Arsip

Sudah Cukupkah Perlindungan Anda ?

 

 

Klik tautan berikut:

PROMO 5 EKSTRA PROTEKSI

Dapatkan 100 poin Allianz Smart Poin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Terlindungi Untuk Kebaikan Sekarang Dan di Masa Depan

 

Baca juga artikel berikut:

3 Manfaat Asuransi Syariah

UP jiwa 1 Miliar premi 355 ribu perbulan

UP Jiwa Dan UP Sakit Kritis, Mana Yang Harus Dimaksimalkan Proteksinya?

 

Tanya:
Suami ingin siapkan polis untuk dirinya dengan UP jiwa maksimal dan UP CI seadanya saja. Sementara istri inginnya polis suami yang UP CI sama besar dengan UP jiwa. Mohon saran, bagaimana sebaiknya?
Jawab:
Sebenarnya tidak ada rumusan baku mengenai hal ini.  Kebutuhan tiap individu dan keluarganya akan berbeda-beda.  Meskipun demikian, beberapa hal di bawah ini bisa menjadi dasar pertimbangan:
UP JIWA

Kalau seseorang meninggal, maka “urusan dunia”nya sudah selesai.  Maka yang menjadi langkah selanjutnya adalah keluarga yang ditinggalkan.  Istri dan anak  akan berpikir bagaimana “move on” dari kondisi berduka dan meneruskan hidup mereka secara layak. Tidak ada hal lain yang harus dilakukan keluarga untuk mendiang suami, kecuali mendoakan.   Umumnya tidak perlu ada biaya lagi untuk mendiang suami.  Kecuali di beberapa daerah di Indonesia yang masih menjaga adat budaya daerahnya, mungkin masih ada beberapa “acara” yang butuh biaya.  Kalau mendiang meninggalkan warisan yang cukup, maka sebagian dapat digunakan untuk membiayai “acara” tersebut dan sebagian lainnya akan dapat bermanfaat bagi ahli waris meneruskan hidup.  Masalah selesai.

Baca juga:  UP jiwa saja tidak cukup

 UP SAKIT KRITIS
Pertama,  Jika seseorang mengalami sakit kritis, artinya: dia masih hidup (artinya: ada aktifitas harian yang dilakukan), tapi kondisinya tidak sehat alias sedang sakit. Sakitnya kritis, biasanya menjadi berkurang kemandiriannya, maka aktifitas hariannya harus dibantu orang lain.  Sakit kritis pasti butuh dana besar untuk pengobatan dan pemulihan.
Dengan kondisi tersebut, maka kebutuhan finansial akan bertambah: biaya si sakit, biaya suster pribadi, biaya akomodasi dan transportasi keluarga yang mengantar/menemani ke RS, biaya hidup harian keluarga yang sehat di rumah, biaya hidup bulanan, cicilan, tagihan, tabungan, cita2 pendidikan terbaik untuk anak. Biaya-biaya tersebut tetap harus ada, padahal orangnya sedang sakit.
Bahasa kasarnya sih: kalau ada 1 anggota keluarga yang sakit, maka semua anggota keluarga ikut repot.  Kalau hanya sakit ringan-sedang, mungkin repotnya hanya 1 minggu.  Kalau sakitnya berat alias sakit kritis?
Kalau butuhnya tenaga, pasti masih ada deh yang mau dimintain bantuan tenaganya.
Tapi kalau butuhnya dana? Jika menyangkut hal-hal berbau “dana”, bahkan yang namanya saudara pun bisa jaga jarak nih… Kalaupun bisa galang dana, seberapa besar bisa terkumpul?  Seberapa cepat bisa terkumpul?  Seberapa lama dana tersebut bisa menopang kebutuhan berobat si sakit ataupun kebutuhan hidup keluarga yang sehat?
Sakit berat/kritis, selama urusannya dengan Rumah Sakit, bisa di-cover oleh Asuransi Kesehatan (Swasta ataupun BPJS).  Namun, untuk urusan di luar Rumah Sakit?  Selama perawatan di rumah, sudah pasti harus pakai uang sendiri, tidak bisa lagi pakai asuransi kesehatan.
 Kedua, sakit kritis itu bukan penyakit yang bisa sembuh dalam hitungan hari atau minggu, namun bisa berbulan-bulan.  Contoh: stroke.  Pasien dirawat di RS mungkin hanya 5-7 hari, lalu pulang.  Setelah itu, apakah bisa langsung bekerja lagi?  Tidak, pasien harus istirahat di rumah sekitar 3 bulan.  Selama 3 bulan itu, bagaimana posisinya di kantor?  Kosong.  Apakah perusahaan tetap akan menunggu kekosongan itu sampai karyawannya sembuh?  Tentu tidak.  Pasti perusahaan akan mencari pengganti yang jauh lebih berkualitas, atau minimal setara kualifikasinya dengan Anda.
Adanya efek lanjutan dan jangka panjang dari sakitnya: kondisi tubuh tidak sebugar seperti sebelumnya, kemampuan bekerja menurun, produktifitas berkurang, penghasilan bisa berkurang atau bahkan stop (perusahaan mencari karyawan pengganti dirinya).  Si sakit masih hidup, butuh biaya tambahan bagi dirinya, selain biaya hariannya.  Keluarga yang sehat juga butuh biaya.  Cicilan, tagihan, tabungan, semua biaya ini juga harus diselesaikan.
 Jika kondisinya sama2 hanya punya dana “seadanya”:
1.  kalau orangnya sudah meninggal, artinya “case closed”, tinggal mikirin masa depan.
2.  kalau orangnya masih hidup tapi kondisinya sakit kritis/sakit berat? Maka belum bisa “case closed” ya. Harus terus berikhtiar melakukan pengobatannya, membantu pemulihannya, dibutuhkan support dari keluarga besar agar si sakit bisa tumbuh lagi kepercayaan dirinya sehingga semangat juga untuk segera pulih.
Pada kondisi ini, keluarga yang sehat jadi bertambah aktifitasnya: harus mikirin anggota keluarga lainnya (anak yang masih butuh perhatian orangtuanya),  jadi repot harus bolakbalik antar si sakit ke RS, otomatis aktifitas rutinnya terganggu (harusnya kerja, jadi harus ijin untuk antar ke RS). Anak2 di rumah siapa yang jaga? Oma-Opanya? Susternya? Pengeluaran jadi bertambah. Yang semula hanya perlu ongkos bensin rumah-kantor pp, jadi bertambah ada ongkos rumah-RS pp.  Ini jika pengobatan masih berada di kota yang sama.  Bagaimana jika keluarga mengupayakan pengobatan ke luar negeri???
Sakit kritis butuh biaya besar saat sakit terjadi.  Sakit kritis juga masih butuh biaya besar, meski sudah “tidak sakit”, yaitu => kondisi kesehatan tidak se-fit seperti sebelumnya, hilangnya kemandirian hidup, aktifitas harian harus dibantu orang lain, biaya hidup bulanan keluarga tetap ada.
 Jadi, antara 2 kondisi itu, antara meninggal dunia dan sakit kritis:
  • Mana yang lebih butuh banyak biaya?
  • Apakah sudah siap dananya?
Pastikan bahwa sumber dananya bukan dari “tabungan persiapan pendidikan anak” loh ya.  Jika hal ini terjadi, sia-sia upaya Anda menyiapkan dana pendidikan anak, bisa buyar impian anak bersekolah sesuai keinginannya.
Sudah punya askes? Keputusan Anda tepat karena akan ada penggantian biaya perawatan RS.  Cek lagi polis askesnya, apakah Anda sudah memilih plan askes yang baik, atau malah hanya punya plan askes paling minimal “yang penting asal punya askes”?  Klik kanan artikel terkait:
Baca juga:
–  Saya tidak pernah sakit parah yang harus dirawat di RS, pola hidup sehat, tidak merokok, berolahraga, tidak perlu proteksi sakit kritis.  Yakin bahwa pola makan Anda juga benar?  Baca FAKTA INI.
Belum punya Asuransi Kesehatan?  Mau buka polis Asuransi Kesehatan?  KLIK DISINI
Sudah punya Asuransi Kesehatan?  Ingin melengkapi proteksinya dengan Asuransi Sakit Kritis?  KLIK DISINI

Kesalahan Ketika Membeli Asuransi

life-insurance1

 

Perlahan, kesadaran akan pentingnya proteksi meningkat dalam masyarakat. Sayang, kesadaran ini kurang diiringi dengan pengetahuan tentang aneka produk asuransi. Keterbatasan informasi dan pengetahuan produk dan kurangnya penjelasan agen asuransi kerap mengakibatkan konsumen membuat kesalahan ketika membeli asuransi.

Kebanyakan orang tidak mengerti produk asuransi apa yang dibelinya. Ini adalah kesalahan yang sering saya temui. Jangankan mengerti bahwa pertanggungannya kurang, asuransi apa yang dibeli saja dia tidak paham,” kata Ligwina Hananto, perencana keuangan dari Quantum Magna Financial.

Ligwina pernah menjumpai seorang teman yang memiliki 17 polis asuransi. Polis yang banyak ternyata tak menjamin hidup seseorang terproteksi dengan baik. ”Banyak yang hanya membayar premi, menyimpan polis, lalu ketika mengajukan klaim, baru sadar jika asuransi yang dibelinya ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan,” ujar Freddy Pieloor, perencana keuangan dari Money n Love. Selain tidak paham produk apa yang dibeli, kesalahan paling umum yang dilakukan nasabah adalah membeli asuransi dengan uang pertanggungan di bawah yang diperlukan. Istilahnya underinsure. Kebanyakan orang cukup puas membeli asuransi dengan uang pertanggungan sebesar Rp 50 juta, Rp 100 juta, atau Rp 250 juta. Jangan keburu senang kalau sudah memiliki asuransi. Bayangkan jika pencari nafkah meninggal dan keluarga hanya mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 250 juta, padahal pengeluaran per bulan sebesar Rp 10 juta. Uang itu hanya cukup untuk bertahan hidup selama dua tahun. Setelah itu bagaimana?

Berdasarkan survei, nilai pertanggungan asuransi jiwa di Indonesia hanya sekitar Rp 78 juta per polis per tahun. Padahal, kebutuhannya mencapai 10 kali lipatnya. Selisih uang pertanggungan dengan kebutuhan yang ada di Indonesia cukup besar. ”Jadi, pemegang polis asuransi jiwa di Indonesia mengalami underinsure yang besar,” kata Kepala Divisi Syariah AIA Ade Bungsu.

Tidak jarang pula kita membeli asuransi karena tidak enak menolak tawaran agen asuransi yang merupakan teman, kakak, adik, atau keluarga dekat lainnya. Padahal, asuransi yang kita beli belum tentu cocok dengan tujuan keuangan kita. Misalnya, membeli asuransi yang preminya mahal dengan uang pertanggungan ala kadarnya. Padahal, kebutuhan lain masih banyak yang harus dipenuhi. Jadi, penting sekali untuk menghitung besaran kebutuhan asuransi lalu membeli asuransi yang sesuai.

Membeli asuransi untuk anak

Apakah anak Anda sudah dibelikan asuransi? Pertanyaan seperti ini biasa muncul ketika para orangtua berbicara tentang anak-anak mereka. Membeli asuransi dengan anak sebagai tertanggung merupakan hal yang tidak bijaksana.

Baca juga:  Asuransi Apa Yang Tepat Untuk Masa Depan Anak?

Wah, apa lagi ini ? Tujuan membeli asuransi adalah untuk melindungi penghasilan sehingga jika kepala keluarga meninggal dan tidak dapat memberikan penghasilan lagi, keluarga yang ditinggalkan tetap terjamin. Maka, yang harus memiliki asuransi adalah orangtua agar jika terjadi risiko pada orangtua, kehidupan anak-anak terjamin. Orangtualah yang memiliki nilai ekonomis, bukan anak. Jika kehilangan anak, keluarga tidak kehilangan secara finansial, melainkan secara emosional.

Anak penerima manfaat Ketika membeli asuransi, kita pasti ditanya siapa penerima manfaat asuransi tersebut (beneficiary). Memang asuransi ini untuk memproteksi pendapatan orangtua agar anak tak telantar. Ternyata, mencantumkan nama anak di bawah umur sebagai penerima manfaat juga merupakan kesalahan. Lho? ”Untuk anak di bawah 18 tahun yang kedua orangtuanya meninggal dunia pada saat yang sama, ia mewarisi dari kedua orangtuanya. Untuk mengurus harta peninggalan orangtuanya tersebut, pengadilan agama akan menunjuk seorang wali untuknya. Untuk Muslim, wali ditunjuk oleh pengadilan agama setempat, untuk agama lain, wali ditunjuk oleh pengadilan negeri setempat,” ujar Dedek  Yuliona, seorang notaris. Bila nanti si anak menghendaki hartanya dijual atau perlu uang, wali tersebut bisa minta penetapan dari pengadilan negeri, tambahnya lagi.

Wali dapat merupakan saudara dekat. Itu pun jika walinya benar-benar memberikan uang itu untuk kepentingan si anak. Kalau si wali senang belanja, bisa- bisa uang pertanggungan asuransi orangtua menguap di mal.

Kesimpulan dari ilustrasi itu, orangtua yang membeli asuransi haruslah langsung menunjuk seorang wali. Tunjuklah wali yang dapat mengurus anak Anda jika Anda atau pasangan meninggal dunia. ”Menunjuk wali yang benar-benar jujur dan bertanggung jawab adalah hal penting,” imbuh Prita Hapsari Ghozie, perencana keuangan dari ZAPfinance.

Asuransi untuk ibu rumah tangga

Sebagian berpendapat, orang yang tidak bekerja, termasuk ibu rumah tangga, tidak perlu membeli asuransi. Seorang ibu rumah tangga memang tidak menghasilkan pendapatan bagi keluarganya. Namun, perlu diingat bahwa ibu rumah tangga berpotensi mengurangi pengeluaran keluarga.

Seorang ibu rumah tangga dapat berperan sebagai sopir pengantar anak ke sekolah, menjadi guru privat, guru berenang, juru masak, pengasuh anak, perawat, tukang kebun, pembersih rumah dan lainnya. Bayangkan jika si ibu tidak ada. Berapa besar pengeluaran yang harus ditanggung jika harus membayar sopir, guru privat, pengasuh anak, tukang kebun, atau pembersih rumah? Biaya inilah yang harus diperhitungkan ketika membeli asuransi jiwa untuk si ibu.

Baca Juga:  Istri Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya!

Bujangan beli asuransi

Asuransi jiwa terkait erat dengan upaya memproteksi penghasilan. Seorang bujangan yang tidak membiayai orangtua, saudara, atau keponakannya, alias tidak memiliki tanggungan secara ekonomi, tidaklah perlu membeli asuransi jiwa. Apalagi jika sudah memiliki investasi. Jika si bujang meninggal, tidak ada orang yang telantar karena tidak disokong secara finansial lagi olehnya. Ketika dia meninggal pun, biaya yang diperlukan hanyalah biaya pemakaman dan uang untuk membayar utang.

Namun, bujangan seperti ini memerlukan perlindungan asuransi cacat atau penyakit kritis. Jika suatu kali dia menderita sakit kritis atau cacat permanen sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhannya, uang pertanggungan dari asuransi dapat menjadi biaya hidup. Survei membuktikan, kemungkinan seseorang cacat tujuh kali lebih banyak dibandingkan dengan meninggal.

Baca Juga:  Bujangan Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya!

Tidak memberi tahu keluarga

Pada beberapa kebudayaan, berbicara soal kematian adalah hal yang tabu, sementara asuransi terkait dengan kematian. Beberapa orang memilih menyembunyikan polis asuransinya dan tidak memberi tahu keluarga jika dia memiliki polis asuransi. Hanya saja, jika itu dilakukan, ketika risiko meninggal terjadi dan kebetulan agen tak lagi berhubungan dengan nasabahnya atau sudah pindah ke bisnis lain, tetap saja keluarga si pemilik polis tidak menerima manfaat asuransi.

Polis tetap teronggok di tempat tersembuyi. Tidak dicairkan. Di beberapa perusahaan asuransi, batas akhir klaim asuransi jiwa adalah setahun setelah tertanggung meninggal. ”Di Allianz, pengajuan klaim meninggal selambatnya 60 hari setelah terjadinya risiko. Bila klaim diajukan lebih dari itu, harus ada alasan kuat dari termaslahat (penerima manfaat) mengapa baru diajukan. Bagian klaim akan menganalisis apakah klaim yang terlambat itu dapat disetujui atau tidak,” papar Handojo Kusuma, Deputi CEO Asuransi Allianz Life.

Jangan taruh polis di ”safety box”

Kesalahan lain yang mungkin dibuat adalah menyimpan polis asuransi di safety box di bank. Jika pemegang polis meninggal, akan sulit membuka safety box tersebut. Letakkanlah polis asuransi di tempat yang mudah ditemukan, misalnya dalam satu map. Jika terjadi kebakaran atau bencana alam, map tersebut dapat langsung diselamatkan. Hindarilah membuat kesalahan-kesalahan seperti ini karena manfaat yang seharusnya diterima akan berkurang.

 

 

 

Sumber

Bayar Premi Asuransi 10 Tahun Saja? Ini Penjelasannya

Terimakasih  kepada agen asuransi senior yang sudah terjun di bisnis ini jauuuuhhh sebelum saya.  Karena ternyata apa yang dikampanyekan saat itu, sangat bisa diterima masyarakat hingga kini.  Yaitu bahwa:  “Bayar asuransi hanya 10 tahun, proteksinya seumur hidup”.

Hampir semua calon nasabah saya beranggapan bahwa setelah 10 tahun, mereka stop membayar premi asuransi.  Perlindungan atau manfaat Asuransi akan didapatkan secara GRATIS hingga usia 99 tahun.  Hanya dengan menyisakan saldo 2 juta rupiah saja pada akhir tahun ke 10.

Sayangnya, agen asuransi pada saat itu, hampir tidak ada yang memberikan penjelasan lebih lanjut terhadap kelangsungan hidup polis tersebut apabila tidak ada saldo dana pada unitlinknya.  Maka, disinilah tugas saya untuk meluruskan pemahaman tersebut dan memberikan informasi lengkap kepada Anda, pembaca blog yang budiman, calon nasabah saya.

 

Fungsi dana investasi dalam sebuah Polis Asuransi Jiwa.

Memiliki polis Asuransi Jiwa dengan pembayaran premi dibatasi beberapa tahun saja bukan keputusan yang salah.  Namun ada hal lebih detail yang harus diketahui oleh calon nasabah mengenai dampak dari kelangsungan hidup polis, apabila tidak dilakukan lagi pembayaran premi oleh nasabah.

Unitlink bukan hanya sekedar tabungan bagi si pemegang polis.  Bila saldo pada dana investasi unitlink Anda tidak mencukupi untuk dilakukannya penarikan Biaya Asuransi, maka Polis akan Lapse.

Dana investasi unitlink berfungsi seperti rekening tabungan dan bisa diambil kapan saja dengan menyisakan saldo minimal sebesar 2 juta rupiah.  Perlu diperhatikan juga bahwa Biaya Asuransi Polis Asuransi Jiwa Anda setiap bulannya juga ditarik dari saldo dana investasi unitlink ini.  Penarikan Biaya Asuransi ini akan dilakukan selama manfaat perlindungan diperoleh Tertanggung atau artinya selama Polis tersebut aktif.

T:  Bila saya mempunyai Asuransi Jiwa Unitlink dengan masa pembayaran Premi Asuransi 10 tahun, saya masih harus membayar Biaya Asuransi setelah tahun ke 10?

J:  Ya Betul…  Karena  Biaya Asuransi berbeda dengan Premi Asuransi.

Premi Asuransi adalah sejumlah uang yang dibayarkan kepada Perusahaan Asuransi sehubungan dengan pembelian suatu Polis, yang terdiri dari Premi Berkala dan apabila ada Premi Top Up Berkala atau Premi Top Up Tunggal.

Pembayaran Premi Asuransi bisa dibatasi.  Di Allianz cuti premi bisa dilakukan paling cepat dalam 5 tahun, artinya setelah 5 tahun premi bisa tidak dibayar lagi.

 Biaya Asuransi adalah biaya yang dikenakan sehubungan dengan manfaat pertanggungan yang diberikan. Biaya Asuransi dikenakan setiap bulan selama Polis aktif.  Jika Biaya Asuransi berhenti dibayar, proteksi dan manfaat Asuransi otomatis berhenti.  Jadi, Biaya Asuransi tetap dibayar walaupun nasabah sudah tidak menyetor premi lagi.
Setiap manfaat yang kita beli pada Polis Asuransi Jiwa, maka kita berkewajiban membayar Biaya Asuransi-nya selama Polis tersebut aktif dan ini berlaku pada semua Perusahaan Asuransi.

 

 

T:  Apakah Polis akan tetap aktif walaupun premi tidak disetor lagi?

J:  Polis tetap aktif selama Perusahaan Asuransi berhasil melakukan pendebitan Biaya Asuransi bulan berjalan dari saldo investasi unitlink anda.

Misalnya Anda merencanakan cuti premi setelah 10 tahun, maka setelah tahun ke 10 memang Anda tidak perlu menyetorkan premi lagi, namun Biaya Asuransi harus tetap dibayar dan akan ditarik dari saldo investasi unitlink yang sudah terbentuk selama 10 tahun tersebut.

Prosedurnya juga tidak bisa langsung berhenti setor premi setelah periode 10 tahun tersebut, melainkan harus mengajukan permohonan cuti premi ke Perusahaan Asuransi tersebut. Bila tidak diajukan Cuti Premi maka setiap bulan Biaya Asuransi akan tetap di debit dari saldo investasi Anda.

Bila nasabah mengajukan cuti premi, maka Perusahaan Asuransi akan menghitung berapa tahun kedepan saldo investasi yang sudah terbentuk dapat membayar Biaya Asuransi Polis Anda.
Semakin besar nilai investasinya akan bisa menutup Biaya Asuransi untuk periode tahun yang lebih lama.

 

T:  Bagaimana jika saldo saya tidak mencukupi untuk membayar Biaya Asuransi?

J:  Jika saldo tidak mencukupi untuk membayar Biaya Asuransi, maka Anda harus melakukan Top Up, agar polis tidak lapse.

Kerugian apabila Polis Lapse sbb :
1. Nasabah tidak bisa melakukan klaim atas manfaat Polis
2. Masa tunggu penyakit kritis diulang lagi dari awal, yaitu masa tunggu 3 bulan

 

Pembayaran Premi Asuransi yang dibatasi atau kita kenal dengan sebutan “Cuti Premi”

Apa itu Cuti Premi?

Cuti premi adalah fitur dimana nasabah dapat sementara berhenti membayar premi, sesuai dengan ketentuan dan persyaratan yang berlaku, seperti antara lain, usia polis sudah di atas 5 (lima) tahun, dan telah membayar seluruh premi pada periode lima tahun tersebut, serta polis memiliki nilai tunai yang cukup untuk membayar biaya asuransi dan administrasi.

Ini sebuah fitur yang sebenarnya bermanfaat buat nasabah, terutama saat kondisi darurat, dimana kondisi keuangan tidak memungkinkan membayar premi, maka perusahaan asuransi memberikan solusi supaya proteksi tetap bisa berjalan.

Dalam prakteknya, cuti premi dimodifikasi dengan membuatnya menjadi masa pembayaran premi yang singkat. Misalnya, bayar premi 10 tahun saja, sisanya sudah tidak bayar lagi.

Ini esensinya sama dengan cuti premi, tapi dibungkus dalam marketing gimmick yang sangat menarik.   Sayangnya, penjelasan detail tentang korelasi antara dana saldo investasi dan kelangsungan hidup polis seringkali tidak disampaikan, sehingga akhirnya banyak nasabah yang salah persepsi.

Siapa yang tidak tergiur dengan penawaran, “ bayar premi cuma 10 tahun, setelah itu gratis, dana bisa ditarik. Perlindungan sampai umur 99 tahun”.

Banyak yang jadi tertarik lalu mengambil asuransi dengan pola pembayaran premi seperti ini.  Cuti premi dipahami oleh nasabah sebagai istilah “gratis bayar premi”.

T:  Apakah ada bedanya, bila bayar premi seumur hidup dengan bayar premi hanya 10 tahun saja?

J:  Ada.  Bila bayar premi seumur hidup, maka preminya lebih murah.  Jika ingin masa bayarnya diperpendek (contoh 10 tahun saja), maka harus ditambah biaya topup, sehingga total premi/setoran yang dibayarkan menjadi lebih mahal.  Kenapa?  Karena kita harus bayar “deposit” selama 10 tahun, agar saldo investasinya kelak cukup untuk membayar biaya asuransi, pada saat kita cuti premi.

 

Kesimpulan

Jadi persoalan bayar premi sampai kapan, itu seharusnya tidak menjadi masalah, karena toh Biaya Asuransinya dibayar seumur hidup Polis.

Jadi jangan terkecoh dengan rayuan agen yang menawarkan bayar premi hanya cukup 10 tahun.  Mintalah penjelasan pada agen yang menawarkan kepada Anda, mengenai detail korelasi antara dana investasi dengan kelangsungan hidup polis.  Jangan-jangan, agennya juga kurang memahami hal ini.  Yang menjadi tujuannya hanyalah menarik nasabah sebanyak-banyaknya dengan iming2 kemudahan cara bayar pendek untuk proteksi yang lama.

Karena sudah banyak saya mendengar cerita calon nasabah yang sudah ancang ancang menarik dana investasinya di akhir tahun 10 dengan pemikiran manfaatnya bisa didapatkan sampai usia 99 tahun tanpa menyetor premi lagi dan juga tidak memperhatikan saldo investasinya.

Perencanaan keuangan terhadap polis nasabah harus dijelaskan secara detail agar dikemudian hari tidak terjadi salah persepsi sesuai dengan kondisi atau keadaaan yang sebenarnya.  (SUMBER dengan beberapa tambahan informasi)

Manfaatkan fasilitas Cuti Premi dengan cara yang tepat, agar dalam kondisi tidak membayar premi pun proteksi bisa tetap dinikmati nasabah.

Bagaimana caranya??

Hubungi:

Estri Heni

WA: 0817 028 4743

Hidup Tanpa Asuransi atau Dengan Asuransi, Ini Bedanya

Berikut saya berikan ilustrasi yang mudah dipahami mengenai perbedaan menjalani hidup, antara seseorang yang hanya menabung biasa (TANPA asuransi), dengan seseorang yang tidak hanya menabung biasa (PUNYA asuransi).

 

 

 

Contoh Kasus Perbedaannya:   Hidup tanpa Asuransi atau Dengan Asuransi

Dua Orang AMIR dan ARIF, masing-masing berusia 30 Tahun, keduanya tidak merokok dan memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta. Amir dan Arif merencanakan keuangannya dengan menabung sebesar Rp. 500.000/bulan demi Masa Depan Keluarga mereka dengan cara :

  • AMIR dengan Tabungan Biasa
  • ARIF dengan Tapro (Tabungan Proteksi) Allianz

 

 

 

3

 

 

4

 

 

5

 

 

6

 

 

7

 

 

8

 

 

9

 

 

kasus-selamat

sumber ilustrasi

 

Asuransi Syariah BUKAN berarti meng-asuransi-kan jiwa Anda kepada Allah SWT.  Asuransi Syariah merupakan penyempurnaan ikhtiar rencana keuangan Anda atas takdir Allah SWT.

Anda punya asuransi, atau Anda tidak punya asuransi, jika takdir Allah akan menjadi musibah, ya pasti terjadilah musibah.

Bedanya:  jika Anda punya Asuransi Syariah, maka akan ada orang yang membantu meringankan masalah finansial ketika musibah terjadi pada diri Anda.

 

 

Mari berasuransi Syariah.

Konsultasi Gratis,  Hubungi:

Estri Heni, SMS/WA:  0817 028 4743

3 Manfaat Asuransi Syariah

Ir.  Adiwarman Azwar Karim, SE, MBA, MAEP

Wakil Ketua Dewan Syariah Nasional MUI

Asuransi Syariah itu mudah.  Ibaratnya adalah sebagai berikut:  Memasukkan uang beramai-ramai ke celengan (Atau bahasa asuransinya:  bayar premi).  Uang yang terkumpul gunanya buat apa?  Yaitu kalau dapat musibah, ambil uang di celengan, bayar/berikan kepada orang yang kena musibah.  Selesai.

Asuransi Syariah BUKAN berarti kita mengasuransikan diri kita kepada perusahaan asuransi.  BUKAN berarti kita TIDAK tawakkal sama Allah SWT.  Anda punya asuransi, Anda tidak punya asuransi, kalau sakit ya pasti sakit, kalau harus meninggal ya pasti meninggal.  Betul atau tidak?

Ada 3 hal:  “Sungguh urusan jodoh, rejeki, ajal, ditentukan oleh Allah SWT”.  Musibah ibarat rejeki juga.  Kita tidak tahu kapan terjadinya, musibah bisa terjadi kapan saja.

Anda pakai asuransi,ataupun Anda tidak pakai asuransi, kalau terjadi musibah ya terjadilah.  BEDAnya:  Kalau Anda dapat musibah, Anda tidak punya asuransi, maka tidak ada yang membantu, karena tidak memasukkan uang ke celengan.  Tapi jika Anda dapat musibah, Anda punya asuransi, ada banyak yang membantu.  Kenapa?  Karena akan diambil uang di celengan, Anda dibantu.

Asuransi Syariah ada 3 manfaat:

  1.  Proteksi bagi diri sendiri, pasangan, anak, anggota keluarga kita.
  2.  Memberikan manfaat bagi orang lain
  3.   Sebagai amal jariyah kita.

 

img_20161208_113328

 

Penjelasan 1.  Asuransi Syariah sebagai proteksi bagi diri sendiri, pasangan, anak (keluarga kita).

Pertanyaan:  dari 2 kondisi berikut, Anda pilih mana?

A.  Suami meninggal,  Anda sedih.  Dalam kesedihan, ternyata Anda masih harus keluar biaya banyak untuk Rumah Sakit.  Lalu Anda juga harus melunasi hutang-hutangnya, karena ternyata suami banyak tinggalkan hutang.

B.  Musibah ya musibah, sakit ya sakit, meninggal ya meninggal.  Tapi ternyata suami atau orangtua kita meninggalkan warisan yang jumlahnya fantastis.

Anda pilih kondisi yang mana?

Kalau memang musibah ya musibah, sakit ya sakit, meninggal ya meninggal.  Mau punya asuransi ataupun tidak, tetap saja terjadi musibah, terjadi sakit, terjadi meninggal.

Pertanyaan:  dari 2 kondisi berikut, Anda pilih mana?

A.  Jika saat sakit, kerabat datang menjenguk bawa: buah, kue, sejumlah uang, membacakan doa.

B.  Jika saat sakit, kerabat datang menjenguk bawa: buah, kue, sejumlah uang, membacakan doa, dan seseorang berkata:  “Tenang pak.  Semua biaya perawatan Bapak selama di Rumah Sakit sudah LUNAS dibayarin oleh Allianz”

Anda pilih kondisi yang mana?

“dan tidak ada satupun musibah menimpa kalian kecuali atas ijin Allah SWT”

Ikut asuransi, tidak ikut asuransi, kalau memang musibahnya meninggal, ya meninggal.

Ikut asuransi, tidak ikut asuransi, kalau memang musibahnya sakit, ya sakit.

BEDAnya:

Kalau tidak ikut asuransi: ketika meninggal ya meninggal.  Lalu kita sholat, keluarga memohon dimaafkan segala kesalahan almarhum.

Kalau ikut asuransi: keluarga yang ditinggalkan bersedih, mendoakan, bingung ini nanti bagaimana anak-anak sekolahnya.  Lalu tiba-tiba ada seorang agen asuransi menemui dan berkata “Sungguh beliau almarhum adalah seorang yang baik semasa hidupnya di dunia.  Beliau juga seorang yang baik setelah meninggalnya.  Karena beliau meninggalkan warisan sebesar 5 Miliar”

Itulah manfaat Asuransi Syariah yang pertama:  proteksi bagi diri sendiri, pasangan, anak (keluarga kita sendiri).

Bukan soal Anda meng-asuransi-kan jiwa Anda kepada Allah SWT.

Ikut asuransi, tidak ikut asuransi, kalau memang musibahnya meninggal, ya meninggal.

Ikut asuransi, tidak ikut asuransi, kalau memang musibahnya sakit, ya sakit.

BEDAnya:

Kalau pakai asuransi, maka ada orang yang meringankan musibah yang kita terima.

Masa sih, saat masih hidup membebani orang, saat meninggal pun masih membebani orang?  Saat sehat membebani orang, saat sakit pun membebani orang?

 

Penjelasan 2.  Bermanfaat bagi orang lain.

Di lingkungan kita, jika ada tetangga kena musibah, kita biasanya menyumbang dana pribadi berapa rupiah? 50 ribu? 100 ribu? 500 ribu?  Kalau kita beramai-ramai satu kampung mengumpulkan uang, paling banyak bisa dapat berapa?  5 juta? 10 juta?  Uang 5-10 juta, dipakai hidup, bisa sampai berapa lama? Mungkin hanya bisa untuk beberapa hari.  Betul tidak?

Kalau ikut asuransi, bukan sekedar 50 ribu yang bisa kita bantu.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain”

Asuransi Syariah itu seperti itu.  Bukan saja agar kita tidak menjadi beban bagi keluarga kita, tapi kita juga bisa membantu orang lain, kita bisa bermanfaat bagi orang lain yang tertimpa musibah.

Kalau kita sendiri yang menyumbang uang, mungkin hanya bisa memberi 50ribu, 20ribu, 10ribu.  Tapi kalau pakai asuransi syariah, kita bisa bantu orang sampai 5 Miliar, 2 Miliar, 1 Miliar.  Uangnya dari mana?  Dari uang yang kita masukkan sama-sama ke celengan.

 

Penjelasan 3.  Bisa menjadi amal jariyah untuk kita.

Bagaimana caranya?  Wakaf.

Anda bisa mewakafkan hasil asuransi (yang disebut Uang Pertanggungan dan hasil investasinya).  Contoh:  dapat UP 5 Miliar: 2.5 Miliar untuk keluarga yang ditinggalkan, 2.5 Miliar lagi untuk diwakafkan.

Rasul bersabda:  “Semua anak cucu Adam adalah pendosa.  Sebaik=baik pendosa adalah yang paling cepat tobatnya”

Kondisi yang paling enak:  walaupun kita sudah meninggal, tapi masih dapat terus kiriman amal baik kita semasa kita hidup, dengan cara wakaf.

Apakah Anda mampu wakaf 2.5 Miliar?

Bagaimana bisa wakaf 2.5 Miliar, untuk hidup saja uangnya pas-pasan…

Tapi kalau Anda ikut asuransi Syariah:

Ketika Anda meninggal dapat 5 miliar, sebagian uangnya diwakafkan.  Maka ketika nanti di alam kubur datang seorang mahluk dengan wajah cemerlang membawa baki yang berisi emas perhiasan.

Lalu ada pertanyaan:  Siapakah Engkau?

Maka mahluk itu menjawab:  Aku adalah amal jariyahmu dari wakaf yang Engkau lakukan melalui Asuransi Syariah…

sumber

 

Mari berasuransi Syariah.

Hubungi:

Estri Heni,  SMS/WA:  0817 028 4743