Istri Punya Asuransi Jiwa atau Tidak, Ini Bedanya

 

Umumnya pencari nafkah utama adalah suami.  Sehingga suami idealnya harus memiliki asuransi jiwa.  Lalu bagaimana dengan istri?  Apakah tidak perlu punya asuransi jiwa?

Artikel ini membahas tentang istri yang punya asuransi jiwa atau tidak.  Dengan kondisi ideal, yaitu suami sebagai pencari nafkah utama dan suami sudah punya asuransi jiwa untuk dirinya sendiri.

 

ISTRI BEKERJA KANTORAN

Bila istri bekerja, artinya istri juga sebagai pencari nafkah.  Jika penghasilan istri ini untuk membantu penghasilan suami dalam membiayai kebutuhan hidup, maka istri sebaiknya juga punya asuransi jiwa.  Tujuannya untuk melindungi penghasilan dirinya (istri) agar tetap utuh jika terjadi resiko hidup.

Istri yang bekerja kantoran tentu memberikan kontribusi penting bagi kinerja perusahaan, sehingga perusahaan pun membayar jasanya dengan baik.  Penghasilan istri ini (pada beberapa kasus) disatukan dengan gaji suami untuk memenuhi beberapa poin keperluan keluarga.  Pada beberapa keluarga, penghasilan istri bisa juga untuk membayar pegawai yang bekerja di rumahnya untuk menggantikan peran selama istri berada di kantor.  Contoh:  membayar pengasuh bayi/anak, asisten rumah tangga, sopir, sekuriti, tukang kebun, juru masak.  Semoga semua istri yang bekerja kantoran selalu diberi kesehatan, sehingga tetap bisa produktif di kantor, tetap berpenghasilan, bisa membayar pegawai di rumah, sehingga tetap sinergis pekerjaan di kantor dan di rumah.  Aamiin…

Bagaimana bila suatu saat terjadi resiko? Si istri bekerja lalu terdiagnosa sakit berat (contoh:  kanker, jantung, dll)  Tentu kualitas hidup menurun, istri tidak lagi bisa bekerja dengan baik. Proses pengobatan dan penyembuhan untuk kasus sakit berat bukanlah hal yang instan, melainkan butuh waktu panjang.

Apakah istri yakin, selama istri bergulat dalam proses penyembuhan itu, perusahaan akan menunggu istri sampai sembuh kembali?  Sampai kapan harus menunggu?  Bagaimana dengan tugas dan kewajiban pekerjaan istri terhadap perusahaan?  Bisa jadi, diam-diam Perusahaan tempat istri bekerja mungkin sedang menyiapkan seseorang yang sama baiknya atau bahkan lebih baik produktifitas kerjanya sebagai pengganti posisi istri di perusahaan tersebut.

Lalu saat istri sudah benar-benar pulih, apa yang terjadi?  Perusahaan, dengan tidak mengurangi rasa hormat dan apresiasi terhadap kontribusi dan loyalitas  pekerjaan si istri selama belasan tahun tersebut, dengan sangat terpaksa meminta istri untuk bekerja di rumah saja…

Bila istri bekerja kantoran TIDAK punya asuransi jiwa

Saat istri sedang tergolek sakit, ataupun sudah melalui proses pengobatan, ataupun menjelang proses pemulihan, selain butuh waktu (sehingga pekerjaan di kantor dan perusahaan tidak bisa menunggu), juga butuh biaya besar.  Dananya dari mana?  Kuras tabungan, cairkan deposito/reksadana, jual investasi logam mulia, bisa cepat, tapi bagaimana dengan nominalnya?  Bisa besar juga?  Oke, masalah bisa selesai.  Tapi coba renungkan kembali.  Apa tujuan awal istri dari dana yang disiapkan melalui tabungan, deposito, reksadana, logam mulia tersebut?  Yakin nih, tujuan awalnya memang untuk siapkan dana darurat bila terjadi sakit berat?  Benar nih, bukan untuk siapkan dana untuk pensiun sejahtera?  Bukan untuk siapkan dana perjalanan ibadah?  Bukan untuk siapkan dana wisata keluarga?

Bila dananya ternyata belum cukup, bagaimana?  Terpaksa jual mobil, bisa cepat.  Jual rumah?  Butuh waktu lama untuk dapat harga yang sesuai.  Bisa cepat, bila harga “setega”nya.  Memang sih, dananya bisa dapat.  Tapi coba renungkan kembali.  Apa tujuan awal istri memiliki mobil dan rumah tersebut?  Yakin nih, tujuan awalnya memang untuk dijual saat butuh dana darurat bila terjadi sakit berat?  Benar nih, bukan untuk siapkan tempat tinggal ternyaman saat pensiun untuk tetap sejahtera?  Bukan untuk menjadi sarana transportasi paling nyaman semasa masih produktif?

Jadi, seorang istri yang produktif, bekerja di perusahaan hebat, bisa mengaktualisasikan diri, berangkat pagi pulang sore, sering meeting di luar kota, hari Sabtu-Minggu yang sedianya untuk keluargapun sampai berubah menjadi hari kerja, meninggalkan suami dan anak-anak, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, lalu diinvestasikan dengan tujuan awal:  kebahagiaan dan kenyamanan saat pensiun, ternyata malah uang dan hartanya terpakai untuk BIAYA PENGOBATAN SAKIT BERAT?????

Saya rasa, si istri perlu cek ulang rencana pengelolaan keuangannya.

Asuransi jiwa bagi istri bekerja kantoran

Pada asuransi jiwa ada manfaat tambahan yaitu asuransi sakit kritis.  Yaitu memberi uang tunai jika terjadi sakit kritis/sakit berat.  Jika istri yang bekerja kantoran mengalami sakit ringan (ataupun sakit berat) yang pengobatannya berhubungan dengan RS (baik rawat jalan ataupun rawat inap), silahkan gunakan fasilitas asuransi kesehatan terbaik dari kantor.

Jika istri yang bekerja kantoran tersebut mengalami sakit berat, maka ada uang tunai jumlah besar yang bisa digunakan untuk membayar biaya2 yang timbul DI LUAR biaya RS.

Apa saja biaya yang timbul di luar biaya RS?

Contoh:

  • Akomodasi untuk orang yang menemani, seperti transportasi, penginapan, biaya makan, dan lain-lain. Orang yang menemani si sakit ini bisa jadi bukan satu-dua orang. Biaya akan lebih besar jika perawatan dilakukan di luar negeri.
  • Perawatan lanjutan sepulang dari rumah sakit, seperti perawat di rumah dalam jangka waktu yang lama (untuk kasus stroke atau lumpuh), cuci darah hingga seumur hidup (untuk kasus gagal ginjal), atau suplemen untuk penguat tubuh yang pada umumnya berharga mahal (seperti produk kesehatan yang sering ditawarkan MLM).
  • Biaya hidup selama tidak bekerja karena menjalani perawatan, dan biaya hidup untuk keluarga jika tidak bisa bekerja lagi untuk seterusnya.
  • Biaya pendidikan anak atau dana pensiun (jika sembuh dan dapat bekerja lagi seperti sebelumnya sehingga biaya hidup tak jadi masalah).

Biaya tersebut tidak dicover oleh asuransi kesehatan sebaik apapun.  Sehingga asuransi kesehatan dari kantor istri hendaklah didampingi dengan asuransi sakit kritis pada asuransi jiwa.

Bagaimana bila istri bekerja kantoran tersebut akhirnya dipanggil Yang Kuasa?

Ada warisan yang berguna bagi suami dan anak-anak.  Bisa dimanfaatkan sebagai dana pemakaman dan beberapa kebiasaan budaya asal si istri (seperti ritual keagamaan yang panjang, dll). Atau didepositokan untuk tambahan biaya pengeluaran keluarga seperti saat istri masih hidup.  Atau diinvestasikan kembali untuk tujuan siapkan dana pendidikan anak.

Istri yang punya asuransi jiwa akan sangat membantu finansial suami, saat terjadi resiko sakit berat.  Suami tidak perlu kuatir kehilangan sebagian tabungan atau hartanya untuk membiayai sakit berat istrinya tercinta.  Istri juga tidak perlu kuatir kehilangan sebagian tabungan atau hartanya untuk membiayai sakit berat dirinya.

Semua cita-cita indah, rencana masa depan menyenangkan yang disiapkan dari dana tabungan dan investasi akan tetap utuh dan bisa terwujud.

Jadi, sebagai istri yang bekerja kantoran, apakah Anda akan:

  • Membuka polis asuransi jiwa sebagai pendamping asuransi kesehatan dari kantor?
  • Menyiapkan dana warisan untuk suami dan anak2 agar rencana indah masa depan tetap terwujud?

Atau hanya akan:

  • Memaksimalkan asuransi kesehatan dari kantor tapi menggunakan dana pribadi untuk biaya2 di luar RS?
  • Membiarkan kehidupan suami dan anak2 berjalan apa adanya “sepeninggal” istri?

Saya yakin, sebagai istri bekerja kantoran yang well educated, seorang istri bijak pasti akan merencanakan pengelolaan keuangan terbaik, tidak hanya jangka pendek, melainkan juga untuk jangka panjang.

 

ISTRI DI RUMAH SAJA

Istri tidak bekerja kantoran, bukan berarti istri yang santai, hanya di rumah saja.  NO, big NO!  Istri yang di rumah saja itu malah kerjanya 24/7/365.  Kerjanya full, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Saat bosnya terjaga, istri bekerja, saat bosnya tidur, istri juga bekerja. Pekerjaannya multitasking:  juru masak, pengasuh anak, sekuriti, guru, sopir, laundry, house keeping, cleaning service, psikolog, psikiater, tenaga medis pertama, manajer keuangan keluarga, wuiiiihhh banyak yaaaa…  Tanpa libur, tanpa cuti, tanpa bonus.  (Hahaha… ini mah curhatan saya)…

Bayangkan pekerjaan istri yang di rumah saja.   Semoga semua istri yang di rumah saja selalu sehat walafiat, sehingga semua pekerjaan selalu bisa dilakukan dengan baik.

Di kalangan istri atau ibu rumah tangga, bahkan sampai ada quote yang tidak tertulis bahwa “istri/ibu itu dilarang sakit walaupun cuma sakit ringan seperti sakit kepala, demam, atau flu”.  Betul apa betul, ibu-ibu??

Ya, karena kalau istri sakit, semuanya jadi berantakan.  Istri sakit artinya:  tidak masak, tidak beberes rumah, tidak antar jemput anak sekolah.  Artinya lagi: untuk makan terpaksa beli masakan jadi.  Untuk beberes rumah terpaksa semua anggota keluarga turun tangan.  Untuk antar jemput sekolah terpaksa langganan tukang ojek untuk beberapa hari ke depan.  Jika anak sudah remaja, tidak masalah.  Bagaimana jika anak masih balita???

Itu baru sekedar sakit ringan, istri cuma perlu istirahat di rumah maksimal 2 hari.  Bagaimana bila istri sakit dan harus rawat inap?    Sakit ringan rawat inap di RS maksimal butuh waktu 7 hari.  Masalah dan solusinya hampir sama.  Hanya butuh waktu sedikit lebih lama untuk beli masakan jadi, untuk merelakan rumah agak berantakan sedikit lebih lama, dan untuk berlangganan ojek juga agak bertambah lama harinya.  Biaya sakit untuk kasus seperti ini masih ditanggung asuransi kesehatan dari kantor suami.  Benar ya Bu Ibu???

Setelah sehat, alhamdulillah.  Aktifitas normal kembali setelah 7 hari “berantakan”…

Istri di rumah saja yang  TIDAK punya asuransi jiwa

Ada suatu kenyataan bahwa istri tidak bisa memilih untuk “hanya terima sakit ringan saja” atau “nanti saja sakitnya kalau sudah tua”.  Ya, itu namanya resiko hidup.  Hidup tidak selalu mulus seperti yang diinginkan semua istri.  Bagaimana bila kejadiannya:  ternyata istri yang selalu sehat, rajin olahraga, tidak pernah rawat inap, tiba2 terdiagnosa sakit berat?

Anak2 masih butuh ibunya, suami butuh istrinya.  Kehidupan anak bisa terganggu.  Sekolahnya jadi terganggu, mungkin jadi sering bolos karena harus temani ibunya ke RS, ataupun tetap sekolah tapi pikirannya tidak tenang karena teringat ibunya.  Demikian juga suami.  Pekerjaan jadi terganggu, jadi sering tidak masuk kerja karena harus temani istri, atau tetap pergi meeting tapi hati dan pikiran tidak tenang.

Karena 1 anggota keluarga yang sakit, seluruh anggota keluarga terkena dampaknya.  Dampak psikologis.  Waktu produktif untuk suami bekerja jadi berkurang.  Waktu produktif anak untuk belajar juga jadi terganggu.  “Quality time”, waktu berkualitas untuk bercengkrama bersama keluarga pun jadi rusak…

Sakit berat yang menjadi momok bagi istri (perempuan) misalnya Kanker.  Nasabah saya dengan sedih menceritakan istrinya yang beberapa bulan lalu terdiagnosa kanker payudara stadium 2B, sampai berkata “Gila ya, sekarang ini seseorang terdiagnosa kanker sudah menjadi hal yang biasa terjadi”.  Artinya sekarang ini terdiagnosa kanker sudah sesering orang terdiagnosa flu.  Padahal penyakit kanker itu jenis penyakit yang luarbiasa.  Bukan penyakit yang tiba-tiba. Artinya ada pengaruh faktor genetika/keturunan, atau juga pola hidup dan pola makan.  Disebut luarbiasa juga karena efek penyakit yang dirasakan bagi pasiennya, efek pengobatannya yang bisa membunuh sel normal disekeliling sel kankernya, dan yang lebih terasa adalah efek keuangan yang ditimbulkan.

Bila istri terdiagnosa sakit berat, pilihannya cuma 1: terima dengan ikhlas dan dijalani setiap tahap pengobatannya.  Biaya pengobatan sakit berat sangatlah besar.  Contoh kanker:  1x kemoterapi minimal bisa 30 juta. Padahal butuh 6x kemoterapi.  Bila pembuluh darahnya kecil dan bermasalah, perlu pasang kemo port biayanya bisa 40 juta.  Belum obat yang diminum (ini bisa dicover asuransi kesehatan), vitamin dan suplemen (ini tidak dicover asuransi kesehatan), jangan lupa ada biaya2 lain diluar biaya pengobatan selama di RS (ini harus rogoh kantong pribadi).

Lihatlah bahwa saat resiko hidup terjadi pada istri yang di rumah saja, bukan hanya masalah fisiologis, psikologis saja yang terjadi.  Ibaratnya, yang sakit cuma istri, tapi seluruh anggota keluarga terkena dampaknya.

Dampak keuangan dari sakit berat bagaimana?

Sakit berat butuh biaya besar, butuh waktu dan tenaga juga yang tidak sedikit.  Tabungan terkuras, aset yang dimiliki terpaksa dijual, dan bahkan terpaksa harus membuang malu agar bisa meminjam uang sanak saudara.

Saat istri yang di rumah saja ini sehat walafiat, semua urusan rumah tangga bisa beres.  Saat istri yang di rumah saja ini ternyata terpaksa menghadap Sang Maha Pencipta, bagaimana?

Pekerjaan dan tanggungjawab rumah tangga yang dilakukan istri yang di rumah saja tidak sedikit.  Pada keluarga yang kondisi keuangannya terbatas, tidak ada dana untuk membayar gaji pegawai di rumahnya, maka istri-lah yang mengerjakan semua urusan rumah tangga.  Bayangkan jika suami harus membayar banyak pegawai di rumahnya untuk menggantikan perannya.  Berapa banyak dana yang dialokasikan?

Asuransi jiwa bagi istri yang di rumah saja

Bila terjadi resiko sakit berat yang membutuhkan biaya yang sangat besar, suami tinggal membantu siapkan dokumen yang diperlukan untuk melakukan klaim sakit kritis.  Dokumen diproses, cairlah DANA TUNAI jumlah besar.  Istri bisa tenang menjalani pengobatan tanpa kuatir harus kuras tabungan atau jual harta suami.  Proses pemulihan akan menjadi lebih mudah jika pasiennya tenang hati dan pikiran.

Bila terjadi resiko kematian, ada warisan yang bisa didepositokan dan sisanya dipakai untuk tambahan pengeluaran rutin rumah tangga.  Misalnya:  membayar gaji pengasuh anak, asisten rumah tangga, tukang kebun dll.  Sehingga suami bisa fokus pada pekerjaannya di kantor, dan pekerjaan di rumah beres saat suami pulang kantor.  Suami tetap punya “Quality Time” bersama anak-anak sampai mereka dewasa.

Ataupun:  dengan adanya warisan yang besar dari istri tercinta, suami bisa punya keputusan terbaik:  bekerja dari rumah saja atau bahkan meninggalkan pekerjaan di kantornya.  Semata-mata agar bisa fokus mengurus anak-anak dan mengawasi pegawai rumah tangga.  “Quality Time” yang dibutuhkan oleh anak-anak tetap bisa mereka dapatkan dari sosok ayahnya walau tanpa kehadiran ibunda bersama mereka.

Ingatlah bahwa:

parenting

 

 

Jadi, sebagai istri yang di rumah saja, apakah Anda akan:

  • Membuka polis asuransi jiwa sebagai pendamping asuransi kesehatan dari kantor suami?
  • Menyiapkan dana warisan untuk suami dan anak2 agar rencana indah masa depan tetap terwujud?

Atau hanya akan:

  • Memaksimalkan asuransi kesehatan dari kantor suami tapi menggunakan dana pribadi untuk biaya2 di luar RS?
  • Membiarkan kehidupan suami dan anak2 berjalan apa adanya “sepeninggal” istri?

Saya yakin, sebagai istri yang well educated, seorang istri bijak pasti akan merencanakan pengelolaan keuangan terbaik, tidak hanya jangka pendek, melainkan juga untuk jangka panjang.

 

Mari lakukan strategi cara cepat siapkan dana darurat sakit kritis untuk istri tercinta dan warisan untuk anak-anak tersayang…

Konsultasi gratis dan ilustrasi, hubungi:

Estri Heni

SMS/WA:  0817 028 4743

Atau isi data di form PERMOHONAN ILUSTRASI

 

 

 

Iklan

One thought on “Istri Punya Asuransi Jiwa atau Tidak, Ini Bedanya

  1. Ping-balik: Bagaimana Komposisi Asuransi Yang Ideal Untuk 1 Keluarga? | Asuransi Jiwa dan Kesehatan Allianz Syariah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s