Ibu Melati: Wanita, Harta dan Sengketa (Sebuah Kisah Nyata)

Contoh ini selalu saya sampaikan dalam setiap kelas “Asuransi sebagai Solusi Persoalan Waris dan Pajak” yang saya bawakan. Sebuah kisah nyata yang mungkin terjadi di sekitar anda.

Ibu Melati (katakan begitu namanya, karena kalau pakai nama Mawar banyak yang protes) adalah seorang ibu yang tangguh, wanita gigih pekerja keras. Sejak suami bu Melati diberhentikan dari pabrik tempatnya bekerja, praktis beliaulah yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Suaminya diberhentikan ketika pabrik tempatnya bekerja dililit hutang dan akhirnya tutup. Nyaris tanpa pesangon yang berarti. Coba usaha ini gagal, usaha itu gagal sementara usia makin tak memungkinkannya diterima bekerja kembali. Pabrik-pabrik lebih suka mempekerjakan anak-anak muda lulusan baru yang mau digaji murah. Akhirnya pekerjaannya hanya di rumah, mengurus peliharaan (burung dan ayam), mantengin medsos dan nonton tivi seharian.

Bu Melati memulai usahanya -sepuluh tahun lalu- ikut meringankan beban keluarga dengan berkeliling kampung menjajakan daster dan kain batik, hingga kemudian usahanya berkembang seiring makin banyaknya kantor yang membutuhkan seragam batik.

Usahanya makin maju sehingga tak hanya meringankan beban keluarga, tapi menjadi penopang utama. Barang di rumah yang dulu habis tergadai, mulai terbeli lagi dan bertambah. Perabotan, motor dan mobil.

Hingga untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Bu Melati divonis menderita kanker payudara yang tak butuh waktu lama, karena telat diketahui, didiagnosa dan diobati, enam bulan kemudian beliau meningal dunia.

Masalah muncul ketika pembagian harta waris. Keluarga almarhum bu Melati menuntut pembagian atas harta waris yang adil. Mereka menganggap bahwa suaminya -yang hanya di rumah tak ada peran apapun dalam bisnis dan hasil usaha almarhum – tidak berhak menerima 1/2 dari harta tersebut.

Sengketa itu belum beres sampai hari ini, dan anak-anak almarhumahlah yang menjadi “korban dari sengketa” ini. Mengapa? Karena harta bawaan almarhum, harta bersama ayah ibu mereka masih berstatus “status quo” mengingat belum diserahkan ke pemilik baru (para ahli waris) melalui pembagian berdasar Hukum Waris.

Mengapa sengketa ini bisa terjadi ?

Terdapat perbedaan penafsiran soal HARTA dalam perkawinan menurut Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam. Menurut Hukum Islam tidak ada percampuran harta benda dan kekayaan dalam perkawinan, karena Hukum Islam telah mewajibkan nafkah yang cukup diluar belanja harian bagi seorang istri.

Istri bisa memiliki kekayaan pribadi dengan mengumpulkan nafkah itu untuk kemudian menjadi kekayaan yang diwariskan kepada ahli warisnya saat ia meninggal dunia, dan tidak menganut kesepakatan bernama Harta Bersama sebagai UU Perkawinan kita.

Tetapi menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 171 Huruf e disebutkan bahwa Harta Waris adalah harta bawaan (harta yang dibawa sebelum menikah) ditambah bagian dari Harta Bersama (sebagaimana UU no 1 tahun 1974 tentang Perkawinan) setelah digunakan untuk keperluan pewaris sejak sakit hingga meninggalnya, biaya penyelenggaraan jenazah, pelunasan Hutang dan Pajak serta pemberian untuk kerabat.

Itu baru perbedaan penafsiran di Hukum Waris Islam. Kabar baiknya di Indonesia berlaku TIGA Hukum Waris yang berlakunya tidak ada yang dominan satu diantara yang lainnya. Sehingga persoalan seperti bu Melati banyak terjadi yang bisa menjadi berkepanjangan.

Siapa yang menjadi korban utama? Umumnya anak. Karena merekalah yang paling membutuhkan harta waris ini untuk keberlangsungan hidup mereka.

Belajar dari kasus ibu Melati dan banyak kasus lain di luar sana : Saya tak bosan menyampaikan “ SIAPKAN Harta Waris yang sifatnya PENUNJUKAN LANGSUNG”.

Pakai Surat Wasiat? Bisa. Tapi ingat, Hukum Waris Islam (Faraidh) menggariskan bahwa harta yang dicakup dalam surat wasiat itu tak boleh lebih dari 1/3 harta waris.

Maka memiliki Program Asuransi -sejauh ini – adalah Solusi paling tepat untuk memastikan Harta Waris itu jatuh : TEPAT JUMLAH, TEPAT SASARAN dan BEBAS SENGKETA.

Meninggalkan generasi penerus yang kuat, adalah lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kondisi lemah.

Itu saja.  (SUMBER)

Iklan