“Sakit Kritis” Menurut Dokter dan Pengalaman Seorang Survivor Kanker Payudara

 

Dr. Pandu Ranggabirawa, seorang dokter muda yang kesehariannya bertugas di Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, Jakarta Barat, beliau sekaligus adalah agen asuransi Allianz.

Dalam kesempatan malam itu, Dokter Pandu memberikan informasi lengkap tentang penyakit-penyakit kritis yang sebabnya terkadang tidak diketahui orang, dan gejalanya juga terkadang terlewatkan oleh orang.

Pasien tua dan muda selalu ada, bahkan Dokter Pandu berkata pasien termuda yang pernah dia temui adalah anak berusia 17 tahun, meninggal karena serangan jantung. Stroke pada orang berusia 28 tahun.

Mengapa semua bisa terjadi? Mengapa penyakit kritis bisa menimpa ke orang yang berusia muda?

Banyak faktor, salah satunya adalah gaya hidup, yaitu makanan yang dikonsumsi, minuman, rokok, pola tidur, dan sebagainya.

Banyak orang berkata ada namanya stroke ringan dan berat. Salah!

Stroke tidak ada ringan maupun berat. Stroke pada dasarnya ada dua penyebab, penyumbatan di pembuluh darah otak, dan pecahnya pembuluh darah di dekat otak.

Cara penanganannya pun berbeda. Banyak broadcast mengatakan tusuk jari dengan jarum. Salah! Itu tidak mengatasi sama sekali. Cara terbaik adalah membawa pasien ke Rumah Sakit dengan segera dan ditangani oleh pihak yang lebih mengerti.

Penyumbatan di pembuluh darah otak dapat ditangani dengan obat pengencer darah, itupun harus dalam masa Golden Period, yaitu 4 jam sejak terjadinya stroke.

Harga satu botol obat pengencer darah adalah seharga satu motor vario, dan kita harus menyiapkan dana sebesar empat buah motor vario untuk dapat sembuh, itupun harus dilihat lagi kondisi selanjutnya.

Penanganan untuk pecahnya pembuluh darah di dekat otak itu sangat berbeda dengan penanganan untuk penyumbatan. Pecahnya pembuluh darah di otak harus dilakukan operasi, yaitu tengkorak kepala di bor dan di buka untuk di sedot cairan darahnya.

Penyebab kematian terbesar menurut data WHO adalah penyakit kritis, yaitu 67%.  Tapi ternyata data itu tidak sepenuhnya benar, data di Allianz, penyakit kritis menyebabkan lebih dari 95% kematian.

 

IMG-20160511-WA0000(1)

 

Sedikit bercerita, Dr. Pandu mengisahkan bagaimana dia bisa terjun ke dunia asuransi, yang tadinya dia sama sekali tidak menghiraukan.

Sahabat beliau menelpon dan dengan panik meminta tolong untuk menjemput ibunya dengan ambulans.  Dengan sigap Dr. Pandu mengirimkan ambulans dan menjemput, lalu berbincang dengan sahabatnya tersebut.

Gejala stroke yang diderita ibu sahabatnya itu oleh dokter syaraf mengharuskan pasien di rawat di kamar ICU dan perhitungan biaya adalah 10 Juta per hari, dengan minimal perawatan 30 hari, belum termasuk biaya obat-obatan 70 Juta, jadi total biaya yang harus disiapkan adalah 370 Juta.

Dokter syaraf berkata, kalau kamu tidak punya uang 370 Juta sebaiknya kamu jangan masukkan ke Rumah Sakit, karena percuma, daripada setengah jalan dan tidak sanggup bayar dan harus lewat kan sayang.

Sejak kejadian itu Dr. Pandu “klik” dengan yang namanya asuransi, dan segera menghubungi Ibu Marjana, seniornya di RS Siloam yang kini sudah full time di Allianz. Dengan premi 7,5jt per bulan, UP Sakit Kritis untuk orang tuanya adalah 1 M.

Sedikit kaget, Dokter Pandu berkata agak berat, namun Ibu Marjana menawarkan agar premi gratis, dan sejak saat itulah Dokter Pandu menjadi agen asuransi yang membantu mendistribusikan uang besar kepada orang-orang lewat TAPRO Allianz.

 

IMG-20160511-WA0001

 

 

Orang biasanya tidak percaya sebelum mengalami. Tapi bagi yang sudah mengalami, pasti tahu betapa mahalnya sakit itu, apalagi sakit kritis.  Dan ternyata banyak orang yang tidak sadar bahwa biaya non medical itu LEBIH BESAR daripada biaya medical.

 

Biaya tersembunyi penyakit kritis yang seringkali orang abaikan:

– Biaya akibat penghasilan yang hilang karena tidak mampu bekerja
– Biaya yang hilang akibat harus merawat orang yang dicintainya
– Biaya untuk membeli nutrisi khusus
– Biaya transportasi karena harus berobat ke luar negeri
– Biaya berobat alternatif yang tidak dicover oleh perusahaan
– Biaya pendidikan anak yang tidak bisa berhenti
– Biaya hidup seluruh anggota keluarga

Dan semua biaya-biaya itu, tidak bisa dibayar oleh BPJS maupun asuransi kesehatan dengan limit terbesar sekalipun baik dari perusahaan maupun asuransi.   Semua itu hanya dapat dibayar dengan uang tunai.

Baca juga:

Sudah punya asuransi kesehatan terbaik, masih perlukah asuransi sakit kritis?

Dr. Pandu menghimbau agar kita yang masih sehat bisa sadar untuk punya proteksi sakit kritis, uang tunai besar agar kita terhindar dari bencana keuangan.

Terima kasih Dokter Pandu sudah berbagi dengan kami.

# latepost 28 April 2016

 

Baca juga:

5 Fungsi Asuransi Sakit Kritis

Keunggulan rider Critical Illnes (sakit kritis)

 

Satu lagi narasumber yang juga menginspirasi adalah Ibu Lenny, seorang survivor kanker payudara stadium 3C.  Ibu yang masih sangat muda belia, yang hidupnya sehat, tidak obesitas, malah bisa terkena penyakit kanker.  Ibu Lenny bercerita betapa kagetnya dan tidak percayanya dia ketika mendapat vonis sakit kanker.  Untuk memastikan, dia pergi ke Penang dan ternyata positif kanker payudara stadium 3C.

Dokter mengatakan harus 21 kali pengobatan kemoterapi.  Hingga akhirnya mobil satu-satunya harus dia jual demi membayar pengobatan tersebut.

Dia bercerita bahwa sebelumnya temannya yang agen asuransi Allianz pernah mendatangi dia untuk menawarkan asuransi penyakit kritis, namun ditolaknya mentah-mentah, dengan berbagai alasan, karena limit yang dia miliki dari asuransi kesehatan kantornya sangat besar, dan bahkan suaminya bekerja di perusahaan asuransi juga mempunya perlindungan asuransi kesehatan besar untuk sekeluarga.

Namun ternyata pemikiran dia semua salah besar.

Semua sudah terlambat dan sakit kritis menggerus uang tabungannya. Dan temannya berkata, coba kalau kamu waktu itu ambil asuransi, pasti tidak perlu jual mobil.

 

ibu lenny

 

 

Namun, begitulah manusia, tidak pernah merasa sakit kritis tidak akan pernah menimpa diri sendiri, jadi untuk apa lah asuransi sakit kritis, toh masih muda.

Sejak itu, Ibu Lenny memutuskan untuk menjadi agen asuransi, dengan misi agar jangan sampai orang lain terjadi seperti dia dahulu baru sadar pentingnya asuransi sakit kritis.

Dan kini dia sisa menjalani 2 kali kemoterapi lagi.

Dari pengalaman dan sharing Ibu Lenny, kita semakin disadarkan bahwa sakit kritis itu sangat mahal dan bisa terjadi pada siapa saja kapan saja.

Tinggal bagaimana kita mengantisipasinya.   Apakah asuransi kesehatan dan BPJS cukup?  Tidak! Semua tetap perlu asuransi sakit kritis.

 

Ingin siapkan dana darurat  1 Miliar untuk proteksi sakit kritis?

Diskusikan dengan saya:

Estri Heni

SMS/WA:  0817 028 4743

atau  Klik:  KONTAK SAYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s