Lagi-lagi Tentang Asuransi Pendidikan Anak…

children_460

Warisan terbaik bagi Anak adalah pendidikan.  Warisan berbentuk harta seperti uang, property, bisa habis dengan mudah dan cepat.  Apalagi jika si Anak kurang memahami cara meng”aman”kannya.  Dengan memberikan pendidikan terbaik, maka Anak akan dapat berkarya sesuai keahliannya, sehingga bisa menghasilkan uang ataupun harta sesuai dengan impiannya.  Hal inilah yang menginspirasi orangtua untuk mempunyai kepastian dalam siapkan dana pendidikan untuk Anak.

Semua hal yang berbau “pendidikan” pasti sangat diminati.  Biasanya “bau” tersebut berlabel  Tabungan Pendidikan, atau Asuransi Pendidikan.  Kalau Tabungan Pendidikan, biasanya orangtua akan menghubungi mbak-mbak cantik di Bank.   Karena saya adalah agen asuransi, maka pembaca yang menghubungi saya, pastinya akan menanyakan tentang asuransi pendidikan.  Uraian di bawah ini, bolehlah sekali-kali saya bahas sedikit di luar produk asuransi sebagai awalan ceritanya ya…

 

Siapkan dana Pendidikan anak

Sebenarnya saya juga masih belajar.  Saya mengacu pada saran beberapa Perencana Keuangan Top di Indonesia, bagaimana pengelolaan dananya, bagaimana cara meng”aman”kan dana yang saya punya, dan produk apa yang tepat.  Saya bagi dengan Anda infonya di blog saya ini ya.

Idealnya, siapkan dana pendidikan adalah sejak anak usia 0 tahun , dan memang harus rinci.

Dimulai dari:

Pertama,  Sekolah mana yang kelak menjadi tujuan saat SD,SMP,SMA, sampai Universitas.  Lalu survey juga berapa biaya yang dibutuhkan untuk masuk sekolah tersebut PADA SAAT INI.  Agar memudahkan untuk dikonversikan menjadi biaya di masa datang.

Kedua,  Menghitung biaya pendidikan menggunakan kalkulator klik DISINI.

Ketiga,  Menentukan dan memilih produk apa yang bisa memenuhi target dana pendidikan yang kita butuhkan. Hal ini bisa dilakukan setelah orangtua mengetahui ilustrasi besaran dananya.

Pada produk berlabel “Asuransi Pendidikan”, dana yang dikeluarkan untuk tahapan masuk sekolah bukanlah dana asuransi, tapi dana investasi atau tabungannya. Investasi dan asuransi itu dua hal yang berbeda, bahkan bertolak belakang.

Perlu diketahui perbedaan prinsipil antara asuransi dan investasi:

Kejadian yang memerlukan asuransi adalah risiko yang sifatnya tidak diinginkan dan tidak diketahui kapan waktunya. Contoh: sakit, cacat, meninggal dunia. Sedangkan pendidikan itu kejadiannya diinginkan dan waktunya pun bisa diketahui.

Asuransi menyediakan dana besar dalam waktu singkat, dan ini cocok untuk mengantisipasi risiko tidak pasti yang bisa datang kapan saja. Sedangkan dana investasi butuh waktu untuk bisa menjadi besar, dan ini cocok untuk mengantisipasi kebutuhan yang direncanakan di masa depan (contohnya pendidikan anak).

 Tabungan, asuransi, reksa dana adalah alat/sarana. Harus cari tau kebutuhan kita berapa. Harus tahu tujuan financial untuk apa?   Produk harus melayani tujuan.  Bila bicara tujuan, harus ada angka.  Sebab, orangtua  selalu mendadak “mellow” kalau sudah bertemu dengan produk yang ada kata “pendidikan”.

 

Kalau mau pilih investasi ketimbang menabung, orang tua harus melek investasi dulu.  Jangan sampai masukin modal tapi tidak ngerti apa-apa.  Hanya tau adanya iming-iming: modal sekian juta, beberapa bulan ke depan akan menjadi belasan juta.  Semua orang pasti maunya:  terbentuk dana jumlah besar dengan modal kecil.  Saya pun maunya begitu 😀   Pelajari betul-betul produk yang “sangat menggiurkan” tersebut.  Investasi saham, return nya besar dan sangat menggiurkan.  Hanya saja, kita harus betul-betul mengerti produk, dan memahami caranya.  Tidak sedikit orang yang akhirnya menyerah “main saham”, karena hanya menginginkan “high return”-nya, tapi lupa bahwa saham juga bersifat “high risk”.

Jika orang tua lebih memilih investasi Rp 500 ribu per bulan, perlu menggunakan portofolio investasi berupa reksadana yang mampu memberikan return hingga 20%, selain deposito, ORI dan lainnya. Bahkan kalangan menengah bawah pun dapat memulai investasi dalam bentuk sederhana, seperti emas.

Siapkan dana pendidikan anak melalui investasi, akan memberikan hasil yang lebih maksimal, dibandingkan melalui asuransi.  Saya luruskan lagi ya, bahwa fungsi utama asuransi adalah PROTEKSI, bukan investasi.

Loh, kan ada produk unitlink, yang katanya proteksi sekaligus investasi..?  Benar, produk unitlink memang proteksi sekaligus investasi.  Hanya saja, fungsi investasi pada produk unitlink bukanlah tujuan utamanya.   Investasi pada produk unitlink fungsinya adalah:  membayar biaya asuransi, membuat premi menjadi flat, memperpendek masa bayar premi, dan mengembangkan dana.  Detilnya DISINI.

Lalu, apa yang salah dengan Asuransi Pendidikan?  Tidak ada.  Hanya saja, jika dana Anda terbatas, menyiapkan dana pendidikan anak melalui Asuransi Pendidikan tidak akan maksimal hasilnya.  Bisa jadi, ujung-ujungnya Anda akan protes sama saya, karena nilai tunai yang terbentuk tidak sesuai harapan Anda.

Jadi jika Anda ingin menyiapkan dana pendidikan Anak melalui asuransi, itu sama halnya dengan tujuan utama Anda adalah berinvestasi di asuransi unitlink dengan maksud ‘mendapatkan pengembangan dana senilai tertentu di tahun tertentu’, mohon maaf Anda akan kecewa.  Kenapa?

  1. Premi yang Anda harus bayarkan akan menjadi sangat besar
  2. Jangan lupa bahwa pada produk unitlink, masih ada banyak potongan biaya akuisisi di tahun 1-5.  Premi Anda baru akan 100% diletakkan pada investasi adalah di tahun ke-6.
  3. Sehingga wajar, jika dalam tahun 1-5, dana Anda belum berkembang sesuai harapan.
  4. Jelas Anda akan kecewa, karena merasa “sudah bayar premi 500 ribu selama 3 tahun, kok nilai investasinya kecil banget sih?  Mendingan tabung di bank, sudah jelas dapetnya sekian”  Hayoooo… pasti banyak kan pembaca yang merasa demikian???
  5. Bagi pembaca yang mengalami kejadian poin 4, saya ajak Anda untuk mendalami kembali karakteristik produk unitlink ya.  Penjelasan utamanya seperti pada poin 2.
  6. Bagi pembaca yang sudah memahami fitur produk unitlink, tentu tidak masalah.  Apalagi jika sudah punya produk asuransi jiwa unitlink Syariah “Allisya Protection Plus”, yang pastinya akan memaksimalkan fitur Proteksinya.

 

Perhatikan contoh berikut ya:

Usia anak 0 tahun.  Biaya masuk kuliah suatu Universitas tahun 2017 sebesar 100 juta.  Dengan asumsi inflasi pendidikan 15%, maka kelak 17 tahun kemudian, biaya tersebut menjadi 1.076.100.000.

Bagaimana cara mencapainya?  Bila menggunakan instrumen investasi dengan asumsi return 5%, maka butuh dana yang disisihkan = 3.7 juta perbulan.  Bila menggunakan instrumen investasi dengan asumsi return 10%, maka butuh dana yang disisihkan = 2.3 juta perbulan.  Bila menggunakan instrumen investasi dengan asumsi return 15%, maka butuh dana yang disisihkan = 1.4 juta perbulan.

Untuk sampai ke investasi itu, pilihannya cuma ada dua:

  1. menabung Rp 1.4 juta per bulan tanpa putus selama 17 tahun, atau
  2. investasi Rp 500 ribu setiap bulan untuk jenjang S1.

Jadi kalau tidak punya Rp 1.4 juta, ternyata Rp 500 ribu sudah bisa memenuhi rencana tersebut.

 

Instrumen yang berlabel “Asuransi Pendidikan”, umumnya bertujuan: mendapatkan pengembangan dana senilai tertentu di tahun tertentu.  Hal ini tidak tepat digunakan sebagai alat untuk mencapainya.

Perhatikan contoh berikut:  “Asuransi Pendidikan”:

PREMI = 1.4 juta perbulan, masa bayar = 18th, Ayah 30th, Anak 0th.  Apa saja yang didapat?

hal1-premi1-4jt-cuti-th18

Keterangan dari gambar di atas:

  • Premi = 1.4 juta perbulan, Masa bayar = 18th, Tertanggung = Anak, Pembayar premi = Ayah
  • Asuransi dasar (warisan jika ANAK yang meninggal) = 120juta
  • Payor = gratis premi, dan dibayarkan preminya oleh Allianz sampai usia ayah seolah-olah 65th, JIKA Ayah mengalami musibah sakit kritis/cacat tetap total/meninggal

 

hslinvestpremi1-4jt-perbulan-cuti-th18

Catatan
– Nilai Investasi adalah nilai jual Unit berdasarkan Harga Beli Unit yang akan datang.
– Nilai setiap Unit akan berbeda dari waktu ke waktu tergantung pada kinerja investasi Allianz dan tidak terlepas dari resiko investasi  berdasarkan jenis investasi yang dipilih oleh Pemohon.
– Illustrasi nilai setiap Unit tergantung kepada Tabarru, Biaya Administrasi sebesar Rp. 26,500 per bulan dan Biaya
Pengelolaan Investasi yang berlaku saat ini.
– Jika ada tanda “***” artinya Nilai Investasi Anda sudah tidak mencukupi dan Polis anda akan berakhir.
– Membeli Polis Asuransi Jiwa adalah komitmen jangka panjang. Apabila Polis dihentikan pada tahun-tahun awal dapat menyebabkan  kerugian bagi Nasabah.
– Nilai Investasi pada tabel diatas dicantumkan hingga usia 100 tahun, dan proteksi asuransi kepada Tertanggung tetap berlaku hingga  usia 100 tahun selama nilai dari Unit tersedia cukup untuk membayarkan Tabarru dan Biaya Administrasi.

 

Keterangan dari gambar di atas:

Dengan meletakkan dana premi pada equity fund, maka asumsi proyeksi nilai tunai yang terbentuk saat anak usia 18th adalah antara 900 jutaan (return 13%) sampai 1.6 Miliar (return 18%).  Jika tujuan dana saat anak usia 18th adalah = 1.076.100.000 (biaya saat anak masuk kuliah kelak 17 tahun kemudian), maka bisa saja Anda menggunakan “Asuransi” untuk mencapainya.

Masalahnya:  apakah tersedia dana yang dianggarkan sebesar 1.4 juta perbulan untuk siapkan dana pendidikan Anak?  Dana sebesar itu “hanya” untuk siapkan pendidikan anak, loh.  Belum lagi ada anggaran lainnya yang menjadi kewajiban Anda, seperti: anggaran rutin bulanan Anda untuk biaya hidup bulanan, cicilan, tagihan, liburan…

Ingat, komposisi di atas untuk anak 0 tahun, preminya = 1.4 juta perbulan.

 

Baiklah…

Selanjutnya misalkan dana yang tersedia untuk siapkan dana pendidikan anak adalah PREMI = 500 ribu perbulan, dimasukkan ke dalam “Asuransi Pendidikan”.  Maka hasilnya sbb:

hal1-premi500-cuti-th18

Keterangan dari gambar di atas:

  • Premi = 500 ribu perbulan, Masa bayar = 18th, Tertanggung = Anak, Pembayar premi = Ayah
  • Asuransi dasar (warisan jika ANAK yang meninggal) = 60juta
  • Payor = gratis premi, dan dibayarkan preminya oleh Allianz sampai usia ayah seolah-olah 65th, JIKA Ayah mengalami musibah sakit kritis/cacat tetap total/meninggal

 

hslinvestpremi500rb-perbulan-cuti-th18

Catatan
– Nilai Investasi adalah nilai jual Unit berdasarkan Harga Beli Unit yang akan datang.
– Nilai setiap Unit akan berbeda dari waktu ke waktu tergantung pada kinerja investasi Allianz dan tidak terlepas dari resiko investasi  berdasarkan jenis investasi yang dipilih oleh Pemohon.
– Illustrasi nilai setiap Unit tergantung kepada Tabarru, Biaya Administrasi sebesar Rp. 26,500 per bulan dan Biaya
Pengelolaan Investasi yang berlaku saat ini.
– Jika ada tanda “***” artinya Nilai Investasi Anda sudah tidak mencukupi dan Polis anda akan berakhir.
– Membeli Polis Asuransi Jiwa adalah komitmen jangka panjang. Apabila Polis dihentikan pada tahun-tahun awal dapat menyebabkan  kerugian bagi Nasabah.
– Nilai Investasi pada tabel diatas dicantumkan hingga usia 100 tahun, dan proteksi asuransi kepada Tertanggung tetap berlaku hingga  usia 100 tahun selama nilai dari Unit tersedia cukup untuk membayarkan Tabarru dan Biaya Administrasi.

 

Keterangan dari gambar di atas:

Dengan meletakkan dana premi pada equity fund, maka asumsi proyeksi nilai tunai yang terbentuk saat anak usia 18th adalah antara 300 jutaan (return 13%) sampai 500 jutaan (return 18%).  Jika tujuan dana saat anak usia 18th adalah = 1.076.100.000 (biaya saat anak masuk kuliah kelak 17 tahun kemudian), maka tentu saja Anda TIDAK BISA menggunakan “Asuransi” untuk mencapainya.

 

Pada 2 contoh tersebut, tujuan utama berasuransi adalah mendapatkan dana sejumlah tertentu, pada tahun  tertentu.

Pertanyaan:  Selama bertahun-tahun Anda berupaya menempatkan dana di “Asuransi Pendidikan” tersebut:

Apakah Anda yakin upaya tersebut akan mulus tanpa halangan?  Apakah Anda yakin tidak akan ada musibah (sakit kritis/cacat/meninggal) yang mungkin terjadi?  Apakah Anda yakin, bila musibah itu datang pada diri Anda sebagai penabung, finansial Anda tidak akan terganggu?  Apakah Anda yakin, bahwa Anda tabungan Anda yang lain + asset yang dimiliki, akan cukup untuk mengatasi masalah finansial yang timbul?  Jangan-jangan, dana pendidikan yang Anda siapkan ini malah Anda “bongkar” untuk dipakai menggantikan penghasilan Anda yang hilang?  Kalau sudah begitu, bisa batal dong, rencana siapkan dana Pendidikan Anak?  Impian anak untuk sekolah sampai jenjang yang tinggi terpaksa harus dikubur…

Coba Anda cermati lagi komposisi Asuransi Pendidikan di atas, apa manfaat proteksi yang didapat?  Memang ada, tapi cek lagi apakah sesuai nominalnya untuk menggantikan penghasilan Anda yang hilang jika terjadi musibah?

Mari luruskan kembali pemahaman yang benar dalam ber-asuransi pendidikan…  Siapkan dananya melalui investasi, asuransi itu untuk proteksi penghasilan Anda.

Disitulah bedanya asuransi VS investasi.  Saya tidak ingin asal produk asuransi saya terjual.  Biasanya saya akan tetap memberikan saran profesional agar Anda puas dalam mengelola rencana keuangan Anda sesuai tujuan.

Itulah sebabnya, meski saya adalah agen asuransi, ketika banyak permintaan ilustrasi Asuransi Pendidikan yang masuk ke email, atau ke nomor kontak saya, maka saya tetap akan memberikan saran profesional:

Dana pendidikan disiapkan melalui investasi, bukan via asuransi. Tujuan dana yang ingin disiapkan saat jenjang pendidikan tertentu akan lebih mudah tercapai via investasi.

Syarat penting berinvestasi:  pilih perusahaan yang bonafit, kenali produknya, pilih produk yang sesuai dengan profil Anda, tentukan produk yang sesuai dengan tujuan keuangan Anda, pelajari portofolio/kinerja produknya, sesuaikan dananya.

Hubungi Manajer Investasi atau agen penjual produk investasi saat Anda ingin berinvestasi.

Hubungi Estri Heni (email: ProteksiKita@gmail.com), atau ke nomor kontak saya (WA: 0817 028 4743) sekarang juga untuk buka polis Asuransi Jiwa Syariah (premi 355 ribu UP 1 Miliar), atau Asuransi Kesehatan Syariah.  Musibah datang tanpa pemberitahuan, maka miliki polis asuransi saat musibah belum terjadi dan saat Anda merasa belum butuh asuransi.  Karena jika Anda merasa butuh asuransi, mungkin Asuransi sudah tidak bisa menerima pengajuan Anda…

Salam.

 

 

Artikel terkait:

Pendidikan Anak:  Kembangkan dananya melalui investasi, dampingi dengan asuransi sebagai proteksi

 

 

 

 

 

 

 

Ini Pemahaman Yang Benar Tentang Asuransi Pendidikan

 

Dari survey kecil-kecilan yang saya buat saat membuat iklan di facebook tentang “Asuransi Pendidikan”,  “Asuransi Jiwa” dan “Asuransi Kesehatan”, ternyata Asuransi Pendidikan menempati pilihan pertama para orangtua saat mengalokasikan dana untuk asuransi, ketimbang pilih asuransi Jiwa untuk orangtua.  Permohonan ilustrasi yang masuk ke email saya juga banyak yang meminta informasi mengenai Asuransi Pendidikan.  Hal ini membuat saya ingin menulis artikel tentang hal tersebut.

 

IMG_20160510_094409

 

Asuransi Pendidikan merupakan hal yang sangat diminati orang tua, karena orang tua tentu sangat menyayangi anaknya.  Orangtua menginginkan anak dapat menuntut ilmu setinggi-tingginya dan dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk Asuransi Pendidikan.  Asuransi Pendidikan diharapkan dapat menjadi alat bagi orang tua untuk mendampingi kebutuhan finansial terhadap pendidikan anak.  Orangtua juga membutuhkan rasa aman saat siapkan dana pendidikan anak sejak SD-kuliah.  Dengan kata lain:  urusan biaya sekolah sejak SD-kuliah BERES dengan asuransi pendidikan.

Namun, benarkah demikian?

Mari kita cermati bersama:

Kira-kira seorang anak bisa sekolah sampai jenjang yang tinggi, itu disebabkan oleh karena adanya asuransi pendidikan ATAU karena orang tuanya masih mampu bekerja?

Tentunya karena orang tuanya masih mampu bekerja, bukan?  Orang tua bekerja –> ada penghasilan –> bisa siapkan dana pendidikan anak.

Artinya:  kemampuan orang tua bekerja adalah JAMINAN bagi suksesnya pendidikan si anak.  Kemampuan orangtua dalam bekerja menjadi “asuransi pendidikan” bagi si anak.

Lalu bagaimana dengan asuransi pendidikan?? Apa yang salah dengan asuransi pendidikan??

Tidak ada yang salah dengan asuransi pendidikan.  Semua asuransi adalah baik adanya.  Hanya saja pemahamannya yang belum tepat.  Frase “Pendidikan” pada istilah “Asuransi Pendidikan” sangat menyentuh emosional.  Manusia bertindak berdasarkan emosional.  Sehingga bila mendengar ada sesuatu yang namanya “Asuransi Pendidikan”, maka hal itu sangat menarik minat, utamanya bagi ibu-ibu (seperti saya, dulu… hehe).

Lalu bagaimana konsep Asuransi Pendidikan yang tepat?

Bila Anda setuju bahwa:  kemampuan orang tua bekerja adalah JAMINAN bagi suksesnya pendidikan anak, maka tentu Anda juga setuju bahwa itu berarti yang sebaiknya diasuransikan terlebih dulu adalah orang tuanya (si pencari nafkah).  Memang, idealnya bila kita punya dana cukup besar, maka semua anggota keluarga diasuransikan.

Ibaratnya:  bila punya payung, sebaiknya semua anggota keluarga punya payung.  Karena kita tidak tau, siapa yang akan mengalami hujan.  Apakah ayah, ibu, atau anak yang akan mengalami hujan.  Bila semua anggota keluarga punya payung, bila hujan turun di suatu tempat tertentu, maka orang tersebut tidak akan kebasahan oleh hujan.  Ingat: punya payung bukan berarti hujan tidak akan turun, tetapi melindungi si pemilik payung agar tidak kebasahan saat hujan turun.

Bagaimana bila dananya terbatas??  Siapa yang harus diasuransikan terlebih dulu??  Bila keadaannya demikian, jauh lebih bijak jika orangtua (pencari nafkah) yang lebih dulu diasuransikan.

Baca juga:    Dana Terbatas, asuransi apa yang diambil lebih dulu?

Masih merasa lebih sreg bila anak punya asuransi pendidikan?  Masih lebih mengutamakan asuransi pendidikan anak daripada asuransi untuk pencari nafkah?

Mari kita cermati perbedaannya, bila yang diasuransikan lebih dulu adalah anak atau orangtua:

Skenario 1.

Anak PUNYA asuransi pendidikan, namun orang tua tidak punya asuransi jiwa.  Orang tua mengalami musibah, sehingga tidak mampu bekerja.  Tidak mampu bekerja artinya penghasilan terputus (tidak ada penghasilan).  Apa yang akan dilakukan?

Tindakan yang dilakukan umumnya adalah:  aset dijual, investasi dicairkan, tabungan diambil.

Masalah:  apakah Anda yakin, dana yang disiapkan semula untuk tujuan pendidikan anak akan tetap “aman” alias tidak akan diambil juga?

Untuk atasi musibah si orang tua (misal sakit kritis butuh biaya miliaran, atau kondisi cacat total sehingga kemampuan bekerja tidak maksimal lagi), seseorang akan dihadapkan pada kondisi:  bagaimana caranya agar orangtua sembuh.  Salah satu caranya adalah mengambil dana (yang semula ditujukan untuk) tabungan pendidikan anak, bukan? Lalu bagaimana nasib pendidikan anak tersebut?  Apakah anak akan bisa tenang menyelesaikan pendidikannya sampai jenjang tinggi?

Memang benar, pada skema asuransi pendidikan, ada istilah payor / autosaving.  Yang artinya:  bila orangtua kena musibah, maka tidak perlu bayar premi lagi dan premi akan diteruskan (diteruskan tabungannya) oleh asuransi.

Contoh: premi asuransi pendidikan anak 500rb/bulan.  Dengan adanya autosaving 500rb/bulan, apakah 500rb/bulan itu cukup untuk biaya pendidikan anak dan untuk biaya hidup anak?  Itu baru hitung-hitungan untuk si anak saja, loh.  Belum dihitung biaya hidup orangtua, cicilan, dll yang tentunya tidak dicover oleh asuransi pendidikan anak.

Baca jugaYang punya Asuransi Pendidikan Anak, wajib baca ini!

Skenario 2.

Anak tidak punya asuransi pendidikan.  Orang tua PUNYA asuransi jiwa.  Orang tua mengalami musibah, sehingga tidak mampu bekerja.  Tidak mampu bekerja artinya penghasilan terputus (tidak ada penghasilan).  Apa yang harus dilakukan?

Tindakan yang harus dilakukan:  hubungi agen asuransi atau customer service perusahaan asuransi, klaim diproses, cair DANA TUNAI jumlah BESAR (misal 500 juta atau 1 miliar).

Lalu bagaimana strategi pengelolaan dana besar tersebut?

Dana Besar tersebut dialokasikan ke beberapa instrumen investasi sehingga bisa menjadi dana pendidikan anak, biaya hidup keluarga, biaya cicilan yang belum selesai, dll.  Sehingga dari dana besar yang cair tersebut, si anak akan tetap bisa hidup layak dan menempuh pendidikan dengan tenang sampai jenjang yang tinggi.

Baca juga:

Cara Terbaik Siapkan Dana Pendidikan Anak

Itulah pentingnya melindungi si pencari nafkah terlebih dulu.  Supaya jika terjadi musibah pada pencari nafkah, anak akan tetap aman.  Aman untuk bisa hidup layak, dan aman dalam melanjutkan pendidikan.

Baca juga:

Perbandingan Komposisi Ilustrasi Asuransi Pendidikan Anak

Kesimpulan pemahaman yang benar tentang asuransi pendidikan

3 hal penting yang harus diketahui:

  1.  Seorang anak bisa sekolah sampai selesai jenjang tinggi, bukan semata-mata karena asuransi.  Melainkan karena adanya orangtua masih mampu bekerja.  Kemampuan orang tua dalam bekerja merupakan JAMINAN bagi pendidikan anak.  Mari kita cek diri kita:  apakah kita bisa sekolah tinggi karena asuransi, atau karena orang tua kita mampu bekerja?
  2. Punya asuransi ibarat kita punya payung.  Sebisa mungkin setiap anggota keluarga punya payung agar tidak basah saat hujan turun.  Karena kita tidak bisa memprediksi musibah akan datang pada siapa.  Bila dana cukup, jangan hanya mengasuransikan diri sendiri saja, tapi juga anggota keluarga lainnya.
  3. Bila dana terbatas: #skenario 1.  yang disiapkan adalah asuransi pendidikan anak.  Bila orangtua kena musibah, maka akan sama-sama jatuh.  Artinya:  orangtua kena musibah sehingga tidak berpenghasilan, anak juga tidak bisa sekolah karena dana dipakai untuk pengobatan orangtua.  #skenario 2.  yang disiapkan adalah asuransi jiwa orangtua.  Bila orangtua kena musibah, cair uang besar.  Uang besar itu bisa digunakan sebagian untuk pengobatan orangtua dan sebagian lagi dialokasikan untuk tabungan pendidikan anak.  Orangtua teratasi musibahnya karena bisa melanjutkan pengobatan.  Anak teratasi masalahnya karena bisa melanjutkan sekolah.  Jadi uang besar itu bisa dimanfaatkan sebagai JAMINAN pendidikan anak.

 

Hubungi Estri Heni

SMS/WA:  0817 028 4743

Email:  ProteksiKita@gmail.com

 

Dapatkan pemahaman yang benar tentang asuransi pendidikan.

Bila Anda sudah punya polis, hubungi Estri Heni untuk mereview polis Anda, karena 95% orang Indonesia tidak mengerti isi polis mereka, dan berujung pada kekecewaan.

 

Demikian.  Semoga bermanfaat.