Tag Archive | agen asuransi allianz syariah depok

Allianz Bayar Klaim Alm. Julia Perez

1 Juni 2015 artis Julia Perez telah menerima pembayaran klaim sakit kritis, beritanya DISINI.  Setelah berjuang melawan kanker serviks yang diderita selama 3 tahun, Julia Perez meninggal dunia pada 10 Juni 2017, beritanya DISINI.

Kemarin pada tanggal 22 Juni 2017, Ibunda dari Alm. Julia Perez datang ke Allianz untuk menerima pembayaran klaim meninggal dunia putri tercintanya.  Proses klaim hanya 3 hari.

Penyerahan Klaim secara simbolik pada 22 Juni 2017 di Allianz Tower Jakarta. Klaim diserahkan CAO Allianz Life dr. Ginawati Djuwandi kepada ibunda dari Julia Perez, Sri Wulansih.

 

Semoga pembayaran klaim ini bisa membantu meringankan beban finansial beberapa waktu lalu dan juga untuk selanjutnya.


 

 

Hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman hidup Jupe:

Pertama,  Wanita menjadi lebih waspada terhadap penyakit kanker serviks, mengetahui penyebabnya, gejalanya, dan berupaya melakukan deteksi dini (baca DISINI),

Kedua,  Wanita lebih bijak mengatur keuangannya.  Bahwa harus ada “pos” pengeluaran berupa “uang kecil” untuk membayar premi asuransi sebagai upaya dalam membantu wanita dari resiko hidup yang dampak keuangannya tidak dapat ditanggung,

Ketiga,  Wanita lebih melek asuransi.  Punya polis asuransi saja belum cukup. Pastikan polis asuransi anda memiliki manfaat proteksi penyakit kritis (bukan sekedar asuransi penggantian biaya Rumah Sakit, bedanya baca DISINI).   Dan pada saat yang sama, Uang Pertanggungannya harus cukup besar untuk menanggulangi segala biaya yang timbul, baik biaya medis maupun nonmedis (contoh: kehilangan produktivitas dan penghasilan).  Pertimbangannya baca DISINI.

 

Asuransi penyakit kritis adalah asuransi yang memberikan uang tunai jumlah besar ketika seseorang mengalami salah satu penyakit kritis.

Dapatkan proteksi terhadap sakit kritis sebesar 1 Miliar, dengan premi mulai dari 300 ribu perbulan.  Detilnya DISINI,  atau langsung hubungi saya:  Estri Heni, WA:  0817 028 4743.

 

 

Iklan

Penghargaan Allianz Bagi Agen Peraih CPC Program

Mengulang pencapaian saya di tahun 2015 yang lalu,  minggu kemarin  saya mendapatkan undangan dari Allianz untuk menghadiri acara CPC Recognisi ini sebagai “CPC Winner Periode Februari-April 2017 area Jabotabek”, bertempat di Crown Plaza Hotel, hari Senin 22 Mei 2017 jam 14.00-selesai.

Bagi agen (level BE) yang mampu menjual minimal 2 cases perbulan (level BP menjual minimal 5 cases perbulan), maka agen tersebut berhasil mencapai CPC pada bulan itu.  Pemenang CPC Kuartal, artinya agen berhasil mencapai penjualan minimal 6 cases dalam 3 bulan (level BP minimal 15 cases dalam 3 bulan).  Target ini sangat menarik dan sangat achieveable untuk diperjuangkan.  Semua agen pasti bisa melakukan penjualan 2 cases perbulan.  Tinggal bagaimana agen merencanakan actionnya, dan melakukan action tersebut dengan baik dan konsisten.  Program CPC adalah langkah kecil menuju tujuan yang lebih besar.  Kenapa?  Target CPC adalah 2 cases perbulan dan konsisten dilakukan, sehingga bisa menjadi kebiasaan yang baik bagi agen.  Jadi bukan sekedar klosing sesukanya.  Harus ada tujuan jelas kenapa harus konsisten 2 cases tiap bulan.  Program CPC ini merupakan landasan menuju MDiT (tentang MDiT akan dibahas lain waktu).

 

Pencapaian penjualan saya periode Februari-April 2017 ini adalah 7 cases.  Apa saja yang saya lakukan sehingga tercapai target CPC?  Tidak ada yang istimewa rasanya.  Saya hanya mengikuti tips dan strategi yang sudah disiapkan oleh manajemen untuk memperbesar rasio klosing.  Standar rumus klosing yaitu 10:1.  Artinya dari 10 prospek  maka klosing 1.  Bila diselaraskan dengan CPC Program, maka harus ada aktifitas 20 janji temu dengan prospek agar bisa klosing 2 case.  Bagi agen asuransi yang bekerja secara offline rumus itu akan lebih mudah, karena memang agen offline akan bertemu banyak orang dalam kesehariannya.

 

Lalu bagaimana dengan saya?  Saya adalah agen asuransi Allianz Syariah yang bekerja secara online dari rumah atau manapun selama ada koneksi internet.  Saya memasarkan produk asuransi melalui blog saya www.ProteksiKita.com.  Sejak saya menekuni profesi ini secara online, tidak sengaja saya merasakan benefit yang selama ini saya cari.  Kekhawatiran saya akan penolakan secara langsung dari prospek, secara perlahan memudar. Walaupun proses penolakan itu tetap saja ada.  Namun saya akui, dengan memasarkan produk asuransi melalui internet rasio klosing terasa lebih mudah.  Hal ini karena prospek yang datang atau “nyasar” sehingga sampai ke blog saya adalah sudah pasti orang yang sedang mencari informasi tentang asuransi, mencari produk asuransi, atau sudah bulat ingin beli polis asuransi.  Yang saya lakukan tinggal menjawab kebutuhan prospek tersebut, memberikan solusi produk yang sesuai dengan kebutuhannya, dan membantunya mengajukan permohonan asuransi.

Nah, sebelum bisa seperti itu, bagaimana caranya? Lagi-lagi saya cuma mengikut tips dan strategi yang diajarkan oleh Leader saya, Pak Asep Sopyan, yaitu:  terus menulis, perbanyak artikel, isilah dengan konten asli yang berbobot dan harus bermanfaat bagi pembaca.  Apakah saya seorang penulis?  Terbiasa menulis? Atau senang menulis?  Tidak.  Saya tidak punya latar belakang itu.  Lalu, bagaimana supaya bisa menulis?  Saran beliau:  Banyaklah membaca.  Orang yang senang membaca biasanya akan bisa menulis.  Bila belum bisa menulis?  Teruslah belajar menulis.  Menulis itu bisa dipelajari kok.  Saya sudah membuktikannya.  Saya bukan penulis, saya tidak pandai menulis, tapi saya mau belajar menulis.  Saya rasa, kunci dasarnya hanya itu.

Materi artikel yang original dan berkualitas akan lebih bertahan lama melekat di “ingatan” Om Google  🙂  Materi artikel bisa didapat dari mana saja.  Bila senang membaca, kita bisa menuangkan kembali hal-hal menarik dan bermanfaat yang pernah kita dapatkan informasinya dari hasil bacaan kita untuk bisa menjadi sebuah artikel menarik dengan gaya penulisan kita sendiri. Atau dari hasil emak-emak ngobrol tentang rencana keuangan, strategi menabung, pendidikan anak, rencana liburan, rencana perjalanan ibadah, rencana pensiun, semua bisa dijadikan materi artikel.  Yang penting kita mau menulis.

Trus, kalau sudah punya blog, sudah menulis, apalagi yang harus dilakukan?  Tentu ada strategi-strategi khususnya dong.  Serius mau tau atau cuma ingin sekedar tau, nih?  Kalau Anda penasaran ingin jadi agen asuransi yang memasarkan produk via online, pastikan Anda bergabung dengan tim yang tepat ya!  😉

Anda berminat berpenghasilan dari rumah saja via online? Mau fokus menjalankan bisnis sebagai agen asuransi?  Mau bisa klosing 2 cases perbulan? Mau punya penghasilan minimal 5 juta hanya dari rumah saja?  Mau punya penghasilan minimal 5 juta dengan waktu kerja yang lebih pendek dari pekerja kantoran?  Mau punya penghasilan minimal 5 juta tanpa harus nyetok barang?  Mau kerja 1x tapi dibayar sampai 2 tahun?

 

 

HANYA UNTUK YANG SERIUS

Kontak saya:

Estri Heni

WA = 0817 028 4743

Kesalahan Ketika Membeli Asuransi

life-insurance1

 

Perlahan, kesadaran akan pentingnya proteksi meningkat dalam masyarakat. Sayang, kesadaran ini kurang diiringi dengan pengetahuan tentang aneka produk asuransi. Keterbatasan informasi dan pengetahuan produk dan kurangnya penjelasan agen asuransi kerap mengakibatkan konsumen membuat kesalahan ketika membeli asuransi.

Kebanyakan orang tidak mengerti produk asuransi apa yang dibelinya. Ini adalah kesalahan yang sering saya temui. Jangankan mengerti bahwa pertanggungannya kurang, asuransi apa yang dibeli saja dia tidak paham,” kata Ligwina Hananto, perencana keuangan dari Quantum Magna Financial.

Ligwina pernah menjumpai seorang teman yang memiliki 17 polis asuransi. Polis yang banyak ternyata tak menjamin hidup seseorang terproteksi dengan baik. ”Banyak yang hanya membayar premi, menyimpan polis, lalu ketika mengajukan klaim, baru sadar jika asuransi yang dibelinya ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan,” ujar Freddy Pieloor, perencana keuangan dari Money n Love. Selain tidak paham produk apa yang dibeli, kesalahan paling umum yang dilakukan nasabah adalah membeli asuransi dengan uang pertanggungan di bawah yang diperlukan. Istilahnya underinsure. Kebanyakan orang cukup puas membeli asuransi dengan uang pertanggungan sebesar Rp 50 juta, Rp 100 juta, atau Rp 250 juta. Jangan keburu senang kalau sudah memiliki asuransi. Bayangkan jika pencari nafkah meninggal dan keluarga hanya mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 250 juta, padahal pengeluaran per bulan sebesar Rp 10 juta. Uang itu hanya cukup untuk bertahan hidup selama dua tahun. Setelah itu bagaimana?

Berdasarkan survei, nilai pertanggungan asuransi jiwa di Indonesia hanya sekitar Rp 78 juta per polis per tahun. Padahal, kebutuhannya mencapai 10 kali lipatnya. Selisih uang pertanggungan dengan kebutuhan yang ada di Indonesia cukup besar. ”Jadi, pemegang polis asuransi jiwa di Indonesia mengalami underinsure yang besar,” kata Kepala Divisi Syariah AIA Ade Bungsu.

Tidak jarang pula kita membeli asuransi karena tidak enak menolak tawaran agen asuransi yang merupakan teman, kakak, adik, atau keluarga dekat lainnya. Padahal, asuransi yang kita beli belum tentu cocok dengan tujuan keuangan kita. Misalnya, membeli asuransi yang preminya mahal dengan uang pertanggungan ala kadarnya. Padahal, kebutuhan lain masih banyak yang harus dipenuhi. Jadi, penting sekali untuk menghitung besaran kebutuhan asuransi lalu membeli asuransi yang sesuai.

Membeli asuransi untuk anak

Apakah anak Anda sudah dibelikan asuransi? Pertanyaan seperti ini biasa muncul ketika para orangtua berbicara tentang anak-anak mereka. Membeli asuransi dengan anak sebagai tertanggung merupakan hal yang tidak bijaksana.

Baca juga:  Asuransi Apa Yang Tepat Untuk Masa Depan Anak?

Wah, apa lagi ini ? Tujuan membeli asuransi adalah untuk melindungi penghasilan sehingga jika kepala keluarga meninggal dan tidak dapat memberikan penghasilan lagi, keluarga yang ditinggalkan tetap terjamin. Maka, yang harus memiliki asuransi adalah orangtua agar jika terjadi risiko pada orangtua, kehidupan anak-anak terjamin. Orangtualah yang memiliki nilai ekonomis, bukan anak. Jika kehilangan anak, keluarga tidak kehilangan secara finansial, melainkan secara emosional.

Anak penerima manfaat Ketika membeli asuransi, kita pasti ditanya siapa penerima manfaat asuransi tersebut (beneficiary). Memang asuransi ini untuk memproteksi pendapatan orangtua agar anak tak telantar. Ternyata, mencantumkan nama anak di bawah umur sebagai penerima manfaat juga merupakan kesalahan. Lho? ”Untuk anak di bawah 18 tahun yang kedua orangtuanya meninggal dunia pada saat yang sama, ia mewarisi dari kedua orangtuanya. Untuk mengurus harta peninggalan orangtuanya tersebut, pengadilan agama akan menunjuk seorang wali untuknya. Untuk Muslim, wali ditunjuk oleh pengadilan agama setempat, untuk agama lain, wali ditunjuk oleh pengadilan negeri setempat,” ujar Dedek  Yuliona, seorang notaris. Bila nanti si anak menghendaki hartanya dijual atau perlu uang, wali tersebut bisa minta penetapan dari pengadilan negeri, tambahnya lagi.

Wali dapat merupakan saudara dekat. Itu pun jika walinya benar-benar memberikan uang itu untuk kepentingan si anak. Kalau si wali senang belanja, bisa- bisa uang pertanggungan asuransi orangtua menguap di mal.

Kesimpulan dari ilustrasi itu, orangtua yang membeli asuransi haruslah langsung menunjuk seorang wali. Tunjuklah wali yang dapat mengurus anak Anda jika Anda atau pasangan meninggal dunia. ”Menunjuk wali yang benar-benar jujur dan bertanggung jawab adalah hal penting,” imbuh Prita Hapsari Ghozie, perencana keuangan dari ZAPfinance.

Asuransi untuk ibu rumah tangga

Sebagian berpendapat, orang yang tidak bekerja, termasuk ibu rumah tangga, tidak perlu membeli asuransi. Seorang ibu rumah tangga memang tidak menghasilkan pendapatan bagi keluarganya. Namun, perlu diingat bahwa ibu rumah tangga berpotensi mengurangi pengeluaran keluarga.

Seorang ibu rumah tangga dapat berperan sebagai sopir pengantar anak ke sekolah, menjadi guru privat, guru berenang, juru masak, pengasuh anak, perawat, tukang kebun, pembersih rumah dan lainnya. Bayangkan jika si ibu tidak ada. Berapa besar pengeluaran yang harus ditanggung jika harus membayar sopir, guru privat, pengasuh anak, tukang kebun, atau pembersih rumah? Biaya inilah yang harus diperhitungkan ketika membeli asuransi jiwa untuk si ibu.

Baca Juga:  Istri Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya!

Bujangan beli asuransi

Asuransi jiwa terkait erat dengan upaya memproteksi penghasilan. Seorang bujangan yang tidak membiayai orangtua, saudara, atau keponakannya, alias tidak memiliki tanggungan secara ekonomi, tidaklah perlu membeli asuransi jiwa. Apalagi jika sudah memiliki investasi. Jika si bujang meninggal, tidak ada orang yang telantar karena tidak disokong secara finansial lagi olehnya. Ketika dia meninggal pun, biaya yang diperlukan hanyalah biaya pemakaman dan uang untuk membayar utang.

Namun, bujangan seperti ini memerlukan perlindungan asuransi cacat atau penyakit kritis. Jika suatu kali dia menderita sakit kritis atau cacat permanen sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhannya, uang pertanggungan dari asuransi dapat menjadi biaya hidup. Survei membuktikan, kemungkinan seseorang cacat tujuh kali lebih banyak dibandingkan dengan meninggal.

Baca Juga:  Bujangan Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya!

Tidak memberi tahu keluarga

Pada beberapa kebudayaan, berbicara soal kematian adalah hal yang tabu, sementara asuransi terkait dengan kematian. Beberapa orang memilih menyembunyikan polis asuransinya dan tidak memberi tahu keluarga jika dia memiliki polis asuransi. Hanya saja, jika itu dilakukan, ketika risiko meninggal terjadi dan kebetulan agen tak lagi berhubungan dengan nasabahnya atau sudah pindah ke bisnis lain, tetap saja keluarga si pemilik polis tidak menerima manfaat asuransi.

Polis tetap teronggok di tempat tersembuyi. Tidak dicairkan. Di beberapa perusahaan asuransi, batas akhir klaim asuransi jiwa adalah setahun setelah tertanggung meninggal. ”Di Allianz, pengajuan klaim meninggal selambatnya 60 hari setelah terjadinya risiko. Bila klaim diajukan lebih dari itu, harus ada alasan kuat dari termaslahat (penerima manfaat) mengapa baru diajukan. Bagian klaim akan menganalisis apakah klaim yang terlambat itu dapat disetujui atau tidak,” papar Handojo Kusuma, Deputi CEO Asuransi Allianz Life.

Jangan taruh polis di ”safety box”

Kesalahan lain yang mungkin dibuat adalah menyimpan polis asuransi di safety box di bank. Jika pemegang polis meninggal, akan sulit membuka safety box tersebut. Letakkanlah polis asuransi di tempat yang mudah ditemukan, misalnya dalam satu map. Jika terjadi kebakaran atau bencana alam, map tersebut dapat langsung diselamatkan. Hindarilah membuat kesalahan-kesalahan seperti ini karena manfaat yang seharusnya diterima akan berkurang.

 

 

 

Sumber