Tag Archive | sakit kritis

20 Persen Masyarakat Menengah-Atas Jatuh Miskin Akibat Penyakit Kritis

Indonesia rawan penyakit kritis dibandingkan negara-negara maju. Berbeda dengan kondisi di negara maju, di Indonesia, 80 persen masyarakatnya jauh dari harapan hidup sehat. Banyak masyarakat kita akhirnya menderita penyakit kritis karena tak kunjung berobat, akibat kekurangan uang. Sementara itu, 20 persen masyarakat menengah ke atas uangnya habis untuk mengobati penyakit berat. Hal ini terjadi karena mereka kurang peduli untuk melakukan pemeriksaan dini.

“Mayoritas penduduk Indonesia cenderung tidak waspada dan menunda pengobatan, sehingga penyakit terlambat diketahui atau sudah telanjur stadium lanjut. Masyarakat seringkali mengabaikan check up atau deteksi dini,” ujar pengamat kesehatan Dr Handrawan Nadesul di Jakarta.

World Health Organization (WHO) dan World Bank memperkirakan, 12 juta penduduk Indonesia didiagnosa menderita penyakit kritis tahun lalu. Sementara itu, tahun 2008, ada 36,1 juta orang meninggal dunia akibat penyakit kritis.

Berdasarkan banyaknya penderita, penyakit kritis pada urutan pertama di Indonesia adalah jantung, kanker dan tumor, serta hipertensi. Berdasarkan prediksi Kementerian Kesehatan tahun 2011, jumlah penderita kanker akan mendekati penyakit jantung dan stroke, yaitu sekitar 230 ribu. Sementara itu, jumlah pasien kanker, penyakit jantung, dan stroke diproyeksikan mencapai 750 ribu.

Menurut Dr Hendrawan, penanganan penyakit kritis sejak awal sangat penting. Sebab, jika sudah terlambat, biayanya akan semakin tinggi. Check up bisa mengurangi biaya perawatan kesehatan. Pasalnya, semakin dini penyakit diketahui, pengobatan akan semakin mudah dan murah.

Jika sudah stadium lanjut, pengobatan bakal lebih sulit dan biayanya pun mahal. “Meski akhirnya berhasil diobati, penyakit sudah telanjur menyebar. Pasien yang sembuh juga akan cacat, karena salah satu organ tubuhnya telah rusak. Misalnya penyakit stroke, walaupun sudah diobati dan sembuh, pasien tetap saja cacat. Penderita tidak bisa sehat seperti semula, sehingga kualitas hidupnya akan buruk,” jelas dia.

Itulah sebabnya, lanjut Handrawan, check up perlu dilakukan. Selain meminimalisasi biaya, deteksi dini bermanfaat untuk menjaga kualitas hidup kita.

“Salah satu kesalahan masyarakat Indonesia adalah masih percaya pada pengobatan alternatif. Ketika merasa nyeri bukannya langsung berobat, malah mampir ke orang pinter dulu. Akibatnya, saat diperiksakan ke dokter, kondisinya sudah ‘terlambat’,” imbuhnya.

Handrawan menjelaskan, penduduk Indonesia lebih berisiko terkena penyakit kritis terutama karena enam faktor:

  1.  Wawasan kesehatannya yang masih rendah.
  2. Sistem family doctor belum menjadi tradisi.
  3. Check up belum menjadi kegiatan rutin.
  4. Tidak semua masyarakat mampu berobat setiap sakit.
  5. Meningkatnya pendapatan kalah cepat dengan percepatan kenaikan ongkos berobat.
  6. Dampak globalisasi yang terakulturasi, seperti gaya hidup kebarat-baratan, terutama mengonsumsi makanan cepat saji yang mengandung tinggi kalori dan lemak.

“Menu harian yang tidak sehat menjadi penyebab utama penyakit kanker. Bukan hanya porsi makan yang harus diperhatikan, tetapi juga kualitas makanan yang dikonsumsi,” katanya.

Ia memaparkan, jajanan banyak yang mengunakan bahan-bahan kimia yang mengandung zat adiktif. Contohnya, dalam krupuk dan kripik terdapat obat penggaring. Demikian pula dalam mi ada obat antilengket.

“Gula pasir dan bahan penyedap makanan juga mengandung bahan kimia. Orang yang mengonsumsi makanan tersebut dalam menu harian, selama puluhan tahun, tentu beresiko terkena kanker,” tandasnya.

Untuk menghindari kanker, Dr Handrawan menganjurkan:

  • mengonsumsi makanan sehat, seperti ubi, singkong dan daunnya, bayam, kangkung, serta buah-buahan.
  • Selain itu, masyarakat juga harus sering berolahraga, misalnya jalan kaki selama 45-50 menit.

“Saat ini, orang-orang yang paling sehat di dunia berasal Okinawa, Jepang. Usia mereka bisa mencapai angka maksimal manusia hidup, yakni 120 tahun. Ini dikarenakan mereka masih mengonsumsi makanan tradisional yang sehat,” ujarnya.

Dr Handrawan menjelaskan, penyakit kritis yang beresiko kematian menguras biaya yang tinggi, karena memerlukan terapi yang mahal. Pengobatannya membutuhkan peralatan medis yang canggih.

Biaya itu akan sangat membebani keuangan keluarga. “Oleh karena itu, check up merupakan pemeriksaan yang wajib dilakukan. Bagi yang berpotensi terkena kanker atau orangtua dan keluarganya pernah terkena kanker, sebaiknya check up enam bulan sekali. Sedangkan orang yang tidak berpotensi kanker bisa check up setahun sekali,” imbuhnya.

Menjalani gaya hidup sehat dan melakukan check up medis, lanjut Handrawan, merupakan upaya yang efektif untuk meminimalisasi risiko terkena penyakit kritis. Apalagi, kemajuan teknologi saat ini membuat check up medis lebih akurat dalam mendeteksi penyakit kritis sejak dini.

sumber
Iklan

Ketika Resiko Hidup Tidak Bisa Dipilih

 

Akhir bulan September kemarin saya dihubungi oleh calon nasabah yang ingin bertanya tentang asuransi jiwa Allianz Syariah.  Beliau bertanya sampai hal detil tentang asuransi jiwa Allianz Syariah.  Diskusi melalui media sosial berlangsung sejak sore-malam- hingga larut malam.  Sampai pada keputusan untuk ketemu saya esok hari di kantor beliau guna mengisi form pengajuan asuransi jiwa.

Waktu pertemuan sangat singkat, hampir tidak ada diskusi lagi.  Beliau sangat ingin segera memiliki proteksi bagi dirinya, dan terutama agar penghasilannya tidak terganggu jika terjadi resiko pada beliau.  Pada siang hari itu, selepas ibadah sholat Jumat, beliau langsung setuju dengan ilustrasi proteksi yang saya tawarkan, mengisi form pengajuan asuransi jiwa Allianz Syariah, dan tandatangan.

Saya memang belum lama menjadi agen asuransi Allianz Syariah, baru menjelang 4 tahun.  Dalam masa  tahun tersebut, saya rasa kali itulah proses permintaan pengajuan asuransi yang paling singkat yang saya temui.  Untuk menjawab rasa penasaran saya, saya tanyakan pertimbangan beliau dalam memiliki asuransi jiwa.

“Mbak Estri, beberapa bulan lalu,  istri saya terdiagnosa kanker payudara.  Saya bagaikan disambar petir ketika mendengar kabar itu.  Bagaimana tidak, istri saya itu sehat-sehat saja, baik-baik saja, tidak pernah rawat inap, tidak ada gejala apapun yang tampak.  Kok tau-tau divonis kanker…  ” cerita beliau sedih..

“Lalu solusinya bagaimana menurut dokter pak?” tanya saya

“Operasi dan kemoterapi…  Mbak Estri tau, berapa biaya kemoterapi??? 70 juta sekali kemoterapi !!!  Mahal banget kan??!!! Padahal istri saya perlu berkali-kali kemoterapi.  Untungnya, semua biaya pengobatan istri saya ditanggung oleh atasan saya.  Kalau pakai uang sendiri, saya tidak tau akan bagaimana ceritanya…”

Saya menyimak cerita beliau yang sangat berapi-api, seperti ingin membuang semua rasa yang sudah lama ditahan dalam hati.

“Itulah sebabnya, saya ingin punya proteksi untuk diri saya, sehingga bila terjadi resiko pada saya, kondisi keuangan saya untuk keluarga tidak terganggu…”

Dari beberapa ilustrasi proteksi yang saya tawarkan, beliau memilih skema proteksi sebagai berikut:

Profil:  Pria, usia 33 tahun, pekerjaan kelas 4

Premi = 850 ribu

Manfaat:

UP dasar                                 = 500 juta

UP termlife                            = 500 juta

UP kecelakaan                       = 500 juta

UP cacat tetap total              = 500 juta

UP 49 sakit kritis                = 500 juta

# Total proteksi = 2.5 Miliar

 

brs

 

Beliau membeli polis asuransi karena terinspirasi oleh kondisi pasangan hidupnya  yang SUDAH mengalami resiko.

Resiko hidup tidak bisa dipilih, tapi kita harus punya strategi  cara pasti menyiapkan dana tunai jumlah besar, yang siap dicairkan dalam waktu singkat.

Bijaksanalah mengelola keuangan, miliki proteksi pada saat Sehat, pada saat Belum butuh, sehingga Asuransi masih bisa menerima pengajuan aplikasi asuransi Anda.

 

Diskusikan kebutuhan proteksi Anda dengan Agen Asuransi Bersertifikasi

Bingung memilih agen asuransi online?  Ini kriterianya:  Memilih Agen Asuransi

Bila Anda tertarik memiliki proteksi sakit berat, silahkan hubungi saya:

Estri Heni

WA:  0817 028 4743

 

Ingin langsung mendapatkan ilustrasinya?  Klik:  PERMOHONAN ILUSTRASI

 

 

 

 

 

 

Klaim Sakit Kritis

Allianz membayar klaim Sakit Kritis nasabah, yaitu kasus Serangan Jantung.

IMG-20151105-WA0071

Allianz memiliki rider/manfaat tambahan terhadap sakit kritis ada 2 macam: CI+ dan CI100.  Apa bedanya?

Untuk CI+, klik DISINI.

Untuk CI100, klik DISINI.

Apa fungsi proteksi sakit kritis?  Detilnya DISINI

Keunggulan rider Sakit Kritis dari Allianz:  klik DISINI

 

Artikel terkait, klik tautan dibawah ini:

Premi 600 ribu dapat UP sakit kritis, kecelakaan, cacat @500 juta dan UP meninggal 1 Miliar

Premi 1 juta dapat UP sakit kritis, kecelakaan, cacat, meninggal @ 1 Miliar

Mau diskusi / ilustrasi sesuai profil Anda? Kontak saya DISINI

Operasi Batu Ginjal, apakah dicover asuransi?

 

Kali ini saya hanya sekedar bercerita apa adanya tentang sepupu yang baru saja operasi batu ginjal.  Sepupu saya, laki-laki 37 tahun, seorang manajer finance di sebuah perusahaan.  Sepupu saya ini SEHAT terus, rajin OLAHRAGA bersepeda,  TIDAK ADA keluhan yang dirasakan.  Sampailah pada keadaan dia menemukan kondisi dimana saat itu air seninya berwarna merah.

batu-ginjalBeliau cek ke klinik, hasilnya:  ada protein di urin.  Konsul ke dokter Urologi, USG nya dinyatakan ada batu ginjal di kanan kiri dan harus operasi untuk ambil batu di ginjal kanan.  Sementara batu di ginjal kiri bisa dilakukan tindakan ESWL saja, tanpa perlu operasi.  Karena sudah syok mendengar kata “operasi”, maka istrinya yang melanjutkan konsultasi.  Dokter menyarankan CT Urologi untuk detilnya.  Informasi dari dokter:  batu ginjal tersebut termasuk jenis “batu tanduk rusa” karena berukuran besar yang sudah hampir menutupi bagian kalises ginjal, bila tidak diambil maka konsekuensinya 2:

  • Batu akan turun menutupi ureter, pasien bisa meninggal dunia
  • Bila pasien hidup, maka harus cuci darah

Pasien berusaha mencari second opinion ke beberapa Urolog lain.  Hasilnya sama:  harus operasi.  Bermaksud mencoba BPJS, dirujuk ke RS rekanan BPJS, yang ternyata jaraknya jauh dari rumah.  Akhirnya diputuskan menggunakan askes dari kantor saja, dengan pertimbangan:  RS rekanan dekat dari rumah.  Sehingga memudahkan istri untuk bolak balik, dan tidak kelamaan meninggalkan batita di rumah.

Karena dokter sudah tau prosedur klaim asuransi, dan beliau meminimalkan konfirmasi dari pihak asuransi untuk kasus pasien tersebut.  Mengingat kesibukan beliau menangani pasien lebih banyak perlu waktu, ketimbang harus menjawab pertanyaan dari pihak asuransi.  Maka untuk mempercepat pelayanan dan tindakan, saran dokter:  bila ingin memanfaatkan askes kantor, masuknya dari UGD saja.  Bukan dari poliklinik.

Prosedur diikuti, operasi dilakukan.  Ternyata setelah observasi pasca operasi, ditemukan adanya rembesan darah yang masih keluar dari ginjal.  observasi dilanjutkan.  Bila didapati rembesan semakin banyak, maka harus dioperasi ulang.  Pasien semakin tidak nyaman mendengar hasil observasi, terasa masih nyeri pasca operasi, ditambah hati tidak tenang, terbayang anak istri…  Sungguh perasaan yang campur aduk…

Curhat istri di rumah:  “syok dengar penjelasan dokter tentang konsekuensi bila tidak dioperasi.  Padahal pasien takut dioperasi.  Dengan pertimbangan:  mumpung masih muda, recovery pasca operasi akan lebih mudah daripada ditunda.  Sedih, di rumah hanya bisa menangis.  Balita di rumah demam tinggi, sementara suami di rumah sakit masih observasi pasca operasi.  Ditambah pula keterangan dokter tentang adanya rembesan itu… hadeeuuuhh”

—————————-

Saya tidak berada di posisi tersebut, tapi saya bisa merasakan bagaimana bila ada di posisi pasien dan bagaimana bila ada di posisi istrinya.  Jika bisa dibilang : padahal kasusnya “hanya” operasi batu ginjal saja,  perasaan pasien dan istri bisa sedemikian hebohnyaa…

Bagaimana bila kasusnya lebih parah dari itu????

 

Pelajaran berharga yang saya dapat dari kasus ini:

Asuransi Kesehatan penting untuk bisa menggantikan biaya rumah sakit saat pasien harus dilakukan tindakan medis dan rawat inap, namun tidak dapat menggantikan “biaya yang tersembunyi”.  Apa saja biaya yang tersembunyi itu?  karena kasusnya “hanya” operasi batu ginjal, maka biaya yang tersembunyi mungkin hanya ini:  akomodasi anggota keluarga yang menunggu pasien.

Baca juga:  Biaya Tersembunyi

Berada di posisi istri.  Beliau sampai hanya bisa menangis di rumah karena terbayang sang suami di RS.  Padahal kasusnya “hanya” operasi batu ginjal, yang masih bisa recovery saja walaupun butuh waktu, sang istri menangis terus di rumah.  Pernahkah terbayang, (karena sang suami sehat, olahraga, tidak ada keluhan) bagaimana bila yang terjadi adalah: suami terlambat terdeteksi ada batu di ginjalnya, sehingga terjadi konsekuensi seperti yang disampaikan dokter?

Bagaimana bila kasusnya sampai terjadi gagal ginjal?  Pasien harus bolak balik cuci darah, dan itu harus terus menerus???  Pastinya:

  1.  Istri sampai tidak bisa menangis lagi karena sudah kering airmata
  2. Istri tidak bisa fokus: anak 2 (usia sekolah dan batita).  Antara pekerjaan antar jemput sekolah si kakak, meninggalkan batitanya, dan bolakbalik temani suami ke RS.  Karena istri tidak bisa setir mobil, otomatis minta bantuan opa untuk setir mobil
  3. Bila pasien diberi umur panjang, kualitas hidup pasien menurun, produktifitas kerja berkurang, bisa saja perusahaan akan memintanya berhenti.  Artinya apa?  Penghasilan bisa berhenti juga.  Sementara istri berprofesi sebagai “Wonder Mom”, alias ibu rumah tangga luarbiasa.  Boleh jadi, biaya tindakan medisnya bisa di-cover asuransi kesehatan.  Namun, bagaimana dengan biaya hidupnya?
  4. Bila pasien diberi umur pendek, sudah pasti penghasilan juga berhenti.  Bagaimana biaya hidup keluarga yang ditinggalkan?  Bagaimana rencana sekolahkan anak setinggi2nya?  Bagaimana rencana perjalanan ibadahnya?  Bagaimana melunasi cicilan rumah dan mobilnya?  Bagaimana???

Saya meyakini rejeki sudah diatur.  Namun tidak ada salahnya mempersiapkan kebaikan bagi keluarga tercinta, bila resiko terburuk terjadi.  Sudah tepatkah rencana keuangan keluarga Anda?  Jangan lupa sisihkan sedikit penghasilan Anda untuk melindungi penghasilan Anda.

Siapkan proteksi sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial Anda.

 

Allianz memiliki rider CI100, yaitu manfaat tambahan proteksi terhadap 100 jenis sakit kritis, cover sampai nasabah usia 100 tahun.  Yang termasuk sakit kritis untuk ginjal adalah kasus:

  • Pengangkatan satu ginjal  (early stage, cair 50% UP)
  • Penyakit Ginjal Kronis (early stage, cair 50% UP)
  • Gagal ginjal (advance stage, cair 100% UP)

*defenisi masing2 kasus lebih jelas ada pada polis

 

Kasus sakit kritis merupakan keadaan yang memerlukan biaya sangat besar.  Bila finansial Anda mendukung, maka pastikan Anda memiliki proteksi yang besar pula, bukan hanya sekedar ada.

Silahkan KONTAK SAYA untuk mendapatkan ilustrasi proteksi sakit kritis.

 

Salahkah berinvestasi di Asuransi?

 

life-insurance-protection-investment-MarketExpress-inMembeli produk asuransi mestinya diniatkan untuk tujuan memperoleh proteksi atau perlindungan dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Bahkan walaupun produk asuransi yang diambil itu jenisnya unit-link (asuransi jiwa yang dikaitkan dengan investasi), niat utamanya tetap proteksi, bukan investasi.

Salahkah jika unit-link diniatkan untuk investasi? Ini bukan soal benar-salah, tapi jika tujuannya untuk investasi, ada banyak instrumen lain yang bisa memberikan keuntungan lebih besar dengan biaya yang lebih murah. Misalnya obligasi, reksadana, dan saham. Jika tidak mengerti tentang obligasi, reksadana, dan saham, atau tidak punya waktu untuk mempelajarinya, anda bisa berinvestasi di instrumen tradisional yang lebih sederhana dan mudah dipahami, seperti deposito, emas, dan properti.

Perlu diketahui juga, investasi unit-link pun sebetulnya sama persis dengan reksadana. Reksadana adalah kumpulan dana masyarakat yang dikelola oleh manajer investasi, dan disalurkan ke instrumen investasi seperti deposito, obligasi, dan saham, atau campuran dari ketiganya (tergantung jenis reksadananya). Investasi reksadana mengandung risiko, dan investasi unit-link pun sama. Bedanya, struktur biaya pada reksadana jauh lebih rendah daripada struktur biaya pada unit-link, sehingga imbal hasil yang diharapkan pun bisa lebih tinggi.

Perbedaan Asuransi dengan Investasi

Asuransi bukan saja berbeda dengan investasi, tapi keduanya memang memiliki sifat-sifat yang bertolak belakang. Jika disatukan, maka memperbesar yang satu akan memperkecil yang lainnya. Contoh dalam produk unit-link, jika uang pertanggungannya diperbesar, biaya asuransi (tabarru) akan lebih besar pula sehingga nilai investasinya otomatis menjadi lebih kecil. Sebaliknya, jika seorang nasabah ingin nilai investasinya lebih besar, uang pertanggungan asuransinya harus diperkecil.

Secara ringkas, perbedaan asuransi dan investasi adalah sebagai berikut.

  1. Asuransi tujuannya melindungi uang supaya tidak habis, investasi tujuannya mengembangkan uang supaya tambah banyak.

Misalnya anda punya tabungan 100 juta, dengan asuransi kesehatan, uang 100 juta itu tidak perlu terpakai jika anda mengalami sakit atau kecelakaan. Sedangkan investasi, misalnya anda punya tabungan 100 juta, anda berpikir harus disalurkan ke mana uang itu supaya dalam 5 tahun menjadi 200 juta.

  1. Asuransi itu jaga-jaga dari hal-hal tidak diinginkan yang bisa terjadi kapan saja, investasi itu persiapan untuk hal-hal yang diinginkan di masa depan.

Hal-hal tidak diinginkan yang bisa terjadi kapan saja misalnya rawat inap, sakit kritis, kecelakaan, cacat tetap, dan meninggal dunia. Kapan saja itu mungkin tahun depan, mungkin bulan depan, atau bahkan mungkin esok hari, kita tak pernah tahu. Datangnya kejadian-kejadian tersebut tidak memandang apakah kita sudah punya uang atau tidak. Untuk itulah kita butuh asuransi supaya dampak keuangannya bisa ditanggulangi atau diminimalkan.

Sedangkan hal-hal yang diinginkan di masa depan itu contohnya pendidikan anak, ibadah haji, dan pensiun. Semua itu sama-sama butuh dana, tapi waktunya bisa diketahui atau direncanakan sehingga setiap orang bisa mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari. Cara mempersiapkannya ialah dengan investasi (jika jangka waktunya relatif panjang) atau menabung (jika jangka waktunya pendek, kurang dari satu tahun).

  1. Asuransi itu jangka pendek, investasi itu jangka panjang.

Asuransi itu jangka pendek karena nilai dari manfaat asuransi akan semakin mengecil seiring waktu. Misalnya anda punya uang pertanggungan jiwa 1 miliar, saat ini nilainya mungkin terasa besar, tapi semakin lama nilainya semakin mengecil karena faktor inflasi. Oleh karena itu, setiap periode tertentu, misalnya setiap 5 tahun, uang pertanggungan asuransi harus ditingkatkan (upgrade).

Sedangkan investasi itu jangka panjang karena keuntungan investasi akan semakin membesar seiring waktu. Semakin panjang masa investasi, keuntungan yang dihasilkannya akan semakin besar.

Baca juga: Asuransi Jangka

Pendek, Investasi Jangka Panjang.

  1. Asuransi itu tidak butuh waktu untuk menjadi besar, investasi itu butuh waktu untuk menjadi besar.

Ini perbedaan lain yang harus disadari. Banyak orang menolak asuransi karena mendingan uangnya ditabung atau diinvestasikan saja. Padahal jika musibah datang dalam waktu dekat, tentu tabungannya belum banyak dan yang belum banyak itu bisa habis semuanya dalam sekejap. Dengan asuransi, dalam waktu singkat telah tersedia sejumlah besar dana untuk menanggulangi dampak dari musibah yang bisa terjadi kapan saja, karena asuransi itu memakai prinsip berbagi risiko di antara sejumlah orang.

  1. Asuransi itu kekuatan bersama, investasi itu kekuatan sendiri.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang datangnya tidak terduga, mana yang lebih efektif: melakukannya sendirian atau melakukannya bersama-sama?

Asuransi, baik konvensional maupun syariah, bisa mengumpulkan dana besar secara cepat karena ada banyak orang yang terlibat di dalamnya sebagai peserta. Setiap peserta merelakan uangnya dipakai untuk membayar klaim peserta lain, dan tidak keberatan jika dirinya sendiri tidak memperoleh uang klaim (artinya tidak terjadi musibah).

Sedangkan investasi adalah murni uang sendiri berikut pengembangannya. Nilai investasi pada produk unit-link adalah milik tiap-tiap peserta, tidak tercampur sama sekali dengan uang dari peserta lain. Dalam asuransi yang disebut “asuransi pendidikan” pun, dana tahapan yang diterima peserta seluruhnya berasal dari uang sendiri, tidak ada sama sekali uang dari peserta lain.

  1. Asuransi itu biaya dan biaya itu hangus, investasi itu cara mengembangkan dana agar tumbuh lebih besar.

Dalam perencanaan keuangan, asuransi itu bagian dari biaya seperti halnya pengeluaran untuk listrik dan telepon. Yang namanya biaya, tentu hangus alias tidak kembali. Dan sebagai gantinya, kita memperoleh proteksi. Entah musibah terjadi atau tidak, kita tetap memperoleh proteksi. Proteksi tidak bisa dilihat atau diraba secara fisik, tapi bisa dirasakan dalam bentuk ketenangan.

Sedangkan investasi bukanlah biaya, melainkan cara kita mengembangkan uang sehingga menjadi lebih besar dari sebelumnya. Dalam investasi ada biayanya, tapi sebisa mungkin carilah instrumen investasi yang paling minim biayanya, supaya hasilnya makin maksimal.

Perbedaan Biaya Unit-link dengan Reksadana

Membicarakan asuransi dalam kaitan dengan investasi, mau tak mau membawa kita pada perbincangan tentang unit-link. Seperti telah disinggung di atas, unit-link sebaiknya tetap diniatkan untuk proteksi. Sedangkan untuk investasi, lebih disarankan melalui reksadana karena struktur biayanya lebih kecil.

Perbedaan struktur biaya pada unit-link dan reksadana dapat dilihat pada tabel di bawah:

No Komponen Biaya Unit-link Reksadana
1 Biaya administrasi bulanan Ada, kisaran 20-40 ribu per bulan Tidak ada
2 Biaya akuisisi Ada dan sangat besar Tidak ada
3 Biaya asuransi (tabarru) Ada dan sangat besar Tidak ada
4 Biaya top up (penyetoran, pembelian) Ada, antara 2-5% Ada, antara 0-3%
5 Biaya penarikan dana Umumnya tidak ada Ada, sekitar 1%
6 Biaya pengelolaan investasi Ada, sekitar 1-2% per tahun Ada, sekitar 1-2% per tahun
7 Biaya bank kustodian Tidak ada Ada, sekitar 0,2-0,25% per tahun
8 Biaya pengalihan dana (switching) Umumnya tidak ada, atau baru ada jika lebih dari 4 kali swicthing dalam setahun, dengan besar sekitar 1%. Ada, antara 0-1%
9 Biaya pajak pertambahan nilai Ada, 20% dari keuntungan, hanya dikenakan di 3 tahun pertama. Jarang terjadi karena unit-link premi berkala tidak akan untung di 3 tahun pertama. Ada, 20% dari keuntungan, hanya dikenakan di 3 tahun pertama

Penjelasan:

  • Biaya akuisisi adalah potongan yang dikenakan dari premi dasar unit-link (tidak termasuk top up berkala), besarnya variatif, ada yang total 145% selama 5 tahun (seperti di unit-link Allianz), ada yang lebih dari 200%. Biaya akuisisi digunakan sebagian besar untuk komisi dan bonus agen, selebihnya untuk membiayai penerbitan polis, medical check up, dan urusan surat-menyurat. Karena ada biaya akuisisi inilah nilai investasi unit-link akan sangat rendah di tahun-tahun awal.
  • Biaya asuransi (cost of insurance [COI] atau tabarru dalam asuransi syariah) adalah biaya yang dikenakan untuk tiap manfaat asuransi yang diambil. Besarnya tergantung usia, jenis kelamin, pekerjaan, jenis proteksi yang diambil, dan besar uang pertanggungannya. Biaya asuransi dikenakan selama masa proteksi (misalnya untuk asuransi jiwa dasar berarti sd usia tertanggung 100 tahun atau sampai meninggal dunia, mana yang lebih dulu). Adanya biaya asuransi ini menjadikan investasi unit-link sulit diharapkan keuntungannya, karena biaya asuransi atau tabarru ini naik seiring usia.
  • Biaya administrasi, akuisisi, dan asuransi tidak terdapat pada reksadana, oleh karena itu ketiga biaya ini harus dipandang sebagai biaya-biaya untuk mendapatkan manfaat proteksi. Jika tujuan anda membeli unit-link adalah untuk berasuransi, tinggal dilihat apakah biaya-biaya tersebut cukup layak (worth it) dibandingkan dengan manfaat asuransi yang diterima. Tapi jika tujuan anda membeli unit-link lebih ke keuntungan investasi, adanya biaya-biaya ini jelas akan menggerus saldo investasi anda.
  • Biaya nomor 4 sd 9 (top up/pembelian, penarikan, pengelolaan investasi, bank kustodian, pengalihan dana/switching, dan pajak) adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan investasi. Jika hanya membandingkan biaya-biaya ini, sebetulnya biaya antara unit-link dan reksadana tidak terpaut jauh, tapi secara keseluruhan biaya reksadana masih lebih rendah. Jadi, jika anda ingin mendapatkan keuntungan investasi, reksadana lebih disarankan daripada unit-link.
  • Lalu apa fungsi nilai investasi pada unit-link jika memang tidak disarankan untuk mencari keuntungan investasi? Fungsi utamanya adalah untuk melindungi polis unit-link anda supaya proteksinya tetap berlaku. Apa maksudnya? Perlu diketahui, aturan dasar dalam unit-link adalah: proteksi polis tetap berlaku selama tersedia dana cukup untuk membayar biaya asuransi dan administrasi. Keterangan ini selalu dinyatakan dalam setiap proposal unit-link, meski banyak nasabah yang tidak menyadarinya. Jika dana tidak cukup untuk membayar biaya asuransi dan administrasi, maka polis lapse (batal, perlindungan berhenti). Solusinya sebelum itu terjadi, nasabah harus melakukan top up secara manual (menyetor sejumlah dana ke rekening unit-linknya).
  • Nilai investasi pada unit-link juga memiliki fungsi lain yang terkait dengan fungsi utama di atas, yaitu memungkinkan nasabah mengambil cuti premi. Cuti premi artinya berhenti menyetor premi, bisa untuk sementara atau selamanya, dan pada saat yang sama nasabah tetap memperoleh perlindungan asuransi karena biaya asuransi dan administrasi dipotong setiap bulan dari saldo. Fitur cuti premi ini adalah khas pada unit-link, tidak terdapat pada produk asuransi jenis lain.

Mengapa Tidak Asuransi Murni?

Jika asuransi unit-link sebaiknya tetap diniatkan untuk proteksi, mengapa tidak berasuransi di produk asuransi yang murni proteksi saja?

Tentu saja boleh dan baik-baik saja. Tapi masalahnya tidak semua proteksi yang dibutuhkan itu tersedia di pasaran dalam bentuk asuransi murni. Mayoritas perusahaan asuransi sekarang ini berlomba-lomba menerbitkan unit-link. Mereka mungkin punya produk asuransi tradisional yang murni asuransi (term-life), tapi tidak dikembangkan lagi.

Untuk asuransi kesehatan yang menanggung rawat inap, pilihannya banyak baik yang murni maupun unit-link, silakan mau pilih yang mana. Untuk asuransi jiwa yang menanggung risiko meninggal dunia, pilihannya juga banyak baik yang murni maupun unit-link, silakan mau pilih yang mana. Tapi untuk asuransi kecelakaan, cacat tetap, dan penyakit kritis, pada umumnya hanya tersedia sebagai rider di asuransi jiwa dan umumnya di unit-link, jarang yang berdiri sendiri.

Jadi, jika anda ingin mendapatkan proteksi dari kecelakaan, cacat tetap, dan penyakit kritis (dan semua orang butuh ini), pilihannya terbatas pada unit-link. Kalaupun ada di asuransi non-unit-link, ya itu tadi, karena tidak dikembangkan lagi oleh perusahaan asuransi, fitur-fiturnya tidak sebagus yang tersedia di unit-link.

Sebagai contoh, untuk asuransi penyakit kritis yang menanggung mulai tahap awal (early stage), sejauh ini di pasaran hanya tersedia sebagai rider di asuransi jiwa unit-link. Anda akan kesulitan sendiri jika mencari asuransi penyakit kritis tahap awal dalam bentuk asuransi murni non-unit-link. Kalaupun anda menemukan produk tersebut, belum tentu fitur-fiturnya lebih bagus daripada rider penyakit kritis yang ada di unit-link, dan belum tentu pula harganya lebih murah.

Selain itu, unit-link memiliki nilai lebih berupa kepraktisan yaitu cukup satu produk untuk segala manfaat asuransi. Daripada membeli asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi cacat tetap, dan asuransi penyakit kritis secara terpisah-pisah, bukankah lebih praktis jika semuanya disatukan dalam satu produk?

 

Artikel terkait:

Premi 600 ribu, dapat UP 2,5 Miliar

Premi 1 juta-an, dapat UP 4 Miliar

C100 = 100 jenis sakit kritis, sejak tahap awal, cover sampai usia 100 tahun

Asuransi untuk Proteksi

Klaim stoke Nasabahku disetujui

Allianz kembali membuktikan komitmen..

 

Sekilas ceritaku, semoga berguna buat kita semua..

 

Kondisi nasabah:

Usia nasabah 56 tahun.

Premi Rp.  1,2 juta perbulan, baru berjalan 13 bulan.

Terserang stroke hemoragik intraserebral

Tidak ada riwayat hipertensi

Tidak pernah sakit

Pola hidup sehat

 cerebral_hemorrhage

 

Berkas klaim lengkap diajukan 8 November 2013, dan disetujui 23 Jnauari 2014

Masa proses 52 hari kerja

Uang Pertanggungan sejumlah Rp.  200 juta dibayarkan ke rekening nasabah.

 

*  *  *

 

Asuransi bisa dibeli saat tidak membutuhkan, tapi saat dibutuhkan Asuransi tidak bisa dibeli…

Uang kecil beli uang besar, itulah Asuransi..

 

*   *   *

 

 

Seperti diceritakan oleh Ligor Tampubolon

Allianz Life Insurance, area Tangerang

Keunggulan Rider Critical Illness produk “Allisya Protection Plus” Allianz

critical-illness-probability

Program Allisya Protection Plus atau Tapro dari Allianz menyediakan produk rider yang sangat penting untuk dimiliki, yaitu Critical Illness. Rider ini menanggung 49 jenis penyakit kritis. Tersedia dalam dua versi, yaitu CI+ (Critical Illness Plus, klaim tidak mengurangi UP dasar, berlaku sampai usia 70 tahun) dan CI (Critical Illness, klaim mengurangi UP dasar, berlaku sampai usia 85 tahun).

Berikut adalah keunggulan-keunggulan produk ini. Semoga bermanfaat untuk anda yang tengah memilih produk asuransi penyakit kritis, karena nama produk sama belum tentu ketentuannya sama.

1.       Tanpa syarat survival period (masa bertahan hidup)

Survival period atau masa bertahan hidup adalah jangka waktu yang disyaratkan untuk tetap hidup ketika seseorang terdiagnosa sakit kritis. Klaim penyakit kritis baru dapat diajukan jika survival period telah terlewati. Ada yang mensyaratkan harus bertahan hidup selama 14 hari, ada yang 15 hari, ada yang 30 hari. Jika yang bersangkutan meninggal dunia dalam masa survival period, klaim penyakit kritisnya tidak bisa dicairkan. Tapi itu di tempat lain.

Di Allianz, tidak ada syarat survival period. Sebagai contoh, jika seseorang mengalami serangan jantung lalu meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, maka ahli warisnya memperoleh dua manfaat: UP penyakit kritis dan UP meninggal dunia.

2.       Klaim dapat diajukan begitu terdiagnosa memenuhi syarat kondisi kritis, tanpa harus menjalani pengobatan/operasi terlebih dahulu

Beberapa penyakit kritis dapat ditunda jadwal operasinya. Nah, sebelum operasi dilakukan, klaim dapat diajukan asalkan kelengkapan syarat-syaratnya terpenuhi.

3.       Menanggung kondisi cacat tetap total

Di antara daftar 49 penyakit kritis dari Allianz, ada tiga yang masuk kategori cacat tetap total, yaitu: 1) kebutaan; 2) kelumpuhan; 3) hilangnya kemandirian hidup. Apa pun nama penyakitnya, asalkan memenuhi tiga kondisi ini, maka klaim penyakit kritis dapat diajukan.

4.       Menanggung kondisi kritis yang disebabkan kecelakaan

Proteksi penyakit kritis dari Allianz tidak hanya bicara tentang kondisi kritis yang disebabkan oleh penyakit, tapi juga kondisi kritis yang disebabkan oleh kecelakaan. Di antara 49 penyakit kritis, setidaknya ada 10 yang dapat diakibatkan oleh kecelakaan, yaitu: 1) kebutaan; 2) kelumpuhan; 3) hilangnya kemandirian hidup; 4) Tuli; 5) Bisu; 6) Trauma kepala serius; 7) Koma; 8) Terminal illness; 9) Luka bakar; dan 10) Terputusnya akar-akar syaraf plexus brachialis. Selain itu, rusaknya organ-organ tubuh penting (seperti ginjal dan tulang belakang) juga dapat disebabkan oleh kecelakaan.

5.       Menanggung terminal illness

Di antara daftar 49 penyakit kritis dari Allianz, salah satunya adalah Terminal Illness. Apa pun nama penyakitnya, asalkan dokter telah mendiagnosa umur yang bersangkutan tidak akan melebihi 12 bulan, maka klaim penyakit kritis dapat diajukan.

6.       Menanggung transplantasi organ tubuh penting

Kinerja organ-organ tubuh penting menjadi perhatian utama dalam rider CI+ Allianz. Organ tubuh seperti jantung, ginjal, pankreas, liver, paru-paru, dan sumsum tulang merupakan penyangga kehidupan manusia. Memiliki proteksi yang dapat digunakan untuk membiayai penggantian organ-organ tersebut akan memberikan rasa aman yang diperlukan oleh setiap orang.

7.       Memberikan uang pertanggungan yang besar dengan premi terjangkau.

Di atas segala kelebihannya, harga adalah faktor yang sangat penting. Rider CI+ dari Allianz sangat murah, dan apalagi rider CI lebih-lebih lagi sangat murah. Mulai dengan premi 300 ribu per bulan, seorang pria dan wanita usia 30-an tahun dapat memiliki proteksi penyakit kritis sebesar 300 juta + proteksi jiwa 300 juta. Dan jika ingin terproteksi sebesar 1 miliar (UP jiwa 1 miliar + penyakit kritis 1 miliar), preminya 1 juta saja per bulan.

Kesimpulan

Dari berbagai keunggulan di atas, jelas bahwa rider Critical Illness dari Allianz adalah produk yang serba meliputi, karena menanggung hampir semua kondisi terburuk yang mungkin dialami manusia. Dia beririsan dengan rider ADDB (Accident Death and Disability Benefit) dan TPD (Total Permanent Disability) pada kondisi cacat total. Jadi, cukup dengan memiliki proteksi jiwa ditambah rider Critical Illness, maka proteksi dasar kita sudah tercukupi. Namun lebih baik lagi jika ditambah ADDB dan TPD, karena meski beririsan, ada juga perbedaannya dan ketiga produk ini tidak saling mengurangi.