Arsip

Pengalaman Bersama “Allianz Hospital Assistant” (AHA)

Pengalaman nasabah dari Pak Asep Sopyan
SBP Allianz

 

 

AHA (Allianz Hospital Assistant) sangat membantu nasabah.  Infonya DISINI.

Kemarin (18 Oktober 2017) satu nasabah saya melakukan operasi amandel.   Nasabah memanfaatkan kartu cashless dari produk Smartmed Premier di RS Harapan Bunda Jaktim. Klaim operasi sudah dijamin oleh Allianz.   Tapi RS menyarankan tambahan tes diagnostik untuk mengukur keganasan dari penyakit nasabah, dan RS membutuhkan biaya 1,4 juta.

Nasabah menghubungi saya apakah dia harus bayar 1,4 juta?

Lalu saya menelepon Allianz Care di 1500136 untuk menanyakan soal ini. CS berkata bahwa petugas AHA (Allianz Hospital Assistant) akan menghubungi saya setelah dia berkomunikasi dengan AdMedika.
Tak berapa lama, saya mendapat telepon dari petugas AHA, yang memberikan kabar baik bahwa tes diagnostik 1,4 juta sudah dijamin oleh Allianz.


Alhamdulillah.
Lalu saya infokan ke nasabah bahwa dia tidak perlu membayar 1,4 juta itu.
Dan tak lama kemudian, nasabah pun memberitahukan bahwa dia sudah ditelepon petugas AHA yang menginformasikan mengenai penjaminan tes diagnostik.


Alhamdulillah, beres. Nasabah nyaman, agen pun tenang.
Terima kasih Allianz.

 

 

 

Iklan

Tidak Punya Tanggungan Hidup, Perlukah Berasuransi?

 

Tidak punya tanggungan hidup, berarti tidak ada orang yang harus ditanggung hidupnya oleh seseorang.  Orang yang ditanggung hidupnya itu bisa pasangannya atau anaknya atau orangtua nya ataupun kerabat lainnya.

Seseorang yang akan saya ceritakan kali ini adalah orang yang dekat di kehidupan saya.  Beliau adalah adik kandung dari ibu saya.   Sejak lulus sekolah, beliau diajak oleh Ayah untuk hidup bersama keluarga sembari menjajal peruntungan di ibukota.  Mungkin memang takdirnya bukan bekerja sebagai karyawan. Dengan keahliannya, beliau lebih nyaman berprofesi sebagai Driver freelance.  Siapapun yang butuh keahliannya, beliau siap membantu tanpa menentukan tarif.

Beliau tidak punya tanggungan hidup. Beliau tinggal bersama kami.  Makan, tidur, semua aktivitas hidup bersama kami. Sampai ibu saya menjanda pun, beliau masih bersama.  Ibu saya ikhlas menanggung beliau. Penghasilan beliau, biarlah menjadi tabungannya pribadi.

Saya pernah menawarkan asuransi sebagai proteksi untuk beliau.  Mengingat beliau tidak punya tanggungan hidup, penghasilan freelance nya amat riskan jika dijadikan “dana darurat” jika hal buruk terjadi, sementara ibu saya yang menanggung hidup beliau, juga hanyalah seorang janda yang tidak berpenghasilan.  Namun beliau menolak.  Alasannya klise: “saya masih sehat, tidak ada riwayat sakit berat dalam keluarga besar kita, dana saya terbatas, dan lagi toh saya tidak punya tanggungan yang harus diberi warisan”.  Saya rasa ditambah juga dengan minimnya pengetahuan beliau tentang bagaimana mengelola keuangan yang benar.  Beliau masih konvensional. Penghasilannya hanya ditabung di bank atau malah dibiarkan disimpan tunai di lemari pakaiannya.

Padahal jika beliau punya asuransi, maka ada beberapa hal yang bisa bermanfaat bagi beliau.  Apa saja?

  1. Akan mandiri secara finansial
  2. Tidak perlu merepotkan orang lain
  3. Fokus pada pelayanan pengobatan terbaik, biaya pengobatan biar asuransi yang urus
  4. Hasil kerja tidak sia-sia
  5. Tidak terjebak dalam riba
  6. Tidak meninggalkan hutang saat meninggal

 

Takdir memang tidak bisa ditolak, ataupun ditunda.  Punya asuransi bukan berarti menolak takdir.  Punya asuransi atau tidak, musibah tetap akan terjadi.  Bedanya, punya asuransi akan lebih membantu masalah keuangan yang timbul akibat musibah itu.

Jika Anda tidak percaya, tidak perlu meminta bukti. Cukuplah berpikir bijak dengan belajar dari pengalaman orang lain. Berikut pengalaman perjalanan hidup Paman saya, yang akan saya bagi.

Qadarullah, Pertengahan Juli 2017 kemarin, beliau terdiagnosis sirosis hepatis.  Padahal bertahun-tahun sebelumnya, beliau memang masih sehat, tidak tampak ada gangguan kesehatan, tidak ada keluhan kesehatan yang berat.

 

 

  1. Akan Mandiri secara finansial

Seseorang yang tidak punya tanggungan hidup, akan lebih fleksibel mengelola penghasilannya.  Pertama, tidak perlu pusing memberi nafkah rutin kepada orang yang menjadi tanggungannya, memikirkan biaya hidupnya seperti: biaya sekolah, biaya tagihan listrik/telepon, biaya kontrak rumah/kamar/kos, biaya cicilan barang, dll. Bebas saja, mau tinggal di kontrakan senyaman apapun atau sesederhana apapun, tidak akan ada yang protes.  Apalagi jika tinggal bersama kakak yang menyayanginya, malah bisa menghemat toh?

Kedua, mudah untuk menabung dan menginvestasikan sebagian besar dananya sebagai cara untuk mencapai tujuan hidup sejahtera pada masa tua kelak.  Ketiga, mudah untuk sisihkan sedikit penghasilannya untuk berasuransi.   Ini juga bebas saja, mau berapapun porsi dananya, tidak akan ada yang protes.

Ya, seseorang yang tidak punya tanggungan hidup memang bisa bebas mengelola penghasilannya.  Mau sekedar “dikeluarkan” atau mau diinvestasikan.  Namun jangan lupa juga untuk disisihkan sedikit saja dari penghasilannya sebagai upaya siapkan “dana darurat” jika resiko buruk terjadi dalam hidupnya.  Ini penting.  Memang, tidak ada tanggungan “langsung” yang akan direpotkan dalam hal tanggung jawab biaya hidup dalam urusan dunianya.  Tapi, rasa empati dan kekeluargaan dari kerabat tentu akan tetap membantunya.  Masalahnya:  seberapa besar para teman dan keluarga tercintanya akan bisa membantu keuangannya, jika yang terjadi adalah resiko buruk dan berat?

Fakta bahwa ada 5 golongan yang bisa membantu keuangan seseorang sewaktu kena musibah kecelakaan atau sakit kritis:

  • Sahabat dekat = bisa bantu 1 juta
  • Saudara dekat = bisa bantu 10 juta
  • Kakak Adik = bisa bantu 50 juta
  • Orangtua = bisa bantu 100 juta
  • 🙄🤔 ????? = bisa bantu 500 juta, 1 Miliar, 3 Miliar, 5 Miliar…. (disinilah asuransi berperan, yaitu disaat orang lain tidak ada yang mau dan mampu membantu keuangan seseorang)

 

2.  Tidak perlu merepotkan orang lain

Tidak punya tanggungan hidup berarti tidak ada orangtua atau pasangan atau anak yang menemani dan merawat saat beliau sakit. Maka kamilah para keponakannya yang bergantian menemani beliau selama dirawat di Rumah Sakit. Insya Allah kami ikhlas mengurangi waktu kami bersama anak-anak dan pasangan demi bisa menjaga beliau.  Namun saya tahu, dari sorot matanya, beliau juga ada rasa tidak tega melihat “pengorbanan kecil” kami.  Terbaca bahwa dalam hatinya, beliau juga tidak ingin merepotkan kami.  Tapi biarlah, kami tidak merasa direpotkan.  Hanya ini yang bisa kami lakukan. Membantu, mendampingi, memberikan semangat beliau terutama saat sakit, saat dirinya kepayahan dengan kondisi kesehatannya.

Saya tau dana beliau terbatas.  Jika beliau punya asuransi, maka beliau tidak perlu merepotkan orang lain untuk meminjamkan sejumlah uang untuk biaya pengobatan dirinya.

 

3.  Fokus pada pelayanan pengobatan terbaik, biaya pengobatan biar asuransi yang urus

Selama sakit, beliau sangat memahami kondisinya sendiri. Meminta saya untuk memindahkan beliau ke kamar perawatan kelas 3, menolak diberikan tindakan yang membuatnya merasa tidak nyaman. Aahhh… Permintaan beliau itu malah membuat saya sedih. Beliau mungkin memang tidak mau merepotkan saya, tidak mau membuat saya merasa terbebani biaya Rumah Sakit, tapi itu malah menyesakkan saya untuk berupaya maksimal bagi kesehatan beliau.

Dana beliau terbatas. Membuat beliau yang sedang sakit terpaksa masih harus selalu menyempatkan diri berpikir untuk menghemat biaya dan sangat membatasi dirinya sendiri untuk mendapatkan pengobatan dan fasilitas pelayanan kesehatan terbaik dan nyaman.

Jika beliau punya asuransi, beliau bisa fokus pada upaya pengobatan maksimal menggunakan fasilitas pelayanan terbaik.  Suasana nyaman tentu membuat pasien bisa tenang sehingga proses pengobatan bisa maksimal.

 

4.   Hasil Kerja Tidak Sia-sia

Jika beliau punya asuransi, maka hasil kerja beliau tidak akan sia-sia.  Sebagian kecil penghasilannya disisihkan untuk asuransi sebagai proteksi saat resiko terjadi.  Sebagian besar penghasilannya bisa diinvestasikan.

Sehingga di kala sehat, beliau tetap akan bisa membantu kerabat beliau lainnya yang sedang membutuhkan bantuan dana (bagian ini sering menjadi upaya terakhir kerabatnya saat butuh dana, yaitu menghubungi beliau, pinjam uang, dikembalikan tanpa bunga 😊, dan beliau akan senang hati meminjamkannya jika memang tujuannya baik dan kebutuhannya mendesak).

Dan saat beliau sakit, beliau tidak harus menggunakan uang hasil kerjanya itu untuk biaya pengobatan sirosis hepatis yang diderita.  Cukup gunakan fasilitas cashless dari asuransi kesehatan saat rawat inap di RS.  Dan uang tunai proteksi sakit kritis yang bisa bermanfaat untuk menggantikan pengeluaran keuangan di luar RS.

Sayangnya, beliau tidak punya BPJS, apalagi asuransi pribadi.  Sehingga setelah tau kondisi kesehatan beliau butuh penanganan lama, barulah mau bikin BPJS.  Namun sebelum BPJS jadi, takdir berkata lain…

 

5.   Tidak Terjebak Dalam Riba

Saat butuh dana besar untuk perawatan rumah sakit, namun tidak ada saudara atau kerabat yang mampu meminjamkan uang, maka beliau tidak perlu pinjam uang melalui lembaga keuangan yang ada ribanya.  Dengan memiliki asuransi, hal ini bisa dihindari.

Dalam kasus beliau, saya bersyukur beliau belum sampai harus terjebak riba.  Karena beliau sudah keburu berpulang pada pertengahan Agustus 2017. Innalillahi wa innailaihi rojiuun…

 

6.  Tidak Menyisakan Hutang Saat Meninggal

Dalam kasus beliau, saya bersyukur beliau belum sampai harus berhutang.  Insya Allah kami, para keponakan dan juga ibu saya, masih bisa bekerjasama membantu.  Sampai akhirnya beliau sudah keburu berpulang pada pertengahan Agustus 2017. Innalillahi wa innailaihi rojiuun…

Akan berbeda kondisinya jika beliau masih diberi umur oleh Allah, dengan kondisi kesehatan seperti itu, bisa jadi akan ada kemungkinan timbulnya hutang demi bisa mendapatkan pengobatan terbaik.

Sebagai informasi, sirosis hepatis adalah gangguan kesehatan dimana organ hati menjadi keras dan bisa mengecil atau membesar.  Kondisi ini tidak bisa diperbaiki, hanya bisa diatasi dengan transplantasi hati.  Sehingga dengan mengacu pada pedoman pengobatan kasus Sirosis Hepatis Internasional, dokter hanya  akan memberikan suplemen saja untuk membuat pasien merasa nyaman.  Saat nyaman, pasien bisa pulang.  Saat kondisi drop, pasien harus rawat inap.  Begitu seterusnya sampai pasien bosan dengan pola pengobatan yang “begitu-begitu saja” dan sudah tidak mampu bertahan lagi.

Walaupun tidak punya tanggungan, tapi jika sampai berhutang dan menyisakan hutang saat meninggal, bagaimana pertanggungjawabannya?  Poin 2 di atas akan terjadi.  Yaitu akan merepotkan kerabat lainnya.  Repotnya bagaimana? Karena jadi harus ada kerabatnya yang membayarkan hutangnya.

Jika seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan utang, dan kerabatnya tidak mampu melunasi, maka sampai di akhirat pun utang tersebut tetap wajib dibayar. Dibayar dengan apa? Dengan amal baik, itu pun jika ada.

Mungkin saat ini Anda tidak punya utang dan bertekad tidak akan berutang kepada siapa pun.  Tapi jika mengalami sakit berat, mungkin saja tekad itu harus dibatalkan.

 

 

Artikel ini bukan sekedar teori rencana keuangan ataupun teori marketingnya agen asuransi.  Kali ini Anda mendapatkan lagi 1 pengalaman nyata, yaitu pengalaman hidup dari orang lain.  Masih penasaran dan tidak percaya karena belum mengalaminya?  Saya yakin Anda cukup bijak untuk memilih: tidak perlu mengalami untuk tau bagaimana rasanya.

Silahkan hubungi saya, agen Asuransi Allianz Syariah berlisensi, untuk diskusi mengenai bagaimana merencanakan keuangan terbaik sebagai proteksi terhadap penghasilan Anda.

Mari sisihkan sedikit penghasilan Anda untuk berasuransi.  Pilih yang Syariah, karena Syariah menentramkan.

 

Estri Heni  || WA: 0817 028 4743

 

 

 

 

Kehilangan Sedikit Atau Kehilangan Banyak, Yang Mana Pilihan Bijak Anda?

Contoh kasus.  Berdasarkan tabel premi sakit kritis 1 Miliar, maka untuk profil:

Pria 30th.

Premi = 500rb perbulan

Manfaat:

UP dasar       = 200 juta

UP 49 sakit kritis   = 500 juta

UP 100 sakit kritis     = 500 juta

(Total UP sakit kritis = 1 Miliar)

Manfaat payor

 

Saya setor premi 500 ribu perbulan, dalam 10 tahun berarti saya keluar dana 60 juta untuk dapat proteksi sakit kritis sebesar 1 Miliar.  Jika dalam 10 tahun itu saya tidak sakit kritis, UPnya tidak cair ya? Wah, saya rugi 60 juta dong ya….

 

Penjelasan:

Pertama, meluruskan pemahaman bahwa Asuransi = proteksi.

Asuransi bukanlah masalah untung-rugi.  Menjadi untung, jika sudah beli asuransi, lalu terjadi sakit kritis, ada Uang Pertanggungan yang cair.  Menjadi rugi, jika sudah beli asuransi, tapi tidak terjadi sakit kritis, tidak ada Uang pertanggungan yang cair, premi yang dibayarkan menjadi “terasa” hangus.

Mari kita sama-sama meluruskan pemahaman ini.  Mari kita membuka wawasan diri dengan pemahaman yang lebih baik, yaitu bahwa Asuransi Jiwa adalah salah satu bagian dari beberapa rencana keuangan keluarga Anda.  Jika Anda sudah mengatur pos-pos pengeluaran rutin bulanan, kini saatnya Anda menambah alokasi pos untuk premi asuransi.  Tidak ada dana lebih untuk asuransi?  Tidak masalah, Anda bisa mengurangi biaya di pos “gaya hidup”.  Kurangi biaya “gaya hidup” Anda, untuk memaksimalkan biaya hidup.  Lebih detil untuk ini, silahkan googling ya.

Memiliki asuransi jiwa merupakan ikhtiar/upaya untuk menyiapkan dana tunai jumlah besar, dengan menyisihkan hanya sebagian kecil dari penghasilan Anda.  Setuju ya?

Kedua.  Kita tidak pernah tau apakah resiko hidup tersebut (contohnya: sakit kritis) akan datang pada kita?  Bisa ya, bisa tidak.  Kita tidak pernah tau kapan resiko tersebut bisa terjadi?  Mungkin saat usia senja, mungkin malah saat usia produktif.  Kita juga tidak bisa pilih-pilih resiko, maunya kalau sakit tuh hanya sakit pilek saja lah, sakit jantung stroke kankernya terjadi kepada si Fulan saja….  Kita tidak bisa seperti itu.  Menjadi sakit adalah takdir Allah SWT yang tidak bisa ditolak, harus diterima, dan tetap disyukuri.

Yang bisa kita siasati di awal adalah bagaimana strategi kita dalam mengatur rencana keuangan keluarga kita (baca kembali poin pertama).

Lanjut.  Katakanlah usia Anda saat ini 30th.  Anda menerapkan pola hidup sehat, sehingga sampai usia 40 tahun kondisi kesehatan Anda tetap prima.  Hal ini wajar bukan?  Secara umum diketahui bahwa usia non produktif itu adalah setelah masa pensiun, sekitar usia 55 tahun lebih.  Secara umum, justru pada usia senja tersebutlah baru muncul gejala penurunan kondisi kesehatan.  Ini juga dianggap wajar, karena demikianlah yang terjadi di sekitar kita.

Nah, yang dianggap belum wajar itu yang bagaimana?  Yaitu yang mengalami gejala penurunan kondisi kesehatan pada usia produktif!  Belum bisa dianggap wajar, namun saat ini faktanya demikian.  Contoh yang semua orang tau, tentunya kisah hidup artis muda Indonesia.  Masih muda, namun sudah mengalami sakit kritis.

Anda sudah menerapkan pola hidup sehat, tapi lingkungan sekitar tidak mendukung.  Menjamurnya restoran cepat saji, outlet penjual kopi, makanan instan yang mudah didapat di warung dekat rumah, sayur dan buah organik yang harganya malah lebih mahal, pola hidup tetangga Anda yang kurang sehat, tetangga Anda buang ludah sembarangan, dan sebagainya…  Hal sepele, namun sedikit banyak tentu bisa memberikan dampak juga bagi kesehatan Anda.

Hal penting untuk dipertimbangkan:

Jika selama ini Anda menyisihkan sedikit dari penghasilan Anda untuk ditabung, atau diinvestasikan, pasti tujuannya untuk kebahagiaan Anda, bukan?  Untuk masa depan anak, pendidikan anak, liburan, perjalanan ibadah, dll.  Sudahkah Anda menyisihkan sedikit penghasilan Anda untuk tujuan meminimalkan dampak buruk keuangan keluarga Anda, jika terjadi resiko hidup yang tidak diinginkan?  Inilah yang dimaksud dengan asuransi sebagai salah satu bagian dari beberapa rencana keuangan keluarga.

Jika dalam 10 tahun ke depan, Anda tidak mengalami sakit kritis, Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Sungguh, saya pun selalu mendoakan agar saya dan semua nasabah saya senantiasa diberi nikmat kesehatan oleh Allah, agar kita semua dapat beraktifitas, dapat berkarya, dapat berpenghasilan, dapat menyisihkan penghasilan untuk ditabung.  Aamiin…  Semua hasil dari upaya yang kita kerjakan adalah bertujuan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik, bagi diri kita dan anak-anak kita.  Setuju ya?

Ketiga, pemahaman tentang konsep asuransi jiwa Syariah.  Pada asuransi Syariah, premi yang disetorkan kepada Perusahaan Asuransi (sebagai pengelola dana) adalah Dana Tabarru atau Dana Kebajikan.  Semua peserta asuransi Syariah mengeluarkan dana tabarru.  Dana Tabarru ini dikumpulkan dalam rekening terpisah yaitu rekening Tabarru.  Jika seorang nasabah mengalami resiko, maka diambillah Dana Tabarru ini sebagai Uang Pertanggungan.  Memiliki asuransi syariah, artinya secara otomatis kita melakukan sedekah rutin setiap bulannya (mengikuti cara bayar), dan juga bisa ikut membantu peserta lain yang tertimpa musibah.  Insya Allah berkah…

 

KESIMPULAN

Mana yang Anda pilih:

Kehilangan uang premi sekian tahun, tapi senantiasa sehat?  ataukah

Kehilangan uang ratusan juta sampai miliaran karena mengalami sakit kritis?

 

 

 

Tidak ingin kehilangan uang besar???

Mari sisihkan sedikit penghasilan Anda, upayakan strategi rencana keuangan terbaik bagi keluarga Anda, miliki asuransi jiwa.  Pilih yang Syariah, karena Syariah menentramkan.

Kontak saya:

Estri heni,   WA: 0817 028 4743

Bujangan Punya Polis Asuransi Jiwa atau Tidak, Ini Bedanya

 

Bujangan artinya belum menikah.  Bujangan masih menjadi tanggungan orangtua.  Orangtua kaya,  punya investasi, punya dana, tujuan untuk hal-hal yang menyenangkan dan membahagiakan di masa depan sudah tersedia dana dan fasilitasnya.  Bahkan untuk masalah resiko pun sudah ada disiapkan dananya.

Kondisi tersebut bisa melenakan bagi tipe bujang yang manja.  Merasa masih menjadi tanggungan orangtua yang kaya, hidupnya bisa seenaknya, karena semua terjamin.  Tidak kuatir kekurangan fasilitas ataupun dana.

Berbeda kondisinya dengan tipe bujang yang mandiri.  Bujangan tipe mandiri tidak akan terlena dengan “kemudahan” yang diberikan orangtuanya.  Walaupun masih menjadi tanggungan orangtua, namun bujangan mandiri justru tidak ingin merepotkan orangtuanya.  Mungkin karena dia sadar.  Dengan kondisinya yang masih bujangan saja, sebenarnya sudah “membebani” pikiran orangtuanya.  Diakui atau tidak, walau tidak pernah terucap pasti dalam benak orangtua ada sedikit terbersit “Kapan ya anakku menikah…”

Fatih Seferagic Bosnian Qori And Hafizd Quran

Fatih Seferagic
Bosnian Qori And Hafidz Qur’an

Masa muda, masa bujangan, masa belum menikah biasanya tujuan rencana keuangannya adalah berinvestasi.  Bujangan atau orang yang belum menikah melakukan investasi pastinya menyiapkan dana untuk tujuan yang indah-indah dan menyenangkan.  Seperti:  rencana wisata/hiburan, rencana perjalanan ibadah, rencana memperbanyak asset, rencana menikah, rencana melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sampai rencana untuk pensiun sejahtera.

Saya yakin, tidak ada orang berinvestasi dengan tujuan: jika sakit berat, jika kecelakaan, jika tidak berpenghasilan lagi, jika meninggal…

Untuk hal-hal yang tidak menyenangkan (dengan kata lain: musibah), itu adalah “area” bagi asuransi.

Pertanyaan:  Saya masih muda, masih bujangan, belum menikah, masih sehat, masih produktif, apakah perlu punya asuransi?

Bujangan TIDAK punya asuransi jiwa

Bujangan yang sangat kaya raya, mungkin apapun yang terjadi tidak akan kuatir karena dirinya dan orangtuanya sudah punya semuanya.

Bagaimana bila si bujang ini bukan orang kaya raya?  Untuk hal yang membahagiakan (seperti menikah) saja, akan meminjam dana dari sanak saudara.  Bagaimana untuk hal yang disebut sebagai musibah?  Apakah ada dananya?  Apakah sudah siap dana saat musibah terjadi?  Padahal yang namanya musibah itu datangnya tidak akan kasih kabar dulu kan?  Jadi, kapan akan siap-siapnya ya?

Dalam perjalanan si Bujang menyiapkan dana investasi sebesar-besarnya, apakah yakin, perjalanan hidup si Bujang akan selalu semulus yang diinginkannya?  Semoga si Bujang selalu diberi kesehatan agar selalu produktif dan tercapai tujuan investasinya.  AAmiin..

Dalam hidup yang mulus, bisa juga ada kerikil bahkan sampai tebing yang curam.  Apakah si Bujangan rela, investasi yang sudah dikumpulkannya dengan susah payah, untuk tujuan yang indah dalam hidupnya, ternyata jadi terpakai untuk mengatasi musibah yang menimpanya???

Saat si bujang mengalami musibah terdiagnosa sakit berat (contoh serangan jantung, gagal ginjal, kanker ataupun lainnya), dananya dari mana?  Oke, untuk biaya perawatan RS masih bisa ditanggung oleh asuransi kesehatan dari kantornya.

Jangan lupa bahwa pada kasus sakit berat, ada juga biaya lain yang timbul DI LUAR biaya perawatan RS.

Apa saja biaya yang timbul di luar biaya RS?

Contoh:

  • Akomodasi untuk orang yang menemani, seperti transportasi, penginapan, biaya makan, dan lain-lain. Orang yang menemani si sakit ini bisa jadi bukan satu-dua orang. Biaya akan lebih besar jika perawatan dilakukan di luar negeri.
  • Perawatan lanjutan sepulang dari rumah sakit, seperti perawat di rumah dalam jangka waktu yang lama (untuk kasus stroke atau lumpuh), cuci darah hingga seumur hidup (untuk kasus gagal ginjal), atau suplemen untuk penguat tubuh yang pada umumnya berharga mahal (seperti produk kesehatan yang sering ditawarkan MLM).
  • Biaya hidup selama tidak bekerja karena menjalani perawatan, dan biaya hidup untuk keluarga jika tidak bisa bekerja lagi untuk seterusnya.
  • Biaya pendidikan anak atau dana pensiun (jika sembuh dan dapat bekerja lagi seperti sebelumnya sehingga biaya hidup tak jadi masalah).

Biaya tersebut tidak dicover oleh asuransi kesehatan sebaik apapun.  Sehingga asuransi kesehatan dari kantor Bujangan hendaklah didampingi dengan asuransi sakit kritis pada asuransi jiwa.

Bagaimana bila si Bujang tersebut akhirnya dipanggil Yang Kuasa?

Ya sudah, biasa saja.  Bila orangtuanya kaya raya, semua budaya keagamaan bisa dilakukan.  Bila orangtuanya bukan orang kaya raya, dananya akan pinjam dari keluarga.

Masalah selesai.  Si Bujang akan dikenang sesuai dengan hal-hal yang dilakukannya semasa hidup.  Itu saja.

 

Bujangan PUNYA asuransi jiwa

Masa muda, masa bujangan, masa belum menikah, adalah masa paling nikmat untuk berinvestasi.  Tujuan investasi kebanyakan adalah untuk mewujudkan rencana masa depan yang indah dalam hidup.

Sedangkan asuransi, bertugas mendampingi rencana investasi.  Agar tujuan investasi tetap bisa tercapai, walau terjadi hal buruk pada diri si Bujangan.

Punya asuransi jiwa itu buat apa sih?  Jawabannya DISINI.

Bujangan yang punya asuransi jiwa, pasti hatinya mulia.  Bujangan yang punya asuransi jiwa ini tau caranya menjadi lebih mandiri secara finansial, punya keinginan kuat untuk tidak mau (terus-terusan) merepotkan orangtua.  Bujangan yang punya asuransi jiwa sangat menyadari betapa besar pengorbanan orangtua demi dirinya, sejak lahir sampai dewasa.

Membantu finansial orangtua sudah dilakukannya dengan memberikan separuh gajinya untuk orangtuanya, sudah punya rumah sendiri, sudah punya kendaraan sendiri.  Si Bujang ingin membahagiakan orangtuanya dengan selalu istiqomah menjadi anak sholeh.

Si Bujang ingin saat dia bahagia, orangtuanya lebih bahagia dari dirinya.  Saat dia bersedih, dia ingin orangtuanya tidak ikut bersedih.  Si Bujang yang punya asuransi jiwa, ketika musibah terjadi, dia tidak perlu membuat orangtuanya repot atau panik atau sibuk cari pinjaman dana.

Si Bujang tau, ada seseorang (selain orangtuanya) yang tidak akan menjauhinya saat dia mengalami musibah (contoh  kecelakaan, sakit berat atau meninggal dunia).  Si Bujang tau bahwa ada seseorang yang dapat diandalkan.  Seseorang yang “memberinya UANG pada saat yang PALING dibutuhkan.  Dimana pada saat itu TIDAK ADA seorang pun yang mengambil tanggung jawab, dan tidak ada orang yang MAMPU membantu“.  Ya, seseorang itu adalah AGEN ASURANSI!

Ketika musibah terjadi, buatlah repot agen asuransi. Hubungi agen asuransi untuk membantu pengajuan klaim.  Jangan sungkan, karena memang tugasnya demikian.

Jadi, bila si Bujang terkena musibah sakit berat, agen asuransi akan membantunya mengajukan klaim, sehingga ada Dana Tunai yang dapat dimanfaatkan untuk menambah biaya pengobatan dll.

Bila si Bujangan ternyata dipanggil Yang Maha Kuasa, agen asuransi akan membantunya mengajukan klaim, sehingga ada Dana Tunai yang dapat diwariskan kepada orangtuanya ataupun kepada adik-adiknya.  Memang, si Bujang sudah tidak bersama orangtua dan adik-adiknya lagi.  Tetapi perannya membantu biaya hidup orangtua dan adik akan tetap mengalir.  Dana Warisan ini dapat didepositokan sehingga setiap bulan orangtua dan adik-adiknya akan tetap mendapatkan dana untuk berbagai keperluan, sama seperti saat si Bujang masih hidup dulu.

Bujangan yang punya asuransi jiwa, walaupun dia sudah tiada, segala hal baik yang dilakukan semasa hidupnya pasti selalu dikenang.  Ditambah lagi dengan bantuan dana warisan yang disiapkannya sejak awal, tetap bisa bermanfaat bagi orangtuanya untuk membantu mewujudkan cita-cita dan rencana masa depan yang indah bagi semua anggota keluarga…

Sungguh anak sholeh yang berbakti…  Semoga menjadi amalan tidak terputus bagi orangtuanya…

Asuransi Jiwa Sebagai Modal Nikah

Setiap calon mertua tentu mengharapkan calon mantunya adalah seorang anak sholeh, ahli ibadah, yang bisa menuntun anaknya menggapai Jannah, membimbing anaknya untuk senantiasa mendoakan orangtuanya walau orangtuanya telah tiada.  Karena anak yang sholeh merupakan amalan yang tidak putus.

Selain itu, orangtua juga tentunya ada keinginan bahwa calon mantunya tidak akan menyengsarakan anaknya. Hal ini wajar.  Karena orangtua sudah membesarkan anaknya dengan sangat baik, mendidik anaknya menjadi sholeh, bersikap sopan, bertutur santun, memberikan pendidikan terbaik, memberikan penghidupan yang layak. Masa sih, ketika orangtua mempercayakan anaknya pada mantu, si anak menjadi menurun kualitas hidupnya?

Jika saat mantunya sehat saja kualitas hidupnya sudah menurun (dibanding saat masih hidup bersama orangtua), apalagi jika saat mantu sakit????

Si mantu yang sudah punya asuransi jiwa saat masih bujangan tentu tidak akan menyengsarakan pasangan hidup yang dicintainya dan dipercayakan kepadanya.  Dia sudah membuat rencana keuangan yang tepat sejak dirinya belum menikah.

Untuk biaya pengobatan RS, tentu ada asuransi kesehatan terbaik dari kantornya.  Bagaimana bila yang terjadi adalah sakit berat????

Si mantu yang sejak Bujangan sudah punya asuransi jiwa, tidak akan membuat mertuanya kuatir.  Anaknya yang sudah dipercayakan kepada si mantu tidak akan direpotkan hati dan pikirannya.  Bila terjadi sakit berat, ada dana tunai yang cair, sehingga si mantu tidak perlu kuras harta pribadi,  apalagi harus kuras harta mertua.  Artinya: ada jaminan dana tunai untuk sakit berat. Sehingga si mantu bisa fokus pada pengobatan dan cepat pulih. Tidak usah pusing lagi cari pinjaman uang.

Bagaimana bila ternyata si mantu dipanggil Yang Kuasa?  Mertua tidak perlu kuatir anaknya akan sengsara hidupnya.  Si anak tidak harus mulai kembali hidupnya dari nol.  Kalaupun harus kembali ke rumah orangtua, si anak tetap mandiri karena ada warisan yang sudah disiapkan pasangannya sejak masih bujangan dulu.

Jadi, sebagai Bujangan yang well educated, apakah Anda akan:

  • Membuka polis asuransi jiwa sebagai pendamping bila terjadi hal buruk yang bisa mengganggu tujuan rencana investasi?
  • Membuka polis asuransi jiwa sebagai pelengkap asuransi kesehatan dari kantor?
  • Menyiapkan dana warisan untuk orangtua dan adik-adik agar rencana indah masa depan tetap terwujud?

Atau hanya akan:

  • Berinvestasi saja tanpa didampingi asuransi?
  • Memaksimalkan saja asuransi kesehatan dari kantor?
  • Menggunakan dana pribadi untuk biaya2 di luar RS?
  • Membiarkan kehidupan orangtua dan adik-adik berjalan apa adanya “sepeninggal” dirinya?

Saya yakin, walaupun Anda masih bujangan, seorang anak sholeh pasti akan merencanakan pengelolaan keuangan terbaik, tidak hanya jangka pendek, melainkan juga untuk jangka panjang.  Masa muda memang masanya berinvestasi untuk mempersiapkan hal baik dan menyenangkan dalam hidup.  Jangan lupa bahwa dalam masa berinvestasi itu bisa juga terjadi hal buruk.  Sehingga akan lebih bijaksana bila investasi Anda dibarengi dengan proteksi asuransi.

 

Dampingi investasi masa muda, masa bujangan, masa belum menikah Anda dengan Asuransi Jiwa Allianz

Butuh ketentraman? Pilih asuransi jiwa Allianz Syariah.

Konsultasi gratis dan ilustrasi, hubungi:

Estri Heni

SMS/WA:  0817 028 4743

atau isi data di form dengan klik PERMOHONAN ILUSTRASI, untuk mendapatkan ilustrasi asuransi jiwa Allianz Syariah.

Istri Punya Asuransi Jiwa atau Tidak, Ini Bedanya

 

Umumnya pencari nafkah utama adalah suami.  Sehingga suami idealnya harus memiliki asuransi jiwa.  Lalu bagaimana dengan istri?  Apakah tidak perlu punya asuransi jiwa?

Artikel ini membahas tentang istri yang punya asuransi jiwa atau tidak.  Dengan kondisi ideal, yaitu suami sebagai pencari nafkah utama dan suami sudah punya asuransi jiwa untuk dirinya sendiri.

 

ISTRI BEKERJA KANTORAN

Bila istri bekerja, artinya istri juga sebagai pencari nafkah.  Jika penghasilan istri ini untuk membantu penghasilan suami dalam membiayai kebutuhan hidup, maka istri sebaiknya juga punya asuransi jiwa.  Tujuannya untuk melindungi penghasilan dirinya (istri) agar tetap utuh jika terjadi resiko hidup.

Istri yang bekerja kantoran tentu memberikan kontribusi penting bagi kinerja perusahaan, sehingga perusahaan pun membayar jasanya dengan baik.  Penghasilan istri ini (pada beberapa kasus) disatukan dengan gaji suami untuk memenuhi beberapa poin keperluan keluarga.  Pada beberapa keluarga, penghasilan istri bisa juga untuk membayar pegawai yang bekerja di rumahnya untuk menggantikan peran selama istri berada di kantor.  Contoh:  membayar pengasuh bayi/anak, asisten rumah tangga, sopir, sekuriti, tukang kebun, juru masak.  Semoga semua istri yang bekerja kantoran selalu diberi kesehatan, sehingga tetap bisa produktif di kantor, tetap berpenghasilan, bisa membayar pegawai di rumah, sehingga tetap sinergis pekerjaan di kantor dan di rumah.  Aamiin…

Bagaimana bila suatu saat terjadi resiko? Si istri bekerja lalu terdiagnosa sakit berat (contoh:  kanker, jantung, dll)  Tentu kualitas hidup menurun, istri tidak lagi bisa bekerja dengan baik. Proses pengobatan dan penyembuhan untuk kasus sakit berat bukanlah hal yang instan, melainkan butuh waktu panjang.

Apakah istri yakin, selama istri bergulat dalam proses penyembuhan itu, perusahaan akan menunggu istri sampai sembuh kembali?  Sampai kapan harus menunggu?  Bagaimana dengan tugas dan kewajiban pekerjaan istri terhadap perusahaan?  Bisa jadi, diam-diam Perusahaan tempat istri bekerja mungkin sedang menyiapkan seseorang yang sama baiknya atau bahkan lebih baik produktifitas kerjanya sebagai pengganti posisi istri di perusahaan tersebut.

Lalu saat istri sudah benar-benar pulih, apa yang terjadi?  Perusahaan, dengan tidak mengurangi rasa hormat dan apresiasi terhadap kontribusi dan loyalitas  pekerjaan si istri selama belasan tahun tersebut, dengan sangat terpaksa meminta istri untuk bekerja di rumah saja…

Bila istri bekerja kantoran TIDAK punya asuransi jiwa

Saat istri sedang tergolek sakit, ataupun sudah melalui proses pengobatan, ataupun menjelang proses pemulihan, selain butuh waktu (sehingga pekerjaan di kantor dan perusahaan tidak bisa menunggu), juga butuh biaya besar.  Dananya dari mana?  Kuras tabungan, cairkan deposito/reksadana, jual investasi logam mulia, bisa cepat, tapi bagaimana dengan nominalnya?  Bisa besar juga?  Oke, masalah bisa selesai.  Tapi coba renungkan kembali.  Apa tujuan awal istri dari dana yang disiapkan melalui tabungan, deposito, reksadana, logam mulia tersebut?  Yakin nih, tujuan awalnya memang untuk siapkan dana darurat bila terjadi sakit berat?  Benar nih, bukan untuk siapkan dana untuk pensiun sejahtera?  Bukan untuk siapkan dana perjalanan ibadah?  Bukan untuk siapkan dana wisata keluarga?

Bila dananya ternyata belum cukup, bagaimana?  Terpaksa jual mobil, bisa cepat.  Jual rumah?  Butuh waktu lama untuk dapat harga yang sesuai.  Bisa cepat, bila harga “setega”nya.  Memang sih, dananya bisa dapat.  Tapi coba renungkan kembali.  Apa tujuan awal istri memiliki mobil dan rumah tersebut?  Yakin nih, tujuan awalnya memang untuk dijual saat butuh dana darurat bila terjadi sakit berat?  Benar nih, bukan untuk siapkan tempat tinggal ternyaman saat pensiun untuk tetap sejahtera?  Bukan untuk menjadi sarana transportasi paling nyaman semasa masih produktif?

Jadi, seorang istri yang produktif, bekerja di perusahaan hebat, bisa mengaktualisasikan diri, berangkat pagi pulang sore, sering meeting di luar kota, hari Sabtu-Minggu yang sedianya untuk keluargapun sampai berubah menjadi hari kerja, meninggalkan suami dan anak-anak, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, lalu diinvestasikan dengan tujuan awal:  kebahagiaan dan kenyamanan saat pensiun, ternyata malah uang dan hartanya terpakai untuk BIAYA PENGOBATAN SAKIT BERAT?????

Saya rasa, si istri perlu cek ulang rencana pengelolaan keuangannya.

Asuransi jiwa bagi istri bekerja kantoran

Pada asuransi jiwa ada manfaat tambahan yaitu asuransi sakit kritis.  Yaitu memberi uang tunai jika terjadi sakit kritis/sakit berat.  Jika istri yang bekerja kantoran mengalami sakit ringan (ataupun sakit berat) yang pengobatannya berhubungan dengan RS (baik rawat jalan ataupun rawat inap), silahkan gunakan fasilitas asuransi kesehatan terbaik dari kantor.

Jika istri yang bekerja kantoran tersebut mengalami sakit berat, maka ada uang tunai jumlah besar yang bisa digunakan untuk membayar biaya2 yang timbul DI LUAR biaya RS.

Apa saja biaya yang timbul di luar biaya RS?

Contoh:

  • Akomodasi untuk orang yang menemani, seperti transportasi, penginapan, biaya makan, dan lain-lain. Orang yang menemani si sakit ini bisa jadi bukan satu-dua orang. Biaya akan lebih besar jika perawatan dilakukan di luar negeri.
  • Perawatan lanjutan sepulang dari rumah sakit, seperti perawat di rumah dalam jangka waktu yang lama (untuk kasus stroke atau lumpuh), cuci darah hingga seumur hidup (untuk kasus gagal ginjal), atau suplemen untuk penguat tubuh yang pada umumnya berharga mahal (seperti produk kesehatan yang sering ditawarkan MLM).
  • Biaya hidup selama tidak bekerja karena menjalani perawatan, dan biaya hidup untuk keluarga jika tidak bisa bekerja lagi untuk seterusnya.
  • Biaya pendidikan anak atau dana pensiun (jika sembuh dan dapat bekerja lagi seperti sebelumnya sehingga biaya hidup tak jadi masalah).

Biaya tersebut tidak dicover oleh asuransi kesehatan sebaik apapun.  Sehingga asuransi kesehatan dari kantor istri hendaklah didampingi dengan asuransi sakit kritis pada asuransi jiwa.

Bagaimana bila istri bekerja kantoran tersebut akhirnya dipanggil Yang Kuasa?

Ada warisan yang berguna bagi suami dan anak-anak.  Bisa dimanfaatkan sebagai dana pemakaman dan beberapa kebiasaan budaya asal si istri (seperti ritual keagamaan yang panjang, dll). Atau didepositokan untuk tambahan biaya pengeluaran keluarga seperti saat istri masih hidup.  Atau diinvestasikan kembali untuk tujuan siapkan dana pendidikan anak.

Istri yang punya asuransi jiwa akan sangat membantu finansial suami, saat terjadi resiko sakit berat.  Suami tidak perlu kuatir kehilangan sebagian tabungan atau hartanya untuk membiayai sakit berat istrinya tercinta.  Istri juga tidak perlu kuatir kehilangan sebagian tabungan atau hartanya untuk membiayai sakit berat dirinya.

Semua cita-cita indah, rencana masa depan menyenangkan yang disiapkan dari dana tabungan dan investasi akan tetap utuh dan bisa terwujud.

Jadi, sebagai istri yang bekerja kantoran, apakah Anda akan:

  • Membuka polis asuransi jiwa sebagai pendamping asuransi kesehatan dari kantor?
  • Menyiapkan dana warisan untuk suami dan anak2 agar rencana indah masa depan tetap terwujud?

Atau hanya akan:

  • Memaksimalkan asuransi kesehatan dari kantor tapi menggunakan dana pribadi untuk biaya2 di luar RS?
  • Membiarkan kehidupan suami dan anak2 berjalan apa adanya “sepeninggal” istri?

Saya yakin, sebagai istri bekerja kantoran yang well educated, seorang istri bijak pasti akan merencanakan pengelolaan keuangan terbaik, tidak hanya jangka pendek, melainkan juga untuk jangka panjang.

 

ISTRI DI RUMAH SAJA

Istri tidak bekerja kantoran, bukan berarti istri yang santai, hanya di rumah saja.  NO, big NO!  Istri yang di rumah saja itu malah kerjanya 24/7/365.  Kerjanya full, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Saat bosnya terjaga, istri bekerja, saat bosnya tidur, istri juga bekerja. Pekerjaannya multitasking:  juru masak, pengasuh anak, sekuriti, guru, sopir, laundry, house keeping, cleaning service, psikolog, psikiater, tenaga medis pertama, manajer keuangan keluarga, wuiiiihhh banyak yaaaa…  Tanpa libur, tanpa cuti, tanpa bonus.  (Hahaha… ini mah curhatan saya)…

Bayangkan pekerjaan istri yang di rumah saja.   Semoga semua istri yang di rumah saja selalu sehat walafiat, sehingga semua pekerjaan selalu bisa dilakukan dengan baik.

Di kalangan istri atau ibu rumah tangga, bahkan sampai ada quote yang tidak tertulis bahwa “istri/ibu itu dilarang sakit walaupun cuma sakit ringan seperti sakit kepala, demam, atau flu”.  Betul apa betul, ibu-ibu??

Ya, karena kalau istri sakit, semuanya jadi berantakan.  Istri sakit artinya:  tidak masak, tidak beberes rumah, tidak antar jemput anak sekolah.  Artinya lagi: untuk makan terpaksa beli masakan jadi.  Untuk beberes rumah terpaksa semua anggota keluarga turun tangan.  Untuk antar jemput sekolah terpaksa langganan tukang ojek untuk beberapa hari ke depan.  Jika anak sudah remaja, tidak masalah.  Bagaimana jika anak masih balita???

Itu baru sekedar sakit ringan, istri cuma perlu istirahat di rumah maksimal 2 hari.  Bagaimana bila istri sakit dan harus rawat inap?    Sakit ringan rawat inap di RS maksimal butuh waktu 7 hari.  Masalah dan solusinya hampir sama.  Hanya butuh waktu sedikit lebih lama untuk beli masakan jadi, untuk merelakan rumah agak berantakan sedikit lebih lama, dan untuk berlangganan ojek juga agak bertambah lama harinya.  Biaya sakit untuk kasus seperti ini masih ditanggung asuransi kesehatan dari kantor suami.  Benar ya Bu Ibu???

Setelah sehat, alhamdulillah.  Aktifitas normal kembali setelah 7 hari “berantakan”…

Istri di rumah saja yang  TIDAK punya asuransi jiwa

Ada suatu kenyataan bahwa istri tidak bisa memilih untuk “hanya terima sakit ringan saja” atau “nanti saja sakitnya kalau sudah tua”.  Ya, itu namanya resiko hidup.  Hidup tidak selalu mulus seperti yang diinginkan semua istri.  Bagaimana bila kejadiannya:  ternyata istri yang selalu sehat, rajin olahraga, tidak pernah rawat inap, tiba2 terdiagnosa sakit berat?

Anak2 masih butuh ibunya, suami butuh istrinya.  Kehidupan anak bisa terganggu.  Sekolahnya jadi terganggu, mungkin jadi sering bolos karena harus temani ibunya ke RS, ataupun tetap sekolah tapi pikirannya tidak tenang karena teringat ibunya.  Demikian juga suami.  Pekerjaan jadi terganggu, jadi sering tidak masuk kerja karena harus temani istri, atau tetap pergi meeting tapi hati dan pikiran tidak tenang.

Karena 1 anggota keluarga yang sakit, seluruh anggota keluarga terkena dampaknya.  Dampak psikologis.  Waktu produktif untuk suami bekerja jadi berkurang.  Waktu produktif anak untuk belajar juga jadi terganggu.  “Quality time”, waktu berkualitas untuk bercengkrama bersama keluarga pun jadi rusak…

Sakit berat yang menjadi momok bagi istri (perempuan) misalnya Kanker.  Nasabah saya dengan sedih menceritakan istrinya yang beberapa bulan lalu terdiagnosa kanker payudara stadium 2B, sampai berkata “Gila ya, sekarang ini seseorang terdiagnosa kanker sudah menjadi hal yang biasa terjadi”.  Artinya sekarang ini terdiagnosa kanker sudah sesering orang terdiagnosa flu.  Padahal penyakit kanker itu jenis penyakit yang luarbiasa.  Bukan penyakit yang tiba-tiba. Artinya ada pengaruh faktor genetika/keturunan, atau juga pola hidup dan pola makan.  Disebut luarbiasa juga karena efek penyakit yang dirasakan bagi pasiennya, efek pengobatannya yang bisa membunuh sel normal disekeliling sel kankernya, dan yang lebih terasa adalah efek keuangan yang ditimbulkan.

Bila istri terdiagnosa sakit berat, pilihannya cuma 1: terima dengan ikhlas dan dijalani setiap tahap pengobatannya.  Biaya pengobatan sakit berat sangatlah besar.  Contoh kanker:  1x kemoterapi minimal bisa 30 juta. Padahal butuh 6x kemoterapi.  Bila pembuluh darahnya kecil dan bermasalah, perlu pasang kemo port biayanya bisa 40 juta.  Belum obat yang diminum (ini bisa dicover asuransi kesehatan), vitamin dan suplemen (ini tidak dicover asuransi kesehatan), jangan lupa ada biaya2 lain diluar biaya pengobatan selama di RS (ini harus rogoh kantong pribadi).

Lihatlah bahwa saat resiko hidup terjadi pada istri yang di rumah saja, bukan hanya masalah fisiologis, psikologis saja yang terjadi.  Ibaratnya, yang sakit cuma istri, tapi seluruh anggota keluarga terkena dampaknya.

Dampak keuangan dari sakit berat bagaimana?

Sakit berat butuh biaya besar, butuh waktu dan tenaga juga yang tidak sedikit.  Tabungan terkuras, aset yang dimiliki terpaksa dijual, dan bahkan terpaksa harus membuang malu agar bisa meminjam uang sanak saudara.

Saat istri yang di rumah saja ini sehat walafiat, semua urusan rumah tangga bisa beres.  Saat istri yang di rumah saja ini ternyata terpaksa menghadap Sang Maha Pencipta, bagaimana?

Pekerjaan dan tanggungjawab rumah tangga yang dilakukan istri yang di rumah saja tidak sedikit.  Pada keluarga yang kondisi keuangannya terbatas, tidak ada dana untuk membayar gaji pegawai di rumahnya, maka istri-lah yang mengerjakan semua urusan rumah tangga.  Bayangkan jika suami harus membayar banyak pegawai di rumahnya untuk menggantikan perannya.  Berapa banyak dana yang dialokasikan?

Asuransi jiwa bagi istri yang di rumah saja

Bila terjadi resiko sakit berat yang membutuhkan biaya yang sangat besar, suami tinggal membantu siapkan dokumen yang diperlukan untuk melakukan klaim sakit kritis.  Dokumen diproses, cairlah DANA TUNAI jumlah besar.  Istri bisa tenang menjalani pengobatan tanpa kuatir harus kuras tabungan atau jual harta suami.  Proses pemulihan akan menjadi lebih mudah jika pasiennya tenang hati dan pikiran.

Bila terjadi resiko kematian, ada warisan yang bisa didepositokan dan sisanya dipakai untuk tambahan pengeluaran rutin rumah tangga.  Misalnya:  membayar gaji pengasuh anak, asisten rumah tangga, tukang kebun dll.  Sehingga suami bisa fokus pada pekerjaannya di kantor, dan pekerjaan di rumah beres saat suami pulang kantor.  Suami tetap punya “Quality Time” bersama anak-anak sampai mereka dewasa.

Ataupun:  dengan adanya warisan yang besar dari istri tercinta, suami bisa punya keputusan terbaik:  bekerja dari rumah saja atau bahkan meninggalkan pekerjaan di kantornya.  Semata-mata agar bisa fokus mengurus anak-anak dan mengawasi pegawai rumah tangga.  “Quality Time” yang dibutuhkan oleh anak-anak tetap bisa mereka dapatkan dari sosok ayahnya walau tanpa kehadiran ibunda bersama mereka.

Ingatlah bahwa:

parenting

 

 

Jadi, sebagai istri yang di rumah saja, apakah Anda akan:

  • Membuka polis asuransi jiwa sebagai pendamping asuransi kesehatan dari kantor suami?
  • Menyiapkan dana warisan untuk suami dan anak2 agar rencana indah masa depan tetap terwujud?

Atau hanya akan:

  • Memaksimalkan asuransi kesehatan dari kantor suami tapi menggunakan dana pribadi untuk biaya2 di luar RS?
  • Membiarkan kehidupan suami dan anak2 berjalan apa adanya “sepeninggal” istri?

Saya yakin, sebagai istri yang well educated, seorang istri bijak pasti akan merencanakan pengelolaan keuangan terbaik, tidak hanya jangka pendek, melainkan juga untuk jangka panjang.

 

Mari lakukan strategi cara cepat siapkan dana darurat sakit kritis untuk istri tercinta dan warisan untuk anak-anak tersayang…

Konsultasi gratis dan ilustrasi, hubungi:

Estri Heni

SMS/WA:  0817 028 4743

Atau isi data di form PERMOHONAN ILUSTRASI

 

 

 

Suami Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya

 

Adalah bijaksana jika seorang suami memutuskan untuk membeli asuransi jiwa untuk dirinya, karena pertimbangan bahwa kelak jika dirinya meninggal dunia terlebih dulu maka ia ingin agar istri dan anaknya tetap bisa hidup layak, sama seperti sekarang.  Di saat ini, saaat dirinya masih sehat, masih bugar, masih bisa berpenghasilan, bersama istri dan anaknya yang sangat dicintainya ini.

Bersyukurlah kita, para istri, jika pertimbangan suami kita seperti itu.  Benar-benar tujuan yang mulia, bukan?

Namun, ada saja loh, suami yang tidak setuju untuk punya polis asuransi dengan alasan “asuransi itu tidak berguna saat saya hidup dan sehat.  Nanti kalo saya meninggal baru cair kan itu warisannya?  Enak buat istri, gak enak buat saya  dong.  Nanti warisannya dipakai istri untuk nikah lagi dan bersenang-senang dengan suami barunya.  Rugi buat saya, saya nggak dapat apa-apa.  Cuma disuruh setor terus bertahun-tahun…”

Alasan tersebut benar adanya ya bu Ibu dan Pak Bapak… Maksudnya, saya juga menemukannya di lapangan saat ngobrol dengan prospek.  Tapi saya yakin, pembaca artikel di blog saya, pasti termasuk kategori suami bijaksana seperti yang saya ceritakan di awal artikel ini.

Jika ada pembaca artikel di blog saya ini yang beralasan bahwa asuransi hanya menguntungkan istri saja, rasanya Anda perlu mengingat kembali alasan Anda menikahi istri Anda.  Anda pasti mencintai dan menyayangi dia, bukan? Dan saya yakin, istri Anda pun demikian.  Dia rela meninggalkan Ayah Ibu nya demi membangun keluarga baru dengan Anda.  Orangtuanya pun sudah mempercayakan anak gadis yang dibesarkan dengan sangat baik, diberi pendidikan terbaik, diberi kehidupan yang layak, untuk hidup bersama Anda, laki-laki yang baru dikenalnya saat dewasa.  Lalu Anda hanya berpikir sedangkal itu?  Anda hanya mementingkan diri sendiri?  Tugas Anda sebagai suami dan Ayah masih berlanjut.  Walaupun saat Anda sudah tidak bersamanya.

 

Seperti pada QS An Nisaa ayat 9:

“Dan Hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.(9) “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala”(10)

Di dalam Ash Shaihain dinyatakan bahwa Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam saat menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqash, beliau ditanya:”Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki banyak harta dan tidak memiliki ahli waris kecuali seorang putri. Apakah boleh aku bershadaqah dua pertiga hartaku?” Maka RasulullahShallahu’alaihi wa Sallam menjawab:

لاَ قاَلَ: فَا الشَّطْرُ؟ قَالَ:((لاَ)) قَالَ:((الثُّلُثُ، وَ الثُّلُثُ كَثِيْرٌُ)) ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَي الله عَلَيْهِ وَ سَلَّم: ((إِنَّكَ إِنْ تَذَرْ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ، خَيْرٌُ مِنْ أَنْ تَذَرَ هُمْ عَالَةًَ، يَتَكَفَّفُوْنَ النَّاسَ

“Tidak.” Ia bertanya:”Setengah?” Beliau menjawab:”Tidak.” Dia bertanya lagi:”(Bagaimana) sepertiga?” beliaupun menjawab:”Ya, sepertiga boleh dan sepertiga itu cukup banyak.” Kemudian Rasulullah Shallahu’alaihi wa Sallam bersabda :”Sesungguhnya kamu tinggalkan keturunanmu dalam keadaan cukup adalah lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka miskin meminta-minta kepada orang lain.” (HR Bukhari-Muslim)

 

Asuransi Jiwa adalah salah satu ikhtiar untuk menjaga keturunan dalam keadaan cukup, bila pencari nafkah / tulang punggung keluarga meninggal dunia.

 

 

ar

 

Pertanyaan:  Benarkah apabila suami memiliki asuransi jiwa, lalu setelah suami meninggal, istri akan mendapatkan uang pertanggungan sebagai warisan yang pada akhirnya akan membuat si istri kawin lagi dengan laki laki lain?

 

  1.  Istri yang Almarhum suaminya TIDAK memiliki polis asuransi sebelumnya.

Seorang janda dari suaminya yang tidak memiliki polis asuransi jiwa sebelumnya, bahkan belum habis masa sedih dan berkabungnya, langsung dihadapkan pada kenyataan: harus tetap menjaga dan menghidupi buah hatinya seorang diri.   Pernahkah Anda (suami) bayangkan: bila si istri yang terbiasa tidak bekerja (ibu rumah tangga) harus mulai dari nol mencari kerja guna menghidupi dirinya sendiri beserta anak?

Pada awal kisah tentu masih bisa, dengan cara menjual barang-barang peninggalan anda, tapi sampai kapan? Itupun jika anda memang ada meninggalkan “sesuatu” untuk istri anda seperti mobil, tanah, rumah atau asset lainnya.  Bagaimana jika tidak ada?

Di saat sedih, labil, dan terpuruk secara emosi maupun ekonomi, istri anda tentu akan mencari perlindungan kepada orang lain. Masing-masing saudaranya tentu sudah ada tanggungan anggota keluarga lain dalam hidupnya.  Masa iya sih, mereka akan menanggung lagi istri Anda + anak2 Anda?  Kalaupun iya, sampai kapan?  Saat saudaranya sudah tidak dapat lagi menanggung keluarga yang Anda tinggalkan, jangan salahkan istri Anda jika dia berusaha mencari sosok pengganti anda.

Bukan lagi untuk berkasih sayang memikirkan dirinya sendiri, melainkan lebih kepada untuk bertahan hidup dan membesarkan anak-anak Anda.  Jadi, istri anda kemungkinan akan menikah lagi, karena anda tidak memiliki polis asuransi jiwa sebelum anda meninggal dunia. Di satu sisi, kasihan anak anak anda yang terpaksa harus belajar menerima kehadiran seorang ayah “baru”.  Padahal dalam hati mereka, Anda-lah sosok Ayah terbaik dan terhebat bagi mereka, anak2 Anda.

Tapi ternyata, ada ayah “baru” dalam hidup mereka.  Bisa jadi, ayah “baru” ini memang sangat tulus menyayangi anak2 Anda. Seiring waktu, anak anak Anda akan lebih sayang pada ayah barunya dibanding kepada anda. Ayah barunya peduli kepada mereka dan bisa mecukupi kebutuhan mereka.

Sedangkan anda?

Karena kurang besarnya kepedulian Anda, anda tidak meninggalkan apa apa kepada istri dan anak anak anda. Bisa jadi Anda akan dikenang sebagai suami yang tidak bertanggung jawab oleh istri anda.  Bahkan anak anak anda akan menganggap anda adalah ayah yang jahat karena telah menelantarkan mereka sejak dari kecil. Yang salah bukanlah maut yang sangat cepat menjemput anda, tetapi anda yang tidak mempersiapkan diri selagi masih hidup dengan membeli asuransi jiwa.

 

2.  Istri yang Almarhum suaminya SUDAH memiliki polis asuransi jiwa sebelumnya.

Walaupun anda sudah tenang dan jauh disana, anda masih mampu menjaga kehidupan istri dan anak anak anda yang ditinggalkan. Uang Pertanggungan (UP) dari polis asuransi jiwa anda dapat dimanfaatkan sebagai modal usaha atau didepositokan saja sehingga istri mendapatkan penghasilan rutin (bunga) tiap bulannya sebesar gaji anda ketika anda masih hidup dulu.

Ternyata tidak ada perubahan kualitas hidup dari keluarga yang anda tinggalkan, karena anda mampu menghidupi mereka walaupun anda sudah tidak bersama. Meskipun anda telah tiada, tapi anda meninggalkan warisan bagi istri dan anak anak anda. Istri anda akan tetap mengenang anda sebagai sosok suami yang baik dan bertanggung jawab. Anak anak anda juga tetap akan mengenang anda sebagai sosok ayah yang sangat luar biasa, yang tidak pernah meninggalkan mereka dalam situasi sulit meskipun anda telah tiada.

Jika ada pria lain yang mendekati istri anda dan ingin menggantikan posisi anda, belum tentu istri anda mau karena cintanya hanya untuk anda seorang, dan dia masih bisa hidup dan menghidupi anak-anak anda berkat rencana matang yang sudah anda buat sebelumnya.

Mungkin istri anda akan berpikir seribu kali untuk menggantikan posisi anda dengan laki-laki lain. Istri anda juga dapat berpikir jangan-jangan pria pria yang mendekatinya hanya ingin mengincar harta mendiang suaminya saja.

 

 

Terlepas dari hal “apakah kelak istri Anda akan menikah lagi atau tidak”, ada pertanyaan lain yang lebih bermakna.

Apakah Anda tetap ingin anak Anda:

  •  Tumbuh dewasa sesuai panutan yang sudah Anda beri semasa masih bersama?
  • Senantiasa mendoakan Anda walau Anda sudah tidak lagi bersama mereka?
  • Menjadi anak yang selalu bersyukur atas kemudahan menjalani hidup yang sudah Anda siapkan sejak Anda masih bersama mereka?
  • Merasa bahwa Anda tetap mensupport mereka untuk mendapatkan pendidikan terbaik, kehidupan yang baik dan layak, sepeninggal Anda?
  • Tetap merasakan kebahagiaan yang selalu Anda beri sejak mereka lahir, balita, anak2, remaja, walaupun Anda tidak lagi bersama mereka?

 

Hindari mengkondisikan istri Anda untuk memulai lagi dari NOL, hidupnya membesarkan anak2 Anda..

Bantulah istri Anda yang sangat Anda cintai dan Anda andalkan sepanjang hidup Anda, untuk lebih mudah mengarungi hidup…

Bantulah istri Anda untuk tinggal melanjutkan saja perjuangan Anda agar bisa membesarkan anak2 dengan baik, memberikan pendidikan terbaik, mendapatkan kehidupan yang baik dan layak…

Bantulah istri Anda mewujudkan cita-cita Anda berdua untuk membentuk anak-anak yang sholeh dan sholehah dengan memberikan keteladanan yaitu meninggalkan mereka dalam keadaan cukup…

 

 

 

Mari miliki asuransi jiwa Allianz sekarang juga..

Lindungi penghasilan Anda dari berbagai resiko hidup (kecelakaan, cacat, sakit berat) yang bisa menguras penghasilan Anda.

Mencari ketentraman?  Pilih Asuransi Jiwa  Syariah!

Hanya dengan premi 355 ribu, dapat Uang Pertanggungan 1 Miliar, mau?

Atau premi 600 ribu, dapat total Uang Peranggungan 2.5 Miliar?

Semua ada di Asuransi Jiwa Allianz Syariah…

Kontak Estri

WA: 0817 028 4743

 

Jangan tunggu sampai besok karena kita tidak pernah tahu kapan batas waktu hidup kita di dunia ini.

Inspirasi ide artikel

 

 

Istri Tidak Setuju Suami Beli Polis Asuransi?

 

Sebagai agen asuransi yang memasarkan produk secara online, saya banyak dihubungi oleh pembaca.  Baik yang memang serius sedang mencari asuransi jiwa ataupun yang baru cari informasi tentang asuransi jiwa.  Tidak sedikit pembaca yang sudah berdiskusi mendalam dengan saya.  Dari yang awalnya belum tau sama sekali tentang asuransi jiwa, atau sudah tau asuransi jiwa namun belum paham, bahkan sampai yang sudah memahami asuransi jiwa.  Ada yang segera buka polis, namun banyak juga yang menunda-nunda.  Yang menunda-nunda itu seringnya mengatakan akan berdiskusi dulu dengan istrinya.  Lalu, hilang kontak dengan saya… hehe… Trik  menolak yang halus ya…

Padahal, saya yakin loh.  Sang suami ini karena saking sayangnya pada istri dan anak, sampai-sampai dia rela untuk membeli asuransi jiwa dan asuransi penyakit kritis untuk dirinya sendiri.  Sebagai upaya antisipasi jika terjadi apa apa terhadap dirinya, maka istri tercinta dan anak-anak tersayangnya tidak sampai terkena dampaknya.  Itu loh sebenarnya fungsi asuransi.  Bukan untuk gaya-gayaan atau ikut-ikutan tren berasuransi sekedarnya.

Yang kadang membuat saya bingung adalah, jika memang sudah menjadi paham tentang fungsi asuransi, dan sudah sesuai dengan kebutuhan proteksinya, lalu kenapa harus ditunda atau bahkan dibatalkan?

Bisa jadi, karena sang suami yang sudah memahami fungsi asuransi dan sudah setuju tersebut, ternyata terganjal oleh ijin sang istri tercinta.  Bila sang istri tidak mengijinkan, lalu bagaimana? Kenapa hal itu bisa terjadi?

Faktor penyebab Suami batal beli polis asuransi:

  1.  Istri belum sepenuhnya memahami fungsi asuransi.  Seharusnya hal ini bukan kendala.  Informasi tentang asuransi sudah banyak bisa didapat dari internet.  Tinggal kemauan untuk mau memperbaharui informasi saja.
  2.  Istri tidak terbuka menerima hal baru yang bukan “area” pemahamannya.  Nah, disini peran suami bijak sangat dibutuhkan.  Suami yang bijaksana tentu dapat memberikan pemahaman yang baik kepada istri bahwa asuransi jiwa yang dibeli ini nantinya bermanfaat untuk memberikan proteksi kepada istri dan anak-anaknya kelak, di saat dirinya sudah tidak bersama-sama dengan mereka lagi.   Siapa yang bisa menebak usia seseorang bisa hidup sampai kapan? Bila belum berhasil atau perlu informasi lebih detil, silahkan kita atur waktu.  Beri kesempatan agen asuransi untuk menjelaskannya.
  3.  Istri sebagai pengambil keputusan.  Sebenarnya, jika istri sudah memahami fungsi asuransi, saya yakin, istri tercinta akan mendukung suami untuk buka polis asuransi jiwa.  Kenapa?  Karena hal ini juga berhubungan dengan diri istri dan anak loh.  Polis asuransi jiwa itu melindungi penghasilan suami, agar penghasilan suami tetap utuh, saat terjadi hal-hal buruk pada suami.  Karena ada asuransi yang akan memberikan Uang Tunai Jumlah Besar…
  4.  Istri kuatir anggaran belanja bulanan untuk dirinya akan berkurang karena dipakai untuk bayar premi asuransi.  Hehe… Benarkah demikian?  Kebanyakan istri jaman sekarang pastinya sudah mandiri.  Sudah punya penghasilan sendiri.  Baik untuk menambah penghasilan suami, ataupun memang untuk memenuhi keinginan sendiri seperti jalan-jalan, makan-makan bersama rekan kerja.  Namun juga tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada juga yang memang masih berharap penuh dari penghasilan suami.
  5.   Istri merasa rugi keluarkan uang untuk bayar premi asuransi.  Kalau suami baik-baik saja, kan tidak dapat apa-apa dari asuransi.  Padahal sudah bayar premi bertahun-tahun…  Nah, kalau yang seperti ini, masalahnya sama.  Sang istri juga pasti belum paham asuransi.  Solusinya seperti pada poin 1 di atas.

 

husband-wife-relation

 

Saran untuk Istri

Apakah anda sebagai istri bisa menjamin bahwa suami yang anda telah anda nikahi akan menemani anda sampai akhir hayat anda? Anda patut bersyukur jika:

  • suami anda tetap diberi kesehatan yang prima sehingga dia dapat bekerja untuk menafkahi anda sekeluarga.
  • suami anda diberikan usia yang panjang sehingga anda dan anak anak anda masih dapat menggantungkan hidup anda pada suami.

Namun, bagaimana jika faktanya tidak seindah keinginan Anda:

  • Jika maut merenggut nyawa suami anda di usia muda?
  • Jjika suami divonis terkena sakit kritis yang mengakibatkan dia tidak dapat bekerja lagi?
  • Dikala anak anak anda masih kecil dan anda sendiri sebagai istri juga tidak bekerja, pernahkah anda berpikir bagaimana nasib anda dan anak anak kelak?

Alangkah bijaksananya jika istri tidak melarang suami anda untuk membeli asuransi untuk dirinya sendiri. Sebagai istri, anda bahkan perlu mendorong suami anda untuk memiliki asuransi.

Bahkan teman saya tidak mau menikahkan anak gadisnya dengan pemuda yang belum memiliki asuransi loh.  Jadi syarat untuk meminang anak gadisnya, bukanlah si calon menantu harus sudah memiliki rumah, pekerjaan tetap, mobil atau harta benda lain, tetapi apakah dia sudah punya asuransi jiwa atau belum.

 

Saran Untuk Suami

Anda memang sebaiknya mendiskusikan keinginan Anda untuk punya polis asuransi jiwa ini dengan istri.  Apapun respon istri, Anda tetap harus memberikan pemahaman yang benar tentang manfaat dan fungsi asuransi jiwa.  Jika memang Anda sangat sayang istri dan anak, saya yakin Anda akan memutuskan apa yang menurut anda terbaik bagi keluarga anda.

Silahkan membatalkan beli polis asuransi jiwa, jika:

  • Anda sudah punya investasi yang sangaaaaaattt banyak dan dengan nominal yang sangaaaaaaat besar
  • Anda sudah siap dana darurat jumlah sangaaaaaat besar, yang bisa dicairkan dalam waktu sesingkat-singkatnya
  • Anda sudah punya harta warisan yang tidak akan habis sampai 7 turunan
  • Anda sudah dipastikan tidak akan mengalami resiko hidup (kecelakaan, cacat tetap, sakit berat) semasa hidup

Pastikan bahwa Anda tidak membeli asuransi jiwa untuk diri anda, bukan karena dilarang oleh istri ya.  Ini namanya anda mencelakakan keluarga anda sendiri.  Anda mempertaruhkan masa depan anak anak anda.  Ingat loh, anda yang menginginkan anak anak anda dilahirkan di dunia ini, jadi anda juga sebagai orang tua bertanggung jawab untuk masa depan mereka kelak.

Tanggung jawab anda ini tidak hanya berlaku di saat anda masih hidup, tetapi juga di saat anda sudah meninggal dunia. Anda tentu tidak mau kan melihat anak anak anda putus sekolah atau tidak mendapatkan pendidikan yang baik hanya gara gara anda sudah tidak mampu menafkahi keluarga lagi? Anda tidak mau kan kelak hidup anak anak anda susah, bahkan untuk makan saja sulit hanya gara gara anda terlalu cepat meninggalkan mereka?

Karena itu rencanakan proteksi Anda guna melindungi penghasilan Anda, dan pastikan keluarga Anda tetap bisa hidup layak walau Anda tidak lagi bersama mereka.

Belilah asuransi jiwa Tapro Allianz mulai dari sekarang. Toh, premi bulanan yang mesti anda bayar juga tidak berat kok. Mulai dari Rp. 355.000 per bulan, anda sudah bisa mendapatkan UP jiwa sebesar Rp 1 Miliar yang melindungi sampai dengan anda berusia 70 tahun.

Inspirasi ide artikel dari sini