Arsip

Allianz Bayar Klaim Sakit Kritis Multiple Sclerosis

 

CI Multiple sclerosis

 

Allianz membayar klaim sakit kritis “Multiple Sclerosis” nasabah dari mbak Ninuk Allianz Syariah pada 21 Oktober 2017 lalu.

Manfaat yang diterima nasabah:

  1.  Pembayaran klaim sakit kritis sebesar Rp. 507.890.808
  2. Nasabah tidak perlu bayar premi lagi, dan premi  sebesar Rp. 50 juta pertahun dilanjutkan pembayarannya oleh Allianz sampai tahun 2034 (selama 16 tahun ke depan)

Selain itu, masih ada garansi: warisan yang bisa bermanfaat bagi ahli waris sebesar Rp. 500 juta plus saldo tabungan.

 

Allianz memberikan bukti bukan janji.


 

Musibah datang tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, musibah datang tanpa diketahui kapan, dimana, bagaimana kondisinya.

Yang kita bisa tau:  jika terjadi musibah sakit kritis, maka tidak bisa produktif lagi ==> artinya:  tidak ada penghasilan.

Padahal saat mengalami sakit kritis:

  • pengobatan dan perawatan sakit kritis BUTUH WAKTU LAMA
  • biaya pengobatan di luar Rumah Sakit yang tidak dicover asuransi kesehatan AKAN TETAP ADA (vitamin, suplemen, biaya transportasi ke RS untuk kontrol rutin, biaya makan orang yang menunggu, biaya perawat, dll),
  • biaya hidup yang harus dikeluarkan AKAN TETAP ADA (tagihan, cicilan, biaya sekolah, dll),
  • keluarga yang dicintai pun HARUS TETAP HIDUP LAYAK (anak harus sekolah, anak harus bahagia, pasangan bisa mengurus anak dan rumah, dll)

Pertanyaan:

Sudah siapkah tabungan Anda untuk menjadi solusi jika musibah terjadi?

Jika sudah siap tabungannya, adakah nominal 500 juta SIAP TERSEDIA dalam 3 bulan ke depan?

Jika belum siap, apakah Anda RELA jika harta yang Anda kumpulkan sedikit demi sedikit, selama berbulan-bulan bekerja dari pagi hingga malam hari, akhirnya dijual dan DIPAKAI untuk bayar DOKTER DAN RUMAH SAKIT ??

 

Mari berpikir cerdas, mari bijaksana mengelola penghasilan.

Tanya saya bagaimana strategi siapkan UANG BESAR dengan cara sisihkan uang kecil!

Hubungi saya:

ESTRI HENI  |  WA: 0817 028 4743

 

 

 

 

sumber

Iklan

Allianz Bayar Klaim Sakit Kritis 400 juta

 

Bukti pembayaran klaim sakit kritis dan payor benefit oleh Allianz kepada nasabah di Pematang Siantar, 31 Oktober 2017:

 

Klaim, Melindungi Kepentingan Seluruh Nasabah dan Menjamin Keadilan

 

Di Hari Asuransi tanggal 18 Oktober 2017, Allianz memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai klaim, berupa artikel yang dimuat di advertorial Harian Kompas. 

Klaim, Melindungi Kepentingan Seluruh Nasabah dan Menjamin Keadilan.

Asuransi ada untuk mempersiapkan kebutuhan finansial nasabah dalam menghadapi berbagai risiko, seperti sakit sehingga membutuhkan pengobatan, cacat tetap, kecelakaan, meninggal dunia, terkena penyakit kritis, atau menjalani masa tua tanpa tersedianya dana yang cukup.

Selengkapnya bisa dibaca di gambar di bawah ini.

Di bagian akhir artikel disebutkan mengenai aplikasi eAZy Claim untuk klaim penggantikan biaya perawatan kesehatan secara reimbursement. Ada jaminan pembayaran maksimal 7 hari kerja, atau kompensasi berupa voucher belanja 100 ribu (syarat dan ketentuan berlaku). Selengkapnya mengenai aplikasi ini, silakan dibaca di SINI.

Untuk konsultasi mengenai asuransi, silakan menghubungi saya:

ESTRI HENI

WA:  0817 028 4743

Prosedur Klaim Asuransi Kesehatan Allianz secara Reimbursement

 

Klaim asuransi kesehatan bisa dilakukan secara cashless maupun reimbursement. Klaim secara cashless berlaku untuk produk tertentu dan dilakukan di RS jaringan Allianz. Prosedurnya cukup dengan menunjukkan kartu peserta ke admininstrasi RS, lalu admin RS akan melakukan konfirmasi ke Allianz, dan jika penjaminan disetujui, nasabah dapat dirawat inap tanpa harus setor uang jaminan.

Berikut ini adalah prosedur klaim asuransi kesehatan individu Allianz jika diajukan secara reimbursement.

Klaim reimbursement adalah nasabah membayar biaya RS dulu, setelah itu mengajukan klaim ke Allianz dengan mengisi formulir dilengkapi lampiran-lampiran yang diperlukan.

 

Ada 6 langkah dalam prosedur klaim asuransi kesehatan individu Allianz.

  1. Bawa dan isi lengkap Formulir Klaim Allianz saat berobat. Formulir bisa diperoleh di web allianz.co.id.
  2. Minta surat rujukan, hasil pemeriksaan penunjang diagnostik, diagnosa dokter, resume medis ditandatangani dokter dan cap RS, dan salinan resep.
  3. Minta juga bukti pembayaran perincian biaya obat, tindakan, dan lainnya dengan kuitansi asli.
  4. Kirim semua dokumen klaim ke kantor pusat Allianz di Jakarta di bagian Mailing Room, boleh lewat kurir atau aplikasi Allianz Eazy Claim dari ponsel anda.
  5. Bagian analis klaim Allianz akan menganalisis dan memutuskan status klaim sesuai dengan polis asuransi dan peraturan perusahaan.
  6. Service Guarantee menjamin klaim asuransi kesehatan dibayarkan dalam 7 hari kerja (syarat dan ketentuan berlaku), atau dapatkan voucher belanja senilai 100 ribu rupiah jika proses klaim melewati 7 hari kerja.

Catatan: Jika diperlukan, Allianz akan meminta tambahan dokumen pendukung untuk menganalisis lebih lanjut pengajuan klaim anda.

Produk asuransi kesehatan individu Allianz yang dapat menggunakan prosedur ini adalah Allisya Care, maxi Violet, Smartmed Premier, Rider HSC+, dan Flexicare Family.  (Silakan diklik pada produk untuk mendapatkan penjelasan).

Demikian.

Keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi AllianzCare di 1500136 atau AllianzCare Syariah di 1500139.

Untuk konsultasi asuransi secara gratis, hubungi:

ESTRI HENI

WA:  0817 028 4743

Fakta Klaim Polis Individu Allianz 2017

 

Allianz Life Indonesia sangat peduli dengan klaim nasabahnya. Sepanjang kejadiannya benar dan prosedurnya sesuai aturan, klaim nasabah pasti disetujui, walaupun baru beberapa hari.

Cara pengajuan klaim bisa dibaca di SINI.

Berikut adalah beberapa fakta mengenai klaim polis asuransi individu di Allianz Life Indonesia sepanjang Januari sd Agustus 2017. Total ada 2.421 klaim yang disetujui dengan nilai 396 miliar. Selengkapnya silakan disimak di bawah ini.

Allianz Diberitakan Negatif, Malah Meningkatkan Brand-awareness Allianz

 

 

 

Mari kita pahami dulu jenis produk Cash Plan melalui berita berikut:

BERITA #1.    SUMBER

ASURANSI KESEHATAN: Produk Cash Plan Rawan Penipuan

September 20/ 2017     02:00 WIB
Oleh : Oktaviano D.B. Hana

JAKARTA —Pelaku asuransi dihimbau untuk menghentikan sementara pemasaran atau mengurangi nilai atau besaran manfaat produk asuransi kesehatan dengan skema hospital cash plan di tengah maraknya aksi penipuan atau fraud oleh pelaku yang diindikasikan telah terorganisir.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengatakan terjadi peningkatan jumlah laporan terkait aksi penipuan tersebut kepada asosiasi. Hingga saat ini, jelasnya, sudah lebih dari 10 pelaku asuransi yang memasarkan produk tersebut telah melaporkan kejadian serupa.

Dalam kasus yang diindikasikan fraud, jelasnya, tertanggung dibelikan produk asuransi kesehatan oleh oknum tertentu yang masih merupakan kerabatnya. Kemudian, tertanggung dengan sengaja mengkonsumsi makanan kadaluarsa sehingga bisa masuk perawatan rumah sakit dan dirawatinap dalam jangka waktu tertentu.

Dengan demikian, kata Togar, tertanggung akan menerima klaim asuransi kesehatan dengan skema hospital cash plan dengan nilai pertangunggan relatif besar, yakni dari Rp1,5 juta – Rp3 juta per hari.

“Misalnya, saudara, teman, bahkan orang tua diberi asuransi dan disuruh minum susu basi sehingga masuk rumah sakit dan dirawat satu sampai dua minggu. Ini bukan hanya satu atau dua orang, ini sudah terorganisir dan mengkhawatirkan seperti mafia,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin (18/9).

Secara umum, produk proteksi kesehatan yang ditawarkan asuransi, baik asuransi jiwa maupun asuransi kerugian atau umum terbagi atas dua jenis. Pertama, asuransi kesehatan yang menawarkan skema hospital benefit.

Produk ini secara mendasar dijalankan dengan prinsip indemnity atau ganti rugi sehingga manfaat asuransi diberikan melalui sejumlah paket atau plan, mulai dari biaya obat, dokter, hingga biaya rawat inap sesuai kelasnya, yang dipilih sejak awal.

Dengan begitu, penggantian kerugian dari produk dengan skema hospital benefit umumnya dilakukan nontunai sebab tidak melalui proses reimbursement dan dibayarkan oleh asuransi sesuai nilai yang tertera pada kuitansi tertanggung.

SANTUNAN

Sementara itu, produk lainnya adalah asuransi kesehatan dengan skema hospital cash plan. Produk ini sebenarnya bersifat santunan sehingga memberikan manfaat berupa biaya pengganti sesuai dengan jumlah hari perawatan atau tindakan tertentu.

Dengan besaran nilai penggantian yang ditetapkan di awal, klaim produk asuransi ini umumnya dilakukan secara reimbursement.

Skema inilah yang ternyata membuka peluang bagi nasabah asuransi jiwa untuk melakukan kecurangan.

Togar mengatakan AAJI saat ini menghimbau asuransi jiwa yang memasarkan produk tersebut untuk melakukan dua hal. Pertama, jelasnya, nilai manfaat dari produk tersebut sebaiknya diturunkan.

“Jadi, jangan lagi di atas satu juta, tetapi sekitar Rp500.000 atau Rp200.000 per hari. Meski, memang produknya jadi tidak menarik,” ungkapnya.

Kedua, sambung dia, AAJI berharap para pelaku asuransi untuk sementara tidak memasarkan produk tersebut hingga kondisi lebih terkendali. Dia mengatakan asosiasi meyakini kedua imbauan itu bakal mampu mengantisipasi dan meredam aksi penipuan yang tengah marak tersebut.

Di sisi lain, dia menilai problem ini juga menunjukkan kepada masyarakat bahwa dalam proses klaim asuransi, perusahaan tidak melulu salah. “Ini contoh pelanggan juga bisa nakal,” ungkapnya.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dadang Sukresna juga mengakui masih adanya indikasi aksi penipuan dalam pemanfaatan layanan jasa asuransi kesehatan. Menurutnya, aksi penipuan dalam klaim asuransi kesehatan dengan skema hospital cash plan paling mudah dilakukan.

“Sebetulnya sudah ada beberapa perusahaan asuransi anggota yang melaporkan adanya fraud. Ini harus menjadi perhatian,” ungkapnya kepada Bisnis.

Dadang menilai dampak aksi penipuan ini kian membesar bagi industri asuransi. Oleh karena itu, Dadang mengatakan aksi fraud ini akan menjadi salah satu tema yang akan dibahas dalam ajang 23rd Indonesia Rendevous yang diselenggarakan AAUI pada awal Oktober nanti.

Dia berharap pembahasan tema itu dapat memberikan gambaran dan solusi kepada pelaku, regulator dan pasar asuransi internasional terkait praktik penyimpangan tersebut. “Makanya, fraud ini menjadi salah satu topik. Kita mesti bersama memerangi fraud,” tegas Dadang.

Pelaku asuransi telah mengidentifikasi sejumlah oknum atau pihak yang diduga kuat melakukan aksi penipuan atau fraud dalam klaim produk asuransi kesehatan dengan skema hospital cash plan.

Direktur PT Asuransi Sinar Mas (ASM) Dumasi M.M. Samosir mengakui praktik penipuan dalam klaim asuransi kesehatan itu memang masih terjadi hingga saat ini. Umumnya, jelas dia, oknum tersebut membeli produk asuransi individual.

“Biasanya dilakukan oleh pembeli polis direct dan online,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (19/9).

Dumasi mengatakan ASM telah memasarkan produk asuransi kesehatan dengan skema tersebut sejak 1990. Pihaknya kala itu mulai menjual produk melalui kartu kredit Bank Internasional Indonesia.

Sejumlah polis dari produk asuransi yang dipasarkan saat itu pun masih bertahan hingga saat ini. Hingga saat ini, jelasnya, ASM telah memiliki 10 jenis produk asuransi kesehatan hospital cash plan.

“Kalau pemegang kartu kredit sejauh ini jarang sekali yang melakukan tindakan penipuan sejenis,” ungkapnya.

Dumasi menjelaskan ASM telah memiliki prosedur standar operasional dalam menangani indikasi fraud dalam klaim asuransi. Langkah itu memungkinkan pihaknya untuk lebih awal menindak dan mengantisipasi upaya penipuan.

Sejauh ini, jelasnya, aksi penipuan klaim asuransi kesehatan seperti ini marak dilakukan oleh pelaku asal Surabaya, Jawa Timur. Teranyar, Dumasi mengatakan jaringan itu meluas hingga ke Medan, Sumatera Utara.

“Jadi, kami memang buat kriteria khusus dalam menganalisa klaim-klaim dari Surabaya. Yang terakhir ini mereka buat jaringan ke Medan juga, tetapi orang-orangnya sebenarnya yang dari Surabaya itu,” ungkapnya.

Tag : asuransi,asuransi kesehatan
Editor : Abraham Runga

 

 

Lalu kita baca berita yang ini:

BERITA #2.   SUMBER

Kronologi Pedagang Ponsel Polisikan Eks Bos Allianz Indonesia

Oscar Ferry , CNN Indonesia | Rabu, 27/09/2017 10:00 WIB

Jakarta, CNN Indonesia — Polda Metro Jaya melalui Direktorat Reserse dan Kriminal menetapkan eks Presiden Direktur PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Joachim Wessling dan Manajer Claim PT Asuransi Allianz Life Indonesia Yuliana Firmansyah sebagai tersangka dugaan mempersulit proses pencairan klaim nasabah.

Penetapan tersangka ini merupakan tindak lanjut dari laporan Ifranius Algadri. Wessling dan Yuliana dijerat dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Kuasa hukum Ifranius, Alvin Lim mengatakan, kasus ini diawali dari proses pencairan klaim asuransi jiwa yang diduga dipersulit pihak Allianz Life. Saat itu, kliennya tengah sakit tifus dan mengajukan klaim asuransi.

“Sakit pertama klaim lancar. Pas sakit kedua, sakit tifus, mulai dipersulit klaimnya. Padahal waktu beli asuransi ini klien saya dipaksa-paksa,” ujar Alvin kepada CNNIndonesia.com, Rabu (27/9).

Wessling sendiri sudah diganti sejak Juni 2017 lalu. Dia kini digantikan oleh Handojo G. Kusuma.

Alvin menjelaskan, pihak Allianz mempersulit proses pencairan dengan menambah persyaratan yang tidak ada di buku polis. Salah satunya soal catatan medis dokter yang harus dikeluarkan rumah sakit.

Pasal 10 ayat 2 dan 3 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/Menkes/PER/III/2008 tentang Rekam Medis disebutkan, rekam medis hanya bisa dibuka untuk kepentingan kesehatan pasien dengan cara mengajukan permintaan tertulis kepada pimpinan rumah sakit.

“Klien saya sebagai nasabah merasa dipermainkan,” ujar dia.

Lebih dari itu, dengan proses yang dipersulit ini, lanjut Alvin, Allianz disebut telah membuat kepercayaan masyarakat hilang.

“Mereka sudah melanggar prinsip asuransi. Kepercayaan masyarakat dilanggar. Dulu ngemis-ngemis pas nawarin asuransi, sekarang pas klaim malah begini dipersulit,” ujar Alvin.

 Alvin menambahkan, total nilai asuran yang diklaim Ifranius tidak besar, hanya Rp16,5 juta. Namun, Ifranius bukan mempermasalahkan nilainya, melainkan sikap Allianz dalam merespons protes masalah klaim ini.

“Klien saya ini pedagang ponsel, omsetnya miliaran, uang segitu kecil. Tapi ini soal attitude. Waktu dia datang ke kantor Allianz tidak ada yang mau respon. Dia malah ditantang, ‘bapak kalau tidak puas lapor saja polisi’. Ya sudah akhirnya lapor polisi,” ujar Alvin.

Head of Corporate Communication Allianz Indonesia Adrian DW mengatakan pihaknya masih melakukan diskusi internal terkait dengan langkah-langkah selanjutnya atas kasus hukum tersebut.

“Kami masih diskusi internal,” kata dia ketika dikonfirmasi CNNIndonesia.com pada hari ini.

Allianz Indonesia dalam keterangan tertulis menuturkan pihaknya menghormati proses hukum terkait dengan penyidikan atas dugaan kasus yang menjerat eks pejabat perusahaan asuransi tersebut.

Pernah Bermasalah

Penelusuran CNNIndonesia.com menemukan, nama Ifranius Algadri pernah tersandung masalah hukum di Pengadilan Negeri Tangerang, Banten pada pertengahan 2016 lalu. Dia diduga melakukan penggelapan uang Rp4,5 miliar.

Alvin membenarkan soal Ifranius pernah bermasalah dengan hukum. Namun kata Alvin, kliennya sudah dinyatakan bebas oleh Majelis Hakim. Kata Alvin, hakim mempertimbangkan persoalan kasus itu bukan pidana, tetapi perdata.

“Sudah divonis bebas, dan sekarang kasusnya di Mahkamah Agung karena jaksa kasasi. Kasus itu kasus perdata bukan pidana. Setelah itu hakim mempertimbangkan, dan akhirnya divonis bebas,” ujar Alvin.

 Sebagai informasi, Ifranius Algadri alias Frans, diseret ke Pengadilan. Pemuda yang kini berusia 22 tahun itu diseret ke pengadilan karena kasus penipuan dan penggelapan uang senilai Rp4,5 miliar.

Jaksa penuntut umum mendakwa Ifranius, yang merupakan pedagang ponsel itu dengan empat dakwaan, salah satunya Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Jaksa mendakwa Ifranius dengan Pasal 372 Junto Pasal 64 KUHP ayat (1), atau Pasal 378 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP, atau Pasal 379 huruf a KUHP, serta Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucucian Uang.

Jaksa menilai, perbuatan Ifranius menggelapkan uang Rp 4,5 miliar lalu membelanjakan uang tersebut demi keuntungan pribadi maupun orang terdekatnya. Hal itu sudah meyakinkan jaksa bahwa perbuatan terdakwa merupakan bentuk dari tindak pidana Pencucian Uang.

 Uang Rp 4,5 miliar yang digelapkan itu sebetulnya uang yang harus disetorkan ke distributor ponsel, PT Surya Citra Mukti atas penjualan produk ponsel di toko milik Ifranius. Namun, rupanya uang tersebut tidak disetorkan oleh Ifranius selaku rekan bisnis yang sudah menjalin kerja sama sejak 2014 lalu.
====================
Lalu apa hubungan dari ke2 artikel tersebut?
Pada kasus “heboh” ini, ternyata kasusnya adalah klaim uang santunan harian rawat inap, atau yang umum dikenal dengan CASH PLAN (bukan penolakan klaim atas kondisi SAKIT KRITIS atau MENINGGAL DUNIA).  Penjelasan tentang Cash Plan dan potensi rawan penipuan atas klaim ini, ada di berita 1 halaman ini.
Kenapa Allianz dipolisikan?  Allianz menolak pembayaran klaim yang ke-2 (versi pengacara)
Tanggapan Allianz?
Pertama,  Allianz memberi perhatian yang sangat serius terhadap kasus ini dan mempercayakan dan menghormati sepenuhnya proses hukum yang sedang berjalan.
Kedua,  Bersamaan dengan itu, Allianz tetap profesional dan berkomitmen menjaga kepercayaan nasabah, terutama dalam hal KLAIM.  Klaim yang memang layak untuk dibayar, akan dibayarkan oleh Allianz.  Asalkan klaimnya BENAR dan memenuhi syarat.
Tanggapan logis dan realistis saya:
Di postingan sebelumnya, saya sodorkan testimoni bukti Allianz bayar klaim nasabah bahkan untuk kasus-kasus berat seperti: sakit kritis dan meninggal dunia.  BACA INFONYA, KLIK DISINI
 Jika kondisi berat dan serius seperti:  sakit kritis dan meninggal dunia, dengan nominal klaim sekira ratusan juta – miliaran per nasabah, ternyata Allianz bayarkan klaimnya.  Lalu kenapa, untuk kasus cash plan yang nominalnya sekira 16.5 jutaan, ternyata Allianz menolak pembayaran klaimnya?
Silahkan dicek lagi riwayat klaim nasabah ini, yaitu klaim pertama dibayarkan oleh Allianz.  Artinya apa??  Allianz komitmen untuk membayar klaim, asalkan klaimnya BENAR dan memenuhi syarat.  Lalu kenapa klaim berikutnya “dipersulit?”….  Tanya kenapa?  Mengingat ini adalah klaim cash plan alias santunan rawat inap, yang menurut AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia) produk cash plan ini rawan penipuan.
Pada dasarnya, tidak ada perusahaan asuransi yang tidak mau bayar klaim, asalkan semua sesuai ketentuan kontrak polis yang berlaku.  Kepercayaan dari masyarakat adalah modal utama dalam bisnis asuransi. Oleh sebab itu, semua perusahaan asuransi pastilah akan berlomba untuk memberikan layanan polis terbaik untuk nasabahnya.
Menurut Muhamad Anugrah, SSi, AAAIJ,  Perusahaan asuransi pasti akan bayar klaim nasabahnya.  Pastikan saja perusahaan asuransi tersebut memiliki kinerja yang baik, terdaftar di OJK, memiliki laporan keuangan yang sehat dan transparan, dan tanyakanlah juga nilai RBCnya. OJK menetapkan 120% sebagai nilai minimal untuk RBC.
Bagaimana dengan Allianz? 

Perusahaan asuransi jiwa, PT Asuransi Allianz Life Indonesia, pada kuartal I 2017, membukukan total Pendapatan Premi Bruto (PPB) tercatat sebesar Rp3,03 triliun atau meningkat sebesar 33% (unaudited), jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2016. Seiring dengan jumlah polis aktif yang meningkat sebesar 8%, jumlah total klaim asuransi jiwa dan kesehatan yang dibayarkan sebesar Rp526 miliar.

Allianz Life juga memiliki rasio kecukupan modal (risk-based capital) yang sangat baik sebesar 405%, atau berada jauh di atas ketentuan minimum yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia sebesar 120% (sumber)

 

Pernyataan resmi PT Asuransi Allianz Life Indonesia

Terkait Kasus Keberatan Status Klaim Nasabah

 
[PRESS RELEASE]  Allianz Keluarkan Pernyataan Mengenai Peninjauan Ulang Klaim:

Jika Memang Klaim-nya BENAR Dan Memenuhi Syarat, Allianz Pasti Bayar

Saat ini Allianz semakin bersinar oleh tayangan berita online dan juga penyebarannya melalui media lainnya. Ya, sejak 2 hari lalu banyak nasabah, keluarga dan kenalan yang menanyakan pada saya perihal berita tentang nasabah yang mempidanakan kasus Allianz yang menolak klaim nasabahnya.  Saya akan sampaikan beberapa hal agar informasinya berimbang.  Sehingga bisa membantu pemahaman masyarakat awam yang belum mengerti asuransi sehingga belum berasuransi, ataupun nasabah bijaksana yang merencanakan proteksi keuangannya dengan baik, agar tidak mudah terganggu dengan adanya berita ini.

Pertama.  Terkait hal ini, jajaran pimpinan di dalam perusahaan memberi perhatian yang sangat serius terhadap kasus ini dan mempercayakan dan menghormati sepenuhnya proses hukum yang sedang berjalan.

Kedua.  Allianz menghormati hak nasabahnya dan secara bersamaan memilliki komitmen yang kuat untuk menjaga kepercayaan nasabah.

Proses klaim merupakan salah satu titik temu yang sangat penting bagi perusahaan dengan nasabah.  Sehingga Perusahaan senantiasa menjaga agar segala keputusan yang ada, telah dikaji dengan cermat, dan berdasarkan prinsip penuh kehati-hatian.

Allianz membayarkan klaim nasabah setelah mengkaji dengan cermat dan penuh kehati-hatian.  Begitupun jika Allianz menolak klaim nasabah, tentu setelah mengkaji dengan cermat dan penuh kehati-hatian.

Baca juga:  Langkah Penting Pengajuan Klaim

Ketiga.  Allianz menjunjung tinggi profesionalisme.  Jika klaim layak dibayarkan, maka Allianz akan membayar klaim nasabah.  Walaupun nominalnya besar, bisa sampai ratusan juta bahkan sampai miliaran, Allianz akan bayar klaimnya.  Asalkan: klaimnya BENAR dan memenuhi syarat.

Baca juga:  Kuartal I  2017, Allianz bayar klaim 526 Miliar

Sebaliknya:  Jika klaim memang TIDAK layak dibayarkan, maka Allianz akan menolak klaim tersebut.  Walaupun nominalnya sangat kecil, walaupun hanya 1 rupiah pun, Allianz akan menolak klaimnya.  Jika: klaimnya TIDAK BENAR dan tidak memenuhi syarat.

Keempat.  Utmost good faith (itikad baik) adalah prinsip utama yang harus dimiliki oleh semua pihak, baik itu Perusahaan Asuransi, Agen Asuransi dan Nasabah.  Hal ini tentunya dimulai dari awal saat pengajuan asuransi, yaitu kejujuran melaporkan kondisi kesehatan dan riwayat penyakit, lalu kejujuran saat melaporkan penyebab klaim.

Mungkin Anda terganggu dengan rumor dari seseorang yang beredar, tapi faktanya begitu banyak nasabah yang sudah merasakan manfaat asuransi Allianz dan begitu banyak keluarga yang terbantu secara financial karena klaim yang dibayar oleh Allianz.

Nasabah yang terbantu secara finansial karena klaimnya dibayar Allianz, silahkan klik disini:  TESTIMONI ALLIANZ BAYAR KLAIM NASABAH 

Saya tambahkan lagi beberapa nasabah lagi (yang datanya baru sedikit saya bisa kumpulkan, Insya Allah akan terus saya perbaharui):

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya yakin, Anda adalah pembaca yang bijaksana dalam menilai dan memahami berita yang beredar saat ini, baik secara online maupun media offline.

Jika klaim senilai ratusan juta – miliaran dibayarkan Allianz, lalu kenapa nilai klaim yang sekira 20 juta ditolak Allianz??  Tanya kenapa?  Silahkan dianalisa jika Anda punya banyak waktu luang untuk melakukannya…  😀