CPC Recognisi, Crown Plaza Hotel Jakarta, 22 Mei 2017

Acara siang kemarin merupakan ajang penghargaan dari manajemen Allianz kepada para agen yang berhasil mencapai target CPC kuartal.  CPC adalah singkatan dari Consistent Producer Club, merupakan suatu strategi mudah bagi agen asuransi Allianz dalam upaya mencapai target besarnya.

Acara CPC Recognisi kemarin memberikan penghargaan bagi agen BP, yaitu Top 1st BP Winner CPC Bpk. Kris Purba, Top 2nd BP Winner CPC Bpk. Asep Sopyan (Leader saya yang sederhana, pendiam, tapi bisa sukses luarbiasa), Top 3rd BP Winner CPC Ibu Tia.

Kemudian ada testimonial dari CPC Winner yaitu Ibu Fajar Andi (mantan karyawan), Ibu Tia (ibu rumah tangga), Bpk Edison (MDiT *2).

Ibu Fajar Andi bercerita bahwa beliau anak pertama yang harus membiayai hidup orangtua, dirinya dan adik-adik.  Merelakan untuk putus kuliah agar adiknya bisa masuk SMP.  Join menjadi agen asuransi Allianz karena faktor kepepet dan butuh uang.  Tidak paham sistem bisnis, tidak pakai protes, tidak membantah saran Leader, hanya mengikuti arahan Leader agar sukses. Titik balik dirinya adalah ketika trip ke Australia, dia masih galau mau ngapain sepulang dari trip. Dapat sentilan dari seorang Leader untuk fokus menjalankan bisnis ini, membuatnya semakin berkomitmen akan mimpi-mimpi yang ingin diraihnya demi kehidupan keluarganya yang lebih baik.

Ibu Tia bercerita awal mula join agen asuransi Allianz karena pertanyaan Leadernya:  “kamu mau bisa jalan-jalan ke mal dan belanja-belanja tanpa pusing punya duit berapa?” Menekuni bisnis ini karena fokus pada mimpinya sendiri.  Titik balik dirinya adalah ketika seorang agen di timnya bertanya:  “ibu, kami ini mau dibawa kemana?” membuatnya jadi mengubah tujuan kerjanya.  Bukan lagi untuk dirinya sendiri bisa menjadi bintang, tapi bagaimana dia bisa membawa dan menjadikan agen2 di timnya juga menjadi bintang.

Pak Edison bercerita awal ketertarikannya join agen asuransi Allianz karena ingin kehidupan yang lebih baik.  Tersadar akan kekurangan dirinya yang tidak bisa berbahasa Inggris, tidak bisa bahasa asing lain, tidak sekolah tinggi, tapi ingin punya penghasilan besar.  Beliau bercermin pada diri atasannya di kantor yang:  lulusan S2, pandai banyak bahasa asing, punya skil, posisi direktur, wajar jika berpenghasilan 40 juta perbulan (ketika itu).  Sementara dirinya wajarlah jika berpenghasilan hanya 4 juta perbulan.  Tapi Pak Edison sangat ingin mengubah hidup.  Titik baliknya adalah ketika Beliau bertemu dengan Leader Allianz yang kira-kira kemampuannya sama seperti dirinya:  orang biasa, tidak sekolah tinggi, tidak pandai bahasa asing, tapi penghasilannya besar.  Beliau jadi semakin percaya bahwa beliau bisa mengubah hidup lebih baik jika menekuni bisnis ini.  Satu kelebihan yang dimiliki Pak Edison hanyalah:  saya bisa rajin!  Kalau disuruh rajin, saya mau.  Menekuni bisnis ini hanya bermodalkan kelebihan yang dimiliki, fokus pada kemampuannya, dan konsisten melakukannya, membawa beliau sampai pada posisi MDiT *2.

Ada lagi sharing yang sangat menarik dari Bapak Edwin Marshall.  Beliau memulai bisnis ini saat masih kuliah.  Awal join Desember 2009.  Mengerjakan bisnis hanya di bulan Januari 2010, klosing 2 case saja, yaitu premi 500rb dan 350rb perbulan.  Namanya masih kuliah, masih belum berani berkomitmen mau bisnis apa.  Semua hal dicoba dan dilakukannya:  menjadi guru privat, guru kumon, bisnis franchise es pisang ijo.  Perhatiannya adalah ketika bulan Juni 2010.  Bulan Juni-Juli adalah bulan libur bagi anak sekolah.  Otomatis tidak ada yang les bimbel, les kumon juga muridnya pada cuti, skripsinya selesai bulan Juni, menjalankan bisnis franchise jualan es pisang ijo juga ternyata tidak semudah bayangannya.  Sebagai franchisee, dirinya harus punya karyawan.  Masalah muncul jika tidak punya karyawan tapi butuh omset, maka harus jualan es pisang ijo.  Jadi beliau melakukan semua hal sendiri:  buka gerai, siapkan bahan, terima order, siapkan pesanan, cuci mangkok, kasir, sampai tutup gerai.  Malam hari capek, sementara pagi harinya harus urusan kampus.  Akhirnya diputuskan take over franchise.  Sehingga  beliau benar-benar zonk.  Tidak punya penghasilan.  Titik baliknya adalah ketika beliau pergi ke bank untuk printout buku rekening.  Dilihatnya, sejak Januari-Juli, selalu ada transferan masuk dari Allianz sebesar 150 ribu, rutin, setiap bulan!  Beliau berfikir: “Saya hanya kerja Januari dapet 2 case.  Februari-Juli saya tidak sentuh bisnis Allianz, tapi transferan tetap masuk.  Lalu, kenapa saya tidak fokus kesini saja?  Bila ditekuni, ini pasti bisa menghasilkan income yang besar”.  Akhirnya dengan minta bimbingan Leader, fokus Juli-Desember, klosing 100 juta ALP.  Semakin yakin akan bisnisnya, semakin bersemangat untuk bisa mencapai reward-reward yang disiapkan Allianz bagi agen yang berprestasi.   Fokus untuk berkomitmen, persisten dan konsisten membawanya sampai pada level kesuksesan seperti sekarang:  kebebasan waktu dan finansial.

Selain testimoni juga ada sharing berbagai kegiatan yang dilakukan Allianz seperti sponsor berbagai acara olahraga, mengadakan perlombaan olahraga, pengumpulan 150.000 kilometer lari yang akan diberikan dalam bentuk donasi senilai Rp. 500 juta untuk komunitas Difabel binaan Allianz di Indonesia agar bisa memajukan bisnis yang ditekuninya.

Sharing yang sangat bermanfaat dan menginspirasi…

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s