Mana Lebih Baik: Meninggalkan Cicilan Atau Meninggalkan Warisan?

Adalah Bapak Bijak, seorang ayah luar biasa yang sangat mencintai keluarganya.  Saat masih sehat, masih produktif, banyak sekali impian yang ingin diwujudkan bersama keluarga tercinta.  Bapak Bijak dengan senang hati dan penuh suka cita menyisihkan dana untuk tabungan pendidikan anak, berinvestasi untuk masa tua, menyiapkan dana liburan, menyiapkan dana perjalanan ibadah, dll. Untuk hal ini, Bapak Bijak melakukan investasi di berbagai instrumen investasi.  Sesuai dengan tujuan investasinya.

Tidak lupa pula Bapak Bijak harus menyesuaikan kebutuhan hidup seperti membeli rumah yang lebih besar untuk menampung anggota keluarga yang bertambah, misalnya.  Belum mampu membeli rumah secara tunai, sekarang ada skema cicilan Syariah, yaitu mencicil langsung ke developer.  Guna mempercantik interior rumah, sang istri tercinta pun membeli pernak pernik rumah dan elektronik dengan cara mencicil.  Untuk memudahkan transportasi, Bapak Bijak juga mencicil beli kendaraan.

Gaya hidup serba instan saat ini, ditambah effort kerja luarbiasa, sering melenakan, sehingga terlewat untuk tetap berpola hidup sehat.  Bapak Bijak sering melewatkan waktu makan siangnya karena sangat serius bekerja.  Seringkali perutnya hanya diisi dengan minuman ringan bersoda yang mudah didapat.  Support lingkungan pun semakin minim:  menjamurnya restoran cepat saji, debu dan polusi, asap rokok, minuman dan makanan berpengawet, dll.  Sehingga potensi terjadinya resiko sakit kritis bisa terjadi pada usia yang lebih muda.

Karena rasa cinta dan sayangnya yang begitu besar terhadap keluarga, Bapak Bijak begitu memanjakan keluarganya dengan fasilitas kemudahan yang bisa didapat keluarganya.  Rasa sayang keluarga tersebut ditunjukkan dengan cara kerjanya yang luarbiasa.  Sehingga Bapak Bijak terlupa menjaga kesehatan dirinya.  Beliau jatuh sakit, yang bukan sakit biasa.  Beliau mengalami sakit kritis.

Selama menjalani pengobatan terhadap sakit kritisnya, sang istri mengandalkan asuransi kesehatan dari kantor yang ternyata ADA LIMITnya.  Ternyata hanya cukup untuk mengganti biaya pengobatan selama di RS saja.  Selama perawatan di rumah, sang istri mengandalkan investasi yang dimiliki.  Bapak Bijak mengalami sakit kritis menyebabkan penghasilan berhenti.  Namun kebutuhan biaya hidup sehari-hari tidak berhenti.  Untuk tetap dapat hidup layak, sedikit demi sedikit, aset yang dimiliki terpaksa harus dijual.  Saat dana yang dimiliki sudah tidak mencukupi, sang istri hanya bisa pasrah karena sudah tidak ada biaya.

Perjalanan sakit kritis Bapak Bijak hanya bertahan beberapa tahun saja.  Sampai akhirnya Bapak Bijak harus pergi meninggalkan keluarga tercinta untuk selamanya.  Meninggalkan sejuta mimpi indah yang masih dalam rencana dan hanya berupa angan-angan untuk diwujudkan, serta meninggalkan sejumlah besar cicilan hutang yang harus diselesaikan oleh keluarganya.

Untunglah, kisah itu hanyalah cerita karangan saya semata.  Meskipun tidak dapat dipungkiri, kisah itu bisa juga terjadi di kehidupan nyata.  Ini adalah pesan tentang bagaimana mengatur rencana keuangan keluarga.  Menyiapkan dana untuk hal baik, dan juga dibarengi dengan strategi menyiapkan dana untuk hal terburuk dalam hidup.

Anda bisa berdiskusi dengan agen Asuransi Bersertifikasi mengenai bagaimana menyiapkan proteksi terhadap penghasilan Anda, selagi Anda masih sehat.  Kondisi sakit kritis, kecelakaan, cacat tetap total dan Tua, adalah kondisi “tidak menyenangkan” yang membutuhkan dana besar, dan Anda masih ada bersama keluarga tercinta.

Asuransi adalah proteksi terhadap penghasilan Anda, jika terjadi resiko hidup seperti:  Sakit Kritis, Kecelakaan, Cacat Tetap Totap, Meninggal, dan Tua.  Yaitu strategi rencana keuangan dimana finansial Anda tidak terganggu jika resiko itu terjadi.

Saya setuju dengan saran Perencana Keuangan untuk memisahkan investasi dan asuransi.  Silahkan Anda berinvestasi menyiapkan penghidupan yang layak bagi Anda dan keluarga SELAGI Anda masih bersama keluarga tercinta.  Jangan lupa barengi investasi Anda dengan BERASURANSI.  Karena asuransi adalah menyiapkan penghidupan yang layak bagi keluarga tercinta WALAUPUN Anda sudah tidak bersama mereka lagi.

Di bawah ini adalah contoh proteksi penghasilan milik Bapak Bijak, usia 30th, tidak merokok, kerja dalam ruangan.

#1.   Proteksi Lengkap Penghasilan Bpk Bijak:

Premi = 1.5 juta perbulan

Manfaat:

UP dasar                                   = 500 juta

UP termlife 75                         = 500 juta

Total UP jiwa = 1 Miliar

 

UP 49 sakit kritis                   = 500 juta

UP 100 sakit kritis                 = 500 juta

Total UP sakit kritis = 1 Miliar

 

UP kecelakaan                      = 500 juta

UP cacat tetap total             = 500 juta

Manfaat rawat inap plan 1000

Manfaat Payor (stop premi jika terdiagnosa sakit kritis/cacat tetap total, dan premi selanjutnya dibayarkan Allianz sampai usia nasabah seolah-olah 65th)

Ada nilai tunai

 

#2.  Jika Bapak Bijak bertujuan menyiapkan warisan melalui asuransi jiwa:

Premi = 850 ribu perbulan

Manfaat:

UP dasar                                            = 700 juta

UP termlife 75                                 = 1.8 Miliar

Total UP jiwa = 2.5 Miliar

 

Kesimpulan:

Bapak Bijak, 30 th, dengan menyisihkan 1.5 juta perbulan untuk asuransi jiwa, mendapatkan manfaat proteksi total = 3 Miliar + manfaat rawat inap plan 1000 + manfaat bebas premi + ada nilai tunai

atau, jika Bapak Bijak, 30th, menyisihkan 850 ribu perbulan untuk asuransi jiwa, artinya Bapak Bijak sudah menyiapkan warisan untuk anak istrinya sejumlah = 2.5 Miliar + nilai tunai.

Pertanyaan:

Apa manfaat dari berasuransi?

  1. Melindungi keluarga dari kehilangan penghasilan jika pencari nafkah utama meninggal dunia. (Ingat, malaikat Izrail tidak pernah menghitung usia Anda).

Ini fungsi pokok dari asuransi jiwa. Selama kita punya tanggungan nafkah (pasangan, anak-anak), selama itu pula kita masih butuh asuransi jiwa.

Agar asuransi jiwa mampu memainkan fungsinya sebagai ganti penghasilan, maka uang pertanggungan (UP) jiwa harus cukup besar untuk memberikan bunga/retur sebesar gaji per bulan jika didiamkan di deposito, obligasi/sukuk, atau reksadana pendapatan tetap.

  1. Melindungi keluarga dari beban utang.

Mungkin rumah yang kita tempati, kendaraan yang kita pakai, barang-barang yang kita miliki, dan lain-lain, sebagian atau seluruhnya diambil dari utang. Utang adalah warisan terburuk yang mungkin diberikan seorang suami dan ayah. Utang bukan hanya membebani keluarga yang ditinggalkan, tapi juga orang yang mewariskannya, sebab di akhirat pun utang tidak akan dianggap lunas begitu saja.

Agar asuransi jiwa berperan membebaskan keluarga dari utang, maka UP jiwa minimal harus sama besar dengan utang yang dimiliki keluarga itu.

  1. Memberikan sejumlah warisan yang berharga untuk anak-anak.

Para perencana keuangan kerap menyarankan batas masa kontrak asuransi jiwa hanya sampai tahap ketika anak-anak sudah mandiri atau sampai utang terlunasi. Mungkin ini yang wajibnya.

Tapi merencanakan asuransi jiwa sebagai warisan pun tak kalah penting.  Bagi keluarga sederhana, dimana penghasilan mereka masih pas-pasan, sehingga belum bisa beli rumah atau kendaraan. Sekarang harga rumah mahal. Mungkin mereka sanggup membayar cicilannya, tapi untuk uang mukanya tidak.  Adanya warisan, termasuk dari uang pertanggungan asuransi jiwa, akan sangat membantu mewujudkan kebutuhan ataupun keinginan mereka, suatu saat. Kalaupun UP jiwa tidak cukup untuk beli rumah secara kontan, minimal bisa buat uang mukanya.

Bagi keluarga superkaya pun, asuransi jiwa sebagai warisan, tetap bernilai penting.  Contoh:  pemilik perusahaan punya 2 anak dewasa dan mandiri.  Dari 2 anak ini, hanya 1 orang yang berkompeten melanjutkan perusahaan Ayahnya.  Dengan punya asuransi jiwa yang pertanggungannya sebesar nilai asset perusahaan, maka pertanggungan ini dapat diwariskan pada anak  yang kurang kompeten melanjutkan perusahaan.  Jadi perusahaan tidak perlu dibagi 2. Tiap anak mendapat nilai warisan yang sama.

Walaupun usia anak 55 tahun, apakah si anak akan menolak warisan ini?

Yakinlah, anak-anak akan sangat berterima kasih kepada orangtua yang tetap mengasuransikan jiwanya walaupun mereka telah dewasa.

  1. Sebagai final expenses (biaya kematian).

Meninggal dunia itu butuh biaya. Untuk upah orang yang memandikan, untuk pemakaman, makanan ringan untuk orang-orang yang melayat, untuk tahlilan, mencetak buku Yasin, mengurus sertifikat kematian, dan lain-lain. Apalagi di perkotaan, tanah pemakaman harganya mahal, bisa jutaan rupiah hanya untuk sewa selama tiga tahun. Dan biaya tahlilan itu, bagi yang melaksanakannya, lebih mahal lagi.

Pilihannya ada dua: apakah mau menyuruh anak-anak untuk membayar semua biaya itu, atau mempersiapkan sendiri mumpung masih hidup. Asuransi jiwa dapat dipandang sebagai salah satu cara mempersiapkan biaya terakhir hidup kita.

  1. Menjadi sedekah jariyah untuk terakhir kalinya.

Ini fungsi tambahan asuransi jiwa yang jarang dikemukakan para perencana keuangan. Jika fungsi pertama sudah lewat (anak sudah mandiri), fungsi kedua sudah berlalu (utang sudah lunas), dan begitu pula fungsi ketiga dan keempat (anak-anak sudah sangat kaya sehingga tidak butuh warisan apa pun dari orangtuanya dan tak masalah dengan final expenses), maka UP jiwa bisa saja disedekahkan kepada orang miskin, masjid, lembaga amal, atau kegiatan sosial. Ini akan menjadi amal ibadah terakhir bagi yang bersangkutan, mengurangi catatan dosa-dosanya, dan menerangi perjalanannya di alam keabadian.

 

Dengan memiliki asuransi jiwa Syariah di Allianz, Bapak Bijak sudah melakukan perencanaan keuangan dengan tepat.  Dengan cara mudah, yaitu menyisihkan sedikit penghasilannya untuk bersama peserta asuransi jiwa Syariah lainnya di Allianz, semua peserta saling tolong-menolong untuk membantu sesama peserta yang mengalami musibah. Berpahala dan mendapat keberkahan adalah tujuan akhirnya.

 

 

Bagaimana dengan Anda, mana yang Anda siapkan untuk diberikan kepada keluarga tercinta kelak:

Meninggalkan cicilan (rumah, kendaraan, dll) atau meninggalkan warisan ?

 

 

 

 

 

 

 

 

Konsultasi asuransi GRATIS, hubungi:

Estri Heni   |  WA: 0817 028 4743

Iklan

Tujuan Jangka Panjang Polis Unitlink Untuk Manfaat Maksimal

 

 

Silahkan klik Artikel terkait berikut ini:

Asuransi = jangka pendek, investasi = jangka penjang

Punya asuransi unitlink, pilih proteksi atau investasi?

Ini pemahaman yang benar tentang asuransi pendidikan anak

Bagaimana komposisi asuransi yang ideal untuk 1 keluarga?

Dana Terbatas, asuransi apa yang harus diambil lebih dulu?

Salahkah berinvestasi di Asuransi?

 

life-insurance-protection-investment-MarketExpress-inMembeli produk asuransi mestinya diniatkan untuk tujuan memperoleh proteksi atau perlindungan dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Bahkan walaupun produk asuransi yang diambil itu jenisnya unit-link (asuransi jiwa yang dikaitkan dengan investasi), niat utamanya tetap proteksi, bukan investasi.

Salahkah jika unit-link diniatkan untuk investasi? Ini bukan soal benar-salah, tapi jika tujuannya untuk investasi, ada banyak instrumen lain yang bisa memberikan keuntungan lebih besar dengan biaya yang lebih murah. Misalnya obligasi, reksadana, dan saham. Jika tidak mengerti tentang obligasi, reksadana, dan saham, atau tidak punya waktu untuk mempelajarinya, anda bisa berinvestasi di instrumen tradisional yang lebih sederhana dan mudah dipahami, seperti deposito, emas, dan properti.

Perlu diketahui juga, investasi unit-link pun sebetulnya sama persis dengan reksadana. Reksadana adalah kumpulan dana masyarakat yang dikelola oleh manajer investasi, dan disalurkan ke instrumen investasi seperti deposito, obligasi, dan saham, atau campuran dari ketiganya (tergantung jenis reksadananya). Investasi reksadana mengandung risiko, dan investasi unit-link pun sama. Bedanya, struktur biaya pada reksadana jauh lebih rendah daripada struktur biaya pada unit-link, sehingga imbal hasil yang diharapkan pun bisa lebih tinggi.

Perbedaan Asuransi dengan Investasi

Asuransi bukan saja berbeda dengan investasi, tapi keduanya memang memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang. Jika disatukan, maka memperbesar yang satu akan memperkecil yang lainnya. Contoh dalam produk unit-link, jika uang pertanggungannya diperbesar, biaya asuransi (tabarru) akan lebih besar pula sehingga nilai investasinya otomatis menjadi lebih kecil. Sebaliknya, jika seorang nasabah ingin nilai investasinya lebih besar, uang pertanggungan asuransinya harus diperkecil.

Secara ringkas, perbedaan asuransi dan investasi adalah sebagai berikut.

  1. Asuransi tujuannya melindungi uang supaya tidak habis, investasi tujuannya mengembangkan uang supaya tambah banyak.

Misalnya anda punya tabungan 100 juta, dengan asuransi kesehatan, uang 100 juta itu tidak perlu terpakai jika anda mengalami sakit atau kecelakaan. Sedangkan investasi, misalnya anda punya tabungan 100 juta, anda berpikir harus disalurkan ke mana uang itu supaya dalam 5 tahun menjadi 200 juta.

  1. Asuransi itu jaga-jaga dari hal-hal tidak diinginkan yang bisa terjadi kapan saja, investasi itu persiapan untuk hal-hal yang diinginkan di masa depan.

Hal-hal tidak diinginkan yang bisa terjadi kapan saja misalnya rawat inap, sakit kritis, kecelakaan, cacat tetap, dan meninggal dunia. Kapan saja itu mungkin tahun depan, mungkin bulan depan, atau bahkan mungkin esok hari, kita tak pernah tahu. Datangnya kejadian-kejadian tersebut tidak memandang apakah kita sudah punya uang atau tidak. Untuk itulah kita butuh asuransi supaya dampak keuangannya bisa ditanggulangi atau diminimalkan.

Sedangkan hal-hal yang diinginkan di masa depan itu contohnya pendidikan anak, ibadah haji, dan pensiun. Semua itu sama-sama butuh dana, tapi waktunya bisa diketahui atau direncanakan sehingga setiap orang bisa mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari. Cara mempersiapkannya ialah dengan investasi (jika jangka waktunya relatif panjang) atau menabung (jika jangka waktunya pendek, kurang dari satu tahun).

  1. Asuransi itu jangka pendek, investasi itu jangka panjang.

Asuransi itu jangka pendek karena nilai dari manfaat asuransi akan semakin mengecil seiring waktu. Misalnya anda punya uang pertanggungan jiwa 1 miliar, saat ini nilainya mungkin terasa besar, tapi semakin lama nilainya semakin mengecil karena faktor inflasi. Oleh karena itu, setiap periode tertentu, misalnya setiap 5 tahun, uang pertanggungan asuransi harus ditingkatkan (upgrade).

Sedangkan investasi itu jangka panjang karena keuntungan investasi akan semakin membesar seiring waktu. Semakin panjang masa investasi, keuntungan yang dihasilkannya akan semakin besar.

Baca juga: Asuransi Jangka

Pendek, Investasi Jangka Panjang.

  1. Asuransi itu tidak butuh waktu untuk menjadi besar, investasi itu butuh waktu untuk menjadi besar.

Ini perbedaan lain yang harus disadari. Banyak orang menolak asuransi karena mendingan uangnya ditabung atau diinvestasikan saja. Padahal jika musibah datang dalam waktu dekat, tentu tabungannya belum banyak dan yang belum banyak itu bisa habis semuanya dalam sekejap. Dengan asuransi, dalam waktu singkat telah tersedia sejumlah besar dana untuk menanggulangi dampak dari musibah yang bisa terjadi kapan saja, karena asuransi itu memakai prinsip berbagi risiko di antara sejumlah orang.

  1. Asuransi itu kekuatan bersama, investasi itu kekuatan sendiri.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang datangnya tidak terduga, mana yang lebih efektif: melakukannya sendirian atau melakukannya bersama-sama?

Asuransi, baik konvensional maupun syariah, bisa mengumpulkan dana besar secara cepat karena ada banyak orang yang terlibat di dalamnya sebagai peserta. Setiap peserta merelakan uangnya dipakai untuk membayar klaim peserta lain, dan tidak keberatan jika dirinya sendiri tidak memperoleh uang klaim (artinya tidak terjadi musibah).

Sedangkan investasi adalah murni uang sendiri berikut pengembangannya. Nilai investasi pada produk unit-link adalah milik tiap-tiap peserta, tidak tercampur sama sekali dengan uang dari peserta lain. Dalam asuransi yang disebut “asuransi pendidikan” pun, dana tahapan yang diterima peserta seluruhnya berasal dari uang sendiri, tidak ada sama sekali uang dari peserta lain.

  1. Asuransi itu biaya dan biaya itu hangus, investasi itu cara mengembangkan dana agar tumbuh lebih besar.

Dalam perencanaan keuangan, asuransi itu bagian dari biaya seperti halnya pengeluaran untuk listrik dan telepon. Yang namanya biaya, tentu hangus alias tidak kembali. Dan sebagai gantinya, kita memperoleh proteksi. Entah musibah terjadi atau tidak, kita tetap memperoleh proteksi. Proteksi tidak bisa dilihat atau diraba secara fisik, tapi bisa dirasakan dalam bentuk ketenangan.

Sedangkan investasi bukanlah biaya, melainkan cara kita mengembangkan uang sehingga menjadi lebih besar dari sebelumnya. Dalam investasi ada biayanya, tapi sebisa mungkin carilah instrumen investasi yang paling minim biayanya, supaya hasilnya makin maksimal.

Perbedaan Biaya Unit-link dengan Reksadana

Membicarakan asuransi dalam kaitan dengan investasi, mau tak mau membawa kita pada perbincangan tentang unit-link. Seperti telah disinggung di atas, unit-link sebaiknya tetap diniatkan untuk proteksi. Sedangkan untuk investasi, lebih disarankan melalui reksadana karena struktur biayanya lebih kecil.

Perbedaan struktur biaya pada unit-link dan reksadana dapat dilihat pada tabel di bawah:

No Komponen Biaya Unit-link Reksadana
1 Biaya administrasi bulanan Ada, kisaran 20-40 ribu per bulan Tidak ada
2 Biaya akuisisi Ada dan sangat besar Tidak ada
3 Biaya asuransi (tabarru) Ada dan sangat besar Tidak ada
4 Biaya top up (penyetoran, pembelian) Ada, antara 2-5% Ada, antara 0-3%
5 Biaya penarikan dana Umumnya tidak ada Ada, sekitar 1%
6 Biaya pengelolaan investasi Ada, sekitar 1-2% per tahun Ada, sekitar 1-2% per tahun
7 Biaya bank kustodian Tidak ada Ada, sekitar 0,2-0,25% per tahun
8 Biaya pengalihan dana (switching) Umumnya tidak ada, atau baru ada jika lebih dari 4 kali swicthing dalam setahun, dengan besar sekitar 1%. Ada, antara 0-1%
9 Biaya pajak pertambahan nilai Ada, 20% dari keuntungan, hanya dikenakan di 3 tahun pertama. Jarang terjadi karena unit-link premi berkala tidak akan untung di 3 tahun pertama. Ada, 20% dari keuntungan, hanya dikenakan di 3 tahun pertama

Penjelasan:

  • Biaya akuisisi adalah potongan yang dikenakan dari premi dasar unit-link (tidak termasuk top up berkala), besarnya variatif, ada yang total 145% selama 5 tahun (seperti di unit-link Allianz), ada yang lebih dari 200%. Biaya akuisisi digunakan sebagian besar untuk komisi dan bonus agen, selebihnya untuk membiayai penerbitan polis, medical check up, dan urusan surat-menyurat. Karena ada biaya akuisisi inilah nilai investasi unit-link akan sangat rendah di tahun-tahun awal.
  • Biaya asuransi (cost of insurance [COI] atau tabarru dalam asuransi syariah) adalah biaya yang dikenakan untuk tiap manfaat asuransi yang diambil. Besarnya tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, jenis proteksi yang diambil, dan besar uang pertanggungannya. Biaya asuransi dikenakan selama masa proteksi (misalnya untuk asuransi jiwa dasar berarti sd usia tertanggung 100 tahun atau sampai meninggal dunia, mana yang lebih dulu). Adanya biaya asuransi ini menjadikan investasi unit-link sulit diharapkan keuntungannya, karena biaya asuransi atau tabarru ini naik seiring usia.
  • Biaya administrasi, akuisisi, dan asuransi tidak terdapat pada reksadana, oleh karena itu ketiga biaya ini harus dipandang sebagai biaya-biaya untuk mendapatkan manfaat proteksi. Jika tujuan anda membeli unit-link adalah untuk berasuransi, tinggal dilihat apakah biaya-biaya tersebut cukup layak (worth it) dibandingkan dengan manfaat asuransi yang diterima. Tapi jika tujuan anda membeli unit-link lebih ke keuntungan investasi, adanya biaya-biaya ini jelas akan menggerus saldo investasi anda.
  • Biaya nomor 4 sd 9 (top up/pembelian, penarikan, pengelolaan investasi, bank kustodian, pengalihan dana/switching, dan pajak) adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan investasi. Jika hanya membandingkan biaya-biaya ini, sebetulnya biaya antara unit-link dan reksadana tidak terpaut jauh, tapi secara keseluruhan biaya reksadana masih lebih rendah. Jadi, jika anda ingin mendapatkan keuntungan investasi, reksadana lebih disarankan daripada unit-link.
  • Lalu apa fungsi nilai investasi pada unit-link jika memang tidak disarankan untuk mencari keuntungan investasi? Fungsi utamanya adalah untuk melindungi polis unit-link anda supaya proteksinya tetap berlaku. Apa maksudnya? Perlu diketahui, aturan dasar dalam unit-link adalah: proteksi polis tetap berlaku selama tersedia dana cukup untuk membayar biaya asuransi dan administrasi. Keterangan ini selalu dinyatakan dalam setiap proposal unit-link, meski banyak nasabah yang tidak menyadarinya. Jika dana tidak cukup untuk membayar biaya asuransi dan administrasi, maka polis lapse (batal, perlindungan berhenti). Solusinya sebelum itu terjadi, nasabah harus melakukan top up secara manual (menyetor sejumlah dana ke rekening unit-linknya).
  • Nilai investasi pada unit-link juga memiliki fungsi lain yang terkait dengan fungsi utama di atas, yaitu memungkinkan nasabah mengambil cuti premi. Cuti premi artinya berhenti menyetor premi, bisa untuk sementara atau selamanya, dan pada saat yang sama nasabah tetap memperoleh perlindungan asuransi karena biaya asuransi dan administrasi dipotong setiap bulan dari saldo. Fitur cuti premi ini adalah khas pada unit-link, tidak terdapat pada produk asuransi jenis lain.

Mengapa Tidak Asuransi Murni?

Jika asuransi unit-link sebaiknya tetap diniatkan untuk proteksi, mengapa tidak berasuransi di produk asuransi yang murni proteksi saja?

Tentu saja boleh dan baik-baik saja. Tapi masalahnya tidak semua proteksi yang dibutuhkan itu tersedia di pasaran dalam bentuk asuransi murni. Mayoritas perusahaan asuransi sekarang ini berlomba-lomba menerbitkan unit-link. Mereka mungkin punya produk asuransi tradisional yang murni asuransi (term-life), tapi tidak dikembangkan lagi.

Untuk asuransi kesehatan yang menanggung rawat inap, pilihannya banyak baik yang murni maupun unit-link, silakan mau pilih yang mana. Untuk asuransi jiwa yang menanggung risiko meninggal dunia, pilihannya juga banyak baik yang murni maupun unit-link, silakan mau pilih yang mana. Tapi untuk asuransi kecelakaan, cacat tetap, dan penyakit kritis, pada umumnya hanya tersedia sebagai rider di asuransi jiwa dan umumnya di unit-link, jarang yang berdiri sendiri.

Jadi, jika anda ingin mendapatkan proteksi dari kecelakaan, cacat tetap, dan penyakit kritis (dan semua orang butuh ini), pilihannya terbatas pada unit-link. Kalaupun ada di asuransi non-unit-link, ya itu tadi, karena tidak dikembangkan lagi oleh perusahaan asuransi, fitur-fiturnya tidak sebagus yang tersedia di unit-link.

Sebagai contoh, untuk asuransi penyakit kritis yang menanggung mulai tahap awal (early stage), sejauh ini di pasaran hanya tersedia sebagai rider di asuransi jiwa unit-link. Anda akan kesulitan sendiri jika mencari asuransi penyakit kritis tahap awal dalam bentuk asuransi murni non-unit-link. Kalaupun anda menemukan produk tersebut, belum tentu fitur-fiturnya lebih bagus daripada rider penyakit kritis yang ada di unit-link, dan belum tentu pula harganya lebih murah.

Selain itu, unit-link memiliki nilai lebih berupa kepraktisan yaitu cukup satu produk untuk segala manfaat asuransi. Daripada membeli asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi cacat tetap, dan asuransi penyakit kritis secara terpisah-pisah, bukankah lebih praktis jika semuanya disatukan dalam satu produk?

 

Artikel terkait:

Premi 600 ribu, dapat UP 2,5 Miliar

Premi 1 juta-an, dapat UP 4 Miliar

C100 = 100 jenis sakit kritis, sejak tahap awal, cover sampai usia 100 tahun

Asuransi untuk Proteksi