Harta Mendiang Suami Sepenuhnya Menjadi Hak Istri Dan Anak? Ternyata TIDAK!

 

Kisah Tentang JENG KELIN, JENG NGATIN, JENG NGATMAN DAN JENG KATNO

Karena pekerjaannya, istri saya “terpaksa” harus bergaul dengan kalangan wanita sosialita di kota Bogor.  Siapa mereka?  Mereka yang tiap hari di Sosial Medianya nampak berganti restoran atau cafe, dengan dress code yang berbeda… Bisa arisan, atau sekedar chit-chat saja saling pamer cangkir atau gorden di rumah yang dibeli dengan harga jutaan.  Ngupi-ngupi cantik, foto-foto lalu upload.

Dari situlah muncul istilah BPJS.  Budget Pas-pasan, Jiwa Sosialita.  Beberapa dari mereka kelihatannya super glamor, tapi keropos.   Hidup sepenuhnya dari gaji suami yang berangkat pagi, pulang pagi lagi.

Sinyalemen di atas terkonfirmasi dengan cerita kemarin sore.

“Eh, jeng Kelin kasian ya, sejak suaminya “nggak ada” enam bulan lalu, jadi jarang ikutan ngumpul. Aku denger, rumah sama tanah di Ciampea “diparebutin” sama mertua dan adik-adik suaminya.  Stress dia, kesian” kata Jeng Ngatin ngomongin salah satu teman di komunitas itu juga.

“Iya, padahal suaminya dulu pejabat ya. Duitnya banyak.  Inget dulu dia cerita beli cangkir set harga Rp 4 juta di GI (maksudnya Grand Indonesia, bukan Gardu Induk). Eh, tapi Jeng Ngatman lebih kasihan loh. Suaminya diem-diem kawin lagi!  Nggak ngomong dia lagi.  Ketahuannya pas suaminya ninggalin hape. Dia kepo, ngoprek hape suami, ketahuan dah. Anak madunya udah dua. Padahal suami Jeng Ngatman keliatannya alim banget.  Kemana-mana pake peci” Jeng Katno menimpali. Membuat obrolan makin seru.

Mendengar glenak-glenik itu, istri saya corat-coret di kertas.

“Jeng semua, perkawinan kita itu, diatur dalam UU no 1 tahun 1974 lho. Di situ diatur soal Dasar Perkawinan, Harta dalam Perkawinan sampai ke Status Anak” kata istri saya santai.

 

“Hubungannya sama Jeng Kelin dan Jeng Ngatno, apa Jeng???” Jeng Ngatman penasaran.

“Satu-satu ya. Kaitan sama Jeng Ngatman. Selain agama, UU itu juga “membuka peluang” lelaki menikah lebih dari satu kali lho. Baca saja pasal 3 ayat (2)” tutur istri saya.

Jeng Ngatin sampai tersedak es jeruk yang diminumnya ketika mendengar itu, nyeletuk “Ah, ciyus nih Jeng?”.

“Ya Serius bu. Mosok saya bercanda pakai Undang-Undang. Nanti itu kaitannya sama Harta dan Anak, Jeng. Bab VII mengatur soal harta dalam perkawinan. Harta yang dimiliki dalam perkawinan, sebagai Harta Bersama, adalah Harta milik berdua” Jelas istri saya.

Jeng Ngatin kelihatan lega dengarnya, disedotnya dengan kuat sisa es jeruk di gelasnya.

“Tapi ….” Lanjut istri saya,  “Harta Bersama yang tadinya dimiliki bersama, ketika suami meninggal dunia, tak lalu serta merta menjadi Harta milik istri dan anak-anak. Sebenarnya temasuk kewajiban (hutang, pajak dll)”.

“Lho, kok bisa Jeng? Aneh!”,protes Jeng Ngatman.

“Karena pada saat suami meninggal dunia, Harta Bersama itu beralih menjadi Harta Waris yang Status Quo, sampai dia dibagikan sesuai Hukum Waris. UU Perkawinan tidak mengatur proses pembagian dan jumlah Harta Warisan. Hukum Waris yang mengatur.

Maka jangan heran, dalam kasus Jeng Kelin (dan biasa terjadi pada perkawinan yang melibatkan Harta Bersama serta Harta Waris yang jumlahnya besar) terjadi sengketa Waris. Menurut Hukum Waris Islam, memang mertua punya hak juga atas harta warisan dari suami Jeng Kelin”.

Jeng Ngatin dan Jeng Katno kelihatan berubah paras mukanya.  Rada pucat jamur kuping gitu.

“Tapi jeng, ada solusinya….” kata istri saya mencoba menenangkan. “Nanti malam, minta suami belikan Asuransi, dengan Uang Pertanggungan yang cukup, dan Penerima Manfaat Warisnya adalah kita, istrinya.   Itu siasat paling jitu, untuk memastikan ketika suami meninggal, meninggalkan harta banyak, kita, istri-istri, masih tetap hidup layak, nggak ribet sama sengketa waris”.

“Oh, begitu ya Jeng” Jeng Ngatin nyeletuk.  “Padahal selama ini paling sebel kalau suami saya beli Produk Asuransi. Ngurang-ngurangi belanja saya beli tas” imbuhnya.

“Yaahh… Kecuali, kisah Jeng-jeng semua mau mirip sama Jeng Kelin yang bersengketa waris, atau Jeng Ngatman yang harus “berbagi waris” dengan anak dari madu suaminya, ya larang aja suaminya punya Asuransi” Kata istri saya sambil pamitan.  Meninggalkan mereka bengong, dan kasak-kusuk.

 

 

** Disarikan dari kisah nyata di dunia BPJS, mengandung unsur edukasi sekaligus jualan.

Bila alergi, ambil bedak anti gatal di rak obat.  Bila kepikiran berlanjut untuk diskusi tentang asuransi secara GRATIS, hubungi Agen Asuransi Berlisensi:  Estri Heni (SMS/WA:  0817 028 4743 atau isi form permintaan penawaran ilustrasi  klik DISINI).

** UU no 1 tahun 1974 bisa diunduh dengan mudah dari berbagai situs hukum di internet.

** Tokoh dalam cerita ini nyata, namun namanya disamarkan.

Kisah ini sudah mendapat ijin penulis aslinya untuk disalin ulang di blog ini.  (sumber)

Baca Juga Artikel terkait:

Istri Tidak Setuju Suami Beli Polis Asuransi

Suami Punya Polis Asuransi Jiwa Atau Tidak, Ini Bedanya

Hidup Tanpa Asuransi atau Dengan Asuransi, Ini Bedanya

Premi 1 juta perbulan, UP 4 Miliar.  Klik disini

 

 

 

 

 

Iklan

Perhatikan Hal Ini Sebelum Daftar Asuransi

daretolivemore_960x400

 

Asuransi berfungsi untuk melindungi penghasilan dan memberikan rasa aman.  Maksudnya adalah bila Kepala Keluarga adalah pencari nafkah utama dalam keluarga, maka penghasilan Kepala Keluarga akan digunakan untuk membiayai semua kebutuhan rutin bulanan keluarga dan juga untuk persiapan hari esok mewujudkan impian.  Semua berdoa semoga Kepala Keluarga sehat selalu, agar bisa terus produktif dalam bekerja, sehingga impian keluarga akan tercapai (anak sekolah di sekolah terbaik, perjalanan ibadah, rekreasi keluarga, rumah idaman, kendaraan impian, dll).

Yang menjadi masalah:  bagaimana bila kemudian yang terjadi adalah hal terburuk dalam hidup?  Seperti:  meninggal (apalagi jika terjadi saat anak masih kecil-kecil), kecelakaan, cacat tetap total, atau sakit kritis, yang semuanya membutuhkan biaya besar.  Baik bagi yang mengalaminya (terkena resiko), maupun bagi keluarganya agar dapat bertahan hidup layak.

Berdasarkan fakta ini, maka semakin terbuka wawasan untuk memiliki proteksi terhadap penghasilan.  Silahkan segera menghubungi agen asuransi profesional untuk mendapatkan proteksi terbaik.  Syarat agen asuransi profesional klik ini:  Memilih Agen Asuransi

Berikut beberapa hal yang bisa menjadi perhatian Anda sebelum buka polis asuransi:

Usia Masuk.  Hal ini mempengaruhi besarnya premi, dan besarnya Uang Pertanggungan.  Semakin muda usia masuk, maka premi akan semakin murah dan Uang Pertanggungan akan lebih besar.  Untuk asuransi kesehatan:  semakin tua usia masuk, maka premi semakin mahal.  Baca juga:  UP 2.5 Miliar premi cuma 600 ribu

Jenis Pekerjaan.  Semakin besar tingkat resiko suatu pekerjaan, maka premi akan lebih mahal dan besarnya Uang Pertanggungan menjadi lebih kecil.  Contoh:  pekerja tambang preminya akan lebih mahal dan Uang Pertanggungan jadi lebih kecil, dibandingkan staf administrasi kantor.

Status Merokok.  Ada pengaruhnya terhadap besarnya premi dan Uang Pertanggungan.

Jenis kelamin.  Berpengaruh terhadap besarnya premi dan Uang Pertanggungan.  Pada asuransi jiwa: laki-laki lebih mahal preminya daripada perempuan.  Pada asuransi kesehatan:  laki-laki lebih murah preminya daripada perempuan.  Catatan:  perbandingan pada usia masuk yang sama.

Kondisi kesehatan saat ini.  Informasi yang diminta berupa: tinggi dan berat badan, gejala penyakit/keluhan yang dirasakan, kebiasaan/gaya hidup (merokok/minum alkohol), ketergantungan obat (resep dokter, biasanya untuk penyakit hipertensi, diabetes, dll).  Bila calon nasabah memiliki riwayat sakit tertentu, bagian underwriting akan meminta calon nasabah melakukan tes medis. Setelah dilakukan penilaian oleh bagian underwriting, maka ada kemungkinan preminya akan naik yang dikenakan kepada nilai biaya asuransi (tabarru/biaya asuransi) misalnya 50% (besar presentasenya tergantung penilaian bagian underwriting).  Jika calon nasabah mengalami kegemukan (overweight). Misalnya calon nasabah berpostur 150 atau 160 meter dan beratnya 90 kg lebih, maka akan dikenakan penambahan premi yang besarnya tergantung penilaian underwriters perusahaan asuransi.

Uang Pertanggungan.  Besarnya UP sangat dipengaruhi oleh usia masuk, jenis pekerjaan, status merokok, jenis kelamin, dan juga besarnya premi.  Uang Pertanggungan akan besar nominalnya, jika:  usia muda, jenis pekerjaan 100% dalam ruangan, tidak merokok, jenis kelamin perempuan, dan preminya besar.

Asuransi dibutuhkan saat masih sehat.  Sebab bila sudah sakit (punya penyakit tertentu), asuransi tidak bisa menerima lagi.

Anda masih sehat?  Berarti belum butuh asuransi?  Namun asuransi terbuka menerima Anda.

Segera hubungi saya, agar diterima asuransi untuk punya proteksi sebelum resiko terjadi.

Estri Heni

SMS/WA:  0817 028 4743

Email      : proteksiKita@gmail.com

Hari Kartini = Emansipasi Wanita = Asuransi Jiwa ?

tulisan ini saya tujukan untuk perempuan hebat di seluruh Indonesia

 

Tanggal 21 April kemarin, bertepatan dengan perayaan hari Kartini, hampir semua kawan saya merayakannya.  Ada yang sekedar tulis status “Selamat Hari kartini” di berbagai sosial media, sampai yang pasang DP aneh-aneh di BBnya.  Dari semua itu, ada satu DP di BB kawan yang menarik perhatian saya, yaitu:

 D~faulina 1

Hahaha… Menarik, bukan?

Saya cuman komentar singkat kepadanya:  “WOW… DPnya ngeri!”

Dijawabnya:  “Hehe.. Menyambut Hari Kartini”  😛

*     *     *

Hihihi…  karena saya agen asuransi :D, tentu saja saya berpikir bahwa gambar tersebut lebih berhubungan dengan asuransi ya…

Bisa jadi maksud kawan saya, itu hanya sekedar “Menyambut Hari Kartini”, yang katanya adalah pencetus emansipasi wanita.  Kartini membuka cakrawala berpikir kaum hawa untuk bisa setara dengan para pria.  Hal ini positif sekali, karena sudah terbukti dengan banyaknya posisi penting dalam dunia kerja dan dunia bisnis yang diduduki oleh wanita.  Kereeeeennn!!

Disisi lain, bisa jadi maksud kawan saya, itu adalah hal yang romantis.  Karena ada istilah “tercipta dari tulang rusuk” tuh… Hehehe… Jadi ingat lagu jaman dulu kan?

Di lain sisi, dan ini yang menarik bagi saya, itu adalah hal yang harus dipersiapkan.  Kebetulan, kawan saya ini berkarir sebagai ibu rumah tangga MURNI.  Sementara suaminya adalah seorang Direktur sukses di sebuah perusahaan Farmasi asing.

Kenapa saya katakan bahwa hal ini harus dipersiapkan?  Perhatikan kalimat “Jangan suruh Ia menjadi tulang punggung”.  Rasanya, semua pasti setuju bahwa tidak pernah ada yang menyuruh seorang wanita untuk menjadi tulang punggung keluarga.  Kalaupun demikian adanya, pastilah itu terjadi karena KEADAAN lah yang memaksa seorang wanita untuk menjadi tulang punggung.

Keadaan yang bagaimana?

Banyak kemungkinan keadaan yang bisa dialami si wanita tersebut, umumnya tentu karena kondisi suami yang tidak memungkinkan untuk memberikan nafkah, diantaranya:

1.  Suami meninggal dunia, anak masih kecil usia sekolah.  Kondisi si wanita mungkin bisa berbeda bila: suami meninggal, anak sudah mapan dan sukses semua.  Ya toh?

2.  Suami menderita sakit kritis.  Oww… untuk hal ini, kondisi keuangan bisa dobel-dobel pengeluarannya.  Perlu biaya pengobatan yang jumlahnya pasti besar (bisa mencapai ratusan juta), perlu biaya hidup juga untuk semua anggota keluarga, dan biaya-biaya lainnya.

3.  Suami menderita cacat total tetap.  Hal ini juga membutuhkan dana yang tidak sedikit.  Bagaimana pun, suami tetap harus dirawat agar tetap bisa menikmati hidup dalam keterbatasannya yang mengakibatkan tidak berpenghasilan lagi.

Mau jual investasi tanah/rumah/Logam Mulia/ReksaDana?

Apakah Anda yakin sudah diversifikasi investasi selengkap itu (seperti arahan Perencana Keuangan Ternama)?

Kalau semua investasi yang Anda miliki, yang sudah Anda kumpulkan sejak masih muda, aktif, agresif, dengan susah payah, cucuran keringat dan air mata, sampai kepala dijadikan kaki, kaki dijadikan kepala tersebut, ternyata hanya untuk Anda JUAL untuk membiayai sakit kritis dan biaya hidup keluarga?????

hmmm… semua hasil kerja keras Anda jadi terasa sia-sia ya?  Maksud hati, semua jerih payah tersebut tentu selain untuk anak-anak, juga untuk Anda nikmati bersama pasangan Anda tercinta untuk hidup nyaman di masa pensiun, bukan?

Lalu, bagaimana agar “seorang wanita yang tercipta dari tulang rusuk ini tidak harus terpaksa menjadi tulang punggung”?

Jawabannya tentu saja:  berikan proteksi terbaik untuk suami Anda!

Parameter terbaik itu seperti apa?

Well, tentunya proteksi tersebut HARUS:

1.  Melindungi suami Anda (yang merupakan pencari nafkah) dari segala “jurusan” yaitu:

  • proteksi jiwa jika beliau meninggal dunia,
  • proteksi terhadap sakit kritis,
  • proteksi akibat kecelakaan,
  • proteksi bila terjadi cacat.

2.  Uang Pertanggungan nya BESAR.  Untuk apa?  Ya untuk bisa mengganti sumber biaya yang hilang kalau terjadi hal-hal tersebut pada beliau, dong.  Masa tega sih, sudah sakit kritis masih diminta untuk bekerja?

3.  Premi nya MURAH.  Naaaahhh…. yang seperti ini pasti diminati para ibu.  Ya kaaaann???  Premi murah, tapi bukan murahan.  Anda akan mendapatkan manfaat maksimal dengan premi minimal, hanya disini:  Asuransi Jiwa Unitlink Syariah “Allisya Protection Plus” !

 

Yuuk, perhatikan ilustrasi berikut:

Kartini

Saya bantu membacanya ya.

Bpk Gagah usia 35 tahun, setiap bulan menabung 1,5 juta rupiah.  Apabila dalam proses menabung tersebut, beliau mengalami resiko:

  • terkena 1 dari 100 sakit kritis >> cair  1 M
  • kecelakaan >> cair 1 M
  • cacat tetap total >> cair 1 M
  • meninggal dunia >> cair 1 M

Plus, ada dana tunai yang terbentuk dan manfaat bebas premi jika cacat/sakit.

Jangan lupa bahwa dana yang cair tersebut adalah TUNAI ya, bukan cicil… 🙂

 

 

Anda tidak mau kan tiba-tiba harus jadi tulang punggung keluarga, mulai dari nol lagi, justru pada saat angka usia Anda sudah banyak, saat kondisi tubuh sudah merapuh, saat kesehatan sudah tidak fit lagi???

Duhai Anda para wanita, baik yang sudah ibu-ibu ataupun belum, yuk lindungi suami Anda tercinta dengan Asuransi Jiwa Allianz Syariah “Allisya Protection Plus”!

 

Jangan ragu kontak saya untuk membantu Anda ya…

 

Bagi Anda yang tinggal di wilayah Jakarta Timur, utamanya sekitar Dewi Sartika, Otista, Cawang, UKI, Cililitan, Condet, Halim, Ceger, Cipayung, Ciracas, Cilangkap, Cibubur, Cimanggis, Cibinong, Bogor, Depok, Pondok Gede, Lubang Buaya, Jatimakmur, Jatibening, Pasar Rebo, Kampung Rambutan, Setu, Taman Mini, Bambu Apus, yang membutuhkan informasi ataupun bermaksud memiliki perlindungan Asuransi Jiwa Allianz Syariah  “Allisya Protection Plus”, silahkan hubungi saya:

              Estri Heni     
SMS / What’s App :    0817 028 4743
pin BB                      :    2A0897CB
e-mail                      :    ProteksiKita@gmail.com

Bagi Anda yang berada di luar wilayah tersebut dan ingin didampingi oleh saya sebagai agen asuransi Anda, saya bisa dihubungi di kontak tersebut.

 

Klaim stoke Nasabahku disetujui

Allianz kembali membuktikan komitmen..

 

Sekilas ceritaku, semoga berguna buat kita semua..

 

Kondisi nasabah:

Usia nasabah 56 tahun.

Premi Rp.  1,2 juta perbulan, baru berjalan 13 bulan.

Terserang stroke hemoragik intraserebral

Tidak ada riwayat hipertensi

Tidak pernah sakit

Pola hidup sehat

 cerebral_hemorrhage

 

Berkas klaim lengkap diajukan 8 November 2013, dan disetujui 23 Jnauari 2014

Masa proses 52 hari kerja

Uang Pertanggungan sejumlah Rp.  200 juta dibayarkan ke rekening nasabah.

 

*  *  *

 

Asuransi bisa dibeli saat tidak membutuhkan, tapi saat dibutuhkan Asuransi tidak bisa dibeli…

Uang kecil beli uang besar, itulah Asuransi..

 

*   *   *

 

 

Seperti diceritakan oleh Ligor Tampubolon

Allianz Life Insurance, area Tangerang

UP Jiwa Saja Belum Cukup

Businessman and angels

Banyak orang yang merekomendasikan pemisahan asuransi dan investasi hanya menyebut termlife (asuransi jiwa berjangka) sebagai alternatif pengganti unit link. Padahal UP jiwa saja belum cukup, terutama bagi orang usia muda dan produktif (di bawah 50 tahun). Kenapa? Karena pada dasarnya orang muda itu tidak akan meninggal hanya karena faktor usia. Memang yang namanya mati itu tidak kenal umur. Tapi melihat usia harapan hidup orang Indonesia yang sekitar 65 tahun, maka jika orang meninggal jauh di bawah usia itu, besar kemungkinan penyebabnya adalah faktor lain.

Apa biasanya penyebab orang muda meninggal dunia? Pertama, kecelakaan. Kedua, sakit. Sakit macam-macam, bisa sakit kritis, penyakit menular, atau sekadar sakit perut.

Orang yang hanya mengambil asuransi jiwa berjangka, jika ia mengalami kecelakaan lalu mati, uang pertanggungan jiwa dapat langsung cair dan diterima ahli warisnya. Tapi jika kecelakaan itu tidak langsung mengirim dia ke alam lain, maka persoalan belum selesai. Jika ia cacat, tentunya UP jiwa tidak bisa keluar, tapi biaya hidup tetap jalan dan makin sulit karena orang cacat tidak akan bisa bekerja sebaik sebelumnya.

Begitu pula mengalami sakit kritis pun belum tentu bikin meninggal. Orang muda usia daya tahan tubuhnya masih relatif kuat, sehingga ketika dia sakit, mungkin dia tetap hidup tapi berbaring saja di rumah atau di RS. Jelas orang seperti ini pun tidak bisa bekerja secara optimal.

Oleh karena itu, asuransi jiwa murni saja tidak cukup. Seseorang masih under-insured jika hanya memiliki polis asuransi jiwa murni. Dia boleh dikatakan belum aman secara keuangan. Risiko terburuk bukan hanya kematian. Bahkan kematian bukanlah risiko terburuk, karena begitu mati selesai sudah. Kesulitan hidup hanya dialami orang yang ditinggalkan, jika yang meninggal merupakan tulang punggung keluarga.

Ada risiko lain yang lebih buruk dari kematian, yaitu cacat (total maupun tidak) dan sakit kritis sehingga hidup tidak mati pun enggan. Jadi, selain asuransi jiwa, asuransi kecelakaan dan asuransi sakit kritis juga sangat perlu dimiliki.

Tinggal persoalannya sekarang, apakah ketiganya (jiwa, kecelakaan, sakit kritis) harus diambil terpisah ataukah sekaligus dalam satu paket. Tentunya di sini ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, biaya. Mana yang lebih murah, mengambil terpisah atau sekaligus. Soal biaya ini juga harus dilihat dalam jangka panjang, bukan jangka tertentu saja.

Kedua, jangka waktu. Butuhnya sampai usia tertentu saja atau seumur hidup.

Ketiga, kemudahan dan kepraktisan. Jelas, satu polis yang mengkover sekaligus lebih praktis daripada beberapa polis.

Demikian untuk jadi pertimbangan.

Selanjutnya, beberapa tawaran bisa anda pertimbangkan di sini:

1. 600 Ribu Dapat Total UP > 2,5 M

2. 1 Juta Dapat Total UP > 4 M

Mari berasuransi.  Selamat memilih…

 

Bagi Anda yang tinggal di sekitar Dewi Sartika, Otista, Cawang, UKI, Cililitan, Condet, Halim, Ceger, Cipayung, Ciracas, Cilangkap, Cibubur, Cimanggis, Cibinong, Depok, Pondok Gede, Lubang Buaya, Jatimakmur, Jatibening, Pasar Rebo, Kampung Rambutan, Setu, Taman Mini, Bambu Apus, yang membutuhkan informasi ataupun bermaksud memiliki perlindungan Asuransi Jiwa Allianz Syariah  “Allisya Protection Plus”, silahkan hubungi saya:

              Estri Heni     
SMS / What’s App :    0817 028 4743
pin BB                      :    2A0897CB
e-mail                      :    AllianzKita@gmail.com

 

 

 

Sumber:

http://myallisya.wordpress.com/2011/12/15/termlife-saja-belum-cukup/