Kesalahan Ketika Membeli Asuransi

life-insurance1

 

Perlahan, kesadaran akan pentingnya proteksi meningkat dalam masyarakat. Sayang, kesadaran ini kurang diiringi dengan pengetahuan tentang aneka produk asuransi. Keterbatasan informasi dan pengetahuan produk dan kurangnya penjelasan agen asuransi kerap mengakibatkan konsumen membuat kesalahan ketika membeli asuransi.

Kebanyakan orang tidak mengerti produk asuransi apa yang dibelinya. Ini adalah kesalahan yang sering saya temui. Jangankan mengerti bahwa pertanggungannya kurang, asuransi apa yang dibeli saja dia tidak paham,” kata Ligwina Hananto, perencana keuangan dari Quantum Magna Financial.

Ligwina pernah menjumpai seorang teman yang memiliki 17 polis asuransi. Polis yang banyak ternyata tak menjamin hidup seseorang terproteksi dengan baik. ”Banyak yang hanya membayar premi, menyimpan polis, lalu ketika mengajukan klaim, baru sadar jika asuransi yang dibelinya ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan,” ujar Freddy Pieloor, perencana keuangan dari Money n Love. Selain tidak paham produk apa yang dibeli, kesalahan paling umum yang dilakukan nasabah adalah membeli asuransi dengan uang pertanggungan di bawah yang diperlukan. Istilahnya underinsure. Kebanyakan orang cukup puas membeli asuransi dengan uang pertanggungan sebesar Rp 50 juta, Rp 100 juta, atau Rp 250 juta. Jangan keburu senang kalau sudah memiliki asuransi. Bayangkan jika pencari nafkah meninggal dan keluarga hanya mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 250 juta, padahal pengeluaran per bulan sebesar Rp 10 juta. Uang itu hanya cukup untuk bertahan hidup selama dua tahun. Setelah itu bagaimana?

Berdasarkan survei, nilai pertanggungan asuransi jiwa di Indonesia hanya sekitar Rp 78 juta per polis per tahun. Padahal, kebutuhannya mencapai 10 kali lipatnya. Selisih uang pertanggungan dengan kebutuhan yang ada di Indonesia cukup besar. ”Jadi, pemegang polis asuransi jiwa di Indonesia mengalami underinsure yang besar,” kata Kepala Divisi Syariah AIA Ade Bungsu.

Tidak jarang pula kita membeli asuransi karena tidak enak menolak tawaran agen asuransi yang merupakan teman, kakak, adik, atau keluarga dekat lainnya. Padahal, asuransi yang kita beli belum tentu cocok dengan tujuan keuangan kita. Misalnya, membeli asuransi yang preminya mahal dengan uang pertanggungan ala kadarnya. Padahal, kebutuhan lain masih banyak yang harus dipenuhi. Jadi, penting sekali untuk menghitung besaran kebutuhan asuransi lalu membeli asuransi yang sesuai.

Membeli asuransi untuk anak

Apakah anak Anda sudah dibelikan asuransi? Pertanyaan seperti ini biasa muncul ketika para orangtua berbicara tentang anak-anak mereka. Membeli asuransi dengan anak sebagai tertanggung merupakan hal yang tidak bijaksana.

Baca juga:  Asuransi Apa Yang Tepat Untuk Masa Depan Anak?

Wah, apa lagi ini ? Tujuan membeli asuransi adalah untuk melindungi penghasilan sehingga jika kepala keluarga meninggal dan tidak dapat memberikan penghasilan lagi, keluarga yang ditinggalkan tetap terjamin. Maka, yang harus memiliki asuransi adalah orangtua agar jika terjadi risiko pada orangtua, kehidupan anak-anak terjamin. Orangtualah yang memiliki nilai ekonomis, bukan anak. Jika kehilangan anak, keluarga tidak kehilangan secara finansial, melainkan secara emosional.

Anak penerima manfaat Ketika membeli asuransi, kita pasti ditanya siapa penerima manfaat asuransi tersebut (beneficiary). Memang asuransi ini untuk memproteksi pendapatan orangtua agar anak tak telantar. Ternyata, mencantumkan nama anak di bawah umur sebagai penerima manfaat juga merupakan kesalahan. Lho? ”Untuk anak di bawah 18 tahun yang kedua orangtuanya meninggal dunia pada saat yang sama, ia mewarisi dari kedua orangtuanya. Untuk mengurus harta peninggalan orangtuanya tersebut, pengadilan agama akan menunjuk seorang wali untuknya. Untuk Muslim, wali ditunjuk oleh pengadilan agama setempat, untuk agama lain, wali ditunjuk oleh pengadilan negeri setempat,” ujar Dedek  Yuliona, seorang notaris. Bila nanti si anak menghendaki hartanya dijual atau perlu uang, wali tersebut bisa minta penetapan dari pengadilan negeri, tambahnya lagi.

Wali dapat merupakan saudara dekat. Itu pun jika walinya benar-benar memberikan uang itu untuk kepentingan si anak. Kalau si wali senang belanja, bisa- bisa uang pertanggungan asuransi orangtua menguap di mal.

Kesimpulan dari ilustrasi itu, orangtua yang membeli asuransi haruslah langsung menunjuk seorang wali. Tunjuklah wali yang dapat mengurus anak Anda jika Anda atau pasangan meninggal dunia. ”Menunjuk wali yang benar-benar jujur dan bertanggung jawab adalah hal penting,” imbuh Prita Hapsari Ghozie, perencana keuangan dari ZAPfinance.

Asuransi untuk ibu rumah tangga

Sebagian berpendapat, orang yang tidak bekerja, termasuk ibu rumah tangga, tidak perlu membeli asuransi. Seorang ibu rumah tangga memang tidak menghasilkan pendapatan bagi keluarganya. Namun, perlu diingat bahwa ibu rumah tangga berpotensi mengurangi pengeluaran keluarga.

Seorang ibu rumah tangga dapat berperan sebagai sopir pengantar anak ke sekolah, menjadi guru privat, guru berenang, juru masak, pengasuh anak, perawat, tukang kebun, pembersih rumah dan lainnya. Bayangkan jika si ibu tidak ada. Berapa besar pengeluaran yang harus ditanggung jika harus membayar sopir, guru privat, pengasuh anak, tukang kebun, atau pembersih rumah? Biaya inilah yang harus diperhitungkan ketika membeli asuransi jiwa untuk si ibu.

Baca Juga:  Istri Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya!

Bujangan beli asuransi

Asuransi jiwa terkait erat dengan upaya memproteksi penghasilan. Seorang bujangan yang tidak membiayai orangtua, saudara, atau keponakannya, alias tidak memiliki tanggungan secara ekonomi, tidaklah perlu membeli asuransi jiwa. Apalagi jika sudah memiliki investasi. Jika si bujang meninggal, tidak ada orang yang telantar karena tidak disokong secara finansial lagi olehnya. Ketika dia meninggal pun, biaya yang diperlukan hanyalah biaya pemakaman dan uang untuk membayar utang.

Namun, bujangan seperti ini memerlukan perlindungan asuransi cacat atau penyakit kritis. Jika suatu kali dia menderita sakit kritis atau cacat permanen sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhannya, uang pertanggungan dari asuransi dapat menjadi biaya hidup. Survei membuktikan, kemungkinan seseorang cacat tujuh kali lebih banyak dibandingkan dengan meninggal.

Baca Juga:  Bujangan Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya!

Tidak memberi tahu keluarga

Pada beberapa kebudayaan, berbicara soal kematian adalah hal yang tabu, sementara asuransi terkait dengan kematian. Beberapa orang memilih menyembunyikan polis asuransinya dan tidak memberi tahu keluarga jika dia memiliki polis asuransi. Hanya saja, jika itu dilakukan, ketika risiko meninggal terjadi dan kebetulan agen tak lagi berhubungan dengan nasabahnya atau sudah pindah ke bisnis lain, tetap saja keluarga si pemilik polis tidak menerima manfaat asuransi.

Polis tetap teronggok di tempat tersembuyi. Tidak dicairkan. Di beberapa perusahaan asuransi, batas akhir klaim asuransi jiwa adalah setahun setelah tertanggung meninggal. ”Di Allianz, pengajuan klaim meninggal selambatnya 60 hari setelah terjadinya risiko. Bila klaim diajukan lebih dari itu, harus ada alasan kuat dari termaslahat (penerima manfaat) mengapa baru diajukan. Bagian klaim akan menganalisis apakah klaim yang terlambat itu dapat disetujui atau tidak,” papar Handojo Kusuma, Deputi CEO Asuransi Allianz Life.

Jangan taruh polis di ”safety box”

Kesalahan lain yang mungkin dibuat adalah menyimpan polis asuransi di safety box di bank. Jika pemegang polis meninggal, akan sulit membuka safety box tersebut. Letakkanlah polis asuransi di tempat yang mudah ditemukan, misalnya dalam satu map. Jika terjadi kebakaran atau bencana alam, map tersebut dapat langsung diselamatkan. Hindarilah membuat kesalahan-kesalahan seperti ini karena manfaat yang seharusnya diterima akan berkurang.

 

 

 

Sumber

Lagi-lagi Tentang Asuransi Pendidikan Anak…

children_460

Warisan terbaik bagi Anak adalah pendidikan.  Warisan berbentuk harta seperti uang, property, bisa habis dengan mudah dan cepat.  Apalagi jika si Anak kurang memahami cara meng”aman”kannya.  Dengan memberikan pendidikan terbaik, maka Anak akan dapat berkarya sesuai keahliannya, sehingga bisa menghasilkan uang ataupun harta sesuai dengan impiannya.  Hal inilah yang menginspirasi orangtua untuk mempunyai kepastian dalam siapkan dana pendidikan untuk Anak.

Semua hal yang berbau “pendidikan” pasti sangat diminati.  Biasanya “bau” tersebut berlabel  Tabungan Pendidikan, atau Asuransi Pendidikan.  Kalau Tabungan Pendidikan, biasanya orangtua akan menghubungi mbak-mbak cantik di Bank.   Karena saya adalah agen asuransi, maka pembaca yang menghubungi saya, pastinya akan menanyakan tentang asuransi pendidikan.  Uraian di bawah ini, bolehlah sekali-kali saya bahas sedikit di luar produk asuransi sebagai awalan ceritanya ya…

 

Siapkan dana Pendidikan anak

Sebenarnya saya juga masih belajar.  Saya mengacu pada saran beberapa Perencana Keuangan Top di Indonesia, bagaimana pengelolaan dananya, bagaimana cara meng”aman”kan dana yang saya punya, dan produk apa yang tepat.  Saya bagi dengan Anda infonya di blog saya ini ya.

Idealnya, siapkan dana pendidikan adalah sejak anak usia 0 tahun , dan memang harus rinci.

Dimulai dari:

Pertama,  Sekolah mana yang kelak menjadi tujuan saat SD,SMP,SMA, sampai Universitas.  Lalu survey juga berapa biaya yang dibutuhkan untuk masuk sekolah tersebut PADA SAAT INI.  Agar memudahkan untuk dikonversikan menjadi biaya di masa datang.

Kedua,  Menghitung biaya pendidikan menggunakan kalkulator klik DISINI.

Ketiga,  Menentukan dan memilih produk apa yang bisa memenuhi target dana pendidikan yang kita butuhkan. Hal ini bisa dilakukan setelah orangtua mengetahui ilustrasi besaran dananya.

Pada produk berlabel “Asuransi Pendidikan”, dana yang dikeluarkan untuk tahapan masuk sekolah bukanlah dana asuransi, tapi dana investasi atau tabungannya. Investasi dan asuransi itu dua hal yang berbeda, bahkan bertolak belakang.

Perlu diketahui perbedaan prinsipil antara asuransi dan investasi:

Kejadian yang memerlukan asuransi adalah risiko yang sifatnya tidak diinginkan dan tidak diketahui kapan waktunya. Contoh: sakit, cacat, meninggal dunia. Sedangkan pendidikan itu kejadiannya diinginkan dan waktunya pun bisa diketahui.

Asuransi menyediakan dana besar dalam waktu singkat, dan ini cocok untuk mengantisipasi risiko tidak pasti yang bisa datang kapan saja. Sedangkan dana investasi butuh waktu untuk bisa menjadi besar, dan ini cocok untuk mengantisipasi kebutuhan yang direncanakan di masa depan (contohnya pendidikan anak).

 Tabungan, asuransi, reksa dana adalah alat/sarana. Harus cari tau kebutuhan kita berapa. Harus tahu tujuan financial untuk apa?   Produk harus melayani tujuan.  Bila bicara tujuan, harus ada angka.  Sebab, orangtua  selalu mendadak “mellow” kalau sudah bertemu dengan produk yang ada kata “pendidikan”.

 

Kalau mau pilih investasi ketimbang menabung, orang tua harus melek investasi dulu.  Jangan sampai masukin modal tapi tidak ngerti apa-apa.  Hanya tau adanya iming-iming: modal sekian juta, beberapa bulan ke depan akan menjadi belasan juta.  Semua orang pasti maunya:  terbentuk dana jumlah besar dengan modal kecil.  Saya pun maunya begitu 😀   Pelajari betul-betul produk yang “sangat menggiurkan” tersebut.  Investasi saham, return nya besar dan sangat menggiurkan.  Hanya saja, kita harus betul-betul mengerti produk, dan memahami caranya.  Tidak sedikit orang yang akhirnya menyerah “main saham”, karena hanya menginginkan “high return”-nya, tapi lupa bahwa saham juga bersifat “high risk”.

Jika orang tua lebih memilih investasi Rp 500 ribu per bulan, perlu menggunakan portofolio investasi berupa reksadana yang mampu memberikan return hingga 20%, selain deposito, ORI dan lainnya. Bahkan kalangan menengah bawah pun dapat memulai investasi dalam bentuk sederhana, seperti emas.

Siapkan dana pendidikan anak melalui investasi, akan memberikan hasil yang lebih maksimal, dibandingkan melalui asuransi.  Saya luruskan lagi ya, bahwa fungsi utama asuransi adalah PROTEKSI, bukan investasi.

Loh, kan ada produk unitlink, yang katanya proteksi sekaligus investasi..?  Benar, produk unitlink memang proteksi sekaligus investasi.  Hanya saja, fungsi investasi pada produk unitlink bukanlah tujuan utamanya.   Investasi pada produk unitlink fungsinya adalah:  membayar biaya asuransi, membuat premi menjadi flat, memperpendek masa bayar premi, dan mengembangkan dana.  Detilnya DISINI.

Lalu, apa yang salah dengan Asuransi Pendidikan?  Tidak ada.  Hanya saja, jika dana Anda terbatas, menyiapkan dana pendidikan anak melalui Asuransi Pendidikan tidak akan maksimal hasilnya.  Bisa jadi, ujung-ujungnya Anda akan protes sama saya, karena nilai tunai yang terbentuk tidak sesuai harapan Anda.

Jadi jika Anda ingin menyiapkan dana pendidikan Anak melalui asuransi, itu sama halnya dengan tujuan utama Anda adalah berinvestasi di asuransi unitlink dengan maksud ‘mendapatkan pengembangan dana senilai tertentu di tahun tertentu’, mohon maaf Anda akan kecewa.  Kenapa?

  1. Premi yang Anda harus bayarkan akan menjadi sangat besar
  2. Jangan lupa bahwa pada produk unitlink, masih ada banyak potongan biaya akuisisi di tahun 1-5.  Premi Anda baru akan 100% diletakkan pada investasi adalah di tahun ke-6.
  3. Sehingga wajar, jika dalam tahun 1-5, dana Anda belum berkembang sesuai harapan.
  4. Jelas Anda akan kecewa, karena merasa “sudah bayar premi 500 ribu selama 3 tahun, kok nilai investasinya kecil banget sih?  Mendingan tabung di bank, sudah jelas dapetnya sekian”  Hayoooo… pasti banyak kan pembaca yang merasa demikian???
  5. Bagi pembaca yang mengalami kejadian poin 4, saya ajak Anda untuk mendalami kembali karakteristik produk unitlink ya.  Penjelasan utamanya seperti pada poin 2.
  6. Bagi pembaca yang sudah memahami fitur produk unitlink, tentu tidak masalah.  Apalagi jika sudah punya produk asuransi jiwa unitlink Syariah “Allisya Protection Plus”, yang pastinya akan memaksimalkan fitur Proteksinya.

 

Perhatikan contoh berikut ya:

Usia anak 0 tahun.  Biaya masuk kuliah suatu Universitas tahun 2017 sebesar 100 juta.  Dengan asumsi inflasi pendidikan 15%, maka kelak 17 tahun kemudian, biaya tersebut menjadi 1.076.100.000.

Bagaimana cara mencapainya?  Bila menggunakan instrumen investasi dengan asumsi return 5%, maka butuh dana yang disisihkan = 3.7 juta perbulan.  Bila menggunakan instrumen investasi dengan asumsi return 10%, maka butuh dana yang disisihkan = 2.3 juta perbulan.  Bila menggunakan instrumen investasi dengan asumsi return 15%, maka butuh dana yang disisihkan = 1.4 juta perbulan.

Untuk sampai ke investasi itu, pilihannya cuma ada dua:

  1. menabung Rp 1.4 juta per bulan tanpa putus selama 17 tahun, atau
  2. investasi Rp 500 ribu setiap bulan untuk jenjang S1.

Jadi kalau tidak punya Rp 1.4 juta, ternyata Rp 500 ribu sudah bisa memenuhi rencana tersebut.

 

Instrumen yang berlabel “Asuransi Pendidikan”, umumnya bertujuan: mendapatkan pengembangan dana senilai tertentu di tahun tertentu.  Hal ini tidak tepat digunakan sebagai alat untuk mencapainya.

Perhatikan contoh berikut:  “Asuransi Pendidikan”:

PREMI = 1.4 juta perbulan, masa bayar = 18th, Ayah 30th, Anak 0th.  Apa saja yang didapat?

hal1-premi1-4jt-cuti-th18

Keterangan dari gambar di atas:

  • Premi = 1.4 juta perbulan, Masa bayar = 18th, Tertanggung = Anak, Pembayar premi = Ayah
  • Asuransi dasar (warisan jika ANAK yang meninggal) = 120juta
  • Payor = gratis premi, dan dibayarkan preminya oleh Allianz sampai usia ayah seolah-olah 65th, JIKA Ayah mengalami musibah sakit kritis/cacat tetap total/meninggal

 

hslinvestpremi1-4jt-perbulan-cuti-th18

Catatan
– Nilai Investasi adalah nilai jual Unit berdasarkan Harga Beli Unit yang akan datang.
– Nilai setiap Unit akan berbeda dari waktu ke waktu tergantung pada kinerja investasi Allianz dan tidak terlepas dari resiko investasi  berdasarkan jenis investasi yang dipilih oleh Pemohon.
– Illustrasi nilai setiap Unit tergantung kepada Tabarru, Biaya Administrasi sebesar Rp. 26,500 per bulan dan Biaya
Pengelolaan Investasi yang berlaku saat ini.
– Jika ada tanda “***” artinya Nilai Investasi Anda sudah tidak mencukupi dan Polis anda akan berakhir.
– Membeli Polis Asuransi Jiwa adalah komitmen jangka panjang. Apabila Polis dihentikan pada tahun-tahun awal dapat menyebabkan  kerugian bagi Nasabah.
– Nilai Investasi pada tabel diatas dicantumkan hingga usia 100 tahun, dan proteksi asuransi kepada Tertanggung tetap berlaku hingga  usia 100 tahun selama nilai dari Unit tersedia cukup untuk membayarkan Tabarru dan Biaya Administrasi.

 

Keterangan dari gambar di atas:

Dengan meletakkan dana premi pada equity fund, maka asumsi proyeksi nilai tunai yang terbentuk saat anak usia 18th adalah antara 900 jutaan (return 13%) sampai 1.6 Miliar (return 18%).  Jika tujuan dana saat anak usia 18th adalah = 1.076.100.000 (biaya saat anak masuk kuliah kelak 17 tahun kemudian), maka bisa saja Anda menggunakan “Asuransi” untuk mencapainya.

Masalahnya:  apakah tersedia dana yang dianggarkan sebesar 1.4 juta perbulan untuk siapkan dana pendidikan Anak?  Dana sebesar itu “hanya” untuk siapkan pendidikan anak, loh.  Belum lagi ada anggaran lainnya yang menjadi kewajiban Anda, seperti: anggaran rutin bulanan Anda untuk biaya hidup bulanan, cicilan, tagihan, liburan…

Ingat, komposisi di atas untuk anak 0 tahun, preminya = 1.4 juta perbulan.

 

Baiklah…

Selanjutnya misalkan dana yang tersedia untuk siapkan dana pendidikan anak adalah PREMI = 500 ribu perbulan, dimasukkan ke dalam “Asuransi Pendidikan”.  Maka hasilnya sbb:

hal1-premi500-cuti-th18

Keterangan dari gambar di atas:

  • Premi = 500 ribu perbulan, Masa bayar = 18th, Tertanggung = Anak, Pembayar premi = Ayah
  • Asuransi dasar (warisan jika ANAK yang meninggal) = 60juta
  • Payor = gratis premi, dan dibayarkan preminya oleh Allianz sampai usia ayah seolah-olah 65th, JIKA Ayah mengalami musibah sakit kritis/cacat tetap total/meninggal

 

hslinvestpremi500rb-perbulan-cuti-th18

Catatan
– Nilai Investasi adalah nilai jual Unit berdasarkan Harga Beli Unit yang akan datang.
– Nilai setiap Unit akan berbeda dari waktu ke waktu tergantung pada kinerja investasi Allianz dan tidak terlepas dari resiko investasi  berdasarkan jenis investasi yang dipilih oleh Pemohon.
– Illustrasi nilai setiap Unit tergantung kepada Tabarru, Biaya Administrasi sebesar Rp. 26,500 per bulan dan Biaya
Pengelolaan Investasi yang berlaku saat ini.
– Jika ada tanda “***” artinya Nilai Investasi Anda sudah tidak mencukupi dan Polis anda akan berakhir.
– Membeli Polis Asuransi Jiwa adalah komitmen jangka panjang. Apabila Polis dihentikan pada tahun-tahun awal dapat menyebabkan  kerugian bagi Nasabah.
– Nilai Investasi pada tabel diatas dicantumkan hingga usia 100 tahun, dan proteksi asuransi kepada Tertanggung tetap berlaku hingga  usia 100 tahun selama nilai dari Unit tersedia cukup untuk membayarkan Tabarru dan Biaya Administrasi.

 

Keterangan dari gambar di atas:

Dengan meletakkan dana premi pada equity fund, maka asumsi proyeksi nilai tunai yang terbentuk saat anak usia 18th adalah antara 300 jutaan (return 13%) sampai 500 jutaan (return 18%).  Jika tujuan dana saat anak usia 18th adalah = 1.076.100.000 (biaya saat anak masuk kuliah kelak 17 tahun kemudian), maka tentu saja Anda TIDAK BISA menggunakan “Asuransi” untuk mencapainya.

 

Pada 2 contoh tersebut, tujuan utama berasuransi adalah mendapatkan dana sejumlah tertentu, pada tahun  tertentu.

Pertanyaan:  Selama bertahun-tahun Anda berupaya menempatkan dana di “Asuransi Pendidikan” tersebut:

Apakah Anda yakin upaya tersebut akan mulus tanpa halangan?  Apakah Anda yakin tidak akan ada musibah (sakit kritis/cacat/meninggal) yang mungkin terjadi?  Apakah Anda yakin, bila musibah itu datang pada diri Anda sebagai penabung, finansial Anda tidak akan terganggu?  Apakah Anda yakin, bahwa Anda tabungan Anda yang lain + asset yang dimiliki, akan cukup untuk mengatasi masalah finansial yang timbul?  Jangan-jangan, dana pendidikan yang Anda siapkan ini malah Anda “bongkar” untuk dipakai menggantikan penghasilan Anda yang hilang?  Kalau sudah begitu, bisa batal dong, rencana siapkan dana Pendidikan Anak?  Impian anak untuk sekolah sampai jenjang yang tinggi terpaksa harus dikubur…

Coba Anda cermati lagi komposisi Asuransi Pendidikan di atas, apa manfaat proteksi yang didapat?  Memang ada, tapi cek lagi apakah sesuai nominalnya untuk menggantikan penghasilan Anda yang hilang jika terjadi musibah?

Mari luruskan kembali pemahaman yang benar dalam ber-asuransi pendidikan…  Siapkan dananya melalui investasi, asuransi itu untuk proteksi penghasilan Anda.

Disitulah bedanya asuransi VS investasi.  Saya tidak ingin asal produk asuransi saya terjual.  Biasanya saya akan tetap memberikan saran profesional agar Anda puas dalam mengelola rencana keuangan Anda sesuai tujuan.

Itulah sebabnya, meski saya adalah agen asuransi, ketika banyak permintaan ilustrasi Asuransi Pendidikan yang masuk ke email, atau ke nomor kontak saya, maka saya tetap akan memberikan saran profesional:

Dana pendidikan disiapkan melalui investasi, bukan via asuransi. Tujuan dana yang ingin disiapkan saat jenjang pendidikan tertentu akan lebih mudah tercapai via investasi.

Syarat penting berinvestasi:  pilih perusahaan yang bonafit, kenali produknya, pilih produk yang sesuai dengan profil Anda, tentukan produk yang sesuai dengan tujuan keuangan Anda, pelajari portofolio/kinerja produknya, sesuaikan dananya.

Hubungi Manajer Investasi atau agen penjual produk investasi saat Anda ingin berinvestasi.

Hubungi Estri Heni (email: ProteksiKita@gmail.com), atau ke nomor kontak saya (WA: 0817 028 4743) sekarang juga untuk buka polis Asuransi Jiwa Syariah (premi 355 ribu UP 1 Miliar), atau Asuransi Kesehatan Syariah.  Musibah datang tanpa pemberitahuan, maka miliki polis asuransi saat musibah belum terjadi dan saat Anda merasa belum butuh asuransi.  Karena jika Anda merasa butuh asuransi, mungkin Asuransi sudah tidak bisa menerima pengajuan Anda…

Salam.

 

 

Artikel terkait:

Pendidikan Anak:  Kembangkan dananya melalui investasi, dampingi dengan asuransi sebagai proteksi