Tag Archive | asuransi jiwa penting

Jika Sudah Dicover Perusahaan, Apakah saya masih perlu Asuransi ?

woman_laptop

Saya sudah punya asuransi, kesehatan saya dicover oleh perusahaan.  Masih perlukah saya menambah asuransi saya ? Pertanyaan di atas perlu dijawab dengan pertanyaan sebagai berikut :

  • Jenis asuransi apa yang Anda miliki ?
  • Berapa besar pertanggungan yang Anda dapatkan dari asuransi yang ada ?
  • Berapa banyak perusahaan Anda akan mengcover kesehatan Anda ?
  • Apakah Anda akan terus di perusahaan tersebut sampai dengan pensiun ?

Bicara tentang Asuransi ada 2 jenis perlindungan yang ditawarkan yaitu Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan.

Asuransi Kesehatan

Asuransi kesehatan adalah sebuah jenis produk asuransi yang secara khusus menjamin biaya kesehatan atau perawatan para peserta asuransi  jika mereka jatuh sakit atau mengalami kecelakaan.

Jika sudah mendapatkan Asuransi Kesehatan dari tempat bekerja perlukah membeli lagi?
Menjawab pertanyaan ini mungkin beberapa hal dibawah bisa membantu anda dalam membuat keputusan :

  1. Apakah manfaat Asuransi Kesehatan tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda?
    Ada baiknya mengetahui dengan teliti apakah asuransi kesehatan yang diberikan dari kantor tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda. Hal yang paling penting diperhatikan adalah besarnya kelas kamar dan plafon rawat inap, jangan sampai manfaat yang diberikan oleh perusahaan terlalu kecil sehingga mengakibatkan adanya ekses yang harus ditanggung oleh karyawan apabila suatu hari menjalani perawatan kesehatan di rumah sakit.
  2. Apakah Asuransi Kesehatan yang diberikan oleh kantor menanggung seluruh keluarga inti?
    Tidak semua perusahaan memberikan fasilitas manfaat rawat inap untuk semua anggota keluarga inti, biasanya yang ditanggung adalah hanya karyawan yang bekerja ditempat tersebut. Asuransi Kesehatan rawat inap sangat perlu dipertimbangkan bagi anggota keluarga yang belum memiliki manfaatnya.
  3. Apakah Asuransi Kesehatan yang diberikan oleh kantor memiliki jaringan rumah sakit yang cukup bagus dan luas atau hanya berlaku di rumah sakit tertentu saja?
    Jarak lokasi rumah sakit dengan tempat tinggal dan juga kredibilitas rumah sakit biasanya menjadi prioritas utama dalam menentukan rumah sakit ketika seseorang harus menjalani perawatan kesehatan. Jika asuransi yang diberikan perusahaan hanya berlaku untuk rumah sakit tertentu dan bahkan sulit untuk diakses, ada baiknya Anda mempertimbangkan untuk memiliki asuransi lain.

Kesimpulan : Jika manfaat Asuransi Kesehatan yang diberikan oleh perusahaan anda sudah memberikan manfaat yang cukup baik maka anda tidak perlu membeli Asuransi Kesehatan lagi.

Berbeda dengan Asuransi Kesehatan yang biasanya sudah pasti merupakan manfaat yang disediakan oleh kebanyakan perusahaan bagi karyawannya, masih sedikit perusahaan di Indonesia memberikan manfaat Asuransi Jiwa bagi karyawannya, tapi ada juga perusahaan yang menyediakan manfaat Asuransi Jiwa bagi karyawannya.

Asuransi Jiwa

Asuransi Jiwa adalah perlindungan dalam bentuk pengalihan resiko ekonomis atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.
Asuransi Jiwa Dasar memberikan perlindungan berupa Uang Pertanggungan yang akan diterima oleh ahli waris. Asuransi Jiwa sangat dibutuhkan oleh pencari nafkah dalam keuarga.
Terdapat beberapa manfaat tambahan dalam Asuransi Jiwa, yaitu perlindungan karena kecelakaan, perlindungan penyakit kritis dan perlindungan cacat tetap total. Uang Pertanggungan atas manfaat tambahan ini sangat membantu meringankan beban ekonomi keluarga dalam menjalankan perawatan kesehatan bila mengalami suatu musibah, mengingat biaya rumah sakit semakin tahun semakin mahal.

Jika sudah mendapatkan Asuransi Jiwa dari tempat bekerja perlukan membeli lagi?

Fungsi Asuransi Jiwa sedikit berbeda dengan Asuransi Kesehatan. Beberapa perbedaan antara Asuransi Jiwa dan Asuransi Kesehatan di bawah bisa dijadikan pertimbangan untuk menjawab pertanyaan ini:

Asuransi Kesehatan

  1. Memberikan jaminan biaya perawatan rumah sakit sesuai plafon yang dimiliki
  2. Tidak ada Uang Pertanggungan yang diterima oleh Tertanggung yang bisa menggantikan penghasilan yang hilang apabila akibat penyakit yang diderita menyebabkan pasien tidak bisa bekerja lagi, misalnya menderita lumpuh atau stroke.
  3. Premi Asuransi Kesehatan flat sesuai usia dengan kenaikan setiap 5 tahun sekali

Asuransi Jiwa

  1. Memberikan santunan tunai berupa Uang Pertanggungan jika tertanggung mengalami risiko sakit kritis, kecelakaan, cacat tetap total, dan juga meninggal dunia.
  2. Uang Pertanggungan dalam jumlah yang cukup bisa digunakan sebagai pengganti penghasilan yang hilang akibat tidak bisa bekerja lagi apabila mengalami penyakit yang parah dan sulit untuk disembuhkan.
  3. Biaya asuransi mengalami kenaikan setiap pertambahan usia.

Dari beberapa perbedaan di atas saya ingin menggaris bawahi point yang ketiga, yaitu kenaikan biaya asuransi jiwa terjadi setiap pertambahan usia. Artinya, semakin Anda menunda memiliki Asuransi Jiwa, maka premi yang akan Anda bayarkan semakin mahal. Berbeda dengan premi Asuransi Kesehatan kapanpun anda masuk preminya akan sama sesuai dengan tabel premi usia masuk anda.
Jika Anda menunda memiliki Asuransi Jiwa pribadi karena sudah memilikinya dari kantor, saya rasa keputusan ini kurang tepat, karena perlindungan yang diberikan oleh perusahaan hanya bisa dinikmati selama karyawan masih bekerja pada perusahaan tersebut. Tidak jarang ketika kemudian seseorang ingin memiliki Polis Asuransi Jiwa setelah Ia tidak bekerja maka preminya sudah terlalu mahal.

Pemahaman ini bisa diartikan bahwa memiliki Asuransi Jiwa sejak muda dapat menghemat pengeluaran yaitu jumlah premi yang perlu dibayarkan relatif lebih kecil dibandingkan dengan yang baru mulai berasuransi di usia lanjut.

Selain itu memiliki Asuransi Jiwa sejak masih muda sebenarnya mendatangkan banyak keuntungan.

  1. Umumnya belum mempunyai riwayat penyakit sehingga tidak memerlukan pemeriksaan kesehatan
  2. Saat usia muda orang relatif masih sehat sehingga bisa mendapatkan perlindungan total atas semua fungsi tubuh tanpa mendapatkan pengecualian.

Kesimpulan : Asuransi Jiwa sebaiknya dimiliki setiap orang walaupun manfaat ini sudah didapatkan dari perusahaan tempat bekerja.

Mulailah mempertimbangkan untuk membeli Asuransi Jiwa bagi Anda yang belum memilikinya. Langkah cermat dalam memanfaatkan Asuransi akan membuat Anda tidak perlu lagi khawatir ketika terserang penyakit.

 

Atau bisa juga diilustrasikan sebagai berikut, Anda sudah memiliki hp, apakah perlu menambah satu buah hp lagi ? Dengan berkembangnya jaman dan juga resiko, Anda perlu terus memantau asuransi Anda dari tahun ke tahun. Asuransi yang Anda beli 10 tahun lalu mungkin sudah tidak sesuai jamannya lagi atau manfaat yang Anda dapatkan sudah tidak sesuai dengan situasi saat ini baik dari segi proteksi maupun dari jumlah uang pertanggungannya. Demikian pula bila fasilitas dari perusahaan, apakah Anda yakin akan bekerja pada perusahaan yang sama sampai dengan pensiun. Lalu bagaimana setelah pensiun, apakah Anda sudah memikirkannya karena pada saat tersebut itulah resiko semakin meningkat dan apabila pada saat itu Anda baru mengambil asuransi tambahan maka premi akan menjadi sangat mahal. Sangat penting memiliki asuransi pribadi walau sudah dicover oleh perusahaan. Beberapa tips ini sangat membantu Anda jika ingin memiliki asuransi pribadi diluar perusahaan:

  1. Perhatikan manfaat apa saja dan berapa besarnya yang didapat dari perusahaan. Mis : Manfaat kesehatan atau kecelakaan saja, atau juga mencakup rawat jalan dan kematian ? Dan berapa besar proteksi dari masing2 manfaat, apakah sesuai dengan kebutuhan anda?
  2. Jika Anda masih ada kemungkinan pindah ke perusahaan lain, yakinkan anda memiliki asuransi pribadi. Karena belum tentu perusahaan baru anda akan memberikan manfaat yang sama
  3. Untuk asuransi kesehatan,pastikan anda bisa melakukan double claim antara ke kantor dan perusahaan asuransi.

Jagalah jangan sampai asuransi Anda kadaluarsa atau dengan kata lain, ketinggalan jaman !

Iklan

UP Jiwa Saja Belum Cukup

Businessman and angels

Banyak orang yang merekomendasikan pemisahan asuransi dan investasi hanya menyebut termlife (asuransi jiwa berjangka) sebagai alternatif pengganti unit link. Padahal UP jiwa saja belum cukup, terutama bagi orang usia muda dan produktif (di bawah 50 tahun). Kenapa? Karena pada dasarnya orang muda itu tidak akan meninggal hanya karena faktor usia. Memang yang namanya mati itu tidak kenal umur. Tapi melihat usia harapan hidup orang Indonesia yang sekitar 65 tahun, maka jika orang meninggal jauh di bawah usia itu, besar kemungkinan penyebabnya adalah faktor lain.

Apa biasanya penyebab orang muda meninggal dunia? Pertama, kecelakaan. Kedua, sakit. Sakit macam-macam, bisa sakit kritis, penyakit menular, atau sekadar sakit perut.

Orang yang hanya mengambil asuransi jiwa berjangka, jika ia mengalami kecelakaan lalu mati, uang pertanggungan jiwa dapat langsung cair dan diterima ahli warisnya. Tapi jika kecelakaan itu tidak langsung mengirim dia ke alam lain, maka persoalan belum selesai. Jika ia cacat, tentunya UP jiwa tidak bisa keluar, tapi biaya hidup tetap jalan dan makin sulit karena orang cacat tidak akan bisa bekerja sebaik sebelumnya.

Begitu pula mengalami sakit kritis pun belum tentu bikin meninggal. Orang muda usia daya tahan tubuhnya masih relatif kuat, sehingga ketika dia sakit, mungkin dia tetap hidup tapi berbaring saja di rumah atau di RS. Jelas orang seperti ini pun tidak bisa bekerja secara optimal.

Oleh karena itu, asuransi jiwa murni saja tidak cukup. Seseorang masih under-insured jika hanya memiliki polis asuransi jiwa murni. Dia boleh dikatakan belum aman secara keuangan. Risiko terburuk bukan hanya kematian. Bahkan kematian bukanlah risiko terburuk, karena begitu mati selesai sudah. Kesulitan hidup hanya dialami orang yang ditinggalkan, jika yang meninggal merupakan tulang punggung keluarga.

Ada risiko lain yang lebih buruk dari kematian, yaitu cacat (total maupun tidak) dan sakit kritis sehingga hidup tidak mati pun enggan. Jadi, selain asuransi jiwa, asuransi kecelakaan dan asuransi sakit kritis juga sangat perlu dimiliki.

Tinggal persoalannya sekarang, apakah ketiganya (jiwa, kecelakaan, sakit kritis) harus diambil terpisah ataukah sekaligus dalam satu paket. Tentunya di sini ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, biaya. Mana yang lebih murah, mengambil terpisah atau sekaligus. Soal biaya ini juga harus dilihat dalam jangka panjang, bukan jangka tertentu saja.

Kedua, jangka waktu. Butuhnya sampai usia tertentu saja atau seumur hidup.

Ketiga, kemudahan dan kepraktisan. Jelas, satu polis yang mengkover sekaligus lebih praktis daripada beberapa polis.

Demikian untuk jadi pertimbangan.

Selanjutnya, beberapa tawaran bisa anda pertimbangkan di sini:

1. 600 Ribu Dapat Total UP > 2,5 M

2. 1 Juta Dapat Total UP > 4 M

Mari berasuransi.  Selamat memilih…

 

Bagi Anda yang tinggal di sekitar Dewi Sartika, Otista, Cawang, UKI, Cililitan, Condet, Halim, Ceger, Cipayung, Ciracas, Cilangkap, Cibubur, Cimanggis, Cibinong, Depok, Pondok Gede, Lubang Buaya, Jatimakmur, Jatibening, Pasar Rebo, Kampung Rambutan, Setu, Taman Mini, Bambu Apus, yang membutuhkan informasi ataupun bermaksud memiliki perlindungan Asuransi Jiwa Allianz Syariah  “Allisya Protection Plus”, silahkan hubungi saya:

              Estri Heni     
SMS / What’s App :    0817 028 4743
pin BB                      :    2A0897CB
e-mail                      :    AllianzKita@gmail.com

 

 

 

Sumber:

http://myallisya.wordpress.com/2011/12/15/termlife-saja-belum-cukup/

Siapa saja yang perlu Asuransi Jiwa?

Extended happy family standing in the park.

Selama pencarian saya terhadap asuransi jiwa yang tepat, saya belajar banyak hal dan menemukan informasi dari para Penasehat Keuangan terkenal, bahwa : hanya pencari nafkah utama yang wajib memiliki proteksi Asuransi Jiwa. Pertimbangannya adalah: ekonomi keluarga akan terganggu apabila terjadi resiko pada pencari nafkah utama. Sedangkan anak kecil, remaja, lajang yang bekerja, dan orang tua yang memasuki masa pensiun tidak perlu asuransi jiwa.

Apabila mengacu secara definisi “asuransi jiwa diperlukan untuk melindungi perekonomian keluarga yang terganggu”, pertimbangannya tentu akan berbeda apabila terjadi kasus seperti di bawah ini.

Contoh:


1.  Seorang anak terdiagnosa kanker butuh biaya sangat besar untuk pengobatannya.  Apakah hal ini dapat mengganggu ekonomi keluarga?  Apakah kondisi ini tidak perlu proteksi Asuransi Jiwa?

Okelah, si anak diproteksi dengan Asuransi Kesehatan.  Untuk kondisi penyakit biasa, asuransi kesehatan cukup membantu.  Namun, asuransi kesehatan memiliki limit sesuai plan yang diambil.

Kenyataannya, seorang yang menderita sakit kritis seperti kanker, jantung, terpaksa harus menjalani terapi pembedahan kompleks yang biayanya jauh di atas limit yang disediakan asuransi kesehatan tersebut.

Dalam kondisi ini, bila anak hanya diproteksi asuransi kesehatan, tentu orangtuanya akan “nombok” banyak, bukan? Apakah hal ini tidak mengganggu ekonomi keluarga (orangtua)?

Berdasarkan pertimbangan tersebut, pertanggungan berupa santunan sakit kritis juga diperlukan bagi anak.  Pertanggungan jiwa mungkin tidak terlalu penting bagi anak.  Tapi karena pada asuransi yang ada, pertanggungan sakit kritis merupakan rider (asuransi tambahan) yang menyertai asuransi dasar (pertanggungan jiwa), maka untuk mendapatkan pertanggungan sakit kritis seorang anak harus mengambil pertanggungan jiwanya.

2.  Seorang pensiunan seringkali dianggap sudah tidak memiliki nilai ekonomis karena anak-anaknya sudah tidak bergantung padanya.

Faktanya? Justru masih banyak pensiunan yang masih menjadi tempat bergantung anak-anaknya.  Bukan hanya terjadi pada keluarga miskin.  Keluarga mapan pun tidak semua anaknya mampu menjalani hidup secara mandiri.  Pada akhirnya banyak pensiunan yang akan ganti bergantung pada anaknya pada saat-saat tertentu.

Seperti kasus sebelumnya.  Saat si pensiunan menderita sakit kritis yang perlu biaya besar, seringkali anak-anaknya harus “patungan” membiayai pengobatan orangtua mereka.  Jadi, apakah si pensiunan perlu perlindungan terhadap sakit kritis? PERLU!

Pertanyaan:

Umumnya rider sakit kritis hanya sampai usia 85 tahun.  Lalu bagaimana apabila usia si pensiunan sudah tidak dapat dilindungi oleh perlindungan sakit kritis? Apakah masih perlu ambil perlindungan jiwa hingga usia 99 tahun?

Jawaban kasus:

Seorang usia 87 tahun, sakit kritis, butuh biaya 1 milyar, punya 5 anak.  Dari 5 anak tersebut, hanya   1 anak yang rejekinya berlebih, sisanya hanya cukup untuk keluarga masing-masing secara mandiri.  Meskipun demikian, tentu anak-anaknya akan mengusahakan yang terbaik walau apapun hasil akhirnya yang mungkin terjadi.

Apabila sang Ayah punya asuransi jiwa sebesar 1 Milyar, akan sangat bijak apabila anak yang punya rejeki lebih “nalangin” dulu biayanya.  Mungkin menggadaikan rumah atau cari pinjaman atau cara lain.  Jadi, saat sang Ayah meninggal, uang pertanggungan 1 Milyar tadi bisa digunakan untuk mengembalikan aset si anak yang digunakan untuk nalangin biaya tersebut, kan?

Dengan berbagai pertimbangan  dan kepentingan tersebut, keputusan tetap ada pada Anda.

Namun utamanya, saya tetap menyarankan Anda untuk memiliki proteksi jiwa (Asuransi  Jiwa) bagi pencari nafkah utama.

Pilihlah asuransi jiwa dengan premi murah, memberi manfaat berlimpah yang melindungi Anda dari berbagai “jurusan”.

Diskusikan kebutuhan Anda dengan Agen berlisensi yang memahami kemampuan financial Anda, untuk mendapatkan solusi terbaik.

Bagi Anda yang tinggal di sekitar Dewi Sartika, Otista, Cawang, UKI, Cililitan, Condet, Halim, Ceger, Cipayung, Ciracas, Cilangkap, Cibubur, Cimanggis, Cibinong, Depok, Pondok Gede, Lubang Buaya, Jatimakmur, Jatibening, Pasar Rebo, Kampung Rambutan, Setu, Taman Mini, Bambu Apus, yang membutuhkan informasi ataupun bermaksud memiliki perlindungan Asuransi Jiwa Allianz Syariah  “Allisya Protection Plus”, silahkan hubungi saya:

              Estri Heni     
SMS / What’s App :    0817 028 4743
pin BB                      :    2A0897CB
e-mail                      :    AllianzKita@gmail.com

Punya Asuransi Jiwa, buat apa?

life isurance blank bar chart and glases

1. Melindungi keluarga dari kehilangan penghasilan jika pencari nafkah utama meninggal dunia. (Ingat, malaikat Izrail tidak pernah menghitung usiamu).

Ini fungsi pokok dari asuransi jiwa. Selama kita punya tanggungan nafkah (pasangan, anak-anak), selama itu pula kita masih butuh asuransi jiwa.

Agar asuransi jiwa mampu memainkan fungsinya sebagai ganti penghasilan, maka uang pertanggungan (UP) jiwa harus cukup besar untuk memberikan bunga/retur sebesar gaji per bulan jika didiamkan di deposito, obligasi/sukuk, atau reksadana pendapatan tetap.

2. Melindungi keluarga dari beban utang.

Mungkin rumah yang kita tempati, kendaraan yang kita pakai, barang-barang yang kita miliki, dan lain-lain, sebagian atau seluruhnya diambil dari utang. Utang adalah warisan terburuk yang mungkin diberikan seorang suami dan ayah. Utang bukan hanya membebani keluarga yang ditinggalkan, tapi juga orang yang mewariskannya, sebab di akhirat pun utang tidak akan dianggap lunas begitu saja.

Agar asuransi jiwa berperan membebaskan keluarga dari utang, maka UP jiwa minimal harus sama besar dengan utang yang dimiliki keluarga itu.

3. Memberikan sejumlah warisan yang berharga untuk anak-anak.


Para perencana keuangan kerap menyarankan batas masa kontrak asuransi jiwa hanya sampai tahap ketika anak-anak sudah mandiri atau sampai utang terlunasi. Mungkin ini yang wajibnya.


Tapi merencanakan asuransi jiwa sebagai warisan pun tak kalah penting.  Bagi keluarga sederhana, dimana penghasilan mereka masih pas-pasan, sehingga belum bisa beli rumah atau kendaraan. Sekarang harga rumah mahal. Mungkin mereka sanggup membayar cicilannya, tapi untuk uang mukanya tidak.  Adanya warisan, termasuk dari uang pertanggungan asuransi jiwa, akan sangat membantu mewujudkan kebutuhan ataupun keinginan mereka, suatu saat. Kalaupun UP jiwa tidak cukup untuk beli rumah secara kontan, minimal bisa buat uang mukanya.

Bagi keluarga superkaya pun, asuransi jiwa sebagai warisan, tetap bernilai penting.  Contoh:  pemilik perusahaan punya 2 anak dewasa dan mandiri.  Dari 2 anak ini, hanya 1 orang yang berkompeten melanjutkan perusahaan Ayahnya.  Dengan punya asuransi jiwa yang pertanggungannya sebesar nilai asset perusahaan, maka pertanggungan ini dapat diwariskan pada anak  yang kurang kompeten melanjutkan perusahaan.  Jadi perusahaan tidak perlu dibagi 2. Tiap anak mendapat nilai warisan yang sama.

Walaupun usia anak 55 tahun, apakah si anak akan menolak warisan ini?

Yakinlah, anak-anak akan sangat berterima kasih kepada orangtua yang tetap mengasuransikan jiwanya walaupun mereka telah dewasa.

4. Sebagai final expenses (biaya kematian).

Meninggal dunia itu butuh biaya. Untuk upah orang yang memandikan, untuk pemakaman, makanan ringan untuk orang-orang yang melayat, untuk tahlilan, mencetak buku Yasin, mengurus sertifikat kematian, dan lain-lain. Apalagi di perkotaan, tanah pemakaman harganya mahal, bisa jutaan rupiah hanya untuk sewa selama tiga tahun. Dan biaya tahlilan itu, bagi yang melaksanakannya, lebih mahal lagi.

Pilihannya ada dua: apakah mau menyuruh anak-anak untuk membayar semua biaya itu, atau mempersiapkan sendiri mumpung masih hidup. Asuransi jiwa dapat dipandang sebagai salah satu cara mempersiapkan biaya terakhir hidup kita.

5. Menjadi sedekah jariyah untuk terakhir kalinya.

Ini fungsi tambahan asuransi jiwa yang jarang dikemukakan para perencana keuangan. Jika fungsi pertama sudah lewat (anak sudah mandiri), fungsi kedua sudah berlalu (utang sudah lunas), dan begitu pula fungsi ketiga dan keempat (anak-anak sudah sangat kaya sehingga tidak butuh warisan apa pun dari orangtuanya dan tak masalah dengan final expenses), maka UP jiwa bisa saja disedekahkan kepada orang miskin, masjid, lembaga amal, atau kegiatan sosial. Ini akan menjadi amal ibadah terakhir bagi yang bersangkutan, mengurangi catatan dosa-dosanya, dan menerangi perjalanannya di alam keabadian.

Yuk, segera miliki asuransi jiwa Allisya Protection Plus!

Bila Anda tinggal di sekitar Dewi Sartika, Otista, Cawang, UKI, Cililitan, Condet, Halim, Ceger, Cipayung, Ciracas, Cilangkap, Cibubur, Cimanggis, Cibinong, Depok, Pondok Gede, Lubang Buaya, Jatimakmur, Jatibening, Pasar Rebo, Kampung Rambutan, Setu, Taman Mini, Bambu Apus, yang membutuhkan informasi ataupun bermaksud memiliki perlindungan Asuransi Jiwa Allianz Syariah  “Allisya Protection Plus”,  silahkan hubungi saya:

              Estri Heni     
SMS / What’s App :    0817 028 4743
pin BB                      :    2A0897CB
e-mail                      :    AllianzKita@gmail.com

5 Hal Penting yang bisa Hilang dari Hidup Manusia

gugun-gondrong

Tidak ada orang yang rela uangnya hilang. Tapi jika salah langkah, ada lima hal penting yang bisa hilang dari hidup manusia.

Apakah itu?

  1. Tabungan/investasi
  2. Harta
  3. Harga diri
  4. Penghasilan
  5. Impian

Bagaimana lima hal itu bisa hilang? Silakan lihat ilustrasi berikut.

Ilustrasi

Ada seorang kepala keluarga usia 30-an tahun, kita sebut saja Tuan X. Tuan X memiliki asuransi jiwa murni yang menanggung risiko meninggal dunia dengan UP jiwa 1 miliar. Dia juga mengambil rider kesehatan untuk diri dan keluarganya, plan kamar 500rb per hari. Selain itu, dia pun rutin berinvestasi di reksadana sebesar 1 juta per bulan. Dia sudah melakukannya selama 5 tahun, dan kini uangnya hampir 100 juta.

Dari fakta ini, jelas bahwa Tuan X adalah seorang yang telah sadar berasuransi dan berinvestasi. Bahkan dipisah pula, sesuai saran para perencana keuangan.

Tapi ada satu yang dia lewatkan: proteksi penyakit kritis.

Pada suatu hari, Tuan X pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan migrain yang akhir-akhir ini kerap mendera kepalanya. Biasanya pakai obat warung pun selesai, tapi kali ini dia bersikap waspada dengan bertanya langsung ke dokter. Ketika dokter melakukan pemindaian pada kepalanya, tak dinyana, ternyata terdapat tumor sebesar bola pingpong di otaknya. Tumor tersebut telah membangun sarang di tempurung otaknya lebih dari 10 tahun, tanpa dia sadari. Biaya operasi untuk mengangkat tumor tersebut, kata dokter, antara 500 juta sd 1 miliar tergantung rumah sakitnya, dan lebih mahal lagi jika berobatnya di luar negeri.

Tuan X terkejut. Tak menyangka. (Jika anda pun tak menyangka bisa ada tumor sebesar itu tanpa disadari, contohnya dapat dibaca di sini: http://life.viva.co.id/news/read/272466-tumor-otak-sebesar-bola-bisbol).

Tapi tak ada pilihan lain. Jika tak segera dioperasi, nyawa Tuan X terancam.

Maka digunakanlah asuransi kesehatan yang dia miliki, tapi askes tersebut hanya mampu menanggung biaya operasi dan lain-lain tak sampai 100 juta.

Karena masih kurang, dia tariklah semua tabungan dan investasinya. Tapi ini pun hanya sanggup menambahi 100 juta.

Tabungan dan investasi hilang. Ini hilang yang pertama.

Tuan X punya sebuah mobil untuk keperluan sehari-hari ke tempat kerja. Mobil itu terpaksa dijual cepat, laku 100 juta.

Masih kurang. Tuan X pun terpaksa menjual rumahnya yang sebagian masih kredit, juga secara cepat. Laku 150 juta.

Sampai sini, tabungan hilang, harta pun hilang. Ini hilang yang kedua.

Operasi telah mulai dilakukan, tapi karena masih banyak kurangnya, keluarga Tuan X berusaha cari pinjaman sana-sini. Hasilnya tak seberapa, karena ketika sehat pun cari pinjaman itu susah, apalagi di saat sakit.

Di sini, yang hilang dari diri Tuan X adalah harga dirinya. Ini hilang yang ketiga.

Karena Tuan X menjalani operasi dengan dana yang tidak cukup dan tidak segera tersedia (butuh waktu untuk jual mobil dan rumah), maka dia tidak mendapatkan fasilitas terbaik untuk operasinya sehingga penanganan tumornya tidak berlangsung dengan sempurna. Nyawanya memang terselamatkan, tapi kondisinya tidak pulih seperti sediakala. Dia tidak bisa bekerja lagi seperti sebelumnya.

Karena tidak bisa bekerja, maka penghasilan pun hilang. Ini hilang yang keempat.

Biaya hidup tak bisa ditunda. Sang istri harus banting tulang menghidupi keluarga. Anak-anak gagal masuk sekolah favorit. Tak ada lagi rekreasi di masa liburan sekolah. Mimpi naik haji harus dikubur dalam-dalam. Pensiun harus diundur entah sampai kapan. Dan di hadapan Tuan X, jangan sekali-kali bicara soal masa depan.

Karena kini, segala impiannya telah hilang. Ini hilang yang kelima.

Demikianlah kisah Tuan X.

***

 

Sampai di sini, silakan tarik nafas sejenak sambil merenung:

Tuan X adalah seorang yang sadar berasuransi, tapi nyatanya dia masih bisa mengalami hal seperti itu.

Bagaimana jika orang tidak punya asuransi sama sekali? Yang semacam ini amatlah banyak di negeri kita.

Atau bagaimana jika orang punya asuransi dengan manfaat yang lengkap, tapi UP-nya kecil-kecil? Misalnya, UP penyakit kritisnya hanya 100 juta atau bahkan kurang? Yang seperti ini pun banyak sekali. Dan mereka ini masih berisiko kehilangan lima hal penting dalam hidup.

Bagaimana rasanya jika kelima hal penting tersebut hilang dari diri kita?

Sakit. Sedih. Stres. Dunia jungkir balik.

Jangankan kelimanya sekaligus, satu saja yang hilang, akan sangat terasa pedih-perihnya. Bahkan kehilangan satu hal kecil pun bisa bikin galau tidak karuan. Contoh, pernahkah anda kehilangan HP anda? Ingatkah anda bagaimana rasanya saat itu?

Hikmah

Cerita di atas memang hanya ilustrasi. Tapi ini gambaran yang realistis dan mungkin dialami manusia. Anda pun barangkali tahu atau pernah melihat contohnya. Misalnya, mohon maaf, Gugun Gondrong, artis yang diduga kena tumor otak pada tahun 2008. Dia bukan hanya kehilangan lima, melainkan enam hal penting dalam hidup. Yang terakhir adalah istrinya. (Anda bisa membaca beritanya di sini: http://www.berita8.com/berita/2010/05/lepas-dari-koma-gugun-gondrong-dicerai-istri–)

Hikmah yang bisa diambil:

  1. Punya asuransi jiwa dan kesehatan saja tidak cukup.
  2. Apalagi kalau tidak punya asuransi sama sekali.
  3. Ketika memutuskan berasuransi, berpikirlah untuk risiko yang paling buruk (baca: yang butuh biaya paling besar, yaitu penyakit kritis).
  4. Asuransi penyakit kritis adalah keniscayaan, bukan pilihan.
  5. Pada saat yang sama, UP penyakit kritis haruslah cukup besar

Sumber:

 http://myallisya.wordpress.com/2013/06/01/5-hal-penting-yang-bisa-hilang-dari-hidup-manusia-sebuah-ilustrasi/