Fakta Klaim Polis Individu Allianz 2017

 

Allianz Life Indonesia sangat peduli dengan klaim nasabahnya. Sepanjang kejadiannya benar dan prosedurnya sesuai aturan, klaim nasabah pasti disetujui, walaupun baru beberapa hari.

Cara pengajuan klaim bisa dibaca di SINI.

Berikut adalah beberapa fakta mengenai klaim polis asuransi individu di Allianz Life Indonesia sepanjang Januari sd Agustus 2017. Total ada 2.421 klaim yang disetujui dengan nilai 396 miliar. Selengkapnya silakan disimak di bawah ini.

Iklan

Allianz Diberitakan Negatif, Malah Meningkatkan Brand-awareness Allianz

 

 

 

Mari kita pahami dulu jenis produk Cash Plan melalui berita berikut:

BERITA #1.    SUMBER

ASURANSI KESEHATAN: Produk Cash Plan Rawan Penipuan

September 20/ 2017     02:00 WIB
Oleh : Oktaviano D.B. Hana

JAKARTA —Pelaku asuransi dihimbau untuk menghentikan sementara pemasaran atau mengurangi nilai atau besaran manfaat produk asuransi kesehatan dengan skema hospital cash plan di tengah maraknya aksi penipuan atau fraud oleh pelaku yang diindikasikan telah terorganisir.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengatakan terjadi peningkatan jumlah laporan terkait aksi penipuan tersebut kepada asosiasi. Hingga saat ini, jelasnya, sudah lebih dari 10 pelaku asuransi yang memasarkan produk tersebut telah melaporkan kejadian serupa.

Dalam kasus yang diindikasikan fraud, jelasnya, tertanggung dibelikan produk asuransi kesehatan oleh oknum tertentu yang masih merupakan kerabatnya. Kemudian, tertanggung dengan sengaja mengkonsumsi makanan kadaluarsa sehingga bisa masuk perawatan rumah sakit dan dirawatinap dalam jangka waktu tertentu.

Dengan demikian, kata Togar, tertanggung akan menerima klaim asuransi kesehatan dengan skema hospital cash plan dengan nilai pertangunggan relatif besar, yakni dari Rp1,5 juta – Rp3 juta per hari.

“Misalnya, saudara, teman, bahkan orang tua diberi asuransi dan disuruh minum susu basi sehingga masuk rumah sakit dan dirawat satu sampai dua minggu. Ini bukan hanya satu atau dua orang, ini sudah terorganisir dan mengkhawatirkan seperti mafia,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin (18/9).

Secara umum, produk proteksi kesehatan yang ditawarkan asuransi, baik asuransi jiwa maupun asuransi kerugian atau umum terbagi atas dua jenis. Pertama, asuransi kesehatan yang menawarkan skema hospital benefit.

Produk ini secara mendasar dijalankan dengan prinsip indemnity atau ganti rugi sehingga manfaat asuransi diberikan melalui sejumlah paket atau plan, mulai dari biaya obat, dokter, hingga biaya rawat inap sesuai kelasnya, yang dipilih sejak awal.

Dengan begitu, penggantian kerugian dari produk dengan skema hospital benefit umumnya dilakukan nontunai sebab tidak melalui proses reimbursement dan dibayarkan oleh asuransi sesuai nilai yang tertera pada kuitansi tertanggung.

SANTUNAN

Sementara itu, produk lainnya adalah asuransi kesehatan dengan skema hospital cash plan. Produk ini sebenarnya bersifat santunan sehingga memberikan manfaat berupa biaya pengganti sesuai dengan jumlah hari perawatan atau tindakan tertentu.

Dengan besaran nilai penggantian yang ditetapkan di awal, klaim produk asuransi ini umumnya dilakukan secara reimbursement.

Skema inilah yang ternyata membuka peluang bagi nasabah asuransi jiwa untuk melakukan kecurangan.

Togar mengatakan AAJI saat ini menghimbau asuransi jiwa yang memasarkan produk tersebut untuk melakukan dua hal. Pertama, jelasnya, nilai manfaat dari produk tersebut sebaiknya diturunkan.

“Jadi, jangan lagi di atas satu juta, tetapi sekitar Rp500.000 atau Rp200.000 per hari. Meski, memang produknya jadi tidak menarik,” ungkapnya.

Kedua, sambung dia, AAJI berharap para pelaku asuransi untuk sementara tidak memasarkan produk tersebut hingga kondisi lebih terkendali. Dia mengatakan asosiasi meyakini kedua imbauan itu bakal mampu mengantisipasi dan meredam aksi penipuan yang tengah marak tersebut.

Di sisi lain, dia menilai problem ini juga menunjukkan kepada masyarakat bahwa dalam proses klaim asuransi, perusahaan tidak melulu salah. “Ini contoh pelanggan juga bisa nakal,” ungkapnya.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dadang Sukresna juga mengakui masih adanya indikasi aksi penipuan dalam pemanfaatan layanan jasa asuransi kesehatan. Menurutnya, aksi penipuan dalam klaim asuransi kesehatan dengan skema hospital cash plan paling mudah dilakukan.

“Sebetulnya sudah ada beberapa perusahaan asuransi anggota yang melaporkan adanya fraud. Ini harus menjadi perhatian,” ungkapnya kepada Bisnis.

Dadang menilai dampak aksi penipuan ini kian membesar bagi industri asuransi. Oleh karena itu, Dadang mengatakan aksi fraud ini akan menjadi salah satu tema yang akan dibahas dalam ajang 23rd Indonesia Rendevous yang diselenggarakan AAUI pada awal Oktober nanti.

Dia berharap pembahasan tema itu dapat memberikan gambaran dan solusi kepada pelaku, regulator dan pasar asuransi internasional terkait praktik penyimpangan tersebut. “Makanya, fraud ini menjadi salah satu topik. Kita mesti bersama memerangi fraud,” tegas Dadang.

Pelaku asuransi telah mengidentifikasi sejumlah oknum atau pihak yang diduga kuat melakukan aksi penipuan atau fraud dalam klaim produk asuransi kesehatan dengan skema hospital cash plan.

Direktur PT Asuransi Sinar Mas (ASM) Dumasi M.M. Samosir mengakui praktik penipuan dalam klaim asuransi kesehatan itu memang masih terjadi hingga saat ini. Umumnya, jelas dia, oknum tersebut membeli produk asuransi individual.

“Biasanya dilakukan oleh pembeli polis direct dan online,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (19/9).

Dumasi mengatakan ASM telah memasarkan produk asuransi kesehatan dengan skema tersebut sejak 1990. Pihaknya kala itu mulai menjual produk melalui kartu kredit Bank Internasional Indonesia.

Sejumlah polis dari produk asuransi yang dipasarkan saat itu pun masih bertahan hingga saat ini. Hingga saat ini, jelasnya, ASM telah memiliki 10 jenis produk asuransi kesehatan hospital cash plan.

“Kalau pemegang kartu kredit sejauh ini jarang sekali yang melakukan tindakan penipuan sejenis,” ungkapnya.

Dumasi menjelaskan ASM telah memiliki prosedur standar operasional dalam menangani indikasi fraud dalam klaim asuransi. Langkah itu memungkinkan pihaknya untuk lebih awal menindak dan mengantisipasi upaya penipuan.

Sejauh ini, jelasnya, aksi penipuan klaim asuransi kesehatan seperti ini marak dilakukan oleh pelaku asal Surabaya, Jawa Timur. Teranyar, Dumasi mengatakan jaringan itu meluas hingga ke Medan, Sumatera Utara.

“Jadi, kami memang buat kriteria khusus dalam menganalisa klaim-klaim dari Surabaya. Yang terakhir ini mereka buat jaringan ke Medan juga, tetapi orang-orangnya sebenarnya yang dari Surabaya itu,” ungkapnya.

Tag : asuransi,asuransi kesehatan
Editor : Abraham Runga

 

 

Lalu kita baca berita yang ini:

BERITA #2.   SUMBER

Kronologi Pedagang Ponsel Polisikan Eks Bos Allianz Indonesia

Oscar Ferry , CNN Indonesia | Rabu, 27/09/2017 10:00 WIB

Jakarta, CNN Indonesia — Polda Metro Jaya melalui Direktorat Reserse dan Kriminal menetapkan eks Presiden Direktur PT Asuransi Allianz Life Indonesia, Joachim Wessling dan Manajer Claim PT Asuransi Allianz Life Indonesia Yuliana Firmansyah sebagai tersangka dugaan mempersulit proses pencairan klaim nasabah.

Penetapan tersangka ini merupakan tindak lanjut dari laporan Ifranius Algadri. Wessling dan Yuliana dijerat dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Kuasa hukum Ifranius, Alvin Lim mengatakan, kasus ini diawali dari proses pencairan klaim asuransi jiwa yang diduga dipersulit pihak Allianz Life. Saat itu, kliennya tengah sakit tifus dan mengajukan klaim asuransi.

“Sakit pertama klaim lancar. Pas sakit kedua, sakit tifus, mulai dipersulit klaimnya. Padahal waktu beli asuransi ini klien saya dipaksa-paksa,” ujar Alvin kepada CNNIndonesia.com, Rabu (27/9).

Wessling sendiri sudah diganti sejak Juni 2017 lalu. Dia kini digantikan oleh Handojo G. Kusuma.

Alvin menjelaskan, pihak Allianz mempersulit proses pencairan dengan menambah persyaratan yang tidak ada di buku polis. Salah satunya soal catatan medis dokter yang harus dikeluarkan rumah sakit.

Pasal 10 ayat 2 dan 3 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/Menkes/PER/III/2008 tentang Rekam Medis disebutkan, rekam medis hanya bisa dibuka untuk kepentingan kesehatan pasien dengan cara mengajukan permintaan tertulis kepada pimpinan rumah sakit.

“Klien saya sebagai nasabah merasa dipermainkan,” ujar dia.

Lebih dari itu, dengan proses yang dipersulit ini, lanjut Alvin, Allianz disebut telah membuat kepercayaan masyarakat hilang.

“Mereka sudah melanggar prinsip asuransi. Kepercayaan masyarakat dilanggar. Dulu ngemis-ngemis pas nawarin asuransi, sekarang pas klaim malah begini dipersulit,” ujar Alvin.

 Alvin menambahkan, total nilai asuran yang diklaim Ifranius tidak besar, hanya Rp16,5 juta. Namun, Ifranius bukan mempermasalahkan nilainya, melainkan sikap Allianz dalam merespons protes masalah klaim ini.

“Klien saya ini pedagang ponsel, omsetnya miliaran, uang segitu kecil. Tapi ini soal attitude. Waktu dia datang ke kantor Allianz tidak ada yang mau respon. Dia malah ditantang, ‘bapak kalau tidak puas lapor saja polisi’. Ya sudah akhirnya lapor polisi,” ujar Alvin.

Head of Corporate Communication Allianz Indonesia Adrian DW mengatakan pihaknya masih melakukan diskusi internal terkait dengan langkah-langkah selanjutnya atas kasus hukum tersebut.

“Kami masih diskusi internal,” kata dia ketika dikonfirmasi CNNIndonesia.com pada hari ini.

Allianz Indonesia dalam keterangan tertulis menuturkan pihaknya menghormati proses hukum terkait dengan penyidikan atas dugaan kasus yang menjerat eks pejabat perusahaan asuransi tersebut.

Pernah Bermasalah

Penelusuran CNNIndonesia.com menemukan, nama Ifranius Algadri pernah tersandung masalah hukum di Pengadilan Negeri Tangerang, Banten pada pertengahan 2016 lalu. Dia diduga melakukan penggelapan uang Rp4,5 miliar.

Alvin membenarkan soal Ifranius pernah bermasalah dengan hukum. Namun kata Alvin, kliennya sudah dinyatakan bebas oleh Majelis Hakim. Kata Alvin, hakim mempertimbangkan persoalan kasus itu bukan pidana, tetapi perdata.

“Sudah divonis bebas, dan sekarang kasusnya di Mahkamah Agung karena jaksa kasasi. Kasus itu kasus perdata bukan pidana. Setelah itu hakim mempertimbangkan, dan akhirnya divonis bebas,” ujar Alvin.

 Sebagai informasi, Ifranius Algadri alias Frans, diseret ke Pengadilan. Pemuda yang kini berusia 22 tahun itu diseret ke pengadilan karena kasus penipuan dan penggelapan uang senilai Rp4,5 miliar.

Jaksa penuntut umum mendakwa Ifranius, yang merupakan pedagang ponsel itu dengan empat dakwaan, salah satunya Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Jaksa mendakwa Ifranius dengan Pasal 372 Junto Pasal 64 KUHP ayat (1), atau Pasal 378 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP, atau Pasal 379 huruf a KUHP, serta Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucucian Uang.

Jaksa menilai, perbuatan Ifranius menggelapkan uang Rp 4,5 miliar lalu membelanjakan uang tersebut demi keuntungan pribadi maupun orang terdekatnya. Hal itu sudah meyakinkan jaksa bahwa perbuatan terdakwa merupakan bentuk dari tindak pidana Pencucian Uang.

 Uang Rp 4,5 miliar yang digelapkan itu sebetulnya uang yang harus disetorkan ke distributor ponsel, PT Surya Citra Mukti atas penjualan produk ponsel di toko milik Ifranius. Namun, rupanya uang tersebut tidak disetorkan oleh Ifranius selaku rekan bisnis yang sudah menjalin kerja sama sejak 2014 lalu.
====================
Lalu apa hubungan dari ke2 artikel tersebut?
Pada kasus “heboh” ini, ternyata kasusnya adalah klaim uang santunan harian rawat inap, atau yang umum dikenal dengan CASH PLAN (bukan penolakan klaim atas kondisi SAKIT KRITIS atau MENINGGAL DUNIA).  Penjelasan tentang Cash Plan dan potensi rawan penipuan atas klaim ini, ada di berita 1 halaman ini.
Kenapa Allianz dipolisikan?  Allianz menolak pembayaran klaim yang ke-2 (versi pengacara)
Tanggapan Allianz?
Pertama,  Allianz memberi perhatian yang sangat serius terhadap kasus ini dan mempercayakan dan menghormati sepenuhnya proses hukum yang sedang berjalan.
Kedua,  Bersamaan dengan itu, Allianz tetap profesional dan berkomitmen menjaga kepercayaan nasabah, terutama dalam hal KLAIM.  Klaim yang memang layak untuk dibayar, akan dibayarkan oleh Allianz.  Asalkan klaimnya BENAR dan memenuhi syarat.
Tanggapan logis dan realistis saya:
Di postingan sebelumnya, saya sodorkan testimoni bukti Allianz bayar klaim nasabah bahkan untuk kasus-kasus berat seperti: sakit kritis dan meninggal dunia.  BACA INFONYA, KLIK DISINI
 Jika kondisi berat dan serius seperti:  sakit kritis dan meninggal dunia, dengan nominal klaim sekira ratusan juta – miliaran per nasabah, ternyata Allianz bayarkan klaimnya.  Lalu kenapa, untuk kasus cash plan yang nominalnya sekira 16.5 jutaan, ternyata Allianz menolak pembayaran klaimnya?
Silahkan dicek lagi riwayat klaim nasabah ini, yaitu klaim pertama dibayarkan oleh Allianz.  Artinya apa??  Allianz komitmen untuk membayar klaim, asalkan klaimnya BENAR dan memenuhi syarat.  Lalu kenapa klaim berikutnya “dipersulit?”….  Tanya kenapa?  Mengingat ini adalah klaim cash plan alias santunan rawat inap, yang menurut AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia) produk cash plan ini rawan penipuan.
Pada dasarnya, tidak ada perusahaan asuransi yang tidak mau bayar klaim, asalkan semua sesuai ketentuan kontrak polis yang berlaku.  Kepercayaan dari masyarakat adalah modal utama dalam bisnis asuransi. Oleh sebab itu, semua perusahaan asuransi pastilah akan berlomba untuk memberikan layanan polis terbaik untuk nasabahnya.
Menurut Muhamad Anugrah, SSi, AAAIJ,  Perusahaan asuransi pasti akan bayar klaim nasabahnya.  Pastikan saja perusahaan asuransi tersebut memiliki kinerja yang baik, terdaftar di OJK, memiliki laporan keuangan yang sehat dan transparan, dan tanyakanlah juga nilai RBCnya. OJK menetapkan 120% sebagai nilai minimal untuk RBC.
Bagaimana dengan Allianz? 

Perusahaan asuransi jiwa, PT Asuransi Allianz Life Indonesia, pada kuartal I 2017, membukukan total Pendapatan Premi Bruto (PPB) tercatat sebesar Rp3,03 triliun atau meningkat sebesar 33% (unaudited), jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2016. Seiring dengan jumlah polis aktif yang meningkat sebesar 8%, jumlah total klaim asuransi jiwa dan kesehatan yang dibayarkan sebesar Rp526 miliar.

Allianz Life juga memiliki rasio kecukupan modal (risk-based capital) yang sangat baik sebesar 405%, atau berada jauh di atas ketentuan minimum yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia sebesar 120% (sumber)

 

Pernyataan resmi PT Asuransi Allianz Life Indonesia

Terkait Kasus Keberatan Status Klaim Nasabah

 
[PRESS RELEASE]  Allianz Keluarkan Pernyataan Mengenai Peninjauan Ulang Klaim:

Jika Memang Klaim-nya BENAR Dan Memenuhi Syarat, Allianz Pasti Bayar

Saat ini Allianz semakin bersinar oleh tayangan berita online dan juga penyebarannya melalui media lainnya. Ya, sejak 2 hari lalu banyak nasabah, keluarga dan kenalan yang menanyakan pada saya perihal berita tentang nasabah yang mempidanakan kasus Allianz yang menolak klaim nasabahnya.  Saya akan sampaikan beberapa hal agar informasinya berimbang.  Sehingga bisa membantu pemahaman masyarakat awam yang belum mengerti asuransi sehingga belum berasuransi, ataupun nasabah bijaksana yang merencanakan proteksi keuangannya dengan baik, agar tidak mudah terganggu dengan adanya berita ini.

Pertama.  Terkait hal ini, jajaran pimpinan di dalam perusahaan memberi perhatian yang sangat serius terhadap kasus ini dan mempercayakan dan menghormati sepenuhnya proses hukum yang sedang berjalan.

Kedua.  Allianz menghormati hak nasabahnya dan secara bersamaan memilliki komitmen yang kuat untuk menjaga kepercayaan nasabah.

Proses klaim merupakan salah satu titik temu yang sangat penting bagi perusahaan dengan nasabah.  Sehingga Perusahaan senantiasa menjaga agar segala keputusan yang ada, telah dikaji dengan cermat, dan berdasarkan prinsip penuh kehati-hatian.

Allianz membayarkan klaim nasabah setelah mengkaji dengan cermat dan penuh kehati-hatian.  Begitupun jika Allianz menolak klaim nasabah, tentu setelah mengkaji dengan cermat dan penuh kehati-hatian.

Baca juga:  Langkah Penting Pengajuan Klaim

Ketiga.  Allianz menjunjung tinggi profesionalisme.  Jika klaim layak dibayarkan, maka Allianz akan membayar klaim nasabah.  Walaupun nominalnya besar, bisa sampai ratusan juta bahkan sampai miliaran, Allianz akan bayar klaimnya.  Asalkan: klaimnya BENAR dan memenuhi syarat.

Baca juga:  Kuartal I  2017, Allianz bayar klaim 526 Miliar

Sebaliknya:  Jika klaim memang TIDAK layak dibayarkan, maka Allianz akan menolak klaim tersebut.  Walaupun nominalnya sangat kecil, walaupun hanya 1 rupiah pun, Allianz akan menolak klaimnya.  Jika: klaimnya TIDAK BENAR dan tidak memenuhi syarat.

Keempat.  Utmost good faith (itikad baik) adalah prinsip utama yang harus dimiliki oleh semua pihak, baik itu Perusahaan Asuransi, Agen Asuransi dan Nasabah.  Hal ini tentunya dimulai dari awal saat pengajuan asuransi, yaitu kejujuran melaporkan kondisi kesehatan dan riwayat penyakit, lalu kejujuran saat melaporkan penyebab klaim.

Mungkin Anda terganggu dengan rumor dari seseorang yang beredar, tapi faktanya begitu banyak nasabah yang sudah merasakan manfaat asuransi Allianz dan begitu banyak keluarga yang terbantu secara financial karena klaim yang dibayar oleh Allianz.

Nasabah yang terbantu secara finansial karena klaimnya dibayar Allianz, silahkan klik disini:  TESTIMONI ALLIANZ BAYAR KLAIM NASABAH 

Saya tambahkan lagi beberapa nasabah lagi (yang datanya baru sedikit saya bisa kumpulkan, Insya Allah akan terus saya perbaharui):

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya yakin, Anda adalah pembaca yang bijaksana dalam menilai dan memahami berita yang beredar saat ini, baik secara online maupun media offline.

Jika klaim senilai ratusan juta – miliaran dibayarkan Allianz, lalu kenapa nilai klaim yang sekira 20 juta ditolak Allianz??  Tanya kenapa?  Silahkan dianalisa jika Anda punya banyak waktu luang untuk melakukannya…  😀

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kuartal I 2017, Allianz Bayar Klaim 526 Miliar

Perusahaan asuransi jiwa, PT Asuransi Allianz Life Indonesia, pada kuartal I 2017, membukukan total Pendapatan Premi Bruto (PPB) tercatat sebesar Rp3,03 triliun atau meningkat sebesar 33% (unaudited), jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2016. Seiring dengan jumlah polis aktif yang meningkat sebesar 8%, jumlah total klaim asuransi jiwa dan kesehatan yang dibayarkan sebesar Rp526 miliar.

Allianz Life juga memiliki rasio kecukupan modal (risk-based capital) yang sangat baik sebesar 405%, atau berada jauh di atas ketentuan minimum yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia sebesar 120%.

“Kami ingin berbagai inisiatif pelayanan yang ada akan terus berkembang hingga ke tahap berikutnya. Kami senantiasa melakukan berbagai upaya untuk mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan nasabah dan mengoptimalkan sumber daya yang kami miliki untuk memenuhinya,” Kata Presiden Direktur Allianz Life Indonesia, Joachim Wessling .

Joachim menambahkan bahwa Allianz telah meluncurkan berbagai pilihan fasilitas pembayaran premi dan klaim yang mengedepankan sistem real time yang membuat proses transaksi menjadi lebih cepat, akurat, aman dan nyaman bagi nasabah.

“Kami telah bergerak untuk menyesuaikan layanan kami dengan kebutuhan nasabah. Dari sisi pembayaran premi, Allianz kini menyediakan pilihan pembayaran yang lengkap mulai dari layanan pembayaran secara online di portal eAZy Payment, melalui gerai Indomaret, transfer melalui ATM/Internet/Mobile Banking, fasilitas virtual account, hingga auto-debit Kartu Kredit. Sedangkan dari sisi klaim asuransi kesehatan, selain fasilitas cashless yang dapat dipergunakan di jaringan rumah sakit rekanan, nasabah juga bisa menggunakan aplikasi mobile eAZy Claim untuk mengajukan klaim penggantian biaya pengobatan secara praktis. Ditambah lagi Allianz memberikan jaminan pembayaran klaim asuransi kesehatan akan selesai dalam waktu kurang dari 7 hari kerja,” ujar Joachim.

 

 

Sumber:

https://www.wartaekonomi.co.id/read142169/kuartal-i-allianz-bayar-klaim-rp526-miliar.html

Tidak Punya Tanggungan Hidup, Perlukah Berasuransi?

 

Tidak punya tanggungan hidup, berarti tidak ada orang yang harus ditanggung hidupnya oleh seseorang.  Orang yang ditanggung hidupnya itu bisa pasangannya atau anaknya atau orangtua nya ataupun kerabat lainnya.

Seseorang yang akan saya ceritakan kali ini adalah orang yang dekat di kehidupan saya.  Beliau adalah adik kandung dari ibu saya.   Sejak lulus sekolah, beliau diajak oleh Ayah untuk hidup bersama keluarga sembari menjajal peruntungan di ibukota.  Mungkin memang takdirnya bukan bekerja sebagai karyawan. Dengan keahliannya, beliau lebih nyaman berprofesi sebagai Driver freelance.  Siapapun yang butuh keahliannya, beliau siap membantu tanpa menentukan tarif.

Beliau tidak punya tanggungan hidup. Beliau tinggal bersama kami.  Makan, tidur, semua aktivitas hidup bersama kami. Sampai ibu saya menjanda pun, beliau masih bersama.  Ibu saya ikhlas menanggung beliau. Penghasilan beliau, biarlah menjadi tabungannya pribadi.

Saya pernah menawarkan asuransi sebagai proteksi untuk beliau.  Mengingat beliau tidak punya tanggungan hidup, penghasilan freelance nya amat riskan jika dijadikan “dana darurat” jika hal buruk terjadi, sementara ibu saya yang menanggung hidup beliau, juga hanyalah seorang janda yang tidak berpenghasilan.  Namun beliau menolak.  Alasannya klise: “saya masih sehat, tidak ada riwayat sakit berat dalam keluarga besar kita, dana saya terbatas, dan lagi toh saya tidak punya tanggungan yang harus diberi warisan”.  Saya rasa ditambah juga dengan minimnya pengetahuan beliau tentang bagaimana mengelola keuangan yang benar.  Beliau masih konvensional. Penghasilannya hanya ditabung di bank atau malah dibiarkan disimpan tunai di lemari pakaiannya.

Padahal jika beliau punya asuransi, maka ada beberapa hal yang bisa bermanfaat bagi beliau.  Apa saja?

  1. Akan mandiri secara finansial
  2. Tidak perlu merepotkan orang lain
  3. Fokus pada pelayanan pengobatan terbaik, biaya pengobatan biar asuransi yang urus
  4. Hasil kerja tidak sia-sia
  5. Tidak terjebak dalam riba
  6. Tidak meninggalkan hutang saat meninggal

 

Takdir memang tidak bisa ditolak, ataupun ditunda.  Punya asuransi bukan berarti menolak takdir.  Punya asuransi atau tidak, musibah tetap akan terjadi.  Bedanya, punya asuransi akan lebih membantu masalah keuangan yang timbul akibat musibah itu.

Jika Anda tidak percaya, tidak perlu meminta bukti. Cukuplah berpikir bijak dengan belajar dari pengalaman orang lain. Berikut pengalaman perjalanan hidup Paman saya, yang akan saya bagi.

Qadarullah, Pertengahan Juli 2017 kemarin, beliau terdiagnosis sirosis hepatis.  Padahal bertahun-tahun sebelumnya, beliau memang masih sehat, tidak tampak ada gangguan kesehatan, tidak ada keluhan kesehatan yang berat.

 

 

  1. Akan Mandiri secara finansial

Seseorang yang tidak punya tanggungan hidup, akan lebih fleksibel mengelola penghasilannya.  Pertama, tidak perlu pusing memberi nafkah rutin kepada orang yang menjadi tanggungannya, memikirkan biaya hidupnya seperti: biaya sekolah, biaya tagihan listrik/telepon, biaya kontrak rumah/kamar/kos, biaya cicilan barang, dll. Bebas saja, mau tinggal di kontrakan senyaman apapun atau sesederhana apapun, tidak akan ada yang protes.  Apalagi jika tinggal bersama kakak yang menyayanginya, malah bisa menghemat toh?

Kedua, mudah untuk menabung dan menginvestasikan sebagian besar dananya sebagai cara untuk mencapai tujuan hidup sejahtera pada masa tua kelak.  Ketiga, mudah untuk sisihkan sedikit penghasilannya untuk berasuransi.   Ini juga bebas saja, mau berapapun porsi dananya, tidak akan ada yang protes.

Ya, seseorang yang tidak punya tanggungan hidup memang bisa bebas mengelola penghasilannya.  Mau sekedar “dikeluarkan” atau mau diinvestasikan.  Namun jangan lupa juga untuk disisihkan sedikit saja dari penghasilannya sebagai upaya siapkan “dana darurat” jika resiko buruk terjadi dalam hidupnya.  Ini penting.  Memang, tidak ada tanggungan “langsung” yang akan direpotkan dalam hal tanggung jawab biaya hidup dalam urusan dunianya.  Tapi, rasa empati dan kekeluargaan dari kerabat tentu akan tetap membantunya.  Masalahnya:  seberapa besar para teman dan keluarga tercintanya akan bisa membantu keuangannya, jika yang terjadi adalah resiko buruk dan berat?

Fakta bahwa ada 5 golongan yang bisa membantu keuangan seseorang sewaktu kena musibah kecelakaan atau sakit kritis:

  • Sahabat dekat = bisa bantu 1 juta
  • Saudara dekat = bisa bantu 10 juta
  • Kakak Adik = bisa bantu 50 juta
  • Orangtua = bisa bantu 100 juta
  • 🙄🤔 ????? = bisa bantu 500 juta, 1 Miliar, 3 Miliar, 5 Miliar…. (disinilah asuransi berperan, yaitu disaat orang lain tidak ada yang mau dan mampu membantu keuangan seseorang)

 

2.  Tidak perlu merepotkan orang lain

Tidak punya tanggungan hidup berarti tidak ada orangtua atau pasangan atau anak yang menemani dan merawat saat beliau sakit. Maka kamilah para keponakannya yang bergantian menemani beliau selama dirawat di Rumah Sakit. Insya Allah kami ikhlas mengurangi waktu kami bersama anak-anak dan pasangan demi bisa menjaga beliau.  Namun saya tahu, dari sorot matanya, beliau juga ada rasa tidak tega melihat “pengorbanan kecil” kami.  Terbaca bahwa dalam hatinya, beliau juga tidak ingin merepotkan kami.  Tapi biarlah, kami tidak merasa direpotkan.  Hanya ini yang bisa kami lakukan. Membantu, mendampingi, memberikan semangat beliau terutama saat sakit, saat dirinya kepayahan dengan kondisi kesehatannya.

Saya tau dana beliau terbatas.  Jika beliau punya asuransi, maka beliau tidak perlu merepotkan orang lain untuk meminjamkan sejumlah uang untuk biaya pengobatan dirinya.

 

3.  Fokus pada pelayanan pengobatan terbaik, biaya pengobatan biar asuransi yang urus

Selama sakit, beliau sangat memahami kondisinya sendiri. Meminta saya untuk memindahkan beliau ke kamar perawatan kelas 3, menolak diberikan tindakan yang membuatnya merasa tidak nyaman. Aahhh… Permintaan beliau itu malah membuat saya sedih. Beliau mungkin memang tidak mau merepotkan saya, tidak mau membuat saya merasa terbebani biaya Rumah Sakit, tapi itu malah menyesakkan saya untuk berupaya maksimal bagi kesehatan beliau.

Dana beliau terbatas. Membuat beliau yang sedang sakit terpaksa masih harus selalu menyempatkan diri berpikir untuk menghemat biaya dan sangat membatasi dirinya sendiri untuk mendapatkan pengobatan dan fasilitas pelayanan kesehatan terbaik dan nyaman.

Jika beliau punya asuransi, beliau bisa fokus pada upaya pengobatan maksimal menggunakan fasilitas pelayanan terbaik.  Suasana nyaman tentu membuat pasien bisa tenang sehingga proses pengobatan bisa maksimal.

 

4.   Hasil Kerja Tidak Sia-sia

Jika beliau punya asuransi, maka hasil kerja beliau tidak akan sia-sia.  Sebagian kecil penghasilannya disisihkan untuk asuransi sebagai proteksi saat resiko terjadi.  Sebagian besar penghasilannya bisa diinvestasikan.

Sehingga di kala sehat, beliau tetap akan bisa membantu kerabat beliau lainnya yang sedang membutuhkan bantuan dana (bagian ini sering menjadi upaya terakhir kerabatnya saat butuh dana, yaitu menghubungi beliau, pinjam uang, dikembalikan tanpa bunga 😊, dan beliau akan senang hati meminjamkannya jika memang tujuannya baik dan kebutuhannya mendesak).

Dan saat beliau sakit, beliau tidak harus menggunakan uang hasil kerjanya itu untuk biaya pengobatan sirosis hepatis yang diderita.  Cukup gunakan fasilitas cashless dari asuransi kesehatan saat rawat inap di RS.  Dan uang tunai proteksi sakit kritis yang bisa bermanfaat untuk menggantikan pengeluaran keuangan di luar RS.

Sayangnya, beliau tidak punya BPJS, apalagi asuransi pribadi.  Sehingga setelah tau kondisi kesehatan beliau butuh penanganan lama, barulah mau bikin BPJS.  Namun sebelum BPJS jadi, takdir berkata lain…

 

5.   Tidak Terjebak Dalam Riba

Saat butuh dana besar untuk perawatan rumah sakit, namun tidak ada saudara atau kerabat yang mampu meminjamkan uang, maka beliau tidak perlu pinjam uang melalui lembaga keuangan yang ada ribanya.  Dengan memiliki asuransi, hal ini bisa dihindari.

Dalam kasus beliau, saya bersyukur beliau belum sampai harus terjebak riba.  Karena beliau sudah keburu berpulang pada pertengahan Agustus 2017. Innalillahi wa innailaihi rojiuun…

 

6.  Tidak Menyisakan Hutang Saat Meninggal

Dalam kasus beliau, saya bersyukur beliau belum sampai harus berhutang.  Insya Allah kami, para keponakan dan juga ibu saya, masih bisa bekerjasama membantu.  Sampai akhirnya beliau sudah keburu berpulang pada pertengahan Agustus 2017. Innalillahi wa innailaihi rojiuun…

Akan berbeda kondisinya jika beliau masih diberi umur oleh Allah, dengan kondisi kesehatan seperti itu, bisa jadi akan ada kemungkinan timbulnya hutang demi bisa mendapatkan pengobatan terbaik.

Sebagai informasi, sirosis hepatis adalah gangguan kesehatan dimana organ hati menjadi keras dan bisa mengecil atau membesar.  Kondisi ini tidak bisa diperbaiki, hanya bisa diatasi dengan transplantasi hati.  Sehingga dengan mengacu pada pedoman pengobatan kasus Sirosis Hepatis Internasional, dokter hanya  akan memberikan suplemen saja untuk membuat pasien merasa nyaman.  Saat nyaman, pasien bisa pulang.  Saat kondisi drop, pasien harus rawat inap.  Begitu seterusnya sampai pasien bosan dengan pola pengobatan yang “begitu-begitu saja” dan sudah tidak mampu bertahan lagi.

Walaupun tidak punya tanggungan, tapi jika sampai berhutang dan menyisakan hutang saat meninggal, bagaimana pertanggungjawabannya?  Poin 2 di atas akan terjadi.  Yaitu akan merepotkan kerabat lainnya.  Repotnya bagaimana? Karena jadi harus ada kerabatnya yang membayarkan hutangnya.

Jika seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan utang, dan kerabatnya tidak mampu melunasi, maka sampai di akhirat pun utang tersebut tetap wajib dibayar. Dibayar dengan apa? Dengan amal baik, itu pun jika ada.

Mungkin saat ini Anda tidak punya utang dan bertekad tidak akan berutang kepada siapa pun.  Tapi jika mengalami sakit berat, mungkin saja tekad itu harus dibatalkan.

 

 

Artikel ini bukan sekedar teori rencana keuangan ataupun teori marketingnya agen asuransi.  Kali ini Anda mendapatkan lagi 1 pengalaman nyata, yaitu pengalaman hidup dari orang lain.  Masih penasaran dan tidak percaya karena belum mengalaminya?  Saya yakin Anda cukup bijak untuk memilih: tidak perlu mengalami untuk tau bagaimana rasanya.

Silahkan hubungi saya, agen Asuransi Allianz Syariah berlisensi, untuk diskusi mengenai bagaimana merencanakan keuangan terbaik sebagai proteksi terhadap penghasilan Anda.

Mari sisihkan sedikit penghasilan Anda untuk berasuransi.  Pilih yang Syariah, karena Syariah menentramkan.

 

Estri Heni  || WA: 0817 028 4743

 

 

 

 

Kehilangan Sedikit Atau Kehilangan Banyak, Yang Mana Pilihan Bijak Anda?

Contoh kasus.  Berdasarkan tabel premi sakit kritis 1 Miliar, maka untuk profil:

Pria 30th.

Premi = 500rb perbulan

Manfaat:

UP dasar       = 200 juta

UP 49 sakit kritis   = 500 juta

UP 100 sakit kritis     = 500 juta

(Total UP sakit kritis = 1 Miliar)

Manfaat payor

 

Saya setor premi 500 ribu perbulan, dalam 10 tahun berarti saya keluar dana 60 juta untuk dapat proteksi sakit kritis sebesar 1 Miliar.  Jika dalam 10 tahun itu saya tidak sakit kritis, UPnya tidak cair ya? Wah, saya rugi 60 juta dong ya….

 

Penjelasan:

Pertama, meluruskan pemahaman bahwa Asuransi = proteksi.

Asuransi bukanlah masalah untung-rugi.  Menjadi untung, jika sudah beli asuransi, lalu terjadi sakit kritis, ada Uang Pertanggungan yang cair.  Menjadi rugi, jika sudah beli asuransi, tapi tidak terjadi sakit kritis, tidak ada Uang pertanggungan yang cair, premi yang dibayarkan menjadi “terasa” hangus.

Mari kita sama-sama meluruskan pemahaman ini.  Mari kita membuka wawasan diri dengan pemahaman yang lebih baik, yaitu bahwa Asuransi Jiwa adalah salah satu bagian dari beberapa rencana keuangan keluarga Anda.  Jika Anda sudah mengatur pos-pos pengeluaran rutin bulanan, kini saatnya Anda menambah alokasi pos untuk premi asuransi.  Tidak ada dana lebih untuk asuransi?  Tidak masalah, Anda bisa mengurangi biaya di pos “gaya hidup”.  Kurangi biaya “gaya hidup” Anda, untuk memaksimalkan biaya hidup.  Lebih detil untuk ini, silahkan googling ya.

Memiliki asuransi jiwa merupakan ikhtiar/upaya untuk menyiapkan dana tunai jumlah besar, dengan menyisihkan hanya sebagian kecil dari penghasilan Anda.  Setuju ya?

Kedua.  Kita tidak pernah tau apakah resiko hidup tersebut (contohnya: sakit kritis) akan datang pada kita?  Bisa ya, bisa tidak.  Kita tidak pernah tau kapan resiko tersebut bisa terjadi?  Mungkin saat usia senja, mungkin malah saat usia produktif.  Kita juga tidak bisa pilih-pilih resiko, maunya kalau sakit tuh hanya sakit pilek saja lah, sakit jantung stroke kankernya terjadi kepada si Fulan saja….  Kita tidak bisa seperti itu.  Menjadi sakit adalah takdir Allah SWT yang tidak bisa ditolak, harus diterima, dan tetap disyukuri.

Yang bisa kita siasati di awal adalah bagaimana strategi kita dalam mengatur rencana keuangan keluarga kita (baca kembali poin pertama).

Lanjut.  Katakanlah usia Anda saat ini 30th.  Anda menerapkan pola hidup sehat, sehingga sampai usia 40 tahun kondisi kesehatan Anda tetap prima.  Hal ini wajar bukan?  Secara umum diketahui bahwa usia non produktif itu adalah setelah masa pensiun, sekitar usia 55 tahun lebih.  Secara umum, justru pada usia senja tersebutlah baru muncul gejala penurunan kondisi kesehatan.  Ini juga dianggap wajar, karena demikianlah yang terjadi di sekitar kita.

Nah, yang dianggap belum wajar itu yang bagaimana?  Yaitu yang mengalami gejala penurunan kondisi kesehatan pada usia produktif!  Belum bisa dianggap wajar, namun saat ini faktanya demikian.  Contoh yang semua orang tau, tentunya kisah hidup artis muda Indonesia.  Masih muda, namun sudah mengalami sakit kritis.

Anda sudah menerapkan pola hidup sehat, tapi lingkungan sekitar tidak mendukung.  Menjamurnya restoran cepat saji, outlet penjual kopi, makanan instan yang mudah didapat di warung dekat rumah, sayur dan buah organik yang harganya malah lebih mahal, pola hidup tetangga Anda yang kurang sehat, tetangga Anda buang ludah sembarangan, dan sebagainya…  Hal sepele, namun sedikit banyak tentu bisa memberikan dampak juga bagi kesehatan Anda.

Hal penting untuk dipertimbangkan:

Jika selama ini Anda menyisihkan sedikit dari penghasilan Anda untuk ditabung, atau diinvestasikan, pasti tujuannya untuk kebahagiaan Anda, bukan?  Untuk masa depan anak, pendidikan anak, liburan, perjalanan ibadah, dll.  Sudahkah Anda menyisihkan sedikit penghasilan Anda untuk tujuan meminimalkan dampak buruk keuangan keluarga Anda, jika terjadi resiko hidup yang tidak diinginkan?  Inilah yang dimaksud dengan asuransi sebagai salah satu bagian dari beberapa rencana keuangan keluarga.

Jika dalam 10 tahun ke depan, Anda tidak mengalami sakit kritis, Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  Sungguh, saya pun selalu mendoakan agar saya dan semua nasabah saya senantiasa diberi nikmat kesehatan oleh Allah, agar kita semua dapat beraktifitas, dapat berkarya, dapat berpenghasilan, dapat menyisihkan penghasilan untuk ditabung.  Aamiin…  Semua hasil dari upaya yang kita kerjakan adalah bertujuan untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik, bagi diri kita dan anak-anak kita.  Setuju ya?

Ketiga, pemahaman tentang konsep asuransi jiwa Syariah.  Pada asuransi Syariah, premi yang disetorkan kepada Perusahaan Asuransi (sebagai pengelola dana) adalah Dana Tabarru atau Dana Kebajikan.  Semua peserta asuransi Syariah mengeluarkan dana tabarru.  Dana Tabarru ini dikumpulkan dalam rekening terpisah yaitu rekening Tabarru.  Jika seorang nasabah mengalami resiko, maka diambillah Dana Tabarru ini sebagai Uang Pertanggungan.  Memiliki asuransi syariah, artinya secara otomatis kita melakukan sedekah rutin setiap bulannya (mengikuti cara bayar), dan juga bisa ikut membantu peserta lain yang tertimpa musibah.  Insya Allah berkah…

 

KESIMPULAN

Mana yang Anda pilih:

Kehilangan uang premi sekian tahun, tapi senantiasa sehat?  ataukah

Kehilangan uang ratusan juta sampai miliaran karena mengalami sakit kritis?

 

 

 

Tidak ingin kehilangan uang besar???

Mari sisihkan sedikit penghasilan Anda, upayakan strategi rencana keuangan terbaik bagi keluarga Anda, miliki asuransi jiwa.  Pilih yang Syariah, karena Syariah menentramkan.

Kontak saya:

Estri heni,   WA: 0817 028 4743

Allianz Ecopark, Perwujudan Komitmen Allianz Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup

 Allianz Indonesia terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.  Sejak tahun 2012,  Allianz Indonesia telah menyelenggarakan beragam aktifitas untuk mendukung peningkatan kualitas hidup, salah satunya dengan aktifitas berlari yaitu Allianz World Run.  Pada pertengahan tahun 2017, Allianz Indonesia mewujudkan komitmennya dengan menghadirkan sarana dalam peningkatan kualitas hidup melalui perubahan hak penamaan yang semula bernama Ocean Ecopark menjadi Allianz Ecopark.  Melalui kemitraan ini, Allianz dapat lebih terintegrasi dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan yang dapat dilakukan di Allianz Ecopark.

Kawasan Ancol merupakan pasar terluas untuk taman hiburan di Indonesia yang mencapai sekitar 17 juta pengunjung setiap tahunnya.  Berdasarkan segmentasi Pelanggan Accenture 2016,  Allianz Indonesia memiliki segmen yang kuat dalam kategori profesional muda.  Dengan hak penamaan Allianz Ecopark di kawasan Ancol ini,  Allianz dapat memperkuat brand top of mind di segmen lainnya.
Taman seluas 34 hektar ini merupakan wisata Nature Sport Edutainment, dimana pengunjung dapat melakukan beragam aktifitas dengan nilai-nilai edukasi dan hiburan melalui pendekatan green lifestyle.  Allianz Ecopark terbagi menjadi beberapa kawasan (zona) dengan fungsi dan fasilitas berbeda, yaitu:  Eco Nature, Eco Art, Eco Care, Eco Market, Taman Fitness, dan Learning Farm.
Eco Nature akan memanjakan pengunjung dengan keindahan alam dan berbagai jenis satwa yang sudah jinak.  Untuk melihat seni dan budaya Indonesia, pengunjung dapat berkunjung ke Eco Art.  Eco Care, pengunjung diajak untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan keluarga.  Ingin belanja sayur dan buah?  Pengunjung dapat berkunjung ke Eco Market dimana terdapat buah dan sayur bebas pestisida.  Eco Market merupakan pasar organik pertama dan terbesar di Jakarta.  Selain itu, pengunjung juga dapat berolahraga fitness outdoor di Taman Fitness yang menyediakan beragam peralatan fitness.  Ada juga Learning Farm, sarana edukasi yang sangat baik untuk anak-anak dengan hibunran atau wahana bermain sambil belajar.  Pengunjung akan diajarkan bagaimana cara berkebun dilengkapi dengan lahan untuk bercocok tanam yang cukup luas layaknya seorang petani.
Selain itu, Allianz Ecopark juga menyediakan fasilitas untuk jogging, walking dan bersepeda.  Disini,  Allianz dapat melakukan beragam kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan dan lingkungan yang menjangkau segmen pasar maupun segmen lain.  Allianz Ecopark akan dipromosikan  sebagai pusat pernapasan sehat di kawasan Ancol yang dapat memberi manfaat bagi sekitarnya.