Tidak Punya Tanggungan Hidup, Perlukah Berasuransi?

 

Tidak punya tanggungan hidup, berarti tidak ada orang yang harus ditanggung hidupnya oleh seseorang.  Orang yang ditanggung hidupnya itu bisa pasangannya atau anaknya atau orangtua nya ataupun kerabat lainnya.

Seseorang yang akan saya ceritakan kali ini adalah orang yang dekat di kehidupan saya.  Beliau adalah adik kandung dari ibu saya.   Sejak lulus sekolah, beliau diajak oleh Ayah untuk hidup bersama keluarga sembari menjajal peruntungan di ibukota.  Mungkin memang takdirnya bukan bekerja sebagai karyawan. Dengan keahliannya, beliau lebih nyaman berprofesi sebagai Driver freelance.  Siapapun yang butuh keahliannya, beliau siap membantu tanpa menentukan tarif.

Beliau tidak punya tanggungan hidup. Beliau tinggal bersama kami.  Makan, tidur, semua aktivitas hidup bersama kami. Sampai ibu saya menjanda pun, beliau masih bersama.  Ibu saya ikhlas menanggung beliau. Penghasilan beliau, biarlah menjadi tabungannya pribadi.

Saya pernah menawarkan asuransi sebagai proteksi untuk beliau.  Mengingat beliau tidak punya tanggungan hidup, penghasilan freelance nya amat riskan jika dijadikan “dana darurat” jika hal buruk terjadi, sementara ibu saya yang menanggung hidup beliau, juga hanyalah seorang janda yang tidak berpenghasilan.  Namun beliau menolak.  Alasannya klise: “saya masih sehat, tidak ada riwayat sakit berat dalam keluarga besar kita, dana saya terbatas, dan lagi toh saya tidak punya tanggungan yang harus diberi warisan”.  Saya rasa ditambah juga dengan minimnya pengetahuan beliau tentang bagaimana mengelola keuangan yang benar.  Beliau masih konvensional. Penghasilannya hanya ditabung di bank atau malah dibiarkan disimpan tunai di lemari pakaiannya.

Padahal jika beliau punya asuransi, maka ada beberapa hal yang bisa bermanfaat bagi beliau.  Apa saja?

  1. Akan mandiri secara finansial
  2. Tidak perlu merepotkan orang lain
  3. Fokus pada pelayanan pengobatan terbaik, biaya pengobatan biar asuransi yang urus
  4. Hasil kerja tidak sia-sia
  5. Tidak terjebak dalam riba
  6. Tidak meninggalkan hutang saat meninggal

 

Takdir memang tidak bisa ditolak, ataupun ditunda.  Punya asuransi bukan berarti menolak takdir.  Punya asuransi atau tidak, musibah tetap akan terjadi.  Bedanya, punya asuransi akan lebih membantu masalah keuangan yang timbul akibat musibah itu.

Jika Anda tidak percaya, tidak perlu meminta bukti. Cukuplah berpikir bijak dengan belajar dari pengalaman orang lain. Berikut pengalaman perjalanan hidup Paman saya, yang akan saya bagi.

Qadarullah, Pertengahan Juli 2017 kemarin, beliau terdiagnosis sirosis hepatis.  Padahal bertahun-tahun sebelumnya, beliau memang masih sehat, tidak tampak ada gangguan kesehatan, tidak ada keluhan kesehatan yang berat.

 

 

  1. Akan Mandiri secara finansial

Seseorang yang tidak punya tanggungan hidup, akan lebih fleksibel mengelola penghasilannya.  Pertama, tidak perlu pusing memberi nafkah rutin kepada orang yang menjadi tanggungannya, memikirkan biaya hidupnya seperti: biaya sekolah, biaya tagihan listrik/telepon, biaya kontrak rumah/kamar/kos, biaya cicilan barang, dll. Bebas saja, mau tinggal di kontrakan senyaman apapun atau sesederhana apapun, tidak akan ada yang protes.  Apalagi jika tinggal bersama kakak yang menyayanginya, malah bisa menghemat toh?

Kedua, mudah untuk menabung dan menginvestasikan sebagian besar dananya sebagai cara untuk mencapai tujuan hidup sejahtera pada masa tua kelak.  Ketiga, mudah untuk sisihkan sedikit penghasilannya untuk berasuransi.   Ini juga bebas saja, mau berapapun porsi dananya, tidak akan ada yang protes.

Ya, seseorang yang tidak punya tanggungan hidup memang bisa bebas mengelola penghasilannya.  Mau sekedar “dikeluarkan” atau mau diinvestasikan.  Namun jangan lupa juga untuk disisihkan sedikit saja dari penghasilannya sebagai upaya siapkan “dana darurat” jika resiko buruk terjadi dalam hidupnya.  Ini penting.  Memang, tidak ada tanggungan “langsung” yang akan direpotkan dalam hal tanggung jawab biaya hidup dalam urusan dunianya.  Tapi, rasa empati dan kekeluargaan dari kerabat tentu akan tetap membantunya.  Masalahnya:  seberapa besar para teman dan keluarga tercintanya akan bisa membantu keuangannya, jika yang terjadi adalah resiko buruk dan berat?

Fakta bahwa ada 5 golongan yang bisa membantu keuangan seseorang sewaktu kena musibah kecelakaan atau sakit kritis:

  • Sahabat dekat = bisa bantu 1 juta
  • Saudara dekat = bisa bantu 10 juta
  • Kakak Adik = bisa bantu 50 juta
  • Orangtua = bisa bantu 100 juta
  • 🙄🤔 ????? = bisa bantu 500 juta, 1 Miliar, 3 Miliar, 5 Miliar…. (disinilah asuransi berperan, yaitu disaat orang lain tidak ada yang mau dan mampu membantu keuangan seseorang)

 

2.  Tidak perlu merepotkan orang lain

Tidak punya tanggungan hidup berarti tidak ada orangtua atau pasangan atau anak yang menemani dan merawat saat beliau sakit. Maka kamilah para keponakannya yang bergantian menemani beliau selama dirawat di Rumah Sakit. Insya Allah kami ikhlas mengurangi waktu kami bersama anak-anak dan pasangan demi bisa menjaga beliau.  Namun saya tahu, dari sorot matanya, beliau juga ada rasa tidak tega melihat “pengorbanan kecil” kami.  Terbaca bahwa dalam hatinya, beliau juga tidak ingin merepotkan kami.  Tapi biarlah, kami tidak merasa direpotkan.  Hanya ini yang bisa kami lakukan. Membantu, mendampingi, memberikan semangat beliau terutama saat sakit, saat dirinya kepayahan dengan kondisi kesehatannya.

Saya tau dana beliau terbatas.  Jika beliau punya asuransi, maka beliau tidak perlu merepotkan orang lain untuk meminjamkan sejumlah uang untuk biaya pengobatan dirinya.

 

3.  Fokus pada pelayanan pengobatan terbaik, biaya pengobatan biar asuransi yang urus

Selama sakit, beliau sangat memahami kondisinya sendiri. Meminta saya untuk memindahkan beliau ke kamar perawatan kelas 3, menolak diberikan tindakan yang membuatnya merasa tidak nyaman. Aahhh… Permintaan beliau itu malah membuat saya sedih. Beliau mungkin memang tidak mau merepotkan saya, tidak mau membuat saya merasa terbebani biaya Rumah Sakit, tapi itu malah menyesakkan saya untuk berupaya maksimal bagi kesehatan beliau.

Dana beliau terbatas. Membuat beliau yang sedang sakit terpaksa masih harus selalu menyempatkan diri berpikir untuk menghemat biaya dan sangat membatasi dirinya sendiri untuk mendapatkan pengobatan dan fasilitas pelayanan kesehatan terbaik dan nyaman.

Jika beliau punya asuransi, beliau bisa fokus pada upaya pengobatan maksimal menggunakan fasilitas pelayanan terbaik.  Suasana nyaman tentu membuat pasien bisa tenang sehingga proses pengobatan bisa maksimal.

 

4.   Hasil Kerja Tidak Sia-sia

Jika beliau punya asuransi, maka hasil kerja beliau tidak akan sia-sia.  Sebagian kecil penghasilannya disisihkan untuk asuransi sebagai proteksi saat resiko terjadi.  Sebagian besar penghasilannya bisa diinvestasikan.

Sehingga di kala sehat, beliau tetap akan bisa membantu kerabat beliau lainnya yang sedang membutuhkan bantuan dana (bagian ini sering menjadi upaya terakhir kerabatnya saat butuh dana, yaitu menghubungi beliau, pinjam uang, dikembalikan tanpa bunga 😊, dan beliau akan senang hati meminjamkannya jika memang tujuannya baik dan kebutuhannya mendesak).

Dan saat beliau sakit, beliau tidak harus menggunakan uang hasil kerjanya itu untuk biaya pengobatan sirosis hepatis yang diderita.  Cukup gunakan fasilitas cashless dari asuransi kesehatan saat rawat inap di RS.  Dan uang tunai proteksi sakit kritis yang bisa bermanfaat untuk menggantikan pengeluaran keuangan di luar RS.

Sayangnya, beliau tidak punya BPJS, apalagi asuransi pribadi.  Sehingga setelah tau kondisi kesehatan beliau butuh penanganan lama, barulah mau bikin BPJS.  Namun sebelum BPJS jadi, takdir berkata lain…

 

5.   Tidak Terjebak Dalam Riba

Saat butuh dana besar untuk perawatan rumah sakit, namun tidak ada saudara atau kerabat yang mampu meminjamkan uang, maka beliau tidak perlu pinjam uang melalui lembaga keuangan yang ada ribanya.  Dengan memiliki asuransi, hal ini bisa dihindari.

Dalam kasus beliau, saya bersyukur beliau belum sampai harus terjebak riba.  Karena beliau sudah keburu berpulang pada pertengahan Agustus 2017. Innalillahi wa innailaihi rojiuun…

 

6.  Tidak Menyisakan Hutang Saat Meninggal

Dalam kasus beliau, saya bersyukur beliau belum sampai harus berhutang.  Insya Allah kami, para keponakan dan juga ibu saya, masih bisa bekerjasama membantu.  Sampai akhirnya beliau sudah keburu berpulang pada pertengahan Agustus 2017. Innalillahi wa innailaihi rojiuun…

Akan berbeda kondisinya jika beliau masih diberi umur oleh Allah, dengan kondisi kesehatan seperti itu, bisa jadi akan ada kemungkinan timbulnya hutang demi bisa mendapatkan pengobatan terbaik.

Sebagai informasi, sirosis hepatis adalah gangguan kesehatan dimana organ hati menjadi keras dan bisa mengecil atau membesar.  Kondisi ini tidak bisa diperbaiki, hanya bisa diatasi dengan transplantasi hati.  Sehingga dengan mengacu pada pedoman pengobatan kasus Sirosis Hepatis Internasional, dokter hanya  akan memberikan suplemen saja untuk membuat pasien merasa nyaman.  Saat nyaman, pasien bisa pulang.  Saat kondisi drop, pasien harus rawat inap.  Begitu seterusnya sampai pasien bosan dengan pola pengobatan yang “begitu-begitu saja” dan sudah tidak mampu bertahan lagi.

Walaupun tidak punya tanggungan, tapi jika sampai berhutang dan menyisakan hutang saat meninggal, bagaimana pertanggungjawabannya?  Poin 2 di atas akan terjadi.  Yaitu akan merepotkan kerabat lainnya.  Repotnya bagaimana? Karena jadi harus ada kerabatnya yang membayarkan hutangnya.

Jika seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan utang, dan kerabatnya tidak mampu melunasi, maka sampai di akhirat pun utang tersebut tetap wajib dibayar. Dibayar dengan apa? Dengan amal baik, itu pun jika ada.

Mungkin saat ini Anda tidak punya utang dan bertekad tidak akan berutang kepada siapa pun.  Tapi jika mengalami sakit berat, mungkin saja tekad itu harus dibatalkan.

 

 

Artikel ini bukan sekedar teori rencana keuangan ataupun teori marketingnya agen asuransi.  Kali ini Anda mendapatkan lagi 1 pengalaman nyata, yaitu pengalaman hidup dari orang lain.  Masih penasaran dan tidak percaya karena belum mengalaminya?  Saya yakin Anda cukup bijak untuk memilih: tidak perlu mengalami untuk tau bagaimana rasanya.

Silahkan hubungi saya, agen Asuransi Allianz Syariah berlisensi, untuk diskusi mengenai bagaimana merencanakan keuangan terbaik sebagai proteksi terhadap penghasilan Anda.

Mari sisihkan sedikit penghasilan Anda untuk berasuransi.  Pilih yang Syariah, karena Syariah menentramkan.

 

Estri Heni  || WA: 0817 028 4743

 

 

 

 

Iklan

Kehilangan Sedikit Atau Kehilangan Banyak, Yang Mana Pilihan Bijak Anda?

Contoh kasus.  Berdasarkan tabel premi sakit kritis 1 Miliar, maka untuk profil:

Pria 30th.

Premi = 500rb perbulan

Manfaat:

UP dasar       = 200 juta

UP 49 sakit kritis   = 500 juta

UP 100 sakit kritis     = 500 juta

(Total UP sakit kritis = 1 Miliar)

Manfaat payor

 

Saya setor premi 500 ribu perbulan, dalam 10 tahun berarti saya keluar dana 60 juta untuk dapat proteksi sakit kritis sebesar 1 Miliar.  Jika dalam 10 tahun itu saya tidak sakit kritis, UPnya tidak cair ya? Wah, saya rugi 60 juta dong ya….

 

Penjelasan:

Pertama, meluruskan pemahaman bahwa Asuransi = proteksi.

Asuransi bukanlah masalah untung-rugi.  Menjadi untung, jika sudah beli asuransi, lalu terjadi sakit kritis, ada Uang Pertanggungan yang cair.  Menjadi rugi, jika sudah beli asuransi, tapi tidak terjadi sakit kritis, tidak ada Uang pertanggungan yang cair, premi yang dibayarkan menjadi “terasa” hangus.

Mari kita sama-sama meluruskan pemahaman ini.  Mari kita membuka wawasan diri dengan pemahaman yang lebih baik, yaitu bahwa Asuransi Jiwa adalah salah satu bagian dari beberapa rencana keuangan keluarga Anda.  Jika Anda sudah mengatur pos-pos pengeluaran rutin bulanan, kini saatnya Anda menambah alokasi pos untuk premi asuransi.  Tidak ada dana lebih untuk asuransi?  Tidak masalah, Anda bisa mengurangi biaya di pos “gaya hidup”.  Kurangi biaya “gaya hidup” Anda, untuk memaksimalkan biaya hidup.  Lebih detil untuk ini, silahkan googling ya.

Memiliki asuransi jiwa merupakan ikhtiar/upaya untuk menyiapkan dana tunai jumlah besar, dengan menyisihkan hanya sebagian kecil dari penghasilan Anda.  Setuju ya?

Kedua.  Kita tidak pernah tau apakah resiko hidup tersebut (contohnya: sakit kritis) akan datang pada kita?  Bisa ya, bisa tidak.  Kita tidak pernah tau kapan resiko tersebut bisa terjadi?  Mungkin saat usia senja, mungkin malah saat usia produktif.  Kita juga tidak bisa pilih-pilih resiko, maunya kalau sakit tuh hanya sakit pilek saja lah, sakit jantung stroke kankernya terjadi kepada si Fulan saja….  Kita tidak bisa seperti itu.  Menjadi sakit adalah takdir Allah SWT yang tidak bisa ditolak, harus diterima, dan tetap disyukuri.

Yang bisa kita siasati di awal adalah bagaimana strategi kita dalam mengatur rencana keuangan keluarga kita (baca kembali poin pertama).

Lanjut.  Katakanlah usia Anda saat ini 30th.  Anda menerapkan pola hidup sehat, sehingga sampai usia 40 tahun kondisi kesehatan Anda tetap prima.  Hal ini wajar bukan?  Secara umum diketahui bahwa usia non produktif itu adalah setelah masa pensiun, sekitar usia 55 tahun lebih.  Secara umum, justru pada usia senja tersebutlah baru muncul gejala penurunan kondisi kesehatan.  Ini juga dianggap wajar, karena demikianlah yang terjadi di sekitar kita.

Nah, yang dianggap belum wajar itu yang bagaimana?  Yaitu yang mengalami gejala penurunan kondisi kesehatan pada usia produktif!  Belum bisa dianggap wajar, namun saat ini faktanya demikian.  Contoh yang semua orang tau, tentunya kisah hidup artis muda Indonesia.  Masih muda, namun sudah mengalami sakit kritis.

Anda sudah menerapkan pola hidup sehat, tapi lingkungan sekitar tidak mendukung.  Menjamurnya restoran cepat saji, outlet penjual kopi, makanan instan yang mudah didapat di warung dekat rumah, sayur dan buah organik yang harganya malah lebih mahal, pola hidup tetangga Anda yang kurang sehat, tetangga Anda buang ludah sembarangan, dan sebagainya…  Hal sepele, namun sedikit banyak tentu bisa memberikan dampak juga bagi kesehatan Anda.

Hal penting untuk dipertimbangkan:

Jika selama ini Anda menyisihkan sedikit dari penghasilan Anda untuk ditabung, atau diinvestasikan, pasti tujuannya untuk kebahagiaan Anda, bukan?  Untuk masa depan anak, pendidikan anak, liburan, perjalanan ibadah, dll.  Sudahkah Anda menyisihkan sedikit penghasilan Anda untuk tujuan meminimalkan dampak buruk keuangan keluarga Anda, jika terjadi resiko hidup yang tidak diinginkan?  Inilah yang dimaksud dengan asuransi sebagai salah satu bagian dari beberapa rencana keuangan keluarga.

Jika dalam 10 tahun ke depan, Anda tidak mengalami sakit kritis, Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Sungguh, saya pun selalu mendoakan agar saya dan semua nasabah saya senantiasa diberi nikmat kesehatan oleh Allah, agar kita semua dapat beraktifitas, dapat berkarya, dapat berpenghasilan, dapat menyisihkan penghasilan untuk ditabung.  Aamiin…  Semua hasil dari upaya yang kita kerjakan adalah bertujuan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik, bagi diri kita dan anak-anak kita.  Setuju ya?

Ketiga, pemahaman tentang konsep asuransi jiwa Syariah.  Pada asuransi Syariah, premi yang disetorkan kepada Perusahaan Asuransi (sebagai pengelola dana) adalah Dana Tabarru atau Dana Kebajikan.  Semua peserta asuransi Syariah mengeluarkan dana tabarru.  Dana Tabarru ini dikumpulkan dalam rekening terpisah yaitu rekening Tabarru.  Jika seorang nasabah mengalami resiko, maka diambillah Dana Tabarru ini sebagai Uang Pertanggungan.  Memiliki asuransi syariah, artinya secara otomatis kita melakukan sedekah rutin setiap bulannya (mengikuti cara bayar), dan juga bisa ikut membantu peserta lain yang tertimpa musibah.  Insya Allah berkah…

 

KESIMPULAN

Mana yang Anda pilih:

Kehilangan uang premi sekian tahun, tapi senantiasa sehat?  ataukah

Kehilangan uang ratusan juta sampai miliaran karena mengalami sakit kritis?

 

 

 

Tidak ingin kehilangan uang besar???

Mari sisihkan sedikit penghasilan Anda, upayakan strategi rencana keuangan terbaik bagi keluarga Anda, miliki asuransi jiwa.  Pilih yang Syariah, karena Syariah menentramkan.

Kontak saya:

Estri heni,   WA: 0817 028 4743

Allianz Ecopark, Perwujudan Komitmen Allianz Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup

 Allianz Indonesia terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.  Sejak tahun 2012,  Allianz Indonesia telah menyelenggarakan beragam aktifitas untuk mendukung peningkatan kualitas hidup, salah satunya dengan aktifitas berlari yaitu Allianz World Run.  Pada pertengahan tahun 2017, Allianz Indonesia mewujudkan komitmennya dengan menghadirkan sarana dalam peningkatan kualitas hidup melalui perubahan hak penamaan yang semula bernama Ocean Ecopark menjadi Allianz Ecopark.  Melalui kemitraan ini, Allianz dapat lebih terintegrasi dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan yang dapat dilakukan di Allianz Ecopark.

Kawasan Ancol merupakan pasar terluas untuk taman hiburan di Indonesia yang mencapai sekitar 17 juta pengunjung setiap tahunnya.  Berdasarkan segmentasi Pelanggan Accenture 2016,  Allianz Indonesia memiliki segmen yang kuat dalam kategori profesional muda.  Dengan hak penamaan Allianz Ecopark di kawasan Ancol ini,  Allianz dapat memperkuat brand top of mind di segmen lainnya.
Taman seluas 34 hektar ini merupakan wisata Nature Sport Edutainment, dimana pengunjung dapat melakukan beragam aktifitas dengan nilai-nilai edukasi dan hiburan melalui pendekatan green lifestyle.  Allianz Ecopark terbagi menjadi beberapa kawasan (zona) dengan fungsi dan fasilitas berbeda, yaitu:  Eco Nature, Eco Art, Eco Care, Eco Market, Taman Fitness, dan Learning Farm.
Eco Nature akan memanjakan pengunjung dengan keindahan alam dan berbagai jenis satwa yang sudah jinak.  Untuk melihat seni dan budaya Indonesia, pengunjung dapat berkunjung ke Eco Art.  Eco Care, pengunjung diajak untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan keluarga.  Ingin belanja sayur dan buah?  Pengunjung dapat berkunjung ke Eco Market dimana terdapat buah dan sayur bebas pestisida.  Eco Market merupakan pasar organik pertama dan terbesar di Jakarta.  Selain itu, pengunjung juga dapat berolahraga fitness outdoor di Taman Fitness yang menyediakan beragam peralatan fitness.  Ada juga Learning Farm, sarana edukasi yang sangat baik untuk anak-anak dengan hibunran atau wahana bermain sambil belajar.  Pengunjung akan diajarkan bagaimana cara berkebun dilengkapi dengan lahan untuk bercocok tanam yang cukup luas layaknya seorang petani.
Selain itu, Allianz Ecopark juga menyediakan fasilitas untuk jogging, walking dan bersepeda.  Disini,  Allianz dapat melakukan beragam kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan dan lingkungan yang menjangkau segmen pasar maupun segmen lain.  Allianz Ecopark akan dipromosikan  sebagai pusat pernapasan sehat di kawasan Ancol yang dapat memberi manfaat bagi sekitarnya.

Allianz Bayar Klaim Sakit Kritis 10 Miliar

 

 

 

Sebuah keluarga sudah terbantu oleh Dyah Puspasari Dewi, karena keputusan yang tepat 20 bulan lalu. Selain menerima 10 M langsung pada rekening pribadi (bukan sebagai penggantian biaya RS), beliau menerima premi gratis 22,4jt/bln sd th 2042 (+/- 5M).

Terimakasih Dr Ginawati Djuandi, khusus datang ke Semarang utk menyerahkan klaim secara simbolis.
Terimakasih Allianz, sudah mencairkan klaim dalam waktu 3 minggu sejak submit, walaupun usia polis baru 20 bulan.

sumber

 

 

 

Allianz Bayar Klaim Sakit Kritis Dan Meninggal Dunia 2 Miliar

 

Sharing dari teman sesama agen asuransi mbak Satyorini Purawan

Tugas telah saya tunaikan … #2.

Alhamdulillah, tuntas sudah tugas saya mengawal pencairan klaim Sakit Kritis dan Meninggal Dunia dari sahabat saya, dengan total nilai klaim UP Rp 2M.

Hari Rabu, 21 Juni2017 seremoni penyerahan klaim Life kepada Ahli waris telah dilakukan.
Setelah sebelumnya pada tanggal 6 Juni2017 saya memberitahukan berita baik tentang pencairan klaim Sakit Kritis.

Bersyukur bisa membantu Ahli Waris untuk mendapatkan haknya yang sudah dipersiapkan oleh Almarhum semasa hidupnya.

In syaa Allah bermanfaat. Barakallah!

Usia polis 10bulan
Proses klaim life 8hari kerja.
Autosaving Polis Istri dan Anak sd th 2035

 

sumber

Allianz membayar Klaim Nasabah Meninggal Dunia 1 Miliar

 

 

Pembayaran klaim meninggal dunia sejumlah Rp1.001.386.000 dan akan dibayarkan dalam 2 hari kerja saja.

Pria usia 28 tahun meninggal mendadak pada saat baru setoran Premi PERTAMA (18 hari) setelah polis issued.. buku polis barus selesai cetak. Allianz sangat luar biasa.. klaim tidak repot, komunikasi sangat mudah ditambah lagi konsultasi intens oleh BPR bu pupung..

 

sumber