan kepraktisan. Jelas, satu polis yang mengkover sekaligus lebih praktis daripada beberapa polis.

Demikian untuk jadi pertimbangan.

Selanjutnya, beberapa tawaran bisa anda pertimbangkan di sini:

1. 600 Ribu Dapat Total UP > 2,5 M

2. 1 Juta Dapat Total UP > 4 M

Mari berasuransi.  Selamat memilih…

 

Bagi Anda yang tinggal di sekitar Dewi Sartika, Otista, Cawang, UKI, Cililitan, Condet, Halim, Ceger, Cipayung, Ciracas, Cilangkap, Cibubur, Cimanggis, Cibinong, Depok, Pondok Gede, Lubang Buaya, Jatimakmur, Jatibening, Pasar Rebo, Kampung Rambutan, Setu, Taman Mini, Bambu Apus, yang membutuhkan informasi ataupun bermaksud memiliki perlindungan Asuransi Jiwa Allianz Syariah  “Allisya Protection Plus”, silahkan hubungi saya:

              Estri Heni     
SMS / What’s App :    0817 028 4743
pin BB                      :    2A0897CB
e-mail                      :    AllianzKita@gmail.com

 

 

 

Sumber:

http://myallisya.wordpress.com/2011/12/15/termlife-saja-belum-cukup/

Miliki Asuransi Berdasarkan Prioritasnya

Prioritas asuransi diukur dari dampaknya pada keuangan kita, bukan dari frekuensi kejadiannya. Ada yang kejadiannya sering, misalnya pilek atau batuk biasa, tapi karena dampak keuangannya kecil, tanpa asuransi pun tak masalah. Tapi ada peristiwa yang kejadiannya mungkin hanya sekali, namun bekas yang ditinggalkannya tak terhapuskan seumur hidup, baik dari segi fisik maupun keuangan.

Jika akibat dari satu kejadian itu membuat seseorang langsung jatuh dalam kemiskinan, aset-aset terjual atau tergadai, terjerat dalam belitan utang, sumber penghasilan terputus, hingga keluarga terbenam dalam kesedihan dan kehinaan, maka risiko itulah yang harus kita prioritaskan untuk diasuransikan.

Ketika kita memutuskan untuk berasuransi, berpikirlah – walau sejenak saja – untuk risiko-risiko yang paling buruk. Yaitu risiko-risiko yang butuh biaya sangat besar.

 

Apa saja?

Berdasarkan dampak keuangannya dan preminya, setidaknya ada 4 jenis proteksi yang merupakan prioritas untuk dimiliki, yaitu asuransi yang menanggung risiko meninggal dunia, rawat inap, penyakit kritis, dan cacat. Jika anda telah memiliki empat proteksi ini, silakan mau nambah asuransi lain juga (rumah, mobil, rawat jalan, rawat gigi, persalinan, dll), kalau memang ada dananya.

 
 

Asuransi Meninggal Dunia

 

Asuransi yang menanggung risiko meninggal dunia menjadi prioritas pertama karena: selama masih hidup, akan selalu ada harapan. Tapi jika sudah dijemput maut, tak ada lagi yang bisa dikatakan.

Asuransi jiwa wajib bagi pencari nafkah dalam keluarga, biasanya ayah, dan juga ibu jika bekerja. Jika dana yang tersedia terbatas, inilah yang harus dibeli terlebih dahulu.

Kematian seorang ayah atau ibu berdampak pada putusnya sumber penghasilan karena tidak ada lagi orang yang mencarikan nafkah untuk keluarga. Kesedihan paling besar dialami oleh si anak. Terkadang dia harus dipelihara di rumah saudara atau bahkan dititipkan di panti asuhan. Tentunya kita tidak mau anak kita merepotkan orang lain, bukan?

 

Asuransi Kesehatan Rawat Inap

 

Setelah proteksi dasar terpenuhi, prioritas berikutnya adalah asuransi kesehatan rawat inap untuk seluruh anggota keluarga. Produk asuransi kesehatan ada yang dipasangi rider (proteksi tambahan) rawat jalan, rawat gigi, atau persalinan. Tapi yang prioritas hanyalah rawat inap. Yang lainnya terlalu mahal untuk dibeli, sementara manfaatnya tak seberapa, dan tanpa asuransi pun masih bisa ditanggulangi.

 

Asuransi kesehatan rawat inap memberikan penggantian biaya pengobatan sesuai yang dijanjikan dalam polis jika peserta mengalami rawat inap di klinik atau rumah sakit. Biaya pengobatan penyakit yang memerlukan rawat inap sangat bervariasi tergantung penyakitnya, tapi pada umumnya cukup memberatkan jika harus ditanggung sendiri.

 

Saat ini sebagian besar orang telah memiliki askes rawat inap. Mereka yang bekerja di sektor formal (PNS, Polri, TNI, dan karyawan swasta), boleh dikata semuanya telah memiliki askes. Sedangkan untuk masyarakat secara umum, khususnya kalangan menengah-bawah, pemerintah telah menyediakan berbagai jaminan kesehatan melalui program semacam Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat), Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah), Jamkesos (Jaminan Kesehatan Sosial), Jampersal (Jaminan Persalinan), KJS (Kartu Jakarta Sehat), hingga BPJS (Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial).

Oleh karena itu, jika anda beruntung termasuk pemilik askes (apa pun jenis dan namanya), anda dapat melewatkan bagian ini dan melanjutkan ke prioritas asuransi berikutnya.

 

Asuransi Penyakit Kritis

 

Dari segi dampak keuangan, penyakit kritis dapat menimbulkan dampak yang lebih besar ketimbang kematian. Apalagi jika penyakit kritis tersebut berlangsung berkepanjangan atau tidak tersembuhkan, yang repot bukan hanya penderita, tapi juga keluarga, para kerabat, hingga teman-temannya. Contohnya, orang yang terkena stroke, jika tidak sembuh, dia jadi lumpuh dan tidak bisa bekerja seperti sebelumnya. Tapi dia harus tetap berobat sementara biaya hidup tak bisa ditunda pemenuhannya.

 

Sayangnya banyak yang belum menyadari pentingnya proteksi penyakit kritis. Mereka merasa asuransi kesehatan saja sudah cukup. Mungkin jika askesnya berkategori premium, biaya ratusan juta hingga miliaran bisa ditanggung, tapi askes premium harganya tak akan terjangkau oleh kebanyakan orang. Dan sebagus-bagusnya askes, tak ada yang memberikan uang tunai untuk nasabahnya. Padahal orang yang terkena penyakit kritis, dia bukan hanya butuh penggantian biaya pengobatan, tapi juga sejumlah uang untuk biaya hidup dan lain-lainnya.

 

Proteksi penyakit kritis tidak dimaksudkan untuk menggantikan asuransi kesehatan. Proteksi penyakit kritis menambal apa yang tidak dapat diberikan askes, yaitu uang tunai dalam jumlah besar (ratusan juta hingga miliaran rupiah).

 
 

Asuransi Cacat (Sebagian maupun Total, karena Sakit ataupun Kecelakaan)

 

Cacat bisa disebabkan kecelakaan ataupun penyakit. Dalam hal cacat tetap total, kejadian ini sama akibatnya dengan meninggal dunia dan beberapa jenis penyakit kritis, yaitu putusnya penghasilan karena tidak mampu lagi bekerja.

 

Di sini, tersedia dua proteksi yang penting, yaitu ADDB (Accident Death and Disability Benefit) dan TPD (Total Permanent Disability). ADDB menanggung risiko cacat (sebagian maupun total) akibat kecelakaan, sedangkan TPD menanggung risiko cacat total akibat sakit maupun kecelakaan.

 
 
 

Jangan buang waktu Anda untuk terus mencari.  Apabila Anda setuju dengan artikel ini, artinya Anda harus segera ambil TAPRO Allisya, karena semuanya ada disini.

 

Yuk hubungi saya untuk mendapatkan penawaran solusi terbaik sesuai kebutuhan dan kemampuan financial Anda.

 
 
 
 
 
 

9 Alasan Saya Pilih Unit Link

14 Agustus 2013 aku menandatangani formulir pengajuan asuransi jiwa tipe unit link. Bayar premi 500 ribu per bulan, manfaat yang kuperoleh (laki-laki, 37 tahun, kelas pekerjaan 1) adalah:

  1. Jika meninggal dunia setelah 70 tahun: 250 juta (sampai usia <100 tahun)
  2. Jika meninggal dunia sebelum 70 tahun:  400 juta (+250 juta tsb di atas)
  3. Jika kecelakaan dengan akibat meninggal atau cacat : 245 juta (sampai usia <65 tahun)
  4. Jika cacat total tetap :  240 juta 
  5. Jika sakit kritis (49 penyakit kritis) : 250 juta (sampai usia <70 tahun)
  6. Payor (pembebasan premi dan dibayari premi oleh perusahaan jika terdiagnosis penyakit kritis atau mengalami cacat tetap total) sampai usia 65 tahun.

Ada juga nilai tunai di akhir tahun kesepuluh sebesar Rp 26.947.000 (asumsi pertumbuhan 18%). Nilai tunai ini belum menyamai premi total yang kubayarkan selama 10 tahun (60 juta), karena  mengambil porsi asuransi yang maksimal. Tak mengapa, karena memang tujuanku adalah proteksi, bukan investasi.

Kalau memang tujuannya proteksi, kenapa tidak ambil asuransi murni? Kan bisa lebih murah?


Alasannya ada sembilan.


Pertama, aku ingin asuransi yang menyediakan keempat manfaat di atas. Aku tidak tahu adakah asuransi murni (tradisional) yang menyediakan empat manfaat tsb sekaligus, dengan harga yang kompetitif.

Apakah keempatnya harus diambil? Menurutku, ya. Karena asuransi jiwa murni saja tidak cukup. Bagaimana kalau kecelakaan tapi tidak mati, melainkan cacat? Kalau hanya mengambil asji murni, tentu UP-nya tidak cair. Sejauh ini tidak ada metode yang ampuh untuk mencegah kecelakaan. Berhati-hati saja tidak cukup, karena bisa saja penyebabnya kecerobohan orang lain. Satu-satunya cara hanyalah berdoa mengharap perlindungan dari Tuhan.

Tentang manfaat sakit kritis, sebetulnya aku pribadi yakin dengan pola hidupku yang sekarang ini, aku tidak akan mengalami sakit kritis, kecuali mungkin saat hendak meninggal. Tapi aku juga tahu potensi itu ada. Bapakku alhamdulillah kondisi masih sehat di usianya yang ke 71 tahun. Ibuku sewaktu mudanya sehat, siapa menyangka akhirnya ada benjolan di payudaranya sejak 2006, merasa sehat tapi ternyata 2011 terpaksa di-kemoterapi, radiasi dll yang menghabiskan dana hampir 300 juta (beruntung masih dicover perusahaan sekitar 280 juta, sisanya tetap harus rogoh kocek sendiri), sekarang alhamdulillah sehat walau masih recovery. 

Mengambil manfaat sakit kritis adalah tindakan jaga-jaga, karena penyakit model begini biaya berobatnya mahal. Tentunya harapanku adalah tetap sehat sentosa selamanya.

Sedangkan manfaat payor menjamin bahwa rencana keuanganku, yakni mendapat proteksi jiwa sekaligus investasi, tetap berjalan apa pun yang terjadi pada diriku, sekalipun sakit kritis, cacat total, dan tidak bisa bekerja. Boleh dikatakan, payor benefit adalah “asuransi atas asuransi”. Ya, asuransi kita pun perlu diasuransikan lagi. (Di sini aku teringat ungkapan dalam dunia sufi: “Bahkan istigfar kita pun perlu diistigfarkan lagi”).

Kedua, aku ingin asuransi jiwa yang bisa berlaku seumur hidup, bukan sampai usia tertentu saja. Asuransi jiwa murni (termlife) paling banter hanya sampai 70 tahun, itu pun dengan premi yang sangat mahal selewat usia 50. Dengan unit link, aku punya keleluasaan apakah tetap sampai 100 tahun ataukah kubatalkan pada usia tertentu (misalnya 70 tahun). 

Dengan demikian, pada usia 70 tahun, seandainya masih hidup, aku bisa punya pilihan apakah akan mewariskan uang 250 juta (kemungkinan nanti nilainya tidak seheboh sekarang akibat inflasi) kepada keluargaku, ataukah membatalkan asuransi jiwaku dan mengambil hasil investasi yang ada (di ilustrasi nilainya mencapai 165 juta).  

Dan apabila aku “pindah dunia” sebelum 70 tahun, maka keluargaku tidak akan kehilangan penghasilan karena aku sudah siapkan 650 juta untuk di-depositokan.

Pilihan semacam ini tidak akan kuperoleh di asuransi murni termlife. Memang, menurut teori para perencana keuangan, orang tua umur 70 tahun tidak butuh asuransi jiwa karena hartanya diasumsikan sudah bejibun berkat hasil investasinya sejak masa muda. (Iya kalau sukses. Kalau bangkrut?). 

Tapi punya pilihan tentu lebih menyenangkan. Jika untuk punya pilihan itu aku harus membayar lebih, ya oke-oke saja. Dengan mengambil unit link sekarang, aku bisa menikmati biaya asuransi atau cost of insurance (COI) yang jauh lebih murah di masa tua, dibanding termlife. Dan dana untuk membayar COI itu tidak usah dipikirkan karena akan tertutupi oleh hasil investasi (dengan asumsi kondisi ekonomi sehat, dan tentunya kita mengharapkan demikian. Jika kondisi ekonomi tidak sehat, bukan hanya unit link yang rugi; semua investasi juga rugi, dan asuransi murni juga bisa mengalami gagal bayar klaim).

Ketiga, ada nilai tunai hasil investasi yang akan digunakan untuk merawat manfaat asuransi sampai masa berlakunya berakhir, atau jika butuh uang bisa diambil sebagian tanpa membatalkan manfaat asuransi.

Keempat, unit link menyediakan fasilitas cuti premi, yang memungkinkan diriku:

 1) berhenti menyetor premi untuk sementara (beberapa bulan) jika karena satu dan lain hal aku mengalami kesulitan finansial. Pemberhentian ini tidak otomatis membatalkan polis asuransi karena ada unit investasi yang akan membayarkan biaya asuransi dan administrasi. Setelah keuanganku pulih, aku bisa kembali meneruskan setoran premi;

 2) membayar premi lebih singkat (rencanaku 10 tahun) untuk mendapatkan proteksi lebih panjang.

Fasilitas ini mungkin bisa direplikasikan jika aku mengambil terpisah (TL+TD), dengan cara membayar premi lanjutan dari retur reksadana. Tapi kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi jika uang sudah di tangan kita.

Kelima, belum tentu asuransi murni lebih murah daripada unit link. Memang jika hanya membandingkan unit link vs termlife murni+reksadana, unit link akan kalah, termasuk dalam jangka panjang. Namun jika unit link dibandingkan dengan termlife+(kecelakaan+sakit kritis+payor)+reksadana, aku yakin unit link lebih unggul, termasuk dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, unit link akan lebih tampak lagi keunggulannya. Menurutku, unit link dirancang untuk diambil dengan manfaat yang beragam, bukan satu manfaat saja. Dengan mengambil minimal 2 atau 3 manfaat tambahan, keunggulan unit link akan lebih tampak.

Keenam, jelas unit link lebih praktis daripada mengambil asuransi terpisah dengan investasi. Kepraktisan adalah nilai lebih dari suatu produk, sebab bisa membantu kita menghemat waktu, tenaga, dan pikiran. Jika untuk kepraktisan ini kita membayar sedikit lebih mahal, itu lumrah. Apalagi jika lebih murah.

Ketujuh, dalam unit link ada agen yang sudah berkomitmen untuk melayani nasabah jika melakukan klaim. Ini juga nilai tambah yang tidak boleh diremehkan. Jika untuk fasilitas ini kita membayar lebih mahal, tak masalah. Apalagi jika lebih murah.

Kedelapan, kemampuan keuanganku saat ini hanya memungkinkan aku bayar premi secara bulanan, sedangkan beberapa produk term life yang sudah kusurvai, bayarnya hanya bisa tahunan. Biarpun ada term life yang misalnya menawarkan premi 3 juta utk UP 1 miliar, saat ini aku tidak sanggup bayar sekaligus. Lagi pula, seperti kusebutkan di atas, kebutuhan proteksiku bukan hanya UP jiwa.

Kesembilan, dengan alasan etis dan religius, aku hanya ingin asuransi yang syariah. Produk term-life yang murah-murah tsb pada umumnya belum syariah. Sedangkan term-life syariah preminya lebih mahal, ridernya tidak lengkap, dan aku tidak yakin ada renewal guarantee (garansi perpanjangan).

Produk unit link yang kuambil ini jenisnya syariah. Dan rata-rata penyedia unit link memiliki produk syariah.

 

Kesimpulan: Aku yakin unit link masih lebih baik daripada asuransi murni, dengan catatan:

1. Manfaat proteksinya dimaksimalkan. Perbesar uang pertanggungan meninggal, kecelakaan, dan sakit kritis, sampai jumlah maksimal yang diizinkan oleh program unit link tersebut sesuai premi yang kita bayarkan.

O ya, di sini aku tidak mengambil manfaat kesehatan karena sementara ini aku masih punya kartu Jamsostek dari kantor. Aku tidak tahu berapa plafonnya (kurasa tidak besar), tapi cukuplah untuk sekadar sakit biasa dan dirawat inap di kamar paling murah. Lagi pula pemakaiannya jarang, karena jika aku sakit, aku pilih kerokan saja daripada ke rumah sakit.

2. Tidak salah memilih produk. Mengapa? Karena unit link berbeda-beda dalam segi manfaat yang bisa diberikan dan biaya yang dikenakan. Sebelum memutuskan yang sekarang ini, aku telah melakukan survai terhadap 5 produk unit link (P, T, A, A, dan A). Insya Allah yang kuambil ini adalah yang terbaik (manfaat paling besar, biaya paling rendah).

3. Agennya berkualitas. Jika anda bertemu agen asuransi, tanya berapa lama dia sudah jadi agen. Semakin lama insya Allah semakin baik, tandanya sudah pengalaman. Tapi juga jangan terlalu tua. Kalau bisa seumuran, sebab dia akan melayani kita seumur hidup kita. Kalau dia meninggal lebih dulu, kita bisa kehilangan fasilitas dilayani agen, kecuali agen di atasnya mau menggantikan.

Itulah beberapa pertimbangan yang kuambil sebelum memutuskan membeli unit link. Sebelumnya aku sempat anti dengan unit link setelah membaca saran beberapa perencana keuangan yang menganjurkan pemisahan antara asuransi dan investasi. Tapi kupikir para penyedia unit link pun membaca kritik-kritik yang dialamatkan kepada produk mereka. Ada yang sudah memperbaiki produknya, sebagian lagi belum.

Dan aku memilih produk unit link yang kelihatannya telah disempurnakan untuk siap menghadapi kritik tsb. Salah satu cirinya, dulu produk ini mengenakan biaya akuisisi 195%, sekarang biaya akuisisinya 145% dan bisa turun menjadi 118,7% jika aku membayar premi rutin hingga 10 tahun (produk ini memberikan ekstra 5,26% untuk porsi investasi sejak tahun keenam).

Demikian sekadar sharing. Jadi kita tidak sekadar anti dengan unit link tanpa punya pertimbangan yang komprehensif menyangkut sisi kelebihan dan kelemahan suatu produk. Termlife murah, tapi tidak bisa seumur hidup. Unit link lebih mahal, tapi bisa seumur hidup. Selain itu termlife saja belum cukup; kita juga butuh asuransi kecelakaan dan sakit kritis. 

Unit link memberikan manfaat-manfaat tambahan yang biaya asuransinya akan lebih murah dibanding harus mengambil satu-satu secara terpisah. (Di sini saya belum punya perbandingan dalam bentuk angka, tapi saya yakin setidaknya dalam jangka panjang unit link lebih murah).

Kemudian dari segi investasi, memang reksadana bisa menghasilkan retur yang lebih maksimal. Tapi tentunya kita mengambil unit link bukan dengan tujuan investasi, melainkan proteksi. Hasil investasi yang ada itu fungsinya untuk membayar biaya-biaya asuransi, sehingga sebaiknya tidak kita ambil, kecuali disisakan sejumlah dana yang cukup untuk berkembang sendiri agar kita tidak lagi harus membayar premi. 

pertimbangan pribadi A P, nasabah unitlink Allisya Protection Plus

Financial Consultant : Estri Heni (0817 028 4743)

sharing pengalaman A S, nasabah unitlink Allisya Protection Plus

Financial Consultant: Y H

 

UP 4 Miliar hanya 1 juta perbulan

 

Setelah sebelumnya saya tawarkan UP 1 Milliar, UP 2 Milliar, keduanya dengan premi sangat terjangkau, berikut saya tawarkan proteksi jiwa UP 1 miliar ditambah 4 bentuk proteksi lain dengan total UP lebih dari 4 miliar.

 

UP 4 M

Jika anda pria umur 25 tahun atau kurang, bekerja dalam ruangan, dan sehat, maka yang perlu anda sisihkan cukup 1 juta per bulan.

 

 

Premi untuk usia dan jenis kelamin yang berbeda:

Premi UP 4 M

 

Lengkap dan murah, bukan? Itulah Tapro Allisya Protection Plus. Tak ada di tempat lain.

Selain lengkap dan murah, program ini ada unsur investasinya pula. Anda boleh menambahkan premi top up untuk mendukung investasi, minimal 100 ribu per bulan, maksimal 3 kali premi. Top up sifatnya opsional, boleh ditambahkan boleh tidak, dan boleh pula ditambahkan kapan saja.

 

 

Keterangan Manfaat

  • Jika pindah dunia sebelum usia 100 tahun, akan cair uang 1 miliar ditambah nilai investasi.
  • Jika pindah dunia karena kecelakaan sebelum usia 65 tahun, akan cair uang 2 miliar ditambah nilai investasi.
  • Jika mengalami cacat akibat kecelakaan sebelum usia 65 tahun, akan diberikan sebesar persentase dari 1 miliar.
  • Jika terdiagnosa 1 dari 49 penyakit kritis sebelum umur 70 tahun, akan keluar uang 1 miliar.
  • Jika mengalami cacat tetap total, akibat kecelakaan ataupun sakit, akan cair lagi 1 miliar.
  • Jika terdiagnosa sakit kritis atau cacat tetap total sebelum usia 65 tahun, maka selain mendapat 1 miliar, akan dibayarkan pula tabungan otomatis sebesar premi sampai umur 65 tahun.
  • Jika selamat sehat wal afiat sampai umur 100 tahun, maka alhamdulillah, puji syukur kepada Tuhan atas karunia nikmatnya kepada anda. Anda dipersilakan menarik semua nilai investasinya.

 

 

 

Hubungi Saya:

 

Estri Heni

SMS/What’s App :  0817 028 4743

pin BB                  :  2a0897cb

E-mail                  :  allianzkita@gmail.com

 

 

 

inspirasi dari:

http://myallisya.wordpress.com/2013/03/03/dapatkan-total-up-4-miliar-lebih-hanya-1-juta-per-bulan/

 

 

 

UP > 2,5 Milliar, premi 600ribu perbulan?? Bisa dooong!

Karena risiko hidup ada berbagai macam, dan semuanya bukan soal pilihan ganda yang bisa dipilih salah satu, langkah paling menentramkan adalah menyiapkan skenario untuk beberapa kemungkinan sekaligus.

 

Saya menawarkan proteksi jiwa UP 1 miliar ditambah 4 bentuk proteksi lain dengan total UP lebih dari 2,5 miliar.

Jika anda pria umur 26-30 tahun, bekerja dalam ruangan, dan sehat, maka yang perlu anda sisihkan cukup 600 ribu per bulan.

Tabel di bawah menunjukkan premi bulanan untuk mendapatkan manfaat di atas, berdasarkan usia masuk dan jenis kelamin.

Premi UP 2,5 M

Lengkap dan murah, bukan? Semuanya ada dalam 1 program yang disebut Allisya Protection Plus atau Tapro Allisya. Tak ada di tempat lain dengan harga segini.

Keterangan Manfaat

  • Jika tutup usia sebelum usia 70 tahun, akan cair uang 1 miliar ditambah nilai investasi.
  • Jika tutup usia setelah usia 70 tahun, akan cair uang 500 juta ditambah nilai investasi.
  • Jika tutup usia karena kecelakaan sebelum usia 65 tahun, akan cair uang 1,5 miliar ditambah nilai investasi.
  • Jika mengalami cacat akibat kecelakaan sebelum usia 65 tahun, akan diberikan sebesar persentase dari 500 juta.
  • Jika terdiagnosa 1 dari 49 penyakit kritis sebelum umur 70 tahun, akan keluar uang 500 juta.
  • Jika mengalami cacat tetap total, akibat kecelakaan ataupun sakit, akan cair lagi 500 juta.
  • Jika terdiagnosa sakit kritis atau cacat tetap total sebelum usia 65 tahun, maka selain mendapat 500 juta, akan dibayarkan pula tabungan otomatis sebesar premi sampai umur 65 tahun.
  • Jika selamat sehat wal afiat sampai umur 100 tahun, maka alhamdulillah, puji syukur kepada Tuhan atas karunia nikmatnya kepada anda. Anda dipersilakan menarik semua nilai investasinya.

Untuk keterangan lebih lanjut, atau ingin mendapatkan ilustrasi, silakan kontak saya :

Estri Heni

SMS/What’s App :  0817 028 4743

pin BB                  :  2a0897cb

E-mail                   :  allianzkita@gmail.com

inspirasi dari:

http://myallisya.wordpress.com/2012/11/13/dapatkan-total-up-25-miliar-lebih-hanya-600-ribu-per-bulan/