Testimoni Klaim Dibayarkan Oleh Allianz

Galeri

Galeri ini berisi 11 foto.

  Di bawah ini  ada lagi  tambahan beberapa bukti klaim (dari sekian banyak bukti klaim) dibayarkan Allianz di tahun 2017  yang baru bisa saya dapat dan kumpulkan (mohon maaf atas keterbatasan waktu dan kemampuan yang saya punya):       … Baca lebih lanjut

Allianz (kembali) membayar klaim Stroke nasabah

Hemorrhagic-stroke-image

 

 

Berikut ini adalah kisah nyata seorang nasabah dari agen Allianz yang termasuk dalam kelompok saya yaitu Allianz Star Network (ASN) cabang Serpong.

 

Ibu Iin memiliki nasabah yang membeli produk TAPRO, dengan manfaat dasar (UP 50 Juta) dan manfaat tambahan seperti CI+ (UP 40 Juta), TPD, ADDB dan Payor Benefit  pada tahun 2008. Premi yang nasabah setorkan setiap bulan sebesar 300 ribu. Nasabah tersebut sempat cuti premi dan polisnya hampir lapse. Namun beberapa bulan yang lalu nasabah tersebut aktif lagi menyetorkan preminya. Lalu pada tanggal 9 Mei 2014 musibah menimpa nasabah tersebut. Dia terkena Stroke Hemogarik dan mengajukan klaim ke Allianz pada tanggal 18 Mei 2014. Bukti MRI pada tanggal 10 Mei 2014 memberikan kesan nasabah tersebut mengalami pendarahan akut dilobus temporal kanan dan lobus occipital kiri dengan edema perifokal disertai pendarahan subarachnoid infark subakut di corona radiata kanan.

 

Setelah 6 minggu lebih dia periksa fisik dan isi data oleh dokter. Yang ada kesan fungsi anggota kiri hanya 4+ sedangkan menurut Allianz indikasi sembuh itu 5. Dan keputusan perihal pengajuan klaimnya baru disetujui tanggal 25 Juli 2014 pagi. Alhamdulillah nasabah tersebut mendapatkan semua UP yang sudah disepakati antara tertanggung (nasabah) dengan penanggung (Allianz) yang tertulis di dalam polis sebesar 40 juta rupiah. Selain itu, nasabah tersebut juga dibebaskan pembayaran preminya (premi dibayarkan oleh Allianz) sampai yang bersangkutan berusia 65 tahun. Hal ini karena nasabah tersebut juga membeli rider Payor Benefit. Saat kejadian nasabah tersebut berusia 53 tahun.

 

Untuk kesekian kalinya Allianz membuktikan komitmennya dalam membayarkan klaim nasabahnya. Dibawah ini surat persetujuan klaim yang dimaksud, yang saya peroleh dari Bu Iin langsung:

Nasabah Bu Iin ASN Serpong

 

Hikmah yang dapat dipetik dari kejadian tersebut adalah:

bahwa semua manusia yang hidup pasti memiliki resiko baik itu terkena sakit kritis, kecelakaan, cacat tetap total atau meninggal dunia. Dan kita tidak pernah tahu atau memprediksi kapan resiko itu akan datang menghampiri kita.

Pertanyaannya adalah:

  • apakah kita sudah mempersiapkan segala sesuatu terutama dalam hal finansial jika resiko itu datang?
  • Apakah secara finansial kita sudah siap untuk membayar biaya penyembuhan jika kita terkena sakit kritis seperti sakit stroke misalnya?
  • Atau, apakah kita sudah memberikan warisan yang cukup secara finansial kepada ahli waris kita jika kita harus meninggalkan mereka selamanya?

Hanya Anda yang bisa menjawabnya!

Namun jika Anda ingin memiliki produk TAPRO untuk membantu masalah finansial Anda jika resiko tersebut datang, silakan Anda menghubungi saya.

 

 

Mau punya juga proteksi 100 kondisi kritis di Allianz?  Kontak saya:

Estri Heni

0817 028 4743

pin bbm 2a0897cb

allianzkita@gmail.com

Awas Maut… Ini Serangan Jantung, Bukan Masuk Angin!

Pada produk Tapro Allianz, gejala-gejala seperti dialami wartawan Kompas.com, M Latief, ini masuk kategori Serangan Jantung Pertama (rider CI+ ataupun CI100, kriteria lengkap ada di bagian bawah). Simak bagaimana kisahnya lolos dari serangan maut agar kita semua waspada. (Sumber artikel: Kompas.com). 

 

 

KOMPAS.com – Banyak orang mengenal serangan jantung seperti yang digambarkan dalam film atau sinetron, yakni mata mendelik, dada sesak, dantangan memegangi dada ketika pingsan. Padahal, adakalanya rasa sakit tidak mengikuti pola tertentu, bahkan tanpa diikuti rasa nyeri dada.

Simak kisah serangan jantung seperti yang dialami M Latief (38). Jurnalis yang memiliki hobi naik gunung ini mengalami serangan jantung ringan dengan gejala mirip masuk angin. Inilah pengalamannya.

 

latief

M Latief saat berlibur dengan kedua putranya, Azka dan Azzam.

 

Serasa baru selesai joging jarak jauh, keringat seketika mengucur deras dari kening, leher, dan sebagian badan saya. Anehnya, itu keringat dingin, bukan hangat. Dingin sekali.

Sedetik keringat menderas, tiba-tiba dada juga terasa sesak, diikuti tengkuk hingga bahu yang menegang. Fun City, tempat permainan anak Margo City, Depok, tempat saya berdiri itu, seperti pelan-pelan menyempit, mengimpit.

Pikiran saya mulai kalut. Maklum, baru kali ini mendadak kondisi badan drop secepat itu dengan tanda-tanda yang aneh, tak biasanya.

Ketika itu, rasa sesak di dada semakin menjadi. Awalnya memang sesak biasa, tetapi perlahan-lahan makin terasa nyeri, seperti diremas-remas dengan keras, bahkan lebih dari itu, seperti diinjak-injak. Napas makin sulit.

“Aneh, kok begini,” batin saya.

Maklum, perubahan kondisi tubuh mendadak seperti ini baru saya alami. Rasanya seperti masuk angin, tetapi anehnya bukan seperti masuk angin biasa. Lebih dari masuk angin.

Pelan-pelan saya coba bernapas. Keringat makin deras. Kaki juga mulai lemas.

Ada sekitar hampir tiga menit perubahan aneh itu berlangsung pada diri saya. Saya lalu panggil kedua anak saya.

“Abang, adik, ayo udahan dulu mainnya. Dada ayah sesak, ayah mau ke dokter sekarang. Nanti kalau ketemu ibu, kamu bilang ke ibu ya, Bang, dada ayah sesak dan keluar keringat dingin,” kata saya kepada kedua putra saya, Azka (9) dan Azzam (5).

Sebelum kejadian itu, istri saya memang izin pergi sejenak ke toilet. Hanya saya yang menemani kedua anak saya di tempat hiburan di lantai dasar pusat belanja tersebut. Namun, tak sampai lima menit istri saya pergi, kejadian itu berlangsung.

Saya dan kedua anak saya pun bergegas ke lantai satu, menyusul istri saya. Prinsip saya, jalan pelan-pelan dan usahakan tetap sadar atau tidak pingsan. Otak saya hanya memerintah untuk selekasnya ke rumah sakit.

Hanya dituntun dua bocah berumur belum genap 10 tahun, saya cuma bisa pasrah. Sambil menahan sesak, saya berjalan pelan-pelan dituntun kedua anak saya. Azka di kiri, Azzam memegang tangan kanan.

Saya tak menghiraukan ramainya pusat belanja ini. Meskipun kepala tidak terasa pusing, kaki saya lemas sehingga saya harus pelan-pelan mengikuti langkah kedua anak saya. Bahkan, dengan berusaha tetap tenang, kami bisa melewati eskalator menuju lantai satu.

Lho, kamu kenapa? Kok dingin banget? Kamu masuk angin nih kayaknya,” kata istri saya, setelah kami bertemu dengannya.

Azka, anak saya yang nomor satu memotong. “Dada ayah sesak, keringatnya dingin Bu, ayah minta ke dokter,” ujar Azka.

Saya masih sadar, tetapi saya memang sudah tak mau bicara apa-apa. Dada saya makin sesak. Karena itu, saya biarkan anak saya yang bicara untuk menghemat energi supaya tidak pingsan.

“Kamu masuk angin nih. Ya sudah, kita pulang sekarang saja ya,” kata istri saya.

“Enggak, ini aneh. Rumah sakit… ke rumah sakit sekarang,” kata saya.

“Kok ke rumah sakit. Pulang aja ya. Kamu tunggu dan duduk di sini, aku beli minyak angin dulu,” jawab istri saya.

Nyaris, marah saya meledak. Tetapi saya sadar, marah hanya akan menguras energi. Jadi, saya acuhkan ucapan istri saya.

Saya juga tak mau duduk, tetapi tetap berdiri sembari berpegangan pada dinding mal. Pikir saya, duduk hanya akan bikin sesak di dada semakin parah.

Setengah berlari, istri saya kembali menghampiri. Dia baru selesai dari apotek.

“Kamu masuk angin nih, sini aku olesin dada kamu. Punggungnya juga sini,” kata istri saya.

Saya diamkan istri saya berbuat demikian. Tetapi, hati saya makin kuat bahwa ini bukan masuk angin. Entah, feeling saya bilang lain.

“Sekarang ke rumah sakit. Cari taksi sekarang. Ini jantung, jantung,” bentak saya.

Tanpa banyak cakap, kami berempat bergegas ke luar pusat belanja. Dari tempat kami berdiri, gerbang mal ini masih sekitar 200 meter.

Rasanya, sudah lebih dari lima menit perubahan aneh pada kondisi badan saya ini berlangsung. Saya sadari itu. Maka, pelan-pelan kami berjalan melewati kerumunan. Saya dituntun kedua anak saya di kiri dan kanan. Istri saya berjalan di belakang untuk menahan punggung saya.

“Itu taksi,” kata istri saya, beberapa meter di pintu gerbang.

“Pak, ke rumah sakit ya, yang paling dekat,” ujar istri saya.

Taksi langsung meluncur. Namun, baru sesaat masuk ke jalan raya, panik mulai melanda. Bukan apa-apa, dada saya makin sesak. Dashboard taksi ini seperti mengimpit. Badan saya juga makin lama semakin lemas.

“Tuhan… saya ingin sampai lebih dulu ke rumah sakit, jangan dulu biarkan saya mati,” batin saya terus berkata demikian di antara istigfar saya di mulut.

Doa saya terkabul. Saya sadari itu meskipun mata saya terpejam menahan sakit di dada. Pasalnya, Jalan Margonda Raya yang biasanya macet pada hari libur, siang itu nyaris lengang. Hari itu, Kamis, 29 Mei 2014, adalah hari libur Kenaikan Isa Almasih.

Tak sampai 10 menit, saking ngebutnya, taksi sudah berbelok ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, tak jauh dari Terminal Depok.

Tiba di UGD, semangat saya kembali muncul. Saya keluar dari taksi sendiri tanpa dibantu sopir taksi. Saya berjalan pelan-pelan, dan tetap diapit kedua anak saya serta istri saya yang menahan bahu saya dari belakang.

“Dada sesak, keringat dingin,” ujar istri saya ke petugas UGD yang datang membuka pintu sembari menyorongkan tempat tidur.

Saya ingat betul, saat itu saya langsung diminta duduk di tepi tempat tidur dan diminta diam sebentar.

“Angkat lidahnya, Pak, telan ini dan habiskan,” ujar seorang petugas sembari memasukkan obat berbentuk bubuk ke balik lidah saya.

Sekonyong-konyong, selesai melumat obat tersebut, nyeri di dada saya perlahan menghilang. Petugas pun meminta saya berbaring, dan kemudian memasangkan selang oksigen ke hidung saya. Tangan kiri saya pun lantas diberi cairan infus.

Memang, meskipun rasa sesak di dada belum hilang, nyerinya sedikit berkurang. Untuk itulah, saya diminta lagi untuk menghabiskan obat yang juga sudah disiapkan oleh seorang suster.

Ada tujuh butir obat disorongkan suster itu kepada saya. Sambil membawa segelas air, dia meminta saya selekasnya minum obat tersebut.

“Habiskan, Pak,” ujarnya.

Hanya lima menit seusai menenggak habis ketujuh obat itu, nyeri di dada saya hilang seketika. Tak ada lagi sesak, apalagi nyeri. Suhu tubuh saya pun mulai berubah menjadi hangat.

Seorang dokter muda, dokter jaga di UGD, tampak menghampiri saya. Ia bilang, tujuh obat itu adalah obat jantung.

“Bapak kena serangan jantung ringan. Terlambat lima menit saja, mungkin Bapak sudah enggak ada lagi. Baiklah, Bapak kami rawat di sini ya,” ujar dokter muda tersebut.

Saya cuma mengangguk lemah. Dari balik pintu UGD, saya lihat Azka dan Azzam, melambai-lambaikan tangan ke arah saya sembari tersenyum. Kedua “pahlawan” saya itu tidak diizinkan masuk ke dalam ruangan, termasuk istri saya yang repot ke sana kemari mengurus perawatan selanjutnya.

Pembengkakan jantung

Hari ini, Kamis (5/6/2014), tepat seminggu lalu serangan jantung ringan itu terjadi, kondisi saya sudah berangsur pulih dan semakin baik setelah dirawat selama enam hari di RS Mitra Keluarga. Vonis dokter, saya harus mengurai kembali pola hidup sehat agar kejadian itu tak lagi terulang.

Saya tak punya riwayat jantung. Saya pun suka berolahraga, terutama joging, meskipun hanya dua kali seminggu. Bahkan, pada umur 38 tahun ini saya masih menyalurkan hobi saya mendaki gunung.

Ya, dua pekan sebelum kejadian ini, saya juga baru pulang mendaki Gunung Gede, Jawa Barat, bersama teman-teman. Saya rutin mendaki gunung setahun satu atau dua kali.

“Bapak memang kelihatan sehat dan banyak orang terkena serangan jantung juga dalam kondisi sehat. Tapi, kemarin itu, saat serangan datang, jantung bapak lemah untuk memompa oksigen. Sekarang, kondisi Bapak sudah membaik, meskipun masih ada pembengkakan. Bapak harus mengubah pola makan dan stop merokok,” kata Dr Bona Dwiramajaya H, SpJP, FIHA, yang merawat saya.

Beruntung, penanganan ketika terjadi serangan itu bisa dilakukan secara cepat dan tepat, terutama berkat bantuan istri dan kedua anak saya. Biasanya, dengan gejala umum seperti keringat dingin yang berlebihan, dada sesak dan nyeri, serta tengkuk dan bahu tegang bukan main, waktu-waktu krisis (golden time) kala serangan itu datang, orang masih belum ngeh bahwa itu serangan jantung ringan. Lazimnya, orang berpikir itu adalah masuk angin.

Memang, tak bisa dimungkiri, gejalanya seperti masuk angin, yang dalam bahasa Betawi, sudah kedalon atau akut. Orang sering kali menganggapnya demikian. Bedanya, datangnya sangat tiba-tiba dan berbarengan, mulai dari keringat dingin berlebihan, dada sesak dan lebih nyeri, terasa tegang atau pegal mulai sekitar tengkuk hingga bahu.

Di situlah feeling yang kuat perlu Anda gunakan jika sewaktu-waktu gejala itu menimpa Anda. Pasalnya, Anda sendiri yang merasakannya, bukan orang-orang di sekitar Anda. Maka, camkan bahwa itu bukan masuk angin biasa….

Editor :
Lusia Kus Anna
            *     *     *

Kriteria Serangan Jantung Pertama dalam rider CI+ dan CI100 Tapro Allianz

Infark sebagian otot jantung sebagai akibat kurangnya suplai darah ke jantung. Kriteria diagnostik yang harus dipenuhi pada saat terjadinya serangan tersebut adalah harus memenuhi 3 dari 5 kriteria tersebut di bawah ini di mana sesuai dengan diagnosa serangan jantung pertama:

1. Adanya nyeri dada khas pada saat serangan;

2. Terjadinya perubahan-perubahan gambaran elektrokardiogram yang khas untuk infark myocardial stadium dini;

3. Terjadinya peningkatan pada kadar enzim jantung CK-MB;

4. Terjadinya peningkatan Troponin (T or I)

5. Left Ventrikular Ejection fraction kurang dari 50% (lima puluh persen) yang berlangsung selama 3 bulan atau lebih setelah serangan.

Sumber:   http://www.myallisya.wordpress.com

 

*     *     *

Sudahkah Anda memiliki proteksi terhadap sakit kritis?

Di Allianz: (profil nasabah: pria, 30 th, tidak merokok, bekerja dalam ruangan)

premi 600 ribu perbulan bisa dapat manfaat:

UP  jiwa  dasar               = 500jt

UP termlife                      = 500jt

UP kecelakaan                = 500jt

UP cacat tetap                = 500jt

UP SAKIT KRITIS        = 500jt  (terdiagnosa 1 dari 49 sakit kritis)

                                   *     *     *

Bahkan kini Allianz sudah meng-cover 100 sakit kritis sejak stadium awal loh.

Yuk, lindungi penghasilan Anda dari resiko sakit kritis!

Butuh ilustrasi sesuai profil Anda?

Tanya Estri Heni

0817 028 4743

2a0897cb

allianzkita@gmail.com