Tag Archive | asuransi jiwa allianz syariah

Terlindungi Untuk Kebaikan Sekarang Dan di Masa Depan

 

Baca juga artikel berikut:

3 Manfaat Asuransi Syariah

UP jiwa 1 Miliar premi 355 ribu perbulan

Iklan

Harta Mendiang Suami Sepenuhnya Menjadi Hak Istri Dan Anak? Ternyata TIDAK!

 

Kisah Tentang JENG KELIN, JENG NGATIN, JENG NGATMAN DAN JENG KATNO

Karena pekerjaannya, istri saya “terpaksa” harus bergaul dengan kalangan wanita sosialita di kota Bogor.  Siapa mereka?  Mereka yang tiap hari di Sosial Medianya nampak berganti restoran atau cafe, dengan dress code yang berbeda… Bisa arisan, atau sekedar chit-chat saja saling pamer cangkir atau gorden di rumah yang dibeli dengan harga jutaan.  Ngupi-ngupi cantik, foto-foto lalu upload.

Dari situlah muncul istilah BPJS.  Budget Pas-pasan, Jiwa Sosialita.  Beberapa dari mereka kelihatannya super glamor, tapi keropos.   Hidup sepenuhnya dari gaji suami yang berangkat pagi, pulang pagi lagi.

Sinyalemen di atas terkonfirmasi dengan cerita kemarin sore.

“Eh, jeng Kelin kasian ya, sejak suaminya “nggak ada” enam bulan lalu, jadi jarang ikutan ngumpul. Aku denger, rumah sama tanah di Ciampea “diparebutin” sama mertua dan adik-adik suaminya.  Stress dia, kesian” kata Jeng Ngatin ngomongin salah satu teman di komunitas itu juga.

“Iya, padahal suaminya dulu pejabat ya. Duitnya banyak.  Inget dulu dia cerita beli cangkir set harga Rp 4 juta di GI (maksudnya Grand Indonesia, bukan Gardu Induk). Eh, tapi Jeng Ngatman lebih kasihan loh. Suaminya diem-diem kawin lagi!  Nggak ngomong dia lagi.  Ketahuannya pas suaminya ninggalin hape. Dia kepo, ngoprek hape suami, ketahuan dah. Anak madunya udah dua. Padahal suami Jeng Ngatman keliatannya alim banget.  Kemana-mana pake peci” Jeng Katno menimpali. Membuat obrolan makin seru.

Mendengar glenak-glenik itu, istri saya corat-coret di kertas.

“Jeng semua, perkawinan kita itu, diatur dalam UU no 1 tahun 1974 lho. Di situ diatur soal Dasar Perkawinan, Harta dalam Perkawinan sampai ke Status Anak” kata istri saya santai.

 

“Hubungannya sama Jeng Kelin dan Jeng Ngatno, apa Jeng???” Jeng Ngatman penasaran.

“Satu-satu ya. Kaitan sama Jeng Ngatman. Selain agama, UU itu juga “membuka peluang” lelaki menikah lebih dari satu kali lho. Baca saja pasal 3 ayat (2)” tutur istri saya.

Jeng Ngatin sampai tersedak es jeruk yang diminumnya ketika mendengar itu, nyeletuk “Ah, ciyus nih Jeng?”.

“Ya Serius bu. Mosok saya bercanda pakai Undang-Undang. Nanti itu kaitannya sama Harta dan Anak, Jeng. Bab VII mengatur soal harta dalam perkawinan. Harta yang dimiliki dalam perkawinan, sebagai Harta Bersama, adalah Harta milik berdua” Jelas istri saya.

Jeng Ngatin kelihatan lega dengarnya, disedotnya dengan kuat sisa es jeruk di gelasnya.

“Tapi ….” Lanjut istri saya,  “Harta Bersama yang tadinya dimiliki bersama, ketika suami meninggal dunia, tak lalu serta merta menjadi Harta milik istri dan anak-anak. Sebenarnya temasuk kewajiban (hutang, pajak dll)”.

“Lho, kok bisa Jeng? Aneh!”,protes Jeng Ngatman.

“Karena pada saat suami meninggal dunia, Harta Bersama itu beralih menjadi Harta Waris yang Status Quo, sampai dia dibagikan sesuai Hukum Waris. UU Perkawinan tidak mengatur proses pembagian dan jumlah Harta Warisan. Hukum Waris yang mengatur.

Maka jangan heran, dalam kasus Jeng Kelin (dan biasa terjadi pada perkawinan yang melibatkan Harta Bersama serta Harta Waris yang jumlahnya besar) terjadi sengketa Waris. Menurut Hukum Waris Islam, memang mertua punya hak juga atas harta warisan dari suami Jeng Kelin”.

Jeng Ngatin dan Jeng Katno kelihatan berubah paras mukanya.  Rada pucat jamur kuping gitu.

“Tapi jeng, ada solusinya….” kata istri saya mencoba menenangkan. “Nanti malam, minta suami belikan Asuransi, dengan Uang Pertanggungan yang cukup, dan Penerima Manfaat Warisnya adalah kita, istrinya.   Itu siasat paling jitu, untuk memastikan ketika suami meninggal, meninggalkan harta banyak, kita, istri-istri, masih tetap hidup layak, nggak ribet sama sengketa waris”.

“Oh, begitu ya Jeng” Jeng Ngatin nyeletuk.  “Padahal selama ini paling sebel kalau suami saya beli Produk Asuransi. Ngurang-ngurangi belanja saya beli tas” imbuhnya.

“Yaahh… Kecuali, kisah Jeng-jeng semua mau mirip sama Jeng Kelin yang bersengketa waris, atau Jeng Ngatman yang harus “berbagi waris” dengan anak dari madu suaminya, ya larang aja suaminya punya Asuransi” Kata istri saya sambil pamitan.  Meninggalkan mereka bengong, dan kasak-kusuk.

 

 

** Disarikan dari kisah nyata di dunia BPJS, mengandung unsur edukasi sekaligus jualan.

Bila alergi, ambil bedak anti gatal di rak obat.  Bila kepikiran berlanjut untuk diskusi tentang asuransi secara GRATIS, hubungi Agen Asuransi Berlisensi:  Estri Heni (SMS/WA:  0817 028 4743 atau isi form permintaan penawaran ilustrasi  klik DISINI).

** UU no 1 tahun 1974 bisa diunduh dengan mudah dari berbagai situs hukum di internet.

** Tokoh dalam cerita ini nyata, namun namanya disamarkan.

Kisah ini sudah mendapat ijin penulis aslinya untuk disalin ulang di blog ini.  (sumber)

Baca Juga Artikel terkait:

Istri Tidak Setuju Suami Beli Polis Asuransi

Suami Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya

Hidup Tanpa Asuransi atau Dengan Asuransi, Ini Bedanya

Premi 1 juta perbulan, UP 4 Miliar.  Klik disini

 

 

 

 

 

Kesalahan Ketika Membeli Asuransi

life-insurance1

 

Perlahan, kesadaran akan pentingnya proteksi meningkat dalam masyarakat. Sayang, kesadaran ini kurang diiringi dengan pengetahuan tentang aneka produk asuransi. Keterbatasan informasi dan pengetahuan produk dan kurangnya penjelasan agen asuransi kerap mengakibatkan konsumen membuat kesalahan ketika membeli asuransi.

Kebanyakan orang tidak mengerti produk asuransi apa yang dibelinya. Ini adalah kesalahan yang sering saya temui. Jangankan mengerti bahwa pertanggungannya kurang, asuransi apa yang dibeli saja dia tidak paham,” kata Ligwina Hananto, perencana keuangan dari Quantum Magna Financial.

Ligwina pernah menjumpai seorang teman yang memiliki 17 polis asuransi. Polis yang banyak ternyata tak menjamin hidup seseorang terproteksi dengan baik. ”Banyak yang hanya membayar premi, menyimpan polis, lalu ketika mengajukan klaim, baru sadar jika asuransi yang dibelinya ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan,” ujar Freddy Pieloor, perencana keuangan dari Money n Love. Selain tidak paham produk apa yang dibeli, kesalahan paling umum yang dilakukan nasabah adalah membeli asuransi dengan uang pertanggungan di bawah yang diperlukan. Istilahnya underinsure. Kebanyakan orang cukup puas membeli asuransi dengan uang pertanggungan sebesar Rp 50 juta, Rp 100 juta, atau Rp 250 juta. Jangan keburu senang kalau sudah memiliki asuransi. Bayangkan jika pencari nafkah meninggal dan keluarga hanya mendapatkan uang pertanggungan sebesar Rp 250 juta, padahal pengeluaran per bulan sebesar Rp 10 juta. Uang itu hanya cukup untuk bertahan hidup selama dua tahun. Setelah itu bagaimana?

Berdasarkan survei, nilai pertanggungan asuransi jiwa di Indonesia hanya sekitar Rp 78 juta per polis per tahun. Padahal, kebutuhannya mencapai 10 kali lipatnya. Selisih uang pertanggungan dengan kebutuhan yang ada di Indonesia cukup besar. ”Jadi, pemegang polis asuransi jiwa di Indonesia mengalami underinsure yang besar,” kata Kepala Divisi Syariah AIA Ade Bungsu.

Tidak jarang pula kita membeli asuransi karena tidak enak menolak tawaran agen asuransi yang merupakan teman, kakak, adik, atau keluarga dekat lainnya. Padahal, asuransi yang kita beli belum tentu cocok dengan tujuan keuangan kita. Misalnya, membeli asuransi yang preminya mahal dengan uang pertanggungan ala kadarnya. Padahal, kebutuhan lain masih banyak yang harus dipenuhi. Jadi, penting sekali untuk menghitung besaran kebutuhan asuransi lalu membeli asuransi yang sesuai.

Membeli asuransi untuk anak

Apakah anak Anda sudah dibelikan asuransi? Pertanyaan seperti ini biasa muncul ketika para orangtua berbicara tentang anak-anak mereka. Membeli asuransi dengan anak sebagai tertanggung merupakan hal yang tidak bijaksana.

Baca juga:  Asuransi Apa Yang Tepat Untuk Masa Depan Anak?

Wah, apa lagi ini ? Tujuan membeli asuransi adalah untuk melindungi penghasilan sehingga jika kepala keluarga meninggal dan tidak dapat memberikan penghasilan lagi, keluarga yang ditinggalkan tetap terjamin. Maka, yang harus memiliki asuransi adalah orangtua agar jika terjadi risiko pada orangtua, kehidupan anak-anak terjamin. Orangtualah yang memiliki nilai ekonomis, bukan anak. Jika kehilangan anak, keluarga tidak kehilangan secara finansial, melainkan secara emosional.

Anak penerima manfaat Ketika membeli asuransi, kita pasti ditanya siapa penerima manfaat asuransi tersebut (beneficiary). Memang asuransi ini untuk memproteksi pendapatan orangtua agar anak tak telantar. Ternyata, mencantumkan nama anak di bawah umur sebagai penerima manfaat juga merupakan kesalahan. Lho? ”Untuk anak di bawah 18 tahun yang kedua orangtuanya meninggal dunia pada saat yang sama, ia mewarisi dari kedua orangtuanya. Untuk mengurus harta peninggalan orangtuanya tersebut, pengadilan agama akan menunjuk seorang wali untuknya. Untuk Muslim, wali ditunjuk oleh pengadilan agama setempat, untuk agama lain, wali ditunjuk oleh pengadilan negeri setempat,” ujar Dedek  Yuliona, seorang notaris. Bila nanti si anak menghendaki hartanya dijual atau perlu uang, wali tersebut bisa minta penetapan dari pengadilan negeri, tambahnya lagi.

Wali dapat merupakan saudara dekat. Itu pun jika walinya benar-benar memberikan uang itu untuk kepentingan si anak. Kalau si wali senang belanja, bisa- bisa uang pertanggungan asuransi orangtua menguap di mal.

Kesimpulan dari ilustrasi itu, orangtua yang membeli asuransi haruslah langsung menunjuk seorang wali. Tunjuklah wali yang dapat mengurus anak Anda jika Anda atau pasangan meninggal dunia. ”Menunjuk wali yang benar-benar jujur dan bertanggung jawab adalah hal penting,” imbuh Prita Hapsari Ghozie, perencana keuangan dari ZAPfinance.

Asuransi untuk ibu rumah tangga

Sebagian berpendapat, orang yang tidak bekerja, termasuk ibu rumah tangga, tidak perlu membeli asuransi. Seorang ibu rumah tangga memang tidak menghasilkan pendapatan bagi keluarganya. Namun, perlu diingat bahwa ibu rumah tangga berpotensi mengurangi pengeluaran keluarga.

Seorang ibu rumah tangga dapat berperan sebagai sopir pengantar anak ke sekolah, menjadi guru privat, guru berenang, juru masak, pengasuh anak, perawat, tukang kebun, pembersih rumah dan lainnya. Bayangkan jika si ibu tidak ada. Berapa besar pengeluaran yang harus ditanggung jika harus membayar sopir, guru privat, pengasuh anak, tukang kebun, atau pembersih rumah? Biaya inilah yang harus diperhitungkan ketika membeli asuransi jiwa untuk si ibu.

Baca Juga:  Istri Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya!

Bujangan beli asuransi

Asuransi jiwa terkait erat dengan upaya memproteksi penghasilan. Seorang bujangan yang tidak membiayai orangtua, saudara, atau keponakannya, alias tidak memiliki tanggungan secara ekonomi, tidaklah perlu membeli asuransi jiwa. Apalagi jika sudah memiliki investasi. Jika si bujang meninggal, tidak ada orang yang telantar karena tidak disokong secara finansial lagi olehnya. Ketika dia meninggal pun, biaya yang diperlukan hanyalah biaya pemakaman dan uang untuk membayar utang.

Namun, bujangan seperti ini memerlukan perlindungan asuransi cacat atau penyakit kritis. Jika suatu kali dia menderita sakit kritis atau cacat permanen sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhannya, uang pertanggungan dari asuransi dapat menjadi biaya hidup. Survei membuktikan, kemungkinan seseorang cacat tujuh kali lebih banyak dibandingkan dengan meninggal.

Baca Juga:  Bujangan Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya!

Tidak memberi tahu keluarga

Pada beberapa kebudayaan, berbicara soal kematian adalah hal yang tabu, sementara asuransi terkait dengan kematian. Beberapa orang memilih menyembunyikan polis asuransinya dan tidak memberi tahu keluarga jika dia memiliki polis asuransi. Hanya saja, jika itu dilakukan, ketika risiko meninggal terjadi dan kebetulan agen tak lagi berhubungan dengan nasabahnya atau sudah pindah ke bisnis lain, tetap saja keluarga si pemilik polis tidak menerima manfaat asuransi.

Polis tetap teronggok di tempat tersembuyi. Tidak dicairkan. Di beberapa perusahaan asuransi, batas akhir klaim asuransi jiwa adalah setahun setelah tertanggung meninggal. ”Di Allianz, pengajuan klaim meninggal selambatnya 60 hari setelah terjadinya risiko. Bila klaim diajukan lebih dari itu, harus ada alasan kuat dari termaslahat (penerima manfaat) mengapa baru diajukan. Bagian klaim akan menganalisis apakah klaim yang terlambat itu dapat disetujui atau tidak,” papar Handojo Kusuma, Deputi CEO Asuransi Allianz Life.

Jangan taruh polis di ”safety box”

Kesalahan lain yang mungkin dibuat adalah menyimpan polis asuransi di safety box di bank. Jika pemegang polis meninggal, akan sulit membuka safety box tersebut. Letakkanlah polis asuransi di tempat yang mudah ditemukan, misalnya dalam satu map. Jika terjadi kebakaran atau bencana alam, map tersebut dapat langsung diselamatkan. Hindarilah membuat kesalahan-kesalahan seperti ini karena manfaat yang seharusnya diterima akan berkurang.

 

 

 

Sumber

Hidup Tanpa Asuransi atau Dengan Asuransi, Ini Bedanya

Berikut saya berikan ilustrasi yang mudah dipahami mengenai perbedaan menjalani hidup, antara seseorang yang hanya menabung biasa (TANPA asuransi), dengan seseorang yang tidak hanya menabung biasa (PUNYA asuransi).

 

 

 

Contoh Kasus Perbedaannya:   Hidup tanpa Asuransi atau Dengan Asuransi

Dua Orang AMIR dan ARIF, masing-masing berusia 30 Tahun, keduanya tidak merokok dan memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta. Amir dan Arif merencanakan keuangannya dengan menabung sebesar Rp. 500.000/bulan demi Masa Depan Keluarga mereka dengan cara :

  • AMIR dengan Tabungan Biasa
  • ARIF dengan Tapro (Tabungan Proteksi) Allianz

 

 

 

3

 

 

4

 

 

5

 

 

6

 

 

7

 

 

8

 

 

9

 

 

kasus-selamat

sumber ilustrasi

 

Asuransi Syariah BUKAN berarti meng-asuransi-kan jiwa Anda kepada Allah SWT.  Asuransi Syariah merupakan penyempurnaan ikhtiar rencana keuangan Anda atas takdir Allah SWT.

Anda punya asuransi, atau Anda tidak punya asuransi, jika takdir Allah akan menjadi musibah, ya pasti terjadilah musibah.

Bedanya:  jika Anda punya Asuransi Syariah, maka akan ada orang yang membantu meringankan masalah finansial ketika musibah terjadi pada diri Anda.

 

 

Mari berasuransi Syariah.

Konsultasi Gratis,  Hubungi:

Estri Heni, SMS/WA:  0817 028 4743

Perbandingan Komposisi Ilustrasi: Asuransi Jiwa+Askes VS Asuransi Kesehatan Terpisah

 

1469953_827853290597723_5642077226768139007_n

Apakah Anda sedang mencari asuransi jiwa termlife yang preminya murah,  Uang Pertanggungan yang besar, bisa bayar bulanan, dan pastinya sesuai Syariah?

Atau Anda sedang mencari asuransi kesehatan cashless (pakai kartu) ?

Atau Anda sedang mencari kedua proteksi tersebut?  Bingung mau beli terpisah atau digabung dengan asuransi jiwa?

———-

Kali ini saya ingin membahas tentang asuransi kesehatan manfaat rawat inap yang digabung dengan asuransi jiwa (merupakan rider di asuransi jiwa) dan membandingkannya bila asuransi kesehatan tersebut dibeli terpisah dari asuransi jiwa.  Banyaknya email yang masuk dari klien bertanya tentang manfaat rawat inap yang digabung dengan asuransi jiwa dan atau asuransi kesehatan yang berdiri sendiri, membuat saya ingin berbagi informasinya.

Silahkan disimak.

 

Profil peserta:

Pria usia 35 tahun, tidak merokok, bekerja dalam ruangan.  Butuh asuransi jiwa termlife dengan Uang Pertanggungan = 1 Miliar, dan asuransi kesehatan plan kamar 500rb perhari dengan lama perlindungan sampai usia 70 tahun (artinya masa perlindungan adalah 35 tahun ke depan dari sekarang, saat usia nasabah sudah 35 tahun).

 

Berikut data yang didapat:

1.  Bila asuransi kesehatan digabung dengan asuransi jiwa:

Premi flat = 700 ribu perbulan, setara 8.4 juta setahun

Berikut ilustrasinya:

asjihsc

Detil manfaat rawat inap dari rider HSC+ (Hospital Surgical Care plus) pada asuransi jiwa:

hsc-di-asji

 

2.  Bila asuransi kesehatan dibeli terpisah dari Asuransi jiwa.

A.  Asuransi Jiwa.

Sama seperti pada keterangan nomor 1 di atas, bahwa asuransi jiwa termlife yang ditawarkan adalah produk unitlink.  Adanya rider termlife pada produk unitlink di Allianz memiliki beberapa keunggulan.  Lengkapnya bisa dibaca DISINI dan DISINI.

Untuk proteksi jiwa dengan Uang Pertanggungan = 1 Miliar, dengan profil nasabah tersebut maka premi asuransi jiwa yang dibayarkan = 430 ribu perbulan (murah kan?  Cuma ada di Allianz!)

Berikut ilustrasinya:

asji-saja

 

B.  Asuransi Kesehatan.

Allianz memiliki beberapa asuransi kesehatan yang bisa Anda pilih sesuai kebutuhan.  Bisa dibaca DISINI.  Pada contoh berikut, saya pilih asuransi kesehatan sesuai plafon “Allisya Care”.

Berikut detil manfaat dari asuransi kesehatan individu “Allisya Care” untuk plan kamar 500 ribu perhari:

ac-plan500

Dengan profil nasabah tersebut, maka pada usia 35 tahun, preminya = 2,5 juta pertahun.

 

 

PEMBAHASAN

 

1.  Bila nasabah tersebut membeli polis asuransi jiwa yang didalamnya ada rider rawat inap (asuransi kesehatan digabung dengan asuransi jiwa), maka premi yang dibayarkan = 700 ribu perbulan, atau setara dengan = 8,4 juta pertahun.  Karena nasabah ingin proteksi sampai usia 70 tahun, maka untuk mendapat perlindungan jiwa sebesar 1 Miliar dan manfaat rawat inap plan kamar 500 ribu perhari, total premi yang kelak dibayarkan = 8,4 juta x 35 tahun = 294 juta.

2.  Bila dibeli terpisah.

A.  Asuransi Jiwa.

Untuk asuransi jiwanya nasabah tersebut hanya perlu membayar premi = 430 ribu perbulan, atau setara dengan = 5,1 juta pertahun.  Untuk perlindungan sampai usia 70 tahun, maka total premi yang kelak dibayarkan = 5,1 juta x 35 tahun = 178,5 juta.

B.  Asuransi Kesehatan.

Untuk asuransi kesehatan stand alone/berdiri sendiri, maka nasabah membayar premi = 2,5 juta pertahun.  Namun perlu diingat bahwa Premi asuransi kesehatan yang berdiri sendiri tidaklah flat/tetap, melainkan ada peningkatan setiap 5 tahun (catatan:  kondisi normal/sehat), seperti pada tabel premi Allisya Care berikut ini:

inpatient

Jadi usia masuk nasabah saat buka polis adalah 35 tahun, premi 2,5 juta pertahun.

Saat usia 36-40tahun, premi = 2,7 juta x 5tahun = 13,5 juta

Saat usia 41-45tahun, premi = 3 juta x 5 tahun = 15 juta

Saat usia 46-50tahun, premi = 3,2 juta x 5 tahun = 16 juta

Saat usia 51-55tahun, premi = 3,5 juta x 5 tahun  = 17,5 juta

Saat usia 56-60tahun, premi = 4,5 juta x 5 tahun = 22,5 juta

Saat usia 61-65tahun, premi = 4,8 juta x 5 tahun = 24 juta

Saat usia 66-70tahun, premi = 5,3 juta x 5 tahun = 26,5 juta

Total premi askes sejak usia 35-70tahun = 137,5 juta

#  Bila nasabah membeli asuransi kesehatan terpisah dari asuransi jiwa, sekaligus membeli polis asuransi jiwa (keterangan no 2A + 2B), maka total premi yang kelak dibayarkan sejak usia 35-70 tahun = 178,5 juta + 137,5 juta = 316 juta

 

Catatan:

1.  Asuransi kesehatan yang digabung dengan asuransi jiwa (dalam hal ini sebagai rider pada asuransi jiwa termlife di unitlink Allianz), ternyata:

  • preminya lebih murah (294 juta selama 35 tahun ke depan, untuk 1 polis asuransi jiwa dengan adanya rider kesehatan)
  • premi yang dibayarkan flat/tetap/fix = 700rb perbulan, setara 8,4jt pertahun, selama 35 tahun.
  • Manfaat dari rider kesehatannya lebih lengkap:

1hsc-di-asji

2.  Asuransi kesehatan yang dibeli terpisah dari asuransi jiwa termlife di unitlink Allianz, ternyata:

  • preminya sedikit lebih mahal (316 juta selama 35 tahun ke depan, untuk 2 polis:  polis asuransi jiwa dan polis asuransi kesehatan)
  • asuransi jiwa preminya flat/fix/tetap =430rb perbulan, setara 5,1jt pertahun
  • asuransi kesehatan preminya naik setiap 5 tahun seperti pada tabel premi.
  • Hanya ada manfaat tambahan berupa santunan kematian.  Tidak ada manfaat tambahan untuk kemoterapi, dialisa, fisioterapi:

1ac-plan500

Bila Anda perhatikan, di tahun pertama nasabah (saat usia masuk 35 tahun):

  • bila beli asuransi jiwa+askes, preminya = 8,4 juta pertahun
  • bila beli terpisah:  asuransi jiwa = 5,1 juta pertahun, dan asuransi kesehatan = 2,3 juta pertahun, total dana untuk preminya = 7,4 juta pertahun
  • Jadi pada tahun pertama: preminya lebih murah bila nasabah beli asuransi terpisah dari asuransi jiwa.

Bila dilihat pada tabel premi asuransi kesehatan “Allisya Care”, pilihan nomor 2 (asuransi kesehatan terpisah dari asuransi jiwa) preminya masih lebih murah dibandingkan pilihan nomor 1 (manfaat kesehatan digabung dengan asuransi jiwa) sampai usia nasabah 45 tahun (10 tahun kemudian).  Saat nasabah berusia 46 tahun (di tahun ke-11), alokasi dana untuk premi asuransi tampak lebih murah pada kondisi dimana asuransi kesehatan digabung dengan asuransi jiwa (pilihan nomor 1).

Demikian gambaran singkat keunggulan dan kekurangan asuransi jiwa+kesehatan VS asuransi jiwa terpisah yang ada di Allianz.

 

Hasil dapat berbeda bila asuransi kesehatan yang dipilih adalah asuransi kesehatan kelas premium yaitu asuransi kesehatan individu “Smartmed Premier”.  Bila pertimbangan utamanya adalah:  memiliki manfaat yang hampir sama lengkapnya dengan rider HSC+ tersebut, yaitu:  adanya manfaat khusus/tambahan yang sama: kemoterapi, cuci darah dan beberapa manfaat tambahan lainnya, maka “Smartmed Premier” bisa menjadi pilihan bagi Anda.

Selain itu, Smartmed Premier memang memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki asuransi kesehatan lain yang ada di Allianz, yaitu:

  • Sesuai tagihan (sementara rider HSC+ sesuai plafon)
  • Limit tahunan sampai 6 Miliar
  • Fasilitas cashless tidak hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri
  • Plan yang tersedia lebih banyak pilihan yaitu sampai 6 juta
  • Rentang usia masuk lebih panjang yaitu sampai usia 75 tahun
  • Masa perlindungan lebih panjang sampai usia 85 tahun
  • cara bayar bisa bulanan, kuartalan, semesteran atau tahunan (pilih tahunan bila ingin lebih murah preminya)
  • Detilnya ada pada tabel manfaat berikut (untuk plan 500):

samrtmed

Dari adanya keunggulan tersebut, sebenarnya sudah terlihat bahwa preminya pasti lebih mahal dibandingkan dengan asuransi kesehatan yang sesuai plafon, yaitu 3,9 juta pertahun.  Itu premi untuk profil nasabah di atas.

Premi juga meningkat setiap 5 tahun, seperti pada tabel premi Smartmed Premier berikut ini:

2tabel premi smartmed plan 500 saja

 

Demikian gambaran singkatnya.  Anda bisa pertimbangkan hal-hal yang dibutuhkan pada asuransi kesehatan yang ingin Anda beli.  Lalu tentukan pilihan, mau beli yang digabung atau beli terpisah.  Butuh diskusi lebih lanjut?  Silahkan kontak saya DISINI.

Selamat memilih.  Semoga bermanfaat.

Tapro Allisya = Allisya Protection Plus

Terima kasih Anda sudah berkunjung ke blog ini.

Bagi Anda yang benar-benar baru, dan masih mencari-cari pembenaran bagi diri Anda untuk memiliki proteksi, bisa disimak keterangan berikut ini yaaa…

5-jari-B

Apa perbedaan antara pakai uang sendiri dengan pakai uang bersama? Dua pertanyaan ini akan menunjukkannya:

1. Jika besok anda diminta menyediakan uang 1 miliar rupiah untuk suatu keperluan mendadak dan mendesak, apakah anda siap?

2. Tapi jika anda boleh mencicilnya 50 ribu saja per hari (1,5 juta per bulan), apakah anda bisa?

tabel-t-4

+ Mana yang anda rekomendasikan untuk teman dan orang-orang yang anda cintai, siapkan uang sendiri atau melalui Tapro? Kenapa?

+ Kalau anda diberi kesempatan dan memenuhi persyaratannya, anda mau punya Tapro?

Tapro adalah Uang Bersama, yaitu uang anda, uang saya, dan uang dari ribuan orang-orang lainnya yang dikumpulkan dalam satu Rekening Dana Bersama. Rekening ini dikelola oleh Allianz Life Indonesia cabang Syariah, dan digunakan untuk satu tujuan mulia, yaitu memberikan bantuan keuangan jika di antara peserta ada yang mengalami suatu musibah.

Lebih lanjut tentang Tapro, silakan baca di sini:  Allisya Protection Plus

Berikut contoh ilustrasi produk Allisya protection Plus:

allianzkita

Ilustrasi tsb untuk profil peserta: laki-laki, 30 tahun, bekerja dalam ruangan, asumsi cuti premi 10 tahun (klik gambar untuk memperbesar)

Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap ataupun ilustrasi yang sesuai dengan profil anda, silakan  kontak:

Estri Heni

SMS / WA   :   0817 028 4743

E-mail         :   allianzkita@gmail.com

Siapa saja yang perlu Asuransi Jiwa?

Extended happy family standing in the park.

Selama pencarian saya terhadap asuransi jiwa yang tepat, saya belajar banyak hal dan menemukan informasi dari para Penasehat Keuangan terkenal, bahwa : hanya pencari nafkah utama yang wajib memiliki proteksi Asuransi Jiwa. Pertimbangannya adalah: ekonomi keluarga akan terganggu apabila terjadi resiko pada pencari nafkah utama. Sedangkan anak kecil, remaja, lajang yang bekerja, dan orang tua yang memasuki masa pensiun tidak perlu asuransi jiwa.

Apabila mengacu secara definisi “asuransi jiwa diperlukan untuk melindungi perekonomian keluarga yang terganggu”, pertimbangannya tentu akan berbeda apabila terjadi kasus seperti di bawah ini.

Contoh:


1.  Seorang anak terdiagnosa kanker butuh biaya sangat besar untuk pengobatannya.  Apakah hal ini dapat mengganggu ekonomi keluarga?  Apakah kondisi ini tidak perlu proteksi Asuransi Jiwa?

Okelah, si anak diproteksi dengan Asuransi Kesehatan.  Untuk kondisi penyakit biasa, asuransi kesehatan cukup membantu.  Namun, asuransi kesehatan memiliki limit sesuai plan yang diambil.

Kenyataannya, seorang yang menderita sakit kritis seperti kanker, jantung, terpaksa harus menjalani terapi pembedahan kompleks yang biayanya jauh di atas limit yang disediakan asuransi kesehatan tersebut.

Dalam kondisi ini, bila anak hanya diproteksi asuransi kesehatan, tentu orangtuanya akan “nombok” banyak, bukan? Apakah hal ini tidak mengganggu ekonomi keluarga (orangtua)?

Berdasarkan pertimbangan tersebut, pertanggungan berupa santunan sakit kritis juga diperlukan bagi anak.  Pertanggungan jiwa mungkin tidak terlalu penting bagi anak.  Tapi karena pada asuransi yang ada, pertanggungan sakit kritis merupakan rider (asuransi tambahan) yang menyertai asuransi dasar (pertanggungan jiwa), maka untuk mendapatkan pertanggungan sakit kritis seorang anak harus mengambil pertanggungan jiwanya.

2.  Seorang pensiunan seringkali dianggap sudah tidak memiliki nilai ekonomis karena anak-anaknya sudah tidak bergantung padanya.

Faktanya? Justru masih banyak pensiunan yang masih menjadi tempat bergantung anak-anaknya.  Bukan hanya terjadi pada keluarga miskin.  Keluarga mapan pun tidak semua anaknya mampu menjalani hidup secara mandiri.  Pada akhirnya banyak pensiunan yang akan ganti bergantung pada anaknya pada saat-saat tertentu.

Seperti kasus sebelumnya.  Saat si pensiunan menderita sakit kritis yang perlu biaya besar, seringkali anak-anaknya harus “patungan” membiayai pengobatan orangtua mereka.  Jadi, apakah si pensiunan perlu perlindungan terhadap sakit kritis? PERLU!

Pertanyaan:

Umumnya rider sakit kritis hanya sampai usia 85 tahun.  Lalu bagaimana apabila usia si pensiunan sudah tidak dapat dilindungi oleh perlindungan sakit kritis? Apakah masih perlu ambil perlindungan jiwa hingga usia 99 tahun?

Jawaban kasus:

Seorang usia 87 tahun, sakit kritis, butuh biaya 1 milyar, punya 5 anak.  Dari 5 anak tersebut, hanya   1 anak yang rejekinya berlebih, sisanya hanya cukup untuk keluarga masing-masing secara mandiri.  Meskipun demikian, tentu anak-anaknya akan mengusahakan yang terbaik walau apapun hasil akhirnya yang mungkin terjadi.

Apabila sang Ayah punya asuransi jiwa sebesar 1 Milyar, akan sangat bijak apabila anak yang punya rejeki lebih “nalangin” dulu biayanya.  Mungkin menggadaikan rumah atau cari pinjaman atau cara lain.  Jadi, saat sang Ayah meninggal, uang pertanggungan 1 Milyar tadi bisa digunakan untuk mengembalikan aset si anak yang digunakan untuk nalangin biaya tersebut, kan?

Dengan berbagai pertimbangan  dan kepentingan tersebut, keputusan tetap ada pada Anda.

Namun utamanya, saya tetap menyarankan Anda untuk memiliki proteksi jiwa (Asuransi  Jiwa) bagi pencari nafkah utama.

Pilihlah asuransi jiwa dengan premi murah, memberi manfaat berlimpah yang melindungi Anda dari berbagai “jurusan”.

Diskusikan kebutuhan Anda dengan Agen berlisensi yang memahami kemampuan financial Anda, untuk mendapatkan solusi terbaik.

Bagi Anda yang tinggal di sekitar Dewi Sartika, Otista, Cawang, UKI, Cililitan, Condet, Halim, Ceger, Cipayung, Ciracas, Cilangkap, Cibubur, Cimanggis, Cibinong, Depok, Pondok Gede, Lubang Buaya, Jatimakmur, Jatibening, Pasar Rebo, Kampung Rambutan, Setu, Taman Mini, Bambu Apus, yang membutuhkan informasi ataupun bermaksud memiliki perlindungan Asuransi Jiwa Allianz Syariah  “Allisya Protection Plus”, silahkan hubungi saya:

              Estri Heni     
SMS / What’s App :    0817 028 4743
pin BB                      :    2A0897CB
e-mail                      :    AllianzKita@gmail.com