UP Jiwa Dan UP Sakit Kritis, Mana Yang Harus Dimaksimalkan Proteksinya?

 

Tanya:
Suami ingin siapkan polis untuk dirinya dengan UP jiwa maksimal dan UP CI seadanya saja. Sementara istri inginnya polis suami yang UP CI sama besar dengan UP jiwa. Mohon saran, bagaimana sebaiknya?
Jawab:
Sebenarnya tidak ada rumusan baku mengenai hal ini.  Kebutuhan tiap individu dan keluarganya akan berbeda-beda.  Meskipun demikian, beberapa hal di bawah ini bisa menjadi dasar pertimbangan:
UP JIWA

Kalau seseorang meninggal, maka “urusan dunia”nya sudah selesai.  Maka yang menjadi langkah selanjutnya adalah keluarga yang ditinggalkan.  Istri dan anak  akan berpikir bagaimana “move on” dari kondisi berduka dan meneruskan hidup mereka secara layak. Tidak ada hal lain yang harus dilakukan keluarga untuk mendiang suami, kecuali mendoakan.   Umumnya tidak perlu ada biaya lagi untuk mendiang suami.  Kecuali di beberapa daerah di Indonesia yang masih menjaga adat budaya daerahnya, mungkin masih ada beberapa “acara” yang butuh biaya.  Kalau mendiang meninggalkan warisan yang cukup, maka sebagian dapat digunakan untuk membiayai “acara” tersebut dan sebagian lainnya akan dapat bermanfaat bagi ahli waris meneruskan hidup.  Masalah selesai.

Baca juga:  UP jiwa saja tidak cukup

 UP SAKIT KRITIS
Pertama,  Jika seseorang mengalami sakit kritis, artinya: dia masih hidup (artinya: ada aktifitas harian yang dilakukan), tapi kondisinya tidak sehat alias sedang sakit. Sakitnya kritis, biasanya menjadi berkurang kemandiriannya, maka aktifitas hariannya harus dibantu orang lain.  Sakit kritis pasti butuh dana besar untuk pengobatan dan pemulihan.
Dengan kondisi tersebut, maka kebutuhan finansial akan bertambah: biaya si sakit, biaya suster pribadi, biaya akomodasi dan transportasi keluarga yang mengantar/menemani ke RS, biaya hidup harian keluarga yang sehat di rumah, biaya hidup bulanan, cicilan, tagihan, tabungan, cita2 pendidikan terbaik untuk anak. Biaya-biaya tersebut tetap harus ada, padahal orangnya sedang sakit.
Bahasa kasarnya sih: kalau ada 1 anggota keluarga yang sakit, maka semua anggota keluarga ikut repot.  Kalau hanya sakit ringan-sedang, mungkin repotnya hanya 1 minggu.  Kalau sakitnya berat alias sakit kritis?
Kalau butuhnya tenaga, pasti masih ada deh yang mau dimintain bantuan tenaganya.
Tapi kalau butuhnya dana? Jika menyangkut hal-hal berbau “dana”, bahkan yang namanya saudara pun bisa jaga jarak nih… Kalaupun bisa galang dana, seberapa besar bisa terkumpul?  Seberapa cepat bisa terkumpul?  Seberapa lama dana tersebut bisa menopang kebutuhan berobat si sakit ataupun kebutuhan hidup keluarga yang sehat?
Sakit berat/kritis, selama urusannya dengan Rumah Sakit, bisa di-cover oleh Asuransi Kesehatan (Swasta ataupun BPJS).  Namun, untuk urusan di luar Rumah Sakit?  Selama perawatan di rumah, sudah pasti harus pakai uang sendiri, tidak bisa lagi pakai asuransi kesehatan.
 Kedua, sakit kritis itu bukan penyakit yang bisa sembuh dalam hitungan hari atau minggu, namun bisa berbulan-bulan.  Contoh: stroke.  Pasien dirawat di RS mungkin hanya 5-7 hari, lalu pulang.  Setelah itu, apakah bisa langsung bekerja lagi?  Tidak, pasien harus istirahat di rumah sekitar 3 bulan.  Selama 3 bulan itu, bagaimana posisinya di kantor?  Kosong.  Apakah perusahaan tetap akan menunggu kekosongan itu sampai karyawannya sembuh?  Tentu tidak.  Pasti perusahaan akan mencari pengganti yang jauh lebih berkualitas, atau minimal setara kualifikasinya dengan Anda.
Adanya efek lanjutan dan jangka panjang dari sakitnya: kondisi tubuh tidak sebugar seperti sebelumnya, kemampuan bekerja menurun, produktifitas berkurang, penghasilan bisa berkurang atau bahkan stop (perusahaan mencari karyawan pengganti dirinya).  Si sakit masih hidup, butuh biaya tambahan bagi dirinya, selain biaya hariannya.  Keluarga yang sehat juga butuh biaya.  Cicilan, tagihan, tabungan, semua biaya ini juga harus diselesaikan.
 Jika kondisinya sama2 hanya punya dana “seadanya”:
1.  kalau orangnya sudah meninggal, artinya “case closed”, tinggal mikirin masa depan.
2.  kalau orangnya masih hidup tapi kondisinya sakit kritis/sakit berat? Maka belum bisa “case closed” ya. Harus terus berikhtiar melakukan pengobatannya, membantu pemulihannya, dibutuhkan support dari keluarga besar agar si sakit bisa tumbuh lagi kepercayaan dirinya sehingga semangat juga untuk segera pulih.
Pada kondisi ini, keluarga yang sehat jadi bertambah aktifitasnya: harus mikirin anggota keluarga lainnya (anak yang masih butuh perhatian orangtuanya),  jadi repot harus bolakbalik antar si sakit ke RS, otomatis aktifitas rutinnya terganggu (harusnya kerja, jadi harus ijin untuk antar ke RS). Anak2 di rumah siapa yang jaga? Oma-Opanya? Susternya? Pengeluaran jadi bertambah. Yang semula hanya perlu ongkos bensin rumah-kantor pp, jadi bertambah ada ongkos rumah-RS pp.  Ini jika pengobatan masih berada di kota yang sama.  Bagaimana jika keluarga mengupayakan pengobatan ke luar negeri???
Sakit kritis butuh biaya besar saat sakit terjadi.  Sakit kritis juga masih butuh biaya besar, meski sudah “tidak sakit”, yaitu => kondisi kesehatan tidak se-fit seperti sebelumnya, hilangnya kemandirian hidup, aktifitas harian harus dibantu orang lain, biaya hidup bulanan keluarga tetap ada.
 Jadi, antara 2 kondisi itu, antara meninggal dunia dan sakit kritis:
  • Mana yang lebih butuh banyak biaya?
  • Apakah sudah siap dananya?
Pastikan bahwa sumber dananya bukan dari “tabungan persiapan pendidikan anak” loh ya.  Jika hal ini terjadi, sia-sia upaya Anda menyiapkan dana pendidikan anak, bisa buyar impian anak bersekolah sesuai keinginannya.
Sudah punya askes? Keputusan Anda tepat karena akan ada penggantian biaya perawatan RS.  Cek lagi polis askesnya, apakah Anda sudah memilih plan askes yang baik, atau malah hanya punya plan askes paling minimal “yang penting asal punya askes”?  Klik kanan artikel terkait:
Baca juga:
–  Saya tidak pernah sakit parah yang harus dirawat di RS, pola hidup sehat, tidak merokok, berolahraga, tidak perlu proteksi sakit kritis.  Yakin bahwa pola makan Anda juga benar?  Baca FAKTA INI.
Belum punya Asuransi Kesehatan?  Mau buka polis Asuransi Kesehatan?  KLIK DISINI
Sudah punya Asuransi Kesehatan?  Ingin melengkapi proteksinya dengan Asuransi Sakit Kritis?  KLIK DISINI

Harta Mendiang Suami Sepenuhnya Menjadi Hak Istri Dan Anak? Ternyata TIDAK!

 

Kisah Tentang JENG KELIN, JENG NGATIN, JENG NGATMAN DAN JENG KATNO

Karena pekerjaannya, istri saya “terpaksa” harus bergaul dengan kalangan wanita sosialita di kota Bogor.  Siapa mereka?  Mereka yang tiap hari di Sosial Medianya nampak berganti restoran atau cafe, dengan dress code yang berbeda… Bisa arisan, atau sekedar chit-chat saja saling pamer cangkir atau gorden di rumah yang dibeli dengan harga jutaan.  Ngupi-ngupi cantik, foto-foto lalu upload.

Dari situlah muncul istilah BPJS.  Budget Pas-pasan, Jiwa Sosialita.  Beberapa dari mereka kelihatannya super glamor, tapi keropos.   Hidup sepenuhnya dari gaji suami yang berangkat pagi, pulang pagi lagi.

Sinyalemen di atas terkonfirmasi dengan cerita kemarin sore.

“Eh, jeng Kelin kasian ya, sejak suaminya “nggak ada” enam bulan lalu, jadi jarang ikutan ngumpul. Aku denger, rumah sama tanah di Ciampea “diparebutin” sama mertua dan adik-adik suaminya.  Stress dia, kesian” kata Jeng Ngatin ngomongin salah satu teman di komunitas itu juga.

“Iya, padahal suaminya dulu pejabat ya. Duitnya banyak.  Inget dulu dia cerita beli cangkir set harga Rp 4 juta di GI (maksudnya Grand Indonesia, bukan Gardu Induk). Eh, tapi Jeng Ngatman lebih kasihan loh. Suaminya diem-diem kawin lagi!  Nggak ngomong dia lagi.  Ketahuannya pas suaminya ninggalin hape. Dia kepo, ngoprek hape suami, ketahuan dah. Anak madunya udah dua. Padahal suami Jeng Ngatman keliatannya alim banget.  Kemana-mana pake peci” Jeng Katno menimpali. Membuat obrolan makin seru.

Mendengar glenak-glenik itu, istri saya corat-coret di kertas.

“Jeng semua, perkawinan kita itu, diatur dalam UU no 1 tahun 1974 lho. Di situ diatur soal Dasar Perkawinan, Harta dalam Perkawinan sampai ke Status Anak” kata istri saya santai.

 

“Hubungannya sama Jeng Kelin dan Jeng Ngatno, apa Jeng???” Jeng Ngatman penasaran.

“Satu-satu ya. Kaitan sama Jeng Ngatman. Selain agama, UU itu juga “membuka peluang” lelaki menikah lebih dari satu kali lho. Baca saja pasal 3 ayat (2)” tutur istri saya.

Jeng Ngatin sampai tersedak es jeruk yang diminumnya ketika mendengar itu, nyeletuk “Ah, ciyus nih Jeng?”.

“Ya Serius bu. Mosok saya bercanda pakai Undang-Undang. Nanti itu kaitannya sama Harta dan Anak, Jeng. Bab VII mengatur soal harta dalam perkawinan. Harta yang dimiliki dalam perkawinan, sebagai Harta Bersama, adalah Harta milik berdua” Jelas istri saya.

Jeng Ngatin kelihatan lega dengarnya, disedotnya dengan kuat sisa es jeruk di gelasnya.

“Tapi ….” Lanjut istri saya,  “Harta Bersama yang tadinya dimiliki bersama, ketika suami meninggal dunia, tak lalu serta merta menjadi Harta milik istri dan anak-anak. Sebenarnya temasuk kewajiban (hutang, pajak dll)”.

“Lho, kok bisa Jeng? Aneh!”,protes Jeng Ngatman.

“Karena pada saat suami meninggal dunia, Harta Bersama itu beralih menjadi Harta Waris yang Status Quo, sampai dia dibagikan sesuai Hukum Waris. UU Perkawinan tidak mengatur proses pembagian dan jumlah Harta Warisan. Hukum Waris yang mengatur.

Maka jangan heran, dalam kasus Jeng Kelin (dan biasa terjadi pada perkawinan yang melibatkan Harta Bersama serta Harta Waris yang jumlahnya besar) terjadi sengketa Waris. Menurut Hukum Waris Islam, memang mertua punya hak juga atas harta warisan dari suami Jeng Kelin”.

Jeng Ngatin dan Jeng Katno kelihatan berubah paras mukanya.  Rada pucat jamur kuping gitu.

“Tapi jeng, ada solusinya….” kata istri saya mencoba menenangkan. “Nanti malam, minta suami belikan Asuransi, dengan Uang Pertanggungan yang cukup, dan Penerima Manfaat Warisnya adalah kita, istrinya.   Itu siasat paling jitu, untuk memastikan ketika suami meninggal, meninggalkan harta banyak, kita, istri-istri, masih tetap hidup layak, nggak ribet sama sengketa waris”.

“Oh, begitu ya Jeng” Jeng Ngatin nyeletuk.  “Padahal selama ini paling sebel kalau suami saya beli Produk Asuransi. Ngurang-ngurangi belanja saya beli tas” imbuhnya.

“Yaahh… Kecuali, kisah Jeng-jeng semua mau mirip sama Jeng Kelin yang bersengketa waris, atau Jeng Ngatman yang harus “berbagi waris” dengan anak dari madu suaminya, ya larang aja suaminya punya Asuransi” Kata istri saya sambil pamitan.  Meninggalkan mereka bengong, dan kasak-kusuk.

 

 

** Disarikan dari kisah nyata di dunia BPJS, mengandung unsur edukasi sekaligus jualan.

Bila alergi, ambil bedak anti gatal di rak obat.  Bila kepikiran berlanjut untuk diskusi tentang asuransi secara GRATIS, hubungi Agen Asuransi Berlisensi:  Estri Heni (SMS/WA:  0817 028 4743 atau isi form permintaan penawaran ilustrasi  klik DISINI).

** UU no 1 tahun 1974 bisa diunduh dengan mudah dari berbagai situs hukum di internet.

** Tokoh dalam cerita ini nyata, namun namanya disamarkan.

Kisah ini sudah mendapat ijin penulis aslinya untuk disalin ulang di blog ini.  (sumber)

Baca Juga Artikel terkait:

Istri Tidak Setuju Suami Beli Polis Asuransi

Suami Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya

Hidup Tanpa Asuransi atau Dengan Asuransi, Ini Bedanya

Premi 1 juta perbulan, UP 4 Miliar.  Klik disini

 

 

 

 

 

Kesalahan Ketika Membeli Asuransi

life-insurance1

 

Perlahan, kesadaran akan pentingnya proteksi meningkat dalam masyarakat. Sayang, kesadaran ini kurang diiringi dengan pengetahuan tentang aneka produk asuransi. Keterbatasan informasi dan pengetahuan produk dan kurangnya penjelasan agen asuransi kerap mengakibatkan konsumen membuat kesalahan ketika membeli asuransi.

Kebanyakan orang tidak mengerti produk asuransi apa yang dibelinya. Ini adalah kesalahan yang sering saya temui. Jangankan mengerti bahwa pertanggungannya kurang, asuransi apa yang dibeli saja dia tidak paham,” kata Ligwina Hananto, perencana keuangan dari Quantum Magna Financial.

Ligwina pernah menjumpai seorang teman yang memiliki 17 polis asuransi. Polis yang banyak ternyata tak menjamin hidup seseorang terproteksi dengan baik. ”Banyak yang hanya membayar premi, menyimpan polis, lalu ketika mengajukan klaim, baru sadar jika asuransi yang dibelinya ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan,” ujar Freddy Pieloor, perencana keuangan dari Money n Love. Selain tidak paham produk apa yang dibeli, kesalahan paling umum yang dilakukan nasabah adalah membeli asuransi dengan uang pertanggungan di bawah yang diperlukan. Istilahnya underinsure. Kebanyakan orang cukup puas membeli asuransi dengan uang pertanggungan sebesar Rp 50 juta, Rp 100 juta, atau Rp 250 juta. Jangan keburu senang kalau sudah memiliki asuransi. Bayangkan jika pencari nafkah meninggal dan keluarga hanya mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 250 juta, padahal pengeluaran per bulan sebesar Rp 10 juta. Uang itu hanya cukup untuk bertahan hidup selama dua tahun. Setelah itu bagaimana?

Berdasarkan survei, nilai pertanggungan asuransi jiwa di Indonesia hanya sekitar Rp 78 juta per polis per tahun. Padahal, kebutuhannya mencapai 10 kali lipatnya. Selisih uang pertanggungan dengan kebutuhan yang ada di Indonesia cukup besar. ”Jadi, pemegang polis asuransi jiwa di Indonesia mengalami underinsure yang besar,” kata Kepala Divisi Syariah AIA Ade Bungsu.

Tidak jarang pula kita membeli asuransi karena tidak enak menolak tawaran agen asuransi yang merupakan teman, kakak, adik, atau keluarga dekat lainnya. Padahal, asuransi yang kita beli belum tentu cocok dengan tujuan keuangan kita. Misalnya, membeli asuransi yang preminya mahal dengan uang pertanggungan ala kadarnya. Padahal, kebutuhan lain masih banyak yang harus dipenuhi. Jadi, penting sekali untuk menghitung besaran kebutuhan asuransi lalu membeli asuransi yang sesuai.

Membeli asuransi untuk anak

Apakah anak Anda sudah dibelikan asuransi? Pertanyaan seperti ini biasa muncul ketika para orangtua berbicara tentang anak-anak mereka. Membeli asuransi dengan anak sebagai tertanggung merupakan hal yang tidak bijaksana.

Baca juga:  Asuransi Apa Yang Tepat Untuk Masa Depan Anak?

Wah, apa lagi ini ? Tujuan membeli asuransi adalah untuk melindungi penghasilan sehingga jika kepala keluarga meninggal dan tidak dapat memberikan penghasilan lagi, keluarga yang ditinggalkan tetap terjamin. Maka, yang harus memiliki asuransi adalah orangtua agar jika terjadi risiko pada orangtua, kehidupan anak-anak terjamin. Orangtualah yang memiliki nilai ekonomis, bukan anak. Jika kehilangan anak, keluarga tidak kehilangan secara finansial, melainkan secara emosional.

Anak penerima manfaat Ketika membeli asuransi, kita pasti ditanya siapa penerima manfaat asuransi tersebut (beneficiary). Memang asuransi ini untuk memproteksi pendapatan orangtua agar anak tak telantar. Ternyata, mencantumkan nama anak di bawah umur sebagai penerima manfaat juga merupakan kesalahan. Lho? ”Untuk anak di bawah 18 tahun yang kedua orangtuanya meninggal dunia pada saat yang sama, ia mewarisi dari kedua orangtuanya. Untuk mengurus harta peninggalan orangtuanya tersebut, pengadilan agama akan menunjuk seorang wali untuknya. Untuk Muslim, wali ditunjuk oleh pengadilan agama setempat, untuk agama lain, wali ditunjuk oleh pengadilan negeri setempat,” ujar Dedek  Yuliona, seorang notaris. Bila nanti si anak menghendaki hartanya dijual atau perlu uang, wali tersebut bisa minta penetapan dari pengadilan negeri, tambahnya lagi.

Wali dapat merupakan saudara dekat. Itu pun jika walinya benar-benar memberikan uang itu untuk kepentingan si anak. Kalau si wali senang belanja, bisa- bisa uang pertanggungan asuransi orangtua menguap di mal.

Kesimpulan dari ilustrasi itu, orangtua yang membeli asuransi haruslah langsung menunjuk seorang wali. Tunjuklah wali yang dapat mengurus anak Anda jika Anda atau pasangan meninggal dunia. ”Menunjuk wali yang benar-benar jujur dan bertanggung jawab adalah hal penting,” imbuh Prita Hapsari Ghozie, perencana keuangan dari ZAPfinance.

Asuransi untuk ibu rumah tangga

Sebagian berpendapat, orang yang tidak bekerja, termasuk ibu rumah tangga, tidak perlu membeli asuransi. Seorang ibu rumah tangga memang tidak menghasilkan pendapatan bagi keluarganya. Namun, perlu diingat bahwa ibu rumah tangga berpotensi mengurangi pengeluaran keluarga.

Seorang ibu rumah tangga dapat berperan sebagai sopir pengantar anak ke sekolah, menjadi guru privat, guru berenang, juru masak, pengasuh anak, perawat, tukang kebun, pembersih rumah dan lainnya. Bayangkan jika si ibu tidak ada. Berapa besar pengeluaran yang harus ditanggung jika harus membayar sopir, guru privat, pengasuh anak, tukang kebun, atau pembersih rumah? Biaya inilah yang harus diperhitungkan ketika membeli asuransi jiwa untuk si ibu.

Baca Juga:  Istri Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya!

Bujangan beli asuransi

Asuransi jiwa terkait erat dengan upaya memproteksi penghasilan. Seorang bujangan yang tidak membiayai orangtua, saudara, atau keponakannya, alias tidak memiliki tanggungan secara ekonomi, tidaklah perlu membeli asuransi jiwa. Apalagi jika sudah memiliki investasi. Jika si bujang meninggal, tidak ada orang yang telantar karena tidak disokong secara finansial lagi olehnya. Ketika dia meninggal pun, biaya yang diperlukan hanyalah biaya pemakaman dan uang untuk membayar utang.

Namun, bujangan seperti ini memerlukan perlindungan asuransi cacat atau penyakit kritis. Jika suatu kali dia menderita sakit kritis atau cacat permanen sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhannya, uang pertanggungan dari asuransi dapat menjadi biaya hidup. Survei membuktikan, kemungkinan seseorang cacat tujuh kali lebih banyak dibandingkan dengan meninggal.

Baca Juga:  Bujangan Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya!

Tidak memberi tahu keluarga

Pada beberapa kebudayaan, berbicara soal kematian adalah hal yang tabu, sementara asuransi terkait dengan kematian. Beberapa orang memilih menyembunyikan polis asuransinya dan tidak memberi tahu keluarga jika dia memiliki polis asuransi. Hanya saja, jika itu dilakukan, ketika risiko meninggal terjadi dan kebetulan agen tak lagi berhubungan dengan nasabahnya atau sudah pindah ke bisnis lain, tetap saja keluarga si pemilik polis tidak menerima manfaat asuransi.

Polis tetap teronggok di tempat tersembuyi. Tidak dicairkan. Di beberapa perusahaan asuransi, batas akhir klaim asuransi jiwa adalah setahun setelah tertanggung meninggal. ”Di Allianz, pengajuan klaim meninggal selambatnya 60 hari setelah terjadinya risiko. Bila klaim diajukan lebih dari itu, harus ada alasan kuat dari termaslahat (penerima manfaat) mengapa baru diajukan. Bagian klaim akan menganalisis apakah klaim yang terlambat itu dapat disetujui atau tidak,” papar Handojo Kusuma, Deputi CEO Asuransi Allianz Life.

Jangan taruh polis di ”safety box”

Kesalahan lain yang mungkin dibuat adalah menyimpan polis asuransi di safety box di bank. Jika pemegang polis meninggal, akan sulit membuka safety box tersebut. Letakkanlah polis asuransi di tempat yang mudah ditemukan, misalnya dalam satu map. Jika terjadi kebakaran atau bencana alam, map tersebut dapat langsung diselamatkan. Hindarilah membuat kesalahan-kesalahan seperti ini karena manfaat yang seharusnya diterima akan berkurang.

 

 

 

Sumber

Pendidikan Anak: Kembangkan Dana di Investasi, Dampingi dengan Asuransi Sebagai Proteksi

 

Artikel ini melanjutkan artikel saya sebelumnya, yaitu DISINI.  Artikel tersebut berbicara tentang salah kaprah instrumen berlabel Asuransi Pendidikan.  Ada agen yang memberikan komposisi proteksi dan investasi pada “Asuransi Pendidikan”.  Disadari atau tidak, antara proteksi dan investasi yang diberikan oleh agen tersebut, semuanya serba tanggung manfaatnya.  Tidak maksimal.  Padahal, untuk tujuan siapkan dana Pendidikan, tentu Anda menginginkan nilai tunai yang maksimal, bukan?  Bagitupun untuk tujuan proteksinya.  Anda ingin proteksi yang dananya cukup untuk membiayai pengeluaran rutin Anda, bukan?

 

 

Bicara tentang persiapan dana pendidikan anak, kita harus bicara tentang angka2 yang detail. Berikut contoh kebutuhan dana pendidikan:

diskusi aspend1

Dengan angka yang sedemikian besar, pasti premi yang harus dialokasikan sangatlah besar.

Yang harus dilakukan adalah membuat strategi pencapaian tujuan keuangan yang komprehensif yaitu :

  • Tentukan tujuan keuangan yang ingin dicapai (dalam hal ini Dana Pendidikan Anak),
  • Tentukan jumlah dana yang dibutuhkan saat ini (Present Value). Nilai ini didapat setelah kita mensurvey ke sekolah yang  kita pilih menjadi tujuan sekolah anak kita nanti.
  • Proyeksikan dengan kebutuhan dana di masa datang (Future Value), ini mempertimbangkan persentase kenaikan biaya sekolah per tahun dan sisa waktu sebelum anak kita masuk jenjang pendidikan yang dimaksud.
  • Lamanya waktu yang tersisa sampai nanti waktunya dana itu dibutuhkan.

Baca juga:  Ini Pemahaman Yang Benar Tentang Asuransi Pendidikan

 

PILIHAN INVESTASI UNTUK SIAPKAN DANA PENDIDIKAN ANAK

Produk investasi apa yang cocok untuk dana pendidikan anak: saham atau reksa dana?

Perencana Keuangan Ligwina Hananto mengatakan produk reksa dana saham dinilai cocok untuk menyiapkan dana pendidikan anak di masa yang akan datang.  Hal ini dikarenakan: pembayarannya bisa autodebet, ada manajer investasi yang mengatur, jadi ada ahlinya. Jadi kalau tujuannya dana pendidikan anak, lebih baik di reksadana daripada saham, karena saham biasanya trading hari ini beli besok jual.

Berinvestasi di saham memiliki volatilitas yang tinggi sehingga tingkat risikonya lebih tinggi. Sementara reksadana saham jauh lebih aman daripada berinvestasi saham langsung.  Saham tidak disarankan untuk pendidikan anak.  Karena kalau saham: saat saham turun, dana pendidikan anak tidak aman.  Hal itulah yang membedakan investasi di reksadana saham dan saham.

Sekali lagi saya tekankan ya:  Orang tua harus melek investasi dulu, sebelum nyemplung di investasi.

Pastikan perusahaannya bonafit, tentukan produknya yang sesuai dengan target dana yang ingin dicapai, pantau perkembangan dananya minimal tiap 6 bulan.  Jika dalam 1 tahun, dana yang terbentuk tidak sesuai target Anda, segera alihkan ke produk lain.  Lebih detil mengenai hal ini, silahkan googling ya.

Apapun jenis investasi Anda, dampingi dengan Asuransi sebagai “back up” jika terjadi hal yang tidak diinginkan dalam perjalanan Anda berinvestasi.

 

DAMPINGI INVESTASI ANDA DENGAN ASURANSI

Strategi ini lebih baik daripada membeli produk asuransi pendidikan untuk tiap anak. Nilai tunai di “Asuransi Pendidikan” kurang bisa mengejar kenaikan biaya pendidikan anak kelak.
Saya coba buatkan ilustrasi asuransi yang tepat untuk pertimbangan “back up” Rencana Persiapan Dana Pendidikan Anak.
Untuk Suami, diasumsikan beliau adalah pencari nafkah utama, premi per bulan Rp. 1.200.000 – Rp. 1.250.000
Ilustrasi  1 untuk Ayah (pencari nafkah utama)
diskusi aspend2
  1. Jika ter DIAGNOSA sakit kritis seperti yang tertera di polis,  contoh : jantung, stroke, kanker, ginjal, lupus, kawasaki dll),  maka akan cair dana CASH 500 juta untuk early stages, 1 milyar untuk intermediate dan advance stages, atau 1,2 milyar untuk catastropic stages.Untuk Sakit Kritis ini ada masa tunggu, yaitu selama 3 bulan.
  2. Cacat Tetap Total (bisa karena sakit atau kecelakaan), cair uang pertanggungan 1 milyar. contoh nasabah kena stroke (sakit kritis), maka uang pertanggungan turun 1 Milyar, 6 bulan kemudian nasabah lumpuh (tidak bisa melakukan 3 aktifitas dari 5 aktifitas hidup (makan, berjalan, dll) maka uang pertanggungan Cacat Tetap Total cair 1 Milyar. kalau sampai pindah dunia, maka ahli waris mendapat  uang pertanggungan 1 milyar plus nilai tunai hasil investasi.
  3. Kecelakaan yang menyebabkan cacat tetap total maka uang pertanggungan ADDB cair 1 milyar. Proteksi jiwa masih terus berjalan meski uang pertanggungan ADDB ini sudah diberikan pada nasabah.Kecelakaan yang menyebabkan cacat tetap, uang pertanggungan ADDB cair sebesar persentase dari Uang Pertanggungan  ADDB.kecelakaan yang menyebabkan kematian, maka uang pertanggungan ADDB+ uang pertanggungan asuransi jiwa cair, totalnya sebesar 2 milyar rupiah
  4. Jika pindah dunia  maka uang pertanggungan asuransi jiwa yang diberikan pada  ahli waris sebesar 1 milyar rupiah plus nilai tunai hasil investasijika nasabah sampai usia 100 tahun, silahkan mengambil seluruh nilai tunai hasil investasinya.
  5. Jika terkena cacat tetap total atau 1 dari 49 sakit kritis, maka dibebaskan dari kewajiban membayar premi sampai usia nasabah 65 tahun.Ilustrasi yang pertama ini proteksinya sangat lengkap.

 

Ilustrasi 2 untuk Ayah

diskusi aspend ilus2

Manfaat yang diperoleh:

  1. Warisan, jika tertanggung pindah dunia di usia sebelum 70 tahun, sebesar 2,1 Milyar plus hasil investasi. (sejumlah dana pendidikan anak yang diperlukan nanti).
  2. Warisan, Jika tertanggung pindah dunia di usia 70-100 tahun, sebesar 700  juta plus hasil investasi.
  3. Jika terkena salah satu dari 100 kondisi kritis sesuai polis, cair santunan totalnya 700 juta

Untuk early stages 50% UP CI 100, advance dan intermediate stages 100% UP CI 100, Catastropic Stages 120% UP CI 100, manfaat angioplasty 10% dan komplikasi diabetes 20%

Ilustrasi ke 2 untuk ayah, manfaatnya untuk proteksi jiwa, sakit kritis dan bebas premi. Ini juga cukup lengkap.

 

Berikut pemahaman sederhananya:

  1. Beli reksadana/beli logam mulia dalam rangka mengumpulkan dana pendidikan (ambil yang moderat, misalnya), bersamaan dengan strategi ke-2 yaitu:
  2. Beli polis tapro syariah. pada usia anak 17 thn (siap kuliah), bisa ambil uang investasinya, jadi rencana reksadana hanya sebagian dari dana yang dibutuhkan.

Misal pada usia anak 17, nilai investasi nya 131 juta, berarti bisa ambil 50 juta dan kekurangannya akan berasal dari investasi reksadana.  Ini di luar konteks asuransi jiwanya ya.

Nilai tunai  itu suatu saat bisa diambil. Dalam kasus ini adalah untuk menambah dana pendidikan anak. Jika suatu saat ketika ada dana lebih, kita ingin menambah investasi di tapro Allisya protection plus ini untuk menambah nilai tunainya nanti, kita bisa top up. Posting tentang “Fungsi Investasi pada Unitlink” selengkapnya bisa di baca disini

Fungsi asuransi adalah sebagai proteksi nilai finansial  jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.  Jika terjadi meninggal dunia, kecelakaan berat ataupun terkena kondisi/sakit  khusus yang menyebabkan kehilangan pekerjaan/tidak bisa bekerja lagi, akan keluar uang pertanggungan.  Para Beneficeary (ahli warisnya) kemudian menempatkan uang pertanggungan ini ke dalam sebuah produk keuangan/investasi sedemikian rupa sehingga dapat menggantikan penghasilan bulanan yang hilang.

Sehingga musibah apapun yang terjadi pada pencari nafkah, keluarga yang ditinggalkan masih bisa hidup layak, persiapan dana pendidikan anak masih tetap bisa dilakukan, sehingga kepastian anak-anak untuk melanjutkan pendidikan lebih terjamin.

Kesimpulan:

  1.  Dana Pendidikan Anak kurang cocok jika disiapkan melalui asuransi.  Saya ingin mengajak Anda untuk lebih cerdas finansial.  Asuransi = proteksi, bukan investasi.  Jadi siapkan dana pendidikan Anak melalui investasi ya.
  2. Jangan lupa, dampingi upaya Anda berinvestasi tersebut, dengan ASURANSI.  Mintalah agen Asuransi Anda untuk membuatkan rencana proteksi yang sesuai kebutuhan Anda dan sesuai dengan kemampuan finansial Anda.  Pertimbangkan proteksi maksimal agar bila dalam perjalanan Anda “siapkan dana pendidikan” ternyata terjadi musibah, maka penghasilan Anda akan tetap aman.  Karena ada Uang Tunai yang diberikan perusahaan Asuransi.
  3. Anda masih bingung? Anda tidak mau pusing?  Sudah berinvestasi tapi belum punya polis asuransi?  Sudah punya polis yang katanya “Asuransi Pendidikan”, tapi tidak paham isinya?  Ingin bertanya dan diskusi GRATIS?  Hubungi Agen Asuransi Berlisensi:  Estri Heni (WA: 0817 028 4743).  Saya akan membantu membedah polis yang sudah  Anda miliki agar Anda memahami manfaat polis Anda.  Bila Anda membutuhkan manfaat lebih, saya akan bantu merancang rencana proteksi terbaik sesuai kebutuhan Anda.

 

 

Permintaan ilustrasi Asuransi Jiwa sebagai pendamping

selama berinvestasi menyiapkan Dana Pendidikan Anak:

Bayar Premi Asuransi 10 Tahun Saja? Ini Penjelasannya

Terimakasih  kepada agen asuransi senior yang sudah terjun di bisnis ini jauuuuhhh sebelum saya.  Karena ternyata apa yang dikampanyekan saat itu, sangat bisa diterima masyarakat hingga kini.  Yaitu bahwa:  “Bayar asuransi hanya 10 tahun, proteksinya seumur hidup”.

Hampir semua calon nasabah saya beranggapan bahwa setelah 10 tahun, mereka stop membayar premi asuransi.  Perlindungan atau manfaat Asuransi akan didapatkan secara GRATIS hingga usia 99 tahun.  Hanya dengan menyisakan saldo 2 juta rupiah saja pada akhir tahun ke 10.

Sayangnya, agen asuransi pada saat itu, hampir tidak ada yang memberikan penjelasan lebih lanjut terhadap kelangsungan hidup polis tersebut apabila tidak ada saldo dana pada unitlinknya.  Maka, disinilah tugas saya untuk meluruskan pemahaman tersebut dan memberikan informasi lengkap kepada Anda, pembaca blog yang budiman, calon nasabah saya.

 

Fungsi dana investasi dalam sebuah Polis Asuransi Jiwa.

Memiliki polis Asuransi Jiwa dengan pembayaran premi dibatasi beberapa tahun saja bukan keputusan yang salah.  Namun ada hal lebih detail yang harus diketahui oleh calon nasabah mengenai dampak dari kelangsungan hidup polis, apabila tidak dilakukan lagi pembayaran premi oleh nasabah.

Unitlink bukan hanya sekedar tabungan bagi si pemegang polis.  Bila saldo pada dana investasi unitlink Anda tidak mencukupi untuk dilakukannya penarikan Biaya Asuransi, maka Polis akan Lapse.

Dana investasi unitlink berfungsi seperti rekening tabungan dan bisa diambil kapan saja dengan menyisakan saldo minimal sebesar 2 juta rupiah.  Perlu diperhatikan juga bahwa Biaya Asuransi Polis Asuransi Jiwa Anda setiap bulannya juga ditarik dari saldo dana investasi unitlink ini.  Penarikan Biaya Asuransi ini akan dilakukan selama manfaat perlindungan diperoleh Tertanggung atau artinya selama Polis tersebut aktif.

T:  Bila saya mempunyai Asuransi Jiwa Unitlink dengan masa pembayaran Premi Asuransi 10 tahun, saya masih harus membayar Biaya Asuransi setelah tahun ke 10?

J:  Ya Betul…  Karena  Biaya Asuransi berbeda dengan Premi Asuransi.

Premi Asuransi adalah sejumlah uang yang dibayarkan kepada Perusahaan Asuransi sehubungan dengan pembelian suatu Polis, yang terdiri dari Premi Berkala dan apabila ada Premi Top Up Berkala atau Premi Top Up Tunggal.

Pembayaran Premi Asuransi bisa dibatasi.  Di Allianz cuti premi bisa dilakukan paling cepat dalam 5 tahun, artinya setelah 5 tahun premi bisa tidak dibayar lagi.

 Biaya Asuransi adalah biaya yang dikenakan sehubungan dengan manfaat pertanggungan yang diberikan. Biaya Asuransi dikenakan setiap bulan selama Polis aktif.  Jika Biaya Asuransi berhenti dibayar, proteksi dan manfaat Asuransi otomatis berhenti.  Jadi, Biaya Asuransi tetap dibayar walaupun nasabah sudah tidak menyetor premi lagi.
Setiap manfaat yang kita beli pada Polis Asuransi Jiwa, maka kita berkewajiban membayar Biaya Asuransi-nya selama Polis tersebut aktif dan ini berlaku pada semua Perusahaan Asuransi.

 

 

T:  Apakah Polis akan tetap aktif walaupun premi tidak disetor lagi?

J:  Polis tetap aktif selama Perusahaan Asuransi berhasil melakukan pendebitan Biaya Asuransi bulan berjalan dari saldo investasi unitlink anda.

Misalnya Anda merencanakan cuti premi setelah 10 tahun, maka setelah tahun ke 10 memang Anda tidak perlu menyetorkan premi lagi, namun Biaya Asuransi harus tetap dibayar dan akan ditarik dari saldo investasi unitlink yang sudah terbentuk selama 10 tahun tersebut.

Prosedurnya juga tidak bisa langsung berhenti setor premi setelah periode 10 tahun tersebut, melainkan harus mengajukan permohonan cuti premi ke Perusahaan Asuransi tersebut. Bila tidak diajukan Cuti Premi maka setiap bulan Biaya Asuransi akan tetap di debit dari saldo investasi Anda.

Bila nasabah mengajukan cuti premi, maka Perusahaan Asuransi akan menghitung berapa tahun kedepan saldo investasi yang sudah terbentuk dapat membayar Biaya Asuransi Polis Anda.
Semakin besar nilai investasinya akan bisa menutup Biaya Asuransi untuk periode tahun yang lebih lama.

 

T:  Bagaimana jika saldo saya tidak mencukupi untuk membayar Biaya Asuransi?

J:  Jika saldo tidak mencukupi untuk membayar Biaya Asuransi, maka Anda harus melakukan Top Up, agar polis tidak lapse.

Kerugian apabila Polis Lapse sbb :
1. Nasabah tidak bisa melakukan klaim atas manfaat Polis
2. Masa tunggu penyakit kritis diulang lagi dari awal, yaitu masa tunggu 3 bulan

 

Pembayaran Premi Asuransi yang dibatasi atau kita kenal dengan sebutan “Cuti Premi”

Apa itu Cuti Premi?

Cuti premi adalah fitur dimana nasabah dapat sementara berhenti membayar premi, sesuai dengan ketentuan dan persyaratan yang berlaku, seperti antara lain, usia polis sudah di atas 5 (lima) tahun, dan telah membayar seluruh premi pada periode lima tahun tersebut, serta polis memiliki nilai tunai yang cukup untuk membayar biaya asuransi dan administrasi.

Ini sebuah fitur yang sebenarnya bermanfaat buat nasabah, terutama saat kondisi darurat, dimana kondisi keuangan tidak memungkinkan membayar premi, maka perusahaan asuransi memberikan solusi supaya proteksi tetap bisa berjalan.

Dalam prakteknya, cuti premi dimodifikasi dengan membuatnya menjadi masa pembayaran premi yang singkat. Misalnya, bayar premi 10 tahun saja, sisanya sudah tidak bayar lagi.

Ini esensinya sama dengan cuti premi, tapi dibungkus dalam marketing gimmick yang sangat menarik.   Sayangnya, penjelasan detail tentang korelasi antara dana saldo investasi dan kelangsungan hidup polis seringkali tidak disampaikan, sehingga akhirnya banyak nasabah yang salah persepsi.

Siapa yang tidak tergiur dengan penawaran, “ bayar premi cuma 10 tahun, setelah itu gratis, dana bisa ditarik. Perlindungan sampai umur 99 tahun”.

Banyak yang jadi tertarik lalu mengambil asuransi dengan pola pembayaran premi seperti ini.  Cuti premi dipahami oleh nasabah sebagai istilah “gratis bayar premi”.

T:  Apakah ada bedanya, bila bayar premi seumur hidup dengan bayar premi hanya 10 tahun saja?

J:  Ada.  Bila bayar premi seumur hidup, maka preminya lebih murah.  Jika ingin masa bayarnya diperpendek (contoh 10 tahun saja), maka harus ditambah biaya topup, sehingga total premi/setoran yang dibayarkan menjadi lebih mahal.  Kenapa?  Karena kita harus bayar “deposit” selama 10 tahun, agar saldo investasinya kelak cukup untuk membayar biaya asuransi, pada saat kita cuti premi.

 

Kesimpulan

Jadi persoalan bayar premi sampai kapan, itu seharusnya tidak menjadi masalah, karena toh Biaya Asuransinya dibayar seumur hidup Polis.

Jadi jangan terkecoh dengan rayuan agen yang menawarkan bayar premi hanya cukup 10 tahun.  Mintalah penjelasan pada agen yang menawarkan kepada Anda, mengenai detail korelasi antara dana investasi dengan kelangsungan hidup polis.  Jangan-jangan, agennya juga kurang memahami hal ini.  Yang menjadi tujuannya hanyalah menarik nasabah sebanyak-banyaknya dengan iming2 kemudahan cara bayar pendek untuk proteksi yang lama.

Karena sudah banyak saya mendengar cerita calon nasabah yang sudah ancang ancang menarik dana investasinya di akhir tahun 10 dengan pemikiran manfaatnya bisa didapatkan sampai usia 99 tahun tanpa menyetor premi lagi dan juga tidak memperhatikan saldo investasinya.

Perencanaan keuangan terhadap polis nasabah harus dijelaskan secara detail agar dikemudian hari tidak terjadi salah persepsi sesuai dengan kondisi atau keadaaan yang sebenarnya.  (SUMBER dengan beberapa tambahan informasi)

Manfaatkan fasilitas Cuti Premi dengan cara yang tepat, agar dalam kondisi tidak membayar premi pun proteksi bisa tetap dinikmati nasabah.

Bagaimana caranya??

Hubungi:

Estri Heni

WA: 0817 028 4743

Tujuan Jangka Panjang Polis Unitlink Untuk Manfaat Maksimal

 

 

Silahkan klik kanan, Artikel terkait berikut ini:

Asuransi = jangka pendek, investasi = jangka penjang

Punya asuransi unitlink, pilih proteksi atau investasi?

Ini pemahaman yang benar tentang asuransi pendidikan anak

Bagaimana komposisi asuransi yang ideal untuk 1 keluarga?

Dana Terbatas, asuransi apa yang harus diambil lebih dulu?

Cari Asuransi Kesehatan? Beli Asuransi Kesehatan Lewat Agen Asuransi Berlisensi

Saat Anda mencari asuransi kesehatan, ada 14 hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan:

  1.  Jenis asuransi kesehatan.  Ada 2 jenis:  Asuransi kesehatan Murni dan asuransi kesehatan tambahan.
  2. Manfaat yang akan dibeli.  Pada Askes Tambahan umumnya hanya menyediakan manfaat rawat inap saja.  Sedangkan pada Asuransi Kesehatan Murni, selain manfaat utama Rawat Inap, juga tersedia manfaat rawat jalan, kehamilan, gigi, dll.  Sesuaikan kebutuhan Anda.  Perhatikan juga detil fasilitas manfaat rawat inapnya, apakah  itu semua sudah termasuk biaya kamar ICU, biaya perawatan dan biaya daignosa dokter karena biaya rawat inap adalah biaya yang paling besar.
  3. Pengecualian.  Tanyakan pada agen asuransi, hal-hal apa saja yang termasuk pengecualian.  Adakah penyakit tertentu dan kondisi tertentu yang tidak ditanggung oleh perusahaan asuransi.  Baca juga:  Pengecualian pada Asuransi Kesehatan Allianz
  4. Jaringan RS rekanan.  Bila suatu perusahaan asuransi memiliki jaringan RS yang banyak, bahkan mencakup RS di luar negeri, Anda bisa memilih Asuransi Kesehatan tersebut.  Baca juga:  Jaringan RS Rekanan Allianz
  5. Masa berlaku dan masa tunggu.  Penting mengetahui masa berlaku proteksi asuransi kesehatan yang Anda minati.  Apakah manfaatnya sudah bisa digunakan sejak pengajuan disetujui, atau harus menunggu beberapa hari baru bisa digunakan.  Adakah suatu kondisi penyakit yang memiliki masa tunggu.
  6. Usia masuk.  Usia masuk lebih muda maka premi akan lebih murah.
  7. Plan yang dipilih.  Banyak juga calon nasabah yang minta ilustrasi asuransi kesehatan dengan plan rawat inap terendah, agar preminya murah.  Allianz punya plan 100 di produk Asuransi Kesehatan “Allisya Care”.  Plan 100, artinya harga kamar perawatan = 100 ribu perhari.  Mungkin setara dengan kamar kelas 3 di RS tertentu.  Jika memang dana Anda tersedia, minimal pilihlah plan yang sedang, yaitu plan 500, artinya harga kamar perawatan = 500 ribu perhari, atau setara kamar kelas 1 di RS tertentu.
  8. Inflasi.  Kontrak asuransi kesehatan adalah 1 tahun.  Setelahnya, saat akan perpanjangan polis, Anda bisa mereview kembali polis Anda.  Apakah manfaat plan yang dipilih masih sesuai dengan kebutuhan proteksi Anda.
  9. Premi.  Usia masuk, jenis kelamin, plan yang dipilih, manfaat yang dibeli, mempengaruhi besarnya premi.  Semakin lengkap, maka premi akan semakin mahal.
  10. Cara bayar premi.  Ada beberapa cara bayar premi yang disediakan: tahunan (umumnya), semesteran, kuartalan, dan bulanan.
  11. Cara Klaim.  Manfaat rawat inap dan maternity umumnya klaim secara cashless (pakai kartu).  Manfaat lainnya klaim secara reimburse.
  12. Koordinasi manfaat (bukan dobel klaim).  Kebanyakan asuransi kesehatan sekarang sudah bisa koordinasi manfaat dengan perusahaan asuransi lain.
  13. Sesuaikan dengan budget Anda.  Pertimbangkan proteksi terbaik sesuai kebutuhan Anda dan kemampuan finansial Anda.
  14. Hubungi agen asuransi berlisensi.  Baca juga:  Cara memilih agen asuransi

Saat Anda membandingkan dengan asuransi kesehatan lainnya, silahkan dibandingkan detil manfaat/fasilitasnya apa saja, dan berapa limitnya (untuk askes yang ada limit).

 

 

Hati-hati dengan penawaran yang datang pada Anda melalui telepon (telemarketing asuransi).

Dibandingkan dengan Agen Asuransi Berlisensi, ternyata cara penawaran asuransi kesehatan melalui telemarketing ini memiliki beberapa kekurangan:

Pertama, Sales yang menawarkan hanya bertujuan untuk mendapat klosingan pada saat itu juga.  Seringkali terlalu bersemangat sehingga terkesan “ngotot” supaya nasabah segera “SETUJU” untuk buka polis SAAT ITU JUGA.  Sekarang ini, kalimat yang digunakan jadi lebih halus “apakah ibu bersedia kami bantu untuk dikirimkan dokumennya”.  Itu artinya, jika nasabah setuju, maka polis langsung aktif, dan akan ada debet rekening ataupun debet kartu kredit secara OTOMATIS yang ditagihkan ke nasabah.

Kedua, Sales yang menawarkan akan berbeda dengan sales yang kelak akan mendampingi proses klaim nasabah.  Nasabah hanya akan langsung berhubungan dengan Customer Care nya via telepon juga.

Ketiga, Tidak ada kedekatan emosional antara sales yang menawarkan dengan nasabah.  Nasabah tertentu bisa merasa “kurang adanya support” dari salesnya.  Bila ada hal kecil yang ingin ditanyakan, harus kontak Customer Care-nya yang juga berganti-ganti orangnya saat dihubungi.

Keempat, Nasabah tidak tau dan tidak kenal siapa salesnya, seperti apa “penampakannya”, hanya tau nama saat perkenalan via telepon saja.  Tidak juga ada blog pribadi  atau blog bisnis ataupun web resmi perusahaan yang disana bisa dilihat foto diri sales.  Walau tidak kenal secara pribadi, tapi kalau tau orangnya, tentu “feel”nya akan berbeda toh?  Lebih nyaman, pastinya.  Berbeda jika Anda sampai di blog saya http://ProteksiKita.com, ada foto diri saya, ada foto lisensi keagenan aktif saya, ada data kontak pribadi juga.

Kelima, Menggunakan bahasa verbal yang hanya bisa mudah dipahami oleh orang yang memiliki kemampuan menyimak yang sangat baik.  Pada orang yang kemampuan visualnya jauh lebih baik, masih harus dibantu dengan menulis ulang manfaat yang disampaikan sales.

Keenam, Menawarkan produk secara tergesa-gesa, sehingga bisa ada informasi yang terlewat ataupun kurang detil menyampaikan manfaat produk.

Ketujuh, Menggunakan bahasa “per-asuransi-an” yang terdengar kurang familiar dan agak sulit dimengerti bagi nasabah yang baru kenal “asuransi”, apalagi via telepon yang hanya mengandalkan indera pendengar saja.  Padahal secara psikologi, suatu informasi akan lebih mudah dipahami secara visual sekitar 80%.

Kedelapan, Umumnya mengutamakan penawaran premi yang murah.  Jika demikian, saran saya jangan langsung tergiur premi murah.  Anda harus mendengarkan secara seksama, manfaat apa saja yang Anda bisa dapat dari premi murah tersebut.

 

Berikut saya sekedar berbagi informasi penawaran produk kesehatan yang datang ke saya via telepon baru-baru ini.  Produk dari ****A Family E**iC***.  Setelah berbasa-basi dan perkenalan, sales sampaikan beberapa poin sebagai nilai jual produknya:

“Ibu Estri usia XX, suami usia XX, dengan 3 anak usia X, X, X.

Manfaat yang didapat:  untuk rawat inap 200 juta/tahun utk 5 orang, dengan rincian sbb: kamar 600rb perhari, ICU 1.2 juta perhari, operasi maksimal 12 juta pertindakan operasi, rawat jalan pasca rawat inap max 1.2 juta/orang perkejadian reimburse,

Premi = 500 ribuan perbulan, sudah cover untuk 5 orang”

Apa yang ada di benak Anda, setelah mendengar informasi tersebut dalam  1x penjelasan tanpa interupsi?  “WOW… murah banget, 500 ribu perbulan untuk 5 orang, manfaatnya segitu”…  Benar ya?  Kalau saya, memang itu yang tertanam di benak saya setelah salesnya sampaikan secara tuntas semua informasi tanpa saya potong.  Setelah itu, baru saya tanya2 lagi secara rinci.

Di akhir2 penjelasannya (itupun setelah saya tanya berkali-kali untuk mendapat informasi yang lebih detil, karena agen asuransi pun mudah tertarik dengan yang berjudul “murah”  🙂 ), barulah disampaikan oleh salesnya bahwa “Betul ibu, ini bukan asuransi kesehatan, melainkan santunan saja yang melengkapi asuransi kesehatan yang sudah ibu miliki”..

Naahh looo…  Kenapa bukan disampaikan dari awal, jadi otak saya lebih mudah mengikuti penjelasan si sales.

Ini strategi marketing yang efektif untuk sales bisa cepat menjaring nasabah, tapi merupakan trik berbahaya bagi nasabah yang minim pengetahuan tentang asuransi.  Dan informasi seperti ini sangat tidak adil bagi nasabah.  Mendengar istilah “kamar 600rb perhari”, pemahaman saat pertama kali mendengarnya adalah kamar perawatan seharga 600rb perhari, alias setara kamar kelas 1 di RS tertentu.  Padahal ini adalah 2 hal yang berbeda. Ternyata terakhir baru sadar bahwa yang ditawarkan adalah SANTUNAN kesehatan, BUKAN asuransi kesehatan.

Santunan kesehatan = memberi sejumlah uang sesuai perjanjian polis terhadap suatu kondisi/tindakan.  Contoh di atas, berarti:  hanya memberi uang sejumlah 600 ribu dikali lamanya hari di rawat inap, yaitu 600 ribu X 10 hari = 6 juta.  Jadi, misal saya  dirawat di kamar perawatan saja tanpa ada tindakan operasi, pulang dari RS saya klaim ke asuransi tersebut, maka saya akan terima uang = 6 juta. ITU SAJA.

Asuransi kesehatan = mengganti biaya perawatan/pengobatan selama berurusan dengan Rumah Sakit.  Saat di rawat di kamar perawatan kelas 1, misal harga kamar 600rb/hari.  Jangan lupa bahwa selama di rawat, saya pasti diberi obat, ada visit dokter spesialis/umum, mungkin juga ada pemeriksaan diagnostik spt ambil darah/rontgen dll.  Ternyata banyak hal yang harus saya bayar saat perawatan di RS.  Disinilah fungsi Asuransi Kesehatan.  Asuransi Kesehatan mengganti semua biaya perawatan selama berada di RS.  Sedangkan santunan kesehatan tidak sedetil ini.

Pengalaman ini menarik untuk saya bagi kepada pembaca blog saya yang budiman.  Agar Anda lebih waspada dan mengetahui secara jelas dan detil, produk apa yang Anda butuhkan.  Asuransi kesehatan jenis apa yang Anda cari.  Manfaat apa saja yang ingin Anda dapatkan dari sebuah produk Asuransi Kesehatan.  Pilihannya ada pada Anda.  Jangan sampai keliru atau dibuat keliru dalam memilih, yang disebabkan karena tergiur dengan premi murah namun belum paham detil manfaat yang didapat.  Ingat bahwa: Yang mengganti semua biaya perawatan selama di RS adalah Asuransi Kesehatan.

Jadi, mau beli Asuransi Kesehatan lewat telemarketing asuransi atau lewat Agen Asuransi Berlisensi?

Mencari Asuransi Kesehatan cashless yang klaimnya sesuai tagihan?  Klik Smartmed Premier.

Mencari Asuransi Kesehatan cashless yang sesuai limit dan Syariah?  Klik Allisya Care

Mau tanya-tanya dan diskusi GRATIS?  Hubungi Agen Asuransi Berlisensi  WA:  0817 028 4743

 

95% nasabah tidak memahami isi polisnya. 

Hubungi Estri Heni untuk membantu membedah polis asuransi yang sudah Anda miliki.