Begini Cara Mereview Kembali Polis Asuransi

 

 

Tinjau ulang polis Anda.

Hubungi:

ESTRI HENI  |  WA:  0817 028 4743

 

Iklan

Ibu Melati: Wanita, Harta dan Sengketa (Sebuah Kisah Nyata)

Contoh ini selalu saya sampaikan dalam setiap kelas “Asuransi sebagai Solusi Persoalan Waris dan Pajak” yang saya bawakan. Sebuah kisah nyata yang mungkin terjadi di sekitar anda.

Ibu Melati (katakan begitu namanya, karena kalau pakai nama Mawar banyak yang protes) adalah seorang ibu yang tangguh, wanita gigih pekerja keras. Sejak suami bu Melati diberhentikan dari pabrik tempatnya bekerja, praktis beliaulah yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Suaminya diberhentikan ketika pabrik tempatnya bekerja dililit hutang dan akhirnya tutup. Nyaris tanpa pesangon yang berarti. Coba usaha ini gagal, usaha itu gagal sementara usia makin tak memungkinkannya diterima bekerja kembali. Pabrik-pabrik lebih suka mempekerjakan anak-anak muda lulusan baru yang mau digaji murah. Akhirnya pekerjaannya hanya di rumah, mengurus peliharaan (burung dan ayam), mantengin medsos dan nonton tivi seharian.

Bu Melati memulai usahanya -sepuluh tahun lalu- ikut meringankan beban keluarga dengan berkeliling kampung menjajakan daster dan kain batik, hingga kemudian usahanya berkembang seiring makin banyaknya kantor yang membutuhkan seragam batik.

Usahanya makin maju sehingga tak hanya meringankan beban keluarga, tapi menjadi penopang utama. Barang di rumah yang dulu habis tergadai, mulai terbeli lagi dan bertambah. Perabotan, motor dan mobil.

Hingga untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Bu Melati divonis menderita kanker payudara yang tak butuh waktu lama, karena telat diketahui, didiagnosa dan diobati, enam bulan kemudian beliau meningal dunia.

Masalah muncul ketika pembagian harta waris. Keluarga almarhum bu Melati menuntut pembagian atas harta waris yang adil. Mereka menganggap bahwa suaminya -yang hanya di rumah tak ada peran apapun dalam bisnis dan hasil usaha almarhum – tidak berhak menerima 1/2 dari harta tersebut.

Sengketa itu belum beres sampai hari ini, dan anak-anak almarhumahlah yang menjadi “korban dari sengketa” ini. Mengapa? Karena harta bawaan almarhum, harta bersama ayah ibu mereka masih berstatus “status quo” mengingat belum diserahkan ke pemilik baru (para ahli waris) melalui pembagian berdasar Hukum Waris.

Mengapa sengketa ini bisa terjadi ?

Terdapat perbedaan penafsiran soal HARTA dalam perkawinan menurut Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam. Menurut Hukum Islam tidak ada percampuran harta benda dan kekayaan dalam perkawinan, karena Hukum Islam telah mewajibkan nafkah yang cukup diluar belanja harian bagi seorang istri.

Istri bisa memiliki kekayaan pribadi dengan mengumpulkan nafkah itu untuk kemudian menjadi kekayaan yang diwariskan kepada ahli warisnya saat ia meninggal dunia, dan tidak menganut kesepakatan bernama Harta Bersama sebagai UU Perkawinan kita.

Tetapi menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 171 Huruf e disebutkan bahwa Harta Waris adalah harta bawaan (harta yang dibawa sebelum menikah) ditambah bagian dari Harta Bersama (sebagaimana UU no 1 tahun 1974 tentang Perkawinan) setelah digunakan untuk keperluan pewaris sejak sakit hingga meninggalnya, biaya penyelenggaraan jenazah, pelunasan Hutang dan Pajak serta pemberian untuk kerabat.

Itu baru perbedaan penafsiran di Hukum Waris Islam. Kabar baiknya di Indonesia berlaku TIGA Hukum Waris yang berlakunya tidak ada yang dominan satu diantara yang lainnya. Sehingga persoalan seperti bu Melati banyak terjadi yang bisa menjadi berkepanjangan.

Siapa yang menjadi korban utama? Umumnya anak. Karena merekalah yang paling membutuhkan harta waris ini untuk keberlangsungan hidup mereka.

Belajar dari kasus ibu Melati dan banyak kasus lain di luar sana : Saya tak bosan menyampaikan “ SIAPKAN Harta Waris yang sifatnya PENUNJUKAN LANGSUNG”.

Pakai Surat Wasiat? Bisa. Tapi ingat, Hukum Waris Islam (Faraidh) menggariskan bahwa harta yang dicakup dalam surat wasiat itu tak boleh lebih dari 1/3 harta waris.

Maka memiliki Program Asuransi -sejauh ini – adalah Solusi paling tepat untuk memastikan Harta Waris itu jatuh : TEPAT JUMLAH, TEPAT SASARAN dan BEBAS SENGKETA.

Meninggalkan generasi penerus yang kuat, adalah lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kondisi lemah.

Itu saja.  (SUMBER)

Asuransi Itu Bukan Tabungan, Tapi Kumpulan Sumbangan

Gambar asuransiBanyak orang terheran-heran, mengapa asuransi bisa memberikan manfaat proteksi yang begitu besar dibandingkan premi yang dibayarkan. Misalnya premi 1 juta per bulan, baru bayar 1 kali lalu kena musibah bisa dapat  uang 1 miliar.

Kedengarannya asuransi itu too good to be true. Terlalu bagus untuk bisa dipercaya. Kok bisa?

Jawabnya: karena asuransi bukan tabungan.

Kalau tabungan,  sampai mati pun sangat kecil kemungkinannya uang 1 juta tiap bulan bisa menjadi 1 miliar, karena untuk itu butuh waktu 1000 bulan alias 83 tahun.

Kalau bukan tabungan, lalu apa?

Asuransi adalah kumpulan sumbangan. Anda menyumbang dan ribuan orang lainnya menyumbang. Maka dalam sekejap terkumpul uang dalam jumlah yang banyak, yang siap-siaga untuk dikeluarkan jika sewaktu-waktu ada penyumbang yang butuh bantuan.

Mungkin saja di antara yang butuh bantuan itu anda. Maka jika anda ingin dibantu, membantulah lebih dahulu. Inilah baru fair namanya.

Orang yang di saat masih sehat tidak mau ikut asuransi, tapi setelah terasa sakit baru tergerak ikut asuransi, hakikatnya adalah orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Ingin dibantu ketika sakit, tapi tidak mau membantu ketika sehat. Di asuransi pemerintah (BPJS), hal seperti ini dimungkinkan. Banyak orang yang ketika sehat tidak mau ikut program JKN dari BPJS, tapi ketika sudah sakit barulah daftar BPJS. Hal semacam ini tidak dimungkinkan di asuransi swasta.

Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Konsep asuransi sebagai kumpulan sumbangan disebutkan secara eksplisit dalam asuransi syariah, dan implisit dalam asuransi konvensional. Dalam asuransi syariah, peserta asuransi mengadakan perjanjian dengan para peserta lainnya untuk saling tolong-menolong (ta’awun) dengan bersama-sama mengumpulkan dana hibah yang disebut tabarru. Dana tabarru merupakan milik para peserta, digunakan hanya untuk membantu para peserta yang mengalami musibah yang dipertanggungkan, dan tidak bisa digunakan untuk keperluan lain. Sedangkan pihak perusahaan asuransi hanyalah sebagai pengelola yang mendapat imbalan atas dasar akad wakalah bil ujrah.

Dalam asuransi konvensional, kata-kata semacam tolong-menolong tidak disebutkan secara eksplisit, tapi sebetulnya semua orang sama-sama tahu bahwa uang yang dipakai perusahaan asuransi untuk membayar klaim sebetulnya berasal dari kumpulan premi para nasabah. Bedanya dengan asuransi syariah, status uang tersebut telah menjadi milik perusahaan, sehingga secara prinsip perusahan berhak menggunakannya untuk apa saja atau mau diinvestasikan ke mana, yang penting ketika nasabah hendak klaim uangnya ada.

Demikian. [Artikel ini dimuat juga di myallisya.com]

Silakan dibaca pula beberapa artikel yang relevan dengan topik ini:

Adapun produk asuransi syariah yang tersedia di Allianz ada dua:

  1. Tapro Allisya Protection Plus: asuransi jiwa jenis unit-link dengan manfaat lengkap: asuransi jiwa, rawat inap cashless, rawat inap reimburse, penyakit kritis, kecelakaan/cacat, dan pembebasan premi.
  2. Allisya Care: asuransi kesehatan rawat inap cashless, murni tanpa investasi.

Untuk berdiskusi tentang asuransi, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan [Business Partner]

HP/WA: 082111650732 | email: myallisya@gmail.com | Blog: myallisya.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Jadi agen asuransi Allianz sejak November 2011

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Iklan bisnis

Manfaat Berasuransi Sejak Muda VS Saat Tua

Kata siapa yang memiliki asuransi hanya orang yang sudah menikah, punya anak banyak, dan sudah mapan ekonomi saja? Ternyata masih banyak masyarakat muda yang berpikir asuransi untuk orang tua saja dan menganggap asuransi itu belum penting. Apakah kamu salah satunya?

Seberapa pentingkah memiliki asuransi ketika masih muda?

Ternyata pemahaman asuransi di kalangan masyarakat muda masih cukup rendah, mereka beranggapan asuransi hanya untuk orang yang sudah menikah atau yang sudah menjadi orang tua. Mereka berpendapat bahwa seseorang yang masih muda apalagi belum berkeluarga , belum memerlukan untuk memiliki Asuransi.

Sebenarnya persepsi seperti itu kurang tepat karena pada dasarnya setiap orang memerlukan perencanaan untuk melindungi rencana yang telah di susun sebelumnya. Ketika perencanaan yang telah kita lindungi sedini mungkin, kita dapat merasakan hasilnya dan menikmatinya pada saat semakin beranjak usia dan telah memasuki masa pensiun.

 

 

Hampir setiap orang tentu memiliki rencana untuk tetap memiliki badan yang sehat serta umur yang panjang sehingga dapat melihat pertumbuhan anak dan cucu kita. Namun apakah itu semua bisa di capai?

Kita pasti sepakat bahwa tidak akan ada yang dapat memastikan risiko kapan akan terjadi, mungkin akan terjadi nanti atau terjadi sekarang, kita tidak pernah akan tahu itu. Maka  di sinilah pentingnya memiliki asuransi sedini mungkin karena dengan memiliki asuransi, kita dapat mengalihkan risiko keuangan yang muncul kapanpun dan dimanapun.

Sama halnya ketika membeli mobil baru, kita akan memastikan bahwa aset tersebut sudah di lindungi oleh asuransi sehingga jika terjadi risiko, kita sebagai pemilik mobil mendapatkan ganti ruginya. Dari situlah kita mendapatkan jawabannya, kenapa kita masih berpikir berkali-kali untuk melindungi kita dari berbagai risiko? Sederhananya, sekarang mungkin kita masih single tapi kemungkinan bahwa kedepannya kita akan memiliki keluarga yang perlu di lindungi.

Dengan perkembangan gaya hidup masyarakat di jaman modern ini pun juga mendorong kita untuk memiliki kehidupan yang tinggi, seperti minum-minuman beralkohol, addicted dengan coffee, makanan yang tidak sehat, dan masih banyak lagi. Dari gaya hidup sepertilah yang membuat risiko sakit bisa datang kapan saja, hingga kita belum ada persiapan untuk mencegahnya.

Allianz memiliki solusi untuk kebutuhan Anda, Allianz memiliki asuransi jiwa dan asuransi kesehatan yang dapat membantu Anda untuk melindungi rencana masa depan Anda.

Di bawah ini adalah contoh ilustrasi dari Allianz Syariah untuk proteksi keuangan pada usia muda (25th) dan usia mapan (45th):

Tn Masihmuda, 25th, tidak merokok, kerja dalam ruangan.  Premi = 500rb perbulan. Manfaat:  Warisan = 500 juta, santunan terhadap 100 sakit kritis = 600 juta, santunan kecelakaan = 200 juta, santunan cacat tetap total = 200 juta, gratis premi dan dibayarkan Allianz jika sakit kritis.

 

 

Bapak Sudahmapan Ekonomi, 45th, tidak merokok, kerja dalam ruangan.  Premi = 2 juta perbulan. Manfaat:  Warisan = 500 juta, santunan terhadap 100 sakit kritis = 600 juta, santunan kecelakaan = 200 juta, santunan cacat tetap total = 200 juta, gratis premi dan dibayarkan Allianz jika sakit kritis.

 

Perhatikan ke2 ilustrasi di atas.  Ternyata untuk mendapatkan manfaat proteksi yang sama, nasabah dengan usia muda bisa mendapatkan premi yang lebih ekonomis. Nasabah dengan usia mapan harus membayar premi lebih mahal untuk mendapatkan manfaat proteksi yang sama persis dengan nasabah muda tersebut.

Faktanya, saat usia mapan, tentu manfaat proteksi yang dibutuhkan akan berbeda dengan nasabah muda tersebut.  Biasanya nasabah usia mapan membutuhkan persiapan warisan yang lebih besar  (di atas 1 Miliar) untuk anak istrinya, lalu proteksi terhadap sakit kritis juga butuh UP (Uang Pertanggungan) yang lebih besar (di atas 2 Miliar) karena usia mapan cenderung sudah mulai ada keluhan kesehatan, yang mungkin disebabkan akibat gaya hidup saat muda dulu.  Dengan kebutuhan proteksi yang lebih besar ini, maka premi yang dibayarkan akan lebih besar juga.

 

Masih berpikir Asuransi tidak penting?

Mulailah untuk memikirkan rencana keuangan Anda di masa depan dan bagaimana cara melindungi masa depan keuangan Anda dan keluarga Anda nantinya.

 

 

Dapatkan konsultasi GRATIS tentang asuransi Allianz Syariah, hubungi saya:

Estri Heni,  WA:  0817 028 4743

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SUMBER

Mana Lebih Baik: Meninggalkan Cicilan Atau Meninggalkan Warisan?

Adalah Bapak Bijak, seorang ayah luar biasa yang sangat mencintai keluarganya.  Saat masih sehat, masih produktif, banyak sekali impian yang ingin diwujudkan bersama keluarga tercinta.  Bapak Bijak dengan senang hati dan penuh suka cita menyisihkan dana untuk tabungan pendidikan anak, berinvestasi untuk masa tua, menyiapkan dana liburan, menyiapkan dana perjalanan ibadah, dll. Untuk hal ini, Bapak Bijak melakukan investasi di berbagai instrumen investasi.  Sesuai dengan tujuan investasinya.

Tidak lupa pula Bapak Bijak harus menyesuaikan kebutuhan hidup seperti membeli rumah yang lebih besar untuk menampung anggota keluarga yang bertambah, misalnya.  Belum mampu membeli rumah secara tunai, sekarang ada skema cicilan Syariah, yaitu mencicil langsung ke developer.  Guna mempercantik interior rumah, sang istri tercinta pun membeli pernak pernik rumah dan elektronik dengan cara mencicil.  Untuk memudahkan transportasi, Bapak Bijak juga mencicil beli kendaraan.

Gaya hidup serba instan saat ini, ditambah effort kerja luarbiasa, sering melenakan, sehingga terlewat untuk tetap berpola hidup sehat.  Bapak Bijak sering melewatkan waktu makan siangnya karena sangat serius bekerja.  Seringkali perutnya hanya diisi dengan minuman ringan bersoda yang mudah didapat.  Support lingkungan pun semakin minim:  menjamurnya restoran cepat saji, debu dan polusi, asap rokok, minuman dan makanan berpengawet, dll.  Sehingga potensi terjadinya resiko sakit kritis bisa terjadi pada usia yang lebih muda.

Karena rasa cinta dan sayangnya yang begitu besar terhadap keluarga, Bapak Bijak begitu memanjakan keluarganya dengan fasilitas kemudahan yang bisa didapat keluarganya.  Rasa sayang keluarga tersebut ditunjukkan dengan cara kerjanya yang luarbiasa.  Sehingga Bapak Bijak terlupa menjaga kesehatan dirinya.  Beliau jatuh sakit, yang bukan sakit biasa.  Beliau mengalami sakit kritis.

Selama menjalani pengobatan terhadap sakit kritisnya, sang istri mengandalkan asuransi kesehatan dari kantor yang ternyata ADA LIMITnya.  Ternyata hanya cukup untuk mengganti biaya pengobatan selama di RS saja.  Selama perawatan di rumah, sang istri mengandalkan investasi yang dimiliki.  Bapak Bijak mengalami sakit kritis menyebabkan penghasilan berhenti.  Namun kebutuhan biaya hidup sehari-hari tidak berhenti.  Untuk tetap dapat hidup layak, sedikit demi sedikit, aset yang dimiliki terpaksa harus dijual.  Saat dana yang dimiliki sudah tidak mencukupi, sang istri hanya bisa pasrah karena sudah tidak ada biaya.

Perjalanan sakit kritis Bapak Bijak hanya bertahan beberapa tahun saja.  Sampai akhirnya Bapak Bijak harus pergi meninggalkan keluarga tercinta untuk selamanya.  Meninggalkan sejuta mimpi indah yang masih dalam rencana dan hanya berupa angan-angan untuk diwujudkan, serta meninggalkan sejumlah besar cicilan hutang yang harus diselesaikan oleh keluarganya.

Untunglah, kisah itu hanyalah cerita karangan saya semata.  Meskipun tidak dapat dipungkiri, kisah itu bisa juga terjadi di kehidupan nyata.  Ini adalah pesan tentang bagaimana mengatur rencana keuangan keluarga.  Menyiapkan dana untuk hal baik, dan juga dibarengi dengan strategi menyiapkan dana untuk hal terburuk dalam hidup.

Anda bisa berdiskusi dengan agen Asuransi Bersertifikasi mengenai bagaimana menyiapkan proteksi terhadap penghasilan Anda, selagi Anda masih sehat.  Kondisi sakit kritis, kecelakaan, cacat tetap total dan Tua, adalah kondisi “tidak menyenangkan” yang membutuhkan dana besar, dan Anda masih ada bersama keluarga tercinta.

Asuransi adalah proteksi terhadap penghasilan Anda, jika terjadi resiko hidup seperti:  Sakit Kritis, Kecelakaan, Cacat Tetap Totap, Meninggal, dan Tua.  Yaitu strategi rencana keuangan dimana finansial Anda tidak terganggu jika resiko itu terjadi.

Saya setuju dengan saran Perencana Keuangan untuk memisahkan investasi dan asuransi.  Silahkan Anda berinvestasi menyiapkan penghidupan yang layak bagi Anda dan keluarga SELAGI Anda masih bersama keluarga tercinta.  Jangan lupa barengi investasi Anda dengan BERASURANSI.  Karena asuransi adalah menyiapkan penghidupan yang layak bagi keluarga tercinta WALAUPUN Anda sudah tidak bersama mereka lagi.

Di bawah ini adalah contoh proteksi penghasilan milik Bapak Bijak, usia 30th, tidak merokok, kerja dalam ruangan.

#1.   Proteksi Lengkap Penghasilan Bpk Bijak:

Premi = 1.5 juta perbulan

Manfaat:

UP dasar                                   = 500 juta

UP termlife 75                         = 500 juta

Total UP jiwa = 1 Miliar

 

UP 49 sakit kritis                   = 500 juta

UP 100 sakit kritis                 = 500 juta

Total UP sakit kritis = 1 Miliar

 

UP kecelakaan                      = 500 juta

UP cacat tetap total             = 500 juta

Manfaat rawat inap plan 1000

Manfaat Payor (stop premi jika terdiagnosa sakit kritis/cacat tetap total, dan premi selanjutnya dibayarkan Allianz sampai usia nasabah seolah-olah 65th)

Ada nilai tunai

 

#2.  Jika Bapak Bijak bertujuan menyiapkan warisan melalui asuransi jiwa:

Premi = 850 ribu perbulan

Manfaat:

UP dasar                                            = 700 juta

UP termlife 75                                 = 1.8 Miliar

Total UP jiwa = 2.5 Miliar

 

Kesimpulan:

Bapak Bijak, 30 th, dengan menyisihkan 1.5 juta perbulan untuk asuransi jiwa, mendapatkan manfaat proteksi total = 3 Miliar + manfaat rawat inap plan 1000 + manfaat bebas premi + ada nilai tunai

atau, jika Bapak Bijak, 30th, menyisihkan 850 ribu perbulan untuk asuransi jiwa, artinya Bapak Bijak sudah menyiapkan warisan untuk anak istrinya sejumlah = 2.5 Miliar + nilai tunai.

Pertanyaan:

Apa manfaat dari berasuransi?

  1. Melindungi keluarga dari kehilangan penghasilan jika pencari nafkah utama meninggal dunia. (Ingat, malaikat Izrail tidak pernah menghitung usia Anda).

Ini fungsi pokok dari asuransi jiwa. Selama kita punya tanggungan nafkah (pasangan, anak-anak), selama itu pula kita masih butuh asuransi jiwa.

Agar asuransi jiwa mampu memainkan fungsinya sebagai ganti penghasilan, maka uang pertanggungan (UP) jiwa harus cukup besar untuk memberikan bunga/retur sebesar gaji per bulan jika didiamkan di deposito, obligasi/sukuk, atau reksadana pendapatan tetap.

  1. Melindungi keluarga dari beban utang.

Mungkin rumah yang kita tempati, kendaraan yang kita pakai, barang-barang yang kita miliki, dan lain-lain, sebagian atau seluruhnya diambil dari utang. Utang adalah warisan terburuk yang mungkin diberikan seorang suami dan ayah. Utang bukan hanya membebani keluarga yang ditinggalkan, tapi juga orang yang mewariskannya, sebab di akhirat pun utang tidak akan dianggap lunas begitu saja.

Agar asuransi jiwa berperan membebaskan keluarga dari utang, maka UP jiwa minimal harus sama besar dengan utang yang dimiliki keluarga itu.

  1. Memberikan sejumlah warisan yang berharga untuk anak-anak.

Para perencana keuangan kerap menyarankan batas masa kontrak asuransi jiwa hanya sampai tahap ketika anak-anak sudah mandiri atau sampai utang terlunasi. Mungkin ini yang wajibnya.

Tapi merencanakan asuransi jiwa sebagai warisan pun tak kalah penting.  Bagi keluarga sederhana, dimana penghasilan mereka masih pas-pasan, sehingga belum bisa beli rumah atau kendaraan. Sekarang harga rumah mahal. Mungkin mereka sanggup membayar cicilannya, tapi untuk uang mukanya tidak.  Adanya warisan, termasuk dari uang pertanggungan asuransi jiwa, akan sangat membantu mewujudkan kebutuhan ataupun keinginan mereka, suatu saat. Kalaupun UP jiwa tidak cukup untuk beli rumah secara kontan, minimal bisa buat uang mukanya.

Bagi keluarga superkaya pun, asuransi jiwa sebagai warisan, tetap bernilai penting.  Contoh:  pemilik perusahaan punya 2 anak dewasa dan mandiri.  Dari 2 anak ini, hanya 1 orang yang berkompeten melanjutkan perusahaan Ayahnya.  Dengan punya asuransi jiwa yang pertanggungannya sebesar nilai asset perusahaan, maka pertanggungan ini dapat diwariskan pada anak  yang kurang kompeten melanjutkan perusahaan.  Jadi perusahaan tidak perlu dibagi 2. Tiap anak mendapat nilai warisan yang sama.

Walaupun usia anak 55 tahun, apakah si anak akan menolak warisan ini?

Yakinlah, anak-anak akan sangat berterima kasih kepada orangtua yang tetap mengasuransikan jiwanya walaupun mereka telah dewasa.

  1. Sebagai final expenses (biaya kematian).

Meninggal dunia itu butuh biaya. Untuk upah orang yang memandikan, untuk pemakaman, makanan ringan untuk orang-orang yang melayat, untuk tahlilan, mencetak buku Yasin, mengurus sertifikat kematian, dan lain-lain. Apalagi di perkotaan, tanah pemakaman harganya mahal, bisa jutaan rupiah hanya untuk sewa selama tiga tahun. Dan biaya tahlilan itu, bagi yang melaksanakannya, lebih mahal lagi.

Pilihannya ada dua: apakah mau menyuruh anak-anak untuk membayar semua biaya itu, atau mempersiapkan sendiri mumpung masih hidup. Asuransi jiwa dapat dipandang sebagai salah satu cara mempersiapkan biaya terakhir hidup kita.

  1. Menjadi sedekah jariyah untuk terakhir kalinya.

Ini fungsi tambahan asuransi jiwa yang jarang dikemukakan para perencana keuangan. Jika fungsi pertama sudah lewat (anak sudah mandiri), fungsi kedua sudah berlalu (utang sudah lunas), dan begitu pula fungsi ketiga dan keempat (anak-anak sudah sangat kaya sehingga tidak butuh warisan apa pun dari orangtuanya dan tak masalah dengan final expenses), maka UP jiwa bisa saja disedekahkan kepada orang miskin, masjid, lembaga amal, atau kegiatan sosial. Ini akan menjadi amal ibadah terakhir bagi yang bersangkutan, mengurangi catatan dosa-dosanya, dan menerangi perjalanannya di alam keabadian.

 

Dengan memiliki asuransi jiwa Syariah di Allianz, Bapak Bijak sudah melakukan perencanaan keuangan dengan tepat.  Dengan cara mudah, yaitu menyisihkan sedikit penghasilannya untuk bersama peserta asuransi jiwa Syariah lainnya di Allianz, semua peserta saling tolong-menolong untuk membantu sesama peserta yang mengalami musibah. Berpahala dan mendapat keberkahan adalah tujuan akhirnya.

 

 

Bagaimana dengan Anda, mana yang Anda siapkan untuk diberikan kepada keluarga tercinta kelak:

Meninggalkan cicilan (rumah, kendaraan, dll) atau meninggalkan warisan ?

 

 

 

 

 

 

 

 

Konsultasi asuransi GRATIS, hubungi:

Estri Heni   |  WA: 0817 028 4743