Catat! Asuransi Itu BUKAN Menabung

 

Menabung adalah menyisihkan sebagian penghasilan dengan tujuan menyimpan dana untuk kemudian digunakan lagi.  Contoh: menyimpan uang di bank, di celengan ayam, atau di bawah kasur. Dalam menabung, Anda tidak bisa mengharapkan uang Anda berkembang.  Anda hanya akan mendapati uang Anda akan bertambah jumlahnya, dengan catatan: uang yang disimpan harus ditambah terus jumlahnya dan tidak diambil dulu.  Contoh: menabung 1000 menjadi 10.000 menjadi 20.000 menjadi 30.000 menjadi 40.000 menjadi 50.000 dan seterusnya.

Menabung biasanya mempunyai tujuan jangka pendek.  Menyimpan uang untuk digunakan kembali, sebagai biaya hidup harian, keperluan bulanan, dan seterusnya.

Investasi adalah menyisihkan sebagian penghasilan dengan tujuan mengembangkan dana.  Dulu, untuk berinvestasi kita harus siapkan modal besar, seperti investasi tanah, investasi properti, investasi saham, dll.  Saat ini, berinvestasi bisa lebih mudah dan ringan.  Contoh: investasi reksadana yang bisa dimulai dengan uang 100 ribu rupiah, atau investasi logam mulia yang bisa dimulai dengan 0.5 gram.

Asuransi adalah proteksi.  Fungsi asuransi adalah: melindungi penghasilan Anda dari dampak keuangan yang buruk. Yaitu menjaga agar penghasilan Anda tidak terganggu dan impian masa depan yang indah dan sejahtera tetap bisa terwujud, apabila terjadi musibah pada diri Anda. Penghasilan Anda aman/utuh, keluarga Anda tidak terganggu, tetap bisa hidup layak walau musibah sakit kritis menimpa Anda.

+  Loh, kan ada tuh asuransi yang ada tabungannya?

++  Benar, ada jenis asuransi yang karakteristiknya gabungan antara proteksi + investasi, yaitu asuransi jenis unitlink.

+  Nah, ada investasi berarti ada uang yang berkembang, berarti bisa diambil dong.

++  Fungsi investasi di asuransi jenis unitlink adalah:

1. Membayar biaya-biaya asuransi

Ini adalah fungsi dasar dari unsur investasi pada unit link. Biaya-biaya asuransi unit link meliputi biaya akuisisi (dikenakan di 5 tahun pertama), administrasi, tabarru atau cost of insurance, dan biaya pengelolaan investasi.

2. Membuat premi menjadi flat

Pada unit link, pada awalnya kita membayar premi lebih besar dari biaya-biaya asuransinya. Tapi hal ini akan meringankan kita di masa depan, karena nilai investasi yang terbentuk akan membayari biaya-biaya asuransi sehingga premi menjadi flat (tetap, tidak naik) sampai akhir masa kontrak. (Contoh penggunaan fungsi ini bisa dilihat di 355 Ribu Per Bulan Dapat UP 1 M, Mau?)

3. Memperpendek masa pembayaran premi

Dengan adanya unsur investasi yang berfungsi membayari biaya-biaya asuransi, maka masa pembayaran pun bisa menjadi lebih pendek. Dengan pengaturan premi dasar dan top up yang tepat, masa bayar unit link bisa direncanakan agar cukup 10 tahun. Seterusnya proteksi akan terus berjalan bersamaan dengan berkembangnya nilai investasi.

4. Mengembangkan dana

Selayaknya investasi lainnya, investasi pada unit link pun merupakan satu bentuk pengembangan dana agar tumbuh berlipat ganda dari modal awal. Jika unit link ditujukan untuk mengembangkan dana, maka alokasi premi top up harus diperbesar.

 

Jika Anda membayar premi asuransi dengan tujuan ada dana tertentu yang bisa diambil, contoh: premi 1 juta sudah bayar 10 kali, maka tersedia dana 10 juta dan bisa diambil 10 juta atau separohnya ==> ini pemahaman yang kurang tepat.  Idealnya, nilai investasi di asuransi bukan ditujukan seperti menabung yang bisa diambil kapan saja, berapa saja.  Boleh diambil dana yang terbentuk, namun hendaklah sebagian saja.  Dan saat Anda sudah ada rejeki lebih, disarankan untuk melakukan topup kembali sejumlah nilai tunai yang Anda ambil sebelumnya.  Tujuannya apa?  Kembali pada 4 fungsi investasi di asuransi unitlink di atas.

 

Asuransi BUKAN menabung.  Anda setor premi 1 juta perbulan.  Dalam 2 tahun hitungan Anda adalah 1 juta x 24 bulan = 24 juta.  Dalam 5 tahun, harapan Anda tersedia dana 60 juta.  Mohon maaf, Anda akan KECEWA.  karena dalam asuransi unitlink, tidak berlaku matematika demikian.

Dalam asuransi unitlink, ada yang namanya biaya akuisisi, dan ini berlangsung dalam 5 tahun pertama.  Pada produk Tapro Syariah, begini detilnya:

Biaya akuisisi dan pemeliharaan (dipotong dari premi berkala dasar; top up tidak dihitung). Tahun 1: 75%

Tahun 2: 40%

Tahun 3: 15%

Tahun 4: 7,5%

Tahun 5: 7,5%

Tahun 6 dst: 0%

Total: 145%

 

 

Sedangkan untuk investasinya, begini detilnya:

Alokasi investasi (dihitung dari premi berkala dasar) Tahun 1: 25%

Tahun 2: 60%

Tahun 3: 85%

Tahun 4: 92,5%

Tahun 5: 92,5%

Tahun 6 dst: 105,26%

 

 

Jadi, jika Anda berharap investasi yang terbentuk bisa setara dengan jumlah premi yang disetorkan, belum tentu.  Hal ini juga tergantung pada manfaat proteksi apa saja yang Anda ambil, berapa besarnya Uang Pertanggungan (UP) yang ingin Anda siapkan, dan disesuaikan juga dengan kemampuan finansial Anda untuk membayar premi asuransi.  Hal ini bisa didiskusikan dengan agen Anda di awal pada saat Anda meminta proposal/ilustrasi.  Pastikan agen Anda sudah bersertifikasi, sudah berpengalaman, masih aktif, mengerti kebutuhan proteksi Anda dan kemampuan finansial Anda, memahami produk dengan baik.

Klik artikel iniTips Memilih Agen Asuransi Online

Ketika Anda ingin berasuransi, kembalikan pada tujuan asuransi yaitu:  Proteksi.  Silahkan diskusi dengan agen Anda bahwa Anda membutuhkan proteksi maksimal dengan premi yang terjangkau.

Nilai investasi yang terbentuk di asuransi, janganlah dijadikan tujuan utama Anda berasuransi.  Anggap saja nilai investasi tersebut sebagai bonus Anda kelak, sebagai tambahan dana saat ahli waris melakukan klaim warisan (Uang Pertanggungan jiwa).

Ketika Anda menginginkan pengembangan dana, asuransi BUKAN tempat yang tepat.  Silahkan berinvestasi di instrumen investasi yang Anda pahami, agar hasil investasi bisa sesuai dengan kebutuhan finansial Anda.

Ketika Anda membutuhkan dana likuid, silahkan simpan uang Anda sebagai tabungan.

 

 

 

Konsultasi GRATIS tentang asuransi Allianz Syariah, hubungi:

ESTRI HENI  |  WA:  0817 028 4743 

Iklan

Pengalaman Bersama “Allianz Hospital Assistant” (AHA)

Pengalaman nasabah dari Pak Asep Sopyan
SBP Allianz

 

 

AHA (Allianz Hospital Assistant) sangat membantu nasabah.  Infonya DISINI.

Kemarin (18 Oktober 2017) satu nasabah saya melakukan operasi amandel.   Nasabah memanfaatkan kartu cashless dari produk Smartmed Premier di RS Harapan Bunda Jaktim. Klaim operasi sudah dijamin oleh Allianz.   Tapi RS menyarankan tambahan tes diagnostik untuk mengukur keganasan dari penyakit nasabah, dan RS membutuhkan biaya 1,4 juta.

Nasabah menghubungi saya apakah dia harus bayar 1,4 juta?

Lalu saya menelepon Allianz Care di 1500136 untuk menanyakan soal ini. CS berkata bahwa petugas AHA (Allianz Hospital Assistant) akan menghubungi saya setelah dia berkomunikasi dengan AdMedika.
Tak berapa lama, saya mendapat telepon dari petugas AHA, yang memberikan kabar baik bahwa tes diagnostik 1,4 juta sudah dijamin oleh Allianz.


Alhamdulillah.
Lalu saya infokan ke nasabah bahwa dia tidak perlu membayar 1,4 juta itu.
Dan tak lama kemudian, nasabah pun memberitahukan bahwa dia sudah ditelepon petugas AHA yang menginformasikan mengenai penjaminan tes diagnostik.


Alhamdulillah, beres. Nasabah nyaman, agen pun tenang.
Terima kasih Allianz.

 

 

 

Tidak Punya Tanggungan Hidup, Perlukah Berasuransi?

 

Tidak punya tanggungan hidup, berarti tidak ada orang yang harus ditanggung hidupnya oleh seseorang.  Orang yang ditanggung hidupnya itu bisa pasangannya atau anaknya atau orangtua nya ataupun kerabat lainnya.

Seseorang yang akan saya ceritakan kali ini adalah orang yang dekat di kehidupan saya.  Beliau adalah adik kandung dari ibu saya.   Sejak lulus sekolah, beliau diajak oleh Ayah untuk hidup bersama keluarga sembari menjajal peruntungan di ibukota.  Mungkin memang takdirnya bukan bekerja sebagai karyawan. Dengan keahliannya, beliau lebih nyaman berprofesi sebagai Driver freelance.  Siapapun yang butuh keahliannya, beliau siap membantu tanpa menentukan tarif.

Beliau tidak punya tanggungan hidup. Beliau tinggal bersama kami.  Makan, tidur, semua aktivitas hidup bersama kami. Sampai ibu saya menjanda pun, beliau masih bersama.  Ibu saya ikhlas menanggung beliau. Penghasilan beliau, biarlah menjadi tabungannya pribadi.

Saya pernah menawarkan asuransi sebagai proteksi untuk beliau.  Mengingat beliau tidak punya tanggungan hidup, penghasilan freelance nya amat riskan jika dijadikan “dana darurat” jika hal buruk terjadi, sementara ibu saya yang menanggung hidup beliau, juga hanyalah seorang janda yang tidak berpenghasilan.  Namun beliau menolak.  Alasannya klise: “saya masih sehat, tidak ada riwayat sakit berat dalam keluarga besar kita, dana saya terbatas, dan lagi toh saya tidak punya tanggungan yang harus diberi warisan”.  Saya rasa ditambah juga dengan minimnya pengetahuan beliau tentang bagaimana mengelola keuangan yang benar.  Beliau masih konvensional. Penghasilannya hanya ditabung di bank atau malah dibiarkan disimpan tunai di lemari pakaiannya.

Padahal jika beliau punya asuransi, maka ada beberapa hal yang bisa bermanfaat bagi beliau.  Apa saja?

  1. Akan mandiri secara finansial
  2. Tidak perlu merepotkan orang lain
  3. Fokus pada pelayanan pengobatan terbaik, biaya pengobatan biar asuransi yang urus
  4. Hasil kerja tidak sia-sia
  5. Tidak terjebak dalam riba
  6. Tidak meninggalkan hutang saat meninggal

 

Takdir memang tidak bisa ditolak, ataupun ditunda.  Punya asuransi bukan berarti menolak takdir.  Punya asuransi atau tidak, musibah tetap akan terjadi.  Bedanya, punya asuransi akan lebih membantu masalah keuangan yang timbul akibat musibah itu.

Jika Anda tidak percaya, tidak perlu meminta bukti. Cukuplah berpikir bijak dengan belajar dari pengalaman orang lain. Berikut pengalaman perjalanan hidup Paman saya, yang akan saya bagi.

Qadarullah, Pertengahan Juli 2017 kemarin, beliau terdiagnosis sirosis hepatis.  Padahal bertahun-tahun sebelumnya, beliau memang masih sehat, tidak tampak ada gangguan kesehatan, tidak ada keluhan kesehatan yang berat.

 

 

  1. Akan Mandiri secara finansial

Seseorang yang tidak punya tanggungan hidup, akan lebih fleksibel mengelola penghasilannya.  Pertama, tidak perlu pusing memberi nafkah rutin kepada orang yang menjadi tanggungannya, memikirkan biaya hidupnya seperti: biaya sekolah, biaya tagihan listrik/telepon, biaya kontrak rumah/kamar/kos, biaya cicilan barang, dll. Bebas saja, mau tinggal di kontrakan senyaman apapun atau sesederhana apapun, tidak akan ada yang protes.  Apalagi jika tinggal bersama kakak yang menyayanginya, malah bisa menghemat toh?

Kedua, mudah untuk menabung dan menginvestasikan sebagian besar dananya sebagai cara untuk mencapai tujuan hidup sejahtera pada masa tua kelak.  Ketiga, mudah untuk sisihkan sedikit penghasilannya untuk berasuransi.   Ini juga bebas saja, mau berapapun porsi dananya, tidak akan ada yang protes.

Ya, seseorang yang tidak punya tanggungan hidup memang bisa bebas mengelola penghasilannya.  Mau sekedar “dikeluarkan” atau mau diinvestasikan.  Namun jangan lupa juga untuk disisihkan sedikit saja dari penghasilannya sebagai upaya siapkan “dana darurat” jika resiko buruk terjadi dalam hidupnya.  Ini penting.  Memang, tidak ada tanggungan “langsung” yang akan direpotkan dalam hal tanggung jawab biaya hidup dalam urusan dunianya.  Tapi, rasa empati dan kekeluargaan dari kerabat tentu akan tetap membantunya.  Masalahnya:  seberapa besar para teman dan keluarga tercintanya akan bisa membantu keuangannya, jika yang terjadi adalah resiko buruk dan berat?

Fakta bahwa ada 5 golongan yang bisa membantu keuangan seseorang sewaktu kena musibah kecelakaan atau sakit kritis:

  • Sahabat dekat = bisa bantu 1 juta
  • Saudara dekat = bisa bantu 10 juta
  • Kakak Adik = bisa bantu 50 juta
  • Orangtua = bisa bantu 100 juta
  • 🙄🤔 ????? = bisa bantu 500 juta, 1 Miliar, 3 Miliar, 5 Miliar…. (disinilah asuransi berperan, yaitu disaat orang lain tidak ada yang mau dan mampu membantu keuangan seseorang)

 

2.  Tidak perlu merepotkan orang lain

Tidak punya tanggungan hidup berarti tidak ada orangtua atau pasangan atau anak yang menemani dan merawat saat beliau sakit. Maka kamilah para keponakannya yang bergantian menemani beliau selama dirawat di Rumah Sakit. Insya Allah kami ikhlas mengurangi waktu kami bersama anak-anak dan pasangan demi bisa menjaga beliau.  Namun saya tahu, dari sorot matanya, beliau juga ada rasa tidak tega melihat “pengorbanan kecil” kami.  Terbaca bahwa dalam hatinya, beliau juga tidak ingin merepotkan kami.  Tapi biarlah, kami tidak merasa direpotkan.  Hanya ini yang bisa kami lakukan. Membantu, mendampingi, memberikan semangat beliau terutama saat sakit, saat dirinya kepayahan dengan kondisi kesehatannya.

Saya tau dana beliau terbatas.  Jika beliau punya asuransi, maka beliau tidak perlu merepotkan orang lain untuk meminjamkan sejumlah uang untuk biaya pengobatan dirinya.

 

3.  Fokus pada pelayanan pengobatan terbaik, biaya pengobatan biar asuransi yang urus

Selama sakit, beliau sangat memahami kondisinya sendiri. Meminta saya untuk memindahkan beliau ke kamar perawatan kelas 3, menolak diberikan tindakan yang membuatnya merasa tidak nyaman. Aahhh… Permintaan beliau itu malah membuat saya sedih. Beliau mungkin memang tidak mau merepotkan saya, tidak mau membuat saya merasa terbebani biaya Rumah Sakit, tapi itu malah menyesakkan saya untuk berupaya maksimal bagi kesehatan beliau.

Dana beliau terbatas. Membuat beliau yang sedang sakit terpaksa masih harus selalu menyempatkan diri berpikir untuk menghemat biaya dan sangat membatasi dirinya sendiri untuk mendapatkan pengobatan dan fasilitas pelayanan kesehatan terbaik dan nyaman.

Jika beliau punya asuransi, beliau bisa fokus pada upaya pengobatan maksimal menggunakan fasilitas pelayanan terbaik.  Suasana nyaman tentu membuat pasien bisa tenang sehingga proses pengobatan bisa maksimal.

 

4.   Hasil Kerja Tidak Sia-sia

Jika beliau punya asuransi, maka hasil kerja beliau tidak akan sia-sia.  Sebagian kecil penghasilannya disisihkan untuk asuransi sebagai proteksi saat resiko terjadi.  Sebagian besar penghasilannya bisa diinvestasikan.

Sehingga di kala sehat, beliau tetap akan bisa membantu kerabat beliau lainnya yang sedang membutuhkan bantuan dana (bagian ini sering menjadi upaya terakhir kerabatnya saat butuh dana, yaitu menghubungi beliau, pinjam uang, dikembalikan tanpa bunga 😊, dan beliau akan senang hati meminjamkannya jika memang tujuannya baik dan kebutuhannya mendesak).

Dan saat beliau sakit, beliau tidak harus menggunakan uang hasil kerjanya itu untuk biaya pengobatan sirosis hepatis yang diderita.  Cukup gunakan fasilitas cashless dari asuransi kesehatan saat rawat inap di RS.  Dan uang tunai proteksi sakit kritis yang bisa bermanfaat untuk menggantikan pengeluaran keuangan di luar RS.

Sayangnya, beliau tidak punya BPJS, apalagi asuransi pribadi.  Sehingga setelah tau kondisi kesehatan beliau butuh penanganan lama, barulah mau bikin BPJS.  Namun sebelum BPJS jadi, takdir berkata lain…

 

5.   Tidak Terjebak Dalam Riba

Saat butuh dana besar untuk perawatan rumah sakit, namun tidak ada saudara atau kerabat yang mampu meminjamkan uang, maka beliau tidak perlu pinjam uang melalui lembaga keuangan yang ada ribanya.  Dengan memiliki asuransi, hal ini bisa dihindari.

Dalam kasus beliau, saya bersyukur beliau belum sampai harus terjebak riba.  Karena beliau sudah keburu berpulang pada pertengahan Agustus 2017. Innalillahi wa innailaihi rojiuun…

 

6.  Tidak Menyisakan Hutang Saat Meninggal

Dalam kasus beliau, saya bersyukur beliau belum sampai harus berhutang.  Insya Allah kami, para keponakan dan juga ibu saya, masih bisa bekerjasama membantu.  Sampai akhirnya beliau sudah keburu berpulang pada pertengahan Agustus 2017. Innalillahi wa innailaihi rojiuun…

Akan berbeda kondisinya jika beliau masih diberi umur oleh Allah, dengan kondisi kesehatan seperti itu, bisa jadi akan ada kemungkinan timbulnya hutang demi bisa mendapatkan pengobatan terbaik.

Sebagai informasi, sirosis hepatis adalah gangguan kesehatan dimana organ hati menjadi keras dan bisa mengecil atau membesar.  Kondisi ini tidak bisa diperbaiki, hanya bisa diatasi dengan transplantasi hati.  Sehingga dengan mengacu pada pedoman pengobatan kasus Sirosis Hepatis Internasional, dokter hanya  akan memberikan suplemen saja untuk membuat pasien merasa nyaman.  Saat nyaman, pasien bisa pulang.  Saat kondisi drop, pasien harus rawat inap.  Begitu seterusnya sampai pasien bosan dengan pola pengobatan yang “begitu-begitu saja” dan sudah tidak mampu bertahan lagi.

Walaupun tidak punya tanggungan, tapi jika sampai berhutang dan menyisakan hutang saat meninggal, bagaimana pertanggungjawabannya?  Poin 2 di atas akan terjadi.  Yaitu akan merepotkan kerabat lainnya.  Repotnya bagaimana? Karena jadi harus ada kerabatnya yang membayarkan hutangnya.

Jika seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan utang, dan kerabatnya tidak mampu melunasi, maka sampai di akhirat pun utang tersebut tetap wajib dibayar. Dibayar dengan apa? Dengan amal baik, itu pun jika ada.

Mungkin saat ini Anda tidak punya utang dan bertekad tidak akan berutang kepada siapa pun.  Tapi jika mengalami sakit berat, mungkin saja tekad itu harus dibatalkan.

 

 

Artikel ini bukan sekedar teori rencana keuangan ataupun teori marketingnya agen asuransi.  Kali ini Anda mendapatkan lagi 1 pengalaman nyata, yaitu pengalaman hidup dari orang lain.  Masih penasaran dan tidak percaya karena belum mengalaminya?  Saya yakin Anda cukup bijak untuk memilih: tidak perlu mengalami untuk tau bagaimana rasanya.

Silahkan hubungi saya, agen Asuransi Allianz Syariah berlisensi, untuk diskusi mengenai bagaimana merencanakan keuangan terbaik sebagai proteksi terhadap penghasilan Anda.

Mari sisihkan sedikit penghasilan Anda untuk berasuransi.  Pilih yang Syariah, karena Syariah menentramkan.

 

Estri Heni  || WA: 0817 028 4743

 

 

 

 

Kehilangan Sedikit Atau Kehilangan Banyak, Yang Mana Pilihan Bijak Anda?

Contoh kasus.  Berdasarkan tabel premi sakit kritis 1 Miliar, maka untuk profil:

Pria 30th.

Premi = 500rb perbulan

Manfaat:

UP dasar       = 200 juta

UP 49 sakit kritis   = 500 juta

UP 100 sakit kritis     = 500 juta

(Total UP sakit kritis = 1 Miliar)

Manfaat payor

 

Saya setor premi 500 ribu perbulan, dalam 10 tahun berarti saya keluar dana 60 juta untuk dapat proteksi sakit kritis sebesar 1 Miliar.  Jika dalam 10 tahun itu saya tidak sakit kritis, UPnya tidak cair ya? Wah, saya rugi 60 juta dong ya….

 

Penjelasan:

Pertama, meluruskan pemahaman bahwa Asuransi = proteksi.

Asuransi bukanlah masalah untung-rugi.  Menjadi untung, jika sudah beli asuransi, lalu terjadi sakit kritis, ada Uang Pertanggungan yang cair.  Menjadi rugi, jika sudah beli asuransi, tapi tidak terjadi sakit kritis, tidak ada Uang pertanggungan yang cair, premi yang dibayarkan menjadi “terasa” hangus.

Mari kita sama-sama meluruskan pemahaman ini.  Mari kita membuka wawasan diri dengan pemahaman yang lebih baik, yaitu bahwa Asuransi Jiwa adalah salah satu bagian dari beberapa rencana keuangan keluarga Anda.  Jika Anda sudah mengatur pos-pos pengeluaran rutin bulanan, kini saatnya Anda menambah alokasi pos untuk premi asuransi.  Tidak ada dana lebih untuk asuransi?  Tidak masalah, Anda bisa mengurangi biaya di pos “gaya hidup”.  Kurangi biaya “gaya hidup” Anda, untuk memaksimalkan biaya hidup.  Lebih detil untuk ini, silahkan googling ya.

Memiliki asuransi jiwa merupakan ikhtiar/upaya untuk menyiapkan dana tunai jumlah besar, dengan menyisihkan hanya sebagian kecil dari penghasilan Anda.  Setuju ya?

Kedua.  Kita tidak pernah tau apakah resiko hidup tersebut (contohnya: sakit kritis) akan datang pada kita?  Bisa ya, bisa tidak.  Kita tidak pernah tau kapan resiko tersebut bisa terjadi?  Mungkin saat usia senja, mungkin malah saat usia produktif.  Kita juga tidak bisa pilih-pilih resiko, maunya kalau sakit tuh hanya sakit pilek saja lah, sakit jantung stroke kankernya terjadi kepada si Fulan saja….  Kita tidak bisa seperti itu.  Menjadi sakit adalah takdir Allah SWT yang tidak bisa ditolak, harus diterima, dan tetap disyukuri.

Yang bisa kita siasati di awal adalah bagaimana strategi kita dalam mengatur rencana keuangan keluarga kita (baca kembali poin pertama).

Lanjut.  Katakanlah usia Anda saat ini 30th.  Anda menerapkan pola hidup sehat, sehingga sampai usia 40 tahun kondisi kesehatan Anda tetap prima.  Hal ini wajar bukan?  Secara umum diketahui bahwa usia non produktif itu adalah setelah masa pensiun, sekitar usia 55 tahun lebih.  Secara umum, justru pada usia senja tersebutlah baru muncul gejala penurunan kondisi kesehatan.  Ini juga dianggap wajar, karena demikianlah yang terjadi di sekitar kita.

Nah, yang dianggap belum wajar itu yang bagaimana?  Yaitu yang mengalami gejala penurunan kondisi kesehatan pada usia produktif!  Belum bisa dianggap wajar, namun saat ini faktanya demikian.  Contoh yang semua orang tau, tentunya kisah hidup artis muda Indonesia.  Masih muda, namun sudah mengalami sakit kritis.

Anda sudah menerapkan pola hidup sehat, tapi lingkungan sekitar tidak mendukung.  Menjamurnya restoran cepat saji, outlet penjual kopi, makanan instan yang mudah didapat di warung dekat rumah, sayur dan buah organik yang harganya malah lebih mahal, pola hidup tetangga Anda yang kurang sehat, tetangga Anda buang ludah sembarangan, dan sebagainya…  Hal sepele, namun sedikit banyak tentu bisa memberikan dampak juga bagi kesehatan Anda.

Hal penting untuk dipertimbangkan:

Jika selama ini Anda menyisihkan sedikit dari penghasilan Anda untuk ditabung, atau diinvestasikan, pasti tujuannya untuk kebahagiaan Anda, bukan?  Untuk masa depan anak, pendidikan anak, liburan, perjalanan ibadah, dll.  Sudahkah Anda menyisihkan sedikit penghasilan Anda untuk tujuan meminimalkan dampak buruk keuangan keluarga Anda, jika terjadi resiko hidup yang tidak diinginkan?  Inilah yang dimaksud dengan asuransi sebagai salah satu bagian dari beberapa rencana keuangan keluarga.

Jika dalam 10 tahun ke depan, Anda tidak mengalami sakit kritis, Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Sungguh, saya pun selalu mendoakan agar saya dan semua nasabah saya senantiasa diberi nikmat kesehatan oleh Allah, agar kita semua dapat beraktifitas, dapat berkarya, dapat berpenghasilan, dapat menyisihkan penghasilan untuk ditabung.  Aamiin…  Semua hasil dari upaya yang kita kerjakan adalah bertujuan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik, bagi diri kita dan anak-anak kita.  Setuju ya?

Ketiga, pemahaman tentang konsep asuransi jiwa Syariah.  Pada asuransi Syariah, premi yang disetorkan kepada Perusahaan Asuransi (sebagai pengelola dana) adalah Dana Tabarru atau Dana Kebajikan.  Semua peserta asuransi Syariah mengeluarkan dana tabarru.  Dana Tabarru ini dikumpulkan dalam rekening terpisah yaitu rekening Tabarru.  Jika seorang nasabah mengalami resiko, maka diambillah Dana Tabarru ini sebagai Uang Pertanggungan.  Memiliki asuransi syariah, artinya secara otomatis kita melakukan sedekah rutin setiap bulannya (mengikuti cara bayar), dan juga bisa ikut membantu peserta lain yang tertimpa musibah.  Insya Allah berkah…

 

KESIMPULAN

Mana yang Anda pilih:

Kehilangan uang premi sekian tahun, tapi senantiasa sehat?  ataukah

Kehilangan uang ratusan juta sampai miliaran karena mengalami sakit kritis?

 

 

 

Tidak ingin kehilangan uang besar???

Mari sisihkan sedikit penghasilan Anda, upayakan strategi rencana keuangan terbaik bagi keluarga Anda, miliki asuransi jiwa.  Pilih yang Syariah, karena Syariah menentramkan.

Kontak saya:

Estri heni,   WA: 0817 028 4743

Bujangan Punya Polis Asuransi Jiwa atau Tidak, Ini Bedanya

 

Bujangan artinya belum menikah.  Bujangan masih menjadi tanggungan orangtua.  Orangtua kaya,  punya investasi, punya dana, tujuan untuk hal-hal yang menyenangkan dan membahagiakan di masa depan sudah tersedia dana dan fasilitasnya.  Bahkan untuk masalah resiko pun sudah ada disiapkan dananya.

Kondisi tersebut bisa melenakan bagi tipe bujang yang manja.  Merasa masih menjadi tanggungan orangtua yang kaya, hidupnya bisa seenaknya, karena semua terjamin.  Tidak kuatir kekurangan fasilitas ataupun dana.

Berbeda kondisinya dengan tipe bujang yang mandiri.  Bujangan tipe mandiri tidak akan terlena dengan “kemudahan” yang diberikan orangtuanya.  Walaupun masih menjadi tanggungan orangtua, namun bujangan mandiri justru tidak ingin merepotkan orangtuanya.  Mungkin karena dia sadar.  Dengan kondisinya yang masih bujangan saja, sebenarnya sudah “membebani” pikiran orangtuanya.  Diakui atau tidak, walau tidak pernah terucap pasti dalam benak orangtua ada sedikit terbersit “Kapan ya anakku menikah…”

Fatih Seferagic Bosnian Qori And Hafizd Quran

Fatih Seferagic
Bosnian Qori And Hafidz Qur’an

Masa muda, masa bujangan, masa belum menikah biasanya tujuan rencana keuangannya adalah berinvestasi.  Bujangan atau orang yang belum menikah melakukan investasi pastinya menyiapkan dana untuk tujuan yang indah-indah dan menyenangkan.  Seperti:  rencana wisata/hiburan, rencana perjalanan ibadah, rencana memperbanyak asset, rencana menikah, rencana melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sampai rencana untuk pensiun sejahtera.

Saya yakin, tidak ada orang berinvestasi dengan tujuan: jika sakit berat, jika kecelakaan, jika tidak berpenghasilan lagi, jika meninggal…

Untuk hal-hal yang tidak menyenangkan (dengan kata lain: musibah), itu adalah “area” bagi asuransi.

Pertanyaan:  Saya masih muda, masih bujangan, belum menikah, masih sehat, masih produktif, apakah perlu punya asuransi?

Bujangan TIDAK punya asuransi jiwa

Bujangan yang sangat kaya raya, mungkin apapun yang terjadi tidak akan kuatir karena dirinya dan orangtuanya sudah punya semuanya.

Bagaimana bila si bujang ini bukan orang kaya raya?  Untuk hal yang membahagiakan (seperti menikah) saja, akan meminjam dana dari sanak saudara.  Bagaimana untuk hal yang disebut sebagai musibah?  Apakah ada dananya?  Apakah sudah siap dana saat musibah terjadi?  Padahal yang namanya musibah itu datangnya tidak akan kasih kabar dulu kan?  Jadi, kapan akan siap-siapnya ya?

Dalam perjalanan si Bujang menyiapkan dana investasi sebesar-besarnya, apakah yakin, perjalanan hidup si Bujang akan selalu semulus yang diinginkannya?  Semoga si Bujang selalu diberi kesehatan agar selalu produktif dan tercapai tujuan investasinya.  AAmiin..

Dalam hidup yang mulus, bisa juga ada kerikil bahkan sampai tebing yang curam.  Apakah si Bujangan rela, investasi yang sudah dikumpulkannya dengan susah payah, untuk tujuan yang indah dalam hidupnya, ternyata jadi terpakai untuk mengatasi musibah yang menimpanya???

Saat si bujang mengalami musibah terdiagnosa sakit berat (contoh serangan jantung, gagal ginjal, kanker ataupun lainnya), dananya dari mana?  Oke, untuk biaya perawatan RS masih bisa ditanggung oleh asuransi kesehatan dari kantornya.

Jangan lupa bahwa pada kasus sakit berat, ada juga biaya lain yang timbul DI LUAR biaya perawatan RS.

Apa saja biaya yang timbul di luar biaya RS?

Contoh:

  • Akomodasi untuk orang yang menemani, seperti transportasi, penginapan, biaya makan, dan lain-lain. Orang yang menemani si sakit ini bisa jadi bukan satu-dua orang. Biaya akan lebih besar jika perawatan dilakukan di luar negeri.
  • Perawatan lanjutan sepulang dari rumah sakit, seperti perawat di rumah dalam jangka waktu yang lama (untuk kasus stroke atau lumpuh), cuci darah hingga seumur hidup (untuk kasus gagal ginjal), atau suplemen untuk penguat tubuh yang pada umumnya berharga mahal (seperti produk kesehatan yang sering ditawarkan MLM).
  • Biaya hidup selama tidak bekerja karena menjalani perawatan, dan biaya hidup untuk keluarga jika tidak bisa bekerja lagi untuk seterusnya.
  • Biaya pendidikan anak atau dana pensiun (jika sembuh dan dapat bekerja lagi seperti sebelumnya sehingga biaya hidup tak jadi masalah).

Biaya tersebut tidak dicover oleh asuransi kesehatan sebaik apapun.  Sehingga asuransi kesehatan dari kantor Bujangan hendaklah didampingi dengan asuransi sakit kritis pada asuransi jiwa.

Bagaimana bila si Bujang tersebut akhirnya dipanggil Yang Kuasa?

Ya sudah, biasa saja.  Bila orangtuanya kaya raya, semua budaya keagamaan bisa dilakukan.  Bila orangtuanya bukan orang kaya raya, dananya akan pinjam dari keluarga.

Masalah selesai.  Si Bujang akan dikenang sesuai dengan hal-hal yang dilakukannya semasa hidup.  Itu saja.

 

Bujangan PUNYA asuransi jiwa

Masa muda, masa bujangan, masa belum menikah, adalah masa paling nikmat untuk berinvestasi.  Tujuan investasi kebanyakan adalah untuk mewujudkan rencana masa depan yang indah dalam hidup.

Sedangkan asuransi, bertugas mendampingi rencana investasi.  Agar tujuan investasi tetap bisa tercapai, walau terjadi hal buruk pada diri si Bujangan.

Punya asuransi jiwa itu buat apa sih?  Jawabannya DISINI.

Bujangan yang punya asuransi jiwa, pasti hatinya mulia.  Bujangan yang punya asuransi jiwa ini tau caranya menjadi lebih mandiri secara finansial, punya keinginan kuat untuk tidak mau (terus-terusan) merepotkan orangtua.  Bujangan yang punya asuransi jiwa sangat menyadari betapa besar pengorbanan orangtua demi dirinya, sejak lahir sampai dewasa.

Membantu finansial orangtua sudah dilakukannya dengan memberikan separuh gajinya untuk orangtuanya, sudah punya rumah sendiri, sudah punya kendaraan sendiri.  Si Bujang ingin membahagiakan orangtuanya dengan selalu istiqomah menjadi anak sholeh.

Si Bujang ingin saat dia bahagia, orangtuanya lebih bahagia dari dirinya.  Saat dia bersedih, dia ingin orangtuanya tidak ikut bersedih.  Si Bujang yang punya asuransi jiwa, ketika musibah terjadi, dia tidak perlu membuat orangtuanya repot atau panik atau sibuk cari pinjaman dana.

Si Bujang tau, ada seseorang (selain orangtuanya) yang tidak akan menjauhinya saat dia mengalami musibah (contoh  kecelakaan, sakit berat atau meninggal dunia).  Si Bujang tau bahwa ada seseorang yang dapat diandalkan.  Seseorang yang “memberinya UANG pada saat yang PALING dibutuhkan.  Dimana pada saat itu TIDAK ADA seorang pun yang mengambil tanggung jawab, dan tidak ada orang yang MAMPU membantu“.  Ya, seseorang itu adalah AGEN ASURANSI!

Ketika musibah terjadi, buatlah repot agen asuransi. Hubungi agen asuransi untuk membantu pengajuan klaim.  Jangan sungkan, karena memang tugasnya demikian.

Jadi, bila si Bujang terkena musibah sakit berat, agen asuransi akan membantunya mengajukan klaim, sehingga ada Dana Tunai yang dapat dimanfaatkan untuk menambah biaya pengobatan dll.

Bila si Bujangan ternyata dipanggil Yang Maha Kuasa, agen asuransi akan membantunya mengajukan klaim, sehingga ada Dana Tunai yang dapat diwariskan kepada orangtuanya ataupun kepada adik-adiknya.  Memang, si Bujang sudah tidak bersama orangtua dan adik-adiknya lagi.  Tetapi perannya membantu biaya hidup orangtua dan adik akan tetap mengalir.  Dana Warisan ini dapat didepositokan sehingga setiap bulan orangtua dan adik-adiknya akan tetap mendapatkan dana untuk berbagai keperluan, sama seperti saat si Bujang masih hidup dulu.

Bujangan yang punya asuransi jiwa, walaupun dia sudah tiada, segala hal baik yang dilakukan semasa hidupnya pasti selalu dikenang.  Ditambah lagi dengan bantuan dana warisan yang disiapkannya sejak awal, tetap bisa bermanfaat bagi orangtuanya untuk membantu mewujudkan cita-cita dan rencana masa depan yang indah bagi semua anggota keluarga…

Sungguh anak sholeh yang berbakti…  Semoga menjadi amalan tidak terputus bagi orangtuanya…

Asuransi Jiwa Sebagai Modal Nikah

Setiap calon mertua tentu mengharapkan calon mantunya adalah seorang anak sholeh, ahli ibadah, yang bisa menuntun anaknya menggapai Jannah, membimbing anaknya untuk senantiasa mendoakan orangtuanya walau orangtuanya telah tiada.  Karena anak yang sholeh merupakan amalan yang tidak putus.

Selain itu, orangtua juga tentunya ada keinginan bahwa calon mantunya tidak akan menyengsarakan anaknya. Hal ini wajar.  Karena orangtua sudah membesarkan anaknya dengan sangat baik, mendidik anaknya menjadi sholeh, bersikap sopan, bertutur santun, memberikan pendidikan terbaik, memberikan penghidupan yang layak. Masa sih, ketika orangtua mempercayakan anaknya pada mantu, si anak menjadi menurun kualitas hidupnya?

Jika saat mantunya sehat saja kualitas hidupnya sudah menurun (dibanding saat masih hidup bersama orangtua), apalagi jika saat mantu sakit????

Si mantu yang sudah punya asuransi jiwa saat masih bujangan tentu tidak akan menyengsarakan pasangan hidup yang dicintainya dan dipercayakan kepadanya.  Dia sudah membuat rencana keuangan yang tepat sejak dirinya belum menikah.

Untuk biaya pengobatan RS, tentu ada asuransi kesehatan terbaik dari kantornya.  Bagaimana bila yang terjadi adalah sakit berat????

Si mantu yang sejak Bujangan sudah punya asuransi jiwa, tidak akan membuat mertuanya kuatir.  Anaknya yang sudah dipercayakan kepada si mantu tidak akan direpotkan hati dan pikirannya.  Bila terjadi sakit berat, ada dana tunai yang cair, sehingga si mantu tidak perlu kuras harta pribadi,  apalagi harus kuras harta mertua.  Artinya: ada jaminan dana tunai untuk sakit berat. Sehingga si mantu bisa fokus pada pengobatan dan cepat pulih. Tidak usah pusing lagi cari pinjaman uang.

Bagaimana bila ternyata si mantu dipanggil Yang Kuasa?  Mertua tidak perlu kuatir anaknya akan sengsara hidupnya.  Si anak tidak harus mulai kembali hidupnya dari nol.  Kalaupun harus kembali ke rumah orangtua, si anak tetap mandiri karena ada warisan yang sudah disiapkan pasangannya sejak masih bujangan dulu.

Jadi, sebagai Bujangan yang well educated, apakah Anda akan:

  • Membuka polis asuransi jiwa sebagai pendamping bila terjadi hal buruk yang bisa mengganggu tujuan rencana investasi?
  • Membuka polis asuransi jiwa sebagai pelengkap asuransi kesehatan dari kantor?
  • Menyiapkan dana warisan untuk orangtua dan adik-adik agar rencana indah masa depan tetap terwujud?

Atau hanya akan:

  • Berinvestasi saja tanpa didampingi asuransi?
  • Memaksimalkan saja asuransi kesehatan dari kantor?
  • Menggunakan dana pribadi untuk biaya2 di luar RS?
  • Membiarkan kehidupan orangtua dan adik-adik berjalan apa adanya “sepeninggal” dirinya?

Saya yakin, walaupun Anda masih bujangan, seorang anak sholeh pasti akan merencanakan pengelolaan keuangan terbaik, tidak hanya jangka pendek, melainkan juga untuk jangka panjang.  Masa muda memang masanya berinvestasi untuk mempersiapkan hal baik dan menyenangkan dalam hidup.  Jangan lupa bahwa dalam masa berinvestasi itu bisa juga terjadi hal buruk.  Sehingga akan lebih bijaksana bila investasi Anda dibarengi dengan proteksi asuransi.

 

Dampingi investasi masa muda, masa bujangan, masa belum menikah Anda dengan Asuransi Jiwa Allianz

Butuh ketentraman? Pilih asuransi jiwa Allianz Syariah.

Konsultasi gratis dan ilustrasi, hubungi:

Estri Heni

SMS/WA:  0817 028 4743

atau isi data di form dengan klik PERMOHONAN ILUSTRASI, untuk mendapatkan ilustrasi asuransi jiwa Allianz Syariah.