Operasi Batu Ginjal, apakah dicover asuransi?

 

Kali ini saya hanya sekedar bercerita apa adanya tentang sepupu yang baru saja operasi batu ginjal.  Sepupu saya, laki-laki 37 tahun, seorang manajer finance di sebuah perusahaan.  Sepupu saya ini SEHAT terus, rajin OLAHRAGA bersepeda,  TIDAK ADA keluhan yang dirasakan.  Sampailah pada keadaan dia menemukan kondisi dimana saat itu air seninya berwarna merah.

batu-ginjalBeliau cek ke klinik, hasilnya:  ada protein di urin.  Konsul ke dokter Urologi, USG nya dinyatakan ada batu ginjal di kanan kiri dan harus operasi untuk ambil batu di ginjal kanan.  Sementara batu di ginjal kiri bisa dilakukan tindakan ESWL saja, tanpa perlu operasi.  Karena sudah syok mendengar kata “operasi”, maka istrinya yang melanjutkan konsultasi.  Dokter menyarankan CT Urologi untuk detilnya.  Informasi dari dokter:  batu ginjal tersebut termasuk jenis “batu tanduk rusa” karena berukuran besar yang sudah hampir menutupi bagian kalises ginjal, bila tidak diambil maka konsekuensinya 2:

  • Batu akan turun menutupi ureter, pasien bisa meninggal dunia
  • Bila pasien hidup, maka harus cuci darah

Pasien berusaha mencari second opinion ke beberapa Urolog lain.  Hasilnya sama:  harus operasi.  Bermaksud mencoba BPJS, dirujuk ke RS rekanan BPJS, yang ternyata jaraknya jauh dari rumah.  Akhirnya diputuskan menggunakan askes dari kantor saja, dengan pertimbangan:  RS rekanan dekat dari rumah.  Sehingga memudahkan istri untuk bolak balik, dan tidak kelamaan meninggalkan batita di rumah.

Karena dokter sudah tau prosedur klaim asuransi, dan beliau meminimalkan konfirmasi dari pihak asuransi untuk kasus pasien tersebut.  Mengingat kesibukan beliau menangani pasien lebih banyak perlu waktu, ketimbang harus menjawab pertanyaan dari pihak asuransi.  Maka untuk mempercepat pelayanan dan tindakan, saran dokter:  bila ingin memanfaatkan askes kantor, masuknya dari UGD saja.  Bukan dari poliklinik.

Prosedur diikuti, operasi dilakukan.  Ternyata setelah observasi pasca operasi, ditemukan adanya rembesan darah yang masih keluar dari ginjal.  observasi dilanjutkan.  Bila didapati rembesan semakin banyak, maka harus dioperasi ulang.  Pasien semakin tidak nyaman mendengar hasil observasi, terasa masih nyeri pasca operasi, ditambah hati tidak tenang, terbayang anak istri…  Sungguh perasaan yang campur aduk…

Curhat istri di rumah:  “syok dengar penjelasan dokter tentang konsekuensi bila tidak dioperasi.  Padahal pasien takut dioperasi.  Dengan pertimbangan:  mumpung masih muda, recovery pasca operasi akan lebih mudah daripada ditunda.  Sedih, di rumah hanya bisa menangis.  Balita di rumah demam tinggi, sementara suami di rumah sakit masih observasi pasca operasi.  Ditambah pula keterangan dokter tentang adanya rembesan itu… hadeeuuuhh”

—————————-

Saya tidak berada di posisi tersebut, tapi saya bisa merasakan bagaimana bila ada di posisi pasien dan bagaimana bila ada di posisi istrinya.  Jika bisa dibilang : padahal kasusnya “hanya” operasi batu ginjal saja,  perasaan pasien dan istri bisa sedemikian hebohnyaa…

Bagaimana bila kasusnya lebih parah dari itu????

 

Pelajaran berharga yang saya dapat dari kasus ini:

Asuransi Kesehatan penting untuk bisa menggantikan biaya rumah sakit saat pasien harus dilakukan tindakan medis dan rawat inap, namun tidak dapat menggantikan “biaya yang tersembunyi”.  Apa saja biaya yang tersembunyi itu?  karena kasusnya “hanya” operasi batu ginjal, maka biaya yang tersembunyi mungkin hanya ini:  akomodasi anggota keluarga yang menunggu pasien.

Baca juga:  Biaya Tersembunyi

Berada di posisi istri.  Beliau sampai hanya bisa menangis di rumah karena terbayang sang suami di RS.  Padahal kasusnya “hanya” operasi batu ginjal, yang masih bisa recovery saja walaupun butuh waktu, sang istri menangis terus di rumah.  Pernahkah terbayang, (karena sang suami sehat, olahraga, tidak ada keluhan) bagaimana bila yang terjadi adalah: suami terlambat terdeteksi ada batu di ginjalnya, sehingga terjadi konsekuensi seperti yang disampaikan dokter?

Bagaimana bila kasusnya sampai terjadi gagal ginjal?  Pasien harus bolak balik cuci darah, dan itu harus terus menerus???  Pastinya:

  1.  Istri sampai tidak bisa menangis lagi karena sudah kering airmata
  2. Istri tidak bisa fokus: anak 2 (usia sekolah dan batita).  Antara pekerjaan antar jemput sekolah si kakak, meninggalkan batitanya, dan bolakbalik temani suami ke RS.  Karena istri tidak bisa setir mobil, otomatis minta bantuan opa untuk setir mobil
  3. Bila pasien diberi umur panjang, kualitas hidup pasien menurun, produktifitas kerja berkurang, bisa saja perusahaan akan memintanya berhenti.  Artinya apa?  Penghasilan bisa berhenti juga.  Sementara istri berprofesi sebagai “Wonder Mom”, alias ibu rumah tangga luarbiasa.  Boleh jadi, biaya tindakan medisnya bisa di-cover asuransi kesehatan.  Namun, bagaimana dengan biaya hidupnya?
  4. Bila pasien diberi umur pendek, sudah pasti penghasilan juga berhenti.  Bagaimana biaya hidup keluarga yang ditinggalkan?  Bagaimana rencana sekolahkan anak setinggi2nya?  Bagaimana rencana perjalanan ibadahnya?  Bagaimana melunasi cicilan rumah dan mobilnya?  Bagaimana???

Saya meyakini rejeki sudah diatur.  Namun tidak ada salahnya mempersiapkan kebaikan bagi keluarga tercinta, bila resiko terburuk terjadi.  Sudah tepatkah rencana keuangan keluarga Anda?  Jangan lupa sisihkan sedikit penghasilan Anda untuk melindungi penghasilan Anda.

Siapkan proteksi sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial Anda.

 

Allianz memiliki rider CI100, yaitu manfaat tambahan proteksi terhadap 100 jenis sakit kritis, cover sampai nasabah usia 100 tahun.  Yang termasuk sakit kritis untuk ginjal adalah kasus:

  • Pengangkatan satu ginjal  (early stage, cair 50% UP)
  • Penyakit Ginjal Kronis (early stage, cair 50% UP)
  • Gagal ginjal (advance stage, cair 100% UP)

*defenisi masing2 kasus lebih jelas ada pada polis

 

Kasus sakit kritis merupakan keadaan yang memerlukan biaya sangat besar.  Bila finansial Anda mendukung, maka pastikan Anda memiliki proteksi yang besar pula, bukan hanya sekedar ada.

Silahkan KONTAK SAYA untuk mendapatkan ilustrasi proteksi sakit kritis.

 

One thought on “Operasi Batu Ginjal, apakah dicover asuransi?

  1. Kisah yang sangat menyentuh. Semoga semakin banyak keluarga yang sadar asuransi sebelum semuanya terlambat. Terutama asuransi penyakit kritis utk menanggung risiko paling berat dalam hidup. Sukses selalu utk ibu Estri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s