Tidak Punya Tanggungan Hidup, Perlukah Berasuransi?

 

Tidak punya tanggungan hidup, berarti tidak ada orang yang harus ditanggung hidupnya oleh seseorang.  Orang yang ditanggung hidupnya itu bisa pasangannya atau anaknya atau orangtua nya ataupun kerabat lainnya.

Seseorang yang akan saya ceritakan kali ini adalah orang yang dekat di kehidupan saya.  Beliau adalah adik kandung dari ibu saya.   Sejak lulus sekolah, beliau diajak oleh Ayah untuk hidup bersama keluarga sembari menjajal peruntungan di ibukota.  Mungkin memang takdirnya bukan bekerja sebagai karyawan. Dengan keahliannya, beliau lebih nyaman berprofesi sebagai Driver freelance.  Siapapun yang butuh keahliannya, beliau siap membantu tanpa menentukan tarif.

Beliau tidak punya tanggungan hidup. Beliau tinggal bersama kami.  Makan, tidur, semua aktivitas hidup bersama kami. Sampai ibu saya menjanda pun, beliau masih bersama.  Ibu saya ikhlas menanggung beliau. Penghasilan beliau, biarlah menjadi tabungannya pribadi.

Saya pernah menawarkan asuransi sebagai proteksi untuk beliau.  Mengingat beliau tidak punya tanggungan hidup, penghasilan freelance nya amat riskan jika dijadikan “dana darurat” jika hal buruk terjadi, sementara ibu saya yang menanggung hidup beliau, juga hanyalah seorang janda yang tidak berpenghasilan.  Namun beliau menolak.  Alasannya klise: “saya masih sehat, tidak ada riwayat sakit berat dalam keluarga besar kita, dana saya terbatas, dan lagi toh saya tidak punya tanggungan yang harus diberi warisan”.  Saya rasa ditambah juga dengan minimnya pengetahuan beliau tentang bagaimana mengelola keuangan yang benar.  Beliau masih konvensional. Penghasilannya hanya ditabung di bank atau malah dibiarkan disimpan tunai di lemari pakaiannya.

Padahal jika beliau punya asuransi, maka ada beberapa hal yang bisa bermanfaat bagi beliau.  Apa saja?

  1. Akan mandiri secara finansial
  2. Tidak perlu merepotkan orang lain
  3. Fokus pada pelayanan pengobatan terbaik, biaya pengobatan biar asuransi yang urus
  4. Hasil kerja tidak sia-sia
  5. Tidak terjebak dalam riba
  6. Tidak meninggalkan hutang saat meninggal

 

Takdir memang tidak bisa ditolak, ataupun ditunda.  Punya asuransi bukan berarti menolak takdir.  Punya asuransi atau tidak, musibah tetap akan terjadi.  Bedanya, punya asuransi akan lebih membantu masalah keuangan yang timbul akibat musibah itu.

Jika Anda tidak percaya, tidak perlu meminta bukti. Cukuplah berpikir bijak dengan belajar dari pengalaman orang lain. Berikut pengalaman perjalanan hidup Paman saya, yang akan saya bagi.

Qadarullah, Pertengahan Juli 2017 kemarin, beliau terdiagnosis sirosis hepatis.  Padahal bertahun-tahun sebelumnya, beliau memang masih sehat, tidak tampak ada gangguan kesehatan, tidak ada keluhan kesehatan yang berat.

 

 

  1. Akan Mandiri secara finansial

Seseorang yang tidak punya tanggungan hidup, akan lebih fleksibel mengelola penghasilannya.  Pertama, tidak perlu pusing memberi nafkah rutin kepada orang yang menjadi tanggungannya, memikirkan biaya hidupnya seperti: biaya sekolah, biaya tagihan listrik/telepon, biaya kontrak rumah/kamar/kos, biaya cicilan barang, dll. Bebas saja, mau tinggal di kontrakan senyaman apapun atau sesederhana apapun, tidak akan ada yang protes.  Apalagi jika tinggal bersama kakak yang menyayanginya, malah bisa menghemat toh?

Kedua, mudah untuk menabung dan menginvestasikan sebagian besar dananya sebagai cara untuk mencapai tujuan hidup sejahtera pada masa tua kelak.  Ketiga, mudah untuk sisihkan sedikit penghasilannya untuk berasuransi.   Ini juga bebas saja, mau berapapun porsi dananya, tidak akan ada yang protes.

Ya, seseorang yang tidak punya tanggungan hidup memang bisa bebas mengelola penghasilannya.  Mau sekedar “dikeluarkan” atau mau diinvestasikan.  Namun jangan lupa juga untuk disisihkan sedikit saja dari penghasilannya sebagai upaya siapkan “dana darurat” jika resiko buruk terjadi dalam hidupnya.  Ini penting.  Memang, tidak ada tanggungan “langsung” yang akan direpotkan dalam hal tanggung jawab biaya hidup dalam urusan dunianya.  Tapi, rasa empati dan kekeluargaan dari kerabat tentu akan tetap membantunya.  Masalahnya:  seberapa besar para teman dan keluarga tercintanya akan bisa membantu keuangannya, jika yang terjadi adalah resiko buruk dan berat?

Fakta bahwa ada 5 golongan yang bisa membantu keuangan seseorang sewaktu kena musibah kecelakaan atau sakit kritis:

  • Sahabat dekat = bisa bantu 1 juta
  • Saudara dekat = bisa bantu 10 juta
  • Kakak Adik = bisa bantu 50 juta
  • Orangtua = bisa bantu 100 juta
  • 🙄🤔 ????? = bisa bantu 500 juta, 1 Miliar, 3 Miliar, 5 Miliar…. (disinilah asuransi berperan, yaitu disaat orang lain tidak ada yang mau dan mampu membantu keuangan seseorang)

 

2.  Tidak perlu merepotkan orang lain

Tidak punya tanggungan hidup berarti tidak ada orangtua atau pasangan atau anak yang menemani dan merawat saat beliau sakit. Maka kamilah para keponakannya yang bergantian menemani beliau selama dirawat di Rumah Sakit. Insya Allah kami ikhlas mengurangi waktu kami bersama anak-anak dan pasangan demi bisa menjaga beliau.  Namun saya tahu, dari sorot matanya, beliau juga ada rasa tidak tega melihat “pengorbanan kecil” kami.  Terbaca bahwa dalam hatinya, beliau juga tidak ingin merepotkan kami.  Tapi biarlah, kami tidak merasa direpotkan.  Hanya ini yang bisa kami lakukan. Membantu, mendampingi, memberikan semangat beliau terutama saat sakit, saat dirinya kepayahan dengan kondisi kesehatannya.

Saya tau dana beliau terbatas.  Jika beliau punya asuransi, maka beliau tidak perlu merepotkan orang lain untuk meminjamkan sejumlah uang untuk biaya pengobatan dirinya.

 

3.  Fokus pada pelayanan pengobatan terbaik, biaya pengobatan biar asuransi yang urus

Selama sakit, beliau sangat memahami kondisinya sendiri. Meminta saya untuk memindahkan beliau ke kamar perawatan kelas 3, menolak diberikan tindakan yang membuatnya merasa tidak nyaman. Aahhh… Permintaan beliau itu malah membuat saya sedih. Beliau mungkin memang tidak mau merepotkan saya, tidak mau membuat saya merasa terbebani biaya Rumah Sakit, tapi itu malah menyesakkan saya untuk berupaya maksimal bagi kesehatan beliau.

Dana beliau terbatas. Membuat beliau yang sedang sakit terpaksa masih harus selalu menyempatkan diri berpikir untuk menghemat biaya dan sangat membatasi dirinya sendiri untuk mendapatkan pengobatan dan fasilitas pelayanan kesehatan terbaik dan nyaman.

Jika beliau punya asuransi, beliau bisa fokus pada upaya pengobatan maksimal menggunakan fasilitas pelayanan terbaik.  Suasana nyaman tentu membuat pasien bisa tenang sehingga proses pengobatan bisa maksimal.

 

4.   Hasil Kerja Tidak Sia-sia

Jika beliau punya asuransi, maka hasil kerja beliau tidak akan sia-sia.  Sebagian kecil penghasilannya disisihkan untuk asuransi sebagai proteksi saat resiko terjadi.  Sebagian besar penghasilannya bisa diinvestasikan.

Sehingga di kala sehat, beliau tetap akan bisa membantu kerabat beliau lainnya yang sedang membutuhkan bantuan dana (bagian ini sering menjadi upaya terakhir kerabatnya saat butuh dana, yaitu menghubungi beliau, pinjam uang, dikembalikan tanpa bunga 😊, dan beliau akan senang hati meminjamkannya jika memang tujuannya baik dan kebutuhannya mendesak).

Dan saat beliau sakit, beliau tidak harus menggunakan uang hasil kerjanya itu untuk biaya pengobatan sirosis hepatis yang diderita.  Cukup gunakan fasilitas cashless dari asuransi kesehatan saat rawat inap di RS.  Dan uang tunai proteksi sakit kritis yang bisa bermanfaat untuk menggantikan pengeluaran keuangan di luar RS.

Sayangnya, beliau tidak punya BPJS, apalagi asuransi pribadi.  Sehingga setelah tau kondisi kesehatan beliau butuh penanganan lama, barulah mau bikin BPJS.  Namun sebelum BPJS jadi, takdir berkata lain…

 

5.   Tidak Terjebak Dalam Riba

Saat butuh dana besar untuk perawatan rumah sakit, namun tidak ada saudara atau kerabat yang mampu meminjamkan uang, maka beliau tidak perlu pinjam uang melalui lembaga keuangan yang ada ribanya.  Dengan memiliki asuransi, hal ini bisa dihindari.

Dalam kasus beliau, saya bersyukur beliau belum sampai harus terjebak riba.  Karena beliau sudah keburu berpulang pada pertengahan Agustus 2017. Innalillahi wa innailaihi rojiuun…

 

6.  Tidak Menyisakan Hutang Saat Meninggal

Dalam kasus beliau, saya bersyukur beliau belum sampai harus berhutang.  Insya Allah kami, para keponakan dan juga ibu saya, masih bisa bekerjasama membantu.  Sampai akhirnya beliau sudah keburu berpulang pada pertengahan Agustus 2017. Innalillahi wa innailaihi rojiuun…

Akan berbeda kondisinya jika beliau masih diberi umur oleh Allah, dengan kondisi kesehatan seperti itu, bisa jadi akan ada kemungkinan timbulnya hutang demi bisa mendapatkan pengobatan terbaik.

Sebagai informasi, sirosis hepatis adalah gangguan kesehatan dimana organ hati menjadi keras dan bisa mengecil atau membesar.  Kondisi ini tidak bisa diperbaiki, hanya bisa diatasi dengan transplantasi hati.  Sehingga dengan mengacu pada pedoman pengobatan kasus Sirosis Hepatis Internasional, dokter hanya  akan memberikan suplemen saja untuk membuat pasien merasa nyaman.  Saat nyaman, pasien bisa pulang.  Saat kondisi drop, pasien harus rawat inap.  Begitu seterusnya sampai pasien bosan dengan pola pengobatan yang “begitu-begitu saja” dan sudah tidak mampu bertahan lagi.

Walaupun tidak punya tanggungan, tapi jika sampai berhutang dan menyisakan hutang saat meninggal, bagaimana pertanggungjawabannya?  Poin 2 di atas akan terjadi.  Yaitu akan merepotkan kerabat lainnya.  Repotnya bagaimana? Karena jadi harus ada kerabatnya yang membayarkan hutangnya.

Jika seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan utang, dan kerabatnya tidak mampu melunasi, maka sampai di akhirat pun utang tersebut tetap wajib dibayar. Dibayar dengan apa? Dengan amal baik, itu pun jika ada.

Mungkin saat ini Anda tidak punya utang dan bertekad tidak akan berutang kepada siapa pun.  Tapi jika mengalami sakit berat, mungkin saja tekad itu harus dibatalkan.

 

 

Artikel ini bukan sekedar teori rencana keuangan ataupun teori marketingnya agen asuransi.  Kali ini Anda mendapatkan lagi 1 pengalaman nyata, yaitu pengalaman hidup dari orang lain.  Masih penasaran dan tidak percaya karena belum mengalaminya?  Saya yakin Anda cukup bijak untuk memilih: tidak perlu mengalami untuk tau bagaimana rasanya.

Silahkan hubungi saya, agen Asuransi Allianz Syariah berlisensi, untuk diskusi mengenai bagaimana merencanakan keuangan terbaik sebagai proteksi terhadap penghasilan Anda.

Mari sisihkan sedikit penghasilan Anda untuk berasuransi.  Pilih yang Syariah, karena Syariah menentramkan.

 

Estri Heni  || WA: 0817 028 4743

 

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “Tidak Punya Tanggungan Hidup, Perlukah Berasuransi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s