Suami Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya

 

Adalah bijaksana jika seorang suami memutuskan untuk membeli asuransi jiwa untuk dirinya, karena pertimbangan bahwa kelak jika dirinya meninggal dunia terlebih dulu maka ia ingin agar istri dan anaknya tetap bisa hidup layak, sama seperti sekarang.  Di saat ini, saaat dirinya masih sehat, masih bugar, masih bisa berpenghasilan, bersama istri dan anaknya yang sangat dicintainya ini.

Bersyukurlah kita, para istri, jika pertimbangan suami kita seperti itu.  Benar-benar tujuan yang mulia, bukan?

Namun, ada saja loh, suami yang tidak setuju untuk punya polis asuransi dengan alasan “asuransi itu tidak berguna saat saya hidup dan sehat.  Nanti kalo saya meninggal baru cair kan itu warisannya?  Enak buat istri, gak enak buat saya  dong.  Nanti warisannya dipakai istri untuk nikah lagi dan bersenang-senang dengan suami barunya.  Rugi buat saya, saya nggak dapat apa-apa.  Cuma disuruh setor terus bertahun-tahun…”

Alasan tersebut benar adanya ya bu Ibu dan Pak Bapak… Maksudnya, saya juga menemukannya di lapangan saat ngobrol dengan prospek.  Tapi saya yakin, pembaca artikel di blog saya, pasti termasuk kategori suami bijaksana seperti yang saya ceritakan di awal artikel ini.

Jika ada pembaca artikel di blog saya ini yang beralasan bahwa asuransi hanya menguntungkan istri saja, rasanya Anda perlu mengingat kembali alasan Anda menikahi istri Anda.  Anda pasti mencintai dan menyayangi dia, bukan? Dan saya yakin, istri Anda pun demikian.  Dia rela meninggalkan Ayah Ibu nya demi membangun keluarga baru dengan Anda.  Orangtuanya pun sudah mempercayakan anak gadis yang dibesarkan dengan sangat baik, diberi pendidikan terbaik, diberi kehidupan yang layak, untuk hidup bersama Anda, laki-laki yang baru dikenalnya saat dewasa.  Lalu Anda hanya berpikir sedangkal itu?  Anda hanya mementingkan diri sendiri?  Tugas Anda sebagai suami dan Ayah masih berlanjut.  Walaupun saat Anda sudah tidak bersamanya.

 

Seperti pada QS An Nisaa ayat 9:

“Dan Hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.(9) “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala”(10)

Di dalam Ash Shaihain dinyatakan bahwa Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam saat menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqash, beliau ditanya:”Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki banyak harta dan tidak memiliki ahli waris kecuali seorang putri. Apakah boleh aku bershadaqah dua pertiga hartaku?” Maka RasulullahShallahu’alaihi wa Sallam menjawab:

لاَ قاَلَ: فَا الشَّطْرُ؟ قَالَ:((لاَ)) قَالَ:((الثُّلُثُ، وَ الثُّلُثُ كَثِيْرٌُ)) ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَي الله عَلَيْهِ وَ سَلَّم: ((إِنَّكَ إِنْ تَذَرْ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ، خَيْرٌُ مِنْ أَنْ تَذَرَ هُمْ عَالَةًَ، يَتَكَفَّفُوْنَ النَّاسَ

“Tidak.” Ia bertanya:”Setengah?” Beliau menjawab:”Tidak.” Dia bertanya lagi:”(Bagaimana) sepertiga?” beliaupun menjawab:”Ya, sepertiga boleh dan sepertiga itu cukup banyak.” Kemudian Rasulullah Shallahu’alaihi wa Sallam bersabda :”Sesungguhnya kamu tinggalkan keturunanmu dalam keadaan cukup adalah lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka miskin meminta-minta kepada orang lain.” (HR Bukhari-Muslim)

 

Asuransi Jiwa adalah salah satu ikhtiar untuk menjaga keturunan dalam keadaan cukup, bila pencari nafkah / tulang punggung keluarga meninggal dunia.

 

 

ar

 

Pertanyaan:  Benarkah apabila suami memiliki asuransi jiwa, lalu setelah suami meninggal, istri akan mendapatkan uang pertanggungan sebagai warisan yang pada akhirnya akan membuat si istri kawin lagi dengan laki laki lain?

 

  1.  Istri yang Almarhum suaminya TIDAK memiliki polis asuransi sebelumnya.

Seorang janda dari suaminya yang tidak memiliki polis asuransi jiwa sebelumnya, bahkan belum habis masa sedih dan berkabungnya, langsung dihadapkan pada kenyataan: harus tetap menjaga dan menghidupi buah hatinya seorang diri.   Pernahkah Anda (suami) bayangkan: bila si istri yang terbiasa tidak bekerja (ibu rumah tangga) harus mulai dari nol mencari kerja guna menghidupi dirinya sendiri beserta anak?

Pada awal kisah tentu masih bisa, dengan cara menjual barang-barang peninggalan anda, tapi sampai kapan? Itupun jika anda memang ada meninggalkan “sesuatu” untuk istri anda seperti mobil, tanah, rumah atau asset lainnya.  Bagaimana jika tidak ada?

Di saat sedih, labil, dan terpuruk secara emosi maupun ekonomi, istri anda tentu akan mencari perlindungan kepada orang lain. Masing-masing saudaranya tentu sudah ada tanggungan anggota keluarga lain dalam hidupnya.  Masa iya sih, mereka akan menanggung lagi istri Anda + anak2 Anda?  Kalaupun iya, sampai kapan?  Saat saudaranya sudah tidak dapat lagi menanggung keluarga yang Anda tinggalkan, jangan salahkan istri Anda jika dia berusaha mencari sosok pengganti anda.

Bukan lagi untuk berkasih sayang memikirkan dirinya sendiri, melainkan lebih kepada untuk bertahan hidup dan membesarkan anak-anak Anda.  Jadi, istri anda kemungkinan akan menikah lagi, karena anda tidak memiliki polis asuransi jiwa sebelum anda meninggal dunia. Di satu sisi, kasihan anak anak anda yang terpaksa harus belajar menerima kehadiran seorang ayah “baru”.  Padahal dalam hati mereka, Anda-lah sosok Ayah terbaik dan terhebat bagi mereka, anak2 Anda.

Tapi ternyata, ada ayah “baru” dalam hidup mereka.  Bisa jadi, ayah “baru” ini memang sangat tulus menyayangi anak2 Anda. Seiring waktu, anak anak Anda akan lebih sayang pada ayah barunya dibanding kepada anda. Ayah barunya peduli kepada mereka dan bisa mecukupi kebutuhan mereka.

Sedangkan anda?

Karena kurang besarnya kepedulian Anda, anda tidak meninggalkan apa apa kepada istri dan anak anak anda. Bisa jadi Anda akan dikenang sebagai suami yang tidak bertanggung jawab oleh istri anda.  Bahkan anak anak anda akan menganggap anda adalah ayah yang jahat karena telah menelantarkan mereka sejak dari kecil. Yang salah bukanlah maut yang sangat cepat menjemput anda, tetapi anda yang tidak mempersiapkan diri selagi masih hidup dengan membeli asuransi jiwa.

 

2.  Istri yang Almarhum suaminya SUDAH memiliki polis asuransi jiwa sebelumnya.

Walaupun anda sudah tenang dan jauh disana, anda masih mampu menjaga kehidupan istri dan anak anak anda yang ditinggalkan. Uang Pertanggungan (UP) dari polis asuransi jiwa anda dapat dimanfaatkan sebagai modal usaha atau didepositokan saja sehingga istri mendapatkan penghasilan rutin (bunga) tiap bulannya sebesar gaji anda ketika anda masih hidup dulu.

Ternyata tidak ada perubahan kualitas hidup dari keluarga yang anda tinggalkan, karena anda mampu menghidupi mereka walaupun anda sudah tidak bersama. Meskipun anda telah tiada, tapi anda meninggalkan warisan bagi istri dan anak anak anda. Istri anda akan tetap mengenang anda sebagai sosok suami yang baik dan bertanggung jawab. Anak anak anda juga tetap akan mengenang anda sebagai sosok ayah yang sangat luar biasa, yang tidak pernah meninggalkan mereka dalam situasi sulit meskipun anda telah tiada.

Jika ada pria lain yang mendekati istri anda dan ingin menggantikan posisi anda, belum tentu istri anda mau karena cintanya hanya untuk anda seorang, dan dia masih bisa hidup dan menghidupi anak-anak anda berkat rencana matang yang sudah anda buat sebelumnya.

Mungkin istri anda akan berpikir seribu kali untuk menggantikan posisi anda dengan laki-laki lain. Istri anda juga dapat berpikir jangan-jangan pria pria yang mendekatinya hanya ingin mengincar harta mendiang suaminya saja.

 

 

Terlepas dari hal “apakah kelak istri Anda akan menikah lagi atau tidak”, ada pertanyaan lain yang lebih bermakna.

Apakah Anda tetap ingin anak Anda:

  •  Tumbuh dewasa sesuai panutan yang sudah Anda beri semasa masih bersama?
  • Senantiasa mendoakan Anda walau Anda sudah tidak lagi bersama mereka?
  • Menjadi anak yang selalu bersyukur atas kemudahan menjalani hidup yang sudah Anda siapkan sejak Anda masih bersama mereka?
  • Merasa bahwa Anda tetap mensupport mereka untuk mendapatkan pendidikan terbaik, kehidupan yang baik dan layak, sepeninggal Anda?
  • Tetap merasakan kebahagiaan yang selalu Anda beri sejak mereka lahir, balita, anak2, remaja, walaupun Anda tidak lagi bersama mereka?

 

Hindari mengkondisikan istri Anda untuk memulai lagi dari NOL, hidupnya membesarkan anak2 Anda..

Bantulah istri Anda yang sangat Anda cintai dan Anda andalkan sepanjang hidup Anda, untuk lebih mudah mengarungi hidup…

Bantulah istri Anda untuk tinggal melanjutkan saja perjuangan Anda agar bisa membesarkan anak2 dengan baik, memberikan pendidikan terbaik, mendapatkan kehidupan yang baik dan layak…

Bantulah istri Anda mewujudkan cita-cita Anda berdua untuk membentuk anak-anak yang sholeh dan sholehah dengan memberikan keteladanan yaitu meninggalkan mereka dalam keadaan cukup…

 

 

 

Mari miliki asuransi jiwa Allianz sekarang juga..

Lindungi penghasilan Anda dari berbagai resiko hidup (kecelakaan, cacat, sakit berat) yang bisa menguras penghasilan Anda.

Mencari ketentraman?  Pilih Asuransi Jiwa  Syariah!

Hanya dengan premi 355 ribu, dapat Uang Pertanggungan 1 Miliar, mau?

Atau premi 600 ribu, dapat total Uang Peranggungan 2.5 Miliar?

Semua ada di Asuransi Jiwa Allianz Syariah…

Kontak Estri

WA: 0817 028 4743

 

Jangan tunggu sampai besok karena kita tidak pernah tahu kapan batas waktu hidup kita di dunia ini.

Inspirasi ide artikel

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s