Proteksi 1 Miliar, Berapa Preminya?

Apakah Anda masih membandingkan produk asuransi jiwa termlife dengan produk asuransi jiwa unitlink?  Saya menawarkan produk Asuransi Jiwa SYARIAH jenis unitlink, namun dengan skema memaksimalkan Rider termlife.

Tapro Allisya bisa memberikan uang pertanggungan jiwa 1 Milliar dengan premi 380 ribu per bulan, untuk pria usia 30 tahun, kerja dalam ruangan, dan sehat. 

780B1830-BC70-4C35-A642-3654DE900E26

ASIS iPad ver 5.9.0 380_upd340_TL75 660

Keunggulan produk ini antara lain:

1. Bisa Bayar Bulanan

Tapro Allisya bisa memberikan UP 1 Miliar dengan premi hanya 380 ribu per bulan untuk pria 30 tahun. Di term life tertentu, anda mungkin akan mendapat premi yang lebih murah, tapi pada umumnya hanya bisa bayar secara tahunan atau semesteran.

Apa perbedaannya?

Pertama, tidak semua orang punya persediaan uang kas yang cukup besar untuk bayar secara tahunan. Seperti halnya terhadap barang-barang lain, bayar secara mencicil memungkinkan dia punya asuransi jiwa dengan lebih cepat.

Kedua, kalaupun punya, cara bayar bulanan memungkinkan peserta memanfaatkan selisih uang yang ada untuk keperluan lain yang juga penting, atau dijadikan modal usaha, atau diinvestasikan. Jika dijadikan modal usaha atau investasi, siapa tahu untungnya cukup untuk membayar premi bulan berikutnya. Bukankah konon orang memilih term life dengan tujuan agar bisa berinvestasi sendiri lebih maksimal? Bagaimana bisa maksimal kalau belum apa-apa uangnya sudah diambil banyak untuk asuransi.

Ketiga, kebanyakan orang mengatur keuangannya secara bulanan, karena gajinya juga bulanan. Membayar asuransi secara bulanan cocok untuk orang-orang seperti ini. Anda dapat mengalokasikan cicilan asuransi bersama tagihan-tagihan rutin lain seperti listrik, telepon, iuran sampah dan keamanan, KPR/sewa kontrakan, kredit mobil/motor, langganan koran, langganan TV kabel, dan lain-lain.

Keempat, membayar tagihan dengan cara dicicil terasa lebih ringan daripada bayar sekaligus.

Kelima, jika kurang disiplin menyisihkan penghasilan sejak awal, terkadang kedatangan tagihan yang besar bisa bikin kaget. Misalnya anda bayar asuransi per tahun 10 juta. Setelah bayar premi tahun pertama, anda tenang-tenang saja toh tahun depan masih lama. Tiba-tiba, tahu-tahu, sekonyong-konyong, tanpa anda sadari (mungkin karena hidup anda terlalu bahagia), tahun depan sudah di depan mata, dan anda sama sekali belum menyiapkan uang 10 juta.

2. Masa Bayar Lebih Pendek, Masa Proteksi Lebih Panjang

Di term life, masa pembayaran premi sama dengan masa berlaku asuransi. Jika kontrak 10 tahun, masa pembayaran pun 10 tahun dan masa proteksi pun 10 tahun.

Tapi di unit link Tapro Allisya, masa pembayaran premi bisa lebih pendek untuk masa berlaku yang lebih panjang. Jika hasil investasinya bagus, bayar 10, atau 15, atau 20 tahun pun cukup untuk masa proteksi hingga 70 tahun. Tapi jika hasil investasi ternyata tidak sesuai harapan, anda bisa memperlakukan unit link ini sama seperti term life: membayar selama ingin mendapat proteksi.

3. Premi Flat Sampai Seterusnya

Di term life, jika kontrak anda 10 tahun, maka saat anda mau perpanjang asuransi di tahun ke-11 sampai ke-20, anda akan dikenakan premi yang lebih tinggi, bisa dua kali lipat premi saat ini. Jika kontrak anda 20 tahun, maka saat perpanjangan di tahun ke-21 sampai ke-40, kenaikan preminya bisa lima kali lipat bahkan lebih.

Tapi di Tapro Allisya, premi 380 ribu per bulan itu tetap flat sampai kapan pun anda ingin mendapatkan perlindungan, dengan catatan setoran premi lancar tidak ada bolongnya, tidak pernah melakukan penarikan dana, dan kinerja investasi rata-rata tergolong cukup baik (sedang, pertengahan), tidak buruk terus selama puluhan tahun. Di tahun kesebelas (usia 40), premi tetap 380 ribu per bulan. Di tahun ke-21 (usia 50), premi juga masih 380 ribu per bulan. Bahkan seperti dikatakan sebelumnya, jika hasil investasi sesuai dengan asumsi tertinggi atau lebih tinggi lagi, anda boleh berhenti membayar setelah tahun ke-10 atau 15, dan proteksi jiwa 1 miliar anda tetap berlangsung sampai usia 75 tahun.

Cobalah berpikir jangka panjang. Haruskah anda berkorban uang lebih banyak di 10-20 tahun mendatang hanya untuk bayar lebih murah saat ini, di mana selisihnya pun tak seberapa, dan itu pun harus bayar sekaligus per tahun?

4. Premi Tidak Seluruhnya Hangus, Malah Bisa Lebih Besar dari Total Setoran

Karena Tapro Allisya ini unit link, maka ada sebagian premi yang diinvestasikan, selain yang dipakai untuk membayar biaya-biaya seperti biaya akuisisi, administrasi, tabarru (biaya asuransi), dan pengelolaan investasi. Biaya-biaya memang hangus, tapi premi yang diinvestasikan adalah hak anda.

Jika di tengah jalan anda ingin berhenti, anda tinggal ambil seluruh nilai investasi yang ada. Beres. Dalam jangka pendek mungkin belum balik modal, tapi bagaimana pun itulah biaya proteksi anda.

Dalam jangka panjang, sebagian premi yang diinvestasikan ini bisa berkembang melebih total dana yang disetorkan. Silakan lihat ilustrasi di bagian bawah untuk melihat proyeksinya.

5. Tidak Perlu Medical Check

Di Allianz, UP 2.5 Miliar ke bawah untuk usia di bawah 45 tahun tidak memerlukan tes kesehatan /medical check up (klik tabel Medis DISINI). Jika anda sehat, maka anda akan langsung diterima sebagai peserta Tapro Allisya. Perusahaan lain mungkin memberlakukan batasan tes medis yang berbeda.

6. Tidak Usah Memikirkan Garansi Perpanjangan. Masa Berlaku hingga 75 Tahun.

Di term life, jika anda melakukan perpanjangan selepas masa kontrak, sebagian perusahaan asuransi akan mewajibkan anda menjalani tes kesehatan lagi. Jika kesehatan anda dianggap buruk, perpanjangan asuransi bisa jadi ditolak. Oleh karena itu, jika anda memutuskan mengambil term life, pastikan polis anda memiliki garansi perpanjangan (renewal guarantee).

Tapi di Tapro Allisya, anda sama sekali tidak perlu memikirkan masalah perpanjangan. Sejak awal, dalam kontrak polis dinyatakan bahwa masa berlaku UP 1 Miliar anda adalah sampai usia 75 tahun.

7. Maslahat Meninggal, pada Akhirnya, akan Lebih dari 1 Miliar

Ya. Meski UP jiwa anda 1 miliar, yang akan diterima ahli waris anda pada akhirnya akan lebih dari 1 miliar. Kenapa? Karena ada hasil investasi. Besarnya tergantung waktu dan hasil investasi pada saat itu. Dengan ini, UP jiwa anda kemungkinan tidak perlu diupgrade, kecuali anda mengalami peningkatan gaya hidup yang signifikan.

8. Masih Ada Sisa UP Jika Umur Anda Melewati 75 Tahun

Jika anda diberi umur panjang sampai lewat usia 75 tahun, jangan khawatir, UP jiwa anda masih ada. Bukan 1 miliar, tapi 340 juta plus hasil investasi. Pada saat ini, hasil investasinya bisa jadi lebih besar dari UP-nya. UP 340 juta ini berlaku sampai usia 100 tahun. Karena sangat jarang orang mencapai usia 100 tahun, maka uang 340 juta ini sangat besar kepastiannya bisa diwariskan. Okelah, mungkin anak-anak dan cucu-cucu anda sudah kaya dan tidak butuh warisan dari anda. Tapi jika anda bisa memakai uang sendiri setidaknya untuk membayar kain kafan, upah petugas pemakaman, biaya tahlilan, dan bersedekah kepada fakir-miskin-yatim untuk terakhir kalinya, bukankah itu lebih menyenangkan?

9. Memiliki Rider yang Bagus dan Murah

Tapro Allisya memiliki rider (asuransi tambahan) yaitu:

  1. ADDB (Accident Death and Disability Benefit), menanggung cacat sebagian maupun total dan meninggal akibat kecelakaan. Masa berlaku sampai usia 65 tahun.
  2. CI+ (Critical Illness Plus), menanggung 49 penyakit kritis. Masa berlaku sampai usia 45-85 tahun (bisa pilih). Klaim rider ini tidak mengurangi UP jiwa.
  3. TPD (Total Permanent Disability), menanggung cacat tetap total akibat kecelakaan ataupun sakit kritis. Masa berlaku sampai usia 45-70 tahun (bisa pilih).
  4. CI 100, menanggung 100 kondisi kritis. Masa berlaku 45-100 tahun (bisa pilih). Klaim Rider ini tidak mengurangi UP Jiwa.
  5. Payor benefit, yaitu bebas premi jika terkena CI+ atau TPD, bisa untuk peserta ataupun pasangan dari peserta. Masa berlaku sampai usia 65 tahun.

Jika anda menambahkan riders di atas, tentunya preminya tidak lagi 380 ribu per bulan, tapi ada tambahannya.

Di term life juga ada ridernya. Tapi belum tentu preminya murah juga.

10. Rider Payor Benefit Lebih Menguntungkan daripada Waiver of Premium

Di term life, ada rider yang disebut pembebasan premi atau waiver of premium. Rider ini membebaskan nasabah dari membayar premi jika terkena cacat total, ada pula yang cacat total plus sakit kritis. Kebanyakan agen term life menambahkan rider ini sebagai prioritas setelah proteksi dasar (jiwa).

Mari kita timbang tindakan ini:

Pertama, jika orang terkena cacat total atau sakit kritis, yang lebih dia butuhkan pertama kali bukanlah pembebasan premi, tapi biaya berobat dan solusi dari kebingungan karena tidak bisa bekerja. Jadi, mestinya rider kecelakaan dan sakit kritis didahulukan daripada rider pembebasan premi.

Kedua, karena sifat term life adalah berjangka, maka rider waiver of premium juga berjangka. Jika kontraknya 10 tahun, bebas preminya juga maksimal 10 tahun. Misalnya, pada tahun kedelapan nasabah terkena cacat total, maka bebas preminya tinggal dua tahun lagi. Ketika masa kontrak habis, berhentilah masa bebas preminya. Kalau rider ini mau ditambahkan saat perpanjangan, maka harus bayar lagi.

Hal ini berbeda dengan payor benefit di unit link Tapro Allianz, yang masa berlakunya ditetapkan sejak awal sampai usia 65 tahun. Jika waiver of premiumhanya membebaskan nasabah dari pembayaran premi, maka payor benefit memberikan tabungan ekstra sejumlah premi yang disetorkan nasabah. Dengan demikian, nasabah yang kehilangan sumber penghasilannya karena tidak bisa bekerja, setidaknya mendapatkan sejumlah uang secara rutin walaupun sangat kecil dibanding gaji dia sebelumnya.

Saya sebagai agen asuransi yang menjual unit link, menempatkan rider payor benefit di urutan terakhir setelah proteksi yang lain terpenuhi.

11. Sesuai Syariah

Bagi anda yang peduli dengan nilai-nilai kesyariahan dari suatu produk atau aktivitas ekonomi, akan sulit bagi anda menemukan produk term life yang murah sekaligus sesuai syariah. Kecuali yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi murni syariah, semua produk term life adalah nonsyariah. Akadnya bersifat transfer risiko antara tertanggung dengan perusahaan asuransi, dan anda pun tidak perlu tahu uang anda diputar di mana.

Tapi Tapro Allisya, sesuai namanya, adalah produk asuransi yang memenuhi kriteria syariah. Akadnya berbagi risiko (risk sharing) dan tolong-menolong (ta’awuni) antara sesama peserta. Dengan ikut program ini, berarti anda meniatkan uang anda dipakai untuk menolong orang lain yang membutuhkan. Itu saja insya Allah sudah bernilai ibadah. Pada saatnya, siapa tahu anda sendirilah atau keluarga andalah yang membutuhkan pertolongan itu.

Selain itu, investasi anda pun disalurkan ke instrumen-instrumen yang sesuai kriteria syariah, baik di saham, sukuk, maupun deposito. Jadi, akadnya baik, investasinya pun halal.

12. Kelebihan Lain

Adanya unsur investasi pada Tapro Alisya memungkinkan anda memiliki sejumlah keleluasaan yang tidak mungkin diperoleh di term life.

Pertama, jika suatu waktu selewat tahun kedua anda nunggak bayar (misalnya karena sedang tidak punya uang), anda tidak dikenakan denda dan proteksi masih berjalan selama dana investasi masih mencukupi untuk membayar biaya asuransi.

Kedua, uang yang anda setorkan bisa kembali kepada anda dengan jumlah yang lebih besar.

Ketiga, jika anda benar-benar butuh uang, hasil investasi Tapro bisa diambil sesuai keperluan asalkan ada saldo 2 juta rupiah. Dana unit link memiliki likuiditas yang tinggi, artinya bisa dicairkan kapan saja sesuai keperluan, dengan proses pencairan maksimal 7 hari kerja.

Keempat, ahli waris anda akan menerima lebih dari 1 miliar, karena ditambah dengan hasil investasi yang ada pada saat itu.

Memang investasi unit link ini ada risikonya, tapi itulah sifat investasi. Di mana pun anda berinvestasi, risiko itu ada. Tapi dengan pengalaman Allianz sebagai perusahaan asuransi dan jasa keuangan terbesar dunia selama lebih dari 120 tahun, kiranya risiko investasi bisa diminimalkan melalui pemilihan portofolio secara tepat, pembayaran premi secara berkala, dan komitmen investasi jangka panjang.

 

UP 1 Miliar untuk profil peserta pria usia 35 tahun, tidak merokok, kerja dalam ruangan:

7F3B92D8-DC23-43F7-8CBF-D3C535AF1690

430+100_upd340_TL75 660 (asis iPad ver 5.9.0)

 

 

UP 1 Miliar, untuk profil peserta pria usia 40 tahun, kerja dalam ruangan, tidak merokok:

44D6E30D-6B12-4606-93CB-4F56B97A6FCA

580+100_upd340_TL75 660 (ASIS iPad ver 5.9.0)

 

Iklan

Sejumlah Nasabah Allianz Terdaftar Dalam Manifest Lion Air JT610

Bisnis.com, JAKARTA – Allianz Indonesia mendata, beberapa nasabahnya tercatat sebagai penumpang pesawat Lion Air JT 610 rute penerbangan Jakarta – Pangkalpinang yang mengalami musibah jatuh beberapa waktu lalu di perairan Tanjung, Karawang.

Kiswati Soeryoko, Chief of Government Relations, Corporate Events, CSR and Corporate Communication Officer Allianz Indonesia mengatakan, berdasarkan pendataan yang telah Allianz lakukan sampai, Selasa (30/10/2018), terdapat beberapa nama nasabah yang tercantum dalam daftar manifes penumpang Lion Air JT 610 .

“Belasungkawa kami sampaikan kepada seluruh keluarga korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang. Kami sangat berduka bahwa beberapa orang di antaranya merupakan nasabah Allianz Indonesia. Semoga keluarga korban diberikan ketabahan dalam menghadapi musibah ini,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (31/10/2018).

Dia mengatakan, Allianz akan memproses hak-hak keluarganya sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Allianz Indonesia. Bagi keluarga korban dan nasabah lainnya yang ingin mendapatkan informasi dan pengajuan klaim dapat menghubungi layanan AllianzCare.   Sumber

 

AADFE335-7A42-43B8-879D-8985CB52BCB5

Jakarta: Perusahaan asuransi Allianz Indonesia memastikan ada beberapa nama nasabahnya dalam daftar manifes penumpang Lion Air PQ-LKP JT610, yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, 29 Oktober 2018.

Chief of Government Relations, Corporate Events, CSR, and Corporate Communication Officer Allianz Indonesia Kiswati Soeryoko menjamin kemudahan pemrosesan klaim asuransi sesuai dengan ketentuan yang berlaku di perusahaan tersebut.

“Keluarga korban yang ingin mendapatkan informasi dan pengajuan klaim, dapat menghubungi layanan AllianzCare dengan nomor telepon 1500-136 atau melalui email contactus@allianz.co.id,” tutur dia dalam keterangan resmi yang diterima Medcom.id, Kamis, 1 November 2018.  Sumber

 

 

 

 

Punya Polis Asuransi VS Tidak

Orang memiliki polis asuransi bukan berarti tidak percaya kepada Tuhan, tetapi karena rasa tanggung jawab atas kehidupan orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepada dirinya.
Yang diasurasikan adalah tujuan & tanggung jawab financial dari seseorang, bukan diri atau nyawanya.
Tujuan Life Insurance  menjaga kehidupan manusia tetap berkualitas.
Berikut kisah nyata Keluarga A & Keluarga B  yang dibuat dalam bentuk komik agar mudah dipahami.

57BCEEFF-FB09-44B5-9669-0947D877EB53

 

5BBD8C37-9B21-4FE6-B6B8-95553611C4B9

 

Berikut adalah contoh ilustrasi proteksi Allianz Syariah seperti yang dimiliki oleh keluarga B:

860BE273-7466-43C6-8933-04DB53BE0301

Bapak Pencari Nafkah usia 28 tahun, tidak merokok, bekerja dalam ruangan, menyisihkan sebagian penghasilannya sejumlah 1.5 juta perbulan untuk membayar premi asuransi.

Manfaat proteksi yang didapat:

  • Warisan jika meninggal sebelum usia 85 tahun              = 1 M
  • Proteksi jika terdiagnosis 1 dari 49 sakit kritis                = 500 juta
  • Rawat inap plan 1000 (setara kamar kelas 1 di RS tertentu)
  • Stop bayar premi jika sakit kritis
  • Premi selanjutnya akan dibayarkan oleh Allianz sampai seolah2 usia 65 tahun.

Daftar 49 jenis sakit kritis yang dicover oleh Allianz, klik DISINI

Manfaat rawat inap plan 1000, seperti tabel berikut ini:

59EE7F64-8170-4CD1-91AC-344BDA992FE0

 

Jika resiko hidup Bapak Pencari Nafkah terjadi seperti pada keluarga B, dimana si Bapak masuk RS karena serangan jantung, maka:

  1.  Bapak masuk RS menggunakan manfaat rawat inap yang sistem klaimnya adalah cashless (gesek dengan kartu).  Jadi Bapak atau keluarganya menunjukkan kartu kesehatan Allianz Syariah kepada RS.  Biaya pengobatan dan perawatan selama di RS ditanggung oleh Allianz sesuai plan yang dipilih Bapak, yaitu plan 1000 (baca tabel manfaat rawat inap di atas).
  2. Serangan jantung merupakan salah 1 kategori sakit kritis dari 49 sakit kritis yang ditanggung oleh Allianz.  Maka Bapak Pencari Nafkah bisa melakukan pengajuan klaim sakit kritis, yang Uang Pertanggungannya sejumlah Rp. 500.000.000.  Dimana uang sejumlah besar ini, dapat digunakan untuk pengobatan lebih lanjut yang biayanya tidak ditanggung asuransi kesehatan (Cth: suplemen, vitamin, pengobatan herbal, sinshe, dll) ataupun biaya yang dikeluarkan oleh keluarga yang mendampingi (cth: transportasi, makan, dll).  Selain itu, uang tersebut juga bisa ditabung sebagian untuk menggantikan penghasilan si Bapak yang hilang akibat menurunnya kualitas dan kemandirian hidup.  Cth: untuk biaya hidup, bayar tagihan listrik, air, bayar sekolah anak, dsb)
  3. Bapak Pencari Nafkah juga bisa mengajukan klaim manfaat bebas premi.  Sehingga tidak perlu bayar premi lagi, dan selanjutnya Allianz Syariah yang akan membayarkan preminya.

Dengan banyaknya manfaat polis asuransi Allianz Syariah yang dimiliki, Bapak dan keluarga bisa fokus pada pengobatan dan perawatan penyakitnya untuk mencapai kesembuhan dan kualitas hidup yang lebih baik daripada ketika mengalami sakit.

Keluarga juga tidak perlu harus pinjam uang kepada saudara atau teman untuk memenuhi biaya pengobatan selama di RS.  Tidak perlu berhutang, apalagi pada lembaga yang menawarkan “Dana Tunai” 1 jam cair, yang pastinya pengembalian dananya akan ada bunga.

Ingat, saat sehat saja tidak mudah untuk pinjam uang, apalagi saat sakit.  Bila si sakit tidak kunjung sembuh, bagaimana cara keluarga mengembalikan uang yang dipinjam?.. Mungkin demikian yang ada di pikiran orang sehingga semakin berat untuk memberikan pinjaman uang…

Oleh karena itu, akan lebih bijaksana jika Anda:

Siapkan kesejahteraan finansial Anda sendiri.

Jangan mengandalkan orangtua sebagai “dana darurat” Anda.  Jangan pula mengandalkan anak sebagai “dana pensiun” Anda.

 

Segera hubungi agen asuransi Syariah berlisensi.

Estri Heni.   | WA: 0817-028-4743

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apakah Klaim Asuransi Kematian Harus Dibagi Menurut Hukum Waris?

5DEDA5FA-961A-49F4-9EE5-6D6F3BF88E7B
Pertanyaan :
Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Baru-baru ini kami sekeluarga sedang melaksanakan pembagian waris atas harta peninggalan orang tua. Salah satu yang membuat kami bingung adalah tentang uang klaim asuransi kematian. Rupanya almarhum saat masih hidup diasuransikan oleh tempat bekerjanya. Dan saat kematian menjemputnya, kami mendapat uang yang lumayan.

Memang di dalam suratnya disebutkan bahwa yang mendapat uang klaim asuransi itu adalah anak dan istri, sedangkan almarhum hanya punya  anak perempuan saja. Sedangkan anak laki-laki tidak ada. Kalau secara hukum waris Islam, seharusnya saudara dan saudari almarhum menerima harta warisan karena mereka adalah ahli waris juga dan menerima secara ashabah.

Yang menjadi pertanyaan kami adalah  apakah uang klaim asuransi kematian itu harus kami bagikan juga kepada saudara dan saudari almarhum itu? Sedangkan di dalam surat asuransinya, hanya disebutkan nama istri dan anak saja.

Mohon penjelasan dari ustadz. Terima kasih

Wassalam

Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pembagian harta waris bukan semata-mata membagi-bagi harta milik almarhum begitu saja begitu almarhum wafat. Harta itu perlu dipastikan statusnya terlebih dahulu. Tidak semua harta yang sekilas kelihatan milik almarhum, bisa dipastikan milik almarhum dan langsung dibagi. Boleh jadi harta itu bukan milik almarhum, tetapi milik orang lain.

Salah satu syarat dari harta yang dibagi waris adalah masalah status kepemilikan, bahwa harta itu adalah harta milik almarhum dengan status al-milkut-taam atau kepemilikan yang sempurna sejak almarhum masih hidup. Sedangkan harta yang bukan milik almarhum, tentu tidak perlu dibagi waris.

Lalu bagaimana dengan uang klaim asuransi? Bukankah asal muasal harta itu tetap milik almarhum? Dan bukankah ketika almarhum mendaftarkan diri ikut dalam program asuransi kematian (life insurance), niatnya agar bisa diterima nantinya oleh para ahli warisnya? Bukankah almarhum membayar premi atau setidaknya dibayarkan preminya oleh institusi tempatnya bekerja?

Masalah ini perlu dicermati secara rinci dan detail serta hati-hati. Memang benar harta itu seolah-olah milik almarhum, setidaknya niat di hati almarhum ingin agar nantinya kalau wafat, ada uang asuransi yang bisa dinikmati oleh ahli waris.

Tetapi ada beberapa hal yang perlu diketahui terlebih dahulu, jangan kita main pukul rata. Beberapa hal itu antara lain adalah :

1. Uang Premi Bukan Lagi Milik Almarhum

Ketika almarhum membayar uang premi ataupun dibayarkan oleh tempatnya bekerja, maka status uang itu sudah bukan lagi milik almarhum secara sempurna. Buktinya almarhum tidak bisa mencairkan premi itu kapanpun dia mau. Uang premi yang telah disetorkan statusnya sudah bukan lagi milik almarhum. Artinya uang itu tidak ada dan kalau tidak ada maka tidak bisa dibagi waris.

Ini berbeda dengan apabila almarhum menabung, baik di rumah ataupun menabung di bank. Uang tabungan itu tidak dibayarkan kepada pihak lain. Uang tabungan itu cuma dititipkan saja. Pemiliknya tetap almarhum dan dia sama sekali tidak kehilangan hak kepemilikan sedetik pun.

Buktinya kapan saja almarhum mau ambil uang itu, bisa digunakan seenaknya. Apalagi misalnya almarhum punya kartu ATM/Debit atau sms banking, maka kapan dan dimana saja uang tabungan itu bisa dibayarkan.

Berbeda dengan uang premi yang sudah dibayarkan, maka almarhum tidak bisa menggunakannya untuk apapun. Soalnya almarhum bukan pemilik uang itu.

2. Uang Klaim Asuransi Baru Cair Setelah Pemiliknya Wafat

Uang klaim asuransi dari perusahaan asuransi sebenarnya tidak akan dimiliki oleh almarhum. Sewaktu almarhum hidup, dia tidak pernah jadi pemiliknya, sebagaimana setelah wafatnya dia pun juga bukan pemiliknya.

Sebab uang itu tidak pernah bisa dicairkan kecuali setelah almarhum pindah ke alam baka alias meninggal. Dan orang meninggal tidak punya hak untuk memiliki harta. Dan orang yang memiliki harta tidak bisa mewariskan harta kepada orang lain.

3. Uang Premi Bukan Uang Klaim Asuransi

Satu hal lagi yang juga penting untuk dicatat bahwa uang premi yang tiap bulan disetorkan itu tidak ternyata pernah sama jumlahnya dengan uang klaim asuransi oleh peserta.

Dalam sistem asuransi, perusahaan asuransi dan pesertanya selalu berpikir berlawanan. Perusahaan selalu berpikir bagaimana mereka terus menerima uang premi secara rutin dari peserta dan sebisa mungkin bagaimana diusahakan agar tidak perlu membayar klaim asuransi. Atau setidaknya tidak terlalu banyak jumlahnya.

Sebaliknya, dalam benak peserta asuransi yang dipikirkan adalah bagaimana dengan premi yang sedikit bisa mendapatkan klaim yang berkali-kali lipat lebih besar. Setidaknya kesan itulah yang selalu ditanamkan oleh para sales asuransi ketika merayu-rayu pada calon peserta.

Dan dalam kenyataannya, selalu ada selisih nilai harta antara uang premi yang disetorkan dengan uang klaim asuransi yang diterima. Dan semua ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa uang premi bukan uang klaim asuransi. Artinya, uang klaim asuransi itu memang bukan uang milik peserta.

Kesimpulan

Dengan beberapa argumen di atas, maka sudah jelas bahwa uang klaim yang dibayarkan perusahaan asuransi kepada keluarga almarhum sama sekali bukan uang milik almarhum ketika masih hidup. Maka statusnya bukan harta warisan. Dan oleh karena itu tidak perlu dibagi waris.

Lalu siapa yang berhak atas uang klaim asuransi itu?

Tentu saja yang berhak adalah anggota keluarga yang namanya memang dicantumkan di dalam surat-surat legalnya. Misalnya di surat itu dituliskan bahwa bila almarhum wafat, maka yang berhak untuk menerima uang klaim itu adalah istri dan anak-anaknya. Berarti hanya mereka saja yang berhak, yang lain tidak berhak.

Adapun saudara dan saudari almarhum, meski pun termasuk ke dalam daftar ahli waris dan tidak terhijab, namun mereka tidak perlu diberikan uang klaim asuransi itu. Sebabnya karena harta itu memang bukan harta almarhum. Asalnya memang harta almarhum, tetapi begitu dibayarkan sebagai premi, maka statusnya sudah berubah menjadi milik perusahaan asuransi.

Semoga penjelasan ini bisa dipahami secara mudah dan sederhana.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

 

 

 

 

 

sumber

September 2018: Allianz Bayar Klaim Meninggal Dunia dan Sakit Kritis

Disclaimer:

Berikut ini adalah sebagian kecil bukti pembayaran klaim oleh Allianz, yang berhasil saya himpun karena keterbatasan saya.  Di luar ini, mungkin masih banyak lagi bukti klaim yang disetujui Allianz.

 

Pembayaran Klaim 100 Kondisi Sakit Kritis sebesar Rp. 1 Miliar (polis 1)

Persetujuan Klaim 100 Kondisi Sakit Kritis sebesar Rp. 1 Miliar (polis 2)

Bukti Transfer Pembayaran Klaim 100 Kondisi Sakit Kritis (polis 1 & 2 tersebut)

_____________________________________________________________________________

 

Persetujuan Klaim 100 Kondisi Sakit Kritis sebesar Rp. 1 Miliar (Penggantian Katup Jantung)

_____________________________________________________________________________

 

Persetujuan Klaim Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan sebesar Rp. 1 Miliar.

Nasabah berusia 25 tahun.  Premi = 900 ribu perbulan.  Manfaat proteksi: UP jiwa dasar = 1 Miliar,  UP 100 Kondisi Sakit Kritis = 1 Miliar.

Baru menikah 1 tahun. Meninggalkan istri yang sedang hamil tua.  Satu hal yang tetap dikenang yaitu: tanggung jawab beliau sebagai seorang suami tetap ada meskipun beliau tidak lagi bisa menemani istri membesarkan anaknya.

_____________________________________________________________________________

 

Penyerahan Klaim Meninggal Dunia Rp. 300 Juta

Penyerahan klaim meninggal dunia oleh Ibu Ratih Triani (Leader Surabaya) di Kantor Allianz Surabaya Graha Pasifik, Jumat 21 September 2018.

Usia Nasabah 47 tahun.  Polis baru berjalan 11 bulan.  Wafat karena serangan jantung.  Proses Klaim sekitar 30 hari.

_____________________________________________________________________________

 

Sudah cukupkah tabungan Anda untuk digunakan, jika resiko hidup seperti itu terjadi?

Relakah Anda, jika hasil kerja keras Anda banting tulang, pergi gelap pulang gelap, ternyata harus dipakai untuk biaya pengobatan saat sakit kritis?

Apakah Anda tertarik dan berminat, jika:

  •  Ada solusi yang lebih mudah, menentramkan, dan pastinya HALAL  untuk membantu Anda menyiapkan rencana proteksi keuangan yang lebih baik ?
  •  Ada “ATM ke-2” yang dapat Anda gunakan dananya jika resiko hidup itu terjadi (tanpa harus menghabiskan penghasilan Anda) ?
  •  Hanya dengan menyisihkan sedikit dari penghasilan Anda, maka keuangan Anda akan terlindungi jika resiko hidup itu terjadi ?

 

Silahkan hubungi saya:

Estri Heni        |       WA:  0817-028-4743

Konsultasi GRATIS rencana proteksi keuangan.