Tag Archive | Pendidikan Anak

Lagi-lagi Tentang Asuransi Pendidikan Anak…

children_460

Warisan terbaik bagi Anak adalah pendidikan.  Warisan berbentuk harta seperti uang, property, bisa habis dengan mudah dan cepat.  Apalagi jika si Anak kurang memahami cara meng”aman”kannya.  Dengan memberikan pendidikan terbaik, maka Anak akan dapat berkarya sesuai keahliannya, sehingga bisa menghasilkan uang ataupun harta sesuai dengan impiannya.  Hal inilah yang menginspirasi orangtua untuk mempunyai kepastian dalam siapkan dana pendidikan untuk Anak.

Semua hal yang berbau “pendidikan” pasti sangat diminati.  Biasanya “bau” tersebut berlabel  Tabungan Pendidikan, atau Asuransi Pendidikan.  Kalau Tabungan Pendidikan, biasanya orangtua akan menghubungi mbak-mbak cantik di Bank.   Karena saya adalah agen asuransi, maka pembaca yang menghubungi saya, pastinya akan menanyakan tentang asuransi pendidikan.  Uraian di bawah ini, bolehlah sekali-kali saya bahas sedikit di luar produk asuransi sebagai awalan ceritanya ya…

 

Siapkan dana Pendidikan anak

Sebenarnya saya juga masih belajar.  Saya mengacu pada saran beberapa Perencana Keuangan Top di Indonesia, bagaimana pengelolaan dananya, bagaimana cara meng”aman”kan dana yang saya punya, dan produk apa yang tepat.  Saya bagi dengan Anda infonya di blog saya ini ya.

Idealnya, siapkan dana pendidikan adalah sejak anak usia 0 tahun , dan memang harus rinci.

Dimulai dari:

Pertama,  Sekolah mana yang kelak menjadi tujuan saat SD,SMP,SMA, sampai Universitas.  Lalu survey juga berapa biaya yang dibutuhkan untuk masuk sekolah tersebut PADA SAAT INI.  Agar memudahkan untuk dikonversikan menjadi biaya di masa datang.

Kedua,  Menghitung biaya pendidikan menggunakan kalkulator klik DISINI.

Ketiga,  Menentukan dan memilih produk apa yang bisa memenuhi target dana pendidikan yang kita butuhkan. Hal ini bisa dilakukan setelah orangtua mengetahui ilustrasi besaran dananya.

Pada produk berlabel “Asuransi Pendidikan”, dana yang dikeluarkan untuk tahapan masuk sekolah bukanlah dana asuransi, tapi dana investasi atau tabungannya. Investasi dan asuransi itu dua hal yang berbeda, bahkan bertolak belakang.

Perlu diketahui perbedaan prinsipil antara asuransi dan investasi:

Kejadian yang memerlukan asuransi adalah risiko yang sifatnya tidak diinginkan dan tidak diketahui kapan waktunya. Contoh: sakit, cacat, meninggal dunia. Sedangkan pendidikan itu kejadiannya diinginkan dan waktunya pun bisa diketahui.

Asuransi menyediakan dana besar dalam waktu singkat, dan ini cocok untuk mengantisipasi risiko tidak pasti yang bisa datang kapan saja. Sedangkan dana investasi butuh waktu untuk bisa menjadi besar, dan ini cocok untuk mengantisipasi kebutuhan yang direncanakan di masa depan (contohnya pendidikan anak).

 Tabungan, asuransi, reksa dana adalah alat/sarana. Harus cari tau kebutuhan kita berapa. Harus tahu tujuan financial untuk apa?   Produk harus melayani tujuan.  Bila bicara tujuan, harus ada angka.  Sebab, orangtua  selalu mendadak “mellow” kalau sudah bertemu dengan produk yang ada kata “pendidikan”.

 

Kalau mau pilih investasi ketimbang menabung, orang tua harus melek investasi dulu.  Jangan sampai masukin modal tapi tidak ngerti apa-apa.  Hanya tau adanya iming-iming: modal sekian juta, beberapa bulan ke depan akan menjadi belasan juta.  Semua orang pasti maunya:  terbentuk dana jumlah besar dengan modal kecil.  Saya pun maunya begitu 😀   Pelajari betul-betul produk yang “sangat menggiurkan” tersebut.  Investasi saham, return nya besar dan sangat menggiurkan.  Hanya saja, kita harus betul-betul mengerti produk, dan memahami caranya.  Tidak sedikit orang yang akhirnya menyerah “main saham”, karena hanya menginginkan “high return”-nya, tapi lupa bahwa saham juga bersifat “high risk”.

Jika orang tua lebih memilih investasi Rp 500 ribu per bulan, perlu menggunakan portofolio investasi berupa reksadana yang mampu memberikan return hingga 20%, selain deposito, ORI dan lainnya. Bahkan kalangan menengah bawah pun dapat memulai investasi dalam bentuk sederhana, seperti emas.

Siapkan dana pendidikan anak melalui investasi, akan memberikan hasil yang lebih maksimal, dibandingkan melalui asuransi.  Saya luruskan lagi ya, bahwa fungsi utama asuransi adalah PROTEKSI, bukan investasi.

Loh, kan ada produk unitlink, yang katanya proteksi sekaligus investasi..?  Benar, produk unitlink memang proteksi sekaligus investasi.  Hanya saja, fungsi investasi pada produk unitlink bukanlah tujuan utamanya.   Investasi pada produk unitlink fungsinya adalah:  membayar biaya asuransi, membuat premi menjadi flat, memperpendek masa bayar premi, dan mengembangkan dana.  Detilnya DISINI.

Lalu, apa yang salah dengan Asuransi Pendidikan?  Tidak ada.  Hanya saja, jika dana Anda terbatas, menyiapkan dana pendidikan anak melalui Asuransi Pendidikan tidak akan maksimal hasilnya.  Bisa jadi, ujung-ujungnya Anda akan protes sama saya, karena nilai tunai yang terbentuk tidak sesuai harapan Anda.

Jadi jika Anda ingin menyiapkan dana pendidikan Anak melalui asuransi, itu sama halnya dengan tujuan utama Anda adalah berinvestasi di asuransi unitlink dengan maksud ‘mendapatkan pengembangan dana senilai tertentu di tahun tertentu’, mohon maaf Anda akan kecewa.  Kenapa?

  1. Premi yang Anda harus bayarkan akan menjadi sangat besar
  2. Jangan lupa bahwa pada produk unitlink, masih ada banyak potongan biaya akuisisi di tahun 1-5.  Premi Anda baru akan 100% diletakkan pada investasi adalah di tahun ke-6.
  3. Sehingga wajar, jika dalam tahun 1-5, dana Anda belum berkembang sesuai harapan.
  4. Jelas Anda akan kecewa, karena merasa “sudah bayar premi 500 ribu selama 3 tahun, kok nilai investasinya kecil banget sih?  Mendingan tabung di bank, sudah jelas dapetnya sekian”  Hayoooo… pasti banyak kan pembaca yang merasa demikian???
  5. Bagi pembaca yang mengalami kejadian poin 4, saya ajak Anda untuk mendalami kembali karakteristik produk unitlink ya.  Penjelasan utamanya seperti pada poin 2.
  6. Bagi pembaca yang sudah memahami fitur produk unitlink, tentu tidak masalah.  Apalagi jika sudah punya produk asuransi jiwa unitlink Syariah “Allisya Protection Plus”, yang pastinya akan memaksimalkan fitur Proteksinya.

 

Perhatikan contoh berikut ya:

Usia anak 0 tahun.  Biaya masuk kuliah suatu Universitas tahun 2017 sebesar 100 juta.  Dengan asumsi inflasi pendidikan 15%, maka kelak 17 tahun kemudian, biaya tersebut menjadi 1.076.100.000.

Bagaimana cara mencapainya?  Bila menggunakan instrumen investasi dengan asumsi return 5%, maka butuh dana yang disisihkan = 3.7 juta perbulan.  Bila menggunakan instrumen investasi dengan asumsi return 10%, maka butuh dana yang disisihkan = 2.3 juta perbulan.  Bila menggunakan instrumen investasi dengan asumsi return 15%, maka butuh dana yang disisihkan = 1.4 juta perbulan.

Untuk sampai ke investasi itu, pilihannya cuma ada dua:

  1. menabung Rp 1.4 juta per bulan tanpa putus selama 17 tahun, atau
  2. investasi Rp 500 ribu setiap bulan untuk jenjang S1.

Jadi kalau tidak punya Rp 1.4 juta, ternyata Rp 500 ribu sudah bisa memenuhi rencana tersebut.

 

Instrumen yang berlabel “Asuransi Pendidikan”, umumnya bertujuan: mendapatkan pengembangan dana senilai tertentu di tahun tertentu.  Hal ini tidak tepat digunakan sebagai alat untuk mencapainya.

Perhatikan contoh berikut:  “Asuransi Pendidikan”:

PREMI = 1.4 juta perbulan, masa bayar = 18th, Ayah 30th, Anak 0th.  Apa saja yang didapat?

hal1-premi1-4jt-cuti-th18

Keterangan dari gambar di atas:

  • Premi = 1.4 juta perbulan, Masa bayar = 18th, Tertanggung = Anak, Pembayar premi = Ayah
  • Asuransi dasar (warisan jika ANAK yang meninggal) = 120juta
  • Payor = gratis premi, dan dibayarkan preminya oleh Allianz sampai usia ayah seolah-olah 65th, JIKA Ayah mengalami musibah sakit kritis/cacat tetap total/meninggal

 

hslinvestpremi1-4jt-perbulan-cuti-th18

Catatan
– Nilai Investasi adalah nilai jual Unit berdasarkan Harga Beli Unit yang akan datang.
– Nilai setiap Unit akan berbeda dari waktu ke waktu tergantung pada kinerja investasi Allianz dan tidak terlepas dari resiko investasi  berdasarkan jenis investasi yang dipilih oleh Pemohon.
– Illustrasi nilai setiap Unit tergantung kepada Tabarru, Biaya Administrasi sebesar Rp. 26,500 per bulan dan Biaya
Pengelolaan Investasi yang berlaku saat ini.
– Jika ada tanda “***” artinya Nilai Investasi Anda sudah tidak mencukupi dan Polis anda akan berakhir.
– Membeli Polis Asuransi Jiwa adalah komitmen jangka panjang. Apabila Polis dihentikan pada tahun-tahun awal dapat menyebabkan  kerugian bagi Nasabah.
– Nilai Investasi pada tabel diatas dicantumkan hingga usia 100 tahun, dan proteksi asuransi kepada Tertanggung tetap berlaku hingga  usia 100 tahun selama nilai dari Unit tersedia cukup untuk membayarkan Tabarru dan Biaya Administrasi.

 

Keterangan dari gambar di atas:

Dengan meletakkan dana premi pada equity fund, maka asumsi proyeksi nilai tunai yang terbentuk saat anak usia 18th adalah antara 900 jutaan (return 13%) sampai 1.6 Miliar (return 18%).  Jika tujuan dana saat anak usia 18th adalah = 1.076.100.000 (biaya saat anak masuk kuliah kelak 17 tahun kemudian), maka bisa saja Anda menggunakan “Asuransi” untuk mencapainya.

Masalahnya:  apakah tersedia dana yang dianggarkan sebesar 1.4 juta perbulan untuk siapkan dana pendidikan Anak?  Dana sebesar itu “hanya” untuk siapkan pendidikan anak, loh.  Belum lagi ada anggaran lainnya yang menjadi kewajiban Anda, seperti: anggaran rutin bulanan Anda untuk biaya hidup bulanan, cicilan, tagihan, liburan…

Ingat, komposisi di atas untuk anak 0 tahun, preminya = 1.4 juta perbulan.

 

Baiklah…

Selanjutnya misalkan dana yang tersedia untuk siapkan dana pendidikan anak adalah PREMI = 500 ribu perbulan, dimasukkan ke dalam “Asuransi Pendidikan”.  Maka hasilnya sbb:

hal1-premi500-cuti-th18

Keterangan dari gambar di atas:

  • Premi = 500 ribu perbulan, Masa bayar = 18th, Tertanggung = Anak, Pembayar premi = Ayah
  • Asuransi dasar (warisan jika ANAK yang meninggal) = 60juta
  • Payor = gratis premi, dan dibayarkan preminya oleh Allianz sampai usia ayah seolah-olah 65th, JIKA Ayah mengalami musibah sakit kritis/cacat tetap total/meninggal

 

hslinvestpremi500rb-perbulan-cuti-th18

Catatan
– Nilai Investasi adalah nilai jual Unit berdasarkan Harga Beli Unit yang akan datang.
– Nilai setiap Unit akan berbeda dari waktu ke waktu tergantung pada kinerja investasi Allianz dan tidak terlepas dari resiko investasi  berdasarkan jenis investasi yang dipilih oleh Pemohon.
– Illustrasi nilai setiap Unit tergantung kepada Tabarru, Biaya Administrasi sebesar Rp. 26,500 per bulan dan Biaya
Pengelolaan Investasi yang berlaku saat ini.
– Jika ada tanda “***” artinya Nilai Investasi Anda sudah tidak mencukupi dan Polis anda akan berakhir.
– Membeli Polis Asuransi Jiwa adalah komitmen jangka panjang. Apabila Polis dihentikan pada tahun-tahun awal dapat menyebabkan  kerugian bagi Nasabah.
– Nilai Investasi pada tabel diatas dicantumkan hingga usia 100 tahun, dan proteksi asuransi kepada Tertanggung tetap berlaku hingga  usia 100 tahun selama nilai dari Unit tersedia cukup untuk membayarkan Tabarru dan Biaya Administrasi.

 

Keterangan dari gambar di atas:

Dengan meletakkan dana premi pada equity fund, maka asumsi proyeksi nilai tunai yang terbentuk saat anak usia 18th adalah antara 300 jutaan (return 13%) sampai 500 jutaan (return 18%).  Jika tujuan dana saat anak usia 18th adalah = 1.076.100.000 (biaya saat anak masuk kuliah kelak 17 tahun kemudian), maka tentu saja Anda TIDAK BISA menggunakan “Asuransi” untuk mencapainya.

 

Pada 2 contoh tersebut, tujuan utama berasuransi adalah mendapatkan dana sejumlah tertentu, pada tahun  tertentu.

Pertanyaan:  Selama bertahun-tahun Anda berupaya menempatkan dana di “Asuransi Pendidikan” tersebut:

Apakah Anda yakin upaya tersebut akan mulus tanpa halangan?  Apakah Anda yakin tidak akan ada musibah (sakit kritis/cacat/meninggal) yang mungkin terjadi?  Apakah Anda yakin, bila musibah itu datang pada diri Anda sebagai penabung, finansial Anda tidak akan terganggu?  Apakah Anda yakin, bahwa Anda tabungan Anda yang lain + asset yang dimiliki, akan cukup untuk mengatasi masalah finansial yang timbul?  Jangan-jangan, dana pendidikan yang Anda siapkan ini malah Anda “bongkar” untuk dipakai menggantikan penghasilan Anda yang hilang?  Kalau sudah begitu, bisa batal dong, rencana siapkan dana Pendidikan Anak?  Impian anak untuk sekolah sampai jenjang yang tinggi terpaksa harus dikubur…

Coba Anda cermati lagi komposisi Asuransi Pendidikan di atas, apa manfaat proteksi yang didapat?  Memang ada, tapi cek lagi apakah sesuai nominalnya untuk menggantikan penghasilan Anda yang hilang jika terjadi musibah?

Mari luruskan kembali pemahaman yang benar dalam ber-asuransi pendidikan…  Siapkan dananya melalui investasi, asuransi itu untuk proteksi penghasilan Anda.

Disitulah bedanya asuransi VS investasi.  Saya tidak ingin asal produk asuransi saya terjual.  Biasanya saya akan tetap memberikan saran profesional agar Anda puas dalam mengelola rencana keuangan Anda sesuai tujuan.

Itulah sebabnya, meski saya adalah agen asuransi, ketika banyak permintaan ilustrasi Asuransi Pendidikan yang masuk ke email, atau ke nomor kontak saya, maka saya tetap akan memberikan saran profesional:

Dana pendidikan disiapkan melalui investasi, bukan via asuransi. Tujuan dana yang ingin disiapkan saat jenjang pendidikan tertentu akan lebih mudah tercapai via investasi.

Syarat penting berinvestasi:  pilih perusahaan yang bonafit, kenali produknya, pilih produk yang sesuai dengan profil Anda, tentukan produk yang sesuai dengan tujuan keuangan Anda, pelajari portofolio/kinerja produknya, sesuaikan dananya.

Hubungi Manajer Investasi atau agen penjual produk investasi saat Anda ingin berinvestasi.

Hubungi Estri Heni (email: ProteksiKita@gmail.com), atau ke nomor kontak saya (WA: 0817 028 4743) sekarang juga untuk buka polis Asuransi Jiwa Syariah (premi 355 ribu UP 1 Miliar), atau Asuransi Kesehatan Syariah.  Musibah datang tanpa pemberitahuan, maka miliki polis asuransi saat musibah belum terjadi dan saat Anda merasa belum butuh asuransi.  Karena jika Anda merasa butuh asuransi, mungkin Asuransi sudah tidak bisa menerima pengajuan Anda…

Salam.

 

 

Artikel terkait:

Pendidikan Anak:  Kembangkan dananya melalui investasi, dampingi dengan asuransi sebagai proteksi

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Asuransi Apa Yang Tepat Untuk Masa Depan Anak?

 

hepifam

 

Seorang kepala keluarga dari sebuah keluarga bahagia menghubungi saya, menyampaikan maksudnya yang sedang mencari Asuransi untuk Masa Depan Anak.  Apakah di Allianz Syariah ada produk yang bisa menjawab kebutuhan saya itu?

 

 

 

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya akan “meluruskan” pemahaman tentang Asuransi untuk “Masa Depan Anak”.  Yang beliau maksud dengan “Masa Depan Anak” yaitu bahwa Anaknya akan terjamin ketersediaan dana pendidikannya dan juga kebutuhan lainnya dapat dipastikan persiapan dananya tidak terganggu.  Saya tanya kembali:  “Apakah Bapak sudah punya asuransi untuk Bapak sendiri?”.  Beliau menjawab:  “Belum.  Saya fokuskan persiapan dana untuk masa depan anak”

Baiklah, saya sudah mengerti maksudnya.

 

KETERSEDIAAN DANA UNTUK PENDIDIKAN ANAK

Kebanyakan orangtua masih rancu dalam menyiapkan dana pendidikan untuk anak.  Menghubungi saya untuk membeli asuransi pendidikan anak, dengan pemikiran agar dana pendidikan bisa disiapkan melalui asuransi.

Mari kita cermati bersama:

Kira-kira seorang anak bisa sekolah sampai jenjang yang tinggi, itu disebabkan oleh karena adanya asuransi pendidikan ATAU karena orang tuanya masih mampu bekerja?

Tentunya karena orang tuanya masih mampu bekerja, bukan?

Orang tua bekerja –> ada penghasilan –> bisa siapkan dana pendidikan anak.

Artinya:  kemampuan orang tua bekerja adalah JAMINAN bagi suksesnya pendidikan si anak.  Kemampuan orangtua dalam bekerja merupakan “asuransi pendidikan” bagi si anak.

Bila Anda setuju bahwa:  kemampuan orang tua bekerja adalah JAMINAN bagi suksesnya pendidikan anak, maka tentu Anda juga setuju bahwa itu berarti, yang sebaiknya diasuransikan terlebih dulu adalah orang tuanya (si pencari nafkah).

Bila Pencari nafkah sudah PUNYA polis asuransi, artinya:

  1. Selama pencari nafkah masih sehat –> pencari nafkah bekerja –> ada penghasilan  –> ada dana yang disisihkan untuk persiapan dana pendidikan melalui instrumen investasi –> dana pendidikan anak akan siap.
  2. Bila pencari nafkah mengalami musibah –> tidak bisa bekerja –> tidak ada penghasilan –> ada DANA TUNAI dari klaim asuransi –> dana digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk investasi dana pendidikan.

Dari uraian tersebut, tentunya sudah dapat dipahami bahwa dengan adanya polis asuransi untuk pencari nafkah, maka masa depan Anak akan terjamin.

Baca juga:  Ini Pemahaman Yang Benar Tentang Asuransi Pendidikan Anak

 

 

KETERSEDIAAN DANA JIKA TERJADI MUSIBAH, TANPA HARUS JUAL HARTA

Sekarang kita coba pelajari isi polis.  Bagi agen asuransi yang menawarkan asuransi pendidikan dalam rangka menyiapkan masa depan anak, biasanya dalam polisnya, yang menjadi “TERTANGGUNG” adalah ANAK.  Sedangkan saya, yang mengutamakan asuransi bagi pencari nafkah, untuk tujuan masa depan anak yang terjamin, maka dalam polisnya, yang menjadi “TERTANGGUNG” adalah PENCARI NAFKAH.

Apa bedanya, jika dalam polis, yang menjadi TERTANGGUNG adalah ANAK, dengan TERTANGGUNG adalah PENCARI NAFKAH ?

 

TERTANGGUNG adalah ANAK

  1.  Jika terjadi musibah pada anak ??

rip

 

panah

Penerima Manfaat Untuk Siapa ???

Untuk orangtuanya yang masih sehat dan produktif?

 

 

2.  Jika terjadi musibah pada pencari nafkah ??

rip

panahYang ditanggung = anak.  Yang kena musibah = pencari nafkah.

Maka  Keluarga yang ditinggalkan mendapatkan

HANYA   bebas premi saja, dan atau dana pendidikan sampai usia tertentu.

 

 

Lalu, bagaimana untuk keluarga yang ditinggalkan…

Masalah apa saja yang masih mungkin terjadi ?

  • Biaya kebutuhan keluarga, seperti: makan, pakaian, dll
  • Cicilan
  • Berbagai tagihan
  • Kebutuhan / perlengkapan sekolah
  • Biaya pengobatan
  • Biaya tidak terduga

SIAPA YANG AKAN  MEMBERIKAN “TANGGUNGAN” TERSEBUT ?

Pasangan Anda dan anak tercinta jadi harus bekerja membanting tulang menggantikan posisi Anda, agar semua kebutuhan hidup di atas bisa tetap dibayar/dipenuhi.

Bayangkan, pasangan Anda yang mulai menua, tenaga yang sudah berkurang, tapi masih harus memulai hidup dari nol sepeninggal Anda, demi masa depan Anak Anda (sesuai tujuan awal Anda menghubungi saya sebagai agen Asuransi Anda)…

Bayangkan anak Anda yang masih kecil, masih dalam masa permainan, dengan tenaganya yang masih lemah, tapi harus membantu pasangan Anda untuk memulai bekerja dari nol sepeninggal Anda, demi masa depan mereka (seusai tujuan awal Anda menghubungi saya sebagai agen Asuransi Anda)…

Jika polis asuransi Anda, yang menjadi TERTANGGUNG adalah Anak, ini KURANG tepat!  Saya sangat tidak menyarankan.

 

TERTANGGUNG adalah PENCARI NAFKAH

Jika terjadi musibah pada Pencari Nafkah:

  •   Terdiagnosa Penyakit Kritis:

cancer

atau penyakit kritis lainnya

 

Ada 49 jenis penyakit kritis atau 100 kondisi “Penyakit Kritis”

  •  Cacat Tetap Total

 

Jika klaim memenuhi kriteria sesuai dalam buku polis, maka PENERIMA MANFAAT (ahli waris) akan:

  1. Menerima “Uang TUNAI jumlah Besar” yang ditransfer oleh Allianz.  Uang Tunai ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan.  Seperti:  kebutuhan hidup keluarga (makan, pakaian, dll), membayar cicilan, membayar tagihan, biaya pengobatan, ditabung untuk biaya pendidikan anak, digunakan sebagai modal usaha, diinvestasikan lagi agar dana semakin berkembang.
  2. Sakit kritis, Cacat Tetap Total, Meninggal dunia  ==>  ada manfaat bebas Premi bagi polis anggota keluarga lainnya.  Artinya:  premi polis anggota keluarga lainnya menjadi GRATIS dan akan dibayarkan preminya oleh Allianz.  Sehingga anggota keluarga lainnya tetap akan mendapatkan perlindungan dan manfaat, walaupun pencari nafkah sudah tidak lagi bersama mereka.

Jika polis asuransi Anda, yang menjadi TERTANGGUNG adalah Pencari Nafkah, saran profesional saya: sangat merekomendasikannya!

Baca juga:   Perbandingan Komposisi Ilustrasi Asuransi Pendidikan Anak

 

Bersama Allianz Syariah, masa depan Anak dan keluarga Anda akan terlindungi, baik selama Anda ada ataupun sudah tidak bersama mereka lagi…

 

happy-family

 

SEGERA lindungi penghasilan Anda, dan siapkan masa depan Anak dan keluarga dengan TEPAT.

Pahami manfaat asuransi yang ditawarkan agen.  Hubungi Agen Asuransi Allianz Syariah Bersertifikasi, yang mengerti fitur produknya dan memahami kebutuhan Anda.

Estri Heni

SMS/WA:   0817 028 4743

Email:  ProteksiKita@gmail.com

 

 

 

 

Dilema Asuransi Pendidikan

Asuransi Pendidikan?  Ini adalah istilah yang rancu.
Asuransi kok untuk pendidikan?
Asuransi adalah: proteksi keuangan dari risiko yang tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diprediksi, dan butuh biaya besar.
Pendidikan: butuh biaya besar, tapi bukan risiko yang tidak diinginkan dan waktunya pun dapat diketahui.
Karena butuh biaya besar, dana pendidikan perlu dipersiapkan. Tapi bukan melalui asuransi, melainkan investasi.
Asuransi dan investasi adalah dua hal yang bertolak belakang.
Asuransi bertujuan utk melindungi uang yang kita miliki (dari hal-hal tidak terduga yang dapat menghabiskannya).
Investasi bertujuan utk mengembangkan uang yang kita miliki (demi hal-hal yang dicita-citakan di masa depan).

 

 

two-girls-learning-in-a-classroom

 

Banyak orang yang saya infokan tentang asuransi, bertanya kepada saya tentang asuransi pendidikan. Mereka ingin asuransi yang memberikan sejumlah uang ketika anaknya masuk sekolah (TK, SD, SMP, SMA, PT). Dasar alasannya saya kagumi, yaitu bahwa mereka lebih mementingkan anak daripada diri mereka sendiri.

Tapi sebenarnya ada yang lebih penting ketimbang persiapan dana pendidikan anak, yaitu proteksi jiwa dan kesehatan untuk orangtua. Dasar pemikirannya begini: sepanjang orangtua sehat dan selamat dan masih hidup, dana pendidikan anak bisa diperoleh dengan cara lain dan dari mana saja asalkan berusaha. Tapi jika orangtua tidak sehat atau tidak selamat, bisa-bisa dana pendidikan yang telah dipersiapkan pun akan terpakai untuk biaya berobat orangtua.

Dengan kata lain, ungkapan kasih sayang kepada anak justru lebih tepat disalurkan lewat asuransi jiwa. Dengan asuransi jiwa, orangtua memikirkan kepentingan anak bukan hanya ketika ia sehat dan selamat dan hidup, tapi juga jika ia tak berdaya dan bahkan jika ia terlalu cepat menghadap Sang Pencipta.

Intinya: proteksi harus didahulukan daripada investasi. Inilah alur perencanaan keuangan yang benar.

Namun tidak mudah memberikan pengertian ini kepada para orangtua yang “sangat peduli anak” itu. Belum lagi jika mereka meminta asuransinya atas nama anak. Maka ini kekeliruan lain lagi yang kadarnya lebih besar. Setiap asuransi pendidikan pada hakikatnya adalah asuransi jiwa, hanya ada nilai tunainya, sedangkan anak tidak butuh asuransi jiwa karena dia belum memiliki risiko finansial. Orangtua atau kerabat lain tidak akan disusahkan keuangannya jika anak meninggal dunia. Selain itu peluang meninggalnya anak sangat kecil. Jadi tidak usahlah dia dibelikan asuransi jiwa. Yang butuh asuransi jiwa adalah orangtua (ayah atau ibu jika bekerja), karena risiko meninggalnya orangtua dapat mengakibatkan kesulitan keuangan pada keluarga yang ditinggalkan.

Bagi saya, terus-terang pertanyaan tentang asuransi pendidikan ini adalah suatu dilema. Jika tidak saya kabulkan, bisa-bisa mereka tidak mau mengambil asuransi dari saya. Tapi jika saya kabulkan, apa yang telah saya pelajari memberitahukan bahwa cara tersebut bukan yang terbaik bagi nasabah.

Tentu saja Allianz punya produk asuransi pendidikan, yaitu yang disebut My Education. Tapi produk ini jenisnya endowment (dwiguna; asuransi+tabungan). Saya tidak rekomendasikan endowment kepada calon nasabah saya karena dua hal: manfaat proteksinya tidak maksimal dan nilai tunainya akan tergerus inflasi.

Karena yang dibutuhkan berupa uang, maka cara terbaik mempersiapkan dana pendidikan adalah investasi. Tapi kebanyakan orang masih awam tentang investasi. Yang mereka tahu hanya menabung. Tapi menabung, meskipun di bank yang ada bunganya, bukanlah cara yang tepat untuk mengumpulkan uang, karena meski jumlah uang bertambah, hakikatnya nilainya menurun oleh inflasi (dan juga pajak; ingat, pajak deposito besarnya 20%). Pada rentang waktu yang sama, biaya pendidikan selalu naik setiap tahun.

Pada dasarnya, sepanjang orangtua telah memiliki proteksi jiwa dan kesehatan yang mencukupi, ia bisa dengan tenang mengumpulkan dana untuk pendidikan anaknya tanpa harus melalui asuransi. Ia bebas berinvestasi di bidang apa saja yang ia pahami. Entah itu emas (dinar), perak (dirham), reksadana, saham, tanah, kayu jabon, hewan ternak, atau apa saja ya ng bisa dilakukan, yang penting hasilnya tidak kalah oleh inflasi.

Dari pemikiran bahwa cara terbaik mempersiapkan dana pendidikan adalah investasi dibarengi proteksi (atas nama orangtua), maka jika ada yang bertanya kepada saya tentang asuransi pendidikan, saya akan menyodorkan Allisya Protection Plus atau Tapro Allisya. Tapro Allisya merupakan program asuransi jiwa dengan manfaat yang lengkap dan maksimal, plus investasi yang menguntungkan melalui saham, sukuk (obligasi syariah), dan deposito syariah, dengan pilihan beberapa jenis dana investasi. Tapro Allisya bukan asuransi pendidikan dalam pengertian tradisional yang lazim dipahami, tapi produk ini bisa dipakai untuk dana pendidikan tanpa melupakan proteksi.

Prinsip dan Tips Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

 

kid-education

 

1.  Dana pendidikan anak adalah sesuatu yang niscaya, pasti dibutuhkan pada saatnya. Tinggal apakah orangtua mau mempersiapkannya sejak dini, ataukah menunda-nunda seraya berharap akan muncul rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka.

2.  Waktu paling tepat memulai persiapan adalah sejak anak baru dilahirkan. Atau saat ini (kalau waktu itu belum kepikiran).

3.  Karena yang dibutuhkan berupa uang, maka cara terbaik  ialah investasi.

4.  Pada saat yang sama, orangtua harus mengambil asuransi jiwa.

5.  Asuransi jiwa berfungsi untuk berjaga-jaga agar rencana pendidikan anak tidak kandas jika orangtuanya mengalami  “sesuatu”. (Kita tak pernah tahu).

6.  Uang pertanggungan jiwa harus cukup untuk membayar biaya total pendidikan anak sampai lulus perguruan tinggi.

7.  Biaya total pendidikan yang dihitung adalah biaya pada saat masuknya nanti, bukan biaya saat ini, sebab biaya pendidikan selalu naik setiap tahun akibat faktor inflasi.

8.  Karena faktor inflasi itu pula, maka imbal hasil investasi harus lebih besar daripada inflasi.

9.  Sebuah program yang dipersiapkan untuk dana pendidikan anak harus memuat sekurang-kurangnya tiga skenario.

  1. Orangtua sehat-selamat-sejahtera
  2. Orangtua tidak bisa bekerja karena terkena sakit kritis/cacat total
  3. Orangtua meninggal dunia, secara normal ataupun karena kecelakaan

Skenario mana pun yang terjadi, dana pendidikan anak tetap harus tersedia.

10.  Skenario pada anak hanya ada satu, yaitu skenario pertama. Anak tidak butuh skenario kedua dan apalagi ketiga. Jika skenario kedua yang terjadi, mungkin ia tidak bisa belajar di sekolah secara normal. Jika skenario ketiga yang menimpa, sudah pasti anak tidak usah sekolah. Jadi buat apa dana pendidikannya disiapkan?

11.  Dari sini, maka membuka polis asuransi pendidikan atas nama anak merupakan suatu kesalahan. Polis tetap atas nama orangtua. Anak jadi ahli warisnya.

,

Tapro Allisya untuk Pendidikan Anak

Tapro Allisya Protection Plus, program asuransi jiwa+investasi, dapat digunakan untuk mempersiapkan dana pendidikan anak. Tapro Allisya menyediakan tiga skenario:

1)       Orangtua sehat-selamat-sejahtera (alhamdulillah), maka dana pendidikan dapat dicairkan pada saat dibutuhkan, yaitu ketika anak masuk jenjang-jenjang sekolah.

2)       Orangtua tidak bisa bekerja karena terkena sakit kritis/cacat total, maka tidak usah lagi bayar premi. Cicilan dilanjutkan oleh program persiapan dana pendidikan tsb.

3)       Orangtua meninggal dunia, secara normal ataupun kecelakaan, maka anak mendapat warisan yang cukup besar. Dana ini bisa disimpan saja di bank sebagai dana abadi pendidikannya.

Skenario ini bisa ditambah dengan beberapa lagi, tapi hal itu akan mengurangi hasil investasi yang menjadi tujuan utama keikutsertaan.


Catatan

  • Masa pembayaran premi pada tabel adalah 18 tahun. Jika anak sudah agak besar, masa pembayaran dihitung sampai ia masuk kuliah.
  • Jika terdapat dua anak, maka orangtua bisa membuka dua polis, atas nama ayah dan atas nama ibu.
  • Untuk peserta dengan usia dan jenis kelamin yang berbeda, besarnya manfaat proteksi bisa berbeda dan nilai investasi pun akan berbeda.
  • Asumsi investasi 15% per tahun. Asumsi ini tidak dijamin dan tidak lepas dari risiko investasi. Nilai yang sebenarnya dapat lebih kecil atau lebih besar dari angka yang tertera di tabel.
  • Angka proyeksi hasil investasi pada tabel apabila dana belum pernah diambil. Jika ada pengambilan dana, maka nilai investasi di jenjang selanjutnya akan berbeda (lebih kecil).
  • Dana bisa diambil sesuai kebutuhan, dengan menyisakan saldo minimal 2 juta. Kalau dana diambil seluruhnya, polis tutup.
  • Tersedia pilihan premi lainnya, sesuai kebutuhan dan anggaran.

Cara Pengambilan Dana

  1. Mengisi formulir penarikan dana.
  2. Melampirkan fotokopi identitas diri (KTP/SIM).
  3. Kirim ke kantor pusat atau cabang Allianz, atau dititip lewat agen.
  4. Dalam waktu 7 hari kerja, dana sudah dikirim ke rekening peserta.

Cara Terbaik Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

SM150239

Pengaruh Inflasi

Biaya pendidikan terus naik setiap tahun. Kenaikannya bisa mencapai 10% hingga 20%/tahun. Kenaikan harga seiring berjalannya waktu (atau penurunan nilai uang terhadap waktu) disebut inflasi. Dan inflasi di sektor pendidikan termasuk yang paling tinggi.

Jika kita punya anak yang baru lahir, sekitar enam tahun lagi dia akan masuk sekolah dasar. Jika uang pangkal masuk SD berkualitas baik tahun ini sebesar 5 juta, maka enam tahun lagi biayanya bisa mencapai 8 jutaan (asumsi inflasi 10%) atau 10 jutaan (inflasi 15%). Oleh karena itu kita jangan mengumpulkan uang hingga sebesar 5 juta, tapi kumpulkanlah uang senilai 10 juta, khusus untuk masuk SD.

Tentunya kita pun perlu mempersiapkan dana masuk SMP, SMA, dan perguruan tinggi, yang pasti lebih besar ketimbang uang pangkal SD. Jika uang pangkal masuk SMP berkualitas baik tahun ini besarnya 7 juta, maka 12 tahun mendatang, uang pangkalnya akan mencapai 19 jutaan (asumsi inflasi 10%) atau 32 jutaan (asumsi inflasi 15%).

Jika kita tidak siap dengan biaya-biaya tsb, alternatifnya adalah menyekolahkan anak kita di sekolah negeri. Gratis. Tapi sebagian kita mungkin kurang percaya dengan kualitas sekolah negeri. Jika ada sekolah negeri berkualitas baik (SBI atau RSBI), jadinya pasti tidak gratis lagi.

Selain itu, biarpun SD, SMP, dan SMA negeri sudah gratis, perguruan tinggi belum ada yang gratis. Kecuali anak kita cukup pintar sehingga berhasil mendapatkan beasiswa, selebihnya kita tetap harus mengumpulkan uang.

Jadi, bagaimana menyiasatinya?

Ada beberapa cara mengumpulkan uang, misalnya menabung di bawah kasur, menabung di bank, atau deposito. Tapi cara-cara tsb tidak tanggap terhadap inflasi. Celengan di rumah tidak ada bunganya, sedangkan bunga deposito saat ini rata-rata cuma 6%/tahun. Di deposito, meski uang kita bertambah 6% setiap tahunnya, sebetulnya uang tsb berkurang nilainya. Jika kita menabung 500 ribu per bulan dan setelah 5 tahun terkumpul 30 juta, sesungguhnya 30 juta di lima tahun mendatang itu tidak sama dengan 30 juta sekarang. Dengan inflasi 10%, maka 30 juta lima tahun kemudian hanyalah senilai dengan uang 19 juta masa sekarang. Dengan kata lain, jika 30 juta saat ini bisa kita belikan 30 set meja makan seharga @1 juta, lima tahun kemudian yang diperoleh hanya 19 set meja makan.

Betapa jahatnya inflasi; diam-diam ia merampok sebagian uang kita sementara kita sedang tidur (tidak sadar).

Dua Cara Mempersiapkan Dana Pendidikan

Oleh karena itu, cara terbaik mempersiapkan dana pendidikan anak adalah dengan menabung atau berinvestasi di instrumen yang bisa menghasilkan retur sama atau lebih besar dari inflasi. Apa atau apa sajakah itu?

Pertama, menabung emas atau perak (dinar atau dirham). Harga emas dan perak selalu naik, dan kenaikannya bisa mengimbangi bahkan mengalahkan inflasi. Jika tahun ini uang pangkal masuk SD setara dengan 10 gram emas (5 jutaan; per gram 500 ribuan), maka enam tahun kemudian pun biayanya tetap di kisaran 10 gram emas. Jika uang pangkal masuk SMP tahun ini setara 14 gram emas (7 jutaan), maka 12 tahun ke depan pun biayanya tetap sekitar 14 gram emas.

Menabung dalam bentuk emas/perak menjamin nilai uang kita di masa depan, tanpa terpengaruh kenaikan harga-harga (inflasi). Jadi jika kita sudah memiliki 10-20 gram emas saat ini, tidak perlu khawatir kalau hanya untuk urusan masuk SD/SMP. Tapi ya tetap harus mengumpulkan uang untuk keperluan lain.

Menabung emas bisa dicicil, tapi karena harga satu gram emas saja sekarang sudah lebih dari 500 ribu, dan biasanya emas dijual dalam satuan yang lebih berat (2, 3, atau 5 gram; dan 1 dinar saja beratnya 4,25 gram), maka bagi orang yang hanya mampu menabung 500 ribu sebulan, dia harus menunggu beberapa bulan untuk membeli emas. Atau bisa juga dia mencicil emas di pegadaian, tapi dikenai biaya administrasi dan margin keuntungan, dan ada DP (uang muka) yang besarnya sekitar 25%.

Pilihan yang lebih terjangkau adalah menabung perak (dirham). Harganya saat ini sekitar 70 ribuan per dirham, beli 5 dirham bebas ongkos pembuatan. Dirham bisa dibeli secara offline maupun online di gerai-gerai yang menjual dinar dan dirham. Alamatnya silakan dicari di internet.

Kedua, berinvestasi di saham atau reksadana. Investasi saham berarti kita membeli secara langsung saham-saham perusahaan yang terdaftar di pasar modal (Bursa Efek Indonesia), sedangkan reksadana adalah berinvestasi saham/obligasi di pasar modal melalui manajer investasi.

Investasi saham/reksadana dapat menghasilkan retur lebih besar daripada emas, tapi mengandung risiko merugi. Risiko kerugian dapat diminimalkan dengan pengetahuan yang memadai. Oleh karena itu, sebelum memutuskan terjun ke pasar modal, kita harus mempelajari dulu seluk-beluk investasi saham/reksadana. Sekilas ini kedengarannya sulit, tapi jika anda punya waktu dan siap untuk mempelajarinya, kenapa tidak.

Apakah investasi saham/reksadana perlu modal besar? Dulu mungkin iya, tapi sekarang tidak. Sekarang ini kita bisa membuka rekening di perusahaan sekuritas (pialang/broker saham) dengan deposit minimal 5 juta, bahkan ada yang cuma 100 ribu. 100 ribu? Ya, dan saya sudah membuka rekening di broker tsb. Tapi tentu saja 100 ribu tsb baru untuk buka rekening saja, belum bisa dipakai beli saham apa pun. Untuk mulai membeli saham, kita perlu setor 500 ribu atau 1 juta; itu cukup untuk membeli 1-2 lot saham yang harganya seribu rupiah per lembar. Seterusnya kita bisa menambah kepemilikan saham kita setiap bulan atau setiap kali punya uang lebih.

Jika saham tampaknya cukup ribet dan butuh belajar banyak, maka reksadana tidak perlu sebanyak itu belajarnya. Percayakan saya dana kita kepada manajer investasi yang memang ahlinya dalam berinvestasi. Selain itu reksadana bisa dicicil dengan biaya lebih murah. Dulu reksadana ditawarkan dengan setoran awal minimal puluhan juta, tapi sekarang ada reksadana yang menerima cicilan mulai 100 ribu/bulan.

Adakah cara lain mengumpulkan uang untuk keperluan di masa depan? Sementara itu dulu, sebab keduanya (nabung emas/perak dan investasi saham/reksadana) bisa dicicil secara berkala dengan lebihan dari gaji atau penghasilan bulanan. Dan tulisan ini pun saya tujuan untuk orang-orang yang mengandalkan hidup dari gaji rutin.

Sebelumnya Harus Punya Asuransi Jiwa

Mungkin anda berpikir, okelah kita bisa menyisihkan uang secara rutin untuk beli emas atau reksadana, tapi bagaimana kalau di tengah jalan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri kita sehingga kita tidak bisa lagi mencicil dana tsb?

Solusinya: sebelum menabung atau berinvestasi, terlebih dahulu kita harus punya asuransi jiwa.

Dalam prioritas perencanaan keuangan, asuransi jiwa didahulukan dari investasi, sebab investasi bisa gagal total jika di tengah jalan terjadi sesuatu pada kita, entah sakit, kecelakaan, atau meninggal dunia. Jika sakit, maka kita harus berobat. Untuk berobat perlu uang. Semakin parah penyakitnya, semakin besar uang yang kita butuhkan. Pertanyaannya, apakah kita rela jika hasil investasi kita, yang sedianya untuk tujuan pendidikan, terpakai untuk biaya berobat? Tentu lebih baik jika biaya berobat itu berasal dari pihak lain, dalam hal ini perusahaan asuransi. Dengan demikian, dana investasi kita tetap aman-aman saja.

Atau jika kita meninggal dunia, sudah jelas anak kita bukan hanya kehilangan dana pendidikan, tapi juga sumber nafkah hidupnya. Oleh karena itu, asuransi jiwa wajib hukumnya bagi orangtua yang telah memiliki tanggungan hidup. Bukan sekadar punya, jumlahnya pun harus cukup.

Satu hal perlu diperhatikan: Yang harus mengambil asuransi jiwa adalah orangtua, bukan anak. Anak tidak butuh asuransi jiwa, sebab seandainya dia meninggal, kedua orangtua memang akan sedih, tapi tidak disusahkan dalam segi ekonomi.

Asuransi Pendidikan Jenis Endowment (Tradisional)

Dari pemikiran ini, bahwa persiapan dana di masa depan harus dibarengi dengan asuransi jiwa, muncullah produk keuangan yang disebut asuransi pendidikan. Asuransi pendidikan menyediakan uang tunai sejumlah tertentu ketika anak masuk jenjang-jenjang sekolah, plus asuransi jiwa, plus pembebasan/pembayaran premi jika orangtua meninggal dunia. Jenis asuransi yang biasanya ditawarkan perusahaan asuransi adalah endowment (asuransi dwiguna, tergolong asuransi tradisional), sebab dia menyediakan uang pertanggungan jiwa sekaligus jaminan uang tunai.

Tapi apakah asuransi pendidikan jenis ini sudah memadai untuk mengkover biaya masuk sekolah di masa depan?

Mari kita tinjau lebih saksama. Sebelumnya kita harus tahu berapa biaya masuk SD, SMP, SMA, dan PT saat ini, lalu kalkulasikan biaya di masa depan dengan memasukkan faktor inflasi. Mengikuti asuransi pendidikan tanpa terlebih dahulu menghitung kebutuhan anak kita di masa depan akan berakibat dua hal. Pertama, kemahalan, tapi ini masih mending, sebab mendingan lebih daripada kurang. Kedua, dana tahapan pendidikan yang kita terima tidak dapat membantu pada saatnya dibutuhkan, karena jumlahnya kekecilan.

Sekadar gambaran kasar, mari kita anggap biaya masuk SD saat ini 5 juta, SMP 7 juta, SMA 8 juta, dan PT 10 juta. Dengan asumsi inflasi sekitar 10% per tahun, maka 6 tahun kemudian, biaya masuk SD adalah 9 juta, 12 tahun kemudian biaya masuk SMP 20 juta, 15 tahun kemudian biaya masuk SMA 31 juta, dan 18 tahun kemudian biaya masuk PT 50 juta. Total dana yang dibutuhkan 110 juta.

Beberapa produk asuransi pendidikan yang pernah saya lihat memberikan dana tahapan 10% UP saat masuk SD, 20% UP saat masuk SMP, 20-25% UP saat masuk SMA, dan 45-50% UP saat masuk PT. Ada juga yang memberikan dana 10% UP di tahun kelima (masuk TK), tapi persentase saat masuk PT jadi berkurang. Secara umum, dengan skema pembagian dana seperti itu, nasabah akan balik modal (balik 100%) pada saat anaknya masuk PT. Setelah itu, asuransi akan memberikan beasiswa per tahun selama anak kita kuliah di PT selama 4 tahun. Persentasenya dihitung dari saldo terakhir pada tahun masuk PT. Total dana tahapan yang diterima anak nasabah mencapai lebih dari 100% UP.

Dari gambaran tsb, maka kita membutuhkan asuransi pendidikan dengan UP 100 juta s.d. 110 juta. Agar lebih mudah menghitungnya, kita ambil yang 100 juta. UP 100 juta ini menjadi dasar perhitungan pemberian dana tahapan, sekaligus menjadi uang tunai yang diberikan lumpsum kepada ahli waris jika pemegang polis (orangtua) meninggal dunia.

Dengan UP 100 juta, maka dana tahapan yang diterima adalah:

–          SD (10%) sebesar 10 juta. Insya Allah cukup.

–          SMP (20%) sebesar 20 juta. Insya Allah cukup.

–          SMA (25%) sebesar 25 juta. Kurang sekitar 6 juta.

–          PT (45%) sebesar 45 juta. Kurang sekitar 5 juta.

–          Beasiswa per tahun selama kuliah (4-5 tahun), persentasenya dihitung dari saldo rekening tabungan akhir tahun yang ada pada saat itu. Di sinilah nasabah baru mendapat keuntungan dari dana yang telah ia bayarkan. Besarnya kira-kira 10-20% dari UP.

Untuk mendapatkan UP 100 juta, jika masa pembayaran premi 18 tahun (anak baru lahir), usia orangtua sekitar 30 tahun, maka yang harus dibayar adalah 100 juta dibagi 18 tahun, yaitu 5,6 juta per tahun atau 470 ribu per bulan (dibulatkan). Jika anak kita telah berusia 3 tahun, maka masa pembayarannya 15 tahun, dan premi bulanannya menjadi 560 ribu. (Lebih mahal. Itulah sebabnya, waktu terbaik mempersiapkan dana pendidikan adalah sedini mungkin).

Itu gambaran umum asuransi pendidikan yang biasanya ditawarkan perusahaan asuransi. Ada asuransi pendidikan yang memakai skema sedikit berbeda, dengan total dana tahapan mencapai 250% bahkan lebih, tapi preminya lebih mahal.

Tabungan Pendidikan

Selain asuransi pendidikan, ada pula yang disebut tabungan pendidikan. Bedanya, asuransi pendidikan diterbitkan perusahaan asuransi, tabungan pendidikan dikeluarkan oleh bank. Dibanding asuransi pendidikan, tabungan pendidikan memberikan nilai tunai yang lebih besar karena ada bunganya. Besar bunganya sedikit di bawah bunga deposito dan lebih tinggi dari rekening biasa; saat ini sekitar 4-5%.

Tabungan pendidikan juga ada asuransi jiwanya dan fasilitas bebas premi. Hanya asuransi jiwanya sangat kecil, yaitu (dari sebuah produk yang pernah saya lihat) antara 5 s.d. 20 kali setoran bulanan, tergantung kapan meninggalnya. Jadi jika setoran bulanannya 500 ribu, premi asuransi jiwanya antara 2,5 juta s.d. 10 juta.

Sekarang, tabungan pendidikan juga ada yang menawarkan asuransi jiwa lebih besar, sampai 320 x hingga 480 x setoran bulanan, dan ada pula yang disertai rider kesehatan. Namun tambahan manfaat itu akan mengurangi porsi tabungan antara 10% hingga 30%.

Di sini, tabungan pendidikan menjadi tidak ada bedanya dengan asuransi pendidikan tradisional, yaitu sama-sama tergolong asuransi endowment (dwiguna; asuransi+tabungan). Namun tabungan pendidikan memberikan kelebihan lain, yaitu dana lebih mudah diambil (karena sifatnya tabungan), besar pengambilannya terserah kita, dan waktu pengambilan dana bisa kapan saja (jumlah dana dan waktu pengambilan dana tidak tercantum di perjanjian).

Tinjauan Asuransi Pendidikan Jenis Endowment

Sekarang mari kita tinjau asuransi pendidikan endowment tsb dengan beberapa pertanyaan.

Pertama, apakah dana tahapan yang diberikan cukup membantu pada saat nanti dibutuhkan? Jika asumsi inflasi 10% terpenuhi atau kurang dari itu, maka dananya cukup. Kurang-kurang sedikit bisalah kita tambah dari uang sendiri.

Pada kenyataannya, biaya pendidikan mungkin naik lebih besar daripada asumsi tsb. Maka kalau mau lebih aman, kita perlu menggunakan asumsi 15% atau bahkan 20%, dan jika begitu, maka premi yang kita bayarkan bisa mencapai 2 hingga 4 kali lipat.

Selain itu, kalaupun inflasi pendidikan hanya 10% atau kurang, premi yang dibayarkan sebesar 470 ribu per bulan itu sebetulnya terlalu mahal. Jika uang itu kita taruh di deposito dengan bunga 6% per tahun, maka total yang kita dapat bukan lagi 100 juta, melainkan 160-an juta. Hanya memang tidak ada asuransinya.

Kedua, jika pemegang polis meninggal dunia, apakah dana tahapan tetap diterima? Ya. Bahkan ada pula lumpsum sebesar 100 juta.

Tapi bicara tentang asuransi jiwa, sesungguhnya UP 100 juta itu sangatlah kecil. Jika pemegang polis atau orangtua meninggal dunia, uang 100 juta itu jika dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari mungkin akan habis dalam satu-dua tahun.

Adakah yang Lebih Murah?

Kita lanjutkan tinjauan kita.

Ketiga, apakah ada cara yang lebih murah? Ada, yaitu dengan menggunakan produk asuransi mutakhir yang disebut unit link. Unit link adalah asuransi plus investasi. Model investasi pada unit link sama dengan reksadana, yaitu manajer investasi mengalokasikan dana nasabah ke saham, campuran saham dan obligasi, atau campuran obligasi dan deposito (tergantung jenis reksadananya).

Di sini unit link berbeda dengan endowment yang merupakan gabungan antara asuransi dan tabungan. Apa bedanya investasi dengan tabungan? Investasi mengandung harapan adanya keuntungan yang lebih besar di masa yang akan datang, sementara tabungan hanya menghasilkan sejumlah yang dikumpulkan ditambah bunga. Karena potensi hasilnya yang lebih besar itu, maka investasi mengandung risiko kerugian, sementara tabungan lebih aman. Perbedaan lainnya, hasil investasi bisa mengungguli inflasi, nilai tabungan bisa dipastikan akan tergerus inflasi.

Nilai tunai pada asuransi endowment merupakan tabungan karena jumlahnya dijamin. Sedangkan nilai tunai pada unit link merupakan hasil investasi, jumlahnya tidak dijamin tapi bisa lebih besar.

Pilih mana: dijamin tapi jumlahnya kecil, atau tidak dijamin tapi jumlahnya bisa lebih besar?

Selain memberikan peluang retur investasi yang lebih besar dari inflasi, unit link juga memberikan UP jiwa yang jauh lebih besar.

Sekadar gambaran, dari mesin program unit link yang saya punya, premi 470 ribu/bulan selama 18 tahun, untuk orangtua dengan usia 30 tahun, akan memberikan manfaat:

1. “Dana tahapan” dengan jumlah yang sedikit lebih besar dibanding yang diberikan asuransi pendidikan endowment, yaitu 10 juta (masuk SD), 20 juta (SMP), 31 juta (SMA), 50 juta (PT). Total 110 juta.

2. Bonus 10 juta per tahun selama 5 tahun di PT, diberikan jika asumsi investasi minimal 10% per tahun terpenuhi.

Sampai di sini, total “dana tahapan” mencapai 160 juta, lebih besar daripada total dana yang disetor sebesar 101 juta. Istilah dana tahapan saya taruh di antara tanda petik (“), karena dana unit link pada dasarnya bisa diambil berapa saja dan kapan saja, asalkan masih ada sisa untuk membayari biaya asuransi jiwa. Sama seperti halnya tabungan pendidikan, waktu pengambilan dana dan besarnya dana tidak tercantum dalam polis.

3. UP jiwa sebesar 300 juta, diberikan jika orangtua meninggal dunia. Manfaat ini berlaku seumur hidup, bukan hanya selama masa pembayaran premi.

4. Hasil investasi yang terus berkembang dan membesar, yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk dana pensiun dan tambahan warisan. Manfaat ini membutuhkan terpenuhinya asumsi investasi minimal 13% per tahun.

Skema dan manfaat tsb didapat dengan pembagian porsi asuransi sebesar 230 ribu dan porsi investasi sebesar 240 ribu. Selain itu, sejumlah rider (asuransi tambahan) dapat pula ditambahkan, seperti manfaat rawat inap dan pembedahan di RS, perlindungan terhadap sakit kritis, perlindungan dari kecelakaan, perlindungan dari cacat total, dan manfaat payor (pembebasan premi plus pembayaran premi jika pemegang polis mengalami sakit kritis/cacat total). Jika manfaat-manfaat tambahan tsb diambil, maka komposisi asuransi dan investasi bisa berubah, dan itu mengubah pula dana tahapan ataupun UP jiwa yang bisa diberikan.

Meski hasil investasi pada unit link tidak dijamin, bukan berarti akan rugi. Ada beberapa cara untuk melindungi hasil investasi supaya menghasilkan retur yang optimal, salah satunya dengan diversifikasi dana atau penyebaran dana pada beberapa instrumen. Dana unit link diinvestasikan pada berbagai instrumen investasi, ada yang murni saham (reksadana saham), ada yang campuran saham dan obligasi (reksadana campuran/berimbang), dan ada yang pada obligasi dan deposito (reksadana pendapatan tetap). Khusus untuk keperluan pendidikan, komposisi yang cukup ideal untuk menghasilkan retur optimal (cukup tinggi tapi juga cukup aman) adalah 20% reksadana saham, 30% reksadana campuran, dan 50% reksadana pendapatan tetap. Dengan komposisi ini, maka mencapai retur 13% per tahun terbilang cukup realistis.

Untuk mendapatkan manfaat yang kira-kira sama dengan yang diberikan asuransi endowment, yaitu dana tahapan plus UP jiwa 100 juta, unit link saya bisa mengenakan premi antara 300 ribu s.d. 350 ribu/bulan.

Simpulan

  1. Cara terbaik mempersiapkan dana pendidikan anak adalah dengan menabung atau berinvestasi pada instrumen yang memberikan retur lebih besar daripada inflasi (kenaikan harga). Pada saat yang sama, orangtua juga harus mengambil asuransi jiwa, agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada dirinya, rencana pendidikan anak tetap terjaga. Asuransi jiwanya dapat disatukan dengan investasi, dapat pula dipisah. Masing-masing ada plus-minusnya.
  2. Contoh tabungan yang kebal inflasi adalah emas dan perak. Tabungan jenis lain (celengan, rekening bank, deposito) lebih baik dihindari untuk jangka panjang.
  3. Contoh investasi antara lain saham dan reksadana. Kedua instrumen ini menawarkan retur yang lebih tinggi dari emas dan perak, tapi mengandung risiko kerugian. Risiko kerugian bisa diminimalkan dengan pengetahuan yang mencukupi tentang dunia investasi.
  4. Asuransi pendidikan jenis endowment menjamin sejumlah dana tahapan pendidikan dan uang pertanggungan jiwa jika meninggal dalam masa perjanjian. Tapi karena nilai tunainya berbentuk tabungan, ia dapat tergerus oleh inflasi. Untuk menyiasatinya, cicilan tabungan kita harus lebih besar dari seharusnya. Selain itu UP jiwanya terbilang kecil, hanya sejumlah total uang yang rencananya kita bayarkan, dan berlaku hanya selama masa perjanjian.
  5. Tabungan pendidikan hampir mirip dengan asuransi pendidikan. Nilai tunai lebih besar karena ada bunga, namun asuransi jiwa lebih kecil. Selain itu tabungan pendidikan lebih fleksibel dalam hal waktu pengambilan dana dan besarnya dana yang dapat diambil.
  6. Asuransi unit link menawarkan hasil investasi yang lebih besar daripada endowment, UP jiwa yang lebih besar dan berlaku seumur hidup, serta dapat ditambahkan rider (manfaat asuransi lainnya) yang beragam. Dana unit link tidak dijamin, tapi keamanan dana serta hasil investasi dapat dioptimalkan dengan pengaturan komposisi instrumen yang tepat. []

Baca selanjutnya:

Prinsip dan Tips Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak