Tag Archive | agen asuransi cipayung

Cari Asuransi Kesehatan? Beli Asuransi Kesehatan Lewat Agen Asuransi Berlisensi

Saat Anda mencari asuransi kesehatan, ada 14 hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan:

  1.  Jenis asuransi kesehatan.  Ada 2 jenis:  Asuransi kesehatan Murni dan asuransi kesehatan tambahan.
  2. Manfaat yang akan dibeli.  Pada Askes Tambahan umumnya hanya menyediakan manfaat rawat inap saja.  Sedangkan pada Asuransi Kesehatan Murni, selain manfaat utama Rawat Inap, juga tersedia manfaat rawat jalan, kehamilan, gigi, dll.  Sesuaikan kebutuhan Anda.  Perhatikan juga detil fasilitas manfaat rawat inapnya, apakah  itu semua sudah termasuk biaya kamar ICU, biaya perawatan dan biaya daignosa dokter karena biaya rawat inap adalah biaya yang paling besar.
  3. Pengecualian.  Tanyakan pada agen asuransi, hal-hal apa saja yang termasuk pengecualian.  Adakah penyakit tertentu dan kondisi tertentu yang tidak ditanggung oleh perusahaan asuransi.  Baca juga:  Pengecualian pada Asuransi Kesehatan Allianz
  4. Jaringan RS rekanan.  Bila suatu perusahaan asuransi memiliki jaringan RS yang banyak, bahkan mencakup RS di luar negeri, Anda bisa memilih Asuransi Kesehatan tersebut.  Baca juga:  Jaringan RS Rekanan Allianz
  5. Masa berlaku dan masa tunggu.  Penting mengetahui masa berlaku proteksi asuransi kesehatan yang Anda minati.  Apakah manfaatnya sudah bisa digunakan sejak pengajuan disetujui, atau harus menunggu beberapa hari baru bisa digunakan.  Adakah suatu kondisi penyakit yang memiliki masa tunggu.
  6. Usia masuk.  Usia masuk lebih muda maka premi akan lebih murah.
  7. Plan yang dipilih.  Banyak juga calon nasabah yang minta ilustrasi asuransi kesehatan dengan plan rawat inap terendah, agar preminya murah.  Allianz punya plan 100 di produk Asuransi Kesehatan “Allisya Care”.  Plan 100, artinya harga kamar perawatan = 100 ribu perhari.  Mungkin setara dengan kamar kelas 3 di RS tertentu.  Jika memang dana Anda tersedia, minimal pilihlah plan yang sedang, yaitu plan 500, artinya harga kamar perawatan = 500 ribu perhari, atau setara kamar kelas 1 di RS tertentu.
  8. Inflasi.  Kontrak asuransi kesehatan adalah 1 tahun.  Setelahnya, saat akan perpanjangan polis, Anda bisa mereview kembali polis Anda.  Apakah manfaat plan yang dipilih masih sesuai dengan kebutuhan proteksi Anda.
  9. Premi.  Usia masuk, jenis kelamin, plan yang dipilih, manfaat yang dibeli, mempengaruhi besarnya premi.  Semakin lengkap, maka premi akan semakin mahal.
  10. Cara bayar premi.  Ada beberapa cara bayar premi yang disediakan: tahunan (umumnya), semesteran, kuartalan, dan bulanan.
  11. Cara Klaim.  Manfaat rawat inap dan maternity umumnya klaim secara cashless (pakai kartu).  Manfaat lainnya klaim secara reimburse.
  12. Koordinasi manfaat (bukan dobel klaim).  Kebanyakan asuransi kesehatan sekarang sudah bisa koordinasi manfaat dengan perusahaan asuransi lain.
  13. Sesuaikan dengan budget Anda.  Pertimbangkan proteksi terbaik sesuai kebutuhan Anda dan kemampuan finansial Anda.
  14. Hubungi agen asuransi berlisensi.  Baca juga:  Cara memilih agen asuransi

Saat Anda membandingkan dengan asuransi kesehatan lainnya, silahkan dibandingkan detil manfaat/fasilitasnya apa saja, dan berapa limitnya (untuk askes yang ada limit).

 

 

Hati-hati dengan penawaran yang datang pada Anda melalui telepon (telemarketing asuransi).

Dibandingkan dengan Agen Asuransi Berlisensi, ternyata cara penawaran asuransi kesehatan melalui telemarketing ini memiliki beberapa kekurangan:

Pertama, Sales yang menawarkan hanya bertujuan untuk mendapat klosingan pada saat itu juga.  Seringkali terlalu bersemangat sehingga terkesan “ngotot” supaya nasabah segera “SETUJU” untuk buka polis SAAT ITU JUGA.  Sekarang ini, kalimat yang digunakan jadi lebih halus “apakah ibu bersedia kami bantu untuk dikirimkan dokumennya”.  Itu artinya, jika nasabah setuju, maka polis langsung aktif, dan akan ada debet rekening ataupun debet kartu kredit secara OTOMATIS yang ditagihkan ke nasabah.

Kedua, Sales yang menawarkan akan berbeda dengan sales yang kelak akan mendampingi proses klaim nasabah.  Nasabah hanya akan langsung berhubungan dengan Customer Care nya via telepon juga.

Ketiga, Tidak ada kedekatan emosional antara sales yang menawarkan dengan nasabah.  Nasabah tertentu bisa merasa “kurang adanya support” dari salesnya.  Bila ada hal kecil yang ingin ditanyakan, harus kontak Customer Care-nya yang juga berganti-ganti orangnya saat dihubungi.

Keempat, Nasabah tidak tau dan tidak kenal siapa salesnya, seperti apa “penampakannya”, hanya tau nama saat perkenalan via telepon saja.  Tidak juga ada blog pribadi  atau blog bisnis ataupun web resmi perusahaan yang disana bisa dilihat foto diri sales.  Walau tidak kenal secara pribadi, tapi kalau tau orangnya, tentu “feel”nya akan berbeda toh?  Lebih nyaman, pastinya.  Berbeda jika Anda sampai di blog saya http://ProteksiKita.com, ada foto diri saya, ada foto lisensi keagenan aktif saya, ada data kontak pribadi juga.

Kelima, Menggunakan bahasa verbal yang hanya bisa mudah dipahami oleh orang yang memiliki kemampuan menyimak yang sangat baik.  Pada orang yang kemampuan visualnya jauh lebih baik, masih harus dibantu dengan menulis ulang manfaat yang disampaikan sales.

Keenam, Menawarkan produk secara tergesa-gesa, sehingga bisa ada informasi yang terlewat ataupun kurang detil menyampaikan manfaat produk.

Ketujuh, Menggunakan bahasa “per-asuransi-an” yang terdengar kurang familiar dan agak sulit dimengerti bagi nasabah yang baru kenal “asuransi”, apalagi via telepon yang hanya mengandalkan indera pendengar saja.  Padahal secara psikologi, suatu informasi akan lebih mudah dipahami secara visual sekitar 80%.

Kedelapan, Umumnya mengutamakan penawaran premi yang murah.  Jika demikian, saran saya jangan langsung tergiur premi murah.  Anda harus mendengarkan secara seksama, manfaat apa saja yang Anda bisa dapat dari premi murah tersebut.

 

Berikut saya sekedar berbagi informasi penawaran produk kesehatan yang datang ke saya via telepon baru-baru ini.  Produk dari ****A Family E**iC***.  Setelah berbasa-basi dan perkenalan, sales sampaikan beberapa poin sebagai nilai jual produknya:

“Ibu Estri usia XX, suami usia XX, dengan 3 anak usia X, X, X.

Manfaat yang didapat:  untuk rawat inap 200 juta/tahun utk 5 orang, dengan rincian sbb: kamar 600rb perhari, ICU 1.2 juta perhari, operasi maksimal 12 juta pertindakan operasi, rawat jalan pasca rawat inap max 1.2 juta/orang perkejadian reimburse,

Premi = 500 ribuan perbulan, sudah cover untuk 5 orang”

Apa yang ada di benak Anda, setelah mendengar informasi tersebut dalam  1x penjelasan tanpa interupsi?  “WOW… murah banget, 500 ribu perbulan untuk 5 orang, manfaatnya segitu”…  Benar ya?  Kalau saya, memang itu yang tertanam di benak saya setelah salesnya sampaikan secara tuntas semua informasi tanpa saya potong.  Setelah itu, baru saya tanya2 lagi secara rinci.

Di akhir2 penjelasannya (itupun setelah saya tanya berkali-kali untuk mendapat informasi yang lebih detil, karena agen asuransi pun mudah tertarik dengan yang berjudul “murah”  🙂 ), barulah disampaikan oleh salesnya bahwa “Betul ibu, ini bukan asuransi kesehatan, melainkan santunan saja yang melengkapi asuransi kesehatan yang sudah ibu miliki”..

Naahh looo…  Kenapa bukan disampaikan dari awal, jadi otak saya lebih mudah mengikuti penjelasan si sales.

Ini strategi marketing yang efektif untuk sales bisa cepat menjaring nasabah, tapi merupakan trik berbahaya bagi nasabah yang minim pengetahuan tentang asuransi.  Dan informasi seperti ini sangat tidak adil bagi nasabah.  Mendengar istilah “kamar 600rb perhari”, pemahaman saat pertama kali mendengarnya adalah kamar perawatan seharga 600rb perhari, alias setara kamar kelas 1 di RS tertentu.  Padahal ini adalah 2 hal yang berbeda. Ternyata terakhir baru sadar bahwa yang ditawarkan adalah SANTUNAN kesehatan, BUKAN asuransi kesehatan.

Santunan kesehatan = memberi sejumlah uang sesuai perjanjian polis terhadap suatu kondisi/tindakan.  Contoh di atas, berarti:  hanya memberi uang sejumlah 600 ribu dikali lamanya hari di rawat inap, yaitu 600 ribu X 10 hari = 6 juta.  Jadi, misal saya  dirawat di kamar perawatan saja tanpa ada tindakan operasi, pulang dari RS saya klaim ke asuransi tersebut, maka saya akan terima uang = 6 juta. ITU SAJA.

Asuransi kesehatan = mengganti biaya perawatan/pengobatan selama berurusan dengan Rumah Sakit.  Saat di rawat di kamar perawatan kelas 1, misal harga kamar 600rb/hari.  Jangan lupa bahwa selama di rawat, saya pasti diberi obat, ada visit dokter spesialis/umum, mungkin juga ada pemeriksaan diagnostik spt ambil darah/rontgen dll.  Ternyata banyak hal yang harus saya bayar saat perawatan di RS.  Disinilah fungsi Asuransi Kesehatan.  Asuransi Kesehatan mengganti semua biaya perawatan selama berada di RS.  Sedangkan santunan kesehatan tidak sedetil ini.

Pengalaman ini menarik untuk saya bagi kepada pembaca blog saya yang budiman.  Agar Anda lebih waspada dan mengetahui secara jelas dan detil, produk apa yang Anda butuhkan.  Asuransi kesehatan jenis apa yang Anda cari.  Manfaat apa saja yang ingin Anda dapatkan dari sebuah produk Asuransi Kesehatan.  Pilihannya ada pada Anda.  Jangan sampai keliru atau dibuat keliru dalam memilih, yang disebabkan karena tergiur dengan premi murah namun belum paham detil manfaat yang didapat.  Ingat bahwa: Yang mengganti semua biaya perawatan selama di RS adalah Asuransi Kesehatan.

Jadi, mau beli Asuransi Kesehatan lewat telemarketing asuransi atau lewat Agen Asuransi Berlisensi?

Mencari Asuransi Kesehatan cashless yang klaimnya sesuai tagihan?  Klik Smartmed Premier.

Mencari Asuransi Kesehatan cashless yang sesuai limit dan Syariah?  Klik Allisya Care

Mau tanya-tanya dan diskusi GRATIS?  Hubungi Agen Asuransi Berlisensi  WA:  0817 028 4743

 

95% nasabah tidak memahami isi polisnya. 

Hubungi Estri Heni untuk membantu membedah polis asuransi yang sudah Anda miliki.

 

 

 

Iklan

Asuransi Apa Yang Tepat Untuk Masa Depan Anak?

 

hepifam

 

Seorang kepala keluarga dari sebuah keluarga bahagia menghubungi saya, menyampaikan maksudnya yang sedang mencari Asuransi untuk Masa Depan Anak.  Apakah di Allianz Syariah ada produk yang bisa menjawab kebutuhan saya itu?

 

 

 

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya akan “meluruskan” pemahaman tentang Asuransi untuk “Masa Depan Anak”.  Yang beliau maksud dengan “Masa Depan Anak” yaitu bahwa Anaknya akan terjamin ketersediaan dana pendidikannya dan juga kebutuhan lainnya dapat dipastikan persiapan dananya tidak terganggu.  Saya tanya kembali:  “Apakah Bapak sudah punya asuransi untuk Bapak sendiri?”.  Beliau menjawab:  “Belum.  Saya fokuskan persiapan dana untuk masa depan anak”

Baiklah, saya sudah mengerti maksudnya.

 

KETERSEDIAAN DANA UNTUK PENDIDIKAN ANAK

Kebanyakan orangtua masih rancu dalam menyiapkan dana pendidikan untuk anak.  Menghubungi saya untuk membeli asuransi pendidikan anak, dengan pemikiran agar dana pendidikan bisa disiapkan melalui asuransi.

Mari kita cermati bersama:

Kira-kira seorang anak bisa sekolah sampai jenjang yang tinggi, itu disebabkan oleh karena adanya asuransi pendidikan ATAU karena orang tuanya masih mampu bekerja?

Tentunya karena orang tuanya masih mampu bekerja, bukan?

Orang tua bekerja –> ada penghasilan –> bisa siapkan dana pendidikan anak.

Artinya:  kemampuan orang tua bekerja adalah JAMINAN bagi suksesnya pendidikan si anak.  Kemampuan orangtua dalam bekerja merupakan “asuransi pendidikan” bagi si anak.

Bila Anda setuju bahwa:  kemampuan orang tua bekerja adalah JAMINAN bagi suksesnya pendidikan anak, maka tentu Anda juga setuju bahwa itu berarti, yang sebaiknya diasuransikan terlebih dulu adalah orang tuanya (si pencari nafkah).

Bila Pencari nafkah sudah PUNYA polis asuransi, artinya:

  1. Selama pencari nafkah masih sehat –> pencari nafkah bekerja –> ada penghasilan  –> ada dana yang disisihkan untuk persiapan dana pendidikan melalui instrumen investasi –> dana pendidikan anak akan siap.
  2. Bila pencari nafkah mengalami musibah –> tidak bisa bekerja –> tidak ada penghasilan –> ada DANA TUNAI dari klaim asuransi –> dana digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk investasi dana pendidikan.

Dari uraian tersebut, tentunya sudah dapat dipahami bahwa dengan adanya polis asuransi untuk pencari nafkah, maka masa depan Anak akan terjamin.

Baca juga:  Ini Pemahaman Yang Benar Tentang Asuransi Pendidikan Anak

 

 

KETERSEDIAAN DANA JIKA TERJADI MUSIBAH, TANPA HARUS JUAL HARTA

Sekarang kita coba pelajari isi polis.  Bagi agen asuransi yang menawarkan asuransi pendidikan dalam rangka menyiapkan masa depan anak, biasanya dalam polisnya, yang menjadi “TERTANGGUNG” adalah ANAK.  Sedangkan saya, yang mengutamakan asuransi bagi pencari nafkah, untuk tujuan masa depan anak yang terjamin, maka dalam polisnya, yang menjadi “TERTANGGUNG” adalah PENCARI NAFKAH.

Apa bedanya, jika dalam polis, yang menjadi TERTANGGUNG adalah ANAK, dengan TERTANGGUNG adalah PENCARI NAFKAH ?

 

TERTANGGUNG adalah ANAK

  1.  Jika terjadi musibah pada anak ??

rip

 

panah

Penerima Manfaat Untuk Siapa ???

Untuk orangtuanya yang masih sehat dan produktif?

 

 

2.  Jika terjadi musibah pada pencari nafkah ??

rip

panahYang ditanggung = anak.  Yang kena musibah = pencari nafkah.

Maka  Keluarga yang ditinggalkan mendapatkan

HANYA   bebas premi saja, dan atau dana pendidikan sampai usia tertentu.

 

 

Lalu, bagaimana untuk keluarga yang ditinggalkan…

Masalah apa saja yang masih mungkin terjadi ?

  • Biaya kebutuhan keluarga, seperti: makan, pakaian, dll
  • Cicilan
  • Berbagai tagihan
  • Kebutuhan / perlengkapan sekolah
  • Biaya pengobatan
  • Biaya tidak terduga

SIAPA YANG AKAN  MEMBERIKAN “TANGGUNGAN” TERSEBUT ?

Pasangan Anda dan anak tercinta jadi harus bekerja membanting tulang menggantikan posisi Anda, agar semua kebutuhan hidup di atas bisa tetap dibayar/dipenuhi.

Bayangkan, pasangan Anda yang mulai menua, tenaga yang sudah berkurang, tapi masih harus memulai hidup dari nol sepeninggal Anda, demi masa depan Anak Anda (sesuai tujuan awal Anda menghubungi saya sebagai agen Asuransi Anda)…

Bayangkan anak Anda yang masih kecil, masih dalam masa permainan, dengan tenaganya yang masih lemah, tapi harus membantu pasangan Anda untuk memulai bekerja dari nol sepeninggal Anda, demi masa depan mereka (seusai tujuan awal Anda menghubungi saya sebagai agen Asuransi Anda)…

Jika polis asuransi Anda, yang menjadi TERTANGGUNG adalah Anak, ini KURANG tepat!  Saya sangat tidak menyarankan.

 

TERTANGGUNG adalah PENCARI NAFKAH

Jika terjadi musibah pada Pencari Nafkah:

  •   Terdiagnosa Penyakit Kritis:

cancer

atau penyakit kritis lainnya

 

Ada 49 jenis penyakit kritis atau 100 kondisi “Penyakit Kritis”

  •  Cacat Tetap Total

 

Jika klaim memenuhi kriteria sesuai dalam buku polis, maka PENERIMA MANFAAT (ahli waris) akan:

  1. Menerima “Uang TUNAI jumlah Besar” yang ditransfer oleh Allianz.  Uang Tunai ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan.  Seperti:  kebutuhan hidup keluarga (makan, pakaian, dll), membayar cicilan, membayar tagihan, biaya pengobatan, ditabung untuk biaya pendidikan anak, digunakan sebagai modal usaha, diinvestasikan lagi agar dana semakin berkembang.
  2. Sakit kritis, Cacat Tetap Total, Meninggal dunia  ==>  ada manfaat bebas Premi bagi polis anggota keluarga lainnya.  Artinya:  premi polis anggota keluarga lainnya menjadi GRATIS dan akan dibayarkan preminya oleh Allianz.  Sehingga anggota keluarga lainnya tetap akan mendapatkan perlindungan dan manfaat, walaupun pencari nafkah sudah tidak lagi bersama mereka.

Jika polis asuransi Anda, yang menjadi TERTANGGUNG adalah Pencari Nafkah, saran profesional saya: sangat merekomendasikannya!

Baca juga:   Perbandingan Komposisi Ilustrasi Asuransi Pendidikan Anak

 

Bersama Allianz Syariah, masa depan Anak dan keluarga Anda akan terlindungi, baik selama Anda ada ataupun sudah tidak bersama mereka lagi…

 

happy-family

 

SEGERA lindungi penghasilan Anda, dan siapkan masa depan Anak dan keluarga dengan TEPAT.

Pahami manfaat asuransi yang ditawarkan agen.  Hubungi Agen Asuransi Allianz Syariah Bersertifikasi, yang mengerti fitur produknya dan memahami kebutuhan Anda.

Estri Heni

SMS/WA:   0817 028 4743

Email:  ProteksiKita@gmail.com

 

 

 

 

Allisya Family: TAbungan PROteksi anggota keluarga

14662183-happy-family

Asuransi jiwa keluarga umumnya di peruntukan bagi keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, kakak dan adik.

Mungkin Anda bertanya jika bapak sudah memiliki asuransi jiwa dengan rider sakit kritis misalnya, apakah ibu dan anak-anaknya juga perlu punya asuransi yang sama? Jawabannya adalah Ya. Gambarannya seperti ini. Bagaimana jika ternyata yang terkena sakit kritis adalah ibu atau anak-anaknya? Apakah akan menyebabkan masalah dan kesulitan finansial keluarga? Ada kemungkinan finansial keluarga akan mengalami kesulitan. Jadi, disinilah fungsi dari Allisya Family. Untuk memberikan bantuan finansial kepada seluruh anggota keluarga jika diantara mereka ada yang terdiagnosa sakit kritis, cacat tetap permanen, kecelakaan atau meninggal dunia.

Mari kita simak 2 skenario Allisya Family ini.

1. Bapak yang bekerja sebagai pencari nafkah tunggal  (Ibu sebagai Ibu Rumah Tangga)

Pada skenario pertama ini untuk asuransi dengan tertanggung bapak, ibu, kakak dan adik pemegang polisnya adalah bapak dengan di tambahkan rider Payor Benefit dan Payor Protection pada masing-masing polis. Perhatikan ilustrasi di bawah ini untuk komposisi masing-masing polis.

Bapak:

Bapak35

Ibu:

Ibu28

Kakak:

kakak

Adik:

Adik

Jika diperhatikan pada tabel diatas, bapak adalah pemegang polis untuk asuransi dengan tertanggung bapak sendiri, ibu, kakak dan adik. Total premi yang harus dibayar bapak setiap bulan adalah 3,6 juta dengan total uang pertanggungan untuk semua tertanggung sebesar 8 Miliar! Selain uang pertanggungan, manfaat lain yang bisa diperoleh oleh keluarga tersebut adalah hanya jika bapak sebagai pemegang polis terdiagnosa sakit kritis, cacat tetap permanen atau meninggal dunia, maka asuransi dengan tertanggung bapak, ibu, kakak & adik akan terbebas dari pembayaran premi sampai bapak berusia 65 tahun. Hal ini dikarenakan bapak menyertakan rider Payor Benefit & Payor Protection pada polis bunda, kakak dan adik.

2. Bapak & Ibu bekerja

Pada skenario yang kedua ini bapak dan ibu menjadi pemegang polis untuk asuransi mereka masing-masing, dengan masing-masing polis menyertakan rider Payor Benefit, Payor Protection, Spouse Payor Benefit & Spouse Payor Protection. Sementara asuransi dengan tertanggung kakak dan adik, pemegang polisnya adalah bapak dengan juga menyertakan rider Spouse Payor Benefit & Spouse Payor Protection. Perhatikan ilustrasi di bawah ini untuk komposisi masing-masing polis.

Bapak:

RS Bapak

Ibu:

RS Ibu

Kakak:

RS Kakak

Adik:

RS Adik

 Jika diperhatikan pada tabel diatas, total premi setiap bulan untuk 1 keluarga sebesar 4,2 juta dan total uang pertanggungan sebesar 8 Miliar! Selain uang pertanggungan, manfaat lain yang bisa diperoleh oleh keluarga tersebut adalah jika bapak lebih dulu terdiagnosa sakit kritis, cacat tetap permanen atau meninggal dunia, maka asuransi dengan tertanggung bapak, ibu, kakak & adik akan terbebas dari pembayaran premi sampai bapak berusia 65 tahun. Hal ini dikarenakan bapak menyertakan rider Payor Benefit & Payor Protection, Spouse Payor Benefit & Spouse Payor Protection pada polis ibu, kakak dan adik. Manfaat yang sama juga akan diperoleh jika ternyata ibu lebih dulu terdiagnosa sakit kritis, cacat tetap permanen atau meninggal dunia.

Lalu, apa perbedaan mendasar dari kedua ilustrasi tersebut?

Kunci utama dari Allisya Family ini adalah penggunaan rider Payor Benefit, Payor Protection, Spouse Payor Benefit dan Spouse Payor Protection.

Pada ilustrasi 1:  Bebas premi HANYA jika Bapak yang mengalami resiko. Jadi:  Bila Bapak mengalami resiko, maka Allianz yang akan bayar premi seluruh keluarga.  jika Ibu yang mengalami resiko bagaimana?  Ayah tetap harus bayar premi.

Pada ilustrasi 2:  Bebas premi berlaku apabila (siapapun yang lebih dulu) Bapak atau Ibu yang mengalami resiko.  Jadi:  Bila bapak lebih dulu alami resiko, maka Allianz yang akan bayar premi seluruh anggota keluarga.  Begitu juga halnya, bila ternyata Ibu yang lebih dulu alami resiko, maka Allianz yang akan bayar premi seluruh anggota keluarga.

Dan disini ilustrasi yang saya desain, adalah dengan asumsi masa bayar premi dengan jangka waktu tertentu saja, yaitu HANYA 10 tahun untuk mendapat proteksi seumur hidup.  Hmmm…  Menarik, bukan?

Jika Anda dan keluarga berminat untuk memiliki asuransi jiwa keluarga (Allisya Family) silakan menghubungi saya.

Karena yang bisa seperti ini Cuma ada di Allisya Protection Plus, ya!   😉

Miliki Asuransi Berdasarkan Prioritasnya

Prioritas asuransi diukur dari dampaknya pada keuangan kita, bukan dari frekuensi kejadiannya. Ada yang kejadiannya sering, misalnya pilek atau batuk biasa, tapi karena dampak keuangannya kecil, tanpa asuransi pun tak masalah. Tapi ada peristiwa yang kejadiannya mungkin hanya sekali, namun bekas yang ditinggalkannya tak terhapuskan seumur hidup, baik dari segi fisik maupun keuangan.

Jika akibat dari satu kejadian itu membuat seseorang langsung jatuh dalam kemiskinan, aset-aset terjual atau tergadai, terjerat dalam belitan utang, sumber penghasilan terputus, hingga keluarga terbenam dalam kesedihan dan kehinaan, maka risiko itulah yang harus kita prioritaskan untuk diasuransikan.

Ketika kita memutuskan untuk berasuransi, berpikirlah – walau sejenak saja – untuk risiko-risiko yang paling buruk. Yaitu risiko-risiko yang butuh biaya sangat besar.

 

Apa saja?

Berdasarkan dampak keuangannya dan preminya, setidaknya ada 4 jenis proteksi yang merupakan prioritas untuk dimiliki, yaitu asuransi yang menanggung risiko meninggal dunia, rawat inap, penyakit kritis, dan cacat. Jika anda telah memiliki empat proteksi ini, silakan mau nambah asuransi lain juga (rumah, mobil, rawat jalan, rawat gigi, persalinan, dll), kalau memang ada dananya.

 
 

Asuransi Meninggal Dunia

 

Asuransi yang menanggung risiko meninggal dunia menjadi prioritas pertama karena: selama masih hidup, akan selalu ada harapan. Tapi jika sudah dijemput maut, tak ada lagi yang bisa dikatakan.

Asuransi jiwa wajib bagi pencari nafkah dalam keluarga, biasanya ayah, dan juga ibu jika bekerja. Jika dana yang tersedia terbatas, inilah yang harus dibeli terlebih dahulu.

Kematian seorang ayah atau ibu berdampak pada putusnya sumber penghasilan karena tidak ada lagi orang yang mencarikan nafkah untuk keluarga. Kesedihan paling besar dialami oleh si anak. Terkadang dia harus dipelihara di rumah saudara atau bahkan dititipkan di panti asuhan. Tentunya kita tidak mau anak kita merepotkan orang lain, bukan?

 

Asuransi Kesehatan Rawat Inap

 

Setelah proteksi dasar terpenuhi, prioritas berikutnya adalah asuransi kesehatan rawat inap untuk seluruh anggota keluarga. Produk asuransi kesehatan ada yang dipasangi rider (proteksi tambahan) rawat jalan, rawat gigi, atau persalinan. Tapi yang prioritas hanyalah rawat inap. Yang lainnya terlalu mahal untuk dibeli, sementara manfaatnya tak seberapa, dan tanpa asuransi pun masih bisa ditanggulangi.

 

Asuransi kesehatan rawat inap memberikan penggantian biaya pengobatan sesuai yang dijanjikan dalam polis jika peserta mengalami rawat inap di klinik atau rumah sakit. Biaya pengobatan penyakit yang memerlukan rawat inap sangat bervariasi tergantung penyakitnya, tapi pada umumnya cukup memberatkan jika harus ditanggung sendiri.

 

Saat ini sebagian besar orang telah memiliki askes rawat inap. Mereka yang bekerja di sektor formal (PNS, Polri, TNI, dan karyawan swasta), boleh dikata semuanya telah memiliki askes. Sedangkan untuk masyarakat secara umum, khususnya kalangan menengah-bawah, pemerintah telah menyediakan berbagai jaminan kesehatan melalui program semacam Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat), Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah), Jamkesos (Jaminan Kesehatan Sosial), Jampersal (Jaminan Persalinan), KJS (Kartu Jakarta Sehat), hingga BPJS (Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial).

Oleh karena itu, jika anda beruntung termasuk pemilik askes (apa pun jenis dan namanya), anda dapat melewatkan bagian ini dan melanjutkan ke prioritas asuransi berikutnya.

 

Asuransi Penyakit Kritis

 

Dari segi dampak keuangan, penyakit kritis dapat menimbulkan dampak yang lebih besar ketimbang kematian. Apalagi jika penyakit kritis tersebut berlangsung berkepanjangan atau tidak tersembuhkan, yang repot bukan hanya penderita, tapi juga keluarga, para kerabat, hingga teman-temannya. Contohnya, orang yang terkena stroke, jika tidak sembuh, dia jadi lumpuh dan tidak bisa bekerja seperti sebelumnya. Tapi dia harus tetap berobat sementara biaya hidup tak bisa ditunda pemenuhannya.

 

Sayangnya banyak yang belum menyadari pentingnya proteksi penyakit kritis. Mereka merasa asuransi kesehatan saja sudah cukup. Mungkin jika askesnya berkategori premium, biaya ratusan juta hingga miliaran bisa ditanggung, tapi askes premium harganya tak akan terjangkau oleh kebanyakan orang. Dan sebagus-bagusnya askes, tak ada yang memberikan uang tunai untuk nasabahnya. Padahal orang yang terkena penyakit kritis, dia bukan hanya butuh penggantian biaya pengobatan, tapi juga sejumlah uang untuk biaya hidup dan lain-lainnya.

 

Proteksi penyakit kritis tidak dimaksudkan untuk menggantikan asuransi kesehatan. Proteksi penyakit kritis menambal apa yang tidak dapat diberikan askes, yaitu uang tunai dalam jumlah besar (ratusan juta hingga miliaran rupiah).

 
 

Asuransi Cacat (Sebagian maupun Total, karena Sakit ataupun Kecelakaan)

 

Cacat bisa disebabkan kecelakaan ataupun penyakit. Dalam hal cacat tetap total, kejadian ini sama akibatnya dengan meninggal dunia dan beberapa jenis penyakit kritis, yaitu putusnya penghasilan karena tidak mampu lagi bekerja.

 

Di sini, tersedia dua proteksi yang penting, yaitu ADDB (Accident Death and Disability Benefit) dan TPD (Total Permanent Disability). ADDB menanggung risiko cacat (sebagian maupun total) akibat kecelakaan, sedangkan TPD menanggung risiko cacat total akibat sakit maupun kecelakaan.

 
 
 

Jangan buang waktu Anda untuk terus mencari.  Apabila Anda setuju dengan artikel ini, artinya Anda harus segera ambil TAPRO Allisya, karena semuanya ada disini.

 

Yuk hubungi saya untuk mendapatkan penawaran solusi terbaik sesuai kebutuhan dan kemampuan financial Anda.

 
 
 
 
 
 

9 Alasan Saya Pilih Unit Link

14 Agustus 2013 aku menandatangani formulir pengajuan asuransi jiwa tipe unit link. Bayar premi 500 ribu per bulan, manfaat yang kuperoleh (laki-laki, 37 tahun, kelas pekerjaan 1) adalah:

  1. Jika meninggal dunia setelah 70 tahun: 250 juta (sampai usia <100 tahun)
  2. Jika meninggal dunia sebelum 70 tahun:  400 juta (+250 juta tsb di atas)
  3. Jika kecelakaan dengan akibat meninggal atau cacat : 245 juta (sampai usia <65 tahun)
  4. Jika cacat total tetap :  240 juta 
  5. Jika sakit kritis (49 penyakit kritis) : 250 juta (sampai usia <70 tahun)
  6. Payor (pembebasan premi dan dibayari premi oleh perusahaan jika terdiagnosis penyakit kritis atau mengalami cacat tetap total) sampai usia 65 tahun.

Ada juga nilai tunai di akhir tahun kesepuluh sebesar Rp 26.947.000 (asumsi pertumbuhan 18%). Nilai tunai ini belum menyamai premi total yang kubayarkan selama 10 tahun (60 juta), karena  mengambil porsi asuransi yang maksimal. Tak mengapa, karena memang tujuanku adalah proteksi, bukan investasi.

Kalau memang tujuannya proteksi, kenapa tidak ambil asuransi murni? Kan bisa lebih murah?


Alasannya ada sembilan.


Pertama, aku ingin asuransi yang menyediakan keempat manfaat di atas. Aku tidak tahu adakah asuransi murni (tradisional) yang menyediakan empat manfaat tsb sekaligus, dengan harga yang kompetitif.

Apakah keempatnya harus diambil? Menurutku, ya. Karena asuransi jiwa murni saja tidak cukup. Bagaimana kalau kecelakaan tapi tidak mati, melainkan cacat? Kalau hanya mengambil asji murni, tentu UP-nya tidak cair. Sejauh ini tidak ada metode yang ampuh untuk mencegah kecelakaan. Berhati-hati saja tidak cukup, karena bisa saja penyebabnya kecerobohan orang lain. Satu-satunya cara hanyalah berdoa mengharap perlindungan dari Tuhan.

Tentang manfaat sakit kritis, sebetulnya aku pribadi yakin dengan pola hidupku yang sekarang ini, aku tidak akan mengalami sakit kritis, kecuali mungkin saat hendak meninggal. Tapi aku juga tahu potensi itu ada. Bapakku alhamdulillah kondisi masih sehat di usianya yang ke 71 tahun. Ibuku sewaktu mudanya sehat, siapa menyangka akhirnya ada benjolan di payudaranya sejak 2006, merasa sehat tapi ternyata 2011 terpaksa di-kemoterapi, radiasi dll yang menghabiskan dana hampir 300 juta (beruntung masih dicover perusahaan sekitar 280 juta, sisanya tetap harus rogoh kocek sendiri), sekarang alhamdulillah sehat walau masih recovery. 

Mengambil manfaat sakit kritis adalah tindakan jaga-jaga, karena penyakit model begini biaya berobatnya mahal. Tentunya harapanku adalah tetap sehat sentosa selamanya.

Sedangkan manfaat payor menjamin bahwa rencana keuanganku, yakni mendapat proteksi jiwa sekaligus investasi, tetap berjalan apa pun yang terjadi pada diriku, sekalipun sakit kritis, cacat total, dan tidak bisa bekerja. Boleh dikatakan, payor benefit adalah “asuransi atas asuransi”. Ya, asuransi kita pun perlu diasuransikan lagi. (Di sini aku teringat ungkapan dalam dunia sufi: “Bahkan istigfar kita pun perlu diistigfarkan lagi”).

Kedua, aku ingin asuransi jiwa yang bisa berlaku seumur hidup, bukan sampai usia tertentu saja. Asuransi jiwa murni (termlife) paling banter hanya sampai 70 tahun, itu pun dengan premi yang sangat mahal selewat usia 50. Dengan unit link, aku punya keleluasaan apakah tetap sampai 100 tahun ataukah kubatalkan pada usia tertentu (misalnya 70 tahun). 

Dengan demikian, pada usia 70 tahun, seandainya masih hidup, aku bisa punya pilihan apakah akan mewariskan uang 250 juta (kemungkinan nanti nilainya tidak seheboh sekarang akibat inflasi) kepada keluargaku, ataukah membatalkan asuransi jiwaku dan mengambil hasil investasi yang ada (di ilustrasi nilainya mencapai 165 juta).  

Dan apabila aku “pindah dunia” sebelum 70 tahun, maka keluargaku tidak akan kehilangan penghasilan karena aku sudah siapkan 650 juta untuk di-depositokan.

Pilihan semacam ini tidak akan kuperoleh di asuransi murni termlife. Memang, menurut teori para perencana keuangan, orang tua umur 70 tahun tidak butuh asuransi jiwa karena hartanya diasumsikan sudah bejibun berkat hasil investasinya sejak masa muda. (Iya kalau sukses. Kalau bangkrut?). 

Tapi punya pilihan tentu lebih menyenangkan. Jika untuk punya pilihan itu aku harus membayar lebih, ya oke-oke saja. Dengan mengambil unit link sekarang, aku bisa menikmati biaya asuransi atau cost of insurance (COI) yang jauh lebih murah di masa tua, dibanding termlife. Dan dana untuk membayar COI itu tidak usah dipikirkan karena akan tertutupi oleh hasil investasi (dengan asumsi kondisi ekonomi sehat, dan tentunya kita mengharapkan demikian. Jika kondisi ekonomi tidak sehat, bukan hanya unit link yang rugi; semua investasi juga rugi, dan asuransi murni juga bisa mengalami gagal bayar klaim).

Ketiga, ada nilai tunai hasil investasi yang akan digunakan untuk merawat manfaat asuransi sampai masa berlakunya berakhir, atau jika butuh uang bisa diambil sebagian tanpa membatalkan manfaat asuransi.

Keempat, unit link menyediakan fasilitas cuti premi, yang memungkinkan diriku:

 1) berhenti menyetor premi untuk sementara (beberapa bulan) jika karena satu dan lain hal aku mengalami kesulitan finansial. Pemberhentian ini tidak otomatis membatalkan polis asuransi karena ada unit investasi yang akan membayarkan biaya asuransi dan administrasi. Setelah keuanganku pulih, aku bisa kembali meneruskan setoran premi;

 2) membayar premi lebih singkat (rencanaku 10 tahun) untuk mendapatkan proteksi lebih panjang.

Fasilitas ini mungkin bisa direplikasikan jika aku mengambil terpisah (TL+TD), dengan cara membayar premi lanjutan dari retur reksadana. Tapi kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi jika uang sudah di tangan kita.

Kelima, belum tentu asuransi murni lebih murah daripada unit link. Memang jika hanya membandingkan unit link vs termlife murni+reksadana, unit link akan kalah, termasuk dalam jangka panjang. Namun jika unit link dibandingkan dengan termlife+(kecelakaan+sakit kritis+payor)+reksadana, aku yakin unit link lebih unggul, termasuk dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, unit link akan lebih tampak lagi keunggulannya. Menurutku, unit link dirancang untuk diambil dengan manfaat yang beragam, bukan satu manfaat saja. Dengan mengambil minimal 2 atau 3 manfaat tambahan, keunggulan unit link akan lebih tampak.

Keenam, jelas unit link lebih praktis daripada mengambil asuransi terpisah dengan investasi. Kepraktisan adalah nilai lebih dari suatu produk, sebab bisa membantu kita menghemat waktu, tenaga, dan pikiran. Jika untuk kepraktisan ini kita membayar sedikit lebih mahal, itu lumrah. Apalagi jika lebih murah.

Ketujuh, dalam unit link ada agen yang sudah berkomitmen untuk melayani nasabah jika melakukan klaim. Ini juga nilai tambah yang tidak boleh diremehkan. Jika untuk fasilitas ini kita membayar lebih mahal, tak masalah. Apalagi jika lebih murah.

Kedelapan, kemampuan keuanganku saat ini hanya memungkinkan aku bayar premi secara bulanan, sedangkan beberapa produk term life yang sudah kusurvai, bayarnya hanya bisa tahunan. Biarpun ada term life yang misalnya menawarkan premi 3 juta utk UP 1 miliar, saat ini aku tidak sanggup bayar sekaligus. Lagi pula, seperti kusebutkan di atas, kebutuhan proteksiku bukan hanya UP jiwa.

Kesembilan, dengan alasan etis dan religius, aku hanya ingin asuransi yang syariah. Produk term-life yang murah-murah tsb pada umumnya belum syariah. Sedangkan term-life syariah preminya lebih mahal, ridernya tidak lengkap, dan aku tidak yakin ada renewal guarantee (garansi perpanjangan).

Produk unit link yang kuambil ini jenisnya syariah. Dan rata-rata penyedia unit link memiliki produk syariah.

 

Kesimpulan: Aku yakin unit link masih lebih baik daripada asuransi murni, dengan catatan:

1. Manfaat proteksinya dimaksimalkan. Perbesar uang pertanggungan meninggal, kecelakaan, dan sakit kritis, sampai jumlah maksimal yang diizinkan oleh program unit link tersebut sesuai premi yang kita bayarkan.

O ya, di sini aku tidak mengambil manfaat kesehatan karena sementara ini aku masih punya kartu Jamsostek dari kantor. Aku tidak tahu berapa plafonnya (kurasa tidak besar), tapi cukuplah untuk sekadar sakit biasa dan dirawat inap di kamar paling murah. Lagi pula pemakaiannya jarang, karena jika aku sakit, aku pilih kerokan saja daripada ke rumah sakit.

2. Tidak salah memilih produk. Mengapa? Karena unit link berbeda-beda dalam segi manfaat yang bisa diberikan dan biaya yang dikenakan. Sebelum memutuskan yang sekarang ini, aku telah melakukan survai terhadap 5 produk unit link (P, T, A, A, dan A). Insya Allah yang kuambil ini adalah yang terbaik (manfaat paling besar, biaya paling rendah).

3. Agennya berkualitas. Jika anda bertemu agen asuransi, tanya berapa lama dia sudah jadi agen. Semakin lama insya Allah semakin baik, tandanya sudah pengalaman. Tapi juga jangan terlalu tua. Kalau bisa seumuran, sebab dia akan melayani kita seumur hidup kita. Kalau dia meninggal lebih dulu, kita bisa kehilangan fasilitas dilayani agen, kecuali agen di atasnya mau menggantikan.

Itulah beberapa pertimbangan yang kuambil sebelum memutuskan membeli unit link. Sebelumnya aku sempat anti dengan unit link setelah membaca saran beberapa perencana keuangan yang menganjurkan pemisahan antara asuransi dan investasi. Tapi kupikir para penyedia unit link pun membaca kritik-kritik yang dialamatkan kepada produk mereka. Ada yang sudah memperbaiki produknya, sebagian lagi belum.

Dan aku memilih produk unit link yang kelihatannya telah disempurnakan untuk siap menghadapi kritik tsb. Salah satu cirinya, dulu produk ini mengenakan biaya akuisisi 195%, sekarang biaya akuisisinya 145% dan bisa turun menjadi 118,7% jika aku membayar premi rutin hingga 10 tahun (produk ini memberikan ekstra 5,26% untuk porsi investasi sejak tahun keenam).

Demikian sekadar sharing. Jadi kita tidak sekadar anti dengan unit link tanpa punya pertimbangan yang komprehensif menyangkut sisi kelebihan dan kelemahan suatu produk. Termlife murah, tapi tidak bisa seumur hidup. Unit link lebih mahal, tapi bisa seumur hidup. Selain itu termlife saja belum cukup; kita juga butuh asuransi kecelakaan dan sakit kritis. 

Unit link memberikan manfaat-manfaat tambahan yang biaya asuransinya akan lebih murah dibanding harus mengambil satu-satu secara terpisah. (Di sini saya belum punya perbandingan dalam bentuk angka, tapi saya yakin setidaknya dalam jangka panjang unit link lebih murah).

Kemudian dari segi investasi, memang reksadana bisa menghasilkan retur yang lebih maksimal. Tapi tentunya kita mengambil unit link bukan dengan tujuan investasi, melainkan proteksi. Hasil investasi yang ada itu fungsinya untuk membayar biaya-biaya asuransi, sehingga sebaiknya tidak kita ambil, kecuali disisakan sejumlah dana yang cukup untuk berkembang sendiri agar kita tidak lagi harus membayar premi. 

pertimbangan pribadi A P, nasabah unitlink Allisya Protection Plus

Financial Consultant : Estri Heni (0817 028 4743)

sharing pengalaman A S, nasabah unitlink Allisya Protection Plus

Financial Consultant: Y H

 

Rider Baru Tapro Allisya: “Hospital and Surgical Care Plus”

Mulai 20 Januari 2014, Allianz Life Syariah meluncurkan produk baru berupa rider (manfaat tambahan) pada program Allisya Protection Plus (Tapro), yaitu Hospital & Surgical Care +.

Rider ini dikembangkan untuk memenuhi permintaan dari para nasabah yang menginginkan layanan asuransi kesehatan rawat inap yang dilengkapi kartu cashless dalam bentuk unit link. Sebelumnya, askes rawat inap hanya terdapat dalam bentuk asuransi kesehatan murni Allisya Care. Boleh dikatakan, Hospital & Surgical Care + atau HSC+ adalah Allisya Care yang dipindahkan ke program Tapro Allisya dengan beberapa penyesuaian.

Baca lebih lanjut