Tentang Estri Heni

Bussiness Executive Asuransi Allianz Syariah | WA/SMS: 0817 028 4743 | Email: ProteksiKita@gmail.com | Blog bisnis: www.ProteksiKita.com | Blog pribadi: www.EstriHeni.wordpress.com | Tinggal di Jakarta Timur

Punya Polis Asuransi VS Tidak

Orang memiliki polis asuransi bukan berarti tidak percaya kepada Tuhan, tetapi karena rasa tanggung jawab atas kehidupan orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepada dirinya.
Yang diasurasikan adalah tujuan & tanggung jawab financial dari seseorang, bukan diri atau nyawanya.
Tujuan Life Insurance  menjaga kehidupan manusia tetap berkualitas.
Berikut kisah nyata Keluarga A & Keluarga B  yang dibuat dalam bentuk komik agar mudah dipahami.

57BCEEFF-FB09-44B5-9669-0947D877EB53

 

5BBD8C37-9B21-4FE6-B6B8-95553611C4B9

 

Berikut adalah contoh ilustrasi proteksi Allianz Syariah seperti yang dimiliki oleh keluarga B:

860BE273-7466-43C6-8933-04DB53BE0301

Bapak Pencari Nafkah usia 28 tahun, tidak merokok, bekerja dalam ruangan, menyisihkan sebagian penghasilannya sejumlah 1.5 juta perbulan untuk membayar premi asuransi.

Manfaat proteksi yang didapat:

  • Warisan jika meninggal sebelum usia 85 tahun              = 1 M
  • Proteksi jika terdiagnosis 1 dari 49 sakit kritis                = 500 juta
  • Rawat inap plan 1000 (setara kamar kelas 1 di RS tertentu)
  • Stop bayar premi jika sakit kritis
  • Premi selanjutnya akan dibayarkan oleh Allianz sampai seolah2 usia 65 tahun.

Daftar 49 jenis sakit kritis yang dicover oleh Allianz, klik DISINI

Manfaat rawat inap plan 1000, seperti tabel berikut ini:

59EE7F64-8170-4CD1-91AC-344BDA992FE0

 

Jika resiko hidup Bapak Pencari Nafkah terjadi seperti pada keluarga B, dimana si Bapak masuk RS karena serangan jantung, maka:

  1.  Bapak masuk RS menggunakan manfaat rawat inap yang sistem klaimnya adalah cashless (gesek dengan kartu).  Jadi Bapak atau keluarganya menunjukkan kartu kesehatan Allianz Syariah kepada RS.  Biaya pengobatan dan perawatan selama di RS ditanggung oleh Allianz sesuai plan yang dipilih Bapak, yaitu plan 1000 (baca tabel manfaat rawat inap di atas).
  2. Serangan jantung merupakan salah 1 kategori sakit kritis dari 49 sakit kritis yang ditanggung oleh Allianz.  Maka Bapak Pencari Nafkah bisa melakukan pengajuan klaim sakit kritis, yang Uang Pertanggungannya sejumlah Rp. 500.000.000.  Dimana uang sejumlah besar ini, dapat digunakan untuk pengobatan lebih lanjut yang biayanya tidak ditanggung asuransi kesehatan (Cth: suplemen, vitamin, pengobatan herbal, sinshe, dll) ataupun biaya yang dikeluarkan oleh keluarga yang mendampingi (cth: transportasi, makan, dll).  Selain itu, uang tersebut juga bisa ditabung sebagian untuk menggantikan penghasilan si Bapak yang hilang akibat menurunnya kualitas dan kemandirian hidup.  Cth: untuk biaya hidup, bayar tagihan listrik, air, bayar sekolah anak, dsb)
  3. Bapak Pencari Nafkah juga bisa mengajukan klaim manfaat bebas premi.  Sehingga tidak perlu bayar premi lagi, dan selanjutnya Allianz Syariah yang akan membayarkan preminya.

Dengan banyaknya manfaat polis asuransi Allianz Syariah yang dimiliki, Bapak dan keluarga bisa fokus pada pengobatan dan perawatan penyakitnya untuk mencapai kesembuhan dan kualitas hidup yang lebih baik daripada ketika mengalami sakit.

Keluarga juga tidak perlu harus pinjam uang kepada saudara atau teman untuk memenuhi biaya pengobatan selama di RS.  Tidak perlu berhutang, apalagi pada lembaga yang menawarkan “Dana Tunai” 1 jam cair, yang pastinya pengembalian dananya akan ada bunga.

Ingat, saat sehat saja tidak mudah untuk pinjam uang, apalagi saat sakit.  Bila si sakit tidak kunjung sembuh, bagaimana cara keluarga mengembalikan uang yang dipinjam?.. Mungkin demikian yang ada di pikiran orang sehingga semakin berat untuk memberikan pinjaman uang…

Oleh karena itu, akan lebih bijaksana jika Anda:

Siapkan kesejahteraan finansial Anda sendiri.

Jangan mengandalkan orangtua sebagai “dana darurat” Anda.  Jangan pula mengandalkan anak sebagai “dana pensiun” Anda.

 

Segera hubungi agen asuransi Syariah berlisensi.

Estri Heni.   | WA: 0817-028-4743

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Apakah Klaim Asuransi Kematian Harus Dibagi Menurut Hukum Waris?

5DEDA5FA-961A-49F4-9EE5-6D6F3BF88E7B
Pertanyaan :
Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Baru-baru ini kami sekeluarga sedang melaksanakan pembagian waris atas harta peninggalan orang tua. Salah satu yang membuat kami bingung adalah tentang uang klaim asuransi kematian. Rupanya almarhum saat masih hidup diasuransikan oleh tempat bekerjanya. Dan saat kematian menjemputnya, kami mendapat uang yang lumayan.

Memang di dalam suratnya disebutkan bahwa yang mendapat uang klaim asuransi itu adalah anak dan istri, sedangkan almarhum hanya punya  anak perempuan saja. Sedangkan anak laki-laki tidak ada. Kalau secara hukum waris Islam, seharusnya saudara dan saudari almarhum menerima harta warisan karena mereka adalah ahli waris juga dan menerima secara ashabah.

Yang menjadi pertanyaan kami adalah  apakah uang klaim asuransi kematian itu harus kami bagikan juga kepada saudara dan saudari almarhum itu? Sedangkan di dalam surat asuransinya, hanya disebutkan nama istri dan anak saja.

Mohon penjelasan dari ustadz. Terima kasih

Wassalam

Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pembagian harta waris bukan semata-mata membagi-bagi harta milik almarhum begitu saja begitu almarhum wafat. Harta itu perlu dipastikan statusnya terlebih dahulu. Tidak semua harta yang sekilas kelihatan milik almarhum, bisa dipastikan milik almarhum dan langsung dibagi. Boleh jadi harta itu bukan milik almarhum, tetapi milik orang lain.

Salah satu syarat dari harta yang dibagi waris adalah masalah status kepemilikan, bahwa harta itu adalah harta milik almarhum dengan status al-milkut-taam atau kepemilikan yang sempurna sejak almarhum masih hidup. Sedangkan harta yang bukan milik almarhum, tentu tidak perlu dibagi waris.

Lalu bagaimana dengan uang klaim asuransi? Bukankah asal muasal harta itu tetap milik almarhum? Dan bukankah ketika almarhum mendaftarkan diri ikut dalam program asuransi kematian (life insurance), niatnya agar bisa diterima nantinya oleh para ahli warisnya? Bukankah almarhum membayar premi atau setidaknya dibayarkan preminya oleh institusi tempatnya bekerja?

Masalah ini perlu dicermati secara rinci dan detail serta hati-hati. Memang benar harta itu seolah-olah milik almarhum, setidaknya niat di hati almarhum ingin agar nantinya kalau wafat, ada uang asuransi yang bisa dinikmati oleh ahli waris.

Tetapi ada beberapa hal yang perlu diketahui terlebih dahulu, jangan kita main pukul rata. Beberapa hal itu antara lain adalah :

1. Uang Premi Bukan Lagi Milik Almarhum

Ketika almarhum membayar uang premi ataupun dibayarkan oleh tempatnya bekerja, maka status uang itu sudah bukan lagi milik almarhum secara sempurna. Buktinya almarhum tidak bisa mencairkan premi itu kapanpun dia mau. Uang premi yang telah disetorkan statusnya sudah bukan lagi milik almarhum. Artinya uang itu tidak ada dan kalau tidak ada maka tidak bisa dibagi waris.

Ini berbeda dengan apabila almarhum menabung, baik di rumah ataupun menabung di bank. Uang tabungan itu tidak dibayarkan kepada pihak lain. Uang tabungan itu cuma dititipkan saja. Pemiliknya tetap almarhum dan dia sama sekali tidak kehilangan hak kepemilikan sedetik pun.

Buktinya kapan saja almarhum mau ambil uang itu, bisa digunakan seenaknya. Apalagi misalnya almarhum punya kartu ATM/Debit atau sms banking, maka kapan dan dimana saja uang tabungan itu bisa dibayarkan.

Berbeda dengan uang premi yang sudah dibayarkan, maka almarhum tidak bisa menggunakannya untuk apapun. Soalnya almarhum bukan pemilik uang itu.

2. Uang Klaim Asuransi Baru Cair Setelah Pemiliknya Wafat

Uang klaim asuransi dari perusahaan asuransi sebenarnya tidak akan dimiliki oleh almarhum. Sewaktu almarhum hidup, dia tidak pernah jadi pemiliknya, sebagaimana setelah wafatnya dia pun juga bukan pemiliknya.

Sebab uang itu tidak pernah bisa dicairkan kecuali setelah almarhum pindah ke alam baka alias meninggal. Dan orang meninggal tidak punya hak untuk memiliki harta. Dan orang yang memiliki harta tidak bisa mewariskan harta kepada orang lain.

3. Uang Premi Bukan Uang Klaim Asuransi

Satu hal lagi yang juga penting untuk dicatat bahwa uang premi yang tiap bulan disetorkan itu tidak ternyata pernah sama jumlahnya dengan uang klaim asuransi oleh peserta.

Dalam sistem asuransi, perusahaan asuransi dan pesertanya selalu berpikir berlawanan. Perusahaan selalu berpikir bagaimana mereka terus menerima uang premi secara rutin dari peserta dan sebisa mungkin bagaimana diusahakan agar tidak perlu membayar klaim asuransi. Atau setidaknya tidak terlalu banyak jumlahnya.

Sebaliknya, dalam benak peserta asuransi yang dipikirkan adalah bagaimana dengan premi yang sedikit bisa mendapatkan klaim yang berkali-kali lipat lebih besar. Setidaknya kesan itulah yang selalu ditanamkan oleh para sales asuransi ketika merayu-rayu pada calon peserta.

Dan dalam kenyataannya, selalu ada selisih nilai harta antara uang premi yang disetorkan dengan uang klaim asuransi yang diterima. Dan semua ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa uang premi bukan uang klaim asuransi. Artinya, uang klaim asuransi itu memang bukan uang milik peserta.

Kesimpulan

Dengan beberapa argumen di atas, maka sudah jelas bahwa uang klaim yang dibayarkan perusahaan asuransi kepada keluarga almarhum sama sekali bukan uang milik almarhum ketika masih hidup. Maka statusnya bukan harta warisan. Dan oleh karena itu tidak perlu dibagi waris.

Lalu siapa yang berhak atas uang klaim asuransi itu?

Tentu saja yang berhak adalah anggota keluarga yang namanya memang dicantumkan di dalam surat-surat legalnya. Misalnya di surat itu dituliskan bahwa bila almarhum wafat, maka yang berhak untuk menerima uang klaim itu adalah istri dan anak-anaknya. Berarti hanya mereka saja yang berhak, yang lain tidak berhak.

Adapun saudara dan saudari almarhum, meski pun termasuk ke dalam daftar ahli waris dan tidak terhijab, namun mereka tidak perlu diberikan uang klaim asuransi itu. Sebabnya karena harta itu memang bukan harta almarhum. Asalnya memang harta almarhum, tetapi begitu dibayarkan sebagai premi, maka statusnya sudah berubah menjadi milik perusahaan asuransi.

Semoga penjelasan ini bisa dipahami secara mudah dan sederhana.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

 

 

 

 

 

sumber

September 2018: Allianz Bayar Klaim Meninggal Dunia dan Sakit Kritis

Disclaimer:

Berikut ini adalah sebagian kecil bukti pembayaran klaim oleh Allianz, yang berhasil saya himpun karena keterbatasan saya.  Di luar ini, mungkin masih banyak lagi bukti klaim yang disetujui Allianz.

 

Pembayaran Klaim 100 Kondisi Sakit Kritis sebesar Rp. 1 Miliar (polis 1)

Persetujuan Klaim 100 Kondisi Sakit Kritis sebesar Rp. 1 Miliar (polis 2)

Bukti Transfer Pembayaran Klaim 100 Kondisi Sakit Kritis (polis 1 & 2 tersebut)

_____________________________________________________________________________

 

Persetujuan Klaim 100 Kondisi Sakit Kritis sebesar Rp. 1 Miliar (Penggantian Katup Jantung)

_____________________________________________________________________________

 

Persetujuan Klaim Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan sebesar Rp. 1 Miliar.

Nasabah berusia 25 tahun.  Premi = 900 ribu perbulan.  Manfaat proteksi: UP jiwa dasar = 1 Miliar,  UP 100 Kondisi Sakit Kritis = 1 Miliar.

Baru menikah 1 tahun. Meninggalkan istri yang sedang hamil tua.  Satu hal yang tetap dikenang yaitu: tanggung jawab beliau sebagai seorang suami tetap ada meskipun beliau tidak lagi bisa menemani istri membesarkan anaknya.

_____________________________________________________________________________

 

Penyerahan Klaim Meninggal Dunia Rp. 300 Juta

Penyerahan klaim meninggal dunia oleh Ibu Ratih Triani (Leader Surabaya) di Kantor Allianz Surabaya Graha Pasifik, Jumat 21 September 2018.

Usia Nasabah 47 tahun.  Polis baru berjalan 11 bulan.  Wafat karena serangan jantung.  Proses Klaim sekitar 30 hari.

_____________________________________________________________________________

 

Sudah cukupkah tabungan Anda untuk digunakan, jika resiko hidup seperti itu terjadi?

Relakah Anda, jika hasil kerja keras Anda banting tulang, pergi gelap pulang gelap, ternyata harus dipakai untuk biaya pengobatan saat sakit kritis?

Apakah Anda tertarik dan berminat, jika:

  •  Ada solusi yang lebih mudah, menentramkan, dan pastinya HALAL  untuk membantu Anda menyiapkan rencana proteksi keuangan yang lebih baik ?
  •  Ada “ATM ke-2” yang dapat Anda gunakan dananya jika resiko hidup itu terjadi (tanpa harus menghabiskan penghasilan Anda) ?
  •  Hanya dengan menyisihkan sedikit dari penghasilan Anda, maka keuangan Anda akan terlindungi jika resiko hidup itu terjadi ?

 

Silahkan hubungi saya:

Estri Heni        |       WA:  0817-028-4743

Konsultasi GRATIS rencana proteksi keuangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Juli 2018: Allianz Bayar Klaim Kecelakaan, Meninggal Dunia, dan Sakit Kritis

 

Pembayaran Klaim Kecelakaan dan Meninggal Dunia, Total 500 juta

 

 

Pembayaran Klaim Meninggal Dunia 300 juta

 

 

Pembayaran Klaim Sakit Kritis 500 Juta

 

Disclaimer:

Data ini hanya sebagian kecil bukti klaim yang bisa saya peroleh informasinya karena keterbatasan saya.  Di luar ini mungkin ada lebih banyak bukti klaim lainnya yang disetujui Allianz.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Allianz Smart Point, Kini Ada Aplikasi Tersendiri

 

Aplikasi Smart Point

Kabar gembira untuk para nasabah Allianz. Fitur Allianz Smart Point yang tadinya nebeng di aplikasi Alacards, kini memakai aplikasi sendiri dengan nama Allianz Smart Point. Bisa diunduh di ponsel iOS atau Android mulai 27 Juni 2018 (maaf infonya sudah lewat). Semua point yang sudah ada akan dipindahkan ke aplikasi baru. Aplikasi Alacards masih bisa digunakan sampai 25 Juli 2018.

Dengan aplikasi sendiri, ada beberapa keuntungan:

  1. Proses registrasi dan aktivasi lebih mudah dan singkat
  2. Proses redeem point lebih cepat
  3. Tambahan fitur baru untuk informasi sisa stok voucher, promo member get member, dan promo lainnya.

Seperti telah diinfokan sebelumnya, Allianz Smart Point adalah layanan untuk memberikan hadiah kepada para nasabah setia Allianz dengan memberikan point, yang dapat ditukar dengan aneka hadiah.

Layanan ini berlaku untuk nasabah produk Tapro Allisya Protection Plus dan Tapro Smartlink Flexi Account Plus, dengan minimum premi 625 ribu per bulan atau 7,5 juta setahun (boleh gabungan lebih dari satu polis).

Bagi yang belum registrasi Allianz Smart Point, berikut ini langkah-langkahnya. Registrasi dapat menggunakan akun Facebook, jika ada (ini cara paling gampang).

Langkah-langkah Registrasi Aplikasi Allianz Smart Point

 

Manfaatkan juga layanan-layanan digital lainnya dari Allianz, yaitu:

  1. E-Statement (Laporan transaksi ke email pemegang polis)
  2. Allianz Eazy Connect (portal untuk memantau polis secara online)
  3. Allianz Eazy Payment (cara bayar premi melalui web allianz.co.id)
  4. Allianz Eazy Claim (klaim kesehatan lewat aplikasi HP)
  5. Allianz Eazy Med (cara pesan obat lewat aplikasi Halodoc)

 

 

Hubungi:  Estri Heni  |  WA: 08170284743  |   Agen Asuransi Allianz Syariah  |  Tinggal di Jakarta Timur  |  Jadi Agen sejak 2013